[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 109: Nix Regina (4)



...****************...


Puluhan golem salju tanpa henti menembakkan serangan proyektil berbentuk duri es dari punggung mereka dan mengarah langsung pada Colyn, tapi serangan itu tidak pernah sampai padanya.


Atau lebih tepatnya, tidak akan pernah.


Karena, setiap kali ada serangan yang menargetkan dirinya dari radius jarak 20 meter dari tempatnya saat ini akan selalu menghilang tanpa jejak.


Colyn tidak melakukan sesuatu yang spesial, dia hanya melambaikan tangannya sedikit, dan semua ‘musuh’ yang ada dalam jarak kisaran 20 meter darinya akan langsung lenyap.


Sementara itu, Nix yang menyadari kalau menyerang Colyn dengan cara itu adalah hal yang sia-sia hanya mampu mengerutkan keningnya dengan kesal.


Nix tidak tahu jenis kemampuan apa yang dimiliki seorang Colyn, tapi itu tampak sangat berbahaya sehingga ia tidak mau mengambil resiko untuk mendekat ke sana.


Menyadari pemikiran Nix, Colyn membuat senyum dengan wajahnya yang tampak mengantuk itu.


Sebenarnya, bahkan Colyn sendiri tidak begitu mengerti dengan kemampuannya. Saat ia sadar, ia sudah memiliki dan mampu mengendalikan kemampuan aneh yang mampu menghapus atau menelan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.


Karena itulah, banyak yang mengenalnya sebagai【Inviolable Area】, dan ia juga menggunakan nama itu untuk menamai kemampuan anehnya.


Pada awalnya Colyn tidak mempedulikan julukan itu karena ia juga menganggap itu sebagai sesuatu yang keren, tapi lama kelamaan ia semakin menyadari kalau itu sebenarnya adalah hal yang memalukan.


Setelah bertahun-tahun memiliki kemampuan aneh itu, Colyn akhirnya menyadari beberapa hal yang tersembunyi di balik kemampuannya.


Yang pertama, semua hal yang menghilang di sekitarnya sebenarnya tak sepenuhnya menghilang dengan sendirinya, melainkan ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat. Dan yang kedua, ada batas untuk target yang bisa ia ‘telan’.


Ia hanya bisa ‘menelan’ sesuatu yang ia lihat langsung dengan matanya. Jadi, jika ia diserang saat ia sedang lengah, musuh akan dengan mudah mendapatkan kepalanya.


Karena itulah Colyn harus dalam keadaan sepenuhnya fokus untuk menghadapi lawan dengan menggunakan kemampuannya.


Untungnya, matanya sudah terbiasa dengan sesuatu yang bergerak dengan kecepatan tak masuk akal, jadi ia masih bisa memperhatikan rentetan duri dan peluru yang terus menerus ditembakkan oleh Nix.


Nix terus menembak menggunakan kedua senapannya dengan pergerakan yang sangat lincah. Dia menembakkan satu peluru lalu memantulkannya dengan peluru lain untuk mengalihkan lintasannya. Itu semua dia lakukan untuk menemukan celah dari《Inviolable Area》milik Colyn.


Dan akhirnya, ia menemukan celahnya. Nix tersenyum kecil begitu ia menyadarinya.


Sebagai percobaan, ia mencoba menembakkan satu peluru yang mengarah langsung ke kepala Colyn, lalu menembakkan dua peluru lain ke tanah, dan dua peluru yang ditembakkan dalam lintasan diagonal ke depan. Semua peluru itu saling memantulkan satu sama lain dan menyerang Colyn dari segala arah. Dan tepat seperti yang Nix duga.


Colyn hanya mampu ‘menelan’ peluru yang menyerangnya dari depan dan samping kanan secara bersamaan, sementara yang kiri dibiarkan menggores rambutnya.


“Tepat seperti dugaanku, kau hanya mampu menghapus serangan yang bisa kau lihat, ya? “


Dahi Colyn berkedut sejenak, tapi ia segera menahan otot-otot wajahnya agar tak membuat ekspresi apa pun agar membuat Nix ragu dengan kesimpulannya. Meskipun, semua pergerakan mikro ekspresinya sudah dibaca sepenuhnya oleh Nix.


(Ahaa~ Aku ketahuan~)


Colyn secara alami menyadari bahaya yang akan mendatanginya tak lama lagi. Ia hanya bisa tersenyum pahit dan meningkatkan fokusnya pada lingkungan sekitar agar ia tidak melewatkan sedikit pun serangan yang dilepaskan Nix.


Akan lebih baik jika ia memiliki《Clairvoyance》yang bisa memberinya pandangan 360 derajat, tapi sayangnya ia tak memiliki itu, jadi ia hanya bisa melakukan semuanya dengan kemampuan alami matanya sendiri.


Tak lama kemudian, susunan sayap logam di punggung Nix melebar dan mengarahkan masing-masing ujungnya yang bersinar tepat ke arah Colyn.


Colyn berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan memaksakan senyum berani di wajahnya, walaupun keringat dingin dengan jelas mengalir di kening dan punggungnya.


Sinar yang dipancarkan sayap Nix semakin terang, dan akhirnya menembakkan gelombang energi super dingin dengan suhu yang jauh di bawah titik beku.


Untungnya serangan itu masih ada dalam jarak pandang Colyn sehingga ia masih bisa menahannya, tapi tetap saja, suhu dingin yang dihasilkan tidak sepenuhnya bisa dia tahan.


Dalam hal menahan sesuatu seperti energi sihir, sabit yang digunakan Tania akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan kemampuannya.


Gelombang energi yang ditembakkan Nix berhenti seolah dihalangi oleh sesuatu tepat di jarak 20 meter dari posisi Colyn.


Meskipun begitu, senyum Nix semakin melebar, dan ia menggerakkan kedua tangannya yang masing-masing menggenggam satu senapan musket.


Nix menembakkan beberapa peluru sekaligus dengan kedua senapannya dan memantukkannya satu sama lain untuk menyerang Nix dari segala sisi seperti sebelumnya.


Yang pertama adalah dari atas, Colyn menyadari itu dan langsung melirik ke sana, peluru itu segera menghilang. Dan di saat yang bersamaan, beberapa peluru lain muncul dari arah yang berlawanan, membuat Colyn tidak memiliki pilihan lain selain menghindari salah satunya.


Beberapa peluru yang datang dari kiri telah lenyap dengan lirikannya, tapi peluru yang datang dari kanan sama sekali tidak dapat ia tangani sehingga itu dengan mudah menembus tubuh dan bantalnya.


Melihat serangannya berhasil melukai Colyn, Nix dengan semangat langsung menembak menggunakan senapannya dengan kecepatan yang mengerikan. Semua pola serangannya berbeda-beda dan membuat Colyn bingung sejenak, tapi entah bagaimana ia masih bisa menahannya dengan bantuan dari Olivia yang mendukungnya secara diam-diam dengan menembakkan beberapa duri es ke peluru yang tak dapat ia tahan.


“Jangan menggangguku, Lust.”


Kalimat itu Nix ucapkan dengan penuh penekanan, bersamaan dengan rentetan peluru yang terus keluar tanpa henti dari senapannya.


“Ughh– Mordred! Apa kau sudah selesai?! “


Colyn bertanya dengan panik pada Tania, tapi sama sekali tak ada respon dari Tania. Ia masih menutup matanya bersamaan dengan sabitnya yang semakin bersinar.


(Ahh, sial … Kau benar-benar harus menaikkan bayaran kami, Souris.)


Bersamaan dengan pemikiran itu di kepalanya, ratusan peluru panas dengan mudah menembus tubuh Colyn melalui titik butanya.


“ … Kupikir kau benar-benar kuat karena berhasil menahan semua seranganku sebelumnya, tapi … Pada akhirnya kau tetap saja manusia yang lemah.”


Suara dingin tanpa emosi Nix bergema di penjuru kota sementara matanya dengan dingin menatap tubuh Colyn yang terbaring penuh darah di bantalnya yang masih melayang di udara.


“Hmm? “


Tak memakan waktu beberapa detik setelah ia mengucapkan itu, Nix menyadari kalau ada sesuatu yang aneh dengan mayat Colyn.


Darah masih tak berhenti mengalir di tubuhnya, tapi luka tembakannya perlahan mulai tertutup dan menghilang.


“Kau … Jangan bilang?! “


Nix sempat ragu dengan dengan apa yang ia pikirkan, tapi ia kemudian menyadari kesalahan yang telah ia buat.


Nix kembali menarik pelatuk kedua senapan musket miliknya dan menghujani Colyn dengan puluhan hingga ratusan peluru panas.


Meskipun begitu, tubuh Colyn yang seharusnya hancur menjadi tumpukan daging yang tak dikenali itu langsung kembali pulih tanpa ada luka sedikit pun.


“Jadi benar, ya … Kau … Abadi? “


...****************...