[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 91 (selingan): Percakapan transenden & perpisahan



...****************...


Di sebuah hutan di area perbatasan antara Suiren dengan Republik Waldenholt, seorang laki-laki dengan zirah ringan dan dilengkapi dengan jas putih yang terlihat mewah itu berjalan sambil menenteng dua pedang besar di punggungnya.


Itu adalah Charmon Starga, Kapten kesatria Suiren.


Charmon terus melangkah di antara pepohonan hutan yang lebat tanpa ada keraguan sedikit pun di langkah kakinya.


Sangat jelas kalau ia sudah terbiasa dengan medan seperti itu.


Dengan senyum tipis di wajahnya, Charmon terus melangkah tanpa rasa khawatir akan ditemukan oleh prajurit musuh yang mengintai perbatasan.


Meskipun ia berada satu langkah menuju wilayah musuh, entah bagaimana Charmon dapat tersenyum tenang dan mengabaikan semua rasa ketakutan yang akan dimiliki oleh kebanyakan orang.


Setelah beberapa menit berjalan menyusuri hutan yang rimbun akan pepohonan, Charmon akhirnya tiba di sebuah gua yang ada di area perbukitan batu.


Dari lubang gua itu, sebauh aura mengerikan dengan jelas menampakkan dirinya tanpa sedikit pun menahan diri.


Meskipun begitu, Charmon tetap masuk dan mengabaikan aura mengerikan itu.


"Yo! Lama tidak bertemu, Charmon."


Begitu ia memasuki gua, suara seorang pria memanggilnya dan membuatnya langsung mengalihkan pandangannya pada pria itu.


Pria itu duduk di sebuah kursi bersama seorang wanita cantik berambut hijau yang tampak akan menyatu di hutan.


Mereka berdua duduk dengan posisi mengelilingi sebuah meja bundar yang cukup besar untuk memenuhi ruangan itu.


" … Lama tidak bertemu, Azhar, Ephilus. Senang melihat kalian masih dalam keadaan sehat," ucap Charmon sambil tersenyum pada keduanya.


Melihat itu, pria itu, Azhar langsung tersenyum dengan liar dan mengeluarkan niat membunuh yang sangat kuat dari tubuhnya.


Azhar menatap Charmon dengan wajah sengit seolah siap bertarung kapan saja, sementara wanita di sebelahnya, Ephilus tersenyum dan menyambut Charmon dengan senang.


"Lama tidak bertemu, Charmon. Sudah sekitar 200 tahun, ya? "


Charmon balas tersenyum dan dengan mudah mengabaikan niat membunuh yang terpancar dari Azhar.


"Tidak selama itu. Lebih tepatnya, secara teknis kita sudah tidak bertemu sejak 178 tahun."


"Oy! Kau mengabaikanku?! Apa kau sudah menjadi sombonh dalam 200 tahun ini?! " bentak Azhar.


"Sudah kubilang, 178 tahun. Apa karena tinggal jauh dari peradaban manusia membuat indera perasa kalian akan waktu mulai menghilang? "


Meskipun niat membunuh yang sangat intens keluar dari Azhar, Charmon tetap mengoreksi kesalahan kata mereka dengan santai.


Dari niat membunuh yang dapat dengan mudah membuat monster kelas atas berubah menjadi kucing yang imut, dan percakapan mereka mengenai waktu yang sangat panjang, sudah jelas kalau mereka bertiga bukanlah manusia.


Mereka bertiga adalah sosok yang eksistensinya beberapa tingkat jauh lebih tinggi dari manusia. Bisa dibilang, keberadaan mereka sudah sama seperti sosok dewa.


"Nah, nah, kalian berdua. Tidak baik untuk bertengkar karena ini adalah pertama kalinya kita melakukan reuni setelah waktu yang cukup lama. Atau … "


Ephilus menyipitkan matanya dan membalas tatapan Azhar dengan niat membunuh yang jauh lebih mengerikan dari miliknya.


Charmon dan Azhar tanpa berani mengatakan apa pun lagi segera duduk di tempat mereka masing-masing dan dengan sopan meletakkan tangan mereka di atas meja.


" … Fufu~ Senang melihat kalian akhirnya bisa tenang," ucap Ephilus sambil melebarkan kipas tangan yang tiba-tiba muncul dari udara.


Ephilus dengan gerakan yang dapat mempesona siapa pun tanpa memandang gender menutupi bibir dan hidungnya di balik kipas lipat itu.


Dengan penampilan seperti itu, tak diragukan lagi kalau pria maupun wanita pasti akan langsung bersujud di hadapannya dan dengan senang hati akan menjilati kakinya jika ia memerintahkan.


Melihat bagaimana Charmon atau bahkan Azhar dengan cepat duduk di kursi mereka dengan patuhnya sudah menunjukkan seberapa besar kekuatan yang dimiliki Ephilus.


Ephilus dengan cepat menutup kipas lipatnya dan dengan sopan memulai percakapan setelah situasi menjadi lebih tenang.


Ia menarik napas panjang sejenak sambil menutup matanya, sampai akhirnya ia membuka mata dengan ekspresi wanita yang mempesona.


"Kalau begitu, pertemuan kita kali ini akan diawali dengan perkenalan yang formal untuk menghormati tradisi lama. Apa kalian tidak keberatan dengan itu? " tanya Ephilus pada mereka berdua.


Charmon dan Azhar secara bersamaan mengangkat bahu mereka, dan menjawab "Tidak masalah."


"Baiklah. Kalau begitu … "


Mengatakan itu, tubuh Ephilus seketika bersinar.


Dahinya yang sebelumnya tertutup dengan poni hijaunya kini menumbuhkan sebuah tanduk panjang berwarna putih murni tanpa noda sedikit pun, diikuti dengan tato ungu hijau yang juga tiba-tiba muncul dari leher hingga telinga kirinya.


Seolah mengikuti apa yang dilakukan Ephilus, tubuh Charmon dan Azhar juga bersinar dan menampilkan sosok 'sejati' mereka.


Masing-masing sisi kepala Azhar tiba-tiba menumbuhkan dua buah tanduk berwarna merah gelap yang memiliki sudut lancip di lengkungannya, kemudian tato berwarna hitam dengan bentuk yang berbeda dari Ephilus tiba-tiba muncul di sekitar dahinya.


Sedangkan Charmon, ia juga sudah menyelesaikan perubahannya. Sebuah tanduk berwarna hitam kebiruan tiba-tiba tumbuh tepat di atas kepalanya. Tanduk itu kemudian tumbuh semakin panjang dan mulai membuat bentuk seperti lingkaran halo pada malaikat.


Dibandingkan dengan keduanya, tanduk milik Charmon lebih tampak seperti mahkota, dengan tato putih kebiruan yang juga menampakkan dirinya di sekitar tangan kanannya.


Setelah semuanya menyelesaikan transformasi mereka, Ephilus segera membuka kembali kipas lipatnya dan memulai pembicaraan.


"Baiklah. Pertemuan yang kita lakukan setiap ada perubahan pada dunia dengan aku, Raja Naga yang menguasai pegunungan, Ephilus sebagai penyelenggara, akan membuka pertemuan ini! "


Usai ia mengatakan itu, Charmon dan Azhar secara refleks berdiri dan memperkenalkan diri mereka masing-masing sambil mengeluarkan aura sihir dalam jumlah yang sangat besar sehingga menggetarkan semua area sekitar mereka.


"Aku, Raja Naga yang menguasai waktu, Charmon Starga, mengikrarkan sumpahku."


"Aku, Raja Naga yang menguasai darah dan segel janji ramalan, Azhar, mengikrarkan sumpahku."


Begitu mereka berdua menyelesaikan perkenalan mereka yang dilakukan secara bersamaan, sebuah pilar cahaya mulai terbentuk di antara mereka dan menelan ketiganya.


Seketika, pemandangan lingkungan di sekitar mereka langsung berubah. Dari yang sebelumnya hanyalah ruangan baru yang terbentuk di dalam gua, kini menjadi langit biru yang tak terbatas dengan sebuah altar putih marmer yang menjadi satu-satunya pijakan mereka bertiga.


Aura putih yang menyilaukan terus terpancar dari sosok ketiganya, mambuat mereka bertiga menonjolkan sisi keagungan mereka.


Benar, mereka bertiga bukanlah manusia.


Melainkan, sosok yang eksistensinya jauh lebih tinggi dari itu.


Keberadaan yang sepenuhnya eksis hanya untuk menjalankan suatu tugas yang mulia. Eksistensi yang keberadaannya bahkan telah dianggap punah oleh para dewa. Sosok yang keberadaannya dapat bersanding secara langsung atau bahkan melebihi para dewa.


Mereka adalah, keturunan Naga, atau lebih baik untuk disebut 'Dragonoid'.


...****************...


Charmon, Azhar dan Ephilus berdiri dalam diam sambil terus mengarahkan kedua tangan mereka ke depan dan membentuk suatu pola segitiga dengan sihir mereka.


Kulit mereka yang sebelumnya tak ada bedanya dengan kulit manusia kini menampilkan beberapa sisik yang warnanya sesuai dengan warna rambut mereka.


Tak lama kemudian, cahaya yang mereka keluarkan perlahan meredup sampai akhirnya menghilang sepenuhnya.


" … Charmon … Bagaimana situasinya? " tanya Ephilus begitu aura mereka semua sudah tenang.


Azhar tidak mengatakan apa pun dan fokus mendengarkan.


"Sutuasinya … Hanya menjadi lebih buruk. Gadis itu sudah melakukan pengulangan sebanyak 439 kali, namun masih belum ada hasil yang bisa disebut 'ideal'."


"Begitu, ya … "


Ephilus dengan sedih menganggukkan kepalanya sambil menutupi wajahnya dengan kipas lipat.


Azhar tiba-tiba bertanya pada Charmon sambil menyilangkan kedua lengannya.


"Hei, menurutmu … Apa ada perbedaan yang sangat jelas antara pengulangan yang terjadi sekarang dengan pengulangan yang terjadi sebelum-sebelumnya? "


"Ada. Kemampuan gadis itu sudah semakin baik sehingga kalian tidak dapat mempertahankan ingatan kalian lagi," jawab Charmon setelah mengangguk sedikit.


Membuat wajah seolah ia mengerti, Ephilus kemudian mengangguk.


"Begitu, ya … Jadi, kami sebelumnya masih bisa mempertahankan ingatan kami, ya … "


"Ya, kemampuan gadis itu dalam mengendalikan kekuatannya sudah sangat bagus sehingga sanggup untuk melakukan pengulangan tanpa disadari oleh 'pengawas' seperti kalian."


Azhar dan Ephilus mengangguk.


Mereka berdua jelas mengerti maksud pembicaraan ini. Mereka terus melakukan percakapan yang tak dapat dimengerti siapa pun.


"Dan lebih dari itu … Tampaknya, Dewi Anastasia bahkan tidak menyadari perputaran ini sama sekali," ucap Charmon sambil mendesah ringan.


Charmon mengambil posisi duduk di udara, dan sebuah kursi besar dengan banyak ornamen tiba-tiba muncul seolah merespon keinginannya.


"Yahh, lupakan tentang itu sejenak. Lagipula gadis itu akan terus melakukan pengulangan sampai ia menemukan garis yang ideal untuknya. Aku sama sekali tidak berniat untuk menghentikannya."


"Setuju," ucap Azhar sambil mengikuti gerakan Charmon untuk duduk.


Ephilus terlihat tak mengeluarkan ekspresi apa pun dan hanya menutupi bibir dan hidungnya menggunakan kipas lipatnya, kemudian dia bertanya.


"Jadi? Apa tujuanmu mengundangnya kami berdua ke sini? Jika itu percakapan tentang pengulangan, kita bisa melakukannya secara telepat, 'kan? Apa ada alasan lain untuk bertemu? "


Menghadapi pertanyaan seperti itu, Charmon hanya mampu menghela napas pasrah sambil bergumam, "Dingin sekali … "


"Apa salah untuk bertemu dengan teman-teman lamaku? Lagipula tak lama lagi Azhar akan pergi, 'kan? "


Meskipun namanya disebut, Azhar tampak tak terpengaruh dan justru bersantai di kursinya sendiri.


Azhar membuka matanya sedikit, lalu mendengus kesal.


"Siapa peduli dengan itu. Aku akan menghadapi siapa pun yang berani denganku. Lagipula, sejak awal aku hanyalah pijakan yang akan membantu bocah sialan itu untuk mencapai apa yang seharusnya."


Seolah mendapatkan pukulan dari kata-kata yang diucapkan Azhar, Charmon membuat wajah berkonflik sejenak, sampai akhirnya ia berbicara.


" … Berhati-hatilah, Azhar. Saat ini, kau tidak dalam kondisi prima. Bertarung dengan gegabah hanya akan membuatmu terbunuh dengan sangat cepat dan akan menggagalkan perkembangannya."


Ephilus yang sejak tadi berdiri kini mulai duduk di kursinya sendiri yang memiliki banyak ornamen mewah menghiasinya.


Dia tertawa singkat dengan 'Fufu~', lalu menatap keduanya dengan pandangan hangat.


"Tentu saja akan seperti itu. Lagipula kekuatan kita benar-benar dibatasi begitu kita keluar dari [Eternal Valley] dan memasuki dunia manusia. Di sini, kita hanya bisa mengeluarkan sekitar 30 persen dari kekuatan sejati kita."


[Eternal Valley], begitu Ephilus menyinggung tentang hal itu, Charmon dan Azhar seketika membuka mata mereka dan mengeluarkan pandangan seolah bernostalgia.


"Tempat itu, ya … Aku penasaran bagaimana kabar semua orang … Kita dikirim ke sini karena tugas kita sebagai penjaga, tapi … Tetap saja aku masih belum bisa beradaptasi dengan betapa tipisnya mana yang ada di atmosfer dunia ini. Dibandingkan dengan Eternal Valley, tempat ini jelas lebih buruk … "


Eternal Valley sendiri adalah suatu tempat yang tak dapat dijangkau siapa pun kecuali para dragonoid.


Karena letaknya yang tepat berada di celah antara kedua dunia, menjadikan tempat itu mustahil untuk dijangkau oleh manusia.


Jika menggunakan sebuah sandwich sebagai perumpamaan, maka kedua dunia (dunia manusia dan dunia iblis) itu adalah bagian roti, sedangkan Eternal Valley adalah daging yang mengisi di antara keduanya, yang dilindungi oleh suatu penghalang tembus pandang.


Dan karena posisinya, tempat itu menjadi dipenuhi oleh mana yang memiliki tingkat kepadatan yang sangat tinggi.


Selama beribu-ribu tahun, para dragonoid sudah tinggal disana, sampai akhirnya tubuh mereka sudah beradaptasi dengan sempurna.


Evolusi adaptasi itu tentu saja menguntungkan karena mereka bisa hidup lebih lama dari yang seharusnya. Tapi, evolusi itu juga menghasilkan satu kekurangan. Yaitu, para dragonoid menjadi sangat sensitif dengan perbedaan kepadatan mana di udara.


Charmon, Ephilus, dan Azhar yang datang ke dunia manusia untuk menjadi 'pengawas' adalah orang-orang yang sudah dipilih secara khusus karena kemampuan adaptasi mereka.


Meskipun begitu, pada akhirnya mereka bertiga hanya sanggup untuk mengeluarkan sekitar 30% dari kekuatan asli mereka.


"Tapi, apa boleh buat, 'kan? Menjadi seorang 'pengawas dunia manusia' adalah tugas terhormat yang diberikan Yang Mulia kepada kita," ucap Azhar sambil bermalas-malasan di kursinya.


Charmon tersenyum simpul dan mengangguk.


"Kau benar. Kedamaian yang berhasil didapatkan kedua dunia saat ini adalah hasil dari pengorbanan Pahlawan Aaron dengan Raja Iblis Ishka, sudah tugas kita sebagai mediator untuk terus menjaganya."


"Meskipun … Sangat ironis ketika melihat kalau sejarah di dunia manusia sudah benar-benar melenceng dari sejarah aslinya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Aaron ketika mengetahui kalau Ishka dianggap sebagai seorang tirani yang ingin merebut kekuasaan dunia," ucap Ephilus sambil tersenyum miris.


"Apa kau yakin untuk tidak memberitahu para dewa tentang itu? Aku jadi merasa sedikit bersalah pada Aaron dan Ishka, kau tahu? Bagaimanapun, mereka berdua sudah terlalu banyak berkorban hanya untuk menciptakan dinding yang membatasi kedua dunia."


Azhar tiba-tiba menyela percakapan mereka sambil menggigit biskuit yang ia dapatkan entah dari mana.


Baik Charmon maupun Ephilus agak merasa berkonflik tentang itu.


Meskipun mereka tahu betapa melencengnya sejarah yang saat ini diketahui dengan sejarah aslinya, mereka masih belum bisa memberitahu para dewa karena masalah lain.


Para dragonoid dan dewa bisa dikatakan setara dalam hal kedudukan. Namun, para dragonoid sejatinya masih memiliki posisi yang lebih tinggi karena mereka diciptakan langsung oleh Sang Dewa Pencipta, Chronoa.


Kenyataannya, pihak dari dragonoid sudah memiliki keinginan untuk memberitahu Anastasia dan dewa lainnya tentang sejarah sejati. Namun, karena para dewa sudah menganggap mereka sebagai makhluk yang sudah punah, itu sedikit sulit untuk dilakukan.


Ephilus menghela napas pasrah.


"Selain itu, kita masih belum boleh mempercayai Anastasia dan para dewa. Karena masih ada kemungkinan kalau mereka masih dipengaruhi oleh dominasi dari orang itu. Sampai saat ini, kita tidak tahu dominasi jenis apa yang ia berikan untuk mengendalikan para dewa. Meskipun dia sendiri sudah mati dan dapat dipastikan tidak akan bangkit lagi, mungkin masih ada jejak-jejak dominasinya di inti konseptual para dewa."


" … Kau benar … Kita hanya bisa membiarkan semuanya berjalan sendiri, ya … "


Tidak seperti para dewa yang memiliki aturan mutlak yang mengikat kebebasan mereka, para dragonoid dapat bertindak bebas karena mereka sudah tercipta tepat setelah 'penciptaan dunia' oleh Chronoa.


Di saat itu, sesuatu yang disebut 'aturan mutlak' masih belum ada.


Jika aturan mutlak yang mengikat para dewa melarang mereka untuk ikut campur secara langsung dalam masalah manusia dan ras lainnya, maka dragonoid bisa bertindak bebas tanpa harus terikat dengan batasan.


Ephilus kemudian nengeluarkan sebuah meja dengan peralatan teh yang lengkap di hadapan semua orang.


Ia tampak nyaman dengan suasana yang ada di antara mereka bertiga.


Sambil menyiapkan teh secara manual, Ephilus kembali berbicara.


"Lebih dari itu. Aku cukup khawatir dengan mediator yang dikirim ke dunia iblis. Aku sudah tidak bisa menghubungi mereka belakangan ini. Apa kalian tahu sesuatu tentang itu? "


"Aku tidak tahu. Tapi … Aku yakin nereka masih hidup. Setidaknya, aku bisa merasakan sedikit kebocoran energi mereka dari sini," jawab Azhar dengan santai sambil mengambil cangkir berisi teh yang sudah disediakan oleh Ephilus.


"Yang menjadi kekhawatiranku adalah … Bagaimana keadaan perwakilan dari dunia manusia sekarang … " lanjut Azhar dengan sedikit tegangan di wajahnya.


Selain mereka bertiga, ada sosok dragonoid lain yang dikirim untuk menjadi mediator di dunia iblis.


Masing-masing dunia akan memiliki tiga orang mediator untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan dunia sekaligus menyingkirkan keberadaan 'irregular' yang mungkin akan mengacaukan keseimbangan yang sudah diciptakan oleh Pahlawan dan Raja iblis.


Selain itu, tepat sesaat setelah perang antara kedua dunia berakhir, Pahlawan Aaron dan Raja iblis Ishkavilia sepakat untuk mengirimkan satu perwakilan dari masing-masing dunia untuk membantu tugas para mediator.


Dan perwakilan dari dunia iblis adalah, sosok yang disebut sebagai Raja Vampir.


"Perwakilan dari dunia iblis, Raja vampir sudah mati terbunuh karena ulah Anastasia, tapi itu tidak masalah. Karena itu memang rencananya. Lagipula bocah itu juga memiliki kualitas yang cukup bagus sebagai seorang vampir sejati."


Wajah Charmon menegang saat ia mendengar tentang 'rencana' yang diucapkan Azhar.


Sangat jelas kalau itu terkait dengan sosok bernama Noelle.


Ia sudah tahu tentang rencana itu, dan ia juga sudah menyetujuinya di setiap putaran yang ia lalui. Tapi, tetap saja dia merasa agak berkonflik untuk membuat anak itu berubah menjadi vampir jauh lebih awal dari seharusnya.


"Yahh, apa pun itu … Untuk saat ini, kita biarkan gadis itu untuk melakukan semuanya sendiri sampai akhirnya dia menemukan garis yang ideal. Sampai saat itu tiba, kita hanya akan berperan sebagai pijakan dan bayangan yang akan membantu mereka dari balik layar."


Mereka bertiga tersenyum puas.


Meskipun, mungkin itu adalah saat terakhir bagi mereka bertiga untuk bisa bersama.


"Azhar, jaga dirimu," ucap Charmon sambil tersenyum.


Mengikuti Charmon, Ephilus juga tersenyum.


"Meskipun saat ini kita benar-benar lemah, aku berharap kau bisa memberikan pertarungan yang sengit dengannya," ucap Ephilus.


Azhar terdiam sejenak, namun ia langsung memasang senyum sengit di wajahnya, jelas sangat menantikan pertarungan di masa depan.


"Aku terima ucapan kalian dengan senang hati. Kalau begitu, kita sudahi percakapan kita? "


Azhar berdiri.


Mengikuti dirinya, Charmon dan Ephilus juga ikut berdiri.


"Kau benar. Lagipula kita tidak memiliki hal lain yang harus kita bicarakan."


Ephilus tersenyum masam ketika mengatakan itu.


Melihat adegan itu semua membuat Charmon cukup sedih, namun entah bagaimana ia bisa menahan diri dari membuat ekspresi kesedihan di wajahnya dan mendatangi Azhar.


Dia tanpa mengatakan apa pun memberikan sebuah liontin kecil pada Azhar. Azhar memiringkan kepalanya dengan bingung saat melihat liontin itu.


"Apa ini? "


" … Anggap saja sebagai jimat keberuntungan. Meskipun, kau mungkin tidak membutuhkannya," jawab Charmon sambil mengangkat bahu.


Ia kemudian kembali ke tempatnya sambil diam-diam tersenyum saat melirik ke arah Azhar yang tampak heran dengan liontin itu.


Azhar tersenyum dan memasukkan liontin itu ke dalam kantung bajunya sambil bergumam, "Yahh, ini adalah pengorbanan yang diperlukan."


Ephilus tersenyum sedih ketika melihat kedua teman yang sangat dekat dengannya melakukan salam perpisahan.


Namun, sebagai seorang ketua di kelompok mediator ini, ia tidak bisa menunjukkan wajah emosional dan harus melakukan tugasnya sepenuhnya.


"Kalau begitu, kita akhiri pembicaraan kita hari ini. Atas nama Raja Naga Ephilus, aku membubarkan pertemuan."


Usai mengatakan itu, tubuh ketiganya langsung bersinar dan mengalami transformasi ke wujud sejati mereka.


Tubuh wanita dewasa Ephilus telah berubah sepenuhnya menjadi seekor ular putih raksasa yang menyerupai ciri-ciri naga dari Timur dengan tanduk putih murni di bagian kepalanya, sementara sisik-sisik hijau berkilau tampak menghiasi beberapa bagian di tubuhnya.


Mengikuti dirinya Charmon dan Azhar juga menyelesaikan transformasi mereka.


Wujud naga Charmon tampak seperti naga Barat berwarna hitam kebiruan dengan mahkota besar melayang tepat di atas kepalanya.


Sedangkan Azhar, dia memiliki wujud yang paling berbeda dari yang lain.


Daripada seekor naga, ia tampak lebih cocok untuk disebut sebagai seekor kelabang raksasa.


Tubuhnya yang berwarna hitam dengan corak merah menyala di seluruh sisiknya membuat penampilannya tampak mengerikan. Kakinya yang tak terhitung jumlahnya itu dengan aman dan tanpa suara mendarat di altar marmer putih tempat Charmon dan Ephilus sudah berpijak.


『Kalau begitu, selamat tinggal, semoga Yang Mulia Chronoa melindungi kalian.』


Suara telepati Ephilus bergema di langit yang tak terbatas itu, kemudian ia terbang menjauh ke langit dan menghilang sepenuhnya.


Charmon ikut terbang dengan mengepakkan sayap raksasanya, sedangkan Azhar menyelam ke dalam altar seolah altar itu bukanlah sesuatu yang padat.


Dengan begitu, pertemuan terakhir mereka telah selesai.


...****************...