[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 72: Identitas (3)



...****************...


Sementara Noelle sedang memata-matai Terneth di mansionnya, tepat di saat yang sama dan secara kebetulan …


"Bisa Anda jelaskan mengenai misi pembasmian itu lebih lanjut lagi? "


Norman dengan raut muka serius berbicara pada 'Terneth' yang tengah menyesap tehnya tepat di hadapannya.


Terneth kemudian meletakkan cangkirnya di meja dan dengan santai menghadapi Norman.


"Saya tidak tahu dari mana anda mendapatkan informasi itu, tapi saya tidak bisa melibatkan Yang Mulia dengan masalah ini, jadi saya tidak bisa memberikan informasi yang lebih lanjut."


Begitu Terneth selesai dengan kata-katanya, salah satu pria dengan zirah putih emas yang berdiri di belakang Norman segera mengeluarkan tatapan yang mengancam dan mencoba menarik pedangnya, tapi Norman menghentikannya tepat sebelum itu terjadi.


Pria itu tampak bermasalah saat ia dihentikan oleh Norman, namun ia tidak membantah dan kembali ke posisinya sebelumnya.


"Bisa beri alasan yang jelas mengapa saya tidak diperbolehkan untuk mengetahuinya? "


"Itu … "


Terneth tidak tahu harus berkata apa lagi. Wajahnya jelas menunjukkan ekspresi yang bermasalah.


Meskipun ini pertama kalinya Terneth bertemu dengan Norman, ia sudah cukup mengetahui kepribadian seorang Pangeran berdasarkan rumor-rumor yang beredar.


Terneth jelas mengetahui kalau Norman adalah orang yang sangat keras kepala, dan ia seharusnya memiliki beberapa cara untuk menghadapi orang yang seperti itu.


Tapi ia tidak bisa sembarangan dalam memilih cara untuk berhadapan dengan Pangeran, karena itu akan bersangkutan dengan jabatan dan reputasinya hingga saat ini.


Meskipun mungkin Norman tidak akan bermasalah jika diperlakukan layaknya orang normal, Terneth tetap tidak akan berani untuk menghadapi Pangeran.


Akan menjadi hal yang merepotkan jika ia sampai mendapatkan cap yang jelek karena salah dalam berurusan dengan Pangeran Norman.


Terneth kembali menyesap tehnya sambil memikirkan beberapa solusi, sementara beberapa orang yang masuk ke ruangan itu bersama dengan Norman terus menatapnya.


"Mmm … Apa Anda baik-baik saja? "


Iris bertanya pada Terneth yang masih tidak menjawab pertanyaan Norman.


Mendengar itu, Terneth kemudian menatap Iris dan tersenyum.


"Saya tidak apa-apa, tolong jangan khawatir."


"Kalau begitu … Bisa jawab pertanyaan Norman tadi? "


"Itu … Baiklah … "


Terneth menghela napas pasrah saat ia mencoba menjelaskan.


"Sebenarnya, terkait misi penyerbuan itu … Saya sudah menyerahkannya pada kelompok petualang yang direkomendasikan oleh ketua guild cabang Suiren."


"Hmm? Kalau begitu … Kenapa kami belum mengetahuinya sampai sekarang? "


Pria yang berdiri di belakang Norman bertanya dengan heran, tapi Terneth hanya tersenyum masam lalu menjawabnya dengan canggung.


"Itu karena informasi ini masih belum disebarkan pada publik."


Terneth merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah surat, lalu memberikannya pada Norman.


"Sesuai dengan permintaan dari ketua guild cabang Suiren, kami belum bisa mempublikasikan informasi ini karena kami sedang fokus untuk menjaga ketenangan di antara masyarakat dan petualang akibat penyerbuan dari sisa-sisa monster yang melarikan diri dari stampede."


Sambil sesekali menyesap tehnya, Terneth terus menjelaskan dengan ekspresi khawatir.


"Seperti yang Anda lihat, belakangan ini baik masyarakat dan petualang tampak seperti mencemaskan sesuatu. Itu karena mereka mendapatkan kabar bahwa ada banyak monster kuat yang berhasil melarikan diri dari stampede dan mulai membuat sarang di daerah rawa yang jaraknya cukup dekat dari sini."


Pria yang tampak seperti seorang pengawal itu kemudian mengangguk dengan penuh pengertian, namun kembali menatap Terneth dengan wajah yang penuh pertanyaan.


"Memang benar jika masyarakat tampak panik akhir-akhir ini, tapi … Bukankah itu tugas para kesatria untuk melakukan penyelidikan dan pembasmian yang terkait dengan keamanan kota? "


Kota Eisen adalah kota yang dipimpin langsung oleh seorang Earl, dan juga memiliki pasukan kesatria yang berada di bawah perintah langsung sang Earl.


Selain itu, pasukan kesatria dari Eisen cukup terkenal dengan kekuatannya meskipun itu tidak berada di tingkatan yang sama dengan kesatria dari Suiren.


Seharusnya mereka bertanggung jawab untuk perlindungan kota, namun pihak guild justru meminta petualang untuk menggantikan pekerjaan itu.


Itu bisa membuat citra kesatria Eisen terlihat buruk di mata masyarakat. Jelas saja itu akan menjadi pilihan yang sangat buruk untuk menyerahkan masalah ini pada guild.


Terneth menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sedih.


"Seharusnya begitu, tapi … Kota ini sedang dalam keadaan kekurangan personel militer untuk melakukan penyerbuan. Sebagian besar prajurit telah dikirim untuk menjaga perbatasan bersama dengan prajurit dari Suiren sehingga Earl memutuskan untuk membiarkan guild mengambil masalah ini."


"Ahh ya … Belakangan ini situasinya memburuk, ya … "


Norman dengan raut wajah sedih mengangguk pada penjelasan Terneth.


Terneth yang melihat itu kemudian tersenyum masam, lalu lanjut berbicara untuk menenangkan Norman.


"Sampai saat situasi menjadi lebih tenang, kami baru akan mempublikasikan informasi tentang petualang yang akan dikirim untuk melakukan penyerbuan ke sarang monster."


"Tentang itu … "


Setelah Terneth menyelesaikan penjelasannya, pria pengawal yang berdiri di belakang Norman bertanya dengan sedikit keraguan.


"Siapa petualang yang akan dikirim untuk misi ini? Menilai bagaimana ia direkomendasikan oleh ketua guild cabang Suiren, ia seharusnya cukup kuat, 'kan? "


Mendengar itu, Terneth kemudian tersenyum.


"Mereka adalah kelompok yang terdiri dari petualang dengan rank-C sampai D, kekuatan mereka bisa dijamin walaupun kepribadian mereka semua sedikit bermasalah … "


Terneth menyelesaikan kata-katanya dengan senyum masam.


"Hee~ Aku jadi ingin menemui mereka … "


"Saya rasa Anda akan merasa terganggu dengan kepribadian mereka, tapi mereka semua adalah orang baik, jadi saya rasa Anda bisa tahan," ucap Terneth sambil masih mempertahankan senyum masamnya.


"Ngomong-ngomong … Kapan mereka akan pergi untuk melakukan penyerbuan? "


Lilith yang sejak tadi diam kali ini bertanya guna memastikan.


"Ahh, karena masih ada beberapa persiapan yang harus mereka lakukan, kemungkinan mereka baru akan pergi sekitar dua atau tiga hari lagi."


"Begitu, ya … "


Lilith dengan raut wajah khawatir tampak bingung dengan jawaban Terneth.


"Nona Lilith? Apa Anda baik-baik saja? " tanya Terneth.


Lilith kemudian sadar dan menatap sekelilingnya dengan spontan.


"T-tidak … Aku baik-baik saja, hanya … Aku memiliki sedikit firasat buruk … "


Baik Terneth maupun semua orang di ruangan itu hanya mampu memiringkan kepala mereka sambil menatap Lilith.


...****************...


"Ughh … Sialan! "


Jeritan kecil Noelle bergema di lorong yang panjang dan gelap.


Sosoknya yang menggunakan jubah hitam panjang dan memakai topeng hitam aneh yang menutupi matanya terlihat sedang mengerahkan sebagian besar kekuatannya untuk berlari secepat mungkin.


(Sialan sialan sialan! Kenapa ini terjadi?! Ahhh brengsek!! Apa-apaan ini?!! Ahhh aku benci kalian, para Dewa yang mengendalikan takdir dan keberuntungan … )


Meskipun sebagian wajahnya ditutupi oleh tudung jubah dan topeng, wajahnya jelas membuat ekspresi kekesalan yang parah.


Sementara ia mencoba berlari secepat mungkin, beberapa orang (?) yang berpakaian lusuh, wajah pucat, dan tubuh penuh luka sedang mengejarnya dengan kecepatan yang sama.


(Ahhh sialan!!! Setidaknya aku harus membuat sedikit jarak … )


Noelle menghentakkan salah satu kakinya di tanah, kemudian meluncurkan dirinya menggunakan 《Shukuchi》.


(Ughhh … Masih kurang … )


Menyadari jarak yang hampir tidak berubah, Noelle kembali menggunakan 《Shukuchi》 untuk melarikan diri.


Setelah merasa kalau jarak sudah sedikit terbuka, Noelle segera mengambil sebilah pisau dari sakunya dan melemparkan itu ke lantai berbatu di belakangnya.


Pisau itu menancap tepat di lantai batu, kemudian mengedipkan cahaya berkali-kali. Detik berikutnya, pisau itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan meledak dengan suara dentuman yang keras.


Lantai dan dinding yang terkena dampak ledakan itu langsung hancur seketika, dan rombongan orang (?) yang mengejar Noelle menjadi sedikit terhambat.


Mengapa ini bisa terjadi? Itu semua karena apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.


Saat Noelle mengikuti Terneth dan pria tak di kenal itu ke suatu tempat yang tidak ia ketahui, mereka berdua justru membawa Noelle ke sebuah ruangan bawah tanah raksasa yang bahkan ukurannya mampu menyaingi koloseum bawah tanah yang pernah ia kunjungi bersama Cryll.


Sesampainya di sana, Noelle mau tak mau merasa mual ketika melihat tumpukan mayat manusia yang digeletakkan begitu saja di sebuah tabung transparan yang disambungkan dengan sabuk konveyer di setiap sisinya.


Dan tidak hanya itu saja. Mayat-mayat yang ada di dalam tabung tadi akan diangkut menggunakan sabuk konveyer itu dan dibawa ke tabung lainnya yang dipenuhi cairan aneh.


Mayat-mayat yang telah keluar dari tabung yang berisi cairan aneh tadi kemudian dibawa masuk oleh sabuk konveyer ke sebuah ruangan tertutup.


Di sisi lain ruangan adalah pintu logam yang akan terbuka setiap beberapa waktu. Dan ketika pintu itu terbuka, mayat yang tadinya tak bernyawa keluar dari ruangan dengan berjalan menggunakan kakinya sendiri.


Noelle tidak tahu tempat dan alat apa itu, tapi secara alami ia mengetahuinya. Itu adalah suatu percobaan yang melanggar kehidupan seseorang.


Berdasarkan apa yang ia lihat, mayat-mayat itu keluar sebagai undead begitu selesai melewati beberapa 'percobaan'.


(Ahh sialan … Aku memiliki firasat buruk tentang ini … )


Noelle mau tak mau tersenyum kecut sambil berusaha menjauh. Namun, sihir yang ia gunakan untuk melakukan transformasi menjadi kabut tiba-tiba terganggu.


(Ohh brengsek! Magic-Jamming, ya … )


Tubuh Noelle yang tadinya berwujud kabut perlahan berubah menjadi wujud fisik sejatinya.


Transformasinya diganggu, kini Noelle hanya mampu menggunakan tubuh fisiknya sendiri untuk menyelinap maupun melarikan diri.


Begitu Noelle kembali ke wujud fisiknya, para undead tiba-tiba mengarahkan kepala mereka tepat pada Noelle yang seharusnya sudah menyembunyikan hawa kehadirannya.


Untungnya, hanya beberapa undead saja yang tampaknya telah menyadari keberadaannya, sedangkan Terneth dan pria itu masih sibuk mengobrol sambil memandangi tabung kaca raksasa yang berisi puluhan mayat orang dari berbagai ras.


Noelle mencoba berjalan menuju sebuah meja besar yang diletakkan di dekat pintu masuk.


Begitu Noelle tiba, ia melihat tumpukan kertas dan amplop yang belum dibuka berserakan di atas meja.


(Yahh, selagi aku masih di sini … )


Noelle mencoba menyentuh salah satu kertas itu. Namun, saat ia menyentuhnya, alarm tiba-tiba menyala dan membuat para undead mulai mengalihkan pandangan mereka pada Noelle.


(Ohh … Sialan … )


Tidak hanya para undead, tapi Terneth dan pria itu juga ikut menolehkan kepala mereka pada Noelle yang masih menyembunyikan kehadirannya.


" ……… "


Noelle diam membeku sementara para undead serta Terneth dan pria itu masih menatap tempat ia berdiri.


Detik berikutnya, Terneth menyipitkan matanya dan berteriak.


"Habisi penyusup itu! "


(Ahhh sialan … )


Teriakan Terneth menggema di ruangan, dan para undead segera berlari dengan cepat ke arah Noelle.


Tentu saja Noelle segera melarikan diri dari tempat itu. Namun, saat ia keluar melewati pintu, ia segera berbalik dan kembali ke meja tadi.


(Barang bukti diutamakan.)


Noelle dengan gerakan yang sangat alami mengambil semua kertas, amplop, dan buku yang ada di meja itu, dan memasukan semuanya ke gudang spasial miliknya.


(Baik, waktunya pergi.)


Noelle segera meninggalkan ruangan itu sambil dikejar kawanan undead liar.


Itulah alasan mengapa adegan kejar-kejaran ini bisa terjadi.


Berkat kemampuan fisik Noelle yang tidak manusiawi, serta sihir penguatan tubuh, Noelle dapat berlari dengan baik tanpa perlu merasa lelah.


Setelah beberapa detik berlari menyusuri lorong mansion yang gelap, Noelle akhirnya tiba di ruangan tempat ia melihat Terneth dan pria tadi berbicara tentang 'rencana' mereka.


(Baiklah, apa yang harus kuambil sekarang … )


Noelle memperhatikan sekelilingnya dalam keadaan hampir panik, kemudian tatapannya terhenti pada tumpukan surat di atas meja.


(Persetan, akan kuambil saja semuanya.)


Noelle mulai memasukkan semua surat-surat itu ke gudang spasialnya, dan langsung berniat pergi. Namun, pandangannya kembali pada kotak kayu yang ada di atas meja.


(Teh itu terlihat enak, mungkin aku juga akan membawanya … )


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Noelle secara alami mengambil kotak itu dengan tangannya dan pergi meninggalkan ruangan.


Saat ini, ia sudah tidak peduli atau bahkan mengingat sosok yang ikut menyelinap dengannya …


Keesokan harinya, seorang prajurit pengawal dipecat karena 'dituduh telah mencuri hampir semua persediaan makanan di mansion'.


...****************...