![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Kembali ke beberapa saat di masa lalu.
Olivia dalam diam memandangi pantulan bulan di air yang mengalir dengan bebas melewati kanal-kanal yang masih utuh di kota.
Beberapa menit telah berlalu sejak Noelle pergi untuk melakukan 'pekerjaannya', dan Olivia masih belum bergerak dari tempatnya sejak saat itu.
Wajahnya menampilkan ekspresi melankolis yang mempesona, sementara tatapan matanya yang sayu memandangi pantulan tiga bulan di permukaan air.
Olivia menghembuskan napas panjang sambil mengangkat wajahnya, dan menatap ke langit yang dipenuhi bintang yang berkilauan.
Tidak peduli seberapa sering ia melihatnya, Olivia tidak pernah bosan memperhatikan langit yang dipenuhi bintang itu.
Terlahir kembali di dunia yang minim akan teknologi penerangan mungkin menjadi sebuah berkah tersendiri bagi seseorang yang menyukai pemandangan langit malam seperti Olivia.
Langit yang gelap, ditaburi oleh kilauan bintang yang tidak terhitung jumlahnya, sementara tiga bulan yang memiliki ukuran yang berbeda-beda itu terlihat saling mengorbit dalam posisi yang presisi.
Sudah berapa lama ia terdiam di sana? Ia sendiri juga tidak mengetahuinya.
Indera perasanya akan waktu telah memudar ketika ia menikmati kehangatan tubuh Noelle beberapa jam yang lalu. Bahkan, sampai sekarang Olivia masih mengingat semua sensasi yang memenuhi dirinya saat itu.
Sensasi hangat yang menyenangkan mengalir di dalam perutnya, tepatnya di dalam rahimnya yang telah dipenuhi oleh benih dari Noelle.
Olivia tersenyum simpul ketika dia mengelus perutnya dengan lembut.
Ini mungkin akan menjadi masalah yang cukup serius jika Olivia mengandung pada usia fisiknya yang sekarang, tapi itu semua bukanlah masalah lagi karena ia bisa dengan bebas mengendalikan sistem ovulasinya sendiri.
Meskipun, secara mental Olivia sudah pada usia yang ingin segera 'mengandung'. Tapi, Olivia akan menahan dirinya untuk saat ini.
Olivia tersenyum sambil memikirkan beberapa hal yang terlalu memalukan untuk dibahas, dan berbalik untuk segera pergi. Namun, dirinya dikejutkan dengan sesosok gadis yang sedang bersandar di salah satu puing bangunan yang masih tersisa di sana.
Itu adalah Anzu.
Rambut pendeknya bergoyang dengan ringan saat angin yang lembut menimpa mereka, sementara matanya yang memiliki bentuk indah itu menutup kelopaknya seolah menikmati hembusan angin itu.
"Apa yang kau lakukan di sini? "
Olivia mencoba bertanya pada Anzu. Selain Noelle dan Charlotte, Olivia hampir tidak pernah berinteraksi dengan semua orang di kelompok reinkarnator.
Tentu saja, Lilith adalah pengecualian untuk itu. Situasinya begitu mendesak sehingga membuat Olivia harus berbicara dengan Lilith walaupun dia sebenarnya cukup enggan.
Tak lama kemudian, Anzu membuka matanya dan menatap Olivia.
"Aku bisa menanyakan hal yang sama denganmu. Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah tengah malam."
Olivia menyipitkan matanya dengan kesal, "Jangan membalikkan pertanyaanku."
Mendengar itu, Anzu tersenyum kecut dan bergunam, "Kau benar-benar hampir tidak pernah berubah."
"Aku hanya ingin menikmati udara segar setelah hari yang aneh ini."
–Hari yang aneh. Olivia sepenuhnya setuju dengan pernyataan itu.
Ini memang hari yang gila, dan sangat panjang. Terutama, bagi Noelle.
Olivia bisa membayangkan berapa banyak hal yang harus Noelle pikirkan hanya untuk satu hari ini. Meskipun Olivia tahu itu, ia masih tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu Noelle.
Menghela napas panjang sejenak, Olivia kemudian kembali memandangi pantulan bulan yang ada di permukaan air.
" " ……… " "
Keheningan yang aneh menguasai udara. Tidak ada satu pun dari mereka berdua yang mau membuka percakapan. Lagipula, sejak awal mereka berdua bukanlah tipe yang dapat dengan mudah memulai percakapan dengan orang lain.
"Hei … "
Olivia berpikir kalau keheningan ini akan berlangsung setidaknya sampai beberapa jam ke depan, tapi pemikiran itu seketika dipatahkan oleh Anzu yang memanggilnya.
"Apa? "
Olivia menjawab dengan cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari permukaan air yang memantulkan sinar bulan seperti cermin itu.
Anzu diam sejenak, lalu melanjutkan, "Itu … Aku hanya ingin mengatakan kalau … Melakukannya terlalu sering tidak begitu baik untuk tubuh dan keberlangsungan hubunganmu, kau tahu? "
" …? "
Olivia tidak mengerti maksudnya. Dia memiringkan kepalanya dengan bingung sementara otaknya berusaha mencari apa maksud perkataan Anzu.
Tak butuh waktu lama bagi Olivia untuk mengerti maksudnya. Wajahnya seketika memerah sehingga rasanya Anzu dapat melihat uap yang keluar dari sana.
Anzu yang melihatnya menganggap itu lucu sehingga ia hanya bisa menahan tawa yang hampir keluar dari mulutnya.
"T-tolong jangan urusi itu … "
Olivia dengan suara yang hampir berteriak berbicara dengan panik pada Anzu. Meskipun begitu, Anzu masih terlihat bersenang-senang.
"Maaf, maaf. Lupakan saja apa yang kukatakan itu. Ngomong-ngomong … Di mana Iza– Maksudku Noelle? "
Rona merah di wajah Olivia perlahan menghilang. Ia berhasil menenangkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Anzu.
"Noelle sedang memiliki beberapa pekerjaan. Hanya itu yang bisa kuberitahu."
"Begitu, ya."
Anzu tidak mengatakan apa pun lagi. Ia tahu kalau Olivia sedang menyembunyikan sesuatu, tapi tidak baik jika ia mengorek terlalu dalam.
Untuk mengalihkan suasana yang canggung, Anzu memutuskan untuk menanyakan sesuatu yang sudah sangat lama ingin ia tanyakan pada Olivia, atau lebih tepatnya Ayano.
"Hei, menurut pendapatmu … Iza– Noelle itu orang yang seperti apa? "
"Hmm? "
Olivia menoleh dan memiringkan kepalanya. "Ada apa tiba-tiba? "
"Tidak, aku hanya penasaran. Di kehidupan sebelumnya, kalian sangat dekat, 'kan? Aku tahu latar belakang keluarga kalian karena Noelle yang menceritakannya padaku dulu, tapi aku tetap penasaran dengan caramu memandangnya."
"Kurasa … Itu adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Noelle adalah orang yang aneh. Sifat dan kepribadiannya sering kali tidak selaras dengan apa yang biasanya ia lakukan. Pemikirannya juga terkadang sangat abstrak sehingga aku tidak bisa membacanya."
Itu adalah ungkapan jujur dari Olivia. Baginya, Noelle memang orang yang sangat sulit untuk dibaca. Olivia tentu menyadari betapa tebalnya topeng yang Noelle gunakan untuk menciptakan penampilannya di publik. Tapi, di satu sisi, Olivia sama sekali tidak dapat memahami isi kepala Noelle sepenuhnya. Bahkan jika ia sudah bersamanya untuk waktu yang sangat lama.
Anzu mengangkat satu sudut bibirnya setelah memastikan pendapat Olivia.
"Aku paham maksudmu. Dia memang sedikit terlalu abstrak sehingga sulit untuk dipahami oleh orang lain. Tindakannya yang terkadang konyol, dan terkadang serius itu sulit untuk ditebak."
" … Bagaimana kau bisa seyakin itu? "
Olivia memang tahu kalau Anzu di kehidupan sebelumnya bisa dikatakan cukup dekat dengan Noelle, tapi tetap saja itu menyisakan rasa yang tidak enak di hatinya ketika mendengarnya secara langsung.
"Pengalaman pribadi. Apa kau ingat saat aku pergi bersamanya untuk mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Akihabara? Aku juga mengundangmu saat itu, tapi kau menolak untuk ikut."
"Ahh … Yang itu, ya … "
Olivia tidak akan pernah mengingat kejadian itu jika Anzu tidak mengatakannya. Memang benar, saat itu ia menolak ajakan Anzu untuk mengunjungi pusat perbelanjaan, dan itu karena ia tidak tertarik.
Lagipula, Noelle dan Anzu berada di sana karena mereka sedang berburu franchise anime favorit mereka yang rilis musim itu.
Olivia tidak begitu tertarik dengan anime, tapi dia suka novel. Jadi, jika ia datang bersama mereka saat itu, ia hanya akan berjalan-jalan sendirian di bagian buku yang jaraknya cukup jauh dari lokasi mereka berdua.
"Nn, aku ingat. Tapi … Apa yang terjadi saat itu? "
"Tidak ada sesuatu yang khusus. Kami hanya berbelanja seperti yang direncanakan. Tapi … Ada suatu kejadian yang membuatku semakin tidak mengerti isi pemikirannya."
Olivia memiringkan kepalanya dengan bingung. Jelas menunggu Anzu melanjutkan perkataannya.
"Yahh, ini hanya hal yang sepele tapi … Itu membuat kami berdua harus mengalami hal yang merepotkan setelahnya."
"Dan? Apa itu? "
Anzu diam sejenak. Wajahnya menunjukkan senyum canggung, sementara matanya terpejam.
"Ini terjadi di restoran. Dia memprovokasi kelompok ekstrimis vegan dengan cara memakan daging hamburger tepat di hadapan mereka."
"Rasanya aku bisa mengerti tentang apa yang akan terjadi selanjutnya … "
"Restoran itu cukup sepi. Selain kami berdua, hanya ada kelompok ekstrimis vegan itu yang kelihatannya sedang berdiskusi tentang beberapa hal … Jadi … Mereka bisa dengan jelas apa yang Noelle lakukan. Singkat saja, mereka langsung melayangkan tuntutan kepada kami di sana."
"Hanya karena memakan daging? "
"Seorang ekstrimis itu sangat mengerikan, kau tahu? Terlebih lagi, mereka bukanlah orang lokal, tapi turis dari negara lain."
"Barat? "
" … Kau bisa menganggapnya seperti itu … "
Keduanya tersenyum kecil dan tertawa singkat.
Sangat mengagumkan bagaimana mereka berdua bisa mengobrol dengan santai di tengah kekacauan dan kepanikan yang melanda masyarakat.
Terlebih lagi, Olivia saat ini seharusnya menjadi target utama dalam kecurigaan pelaku penyerangan Nix Regina sebelumnya.
Meskipun Olivia sudah membantah pernyataan mereka, mayoritas masyarakat masih meragukan Olivia.
Itu wajar saja. Lagipula, tidak mungkin mereka akan dengan mudah mempercayai orang yang ciri-ciri fisiknya sangat identik dengan pelaku penyerangan itu.
Olivia tidak begitu peduli tentang pendapat orang lain tentangnya, tapi ia tidak akan diam saja jika mereka mulai melibatkan orang-orang di kelompoknya, terutama Noelle dan Chloe.
Jika sampai itu terjadi, Olivia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi. Setelah bertahun-tahun tinggal bersama Noelle dan memiliki kontak fisik yang sangat intim, Olivia telah menjadi sedikit lebih ketergantungan pada Noelle. Satu-satunya hal yang mungkin akan ia lakukan jika situasi terburuk itu terjadi, ia akan melampiaskan semua emosinya dan mengeluarkan semua kekuatannya sebagai seorang vampir dan pemilik skill dosa.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau … Kenapa kalian semua ada di kota ini? "
Sejenak, Anzu terdiam karena tidak sanggup memahami perubahan topik yang tiba-tiba terjadi. Ketika sadar, ia mengangguk dan mengeluarkan secarik kertas dari sakunya.
"Kami ke sini untuk praktek pengalaman langsung ke wilayah lain. Aku sendiri tidak ingin melakukannya, tapi sayangnya aku diwajibkan untuk mengikuti perjalanan ini agar aku bisa lulus dari akademi."
"Akademi, ya … "
Olivia terdiam sejenak ketika mendengar itu. Berkat Cryll dan Stella, Ia jadi tahu kalau ada akademi besar si ibu kota kerajaan tempat para anak bangsawan belajar. Tapi, ia tidak pernah menyangka kalau sebagian besar reinkarnator akan berada di tempat itu.
"Bicara tentang akademi, apa kau pernah mengambil pendidikan di suatu tempat? Noelle saat itu bilang kalau kalian berdua berasal dari keluarga bangsawan di negara lain, 'kan? Apa ada fasilitas pendidikan serupa di sana? "
Pertanyaan itu diajukan oleh Anzu dengan rasa penasaran murni. Dengan kualitas pendidikan yang begitu rendah di masyarakat negara tempat ia tinggal, jelas ia akan penasaran dengan kondisi pendidikan di negara lain.
Dan sejujurnya, Olivia tidak tahu bagaimana harus menjawab itu. Tidak mungkin seseorang yang mengurung dirinya di sebuah kastil besar selama kurang lebih 8 tahun akan memiliki pengetahuan tentang dunia luar.
Perpustakaan besar yang ada di kastil vampir itu sudah cukup untuk memberikan Noelle dan Olivia pendidikan yang setara dengan keluarga bangsawan tingkat tinggi. Namun, hanya sebatas itu jelas tidak cukup.
Mereka berdua memang mendapatkan banyak pengetahuan tentang sihir dan berbagai hal lainnya dari tempat itu, tapi, sebagai akibatnya, mereka berdua jadi tidak memiliki banyak informasi tentang apa saja yang terjadi di dunia luar.
Olivia menghela napas untuk yang kesekian kalinya, dan menjawab pertanyaan Anzu dengan jawaban yang telah ia pikirkan.
"Entahlah. Aku tidak begitu tahu. Meskipun kami berdua terlahir kembali sebagai bangsawan, kami tidak memiliki banyak ketertarikan untuk menjalani pendidikan formal di sebuah akademi. Kami hanya perlu mempelajari semuanya secara otodidak atau memanggil guru pribadi."
"Benar-benar seperti kalian," ucap Anzu tanpa menggerakkan ekspresinya.
Anzu mengenal mereka berdua dengan cukup baik bahkan di kehidupan sebelumnya, jadi ia sudah tidak merasa heran dengan cara berpikir mereka.
Setelah itu, keduanya diam dan tak saling mengatakan apa pun. Keheningan itu terus berlanjut selama beberapa menit, sampai akhirnya …
Sebuah ledakan besar kembali terjadi di kota itu.
"Serius? "
Keduanya hanya bisa menghela napas pasrah.
...****************...
Ledakan terjadi di mana-mana, jeritaj ketakutan dari para warga yang belum sempat melarikan diri memenuhi udara, membuat telinga siapa pun yang mendengarnya akan merasa sakit.
Dalam situasi seperti itu, seorang pria dengan tombak panjang di tangannya menghancurkan semua penghalang yang menghalangi jalannya.
Begitu penghalang itu hancur, ia langsung menancapkan ujung tombaknya ke kepala salah satu penjaga yang berniat menyerangnya.
Sementara penjaga lain tampak terkejut dengan kematian rekannya yang tiba-tiba itu tidak sempat berteriak bahkan saat ujung tombak pria itu menancap di bahunya.
Namun, saat pria itu berniat memperdalam luka yang disebabkan oleh tombaknya, sebuah tebasan tanpa suara tiba-tiba muncul dan mematahkan tombaknya.
"Kau pergilah! "
Norman tiba-tiba muncul dan mendorong penjaga itu untuk mundur, lalu menghadapi pria itu.
"Siapa kau? "
Meskipun dia mendapat pertanyaan yang biasa dari Norman, pria itu tampak tak memiliki niat untuk menjawabnya.
Atau lebih tepatnya, pria itu terlihat sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Norman. Dia langsung menarik kembali tombaknya yang telah dipotong dengan rapih, lalu mengayunkannya secara sembarangan.
"Apa-apaan … "
Bahkan Norman dapat dengan mudah menyadari kalau gerakan yang dilakukan pria itu sangatlah amatir. Dia berpikir kalau gerakan yang dilakukan oleh bocah 10 tahun mungkin lebih baik dari itu.
Tapi, tingkat destruktif yang dikeluarkan oleh pria itu dengan gerakan yang berantakan itu tak dapat dianggap remeh.
Setiap ayunannya menghasilkan gelombang kejut yang sempat membuat Norman terdorong sejenak.
Pedang Norman berbenturan dengan tombak pria itu yang kini hanya berupa tongkat kayu. Meskipun begitu, tombak itu tak menunjukkan tanda-tanda akan patah dan justru mendorong pedang Norman.
Norman mengerutkan keningnya sejenak dan langsung mengayunkan pedangnya dengan cepat secara diagonal ke atas, lalu menendang perut pria itu dengan sangat kuat.
Tubuh pria itu terpental dan menabrak tanah beberpa kali sebelum akhirnya berhenti tepat setelah menabrak sebuah tembok batu yang besar.
Norman tanpa membuang waktu lagi langsung berlari menyusuri jalanan itu dan mengarahkan ujung pedangnya ke kepala pria itu.
Ujung bilah pedangnya dengan mudah menembus tengkorak pria itu, dan menghancurkan semua yang ada di dalamnya dengan gelombang kejut yang dihasilkan.
"Sudah kuduga … Dia memang sudah mati sejak awal," ucap Norman sambil mengayunkan pedangnya guna membersihkan sisa darah yang menempel.
Orang yang otaknya baru saja ia hancurkan, memang sudah mati sejak awal. Itu artinya, yang ia lawan selama ini hanyalah boneka necromancer.
Dalam pikirannya, hanya ada satu orang yang bisa melakukan itu.
"Terneth … "
Mengingat semua kejadian sebelumnya, Norman tentunya secara alami akan menghubungkan semua titik ini ke satu orang, yaitu Terneth.
Meskipun ia tidak mau mempercayainya, Terneth telah dibuktikan bersalah dan melarikan diri dari jeratan hukum.
Dengan melakukan tindakan itu pula, Terneth telah mengkhianati kepercayaan yang telah Norman berikan.
Sementara ia memikirkan itu, seseorang datang dari udara dan mendarat tepat di sampingnya.
"Norman! Situasi di pusat sangat buruk! Kau harus cepat! "
Itu adalah Kaira. Dia datang untuk memberikan laporannya pada Norman.
"Apa yang terjadi? "
"Sulit untuk mengatakannya sekarang, lebih baik kau lihat sendiri. Alan sedang membersihkan jalur agar semua penduduk memiliki tempat untuk melarikan diri."
Tepat setelah ia mengatakan itu, dua orang lagi tiba-tiba datang dengan jatuh dari langit, dan mendarat tepat di hadapan dia dan Norman.
Mereka berdua adalah Muku, dan Waka yang datang secara bergiliran.
"Norman! Bagian barat diserbu oleh sekelompok orang dengan senjata api! "
"Bagian timur juga. Tempat ini sudah dikepung."
Sebagai catatan, lokasi mereka saat ini ada di area pengungsian besar yang ada di bawah tanah. Jika mereka dikepung di tempat seperti ini, sudah pasti tidak akan ada jalan keluar lain.
Norman berusaha tenang untuk menganalisis situasi dan menemukan solusi yang baik, tapi semua kekacauan yang terjadi di sekitarnya membuatnya kehilangan fokus.
(Sebenarnya apa yang terjadi di sini?! )
Meskipun ia dipenuhi dengan rasa ketidaksabaran karena tidak mengetahui situasinya, Norman masih mencoba untuk tetap tenang agar tak mengacaukan moral semua orang.
Jika seseorang dari keluarga kerajaan akan panik hanya karena serangan seperti ini, maka keluarga kerajaan pastinya akan menanggung rasa malu dari cemoohan publik.
"Untuk sekarang, aku dan Karia akan pergi ke bagian pusat untuk memeriksa situasinya secara langsung. Muku dan Waka lanjutkan menangani bagian kalian. Jika bisa, lumpuhkan semua musuh dan dapatkan informasi dari mereka. Jika tidak … Jangan ragu untuk menghabisi mereka."
Itu adalah pilihan pahit yang terpaksa ia buat mengingat situasinya yang tidak begitu menguntungkan.
Sebagai seorang reinkarnator, tidak mungkin dia bisa dengan mudahnya memerintahkan temannya untuk merampas nyawa seseorang, tapi dia tetap harus melakukan itu, mengambil sebuah keputusan rasional dengan mengorbankan nyawa orang lain, ia sendiri harus melakukan itu, bahkan jika ia membencinya. Karena, itu adalah tugasnya sebagai seorang pemimpin.
Muku dan Waka tanpa mengatakan apa pun lagi langsung mengangguk, dan sosok mereka seketika menghilang.
"Norman."
Kaira memanggilnya dari belakang, dan Norman mengangguk, mendekatinya.
Kaira memegang bahu Norman, dan sosok mereka juga ikut menghilang seperti Muku dan Waka sebelumnya.
Mereka baru saja melakukan teknik teleportasi yang harus digunakan ketika keadaan darurat. Dengan Kaira sebagai perantara, Norman secara instan bisa pergi ke semua tempat yang telah ditandai sebelumnya.
Begitu proses teleportasi selesai, keduanya membuka mata dan memperhatikan sekeliling mereka.
Mayat ada di mana-mana, aroma menyengat dan menjijikkan dari darah segar yang berceceran, serta kobaran api yang memenuhi udara adalah pemandangan pertama yang mereka lihat.
Norman menahan rasa mual yang memenuhi dirinya, dan memperhatikan sekeliling.
Sama sekali tidak ada tanda kehidupan. Bahkan semua penyerang yang dilaporkan oleh Kaira sebelumnya juga tidak ada.
Kaira sendiri juga memperhatikan tempat itu dengan bingung. Sebelum ia meninggalkan tempat ini sebelumnya, ia sangat yakin kalau ada lebih dari 50 orang dengan seragam aneh menyerang semua penduduk tanpa ragu.
Dan kini, sosok mereka tiba-tiba menghilang.
Setelah beberapa saat berlalu dengan mereka yang dilanda kebingungan, barulah mereka mengerti dengan apa yang terjadi.
Hawa dingin menusuk dan mengalir melalui punggung mereka, sementara butiran keringat dingin mulai bermunculan di dahi mereka.
Mata keduanya melebar karena terkejut, sementara mulut mereka juga terbuka tanpa sepatah kata pun yang keluar.
Yang menjadi penyebab 'menghilangnya' semua orang tadi, sedang berdiri tepat di hadapan mereka.
Itu adalah Olivia, yang berdiri di atas tumpukan mayat yang sudah tak berbentuk lagi. Mata gelapnya menjadi semakin gelap dan tampak tak bernyawa, sedangkan bibirnya tersenyum dengan sangat lebar, membuatnya memiliki ekspresi yang mengerikan.
Di tangan kanannya, sebuah rapier yang panjangnya dapat mencapai 2 meter terlihat berlumuran darah, sementara di tangan kirinya terdapat ratusan senjata tajam yang terbuat dari es dan terhubung satu sama lain melalui sebuah rantai es.
Senyum di wajahnya tampak mengerikan, dan di saat yang sama, tampak sangat mempesona.
Itu adalah pemikiran jujur dari semua orang yang melihat pemandangan itu.
...****************...
(AN: Update-ku mungkin akan sedikit berantakan setelah ini. Bagaimanapun, sebentar lagi aku harus menghadapi ujian akhir yang mengerikan.)