![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Usai kekalahan Barsio, semua orang akhirnya berkumpul kembali.
Norman bersama sebagian besar anggota kelompoknya sedang melakukan investigasi terhadap pulau itu.
Sedangkan Cryll, dia sedang beristirahat di tempat yang relatif teduh bersama Stella. Dia juga sedang mendapatkan bantuan Olivia untuk memulihkan semua lukanya. Sekarang dia dalam keadaan pingsan, tapi Noelle yakin dia akan bangun tak lama lagi.
Sementara itu, Noelle … Dia berpisah dari semua orang, dan memilih untuk duduk di dekat puing-puing batu dan logam dari bangunan yang runtuh di sekitarnya.
Dia sendirian, atau setidaknya itulah situasinya beberapa detik yang lalu.
Sampai, Anzu datang dan berdiri sambil melipat kedua lengannya. Dia dengan matanya yang menyipit menatap Noelle.
"Apa yang kau lakukan di sini? Anzu? "
Noelle sudah memiliki firasat kalau Anzu akan mendatanginya, tapi ia memutuskan untuk berpura-pura tak mengetahui apa pun, dan bertanya sebagai permulaan.
"Seharusnya akulah yang menanyakan itu. Kenapa kau ada di sini? Dan … Apa yang sebenarnya kau rencakan? "
Noelle sedikit tersenyum, dan menatap Anzu dengan mata yang menyipit.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Kau selalu menanyakan itu sejak tadi. Aku benar-benar tidak merencanakan apa pun di sini."
"Tidak merencanakan apa pun di sini, yang artinya kau pasti memiliki rencana lain di suatu tempat, ya? "
Tawa kecil keluar dari bibir Noelle setelah is mendengus sejenak.
Dia kini berdiri, dan menoleh pada Anzu sambil memiringkan kepalanya.
"Astaga, tidak bisakah kau memikirkan sesuatu yang positif tentangku? "
"Sayangnya itu tidak mungkin. Ketika kau terlibat dalam suatu situasi, hanya hal negatif yang bisa kupikirkan. Itu karena kau memang selalu seperti itu, Iza."
"Mhmm … Benarkah? "
Sambil mengatakan itu, Noelle memalingkan wajahnya dengan ekspresi bosan. Dia pun kembali duduk dan mengambil satu kerikil kecil di dekatnya, dan melemparkan itu ke depan.
Kerikil yang ia lemparkan dengan lembut menabrak pohon, sebelum akhirnya terjatuh dan memantul beberapa kali di tanah.
"Iza … Bisakah kau katakan padaku yang sebenarnya? Aku tidak akan keberatan meski kau melakukan banyak hal gila di balik layar. Tapi, aku tidak ingin terlibat di dalam skenario yang kau rancang itu."
" …… Aku sungguh tidak merencanakan apa pun di sini. Setidaknya, aku tidak merencanakan apa pun yang melibatkanmu di dalamnya. Jadi, kau bisa tenang."
Meskipun samar, jejak kekhawatiran di wajah Anzu sudah sedikit menghilang. Napasnya juga menjadi lebih stabil setelah Noelle mengatakan itu.
" … Apa benar begitu? "
Kendati ketenangan sudah kembali mengisi wajahnya, Anzu tetap tak bisa menahan dirinya untuk bertanya pada Noelle.
Namun, pertanyaan yang dia ajukan dengan rasa cemas itu justru dijawab Noelle dengan cara yang tak terduga baginya.
"Hei, Shion … "
Daripada menggunakan nama Anzu untuk memanggilnya, Noelle justru memanggilnya dengan menggunakan namanya di kehidupan sebelumnya—Shion.
" ……… "
Secara alami, Anzu menyadari kalau ia sudah melewati batas. Saat bereinkarnasi ke dunia ini, Anzu telah membuat aturan untuk dirinya sendiri, bahwa ia tidak boleh terlalu terlibat dengan Noelle, seperti yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya.
Anzu sudah mendengar dari Olivia kalau Noelle tidak akan memanggil nama seorang reinkarnator dengan nama lama mereka. Jika ia melakukan itu, maka itu pasti menjadi hal yang penting.
" … Apa? "
Anzu dengan waspada bertanya. Kedua ujung alisnya saling bertaut, dan satu kakinya dilangkahkan ke belakang. Salah satu tangannya masuk ke saku dan menggenggam bola kelereng yang menjadi senjatanya. Dia sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Tetapi, serangan yang sudah ia tunggu itu tak pernah datang. Noelle justru menoleh padanya dan menunjukkan ekspresi hampa di wajahnya.
"Sejak kapan kau menjadi seperti itu? Jika aku ingat dengan pasti, kau adalah tipe orang yang akan bersemangat saat sesuatu yang menarik terjadi di sekitarmu. Terutama, saat itu berkaitan dengan penjahat dan uang."
"Kita tidak berada di bumi, Noelle. Jangan kau bawa prasangka yang kau miliki itu ke sini. Sudah hampir 16 tahun sejak kita terlahir kembali. Apa kau pikir semua orang masih mempertahankan sikap yang sama? "
Anzu dengan cepat menjawabnya. Dari suaranya, Noelle mengerti kalau Anzu benar-benar kesal.
Noelle mengerti itu, dan dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menanganinya. Jadi dia hanya memalingkan wajahnya sambil membaringkan tubuhnya di tanah, dan menyandarkan kepala dan punggungnya di puing logam datar di belakangnya.
Setelah itu, dia pun berguman. "Pada akhirnya, semua orang akan berubah, huh … "
Anzu mendengar apa yang ia gumamkan, tapi memutuskan untuk tidak mengatakan atau melakukan apa pun untuk meresponnya.
Dia hanya mendengus kesal, dan berkata. "Seperti yang sudah kau dengar. Aku tidak ingin terlibat dengan semua aksimu di balik layar lagi. Aku ingin menjalani hidupku dengan tenang di sini. Kau mengerti itu, 'kan? "
Tanpa menunggu jawaban dari Noelle, Anzu langsung berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Noelle sendirian di sana.
Di saat itu, Noelle akhirnya bergumam dengan suara yang menunjukkan kepasrahannya. "Jika memang itu yang kau rasakan, seharusnya kau tidak ikut dalam penyelamatan Cryll. Secara tidak langsung … Kau sudah melibatkan dirimu sendiri ke dalam semua masalah ini … "
Tak ada siapa pun yang mendengar perkataannya. Kalimat itu hanya menggapai udara kosong, dan menghilang bersamaan dengan hembusan angin lembut yang membelai tubuhnya.
...****************...
"Yo, apakah kau sudah bisa bergerak? "
Hampir setengah jam berlalu, dan Noelle kembali ke tempat Cryll berada.
Di bawah pohon yang masih berdiri itu, dia melihat sosok Cryll yang berbaring di rumput dengan Stella yang duduk di sampingnya.
Tak jauh dari mereka, Noelle juga bisa melihat sosok Olivia yang memperhatikan aliran sungai kecil tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.
"Terima kasih berkat sihir penyembuhan kalian, tubuhku sudah hampir pulih. Tapi … Brengsek, ini benar-benar menyakitkan."
Cryll mencoba untuk bergerak, tapi segera dihentikan oleh rasa sakit yang tiba-tiba menyerbu tubuhnya.
Stella secara alami bergerak untuk menahan tubuhnya dan membuatnya kembali berbaring, tapi Cryll hanya tersenyum kecil padanya dan kembali memaksakan dirinya untuk bangun.
"Lambung yang rusak, 12 tulang rusuk mengalami keretakan, tulang jari tangan patah, lengan kiri yang bengkok, dan banyak lagi. Dengan keadaan begitu, kau berniat untuk bergerak? "
Olivia tiba-tiba muncul dan berbicara sambil menatap Cryll dengan mata dingin dan tak bernyawanya yang biasa.
"Ughh … Bukankah kau sudah menyembuhkan semua lukaku? "
Cryll memalingkan wajahnya dengan tubuhnya yang gemetar. Sampai saat ini, ia masih belum mengatasi rasa segannya terhadap Olivia. Noelle hanya bisa tersenyum masam saat melihat mereka.
"Aku dan Noelle memang sudah menyembuhkan lukamu, tapi rasa sakitnya masih akan ada. Dan ada kemungkinan kalau luka itu akan kembali."
Ekspresi Cryll semakin pucat seiring dengan menguatnya tatapan kosong Olivia padanya.
Noelle melihat situasi ini sebagai sesuatu yang menarik, tapi ia tetap harus meredakan situasinya. Hanya dia yang bisa mengatasi Olivia.
Noelle berjalan menghampiri Olivia dan menepuk kepalanya beberapa kali, membuat Olivia seketika melembutkan ekspresinya.
"Nah, kamu tidak perlu khawatir dengan itu. Aku akan mengurus orang ini jika terjadi sesuatu. Kamu bisa istirahat sekarang," ucap Noelle sambil mengelus kepala Olivia.
"Mhmm~ Jika itu yang Noelle katakan~"
Wajah Olivia tampak meleleh, ekspresi yang terbentuk di wajahnya kini seperti seseorang yang dalam mode manja.
"Itu … Ngomong-ngomong, Noelle … Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu."
Suara Cryll terdengar canggung. Dia benar-benar tak ingin mengganggu waktu Noelle bersama Olivia, tapi ini adalah hal yang penting, jadi ia harus segera membicarakannya dengan Noelle.
"Tentang apa itu? "
Noelle bertanya tanpa mengalihkan matanya dari Olivia.
Menanggapi itu, Cryll hanya tersenyum masam, dan melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak tahu ini penting atau tidak, tapi … Kurasa aku harus membicarakan ini denganmu. Dan … Kau tahu … "
Cryll melirik pada Stella dan Olivia. Noelle secara alami mengerti maksudnya, dan ia menghentikan tangannya yang sebelumnya bergerak untuk mengelus Olivia.
Dengan senyum hangat di wajahnya, Noelle berkata pada Olivia. "Maaf, bisakah kamu meninggalkan kami berdua di sini? "
Wajah Olivia kehilangan senyumnya, Dia kembali ke ekspresinya yang sebelumnya.
Tanpa berkata apa pun, ia berbalik menatap Stella dan mengangguk, sebelum akhirnya pergi.
"Panggil aku jika terjadi sesuatu," ucap Noelle sambil memperhatikan punggung Olivia yang perlahan menjauh.
Stella masih duduk di samping Cryll. Ia terlihat berkonflik saat harus meninggalkan Cryll dalam keadaan seperti itu.
Cryll tak mengatakan apa pun untuk meyakinkannya, dan hanya menatap Stella.
Meskipun begitu, itu sudah cukup. Stella mengerti dengan apa yang ia inginkan, dan dengan berat hati bangun dari posisi duduknya.
Stella kemudian berjalan meninggalkan Noelle dan Cryll, mengikuti sosok Olivia yang telah menghilang di balik puing-puing.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? "
Begitu memastikan keberadaan kedua gadis itu telah menjauh, Noelle langsung memulai percakapan dengan pertanyaan.
Tanpa basa basi, dan langsung mengeluarkan pertanyaan dengan suara datar.
"Yahh, aku ingin membicarakan ini sejak awal. Tapi aku tak sempat karena kita saat itu sedang menghadapi bajingan Barsio ini."
" … Lalu? "
Memang samar, tapi Noelle dapat merasakan perubahan pada nada suara Cryll. Atmosfer di sekelilingnya juga perlahan berubah. Seolah, Cryll telah meningkatkan kewaspadaannya dan menatap Noelle dengan berbagai prasangka.
Dia tanpa mengatakan apa pun langsung mengeluarkan selembar kertas yang telah kusut, dan memberikan itu pada Noelle.
"Orang yang ada di poster ini, Souris … Itu kau, 'kan? "
...****************...
Sudah sejak kapan ia menyimpan kecurigaan terhadapnya? Mungkin, itu jauh lebih lama dari yang ia pikirkan.
Semua terasa normal saat mereka pertama kali berkenalan. Menjalankan misi bersama, memainkan beberapa permainan konyol, dan membuat kerusuhan di beberapa tempat. Semua yang mereka lakukan bersama membuat mereka seperti sepasang teman yang sudah lama saling mengenal.
Suatu hari, saat itu adalah hari yang normal. Dia menjalankan misinya, dan pergi beristirahat di sebuah bar di suatu kota.
Hari itu hujan, jadi ia memilih untuk berteduh sambil beristirahat sejenak. Tapi, ia justru bertemu dengannya.
"Kau … Yang dari turnamen itu, ya? "
Seorang laki-laki yang tampak seumuran dengannya muncul. Penampilannya cukup mencolok dan menarik perhatian banyak orang, terutama di kalangan wanita.
Rambutnya putih, dan kulitnya pucat. Wajahnya bisa dibilang tampan, tapi akan terlihat feminim jika seseorang memperhatikannya dari dekat. Mungkin itulah yang mereka sebut dengan ciri wajah androgini.
Secara penampilan, tentu saja akan menjadi hal yang wajar jika ia didekati oleh para wanita. Dia memakai tindik hitam di telinganya, dan semua atribut pakaiannya juga terlihat cukup mewah meskipun tidak mencolok.
Saat itu, tubuh dan pakaiannya sedikit basah. Mungkin karena ia berjalan di bawah rintikan air hujan.
Dia menghampiri Cryll, dan melihat kursi kosong yang ada di hadapannya.
Cryll saat itu duduk di sebuah meja untuk dua orang. Tepat berada di samping jendela, sehingga dua orang yang duduk di sana dapat melihat pemandangan di luar.
Cryll sedikit penasaran saat melihat orang itu, tapi ia langsung mengenslinya setelah ingatan tentang turnamen melintas di kepalanya.
"Kau … Yang memenangkan turnamen … Kalau tidak salah, namamu Noelle Lynneheim, 'kan? "
Dia sendiri adalah seorang petualang yang mengikuti turnamen, jadi wajar baginya untuk mengenali orang itu—Noelle.
"Ya, dan aku yakin kalau kau adalah Cryll Light, putra dari keluarga kesatria Light."
Cryll seketika menyipitkan matanya.
Dia memang memakai nama Light di belakang namanya, tapi ia tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang kenyataan kalau ia adalah salah satu putra dari keluarga kesatria yang terhormat itu.
Wajar bagi seorang bangsawan untuk memiliki nama keluarga, bahkan jika bangsawan yang dimaksud itu hanyalah bangsawan kecil seperti kesatria kerajaan.
"Bisakah aku duduk di sini? Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu."
" … Tentu."
Cryll sedikit ragu, tapi pada akhirnya menerima permintaan Noelle untuk duduk di sana.
"Kau tidak perlu merasa waspada seperti itu. Aku hanya ingin berinteraksi secara normal seperti dua remaja biasa."
Tidak mungkin dia akan percaya.
Sejak lama, Cryll memang memiliki pandangan yang negatif terhadap semua orang yang mendatanginya. Itu bukan tanpa alasan, melainkan karena sebuah 'trauma' masa lalu.
Mengesampingkan semua itu, sejak awal ia memang tidak pernah mempercayai Noelle. Dan Cryll juga yakin kalau Noelle juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.
Bagaimanapun, pada awalnya, Cryll memiliki kesan kalau ia dan Noelle cukup mirip dalam beberapa hal.
Tapi, kemiripan itulah yang membuat Cryll yakin kalau ia dan Noelle tidak mungkin bisa menjadi akrab.
Walaupun pada kenyataannya, jauh di lubuk hati Cryll, ia ingin berteman secara normal dengan Noelle, laki-laki yang seusia dengannya. Jika itu bisa terjadi, maka Noelle akan menjadi teman laki-laki pertama yang ia miliki.
"Ngomong-ngomong, selamat atas kemenanganmu pada turnamen."
Untuk menghapus suasana canggung yang ia rasakan, Cryll memulai percakapan dengan memberikan Noelle ucapan selamat.
Noelle tersenyum dan menerima ucapan itu setelah ia menghabiskan semua minuman yang ia bawa.
"Akan kuterima ucapan itu dengan senang hati," kata Noelle.
Cryll tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan ada Noelle. Sejak awal, ia tak pernah memiliki dugaan kalau ia dan Noelle akan mengobrol seperti ini. Jadi ia tak dapat menyiapkan dialog yang tepat.
Tapi, semua percakapan yang singkat itu, akan membawa perubahan besar pada hidupnya.
Sejak saat itu pula, hal-hal aneh mulai terjadi.
Dia jadi sering mendapatkan perasaan samar kalau ia baru saja memimpikan sesuatu, tapi ia tak dapat mengingatnya. Sensasi deja vu yang sangat mengganggu itu juga seringkali muncul pada situasi tertentu.
Hingga akhirnya, Cryll menumbuhkan rasa curiga yang amat mendalam terhadap Noelle.
...****************...
" … Aku tidak mengerti maksudmu."
"Kau tidak perlu berpura-pura, Noelle."
Cryll sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya. Wajahnya memiliki ekspresi yang cukup sulit untuk digambarkan. Antara marah, kekecewaan, atau bahkan keduanya.
Noelle memperhatikan kertas yang Cryll berikan.
Di sana, terdapat foto seseorang dengan nama dan angka yang dituliskan di bawahnya.
Orang yang ada di foto itu memiliki rambut putih yang cerah, tapi dia memakai topeng yang menutupi wajahnya sehingga siapa pun tidak akan mengenalnya.
Nama yang ada di bawah foto itu juga bertuliskan Souris, sedangkan angka yang tertulis di bawahnya lagi menjelaskan kalau orang itu memiliki kepala yang bernilai 20 ribu koin emas.
Hanya dengan melihatnya sekilas, siapa pun pasti dapat menebak kalau itu adalah poster buronan.
Noelle tak menghapus senyum di wajahnya, dan justru menyipitkan matanya pada Cryll.
"Kenapa kau bisa seyakin itu? "
"Kau sungguh menanyakan itu? Ada terlalu banyak jawaban, kau tahu? Apa kau ingin mendengar semuanya? "
" … Aku hanya ingin satu jawaban."
Tanpa mengubah ekspresi di wajahnya, Cryll mulai mengungkapkan isi pikirannya pada Noelle.
"Waktunya terlalu tepat. Souris, Asterisk dikabarkan pertama kali muncul tepat pada hari di mana kita melakukan misi penyelidikan. Aku dengar Eisen diserang selagi kita pergi, dan semua sudah hancur saat kau kembali."
"Lalu? "
Noelle tahu kalau Cryll pasti akan mendengar kabar tentang itu dari Stella, jadi itu tidak terlalu mengejutkan.
"Saat itu, kita menyelidiki reruntuhan yang Earl duga sebagai reruntuhan peninggalan bangsa Aino, dan ada kaitannya dengan Terneth. Tapi, apa tujuan dia sebenarnya? Aku selalu bertanya-tanya tentang itu. Sampai akhirnya, aku mendapatkan jawabannya."
"Dan kau … Mendapatkan jawabannya saat Asterisk muncul, ya? "
"Tepat. Asterisk muncul dan menghancurkan Rondo tepat saat tengah malam, di hari yang sama dengan kita pergi menyelidiki reruntuhan."
Noelle mengerutkan keningnya. "Apa hanya itu? Bukankah terlalu terburu-buru untuk menyimpulkan sementara kau hanya memiliki informasi itu? "
Cryll sedikit tersenyum, dan mengangkat bahunya dengan ringan.
"Tentu, tapi aku belum selesai. Aku sudah lama menyimpan kecurigaan padamu, Noelle. Dan saat itu adalah puncaknya. Itu terlalu bagus untuk menjadi kebetulan. Kita pergi menuju lokasi penyelidikan saat pagi hari, dan kudengar kalau kau baru kembali ke kota tepat sebelum lonceng malam dibunyikan. Bukankah itu terlalu lama? "
"Itu normal, 'kan? Butuh waktu lebih lama bagiku untuk menyelesaikan sebuah penyelidikan."
"Memang, tapi aku yakin kalau kau bukanlah tipe orang yang suka menghabiskan waktu di reruntuhan hanya untuk melaksanakan perintah orang lain. Jika itu kau, aku yakin kalau kau pasti akan menggunakan orang lain, atau mencari cara lain untuk melakukan penyelidikan yang lebih efektif."
Memang, itu terdengar seperti sesuatu yang akan Noelle lakukan. Karena Cryll tahu hal itulah, ia jadi memiliki kesimpulan kalau Noelle terkait dengan kelompok yang disebut Asterisk ini.
Jika hanya mengandalkan foto, Cryll mungkin tidak akan mengenalinya. Bagaimanapun, Noelle sudah memberikan sihir anti pengenalan pada dirinya sendiri saat itu.
"Dan juga, aku yakin kalau reruntuhan yang kau selidiki tidak sebesar itu. Aku penasaran, kau gunakan untuk apa waktu yang tersisa? "
" …… Kuhuhu~ Itu terdengar menarik. Kau menyimpulkan itu semua hanya dengan deduksi sederhana seperti itu? Apa kau seorang jenius? Tidak, kurasa aku yang terlalu payah dalam menyembunyikan jejakku, ya? "
Melihat Noelle yang tertawa dan berbicara sendiri seperti itu membuat Cryll bingung, tapi Cryll sama sekali tidak lengah dan langsung meningkatkan kewaspadaannya.
" ……… Apa itu artinya, kau mengaku kalau kau adalah Souris? "
Dengan suaranya yang terdengar penuh akan kewaspadaan, Cryll bertanya ada Noelle, yang Noelle respon hanya dengan tawa kecil seperti sebelumnya.
"Kalau iya, apa yang akan kau lakukan? Memenggal kepalaku di sini dan membawanya ke ibukota untuk melaporkanku? Membawa kepala salah satu buronan bernilai tinggi yang menghancurkan satu kota dalam satu malam, itu pasti akan menjadi pencapaian yang sangat tinggi untukmu. Apa kau akan mengambil prestasi itu? "
Noelle masih terlihat santai, tapi Cryll samar-samar dapat merasakan niat membunuh yang terpancar darinya.
Jika informasi tentang dirinya menyebar, Noelle tidak akan ragu untuk menghabisi orang lain, bahkan jika orang yang dimaksud itu adalah 'temannya' sendiri.
Meskipun begitu, Cryll tak menunjukkan reaksi yang dia harapkan.
Cryll hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, dan tersenyum.
"Tidak, aku tidak akan menyerahkanmu. 20 ribu koin emas tentunya akan menjadi hal yang sangat menggiurkan, tapi aku tak tertarik untuk mendapatkannya dengan cara ini. Tidak sepertimu, aku tidak akan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi."
"Heh, kau mengatakannya seolah aku adalah penjahat."
"Bukankah itu kenyataannya? Aku tidak peduli dengan alasannya, tapi kau dan orang-orang di kepompokmu itu, Asterisk, telah menghancurkan Rondo dalam satu malam. Hanya penjahat yang akan melakukan itu."
Jika saja Cryll mengetahui alasan Noelle dan semua anggota Asterisk melakukan penyerangan itu, maka Cryll pasti tidak akan pernah mengatakan hal seperti tadi.
Bagaimanapun, semua orang memiliki alasan di balik tindakan mereka. Tidak ada yang melakukan itu untuk kesenangan semata. Itu adalah satu-satunya pilihan yang bisa mereka ambil.
Noelle tidak peduli, tapi tetap saja menyakitkan ketika Cryll mengatakan itu langsung di depannya.
Untuk menghapus gejolak pada perasaannya, Noelle menghela napas panjang, dan kemudian menatap Cryll dengan wajah tanpa ekspresinya yang menakutkan.
Cryll secara alami menyadari perubahan pada Noelle, dan melangkahkan satu kakinya mundur ke belakang, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Namun, itu tak terjadi.
Dengan warna oranye yang menghiasi langit sore itu, dan disertai tiga bulan yang mulai menampakkan dirinya, Noelle membuka bibirnya untuk berbicara.
"Aku juga ingin bertanya padamu."
Cryll hampir tak dapat menahan jantungnya yang berdetak semakin cepat, datang bersamaan dengan keringat dingin yang mengalir di punggungnya.
" ……… Apa itu? "
Saat Cryll dengan waspada bertanya, suara dingin tanpa notasi Noelle bergema di sekitarnya.
"Di mansion Terneth pada malam itu, apa yang kau lakukan di sana? "
...****************...