![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Kurasa dia sudah pergi, ya … "
Norman bergumam, dan kemudian melihat ke sekelilingnya.
Semua orang itu masih terbaring di lantai, tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Norman menarik napas panjang, dan mulai menggunakan perintahnya.
"《Bangun》"
Sejenak, tak terjadi apa pun. Namun, semua orang yang sebelumnya pingsan di lantai itu kini mulai bangun seolah menuruti perkataan Norman.
"《Berikan semua informasi yang kalian miliki, lalu bunuhlah diri kalian sendiri》."
Perintahnya terdengar sangat tak masuk akal. Siapa pun pasti tidak akan mau mematuhinya. Namun, semua orang di sana berbeda.
Mereka bertingkah aneh. Mata mereka kosong, dan tubuh mereka bergerak dengan sendirinya di luar kehendak mereka.
Lalu, mulut mereka bergerak dan mulai membocorkan informasi yang Norman cari.
Atau setidaknya itulah yang Norman harapkan.
Hasil yang ia dapatkan dari sini adalah, kekecewaan. Tidak lebih, dan tidak kurang.
Mereka semua sama sekali tidak memberikan informasi apa pun pada Norman. Merek bahkan tidak berbicara sedikit pun. Dan mereka justru langsung mematuhi perintah kedua Norman.
Yaitu untuk membunuh diri mereka sendiri.
Masing-masing dari mereka mulai menarik senjata mereka, dan akhirnya mulai menusukkan itu ke dada mereka sendiri tanpa rasa takut.
Tanpa ada perubahan sedikit pun pada ekspresinya, Norman mengelap tangannya dengan celananya sendiri.
Tak sampai dua menit sejak Noelle meninggalkannya, dan sekarang Norman sedang berdiri sendirian di sekitar mayat musuh yang tergeletak di lantai, dengan bersimbah darah dari senjata mereka sendiri.
Tak lama kemudian, Kaira muncul tepat di belakangnya, bersama dengan Muku dan Waka.
"Bagaimana? "
Norman tak butuh penjelasan lebih lanjut tentang maksud pertanyaan Kaira tersebut. Dia secara alami sudah memahaminya.
Norman menggelengkan kepalanya, dan menghela napas dengan pasrah.
"《Throne Road》masih bisa kugunakan seperti biasa. Tapi, untuk beberapa alasan, mereka selalu tidak mematuhi perintah untuk membocorkan informasi apa pun. Aku baru saja mengujinya dengan memberi mereka dua perintah, tapi hanya satu perintah yang mereka patuhi, yaitu perintah untuk membunuh diri mereka sendiri."
《Throne Road》, itu adalah skill yang Norman—semua anggota keluarga kerajaan berdarah murni—miliki.
Sebuah kemampuan yang telah diwariskan oleh leluhur mereka, kemampuan yang tak pernah pudar meskipun telah diwariskan selama beberapa generasi. Itu adalah《Throne Road》.
Skill ini membuat pemiliknya dapat memberikan 'perintah mutlak' pada orang yang ada di sekitarnya.
Tentu saja, ada beberapa batasan untuk kemampuan itu. Yang pertama, semua pengguna《Throne Road》hanya dapat menggunakan kemampuan itu pada ras manusia. Jadi, ras selain manusia, seperti werebeast atau monster tidak akan terpengaruh oleh《Throne Road》.
Dan batasan terakhir adalah tentang batasan level. Setip pengguna dari《Throne Road》hanya dapat memberikan perintah pada manusia yang levelnya berada di bawahnya.
Level Norman sekarang adalah 113, atau setidaknya itu adalah statusnya minggu lalu. Ia sudah tidak pernah memeriksanya sejak saat itu.
Memang agak mengecewakan, tapi Norman telah mendapatkan hasil yang cukup bagus dari pembantaian barusan.
Setidaknya, dia tahu kalau lawannya memiliki level yang lebih rendah dari dirinya.
"Bahkan《Throne Road》tidak berpengaruh, ya … "
"Lebih tepatnya, mereka tidak bisa memberikan informasi apa pun tentang musuh … Ini sama seperti yang Rias alami sebelumnya."
Sama seperti kemampuan untuk membaca ingatan yang dimiliki Rias,《Throne Road》yang dimiliki semua anggota keluarga kerajaan berdarah murni sama sekali tidak dapat dihalangi fungsinya oleh berkah dewa.
Fakta itu saja sudah cukup untuk membuat mereka semua kebingungan.
Hal apa yang dapat menahan《Throne Road》yang bahkan tak dapat ditahan oleh sebuah berkah dari dewa tertinggi seperti Anastasia?
Memikirkannya saja sudah memusingkan.
Norman dan Kaira memutuskan untuk melewati itu untuk sekarang. Noelle mungkin tahu sesuatu, tapi mereka tidak bisa mengandalkannya untuk sekarang.
"Bagaimana dengan yang lain? "
Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, Norman bertanya tentang keadaan semua orang.
Kaira mengerti dengan maksud Norman. Dia mengangguk dan menjawabnya. "Mereka semua sedang beristirahat. Kita sudah berada di tempat ini selama beberapa jam, beberapa dari mereka mungkin sudah lelah."
"Begitu, ya … "
Norman dengan penuh penyesalan memgerutkan keningnya.
Meskipun itu bukan salahnya, Norman tetap berada tidak enak pada semua orang. Bagaimanapun, dia secara tidak langsung telah melibatkan semua orang ke dalam masalah yang merepotkan.
Di satu sisi, ini mungkin menjadi salah Rico karena telah menerima permintaan Noelle untuk pergi dalam misi penyelamatan Cryll.
"Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Semua orang ikut karena keputusan mereka sendiri, kau ingat? "
Memang, apa yang Kaira katakan itu benar. Sebelum keberangkatan, Norman sudah bertanya pada semua orang apakah mereka benar-benar serius ingin ikut, atau tidak. Hasilnya, semua orang telah setuju untuk ikut bersamanya.
Mungkin karena mereka tidak ingin terlibat dalam masalah dengan Earl yang akan terjadi nanti.
Meskipun begitu, Norman mau tak mau menganggap kalimat penghiburan yang Kaira katakan itu sebagai sesuatu yang memicu penyesalan dalam dirinya.
Kaira mengerti itu, jadi dia hanya diam, membiarkan Norman menjernihkan pikirannya sendiri.
Tak lama kemudian, rasa penyesalan di dalam hati Norman telah memudar, dan kini ia hampir menjadi dirinya yang biasa.
Dia melihat ke semua mayat yang ada di sekitarnya.
Bau amis yang dihasilkan hampir membuatnya muntah, tapi entah bagaimana ia bisa menahan rasa mual itu. Norman lalu mendekati salah satu mayat, dan mencari sesuatu yang mungkin dapat dijadikan petunjuk.
Hasilnya, sama sekali tidak ada.
"Semuanya sama, ya … "
Apa yang ia temukan di mayat itu, adalah sesuatu yang sudah ia lihat di mayat lainnya.
Semua orang menggunakan aksesoris aneh berbentuk gelang dan cincin, dan di telapak tangan mereka, terdapat sebuah barcode dengan kata 'VOYAGER' tertulis di bawahnya.
Dalam bahasa Inggris, Voyager artinya penjelajah. Namun, hanya dengan itu saja tidak akan membantu dalam menemukan jawaban dari semua pertanyaannya.
"Apa mungkin, gelang dan cincin ini yang menghalangi kemampuanmu dengan Rias? "
" … Mungkin."
Norman tidak terlalu yakin, tapi dia memiliki firasat yang sama dengan Kaira.
Menurutnya, itu adalah kesimpulan paling logis. Tapi, ia kekurangan bukti yang dapat memperkuat kesimpulannya itu.
"Kaira, sampaikan pada semua orang kalau mereka bisa beristirahat untuk beberapa waktu. Ada sesuatu yang harus kuurus."
Meskipun Norman mengatakan sesuatu yang berbahaya seperti itu, ekspresi Kaira tetap tak berubah. Ia tahu kalau ini akan terjadi.
Norman akan menjadi keras kepala di saat tertentu, jadi sia-sia untuk menghentikannya.
Satu-satunya yang menjadi harapan Kaira sekarang adalah Norman tetap aman. Tidak lebih, dan tidak kurang.
"Aku mengerti. Tapi, jangan lakukan sesuatu yang gegabah. Aku tidak mau pulang ke ibu kota dengan membawa kabar kalau kau sudah tewas di tempat asing."
Norman tersenyum masam sebagai respon.
"Aku tidak akan mati dengan mudah. Seharusnya kau paling tahu itu, 'kan? "
Kaira hanya mendengus, dan melipat kedua lengannya. "Tentu. Tapi, tidak ada salahnya bagi seorang pengawal untuk khawatir pada bosnya yang ceroboh, 'kan? Bagaimanapun, aku akan menjadi orang pertama yang bertanggung jawab dalam semua masalah yang kau sebabkan."
"Tentu aku tahu itu."
"Kalau kau memang sudah mengerti, silahkan lakukan sesukamu, aku akan mengurus mereka semua di sini," ucap Kaira sambil melambaikan tangannya seolah mengusir Norman.
"Terima kasih."
Usai menerima izin dari Kaira, Norman langsung berlari meninggalkannya, dan mengejar Noelle.
Sementara itu, Kaira yang ditinggalkan sendirian …
"Aku tahu kalau aku yang menyuruhnya untuk pergi. Tapi … Apa aku benar-benar harus mengurus ini sendiri? "
Kaira memperhatikan sekelilingnya, dan hanya mendapatkan pemandangan buruk dari mayat orang-orang yang melakukan bunuh diri karena perintah《Throne Road》dari Norman.
Jelas, memgurus itu akan menjadi hal yang merepotkan.
...****************...
Di luar markas, pertempuran lain juga tengah berlangsung dengan cukup sengit.
Olivia menggunakan tangan kirinya sendiri untuk memegangi lengannya yang terluka, sementara tangan kanannya dengan sangat kuat menggenggam gagang rapier.
Beberapa bagian dari zirahnya sudah hancur, membuat tangan dan kakinya yang indah menjadi sedikit terekspos pada musuh. Selain itu, darah juga dapat terlihat mengalir di sekitar lengannya.
Olivia menggigit bibirnya sendiri, dan menyipitkan mata untuk meningkatkan fokusnya. Meskipun begitu, pandangannya masih agak terdistorsi, membuatnya tak dapat melihat lokasi musuh dengan jelas.
Telinganya juga sedikit berdengung, jadi dia tak dapat mengandalkan indera pendengarannya sekarang.
Sementara itu, Stella yang juga tengah terjebak dalam situasi yang tak begitu menguntungkan hanya bisa menyipitkan matanya dengan kesal.
Tangan kanannya yang memegang beberapa anak panah sekaligus itu langsung bersiap dengan busurnya sendiri, dan Stella membidik tepat ke arah musuh.
Meskipun keadaannya terlihat cukup baik, nyatanya, Stella juga tak begitu diuntungkan dalam situasi ini.
Senjatanya adalah sebuah busur panah, sedangkan musuh yang ia lawan adalah pengguna belati yang memiliki kecepatan pergerakan yang mengerikan.
Dlam hal ini, dia adalah musuh terburuk bagi Stella.
...****************...
Olivia dengan pergerakan yang dilakukan hampir secara refleks itu langsung meningkatkan kekuatan yang ada di tangannya, dan berhasil membuat musuh yang sedang beradu pedang dengannya itu mundur beberapa langkah.
Pedang mereka yang sebelumnya dalam posisi saling mendorong itu seketika terlepas. Olivia kemudian menarik kakinya sendiri, dan bersiap untuk serangan berikutnya.
Rapier miliknya diarahkan ke musuh dengan posisi yang kuat, membuat bilahnya dalam posisi selurus mungkin dengan musuh.
Musuhnya—pria itu—juga melakukan hal yang sama. Dia bersiap menerima serangan Olivia menggunakan sebuah pedang besar yang ia pegang dengan kedua tangannya.
Kedua kakinya bertumpu dengan sangat kuat di tanah, dan menjaga posisinya agar tak bergerak ketika menerima hantaman keras nantinya.
Olivia bukanlah tipe orang yang akan menunggu sampai lawannya siap. Dia langsung maju dengan kecepatan yang menakutkan, dan mengarahkan ujung rapiernya ke titik vital lawannya. Namun, lawannya dengan mudah menangkis itu.
Ujung rapier Olivia bertabrakan dengan permukaan pedang besar pria itu, membuatnya menghasilkan gesekan yang menciptakan beberapa percikan api.
Di belakangnya, Stella mencoba memberikan dukungan dengan menembakkan beberapa anak panah. Namun, ia diganggu dengan musuh lain yang tiba-tiba muncul.
Dia mengeluarkan sebuah pisau dan melemparkannya ke arah Stella, membuat Stella secara refleks langsung membatalkan tembakannya dan melompat mundur untuk menghindari itu.
"Kau sebaiknya fokus padaku mulai sekarang."
Lawannya—seorang wanita yang memakai dua buah belati—itu tersenyum.
Hampir tak ada yang istimewa dari penampilannya. Hanya seorang wanita dengan tubuh atletis biasa. Hanya saja, Stella dapat melihat sebuah kalung logam dengan sebuah kata yang terukir di atas pelat kecil di kalung itu.
Pengelihatannya cukup tajam, jadi ia bisa membacanya dengan jelas.
Di sana, terukir sebuah nama.
'Liv'. Hanya satu kata yang sederhana, tapi wanita itu tampak merasa sangat terganggu saat Stella memperhatikan nama di kalung itu.
"Apa itu namamu? "
Dia dengan kening yang berkerut tidak senang hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Bagi Stella, itu sudah cukup.
Tanpa menunggu lebih lama, Stella langsung menarik busurnya dan menembakkan sebuah panah sihir ke arah Liv.
Tembakannya itu begitu tiba-tiba sehingga Liv tidak dapat menghindari sepenuhnya. Bagian tajam dari panah sihir yang ditembakkan Stella menyerempet pipi Liv sedikit, dan membuatnya mengalirkan beberapa tetes darah dari sana.
Liv tak tinggal diam, dia langsung maju dengan posisi tubuh yng menukik. Tak butuh waktu lama hingga ia akhirnya sampai tepat di hadapan Stella.
Dalam jarak seperti ini, Stella tidak akan sempat menembakkan panahnya. Liv langsung mengayunkan belatinya dan menargetkan leher, tapi Stella menggunakan busurnya sendiri untuk menahan bilah tajam dari belati itu.
Bagian busur Stella memang terbuat dari kayu yang elastis, tapi itu memiliki tingkat kekerasan yang mengerikan, seolah telah dilapisi dengan campuran logam. Alasannya tentu saja, kayu yang menjadi bahan untuk pembuatan busur Stella diambil dari tubuh monster pohon yang disebut Treant. Monster itu adalah monster dengan tingkat bahaya A, jadi bahan yang dihasilkannya dapat dipastikan memiliki kualitas yang tinggi.
Keluarga Roselynn memiliki uang yang cukup banyak sehingga mampu membelikan putri kecil mereka barang berbahaya itu.
Stella langsung mendorong busurnya sendiri, lalu menggunakan tangannya yang lain untuk menarik anak panah di talinya. Dia kemudian langsung melepaskan jarinya, membuat Liv seketika melompat jauh ke belakang untuk menghindari tembakannya.
Kali ini anak panah yang ia tembakkan adalah anak panah sungguhan, sehingga akan lebih menyakitkan jika terkena langsung.
Meskipun begitu, dengan sedikit kesulitan, Liv berhasil melihat anak panah Stella dan menggunakan bilah belatinya untuk memindahkan jalur anak panahnya. Itu membuat anak panah yang Stella tembakkan ke arah Liv sebelumnya langsung berubah arah ke Olivia yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Olivia! "
Stella berteriak, dan membuat Olivia langsung berbalik. Dia kemudian menyadari anak panah yang datang ke arahnya, dan langsung tersenyum.
"Waktu yang tepat! "
Olivia langsung menangkap anak panah itu, dan melemparkannya dalam sekali gerakan ke arah pria yang sebelumnya beradu pedang dengannya.
Anak panah itu berhasil mengalihkan perhatiannya sejenak, dan Olivia langsung memanfaatkan kesempatan untuk maju menghunus pedangnya ke depan.
Mengingat semua kekuatan yang ia miliki, ia seharusnya bisa mengalahkan pria itu dengan cepat menggunakan sihir dan skill-nya. Tapi, entah mengapa Olivia tak bisa menggunakannya sekarang.
Satu-satunya hal yang bisa menjadi penyebab akan semua itu adalah batu bulan yang berserakan di sekitarnya. Olivia yakin itu.
Berkat keberadaan batu bulan itu, ia tak bisa menggunakan sihir dan skill-nya sebagai vampir.
Jika bisa, ia pasti sudah mengubah tempat ini menjadi padang es dalam waktu singkat.
Ujung pedangnya berhasil mengenai tepat di bagian bahu musuhnya, dan Olivia kembali mendorong pedangnya untuk memperdalam luka itu.
Pria itu terlihat meringis kesakitan, tapi dia langsung menangkap bilah rapier Olivia dan dengan paksa mencabutnya.
Dia memakai sarung tangan yang tahan terhadap benda tajam, jadi dia bisa memegang bilah tajam rapier Olivia tanpa masalah.
Olivia kemudian menarik kembali pedangnya, dan bersiap untuk serangan berikutnya. Namun, jelas kalau musuhnya tidak akan membiarkan itu.
Dia maju dan menyerang Olivia menggunakan pedang pendek di salah satu tangannya. Dia melompat, dan melakukan manuver hebat di udara untuk mencegah Olivia membaca pergerakannya.
Olivia menghindari semua serangannya dengan gerakan kecil, lalu memanfaatkan celah yang terbuat untuk mundur jauh ke belakang. Kedua kakinya mendarat di salah satu batang pohon besar yang dijadikan kamuflase oleh musuh, lalu ia memanfaatkan gaya pegas yang tercipta untuk mendorongnya kembali ke depan.
Tubuhnya yang cukup ringan itu dengan cepat meluncur ke depan. Sambil mengayunkan pedangnya, Olivia mengeluarkan niat membunuh dalam intensitas tertentu agar membuat lawannya lengah.
Namun, sayangnya itu tidak berguna.
Lawannya langsung melemparkan pedang pendek di tangannya, dan kembali menggunakan pedang besar untuk menahan serangan Olivia.
Tapi, itu tak semuanya.
Pedang pendek yang ia lempar sebelumnya dengan cepat berputar di udara dan berbalik untuk menusuk Olivia.
Berkat instingnya yang menumpul karena keberadaan batu bulan, Olivia sedikit terlambat menyadari keberadaan pedang kecil yang menargetkannya itu.
Dia menghindar, tapi sedikit terlambat. Ujung pedang yang menargetkannya itu menancap tepat di lengan kirinya.
Olivia berhasil mendarat dengan lembut di tanah, tapi dia meringis karena merasakan sakit yang sudah sangat lama tak ia rasakan.
Kepekaan tubuhnya terhadap rasa sakit tiba-tiba kembali, tentu saja alasannya adalah batu bulan yang terus menyerap kekuatannya sejak tadi.
Olivia dengan paksa menarik pedang kecil itu, dan membuat darah mengalir dengan sangat deras dari bekas luka tusukan di lengannya.
"Dari reaksimu itu, kelihatannya kau tidak begitu terbiasa dengan rasa sakit, ya? "
Lawannya—pria itu—tersenyum mengejek padanya. Tentu saja apa yang ia katakan itu benar. Terakhir kali Olivia merasakan sakit dari luka seperti ini adalah saat sebelum ia mendapatkan resistensi terhadap rasa sakit.
Itu sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu.
Jelas kalau ia akan merasa terkejut ketika menerima sensasi sakit itu untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun.
Olivia mengabaikan rasa sakit yang menjalani lengannya, dan memaksa maju untuk menyerang pria itu.
Ujung rapiernya kembali bertabrakan dengan bagian datar pedang, tapi Olivia tidak berhenti. Rapier miliknya—Achto—memiliki kemampuan untuk meningkatkan kekuatannya seiring dengan meningkatnya intensitas bahaya yang dirasakan Olivia.
Dengan kembalinya perasaan Olivia akan rasa sakit, tentu saja akan sangat berpengaruh pada kekuatan Achto.
Buktinya, ujung Achto yang masih bersentuhan dengan bagian datar pedang besar pria itu tampak bersinar.
Pria itu kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia merasakan sesuatu yang berbahaya akan terjadi padanya. Jadi ia melompat mundur untuk menghindari itu. Namun, Olivia jelas tidak akan membiarkannya.
Olivia menembakkan sebuah rantai tipis dengan jangkar kecil dari senjata yang tersembunyi di pergelangan tangannya yang lain, dan mengenai tepat pada kaki pria itu.
Jangkar itu memiliki bentuk yang tajam di ujung, dan memiliki beberapa bilah tajam yang melengkung di setiap sisinya.
Ujung jangkarnya menancap tepat di kaki pria itu, membuatnya meringis kesakitan, tapi ia tak mempedulikannya, dan justru menarik kakinya dengan paksa agar dapat menyeret Olivia bersamanya.
Namun, itu tak berguna.
Olivia telah lebih dulu menarik jangkarnya dan membuat pria itu terjatuh ke tanah dengan sangat keras, menghasilkan dentuman yang bahkan menggetarkan tanah di sekitar Stella dan Liv yang masih bertarung.
"Jane! "
Liv berteriak begitu menyadari keadaan yang dialami pria itu, Jane.
"Tak akan kubiarkan! "
Stella dengan cepat menarik busurnya, dan menembakkan sebuah anak panah yang mengandung sihir es Olivia di dalamnya.
Anak panahnya mendarat di tanah sekitar Liv berada, dan tidak di tubuhnya. Tapi, itu sudah cukup.
Anak panah yang Stella tembakkan itu bersinar, dan seketika lenyap, menjadi sebuah sihir yang membekukan semua area di sekitarnya.
Secara alami, kaki Liv tak mampu berdiri di atas es yang sangat licin itu. Dia tergelincir dan terjatuh, dan kakinya langsung membeku, sehingga mencegahnya untuk bergerak lebih jauh.
"Lepaskan aku! Jane! "
Liv benar-benar terlihat panik saat melihat keadaan Jane. Namun, bagaimanapun, ia tak dapat melakukan apa pun untuk menolongnya dalam situasi seperti ini.
Olivia kembali menarik rantainya, dan membuat tubuh besar Jane berayun di udara, dan akhirnya menabrak sebuah pohon dengan sangat kuat. Dan tak berhenti di sana, ia juga menggunakan Achto untuk menusuk semua benda di sekitar Jane. Semua benda yang ia tusuk dengan Achto kemudian meledak, menghasilkan gelombang kejut yang cukup untuk membuat Jane kembali terpental ke arah lain.
Jane tak sempat melindungi dirinya sendiri. Dia dengan susah payah mencoba untuk mengatur posisinya di udara, tapi rantai yang masih masih menusuk kakinya mencegahnya untuk melakukan gerakan pelarian itu.
Tidak ada cara lain, pikirnya.
Masih di udara, Jane tersenyum pahit.
Dia kemudian mengangkat satu tangannya, dan mengalirkan sejumlah sihir ke sana.
Seketika, tangannya bersinar, dan merubah bentuknya yang dari tangan organik biasa, menjadi sebuah bilah pedang tajam berwarna hitam metalik yang mengerikan.
Olivia terkejut saat melihatnya, tapi ia tak sempat melakukan apa pun.
Apa yang baru saja Jane lakukan itu mengingatkannya pada kemampuan transmutasi yang dimiliki oleh Leonardo. Tentu saja itu mengejutkan baginya.
Mengabaikan reaksi keterkejutan Olivia, Jane mengayunkan tangannya yang telah berubah menjadi bilah pedang itu, dan memotong kakinya sendiri.
"Jane!! "
...****************...