[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 282: Ramalan yang Ditakdirkan



...****************...


Cryll melihat ke sekelilingnya, dan menyadari kalau dia sudah berada di suatu tempat di bawah tanah.


Tempat ini terlihat seperti gua, dengan lantai, dinding, dan langit-langit yang sepenuhnya terbuat dari batuan granit alami.


Dia berada di sebuah lorong panjang yang entah mengarah ke mana. Di belakangnya, ada sebuah cermin raksasa yang permukaannya tertutup oleh lapisan kabut hitam yang pekat, mirip seperti cermin hitam yang membawanya ke tempat ini.


"Aku masuk melalui cermin itu, dan keluar dari sini? "


Cryll memiringkan kepalanya sejenak, lalu segera menggeleng pasrah saat menyadari itu adalah topik yang tidak berguna.


Dia berbalik, dan berusaha melihat apa yang ada di ujung lorong ini.


Pada saat inilah dia benar-benar menghargai kemampuan Noelle untuk melihat di kegelapan total.


Memang ada obor yang dipajang di dinding setiap lima meter. Tapi itu bahkan tak cukup untuk membuat apa yang ada di ujung jalan ini terlihat.


Cryll menutup mata, menenangkan napas dan detak jantungnya, lalu mulai memperluas kemampuan pendeteksi untuk mencari tahu apakah ada jebakan atau jalan rahasia di sekitar.


Hasilnya nihil. Bahkan setelah dia melakukan uji coba dengan suara ketukan pada dinding dan lantai, itu sangat padat sehingga membuat Cryll berpikir bahwa tidak ada jalan lain selain lurus ke depan.


"Kurasa aku harus melakukannya, tapi …."


Cryll duduk dan bersandar pada dinding, membiarkan rasa lelah menutup matanya secara alami.


Dia sudah terlalu banyak bergerak hari ini. Hampir tidak ada energi tersisa untuk melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yang amat panjang ini.


Pingsan yang ia alami sebelumnya juga tidak menghilangkan rasa lelahnya sedikit pun. Itu justru meningkatkan rasa sakit pada kepalanya.


Untuk sekarang, dia akan beristirahat sejenak.


Cryll menghela napas berat dan mengeluarkan botol bambu dari tas persediaannya. Dia kemudian menggunakan sihir air untuk mengisi botol itu, lalu meminum seluruh isinya hampir dalam satu tegukan.


meskipun semua sangat meragukan sampai sekarang, Cryll tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan perjalanan.


Padahal, sebelumnya dia berharap kalau dia akan ditransfer ke Taman Kabut yang menjadi saksi bisu menghilangnya Noelle. Tapi berharap itu akan terjadi adalah hal yang sia-sia sekarang. Dia entah bagaimana sampai di tempat yang tidak pernah ia jelajahi sebelumnya, dan belum tentu ini akan membimbingnya untuk menemukan Noelle.


(Benar, aku harus … mengirimkan surat pada mereka ….)


Sebelum Cryll bisa melakukan apa yang ia pikirkan, matanya sudah lebih dulu menutup, dan kesadarannya perlahan menghilang.


...****************...


Sudah berapa lama ia berjalan? Jam internalnya sudah cukup kacau sejak ia memasuki dungeon, dan ia bahkan tidak tahu apakah saat ini sedang siang atau malam di luar.


Yang Cryll lakukan sejak beberapa jam yang lalu hanyalah terus berjalan, menyusuri koridor granit ditemani cahaya dari obor yang terus bergejolak.


Tidak diketahui berapa jauh lagi ia harus berjalan, tapi Cryll memiliki firasat kalau ini terus berlanjut, maka dia akan menjadi gila.


Fisiknya sudah cukup lelah dengan hanya terus berjalan, dan mentalnya juga menjadi semakin tidak stabil karena tidak ada apa pun selain obor yang menemani perjalanannya.


Cryll sengaja tidak menggunakan penguatan tubuh karena itu akan menguras energi sihirnya. Selain itu, dia harus berhemat untuk situasi tak terduga yang bisa terjadi kapan saja.


Pada tahap ini, berjalan sambil membawa persediaan sudah menjadi hal yang sulit baginya. Cryll hanya menyeret tas persediannya sambil terus berjalan dengan lesu.


"Hmm? Bukankah itu …."


Akhirnya, setelah perjalanan yang tidak diketahui seberapa lama itu berlangsung, Cryll melihat sesuatu yang berbeda di ujung.


Bukannya lorong panjang yang tidak memiliki akhir, ada sesuatu yang menghalangi jalan di sana.


Dengan semangat antusias yang tiba-tiba timbul, Cryll langsung berlari mendekati tempat itu, dan langsung mendongak untuk melihat keseluruhan bagiannya.


Itu adalah sebuah pintu ganda raksasa, dengan tinggi sekitar lima belas meter.


Pintu itu dibangun tepat di tengah jalan, sehingga tidak ada cara bagi Cryll untuk meneruskan perjalanan selain melewati pintu itu.


Tentu saja, itu memang tujuannya sekarang.


Tidak ada yang spesial dari pintu itu. Hanya memiliki ukiran mewah yang tidak Cryll ketahui maknanya. Tapi, ada dua garis yang seperti menjadi bingkai untuk pintu itu. Dan sebenarnya, kedua garis itu membuat Cryll merasa tidak nyaman.


"Apa aku harus mendorong ini? "


Cryll mengerutkan kening saat pemikiran itu terlintas di benaknya.


Bukanlah hal yang mustahil untuk membuka pintunya secara paksa dengan kekuatan kasar, tapi dilihat dari manapun itu adalah hal yang sulit. Pintu itu begitu besar dan tebal, sehingga hanya dengan menyentuhnya saja Cryll sudah tahu kalau itu sangat berat.


Akan lebih mudah jika ada sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka pintunya secara otomatis. Namun, penyelidikan Cryll terhadap tempat ini tidak menemukan apa pun yang bisa memicu pembukaan pintu itu.


Yang artinya, dia hanya bisa membukanya secara manual dengan kekuatan sendiri.


Cryll memperkuat lilitan perban pada tangannya, dan menyuntikkan energi sihir ke seluruh tubuhnya, mengaktifkan sihir penguatan tubuh.


Begitu siap, dia langsung meletakkan kedua telapak tangannya di salah satu pintu, lalu menarik napas panjang.


"Baiklah, ini dia …."


Otot lengannya seketika mengencang, dan tangannya sepertinya sedikit remuk. Kakinya juga mengalami pembengkakan karena otot yang tiba-tiba berkontraksi.


Meski itu semua menyakitkan, Cryll tidak berhenti. Dia dengan keras mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mendorong pintu itu. Kemudian—


"Eh? T-tunggu–! "


Antara dia yang terlalu kuat, atau pintu itu terlalu lemah. Tanpa dia sadari, pintu telah terbuka lebar, dan seluruh kekuatan yang ia keluarkan untuk mendorong itu sebelumnya kini menghilang dengan sia-sia, menjadi pendorong yang menyebabkan Cryll kehilangan keseimbangannya.


Suara keras beserta dentuman kecil muncul saat Cryll mendaratkan kedua telapak tangannya ke lantai, dan lantai itu berakhir dengan keretakan besar seolah tak sanggup menahan kekuatan Cryll.


"Apa yang terjadi? "


Cryll bangun, terheran-heran melihat pintu yang sudah terbuka itu. Tangannya kemudian meraih pintu lain yang masih tertutup, dan mengayunkannya dengan santai.


Tanpa dia duga, pintu itu bergerak dengan sangat mudah, seolah tidak memiliki bobot sama sekali. Cryll dibiarkan ternganga saat ia menemukan fakta itu.


(Apa aku hanya perlu mengeluarkan kekuatanku dalam waktu singkat untuk membuka pintu ini? )


Dia ingat betul kalau pintu ini sebelumnya sangatlah berat, tapi sekarang ini seringan kapas.


Yang artinya, kekuatan yang dibutuhkan untuk membuka pintu ini hanya bersifat sebagai 'syarat kelayakan'. Setelah kekuatan dari orang yang membuka pintu dirasa cukup, pintu secara otomatis akan kehilangan sebagian besar bobotnya, dan menjadi ringan di tangan orang itu.


Apa pun itu, Cryll sudah tidak peduli.


Obor yang dipajang di sekeliling ruangan seketika menyala, dan derik api yang sesekali muncul membuat fokus Cryll semakin tenggelam pada segala sesuatu di sekitarnya.


Ruangan itu berbentuk lingkaran, dengan diameter sekitar empat puluh meter atau bahkan lebih.


Jika Cryll diberikan jatah dua kata untuk mengungkapkan isi ruangan ini, maka dia akan mengatakan 'luar biasa'.


Bagaimana tidak? Ada belasan patung raksasa, berbentuk humanoid dan memakai zirah yang berbeda-beda. Masing-masing dari mereka juga memegang barang yang berbeda satu sama lain; ada yang memegang pedang besar dengan dua tangan, pedang satu tangan, busur dan panah, gada, tombak, perisai, dan banyak lagi. Bahkan, ada juga yang memegang alat musik mewah seperti harpa.


Di tengah itu semua, yang paling menarik perhatian Cryll adalah lempengan batu raksasa berbentuk persegi panjang—sebuah prasasti, dengan ukiran bahasa kuno di permukaannya.


Cryll mendekati prasasti itu, dan mulai menganalisis dari puncaknya.


Ada gambar, banyak sekali gambar yang diukir langsung di permukaan batu.


Gambar pertama adalah seseorang yang memegang tombak, bergandengan tangan dengan orang lain yang memegang sebuah pedang panjang.


Di gambar lain, orang dengan tombak itu menusukkan tombaknya ke dada sosok raksasa yang sepenuhnya diukir dengan bentuk yang acak, sedangkan yang menggunakan pedang menusukkan oedangnya tepat ke leher sosok raksasa itu.


Gambar ketiga, menunjukkan dua orang sebelumnya kini kembali bergandeng tangan di atas sebuah altar, dengan kristal besar melayang di atas mereka.


Tiga gambar itu saja sudah menghabiskan satu baris pada prasasti itu. Cryll kemudian lanjut melihat pada baris kedua.


Di sana, sosok orang dengan tombak sendirian. Dan di gambar lain, orang dengan tombak itu menusukkan tombaknya ke orang lain yang sedang disalib. Ada sebuah pedang yang menancap di samping salib itu.


"Apa dia … mengeksekusi rekannya? "


Itulah yang Cryll pahami setelah melihat gambar keempat. Dua sosok itu mungkin merupakan rekan, yang bertarung bersama untuk melawan sosok tak dikenal yang digambarkan sebagai raksasa itu. Tapi, kenapa akhirnya orang dengan tombak itu mengeksekusi rekannya sendiri? Terlebih lagi, dengan disalibkan terlebih dahulu?


Untuk memahaminya, Cryll melihat ke gambar lain. Di sana, orang dengan tombak berdiri sendirian, menghadap pada reruntuhan bangunan raksasa yang juga diukir secara kasar di atas batu.


Di gambar lain, sosok yang sama, masih memegang tombak, sedang menghadap sekumpulan orang lainnya dengan penggambaran yang berbeda-beda; ada yang tinggi, ada yang gendut, kurus, dan ada yang kerdil. Bahkan, ada juga yang memiliki satu sayap kecil di punggung mereka.


Gambar berikutnya, orang dengan tombak itu sepertinya bergabung dengan kelompok, tapi gambar setelahnya menjadi kejutan bahkan bagi Cryll sendiri.


Orang dengan tombak itu kembali sendirian, dengan tombak yang diukir secara sembarangan di tangannya. Gambar setelahnya menunjukkan orang dengan tombak itu sedang berhadapan dengan orang lain, yang memegang sebuah pedang dengan bilah yang amat panjang, dan sedikit melengkung.


Itu adalah gambar terakhir. Hampir tak cukup bagi Cryll untuk memahami maksudnya. Dia menuntut untuk penambahan gambar.


Matanya kemudian beralih pada tulisan pertama yang diukir tepat di bawah gambar.


"Pahlawan yang terlupakan …? "


Masih ada satu kata lagi yang diukir, tapi Cryll tidak bisa melihatnya.


Bukan karena itu sudah hancur, atau karena masalah lain. Tapi, Cryll benar-benar tidak bisa melihatnya saja.


Seperti ada sesuatu yang menghalangi Cryll untuk melihat kata selanjutnya dari kalimat itu.


(Apa yang terjadi? )


Cryll mengerutkan keningnya, dan beralih pada baris kalimat terakhir di prasasti.


Itu diukir dengan bahasa kuni yang baris tidak dapat Cryll ingat. Namun, beruntung karena dia pernah mempelajarinya, dia bisa ingat bahasa apa itu.


Minerva Kuno. Begitulah namanya.


Cryll melihat huruf-huruf yang terukir di sana sesuai dengan huruf pada bahasa Minerva Kuno yang pernah ia pelajari bersama Noelle dan Norman.


Namun, dia sendiri tidak terlalu ingat dengan bahasa itu. Hanya sebatas pengenalan terhadap huruf dan bentuk katanya saja.


Tidak berhenti di sana, Cryll terus berusaha mengingat bahasa Minerva Kuno yang sudah pernah ia pelajari. Jika dia ingat, maka mengartikan itu semua tidak akan menjadi masalah yang rumit.


Cryll memperhatikan kata demi kata, dan huruf demi huruf untuk memahami dan mengingat artinya, tapi takdir berkehendak lain.


Pintu raksasa di belakangnya dengan cepat menutup, meninggaljan Cryll sendirian di tengah ruangan yang penuh dengan patung ini.


Seolah belum puas mempermainkannya, masing-masing patung di sekitar memiliki cahaya emas berkilau muncul di sekitar dahi mereka, dan perlahan mereka mulai bergerak.


"Oh tidak, apa ini seperti yang kupikirkan? "


Cryll membeku dalam keadaan panik, dan salah satu patung telah melangkahkan kakinya keluar dari tempat dia berdiri sebelumnya. Hal ini membuat Cryll sontak kaget dan kembali butu-buru mengartikan kalimat di prasasti itu.


Tidak ada jalan keluar di sini, tapi dia hanya bisa berharap pada prasasti ini sendiri. Jika mengartikan kalimatnya dapat membawanya keluar, maka Cryll akan dengan senang hati melakukan itu.


Satu per satu patung bergerak mendekatinya, meski itu dalam kecepatan yang cukup lambat. Tapi suara dentuman yang dihasilkan setiap langkah mereka membuat Cryll semakin termakan rasa cemas.


(Sedikit lagi! Aku hampir mengingatnya! )


Cryll berusaha tetap tenang dengan mengabaikan semua patung di belakangnya, tapi tetap saja insting alami sulit untuk dibantah.


Dia secara refleks melompat saat merasakan kehadiran proyektil mendekat dari belakang. Rupanya, itu adalah anak panah yang terbuat dari cahaya. Yang menjadi pelaku penembakan itu adalah patung dengan busur di tangannya.


Anak panah dari cahaya itu menghilang, dan Cryll kembali fokus untuk mengartikan kalimat pada prasasti itu.


Sedikit demi sedikit dia berhasil mengartikannya, tapi waktunya terlalu lama. Patung dengan senjata jarak dekat sudah semakin dekat dengannya.


(Itu dia! )


Cryll hendak berteriak dan melompat kegirangam saat segudang pemahaman mengalir ke kepalanya. Dia sudah bisa mengartikan semua kalimat itu!


Dia benar-benar ingin menunjukkan rasa senangnya sekarang, tapi jelas kalau situasi saat ini tidak memungkinkan.


(Oke aku harus menyelesaikan ini lebih dulu! )


Cryll menelan kembali kegirangannya, dan fokus pada prasasti.


Perlahan, mulutnya bergerak, mengeluarkan suaranya yang biasa, namun disertai dengan munculnya gelombang dari energi yang tidak diketahui.


"Ekor suci yang berduri dingin. Bencana berdarah yang terus bergerak. Penjaga segel ramalan mutlak di atas batu."


Hanya terdiri dari tiga ayat, tapi Cryll tidak ragu lagi kalau itu adalah nama kehormatan dari suatu entitas.


Sebelum patung dengan pedang mampu mengayunkan pedang besar itu padanya, sosok Cryll telah lebih dulu diselimuti cahaya yang hangat, sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.


Segala sesuatu yang ada di ruangan itu kemudian hancur, dan pecahannya bergerak kembali ke tempat semula, membentuk wujud semula mereka yang merupakan patung yang memegang senjata.


...****************...