![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Sambil dalam diam menikmati makan siangnya, Tania dengan teliti memperhatikan setiap gerak-gerik yang Noelle lakukan.
Ini sudah istirahat kedua, dan Tania selalu memperhatikan apa yang Noelle lakukan, karena dia tertarik.
Saat ini, Noelle dengan cepat menempelkan beberapa papan kayu menggunakan pagi, dan di saat yang sama juga menggunakan telekinesis untuk mengendalikan sebuah gergaji yang sibuk memotong papan.
Memang ini baru istirahat kedua, tapi Tania belum melihat Noelle sekalipun beristirahat.
Setelah sampai ke daratan, Noelle langsung memulai pekerjaannya, sementara Tania menikmati makan siang yang damai.
Awalnya Tania berpikir kalau Noelle tidak istirahat karena dia tidak bisa melakukan apa pun. Tania sudah tahu kalau Noelle tidak akan makan karena lidahnya, dan dia seperti ya juga tidak butuh makan, mengingat vampir dapat terus beraktifitas bahkan tanpa asupan nutrisi dari makanan. Tentu saja, syaratnya mereka harus memiliki persediaan darah yang cukup banyak.
Sambil memperhatikan Noelle, Tania sesekali mencuri pandang pada peta di sampingnya.
Ada banyak penanda di peta itu, dan beberapa ditulis dengan sangat jelas, menandakan beberapa sarang monster baru yang belum dicatat.
Noelle dan Tania berniat menjual informasi ini pada guild, dan mendapatkan uang tambahan.
"Apa yang kau lakukan? "
Karena penasaran, Tania akhirnya bertanya. Dia sendiri tidak mengharapkan jawaban yang serius, jadi dia tidak akan kecewa pada apa pun yang Noelle katakan.
"Membangun rumah."
" ………."
Jawaban yang terlalu langsung, sehingga aneh untuk didengar. Tania masih bingung. Kenapa dia malah membangun rumah? Dari yang Tania lihat, kondisi finansial Noelle cukup bagus, jadi dia seharusnya bisa membeli rumah sendiri, tanpa repot-repot membangunnya.
Noelle sepertinya memahami apa yang Tania pikirkan, dan dia tidak pikir panjang mengenai itu.
Dia sudah terbiasa. Sama seperti saat Cryll menanyainya tentang hal yang sama. Jawaban Noelle juga akan sama seperti saat itu.
"Aku memiliki preferensiku sendiri jika itu berkaitan dengan tempat tinggal permanen. Dan aku juga percaya kalau orang lain tidak akan bisa membuatkan rumah yang sesuai dengan keinginanku."
Singkatnya itu hanya karena dia tidak bisa mempercayakan tugas ini pada orang lain.
Rumah yang selalu dia tempati bersama Olivia dan yang lain juga merupakan hasil usahanya sendiri. Olivia sedikit membantu, tapi sebagian besar pekerjaan hanya dilakukan oleh Noelle seorang.
"Hmm~"
Dengan potongan roti masih ada di mulutnya, Tania menatap Noelle sambil memangku dagu dengan kedua telapak tangannya.
Begitulah, keduanya hanya fokus pada urusan mereka masing-masing. Noelle sibuk menyelesaikan rumahnya, sedangkan Tania sibuk memperhatikannya dalam diam.
...****************...
Tania buru-buru memakai sepatunya, dan melompat turun meski karpet belum sepenuhnya mendarat di tanah.
Setelah kakinya sampai pada permukaan, dia segera tersenyum puas dan mulai meregangkan tubuhnya yang cukup kaku.
Akhirnya, setelah kurang lebih dua hari perjalanan, mereka akhirnya tiba di Hutan Dingin.
Khusus hari terakhir dalam perjalanan, mereka hanya beristirahat sekali saat pagi menjelang siang, dan terus melanjutkan perjalanan sampai mereka tiba di sore hari.
Noelle juga turun dari karpet, dan melakukan hal yang sama seperti Tania. Kemudian, dia memasukkan semua perlengkapan perjalanannya itu ke dalam gudang spasial.
"Aku ingin bersantai sejenak, tapi …."
Memejamkan matanya, Noelle mulai meningkatkan jangkauan deteksi untuk menemukan keberadaan hidup di sekitar.
Hasilnya ada banyak respon, tapi tak satu pun dari mereka merupakan Spirit Hunter. Kebanyakan datang dari makhluk yang sudah Noelle kenal, seperti hewan kecil dan beberapa monster jinak yang hidup di habitat yang dingin.
Seperti namanya, hutan ini benar-benar dingin, meski sebenarnya saat ini masih musim gugur.
Noelle tidak memiliki masalah dengan itu, tapi dia bisa melihat Tania sedikit menggigil di ujung pandangannya. Gadis itu mungkin tidak terbiasa dengan suhu seperti ini, sedangkan Noelle memiliki resistensi yang mampu menahan suhu ekstrim. Terlebih lagi, dia sudah terbiasa karena sering dihadapkan pada sihir es Olivia.
Noelle mengacak-acak gudang spasialnya, dan mengeluarkan sebuah anting emas yang berkilau dari sana. Dia kemudian menyerahkan itu pada Tania.
"Apa kau bisa memakai anting? "
Anting yang Noelle berikan adalah alat sihir yang mampu mengendalikan suhu tubuh pemakainya. Noelle membeli alat itu karena ia menganggapnya cukup bagus, tapi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menggunakannya. Akhirnya di sini, dia bisa melihat alat itu berfungsi.
Sejenak, Tania bingung. Dia menggeleng beberapa kali, dan menunjukkan telinganya pada Noelle.
Sama sekali tidak ada bekas tindik. Yang artinya, Tania belum pernah memakai anting.
"Apa boleh buat. Aku akan membantumu memakainya," ucap Noelle saat dia menggeleng pasrah.
...****************...
Seperti namanya, Hutan Dingin benar-benar dingin.
Hanya bernapas saja sudah cukup untuk menghasilkan uap putih dari mulut mereka. Terlebih lagi, baik itu Tania maupun Noelle mulai kesulitan bernapas karena tipisnya oksigen di tempat ini.
Meski begitu, keduanya tetap melanjutkan perjalanan; menyusuri hutan, dan mewaspadai setiap monster yang mengamati mereka dari kejauhan.
Ada saat ketika beberapa monster mulai bersifat agresif, dan menyerang mereka tanpa ragu. Tapi tentu saja, keduanya sama sekali tidak kesulitan.
Monster yang hidup di habitat dingin seperti tempat ini cenderung bersifat defensif. Mereka hanya akan mengawasi, dan baru akan bergerak ketika perasaan akan bahaya mereka sudah pada puncaknya.
Noelle dan Tania menyusuri jalan setapak yang kering, dihiasi bunga dan jarum es yang muncul di dahan pohon tertentu. Secara teknis, itu adalah pemandangan yang indah, namun saat Noelle menyentuhnya, rasa dingin langsung menyebar dan membuat jarinya mati rasa.
"Serius, kau benar-benar tidak boleh menilai dari penampilan," gumam Noelle saat ia memperhatikan ratusan bunga es serupa yang ada di berbagai pepohonan.
Di sampingnya, berjalan dengan tenang tanpa terpengaruh akan rasa penasaran, Tania memperhatikan sekeliling.
"Banyak rumor mengatakan kalau dulunya hutan ini kering, tapi mulai menjadi Hutan Dingin seperti sekarang semenjak Ratu Bengis mengutuknya."
"Ratu bengis? "
Rasa penasarannya terusik, menyebabkan Noelle mau tak mau langsung bertanya. Meresponnya, Tania pun mengangguk.
"Aku sendiri tidak tahu banyak tentang itu. Rumor tentang Ratu Bengis sudah ada bahkan sebelum aku …."
Tania tidak melanjutkan perkataannya, yang membuktikan kalau itu adalah hal yang tidak nyaman untuk dijelaskan.
Apa pun yang ingin Tania katakan sebelumnya, Noelle tidak cukup peduli, tapi tetap saja dia ingin mengetahuinya.
Selain itu, informasi mengenai Ratu Bengis ini juga cukup menarik.
Kebanyakan rumor memang hanyalah rumor belaka, tanpa ada kepastian yang sesuai dengan kenyataan. Namun, ada beberapa kesempatan di mana rumor dimulai karena sesuatu yang memang pernah terjadi di masa lalu. Dalam hal ini, kejadiannya kemungkinan besar terkait dengan awal terciptanya Hutan Dingin.
Memang, harus diakui, suhu dan tingkat kedinginan di tempat ini sama sekali tidak normal, bahkan untuk suatu tempat yang berada di sekitar pegunungan udara.
Intensitas dingin yang dihasilkannya juga cukup mengingatkan Noelle ada kemampuan Olivia untuk memanipulasi es.
(Ada kemungkinan kalau Hutan Dingin ini dikendalikan oleh seseorang, tapi … aku tidak yakin.)
Lagi pula, sejak awal, apa urusannya memikirkan hal ini? Hanya memenuhi rasa penasaran, tentu saja.
Sementara kepalanya dipenuhi berbagai pikiran, Noelle telah lebih dulu memanifestasikan kedua pedangnya, dan mengayunkannya secara diagonal ke depan.
Seketika, puluhan duri es yang datang menyerbu keduanya itu pun lenyap tanpa sisa.
Tania ikut memanifestasikan sabitnya, tapi serangan itu telah berakhir. Sumber serangan juga telah lenyap, karena Noelle sudah membunuhnya terlebih dahulu.
『Ini cukup nyaman. Dia bisa berfungsi sebagai radar dan mesin pembasmi monster. Kau tidak perlu melakukan apa pun sebagai hasilnya.』
Merespon ucapan Navi, Tania merasa bingung. Pada akhirnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa karena perasaannya begitu campur aduk saat ini.
Setelah terus berjalan selama waktu yang tidak diketahui, keduanya akhirnya tiba di bagian lereng gunung.
Ada banyak gua yang bisa Noelle lihat dari tempatnya, dan dia tanpa ragu langsung masuk ke salah satunya.
"Bingo."
Gua yang baru saja dimasukinya memiliki banyak potongan kristal berserakan di lantai. Selain itu, suhunya yang jauh lebih dingin daripada di luar ini terasa sangat tidak wajar.
"Langsung menemukannya di percobaan pertama? "
Tania melompat dan memasuki gua, seketika berdiri di sampingnya.
"Hanya sarangnya saja. Yahh, setidaknya dengan ini kita tidak perlu repot lagi."
Dia sudah memiliki rencana, dan Tania langsung memahaminya.
"Apa kau akan membuat jebakan? "
"Tidak. Memakai jebakan akan terlalu beresiko. Aku tidak ingin merusak jantungnya secara tidak sengaja karena perangkap. Selain itu, aku juga tidak tahu jenis perangkap yang efektif untuk menahannya."
Noelle tidak keberatan jika harus menggunakan perangkap. Namun, seperti yang sudah dia bilang, dia tidak ingin merusak jantungnya secara tidak sengaja karena efek perangkap itu.
"Kalau begitu … apa kau berniat menunggu sampai dia muncul? "
Atas pertanyaan Tania, Noelle mengangguk.
Memang, itulah yang sudah Noelle rencanakan. Baginya, ini akan lebih efektif karena dia bisa berhadapan langsung dengan Spirit Hunter. Dengan begitu, dia tidak perlu khawatir akan merusak jantungnya secara tidak sengaja.
Karena seperti yang Tania katakan; jantung Spirit Hunter sangatlah rapuh. Jadi Noelle ingin memotong resiko sebisa mungkin untuk mendapatkannya tanpa goresan.
"Butuh bantuan? "
Tania menawarkan sesuatu yang cukup menggiurkan, namun sayangnya Noelle tidak begitu tertarik.
Sebenarnya, dia sama sekali tidak butuh bantuan untuk ini. Dia membawa Tania hanya karena ia membutuhkan pemandu. Lebih dari itu, dia bisa melakukannya sendiri.
Noelle pun menggeleng. "Aku ingin berjaga-jaga. Mungkin Francelis akan menanyaiku nanti, dan sebisa mungkin aku tidak boleh memberikan jawaban yang meragukan."
Jika Francelis bertanya apakah dia mendapatkan bantuan atau tidak, maka Noelle akan langsung menjawab tidak. Namun, jika kenyataannya dia dibantu oleh Tania, Noelle khawatir Francelis akan menemukan kebohongannya.
Dengan begitu, rekomendasi Tania tidak akan berguna.
Noelle tidak ingin membayangkannya, tapi Francelis seharusnya punya alat atau seseorang yang bisa mendeteksi kebohongan orang lain, sama seperti interogator yang pernah menanyai Noelle saat masih bekerja sebagai Lunatic Order dulu.
Tania memahami maksudnya, dan hanya mengangguk tanpa ada perubahan pada ekspresinya. Dia kemudian kembali menatap potongan kristal yang berserakan di sarang Spirit Hunter.
"Spirit Hunter bukanlah makhluk nokturnal, jadi mereka seharusnya akan kembali ke sarang malam nanti."
"Itu informasi yang bagus," ucap Noelle sambil mengangguk dengan tulus.
Keduanya kemudian menabrakkan kepalan tangan mereka masing-masing, dan tersenyum tipis.
...****************...