[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 272: Tirai Drama



...****************...


Dahulu kala, ada sebuah negara Kekaisaran yang sangat kuat.


Begitu kuat sehingga semua negara di sekitarnya sangat segan terhadapnya.


Negara itu dipimpin oleh seorang Kaisar yang sangat hebat. 'Dia' memiliki segalanya; kekayaan, kecerdasan, kekuatan, dan kecakapan sebagai pemimpin.


Tak diragukan lagi, dia adalah sosok pemimpin yang sangat ideal.


Meski negara yang dia pimpin masihlah sangat muda, Kaisar yang memimpin negara itu telah menaklukkan banyak negara lain di sekitarnya, membuatnya mendapat gelar sebagai 'Kaisar Abadi'.


Namun, bahkan dengan semua kekuatan itu, Kaisar hanya mampu mempertahankan negaranya selama tujuh puluh lima tahun.


Kekaisaran yang ia bangun dengan kedua tangannya sendiri runtuh, dan semua yang ingin dia lindungi menghilang seketika.


Dan begitu saja, semua pencapaian dan kebanggaan yang dimiliki sang 'Kaisar Abadi' pun runtuh, lalu menghilang tanpa jejak.


...****************...


"Keberadaan target dikonfirmasi. Lokasi: area pasar dan distrik merah. Meminta izin untuk meneruskan pengamatan."


"Izin diberikan. Semua unit terdekat diizinkan untuk melanjutkan pengawasan terhadap target."


"Lapor, target terus berlari ke arah yang tidak menentu. Mungkin sedang mengejar sesuatu."


"Laporan diterima, tetap lanjutkan pengawasan. Semua unit tidak diizinkan untuk turun tangan."


Satu per satu laporan terus memasuki telinganya, dan dia dengan fokus mencoba mengelola setiap laporan yang masuk itu.


Target pengawasan saat ini, Noah Ashrain, terlihat sedang berlarian tak tentu arah di area distrik merah.


Salah satu agen di dekatnya bergerak maju untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan segera menemukan kebenarannya.


"Target mengejar seseorang. Kemungkinan pria, menggunakan jubah yang menutupi seluruh tubuh. Belum ditemukan alasan mengapa target mengejarnya."


"Laporan baru, target mengejar seorang pelaku pembunuhan. Korban adalah seorang tunawisma tanpa identitas."


Pelakunya memakai topeng, dan tubuhnya juga diselimuti jubah hitam yang tebal. Hampir mustahil untuk melihat sosok yang ada di balik itu.


Namun, dari pergerakannya saja semua agen sudah tahu kalau dia adalah seorang pria.


"Terus amati pergerakan target, jangan ikut campur kecuali perintah diberikan."


...****************...


(Ini berhasil.)


Noelle tidak bisa mendengar saluran telepati mereka, tapi dia tahu inti dari semua percakapan itu.


Pergerakan semua agen dengan jelas menunjukkan perintah apa yang mereka dapatkan.


Noelle terus berlari mengejar Harold yang saat ini sedang menyamar. Tentu saja, kecepatannya sedikit dikurangi, dan pengejaran ini terus dilakukan dengan mengikuti rute yang telah Noelle buat.


Mungkin terlihat seperti pergerakan yang acak bagi orang luar, tapi kalau mereka sampai berpikir begitu, maka itu artinya rencana Noelle sudah berhasil.


Para agen tidak menyadari bahwa mereka telah dibimbing ke tempat yang Noelle sediakan.


Dalam perjalanan, dia mengumpulkan kembali semua darah yang telah dia sebarkan.


Sekarang itu sudah tidak dibutuhkan, dan Noelle tidak berniat membuang darahnya begitu saja.


Setiap tetesan darah ia ubah menjadi jarum kecil yang tajam, yang kemudian dia simpan di sebuah kantung kulit yang keras.


Tak jauh di depannya, Harold terus berlari, mengikuti rute yang telah Noelle tentukan. Hingga akhirnya, mereka sampai di titik terakhir.


Harold menyadari itu, dan segera berbalik. Tatapannya yang ada di balik topeng mengarah langsung pada Noelle, dan dia segera mengeluarkan pedang panjangnya.


"Apa kau berencana untuk bertarung sekarang? Sayangnya, aku tidak berniat untuk melepaskan pelaku kejahatan sepertimu."


Kata-kata itu akan sesuai dengan identitasnya sebagai Noah Ashrain, sehingga membuat para agen yang mengawasi tidak merasakan ada sesuatu yang aneh.


Harold tidak membalas, dan justru langsung menerjang maju sambil menebas dengan pedangnya.


Tebasan itu Noelle tangkis dengan pedangnya sendiri, dan dia langsung membelokkan arah dari tebasannya, sebelum akhirnya bergerak maju untuk menutup jarak.


Noelle tepat berada di hadapan Harold dan berniat menyerangnya, tapi Harold telah melangkah mundur lebih dulu, dan berhasil menghindari serangan.


Keduanya menjaga jarak satu sama lain, mewaspadai setiap gerakan yang akan dikeluarkan lawan.


Tentu saja, akan seperti itu di pandangan para agen.


Nyatanya, semua pertarungan ini sudah ditentukan.


Mereka hanya perlu bertarung, dengan hasil yang sudah jelas sejak awal.


(Di sinilah hasilnya akan terlihat. Mulai dari sini, semua tidak akan sama lagi.)


Noelle tidak mengubah ekspresinya saat pedangnya terus beradu tebasan dengan Harold.


Tidak ada serangan yang berhasil menyentuh kulit satu sama lain. Mereka saling menangkis, dan berusaha mencari celah untuk menyerang, hanya untuk dihentikan setelahnya.


Noelle dan Harold melompat mundur secara bersamaan, dan saat Harold hendak menerjang ke depan, Noelle mengangkat tangan kirinya yang kosong, dan sebuah bola api berukuran genggaman muncul dari sana.


Bola api itu melesat dengan cepat ke arah Harold, dan Harold menebasnya tanpa ragu.


Hasilnya, bola api itu terbelah dan menciptakan gumpalan asap tebal yang menutupi 'panggung'.


Baik itu Noelle ataupun Harold sudah tidak terlihat lagi di mata para agen, dan mereka dengan panik berusaha melihat melalui tabir asap untuk mengetahui situasinya.


Namun, sayangnya itu terlambat.


Tirai untuk drama 'Noah Ashrain' telah ditutup.


Asap mulai menipis, dan pandangan para agen mulai pulih.


Mereka dengan cemas melihat situasinya, tapi itu tidak seperti yang mereka harapkan.


Yang ada di sana, adalah sosok berjubah yang menancapkan pedangnya tepat ke jantung Noah Ashrain.


Noah benar-benar sudah tidak bergerak lagi, dan orang itu langsung mencabut pedangnya.


Seketika, tubuh Noah terjatuh, dengan mengeluarkan banyak darah dari luka tusukan di dada yang menembus hingga jantungnya.


Setelah memastikan kalau dia sudah tidak bernapas, sosok berjubah itu bergegas pergi, meninggalkan para agen dalam kebingungan yang kacau.


"Periksa kondisinya! "


Beberapa agen keluar dari persembunyian mereka untuk memeriksa kondisi Noah, tapi itu sia-sia.


Noah sudah tidak bernapas, dan jantungnya juga sudah berhenti berdetak.


Beberapa agen lainnya berusaha mengejar atau bahkan melacak pelaku pembunuhan itu, tapi mereka tidak sempat. Keberadaan orang itu tiba-tiba menghilang sebelum mereka bisa menempatkan pelacak padanya.


Ini sia-sia. Situasinya lebih buruk dari yang siapa pun kira.


"Jaga mayatnya, dan berikan laporan pada atasan bahwa dia meninggal dalam pertarungan melawan seorang penjahat. Aku akan bertanggung jawab atas hal ini."


Yang memberikan perintah itu adalah perwakilan atasan dalam misi pengawasan Noah.


Bisa dibilang, dia adalah orang dengan otoritas tertinggi di sini.


Dialah yang sebelumnya memberikan perintah untuk tidak membantu, dan memerintahkan untuk terus mengamati dari kejauhan.


"Ini lebih buruk dari yang kuduga …. "


Kematian seseorang adalah hak yang sangat wajar di dunia ini. Meski begitu, kematian Noah Ashrain membuat para agen yang menyaksikannya bingung.


Dalam laporan yang mereka dapatkan, Noah Ashrain memiliki pasangan kontrak yang menginginkan dia tetap hidup.


Raja Taktik Minerva.


Tidak ada catatan tentang dewa itu, tapi laporan yang mereka dapatkan adalah hasil penyelidikan terhadap subjek Noah Ashrain saat misi pengepungan Swallow Life Order.


Bagaimanapun, situasinya telah berubah.


Dia memutuskan untuk tidak membantu Noah karena dia tahu kalau Noah memiliki kemampuan untuk membela diri. Tapi, apa yang terjadi sampai-sampai dia bisa mati begitu saja di tempat ini?


Apakah Noah tidak sekuat yang dilaporkan? Atau ada alasan lain? Juga, kenapa dia tiba-tiba muncul setelah menghilang selama seharian penuh?


...****************...


Di ruang kantornya yang ada di gereja, Dolf membaca surat laporan darurat yang baru saja dikirim oleh para agen.


Surat itu sangatlah singkat, menyatakan tewasnya seorang anggota bernama Noah Ashrain saat berusaha mengejar seorang pelaku pembunuhan.


Untuk sejenak Dolf tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia menarik napas panjang sejenak, lalu melipat surat itu sebelum membuangnya ke sudut ruangan.


Dia sudah tahu ini akan terjadi.


Kemarin, di sela kesibukan pesta, Noah mendatangi ruangannya.


"Kau seharusnya menikmati pesta ulang tahunmu di sana."


Noah tidak menjawabnya, dan hanya tersenyum masam.


Dia kemudian duduk di kursi tamu, terlihat bingung akan sesuatu.


Dolf juga tidak terlalu mengkhawatirkannya, dan lanjut mengerjakan tumpukan dokumen yang ada di atas meja.


Namun, itu hanya berlangsung sampai Noah tiba-tiba membuka mulutnya.


"Jika saja … orang bernama Noah Ashrain itu tidak ada, apa yang akan terjadi? "


Dolf tidak mengerti mengapa Noah tiba-tiba menanyakan itu. Namun, pengalaman hidupnya memberi tahu, bahwa Noah saat ini sedang bingung akan sesuatu.


Tapi sayangnya, Dolf tidak memiliki jawaban yang bisa membantu Noah dalam mengatasi rasa frustrasinya. Meski begitu, paling tidak, dia ingin membantu sedikit.


"Jika Noah tidak ada? Semua akan berbeda. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi kau telah banyak berperan penting, Noah."


Dolf dengan cepat merangkai kalimat di kepalanya seiring dengan meningkatnya kecepatannya dalam menandatangani dokumen.


"Pencarian terhadap Swallow Life Order tidak akan dimulai, dan rencana mereka pasti akan berjalan dengan sangat lancar tanpa kita sadari. Kaulah yang membuat kami mampu menghentikan itu tepat waktu. Berkat semua laporanmu yang luar biasa kami berhasil melindungi kota ini."


Noah diam dan tidak mengatakan apa pun. Tatapannya jatuh pada paku yang tergeletak di lantai.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu terganggu. Tapi, jangan pernah berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja jika kau tidak muncul."


Noah tersenyum kecut, mengejek pada dirinya sendiri.


"Senang mendengarnya. Tapi, bagaimana jika … Noah Ashrain itu tidak pernah ada? Bagaimana jika tidak ada orang dengan nama itu? "


(Ahh, begitu ….)


Dolf dengan cepat memahami apa yang sedang Noah pikirkan.


Untuk sejenak, dia berhenti mengerjakan dokumennya, dan melihat pada langit-langit ruang kantornya.


"Tidak ada yang peduli dengan itu," ucapnya sambil memainkan pulpen di jarinya.


Noelle mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? "


"Bagiku, bagi semua orang di sini, Noah adalah Noah. Tidak ada yang peduli bahkan jika itu hanyalah identitas palsu. Karena pada dasarnya, Noah adalah bagian dari kami, dan mempercayainya adalah pilihan kami sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain."


" ……… "


"Karena itulah, bahkan meski orang bernama Noah itu sejatinya tidak pernah ada, bagi kami dia ada. Noah telah memiliki tempat di hati semua orang di bar ini, tempat ini selalu terbuka untuknya. Karena jika tidak begitu, kepergian Tian, Rita, dan Louen akan sia-sia."


Barulah setelah kalimat itu keluar, Dolf bisa melihat perubahan pada ekspresi Noah.


Matanya melebar, tapi segera menyipit dengan tidak nyaman saat dia menggigit bibirnya sendiri.


"Louen … sudah menempatkan kepercayaan yang besar padamu, 'kan? Kalau begitu, kau tidak perlu pusing memikirkannya."


"Dia memilih seseorang yang dia percayai, dan itu adalah kau. Itu adalah pilihannya sendiri, jadi kau tidak perlu ambil pusing. Tentu saja, akan bagus jika kau bisa memenuhi harapannya, tapi … tidak masalah meski kau tidak melakukan itu."


Karena pada akhirnya, pilihan ada di tangannya sendiri.


Itu adalah kalimat terakhir yang ingin Dolf ucapkan, tapi tidak bisa ia lakukan karena Noah telah lebih dulu berdiri.


Senyuman kecil terbentuk di wajahnya saat dia membuka pintu.


" … Terima kasih," ucapnya sebelum meninggalkan kantor Dolf.


...****************...


Dolf menghela napas berat dan mendongak untuk merilekskan lehernya.


"Jadi itulah pilihanmu. Aku harap … kau tidak akan menyesalinya."


...****************...


Mansion keluarga Grandbell.


Nantz sil Grandbell sedang berdiri di hadapan sebuah cermin besar, dengan Robert membungkuk sedikit di belakangnya.


Tanpa menoleh sedikit pun, Nantz berbicara.


"Apa persiapanmu sudah selesai? "


Yang membalasnya bukanlah Robert, melainkan seorang laki-laki muda dengan penampilan putih pucat yang mengerikan.


"Semua berjalan lancar. Aku justru khawatir karena ini terlalu lancar."


Noelle muncul dari udara kosong, memanifestasikan wujud sejatinya di belakang pria yang menjadi 'saudara iparnya' itu.


Tatapannya kemudian tertuju pada Robert.


"Jadi, apa pelayanmu ini akan ikut? "


Menanggapi pertanyaan Noelle, Nantz hendak menjawab, namun segera dihentikan oleh Robert yang telah berbalik dan menatap langsung pada Noelle.


Robert membungkuk sedikit, memberinya rasa penghormatan minimal.


"Aku adalah pelayan Tuan Nantz. Tugasku adalah melayaninya, bukan melayani keluarga ini. Tidak peduli apa yang Tuanku rencanakan, aku akan tetap mengikutinya sampai akhir."


Noelle berkedip beberapa kali, lalu tersenyum masam.


Robert sepertinya merupakan seorang pelayan yang loyalitasnya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Nantz.


"Itu bagus, karena aku ragu orang ini bisa mengurus dirinya sendiri setelah jauh dari kemewahan."


Noelle mengatakannya dengan niat bercanda, tapi Robert tidak tertawa sedikit pun. Justru, yang tertawa adalah Nantz yang selesai merapikan dasinya.


"Maaf karena membuat pekerjaanmu bertambah."


"Tidak masalah," ucap Noelle sambil melambaikan tangannya. "Sejak awal, aku sudah mempersiapkan beberapa hal untuk berjaga-jaga."


Untungnya Noelle mengambil mayat lebih saat itu.


Dia bisa menggunakannya untuk memalsukan kematian Robert.


Awalnya, hanya tiga mayat yang akan ia gunakan, dengan mayat yang pertama adalah replika dari mayatnya sendiri, yang kedua adalah 'korban Harold', dan yang terakhir adalah mayat Nantz.


Noelle tidak menyangka kalau dia akan memakai semua mayat di gudangnya.


Nantz tersenyum halus, dan kembali berbalik.


Dia memgambil sebuah buku dari meja kerjanya, dan kembali berjalan ke arah Noelle.


"Semua persiapan sudah selesai. Kita bisa membuka drama ini dengan sempurna," ucapnya dengan suara yang kuat nan tegas.


Di luar, semua masih tenang, tidak menyadari tirai panggung yang telah dibuka.


...****************...


Itu adalah malam yang tenang, tapi ketenangan itu tak bertahan lama.


Kobaran api menyala dan membumbung tinggi ke angkasa, disertai ledakan demi ledakan yang terus bermunculan.


Saat ini, lokasi di sekitar mansion keluarga Grandbell telah sepenuhnya dilahap api yang ganas, sehingga tidak satu pun struktur bangunan dapat dilihat.


Orang-orang yang panik akan situasinya berkumpul, dan dengan sekuat tenaga membantu para petugas yang berusaha memadamkan api.


Sihir air terus ditembakkan, tapi api tak kunjung padam.


Ledakan lagi-lagi terjadi, dan gelombang kejutnya kali ini menghempaskan semua orang yang ada di sekitar.


Belum diketahui dari mana asalnya ledakan itu, tapi para petugas beropini kalau ada kebocoran pada pipa gas dan bahan bakar di kamar mandi.


Bagaimanapun, tidak satu pun dari mereka menyadari kebenarannya.


Di saat semua orang berusaha memadamkan apinya, sesosok manusia yang masih utuh di tengah kobaran api itu justru mengayunkan lengannya, membuat kobaran api menjadi semakin kuat.


Mata Noelle yang semula kelabu kini menyala dengan cahaya merah yang mengerikan, saat beberapa ledakan terus muncul bersahut-sahutan.


Ledakan itu adalah hasil dari semua bahan peledak yang ia tanamkan di sekitar mansion ini. Dan kobaran api yang terus menyala adalah karena dia terus menerus menyalakan api yang hendak padam.


(Belum cukup.)


Panasnya sama sekali tidak terasa, tapi Noelle yakin kalau itu belum cukup.


Noelle menghentakkan kakinya ke lantai, dan guncangan yang hebat kembali terjadi.


Fondasi bangunan itu runtuh, dan kobaran api menjadi semakin kuat.


Saat ini, Noelle berdiri di tengah nyala api yang menyelimuti mansion Grandbell yang kini hanya merupakan reruntuhan saja.


(Ini sudah cukup.)


Noelle menghentikan semua tindakannya, dan dalam seketika tubuhnya melebur menjadi kabut yang tak dapat dilihat mata.


Semua pion sudah pada posisi, dan tugasnya juga sudah selesai. Yang perlu Noelle lakukan sekarang hanyalah memastikan kalau semuanya berjalan sesuai dengan rencana.


Dia kembali memanifestasikan wujudnya di atap bangunan sekitar, dan tatapannya jatuh pada dua mayat hangus yang tengah diselimuti api.


Kedua mayat itu memiliki wujud dan penampilan yang sama persis dengan Nantz dan Robert. Mungkin, kedua mayat itu adalah gambaran jika keduanya mati karena terbakar sampai hangus.


Noelle tidak memiliki kaitan dengan rencana ini. Juga, yang merencanakan bagian ini adalah Nantz sendiri, jadi dia tidak akan ikut campur terlalu banyak.


Dia hanya melakukan tugas sederhana; menyiapkan mayat palsu, dan menciptakan ledakan besar yang berujung pada kebakaran.


Tatapan Noelle kemudian beralih pada dua sosok yang berdiri tak jauh darinya.


Kedua sosok itu masing-masing adalah Nantz dan Robert yang dalam mode penyamaran.


Keduanya sama sekali tidak mengatakan apa pun, hanya menatap kosong pada mansion dan semua asetnya yang terus terbakar.


Sejenak, Noelle menyadari kalau Robert sangat ingin bergerak saat melihat lukisan keluarga Nantz Grandbell terbakar hangus dengan cepat.


Lukisan itu adalah satu-satunya peninggalan yang membuat Nantz mengingat semua anggota keluarganya.


Bagi Robert yang telah lama melayani Nantz, jelas dia tahu kalau Nantz memiliki keterikatan yang kuat dengan itu.


Meskipun menyadari itu, Robert tidak bergerak. Itu karena dia tahu, dan dia memahaminya.


Tinju Nantz terkepal dengan sangat erat saat menyaksikan satu per satu asetnya dihanguskan. Meski begitu, dia tidak menunjukkan tanda perlawanan.


Justru, detak jantung dan napasnya sangatlah ringan, seolah dua memang tidak mengalami apa pun.


Kenangannya bersama orang tuanya, dan segala kenangan mengenai Sirius Grandbell ada di sana.


Nantz bisa saja pergi mengambilnya. Namun, dia justru tidak melakukan itu.


Karena, dia sudah menguatkan tekadnya.


Tindakan ini dia lakukan demi satu tujuan, dan tidak ada ruang bagi emosi pribadi untuk terlibat di dalamnya.


Saat melihat api perlahan padam, dan segala hal di mansion itu telah hangus, Nantz akhirnya bisa menghela napas lega.


"Kurasa inilah saatnya."


Nantz berbalik, dan berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti lagi.


Dia menoleh ke arah reruntuhan mansion itu, dan tersenyum sedih.


"Selamat tinggal, Grandbell."


Kata-kata yang sudah ingin ia ucapkan sejak lama itu adalah katalisnya. Dia akhirnya bisa membongkar itu; rantai tak terlihat yang terus membelenggunya selama ini.


Rantai pembelenggu dalam wujud nama keluarga itu, dia akhirnya bisa memutusnya.


...****************...