[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 22 (Selingan): Masa lalu



...****************...


"Haaahhh … Itu benar-benar menyenangkan~"


Suara yang terdengar lelah itu keluar dari mulut Noelle yang menidurkan dirinya di kasur sementara Olivia berganti pakaian menjadi piyama.


Noelle dan Olivia sudah menghabiskan waktu seharian untuk mengelilingi kota, jadi saat ini mereka benar-benar lelah secara mental karena banyak hal yang harus mereka hadapi tadi.


Jadi mereka memutuskan untuk kembali ke 'Vinka inn' dan beristirahat untuk turnamen besok.


Hari sudah cukup gelap di luar, tapi masih ada suara-suara dari bar yang masih dibuka. Ketika Noelle menutup matanya, indera pendengaran miliknya menjadi lebih sensitif dan mampu mendengar suara orang-orang yang sedang bersenang-senang di luar.


"… Apa kau lelah Noelle? kita mendapat banyak kejaran juga hari ini"


"Nn? tidak, mereka bukanlah masalah untuk kita, lagipula kita juga mendapat banyak rampasan dari mereka hehe"


Olivia sudah selesai berganti pakaian dan duduk disamping Noelle untuk membelai rambutnya yang berwarna putih salju sambil bertanya padanya, tapi Noelle justru menjawabnya dengan wajah cerah dan nada yang terdengar sedikit bercanda.


Itu membuat Olivia hanya bisa tersenyum masam padanya. Alasan mereka begitu lelah secara mental adalah karena mereka terus dikejar seharian ini. Orang-orang yang mengejar mereka adalah orang dengan niat buruk setelah melihat uang yang dimiliki Noelle dan Olivia saat mereka mendaftar di penginapan.


Setelah mengeluarkan uang sebanyak itu, wajar jika mereka menjadi incaran. Terlebih lagi, penampilan Noelle dan Olivia yang dikategorikan 'tampan' dan terlihat lemah itu membuat orang-orang semakin yakin kalau mereka adalah target yang mudah.


Bahkan ada beberapa orang (kebanyakan) mengincar tubuh Olivia dan berniat menjual Noelle pada pedagang budak.


Tentu saja itu membuat Noelle kesal dan berniat menghabisi mereka seketika. Tapi karena ada larangan untuk membunuh di kota, Noelle hanya bisa puas dengan menyiksa mereka dan merampas semua harta orang-orang yang menyerangnya dengan niat buruk.


Para penjahat yang mengincar mereka hanya bisa pasrah dan menatap dengan pandangan ngeri pada Noelle saat dia mengambil semua barang milik mereka seolah Noelle adalah penjahat…


Ketika Olivia mengingat itu, dia hanya bisa tersenyum masam sambil terus membelai kepala Noelle dengan lembut, tapi tangannya berhenti ketika Noelle menegakkan tubuhnya dan duduk di samping Olivia sambil menatap keluar jendela.


Kamar mereka berada di lantai teratas, dan jendela juga dibuat di tempat-tempat tertentu untuk melihat pemandangan di luar. Noelle terus menatap keluar dengan mata lembut sementara Olivia menatapnya dari samping


"… Bintangnya terlihat lebih terang"


Noelle tanpa sadar membocorkan kata-kata itu saat dia terus menatap langit malam yang terlihat lebih indah dari ingatannya saat di bumi dulu sementara Olivia terus menatapnya dengan pandangan lembut dari samping.


"… Nn, bumi memiliki terlalu banyak polusi cahaya"


Olivia menggumamkan itu sementara dia dengan lembut menyandarkan kepalanya pada bahu Noelle. Setelah merasa nyaman dengan itu, Olivia segera mengalihkan pandangannya pada langit malam.


Di sana adalah taburan bintang yang menghiasi langit dan mengelilingi bulan. Secara khusus, tidak ada perbedaan besar pada dunia tempat mereka sekarang tinggal dan bumi. Sistem rotasi dan evolusi planet masih sama, satelit alami mereka juga hanya ada satu.


Yang membedakannya adalah, langit yang mereka lihat sekarang memiliki bintang yang lebih cerah dan lebih indah dari yang mereka lihat di bumi dari area perkotaan.


Seperti itu, Noelle dan Olivia menatap bintang-bintang di langit dengan kesunyian memenuhi ruangan.


Menikmati pemandangan itu sejenak, Olivia dengan lembut mengangkat kepalanya yang sejak tadi bersandar pada bahu Noelle dan menatapnya dengan wajah yang memerah seperti apel.


Menyadari tatapan Olivia, Noelle segera tersenyum lembut dan membelai rambut perak Olivia yang tergerai dengan bebas.


Saat Olivia mendapat belaian dari Noelle, dia menunjukkan ekspresi yang seperti kucing yang ingin dimanja.


(Jika dia adalah kucing, dia pasti sudah mendengkur sekarang...)


Dengan pikiran itu, Noelle terus menggerakkan tangannya untuk membelai kepala Olivia dan menelusuri wajahnya yang halus.


Wajah Olivia menjadi lebih memerah dari sebelumnya saat dia mendapatkan tatapan lembut dari Noelle, namun dia tetap memasang wajah nyaman saat dia dengan perlahan menjatuhkan kepalanya untuk bersandar pada dada Noelle dan memeluknya. Itu membuatnya bisa mendengar suara detak jantung Noelle.


"… Kau benar-benar tenang Noelle"


Berkebalikkan dengan Olivia yang sedikit panik di pikirannya, Noelle masih mempertahankan ketenangannya dan terus membelai rambut halus Olivia dengan lembut.


Olivia terus memeluk Noelle sambil merasakan kehangatan yang dipancarkan tubuhnya.


"… Jika kau ingin membuatku berdebar, kau harus melakukannya dengan lebih baik …"


Ketika Olivia mendengar itu, wajahnya menjadi lebih memerah, tapi dia malah menatap Noelle dengan kuat seolah tidak akan melepaskannya.


"… Kalau begitu, aku akan melakukannya …"


Mengatakan itu, Olivia segera berdiri dan berlari ke ruangan ganti meninggalkan Noelle yang masih duduk kebingungan.


Beberapa saat setelahnya, Olivia kembali, tapi dengan telinga dan ekor kucing di tubuhnya. Itu tentu saja membuat Noelle melebarkan matanya dan dia bisa erasakan panas semakin naik ke wajahnya.


"Ba-bagaimana? "


"………!! "


Noelle akhirnya sadar dan memperhatikan Olivia yang berdiri di depannya dengan wajah yang memerah seperti apel. Itu bahkan lebih merah dari sebelumnya.


"I-itu sangat cocok untukmu! "


"Be-benarkah? "


Mendapat pujian dari Noelle membuat senyum manis bermekaran diwajah Olivia, itu membuat detak jantung Noelle berdetak tak karuan.


Olivia perlahan berjalan ke arahnya dengan telinga dan ekor kucing itu bergoyang-goyang seolah menyampaikan emosinya.


……Bagaimana itu bisa bergerak?


"A-aku adalah ku-kucingnya Noelle nyaa~"


Olivia mengatakan itu dengan mata lembab dan wajah merah karena malu, tapi dia memaksakan dirinya untuk berbicara dengan nada menggoda pada Noelle.


"A-aku akan melahapmu nyaa~"


Mengatakan itu dengan wajah merah, Olivia langsung mendorong tubuh Noelle untuk berbaring di kasur, dan membuat Olivia berada di posisi menimpa tubuh Noelle dari atas.


Untuk beberapa alasan, kata-katanya justru terdengar seperti predator...


"Izaya … Boleh? …"


"…… Silahkan, lagipula sepertinya aku sudah sepenuhnya menjadi milikmu, Ayano"


Ketika Olivia bertanya pada Noelle dengan suara manis dan mata lembab, Noelle hanya bisa menatapnya sambil merasakan panas mencapai wajahnya. Tapi dia dengan senyum lembut menjawab Olivia sambil membelai pipinya yang lembut itu.


Mereka sangat fokus menatap mata satu sama lain sehingga mereka tanpa sadar saling memanggil dengan nama mereka saat di bumi dulu.


Dengan itu, siluet kedua orang itu menyatu seolah itu adalah hal yang wajar.


...****************...


Ini adalah mimpi, mimpi yang sudah sangat lama tidak dia lihat.


Itu adalah hari yang cerah di bumi.


Dan dua orang yang menggunakan seragam sekolah itu dengan santai berjalan di jalan yang cukup ramai dengan siswa-siswi lain seperti mereka.


Dua orang itu adalah Canaria Izaya dan Airi Ayano.


Dengan rambut hitam dan memiliki penampilan tampan dengan ciri khas sebagai orang Asia, Izaya dan Ayano menarik banyak perhatian dari siswa-siswi di sekitar mereka.


Tapi mereka berdua mengabaikan itu seolah sudah terbiasa dan terus mengobrol dengan santai.


"Kau terlalu banyak beraktivitas belakangan ini kau tau? kondisimu akan memburuk jika terus seperti itu"


"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja! kau terlalu khawatir padaku Izaya! fufu, sulit untuk menjadi terlalu dicintai~"


Izaya berpura-pura tidak mendengar bagian terakhir itu dan tersenyum masam pada Ayano.


Seperti itu, mereka terus mengobrol sampai akhirnya mereka mencapai kelas mereka di lantai 2 gedung sekolah.


"Pagi kalian semua"


"Pagi Canaria, Airi, kalian masih akrab seperti biasa"


Izaya dengan santai mengatakan itu ketika dia dan Ayano masuk ke kelas dan langsung mendapat sambutan dari beberapa siswa yang duduk di sekitar mereka.


Beberapa menyambut mereka dengan kalimat yang disertai rasa iri, tapi mereka tidak melakukan apapun dan hanya menyambut mereka dengan normal beserta senyum masam sambil menggumamkan 'yahh, seperti biasa'.


Izaya duduk di kursinya seperti biasa sementara Ayano meletakkan tasnya di kursi dan berjalan dengan ringan ke arah Izaya yang dengan santai membolal-balik buku novel yang keluar entah darimana.


"… Kau masih membaca yang itu? "


Ayano bertanya padanya setelah dia mengintip buku itu sejenak. Izaya hanya menjawabnya dengan 'begitulah' dengan nada santai.


Kelas sudah cukup ramai, tapi itu masih beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Jadi semua orang masih bersenang-senang.


"Pagi, Izaya dan Ayano … Kalian masih seperti biasa ya~"


"… Nn? Ahh Arata, pagi~ kau juga, Nitta"


Saat mereka berdua sedang dengan santai duduk bersebelahan, seorang laki-laki berambut coklat datang dan menyapa mereka dengan sedikit kedutan di wajahnya.


Dia adalah salah satu teman (?) sekelas Izaya dan Ayano. Dan dia tidak sendiri, dia mendatangi meja Izaya bersama seorang gadis dengan potongan rambut bob dan memiliki penampilan polos.


Yahh, mereka berempat bisa dikategorikan sebagai 'penikmat hidup'.


Meskipun begitu, Arata memiliki pandangan iri pada Izaya saat mereka terus berbicara dengan santai.


Sudah bukan rahasia lagi kalau Arata memiliki perasaan khusus pada Ayano. Hampir semua orang di sekolah juga mengetahui itu, tapi Ayano dan Izaya sendiri masih tidak menyadari itu sedikitpun.


Beberapa pria bodoh mungkin akan dengan semangat mendekati Ayano saat pertama kali melihatnya, tapi mereka langsung dijatuhkan ketika melihat kedekatannya dengan Izaya.


… Meskipun hubungan Ayano dan Izaya hanya sebatas teman masa kecil…


Orang tua Izaya sudah lama meninggal, jadi dia dirawat oleh keluarga Ayano untuk waktu yang lama.


Mereka berdua memiliki orang tua yang sudah berteman sejak kecil. Ayahnya Izaya dan ayahnya Ayano adalah sepasang teman yang berasal dari Jerman.


Sedangkan ibu mereka juga sudah berteman sejak mereka masih kecil, jadi ketika mereka mendapat kabar tentang kematian orang tua Izaya, mereka menjadi sangat sedih dan merasa bertanggung jawab pada Izaya.


Pada akhirnya, itu membuat Izaya harus tinggal di bawah atap yang sama dengan Ayano, gadis seumurannya.


Tapi ketika dia mencapai tahun kedua sekolah menengah, Izaya memutuskan untuk hidup sendiri di apartemen yang tidak terlalu jauh dari rumah keluarga Airi sehingga Ayano masih bisa mampir kapan saja.


Meskipun mereka tidak memiliki hubungan apapun selain 'teman masa kecil', hubungan yang abu-abu itu justru membuat mereka terlihat semakin mesra dan seolah mereka memiliki dunia hanya untuk mereka berdua dan tidak bisa diganggu siapapun.


Setidaknya itu yang dipikirkan Izaya, tapi semua orang di sekolah bisa melihat dengan jelas kalau Ayano memiliki perasaan khusus padanya, tapi Izaya tidak menyadari itu…


Akhirnya bel masuk berbunyi dan membuat semua murid menjadi berhamburan dan bergegas duduk di kursi mereka masing-masing…


Keesokan harinya, Ayano jatuh sakit dan tidak bisa masuk ke sekolah. Izaya juga harus mengambil izin libur untuk merawat Ayano yang menjadi tidak berguna di rumah.


"Ini"


Izaya mengatakan itu sambil memberikan termometer pada Ayano yang duduk di sofa dengan wajah merah.


"… Apa ini? tes kehamilan? "


"……… Bukankah itu termometer? "


Saat Izaya menyerahkan termometer itu padanya, Ayano bertanya dengan sedikit menggoda pada Izaya dan membuatnya sedikit berkedut.


Izaya tau kalau Ayano hanya bercanda, jadi dia tersenyum kecil sambil meletakkan termometer itu di samping Ayano dan langsung berbalik.


Melihat Izaya yang berbalik dan mengarahkan punggungnya pada Ayano, Ayano langsung memiliki keinginan untuk menggodanya sedikit dan tersenyum licik di hatinya.


"Kau boleh melihat kok Izaya~"


Ayano mengatakan itu sambil membuka kancing kemejanya untuk menggunakan termometer. Izaya yang menjadi target kejahilannya langsung bergetar dan membantahnya.


"Jangan bodoh, cepat ukur suhumu"


"Muu~ padahal aku tidak keberatan kalau Izaya yang melihatnya~ lagipula aku menyukai Izaya! "


"… Kau sudah mengatakan itu berkali-kali"


"Kau boleh melihatku kok~"


*biippp...


"… Kalau begitu, aku akan melihatnya"


Setelah bunyi termometer keluar, Izaya segera mengatakan itu dan membuat sedikit gerakan berbalik dan membuat Ayano langsung memerah untuk alasan lain.


"Ka-kau benar-benar akan melihatku?! "


Ayano bertanya padanya dengan panik, tapi dia hanya mengangkat bahu dan menjawabnya dengan santai.


"Gak mungkin lah … Baiklah, berapa suhumu? "


"…… 36 derajat"


"…… Begitu … 39 ya…"


Ayano langsung mengalihkan pandangannya setelah mendapatkan tatapan cemoohan dari Izaya.


"Baiklah, kau harus istirahat sekarang"


Mengatakan itu, Izaya langsung menggerakkan tangannya untuk menggendong Ayano secara horizontal dan membawanya ke kasur.


Ayano yang secara tiba-tiba mendapatkan gendongan putri dari Izaya langsung memerah karena malu dan perlahan menggerakkan tangannya untuk memeluk leher Izaya.


"Baiklah, kita sampai~"


Mengatakan itu, Izaya dengan lembut menurunkan Ayano di kasur dan membuat Ayano menjadi sedikit kecewa.


"Bubur sudah siap, minuman isotonik, kompres, dan puding semuanya sudah siap~ sekarang kau harus istirahat"


Selesai berbicara, Izaya memutuskan untuk keluar dari kamarnya, tapi Ayano justru memegangi tangannya sambil duduk di kasur.


"… Apa kau membutuhkan sesuatu? "


"……… Ya"


"… Apa yang kau butuhkan? "


"……… Aku ingin kau menemaniku"


Ayano menjawabnya sambil menatap mata pada Izaya. Merasakan keseriusan Ayano, Izaya hanya bisa menggumamkan 'iblis kecil ini…' dan memutuskan untuk duduk di kasur bersama Ayano.


Keheningan menguasai ruangan. Tidak tahan dengan suasana canggung itu, Ayano berbicara pada Izaya untuk meredakan suasana.


"Hey Izaya"


"… Apa? "


Ayano berbicara padanya dengan wajah serius sambil menatap mata Izaya.


"… Aku menyukaimu"


"… Kau sudah berulang kali mengatakan itu"


Izaya menjawabnya sambil mengalihkan pandangannya agar matanya tidak bertemu dengan mata Ayano.


Ayano sudah berkali-kali mengakui perasannya pada Izaya, tapi Izaya tidak pernah menanggapinya dengan serius.


Itu karena di dalam hati Izaya, dia tidak pernah menganggap Ayano sebagai lawan jenis. Dia melihat Ayano hanya sebagai 'adik kecil' yang selalu mengikutinya.


Dulu ketika Ayano mendengar itu, dia langsung marah dan menampar Izaya dengan mata berkaca-kaca dan menuduh Izaya sebagai orang yang tidak serius.


Tapi dia tidak akan berhenti, dia akan mengakui perasaannya pada Izaya setiap ada kesempatan.


"… Aku serius dengan perasaanku kau tau? "


"………"


Izaya tidak mengatakan apapun, dia hany mengalihkan matanya. Tapi Ayano bergerak untuk duduk di pangkuannya secara berhadapan.


"A-Ayano?! "


"… Kau tidak pernah serius saat menjawab pengakuanku"


"I-itu…"


"Muuu~"


Merasakan suasana menjadi semakin berat, Ayano memutuskan untuk meringankan suasana sedikit.


Di pangkuan Izaya, dia akhirnya memutuskan sesuatu dan langsung menatap mata Izaya.


"Baiklah! suatu saat! akan kubuat kau menjadi jatuh cinta padaku! "


Izaya hanya menatap kosong padanya dan tertawa kecil.


"A-apa?! "


"Tidak~ kalau begitu, aku akan menunggu sampai saat itu terjadi"


Izaya mengatakan itu dengan senyuman di wajahnya. Itu membuat Ayano menjadi tersipu dan menenggelamkan wajahnya di dada Izaya.


"Lihat saja, suatu saat, akan kubuat kau menjadi tergila-gila padaku"


Dia menggumamkan itu dengan senyuman sambil terus merasakan kehangatan pelukan Izaya.