![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
-–"Semua hal yang membuatku semakin berani untuk berharap adalah … Melihat perjuanganmu."
...****************...
" … Siapa? "
Suaranya yang sangat rendah berhasil keluar bersama dengan gumpalan darah yang menodai bunga putih di kakinya.
Ia tidak mengenal suara gadis itu. Atau lebih tepatnya, ia tidak mengingatnya.
Suara itu membangkitkan sedikit sensasi déjà vu yang cukup menjengkelkan. Namun, seberapa keras pun ia mencoba mengingat, ia sama sekali tak dapat menemukan identitas yang ada di balik suara itu.
"Apa? Kamu melupakanku lagi, ya? Hmm … Yahh, itu sudah wajar sih. Perlahan, keberadaanku sendiri mulai menghilang dari ingatan semua orang … Hehe, itu cukup menyedihkan, ya," ucap suara itu dengan nada yang terdengar seperti bercanda.
Beberapa detik kemudian, kelopak bunga putih yang ternoda oleh darahnya itu perlahan mulai terbang dan berkumpul di satu tempat, tepat di hadapannya.
Semua kelopak bunga itu berputar dengan liar dan perlahan membentuk suatu wujud yang membuatnya terperangah sejenak.
Itu adalah seorang gadis. Tak salah lagi, gadis yang sangat cantik, menurut standar dunia lain.
Rambut putih panjangnya dibiarkan tergerai menjuntai sampai pinggangnya, sedangkan kulit porselen miliknya ditutupi oleh gaun berekor dengan paduan warna antara merah dan merah muda, dengan corak kuning dan ungu di beberapa bagian, gaunnya mengeluarkan cahaya samar sampai akhirnya terbentuk sepenuhnya.
Itu adalah gaun yang cukup terbuka. Namun, entah bagaimana membuat penampilan gadis itu menjadi terlihat sangat menawan. 'Ekor' dan rumbai-rumbai besar berwarna kuning dan merah transparan yang berbentuk lancip di sekitar pinggangnya terlihat mengembang dan bergerak setiap kali ia menggerakkan tubuhnya.
Setelah transformasinya selesai, gadis itu langsung tersenyum simpul.
"Apa ini mengejutkanmu? Ehehe, sangat menyenangkan untuk melihatmu tercengang seperti itu. Bagaimanapun … Lama tidak bertemu, Noelle … Meskipun kamu sudah melupakanku lagi, sih … "
Kedua mata emasnya menatap Noelle dengan penuh emosi yang campur aduk. Noelle tidak tahu siapa dia, tapi berdasarkan kalimat yang diucapkan gadis itu, ia sudah pernah bertemu dengannya beberapa kali.
Noelle hanya mampu menatap gadis di depannya tanpa mengatakan apa pun. Ia sendiri tidak tahu perasaan macam apa yang ia miliki begitu ia melihat gadis itu, entah itu terpesona, terkejut, takut, atau hal lain. Ia tidak mengerti. Namun, entah bagaimana ia merasa yakin kalau gadis ini memang sosok yang cukup membekas dalam dirinya.
Pemandangan akan lingkungan sekitarnya yang menyakitkan sudah tak ada lagi di pikirannya. Saat ini, semua unit pikirannya telah dikerahkan untuk mengidentifikasi sosok gadis di depannya.
Saat Noelle ingin mengatakan sesuatu, gadis itu membuka bibirnya lebih dulu dan berbicara dengan suara yang halus.
"Tempat ini sedikit tidak nyaman untuk melakukan percakapan. Ayo kita ubah tempatnya menjadi sesuatu yang kamu sukai," ucap gadis itu, lalu menjentikkan jarinya.
Dengan jentikkan jarinya sebagai sinyal perintah, semua kelopak bunga putih yang menjadi pijakan mereka berdua langsung terbang dan menutupi lingkungan sekitar mereka dengan membentuk suatu kubah yang mengurung mereka di dalam.
Semua proses itu memakan waktu hingga beberapa detik. Noelle tidak tahu detail waktu pastinya karena entah mengapa ia sama sekali tidak dapat merasakan aliran waktu di sini. Namun, semua terjadi dalam sekejap mata baginya.
Detik kemudian, ratusan hingga ribuan kelopak bunga putih yang menutupi mereka berdua langsung membubarkan diri mereka dan kembali ke tanah, membuat pemandangan di sekitar mereka berdua seketika berubah secara drastis.
Dari yang sebelumnya dunia dengan warna yang sangat kontras dan menyakitkan untuk mata, menjadi suatu taman bunga yang penuh warna dan dikelilingi oleh ratusan salib putih besar sehingga membentuk suatu area lingkaran.
Itu tempat yang sangat indah. Lebih indah dari semua pemandangan yang pernah ia lihat sebelumnya.
Suasana yang begitu menghangatkan mengalir di semua tubuhnya begitu ia melihat tempat itu.
Luas taman itu mungkin tidak lebih dari 100 meter. Namun, entah bagaimana rasanya dunia kecil itu sangat nyaman untuk ditinggali.
Noelle menatap sekelilingnya dengan mata berkilau untuk pertama kalinya. Ratusan atau bahkan ribuan bunga dengan berbagai warna tepat ada di hadapannya, dikelilingi oleh ratusan salib seperti ini justru membuat kesannya terhadap taman itu semakin meningkat.
Langit yang sebelumnya berwarna merah pekat telah berubah menjadi biru dengan corak jingga yang melambangkan langit sore.
Di tengah itu semua, gadis yang sebelumnya berbicara padanya, gadis yang menjadi penyebab semua perubahan ini, ia tersenyum penuh kasih pada Noelle yang dengan semangat memperhatikan sekelilingnya.
Matanya entah bagaimana menampilkan suasana yang sedih. Namun, ada sedikit kebahagiaan yang terpancar dari sana.
Gadis itu kemudian tersenyum lembut pada Noelle.
"Ehehe, aku senang kamu menyukainya," ucap gadis itu sambil menatap Noelle dengan lembut.
Noelle tidak tahu siapa gadis ini. Namun, melihat bagaimana gadis ini dapat menciptakan dunia yang sangat indah sesuai dengan yang ia impikan, gadis itu pastilah mengetahui banyak hal tentangnya.
"Kamu selalu menyukai tempat ini, ya? Maaf karena ini sedikit kecil, ya, aku masih belum terbiasa meskipun sudah bertahun-tahun menghabiskan waktu di sini."
Noelle menggelengkan kepalanya.
"Tidak … Ini … Tempat yang sangat indah."
Kalimatnya terputus-putus. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara menjawab gadis itu. Setiap kali ia ingin mengucapkan sesuatu, kalimat yang telah ia siapkan di pikirannya selalu terhapus begitu saja. Seolah, ia sama sekali tidak dapat menemukan kalimat yang tepat untuk diucapkan pada gadis itu.
Gadis itu tampak terkejut saat Noelle menjawab permintaan maafnya. Mungkin ia juga tidak memikirkan kalau Noelle akan menjawabnya. Dia kemudian memejamkan matanya dan tersenyum cerah pada Noelle.
(Kenapa … Dia terlihat sangat sedih …? )
Seberapa keras pun ia mencoba, ia tak dapat menghilangkan perasaan aneh yang menghantuinya saat melihat senyum gadis itu.
Meskipun gadis itu tersenyum, ia selalu memancarkan suasana sedih setiap saat, membuat Noelle tidak nyaman.
Biasanya ia tidak akan peduli dengan perasaan yang dimiliki oleh orang yang tidak ia kenal. Namun, entah mengapa ia sama sekali tak dapat mengabaikan gadis di depannya.
Gadis itu kemudian membuka matanya sedikit dan berbalik.
"Kamu tahu? Tempat ini, didasarkan pada tempat yang ada di dunia nyata. Tempat yang begitu kamu sukai, tempat di mana kamu selalu menghabiskan waktumu sendirian tanpa mengkhawatirkan apa pun, dunia yang kamu impikan."
"Tempat … Yang kusukai? "
"Nn. Tempat yang sangat kamu sukai, tempat yang menjadi inspirasi untuk impianmu. Ada banyak kisah di balik taman kecil ini. Ini adalah tempat yang sangat berharga bagimu. Meskipun … Saat ini, hanya aku yang bisa mengingatnya."
Noelle tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena posisinya, tapi ia samar-samar mengetahui apa yang dirasakan gadis itu. Mungkin ia sedang membuat wajah yang sangat tersiksa sekarang, berusaha menahan tangisnya.
Walaupun Noelle mengetahui itu, ia tak dapat melakukan apa pun untuk membuat gadis itu tenang. Entah bagaimana ia ingin melihat lebih banyak ekspresi dari gadis di depannya, meskipun itu adalah ekspresi yang menyakitkan.
Seolah menyadari pemikiran Noelle, gadis itu langsung berputar dan berbalik, menunjukkan wajah penuh senyuman padanya.
"Maaf, ya … Aku menunjukkan sisiku yang sedikit memalukan. Bisakah kamu melupakannya? Aku tidak ingin membuatmu terganggu dengan itu," ucap gadis itu sambil menyeka air mata yang menetes dari sudut matanya.
Noelle tak tahu perasaan apa yang sesungguhnya gadis itu rasakan. Namun, melihat bagaimana ia selalu menunjukan suasana sedih selama ini, itu pastilah menyakitkan.
Untuk mengalihkan pembicaraan, ia bertanya pada gadis itu. Sebuah pertanyaan yang sangat ingin ia ucapkan sejak tadi.
"Uhmm … Siapa … Siapa namamu? "
Gadis itu melebarkan matanya, lalu tersenyum sedih.
"Aku? Namaku … Isis. Itu adalah namaku, kamu bebas memanggilku apa pun sesukamu," ucap gadis itu, Isis pada Noelle.
Noelle melebarkan matanya begitu mendengar nama itu. Ia merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Namun, ia sama sekali tak dapat mengingatnya.
Ia mengerahkan semua kemampuan berpikirnya untuk mengingatnya, tapi ia tak dapat menemukan apa pun.
Melihat usaha Noelle yang sedang menggali ingatannya dengan begitu keras, Isis hanya tersenyum dengan lemah.
"Tidak perlu memaksakan dirimu. Wajar jika kamu tidak bisa mengingatku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, perlahan … Keberadaanku mulai menghilang dari ingatan semua orang."
"Tidak mungkin aku bisa menerimanya! "
Teriakan yang datang secara tiba-tiba dari Noelle itu membuat Isis melebarkan matanya dengan terkejut.
"Tidak mungkin! Aku yakin, kalau kau adalah orang yang mengetahui banyak hal tentangku, dan sudah sering berbicara denganku! Tidak mungkin aku tidak mau mengingatmu! Aku–"
Tepat sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Isis langsung menghilang dari pandangannya dan muncul tepat di belakangnya. Posisi mereka saat ini saling menempekkan punggung masing-masing.
Kulit punggung Isis yang terbuka dan sama sekali tak ditutupi oleh gaunnya menempel di punggung Noelle. Sensasi dingin dan geli yang dipancarkan oleh punggung itu membuatnya membeku sejenak.
"Terima kasih. Aku senang kamu berusaha mengingatku, tapi … Ini belum waktunya."
Noelle tidak tahu ekspresi apa yang dibuat Isis. Namun, ia samar-samar merasakan kehangatan yang terpancar dari sana.
"Aku benar-benar bersyukur karena setidaknya kamu mau mengingatku. Semua orang yang kukenal sudah tidak mengingatku sama sekali. Kamu adalah satu-satunya."
Noelle berbalik dan melihat sosoknya yang sedang berjongkok di tanah yang penuh dengan berbagai bunga.
Seolah tak menyadari tatapan Noelle padanya, Isis tersenyum lembut sambil mengelus kelopak bunga itu.
"Sangat menyedihkan rasanya jika ada orang yang melupakanku. Kamu adalah satu-satunya orang yang berhasil mengingatku sekarang, tapi … Aku tidak tahu kapan kamu akan melupakanku lagi. Bisa jadi, setelah kamu bangun, kamu akan melupakan semua yang terjadi saat ini," ucapnya dengan lembut.
Noelle tak tahu perasaan apa yang akan ia miliki ketika ia melupakan sosok Isis. Ia benar-benar tidak mengerti. Di satu sisi, ia lega, dan di sisi lain, ia benar-benar takut untuk melupakan sosoknya.
"Kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk mengingatku, karena itu mungkin akan sia-sia jika kamu melupakanku lagi. Sampai saatnya tiba, kamu akan mengerti, karena itulah … Kamu harus bertahan."
Mereka berdua tidak tahu takdir seperti apa yang menunggu mereka di masa depan nanti. Bisa jadi itu adalah suatu takdir baik, dan bisa jadi itu adalah sesuatu yang buruk.
Sesuatu seperti takdir atau masa depan adalah hal yang terlalu misterius dan ambigu untuk diprediksi. Bahkan jika mereka menggunakan kejadian saat ini sebagai referensi untuk menentukan masa depannya, pilihan yang ia miliki hanya akan menjadi satu dari sekian juta dari kemungkinan yang akan terjadi padanya.
Bagi Noelle sendiri, permasalahan takdir dan masa depan adalah hal yang membingungkan untuk ditebak. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, atau apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Tergantung pada bagaimana hasilnya, ia akan menerima takdir itu, atau bahkan menolak dengan keras dan berusaha mengubahnya meskipun itu mungkin sia-sia.
Karena itulah, ucapan Isis yang menyampaikan sesuatu yang penting pada suatu kejadian di masa depan yang mungkin tidak akan terjadi terlalu menyedihkan untuk Noelle.
'Sampai saatnya tiba', itu adalah kalimat yang seolah ia sudah mengetahui pasti tentang apa yang akan terjadi. Meskipun begitu, Noelle sama sekali tidak percaya dengan kalimat itu. Ia benar-benar bersikeras untuk mengorek informasi tentang sosok Isis yang terkunci dalam dirinya.
"Kamu sepertinya terlalu banyak memikirkannya, ya? "
Perkataan yang diucapkan Isis secara tiba-tiba benar-benar mengejutkan Noelle. Entah bagaimana caranya, Isis mampu melihat isi hati dan pikirannya.
"Ya ampun … Sifatmu yang keras kepala itu memang tidak pernah berubah. Saat kamu sudah memutuskan sesuatu, kamu pasti akan melakukan segala cara untuk mencapainya, saat itu juga kamu menjadi sangat keras kepala," ucap Isis tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap Noelle yang berdiri di belakangnya.
"Terkadang, itulah yang selalu membuatmu dalam berbahaya. Kamu selalu melakukan semua yang kamu inginkan sendirian, benar-benar egois."
" ……… "
Noelle tak dapat membantahnya. Ia benci mengakuinya, tapi ia tahu kalau itu semua benar. Keegoisannya sendiri telah sering kali membuatnya terjerumus ke dalam hal-hal yang seharusnya tak ia campuri.
Isis kemudian berdiri dan berbalik menatap Noelle tanpa ekspresi khusus di wajahnya. Ia tersenyum, tapi senyumnya benar-benar tipis sehingga orang lain mungkin tidak menyadarinya. Mungkin ini adalah wajah atau ekspresi aslinya, wajah yang datar dan minim mengeluarkan ekspresi.
Noelle yang tak dapat mengatakan apa pun hanya memalingkan wajahnya ke samping dengan canggung. Ia ingin membantah perkataan Isis dan tetap mencoba untuk mengingat. Namun, ia tak dapat memikirkan satu kata pun untuk membantahnya.
Meskipun dirinya telah dipenuhi oleh rasa ketidak sabaran, Noelle hanya mampu memendam itu semua tanpa melakukan apa pun untuk memuaskan dirinya.
Seolah menyadari itu, senyum Isis semakin lebar dan membuatnya terkikik kecil.
Alis Noelle berkedut saat mendengar tawa terkikiknya, ia menatap Isis dengan wajah kesal dan berjalan ke arah salib terdekat yang menghalangi pandangannya dari dunia di luar taman.
"Tapi, yahh … Itulah yang membuatku semakin menyukaimu … "
Hembusan angin yang kuat datang dan meredam kata-kata yang diucapkan oleh Isis. Meskipun begitu, Noelle masih mendengarnya dengan cukup samar.
Noelle menoleh ke belakang dengan terkejut dan melihat Isis yang tersenyum dengan sedih.
Menggelengkan kepalanya, Isis kemudian berjalan mendekati Noelle dan melihat ke dunia luar yang ada di balik semua salib itu. Rambut dan gaunnya bergoyang setiap kali ia melangkah. Begitu ia mencapai sisi Noelle wajahnya kembali seperti semula.
Tidak ada apa-apa di sana.
Hanya ada tanah tandus tak berujung yang dipenuhi dengan beberapa roda gigi raksasa dalam berbagai ukuran di langit.
Matanya dipenuhi oleh pemandangan tanah tandus yang tampak tak berujung itu. Benar-benar tempat yang kering dan kosong, bahkan tidak ada satu pun objek lain selain gundukan pasir dan batu di sana.
Noelle yang melihat berapa kontrasnya pemandangan di luar dengan taman bunga itu tentu saja terkejut. Ini seperti taman bunga yang dikelilingi oleh ratusan salib itu adalah dunia yang sepenuhnya terpisah dari tanah tandus di luar.
"Kamu terkejut? Sulit untuk menjelaskannya, tapi … Tanah tandus itu adalah pemandangan asli di sini. Aku hanya bisa sedikit mengubah area tertentu menjadi taman bunga ini," ucap Isis sambil menatap Noelle dari samping.
Noelle mengalihkan matanya untuk menatap Isis, seolah melarikan diri dari pemandangan yang kering itu.
"Hei, kenapa kau … "
"Melakukan ini? Apa itu yang kamu pikirkan? "
Isis dengan sempurna melanjutkan pertanyaan yang ingin ia ucapkan. Saat ini Noelle benar-benar heran apakah Isis memang bisa membaca pikirannya atau tidak.
Isis diam sejenak, lalu menjawab dengan ringan.
"Aku hanya ingin menghibur diriku sendiri. Rasanya sangat kesepian ketika hanya aku yang ada di tempat ini. Bagaimanapun, aku masih belum bisa keluar."
"Kenapa? " tanya Noelle.
"Ehh … Meskipun kamu menanyakan begitu banyak pertanyaan seperti itu, belum tentu aku bisa menjawabnya."
Sebagai respon untuk jawaban yang diberikan Isis, Noelle langsung berbalik dan berjalan ke sebuah pohon beringin yang terletak tepat di tengah taman itu.
Tampaknya, Isis tak mau menjawab semua pertanyaannya, mungkin karena pertanyaan itu bersifat terlalu pribadi.
Noelle tak mau memaksa Isis untuk menjawabnya, karena itu, ia hanya perlu menggunakan cara lain untuk mendapatkan jawabannya.
"Yahh, ayo simpan semua pertanyaan dan jawaban ini untuk lain kali. Akan membosankan jika kamu menanyakan pertanyaan yang sama setiap kita bertemu," ucap Isis.
Noelle membuka matanya dengan terkejut dan bertanya, "Apa maksudmu? "
Mendapatkan tatapan bingung dari Noelle, Isis kemudian menghela napasnya.
"Sudah kubilang, 'kan? Aku tidak tahu pasti apakah kamu akan mengingat semua yang terjadi di sini begitu kamu bangun nanti. Jika kamu bertemu denganku lagi tanpa memiliki ingatan tentangku, kamu pasti akan menanyakan pertanyaan yang sama secara berulang-ulang, mungkin itu akan menjawab rasa penasaranmu, tapi itu akan menyiksaku dengan rasa jenuh ketika kamu menanyakan banyak hal sekaligus seperti itu."
" ……… "
Noelle hanya diam dan menatap Isis dari bawah pohon itu. Mungkin karena ia tak tahan dengan keheningan ini, Isis lagi-lagi berbicara. Namun, kata-kata yang akan ia ucapkan berarti sebuah perpisahan.
"Yahh, kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Apakah saat kamu bangun kamu akan mengingatku sepenuhnya, atau kamu bahkan sama sekali tidak menyadari pertemuan yang terjadi ini. Tergantung pada bagaimana hasilnya akan mempengaruhi tindakan kita di masa depan. Kalau begitu, sampai di sini saja dulu, ya? Noelle. Waktumu hampir habis."
"Apa … yang kau katakan? "
"Maksudku, aku tak memiliki banyak kekuatan yang tersisa setelah memodifikasi pemandangan di sini. Karena itulah, aku tak bisa mempertahankan pertemuan kita kali ini," jawab Isis.
" ……… "
Noelle lagi-lagi hanya mampu terdiam dan menunggu ucapan Isis selanjutnya.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Noelle. Semoga kamu menikmati hidupmu di luar sana."
Dengan kata-kata itu sebagai pemicu, kelopak bunga lagi-lagi berterbangan dan menutupi pandangan Noelle.
Noelle mencoba berteriak dan berlari untuk mencapai Isis. Namun, kakinya tak pernah bergerak sedikit pun.
Ia tidak tahu mengapa. Namun, ia merasa ia tak ingin meninggalkan tempat ini. Itu adalah perasaan yang aneh. Perasaan yang tak dapat ia temukan jawabannya.
Ia menggerakkan tangannya untuk meraih sosok Isis yang perlahan menghilang ditelan oleh ribuan kelopak bunga yang berterbangan. Meskipun begitu, tangannya tak pernah mencapainya.
Dengan begitu, kesadarannya menghilang sepenuhnya.
Saat ia bangun, ia berada di sebuah ruangan kamar yang cukup ia kenal. Noelle mencoba menutup matanya dengan tangannya dan memikirkan apa yang terjadi sebelumnya.
Dan hasilnya, ia sama sekali tak dapat mengingatnya. Apa yang terjadi di sana, dan siapa yang ia temui, ia tak dapat mengingatnya sedikit pun.
Seberapa keras pun ia mencoba, ingatan tentang hal itu selalu melarikan diri darinya.
Tanpa ia sadari, setetes air mata mengalir di wajahnya yang tanpa ekspresi.
...****************...
(AN: Ini adalah ilustrasi 'sederhana' untuk Isis, ini belum sepenuhnya selesai, dan masih banyak yang harus kuperbaiki dan tambahkan seperti shading dan gradasi, tapi … Tolong nikmati ini … )
...****************...