![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Pertemuan pertama antara anggota Asterisk generasi ke-47 akhirnya selesai. Semua orang dikembalikan ke tempat mereka masing-masing dengan kemampuan teleportasi yang diberikan kristal itu pada mereka.
Biarpun itu disebut kemampuan teleportasi, nyatanya kemampuannya tidak sehebat itu. Kemampuan teleportasi dari kristal itu baru bisa digunakan kalau minimal empat dari delapan orang anggota setuju untuk menggunakannya.
Lucia sedang duduk di lantai di sebuah kuil tua yang ia temukan di perbatasan kerajaan suci Quinnela. Ia membolak-balikkan halaman buku tua yang baru saja ia temukan sebelumnya.
Berkat kalimat 'Benih berkumpul, terjadilah perubahan', dan 'Semua penyimpangan harus dimusnahkan' yang ia baca dari buku itu, ia ditelan oleh suatu kabut aneh, sampai akhirnya tiba di tempat para anggota Asterisk tadi berkumpul.
Terlalu banyak informasi yang ia terima hari ini sehingga ia bahkan merasa lelah. Tapi, Lucia tidak bisa membiarkan dirinya beristirahat sampai ia bisa menyingkirkan semua ancaman yang ditunjukkan ramalan itu padanya.
Lucia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan, memperhatikan sisa-sisa desa yang telah hangus karena terbakar oleh api.
Mengesampingkan tentang apa itu Asterisk, Lucia baru saja menemukan sesuatu yang luar biasa hari ini.
Ada sesuatu yang tak dapat ia lihat dengan jelas dengan mata dewa miliknya. Itu adalah hal yang sangat baru bagi Lucia.
Saat ia melihat semua anggota Asterisk, saat itulah tubuhnya seketika merinding. Semua orang di sana adalah monster. Atau lebih tepatnya, sosok dengan kekuatan monster dalam wujud manusia.
Ia tak dapat melihatnya dengan jelas karena ada sesuatu yang rasanya menghalangi, tapi Lucia secara alami mengerti kalau semua orang di Asterisk adalah tipe orang yang sama dengannya.
Lucia diberkahi dengan kemampuan mata dewa, suatu kemampuan untuk melihat 'segala kebenaran' sejak ia lahir. Dan untuk pertama kalinya, ia menemukan orang-orang yang memiliki kemampuan yang setara, atau bahkan lebih kuat dari miliknya.
Entah bagaimana, Lucia merasa senang saat mengetahui itu. Menyadari kalau selama ini ia tidak sendirian. Memiliki kekuatan yang begitu besar, dan ditakuti banyak orang, itu sangat menyakitkan baginya. Jadi ia senang saat melihat ada orang yang memiliki kekuatan yang sama besarnya.
"Lucia~ Kau sudah selesai? Grimoald memanggilmu~"
Saat ia sedang diam merenungkan apa yang terjadi hari ini, suara Leonardo yang ceria tiba-tiba memanggilnya.
"Aku datang … "
Lucia tersenyum dan meninggalkan gereja itu untuk memenuhi panggilannya.
...****************...
Kuil di puncak gunung suci, Haten.
Asher dalam diam memandangi daratan yang terbentang dengan sangat luas di bawahnya. Tangannya yang menggenggam tombak itu tampak sangat kuat sehingga dapat menghancurkan batang kayu biasa dalam waktu singkat. Meskipun negitu, tombak itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan hancur.
Rambut kelabu miliknya berkibar saat angin yang lembut menimpanya, dan matanya yang merah itu seketika terpejam untuk menikmati sensasi itu.
(Asterisk … )
Itu semua terasa sangat tidak nyata baginya. Semua terjadi begitu saja tanpa ia sadari.
Ia tiba-tiba saja dibawa ke tempat aneh yang penuh dengan kabut, lalu harus bekerja sama dengan orang-orang yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Normalnya, ia tak akan membuang waktunya, dan langsung membunuh mereka semua dengan kedua tangannya sendiri, tapi … Entah mengapa Asher merasa tidak mampu melakukan itu.
Lagi pula, setelah ia mendapatkan gambaran tentang apa yang akan terjadi di masa depan, tidak mungkin ia akan membunuh semua anggota Asterisk selain dirinya. Ia langsung berpikir kalau semua orang di sana sangat diperlukan untuk mengubah takdir terkutuk itu.
Saat ia sedang diam dan menikmati hembusan angin itu, ia merasakan kehadiran seseorang yang mendekatinya secara perlahan.
Asher membuka matanya dan berbalik untuk melihat sosok itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Lia? "
Sosok yang diam-diam mendekatinya dari belakang itu adalah seorang gadis berparas cantik dengan pakaian lengkap yang menyebsrkan citranya sebagai sosok yang penting di sana.
"Ehehe … Ketahuan, ya? Aku berniat mengejutkanmu, tapi … Kamu selalu tajam, ya, Asher."
Wajahnya menampilkan senyum ramah yang tampak cocok dengan penampilannya yang rapuh. Postrunya yang tegap bahkan saat duduk di kursi roda itu memberikan kesan yang tegas, tapi juga lemah.
Berdasarkan pakaian yang dia gunakan, orang-orang dapat dengan jelas melihat kalau dia adalah seorang Saint yang berkuasa atas kuil puncak gunung, Haten.
Nama lengkapnya hanyalah Leticia, tapi Asher yang memanggilnya dengan nama pendek 'Lia' benar-benar menekankan kalau mereka berdua cukup dekat.
Asher dan Leticia awalnya hanyalah anak biasa dari sebuah panti asuhan. Mereka berdua sudah bersama sejak kecil, jadi bukanlah hal yang aneh jika Asher memanggilnya dengan nama pendek dan tanpa tanda kehormatan sedikit pun.
Seperti yang dapat dilihat, Leticia mengalami kelumpuhan pada kakinya hingga ia hanya bisa bergerak dengan menggunakan kursi roda setiap saat. Dan seolah itu tidak cukup, ia juga memiliki kebutaan yang sudah ia miliki sejak lahir. Ia tak dapat berjalan, dan tak dapat pula melihat. Sosok Asher adalah satu-satunya penuntun yang ia miliki selama ini.
Namun, sebenarnya semua kecacatan itu bukanlah sesuatu yang ia dapatkan tanpa sebab.
Leticia terlahir sebagai sub-ras manusia, yaitu [Saint].
Dia memiliki jumlah energi suci yang tidak masuk akal di tubuhnya sehingga akhirnya itu mengganggu sistem kerja pada tubuhnya.
Manusia normal tidak akan bisa menampun energi suci dalam jumlah besar. Karena itulah, saat masih di rahim, rasnya berganti dari manusia, menjadi saint.
Sebagai catatan, 'Saint' bukan hanya sebuah gelar, melainkan sudah menjadi ras yang sepenuhnya berbeda.
Yang membedakan mereka dengan manusia hanyalah jumlah kapasitas energi sihir, dan jumlah energi suci yang mereka miliki. Jika seorang saint sudah bangkit sepenuhnya, susunan tubuh mereka juga akan sepenuhnya berubah menjadi energi suci murni yang mengambil wujud fisik manusia.
Dalam tahap kebangkitan terakhir, mereka akan menjadi seorang [Malaikat], atau bahkan [Valkyrie].
Proses kebangkitan yang dialami Leticia tidak berjalan dengan baik, sehingga dia harus kehilangan sistem saraf pada kaki, dan kemampuannya untuk melihat.
Begitu ia harus dibawa oleh pihak gereja, ia juga harus berpisah dengan Asher yang selama ini selalu mendukungnya. Namun, Asher saat itu juga langsung memutuskan tujuannya untuk menjadi salah satu kesatria suci yang bertugas mengawal saint.
Hingga akhirnya, Asher mencapai apa yang menjadi tujuannya. Ia mengalahkan semua saingannya, dan menjadi seorang kesatria suci. Dia bahkan dipilih langsung untuk menjadi pengawal pribadi Leticia.
Dan di sinilah ia saat ini. Menjadi seorang pengawal pribadi dari saint yang ditakdirkan untuk menjaga cermin dunia.
"Asher … Di sini mulai dingin … Mau masuk? "
" … Baiklah."
Memang butuh banyak usaha dan perjuangan panjang, tapi Asher melalui itu semua tanpa masalah demi bisa menjaga Leticia di sisinya secara langsung.
Asher berjalan memasuki kuil sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Leticia.
"Lia … Bagaimana dengan latihanmu? "
Asher mencoba bertanya untuk memecahkan keheningan, tapi tampaknya Leticia dengan jelas dapat mengerti maksudnya. Leticia tersenyum dan memegang salah satu tangan Asher yang mendorong kursi rodanya.
"Semuanya berjalan lancar. Berkat Asher aku bisa melakukan semuanya dengan lancar."
Pelatihan yang Asher maksud adalah pelatihan yang Leticia jalani untuk mengendalikan kekuatannya. Jika dia bisa mengendalikan kekuatan suci yang dia miliki dengan baik, maka dia bisa dipastikan dapat menjaga posisinya di gereja, dan tidak perlu membebani Asher dengan berbagai pekerjaan yang tidak bisa dia lakukan sendirian.
" … Begitu, ya … Jangan memaksakan dirimu. Aku akan membantumu kapan pun kau butuh bantuan."
Asher sendiri tidak mau mengakuinya, tapi sebenarnya dia akan senang jika Leticia tetap dalam keadaan lumpuh dan buta seperti ini. Dengan begitu, Leticia akan terus mengandalkan dirinya untuk segala hal. Walaupun, itu sangat bertentangan dengan harapan Leticia untuk segera pulih dari semua keadaannya.
"Mhmm … Aku tidak mau membebani Asher hanya untuk urusan sepele. Jadi aku akan menahan diri untuk meminta bantuan Asher setiap saat," ucap Leticia saat dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" … Begitu, ya … "
Asher terus berjalan dan mendorong kursi roda Leticia tanpa mengatakan apa pun lagi.
Tanpa memakan waktu lama, mereka langsung tiba di area pusat kuil. Itu adalah ruangan yang sangat mewah, penuh dengan ornamen yang berkilauan, dan memancarkan aura mistik yang aneh.
Sumber dari semua aura mistik itu adalah sebuah cermin emas raksasa yang memenuhi salah satu dinding.
Cermin itu adalah apa yang mereka sebut sebagai 'Cermin Dunia'. Itu memiliki fungsi selayaknya sebuah gerbang yang menghubungkan antara dunia manusia, dengan alam yang disebut sebagai Astral Zero.
Astral Zero adalah dunia di mana para dewa berada. Mereka juga menyebut alam itu sebagai 'Dunia atas'.
Keberadaan saint yang melindungi cermin dunia itu penting karena dialah yang bertugas untuk menjadi penghubung yang mampu mengaktifkan fungsi gerbang pada cermin dunia.
Saint yang terpilih untuk menjaga cermin ini adalah orang yang benar-benar sudah ditakdirkan. Sehingga, peran itu tak bisa diberikan ke sembarang orang. Saint juga memiliki peran untuk menyampaikan 'perintah' atau 'keinginan' dewa yang menjadi wali mereka.
"Aura yang dipakcarkan cermin dunia ini sangat besar, ya 'kan? "
"Nn."
Asher dengan mudah mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Leticia. Memang, aura yang dipancarkan cermin itu begitu besar dan sangat padat sehingga tidak sembarang orang bisa mendekatinya.
"Aku penasaran bagaimana bentuknya … Jika aku sudah bisa melihat nanti, apa Asher mau menemaniku untuk melihat cermin ini lagi? "
" …… Tentu."
...****************...
"Mhmm♪ ini sangat nyaman~"
Di suatu tempat yang jauh dari pusat Kekaisaran, Colyn yang sedang berbaring di bantal yang baru ia dapatkan itu sedang tersenyum dan mengayunkan kedua kakinya dengan gembira.
Bantal melayang yang ia tiduri itu memiliki ukuran yang cukup besar sehingga tubuhnya sendiri bahkan tidak cukup untuk memenuhi bantal itu.
Itu adalah bantal baru yang ia dapatkan dari Souris—Noelle sebagai bayaran atas pekerjaan yang ia lakukan sebelumnya.
Bantal malas itu adalah salah satu barang yang Noelle ciptakan secara iseng. Untuk bahan-bahannya, entah bagaimana ia bisa mendapatkan semuanya dengan relatif mudah.
Di kedua tangan Colyn, ia dengan erat memegang sebuah buku yang berukuran cukup besar. Mungkin sedikit lebih besar dari buku kamus tiga bahasa yang sering digunakan orang-orang di bumi.
Di sampul buku itu, terdapat sebaris kalimat yang bertuliskan 'sihir sehari-hari'. Sesuai namanya, buku sihir itu berisi kumpulan sihir yang memiliki fungsi untuk membantu kehidupan sehari-hari.
Meskipun itu tidak terlalu berharga untuk sebagian orang, Colyn cukup senang setelah dia mendapatkannya. Ia dengan senang hati membaca dan mempelajari semua sihir yang ada di dalamnya.
"Ehehe~ Souris memang baik~"
Mengesampingkan kebingungan yang ia rasakan ketika ia ditelan oleh kabut aneh, dan pertemuan dengan semua anggota Asterisk, ia benar-benar senang saat mendapatkan bayaran yang layak setelah pekerjaan yang ia lakukan.
Begitu ia mengingat gambaran atau ramalan yang diberikan kristal itu padanya, Colyn segera mengerutkan keningnya dengan tidak senang, dan mulai menenggelamkan wajahnya sendiri ke bantal super lembut itu.
Itu pemandangan yang begitu mengerikan untuk dilihat. Mengapa ia harus mengalami itu semua, sementara ia bahkan sudah kehilangan semua yang dia miliki? Kenapa dia harus kehilangan sesuatu lagi? Itu menjengkelkan.
Sebuah kristal berwarna merah muda muncul tepat di samping Colyn, berputar konstan saat ia melayang.
Colyn mengangkat kepalanya, dan menunjukkan ekspresi melankolis di wajahnya yang terlihat seperti anak-anak itu. Ia lalu menyentuh kristal itu dengan jarinya.
"Ayah … Ibu … Kakak … Apa yang harus kulakukan? "
Suaranya yang terdengar sedih saat mengucapkan itu tak akan pernah mencapai telinga siapa pun.
...****************...
Enzio Great Labyrinth – Area pusat.
Arnaz sedang berbaring di sebuah terpal yang dibentangkan di atas batu keras. Di sekelilingnya, mayat monster yang tak terhitung jumlahnya bertumpuk di setiap sudut ruangan persegi itu.
Di sebelah Arnaz, ada sesosok yang ia sebut sebagai 'kekasih'nya. Namun, ada yang aneh dengan sosok 'kekasih' itu.
Itu bukanlah seorang gadis, atau bahkan wanita. Melainkan, seorang pria muda yang sudah tak bernyawa.
Meskipun begitu, Arnaz tak menujukkan ekspresi seolah terganggu dengan hal itu. Sebaliknya, ia justru tersenyum dan mengelus wajah mayat pria itu dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati.
"Hehe … Asterisk, ya … Kurasa ini akan menyenangkan."
Saat ia mengatakan itu, beberapa monster yang sebelumnya telah ia bunuh kembali bangkit, dan berniat menyerangnya.
Aznar menanggapi itu dengan hanya melirik mereka sedikit, dan melambaikan tangannya. Seketika, ribuan, hingga jutaan serangga hitam muncul dari tanah dan menyerbu para monster itu.
Dalam waktu kurang dari lima detik, para monster itu sudah menjadi tumpukan daging yang tak berbentuk sebagai hasil dari serbuan serangga milik Arnaz.
Itu adalah salah satu skill aneh yang dimiliki Arnaz. Ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan 'serangga' yang ada di sekitarnya.
Meskipun terkesan kurang berguna, nyatanya Arnaz telah membunuh banyak sekali monster hanya dengan kuantitas serangga yang ia miliki.
Itulah mengapa ia dapat menaklukkan labirin Enzio ini dengan relatif cepat.
"Yahh, aku harus bersiap untuk malam ini."
...****************...
Area perbatasan Republik Waldenholt.
Damian van Houten, dia adalah seorang anggota militer berkebangsaan Republik Waldenholt dengan pangkat Letnan Jenderal yang ditugaskan di area perbatasan untuk menjaga kawasan rawan konflik.
Kurang lebih, sudah sekitar sepuluh tahun sejak dirinya ditugaskan di area perbatasan. Sejak saat itu pula pertempuran menjadi makanan sehari-hari baginya.
Damian yang baru saja kembali dari tempat aneh yang penuh dengan kabut, dan patung misterius itu kini sedang duduk di kursinya, memperhatikan album foto yang tergeletak di atas meja kerjanya yang cukup berantakan.
Asterisk, begitu ia memikirkan nama itu, gambaran mengerikan yang diberikan padanya saat menerima kristal hijau Ructus itu tiba-tiba terbesit kembali di kepalanya.
Damian segera menggelengkan kepalanya guna menghapus ingatan itu, tapi tetap saja ia tak dapat sepenuhnya melupakan apa yang terjadi.
Orang-orang yang ia temui di tempat penuh kabut itu, ia merasakan keakraban yang aneh dengan mereka semua.
Dari sudut pandangnya, mereka semua memiliki kekuatan yang luar biasa besar, dan memiliki kepribadian yang unik juga. Itu semua sangat menarik untuk ia lihat. Baginya, itu seperti hiburan setelah peperangan yang melelahkan.
Senyum kecil terbentuk di wajahnya saat mengingat semua itu.
Sebagai percobaan, ia mengayunkan jarinya, dan sebuah kristal hijau langsung muncul tepat di hadapannya.
Damian menyentuh kristal itu beberapa kali, dan mengganggu perputaran konstan yang dilakukan kristal itu.
"Asterisk, ya … Mungkin … Jika aku bersama mereka … "
Damian kemudian mengingat sosok ketiga rekannya yang telah lama tiada.
Sekitar sebelas tahun yang lalu, Republik Waldenholt harus menghadapi perang saudara yang dimulai karena sebuah kudeta.
Kudeta itu bisa terjadi karena konflik yang menimpa kedua belah pihak. Pihak pertama adalah pihak Reformasi yang ingin merubah sistem kebangsawanan lama, dan pihak lain diisi oleh para penganut sistem kebangsawanan yang ada pada Orde lama.
Tak perlu dipertanyakan, para penduduk tentunya akan mendukung faksi Reformasi sehingga mereka dapat dengan mudah menyudutkan faksi Orde Lama.
Para anggota faksi Orde Lama dimusnahkan dengan cara yang kejam, dan pihak dari faksi Reformasi mengambil alih kekuatan militer yang sebelumnya dipegang oleh faksi Orde Lama sehingga Damian yang saat itu masih seorang perwira biasa, tak memiliki hak untuk melawan.
Damian memiliki keluarga yang harus ia lindungi bagaimanapun caranya. Karena itulah, ia menolak kematian dan menjadi penjilat yang mengikuti perintah dari pihak Reformasi.
Meskipun tubuhnya mengikuti perintah dari faksi Reformasi, ketetapan hati dan kesetiannya masih ada pada tuan yang ia layani sebelumnya. Yaitu, keluarga Reivan.
Satu-satunya yang tersisa untuk menjadi bukti kesetiannya pada keluarga itu adalah, otoritasnya yang melindungi satu-satunya keturunan dari keluarga Reivan. Putri Claudia fou Reivan.
Saat proses kudeta sedang berlangsung, Claudia yang saat itu masih bayi entah bagaimana berhasil selamat dari pembasmian yang dilakukan pihak Reformasi.
Untungnya, Damian berhasil menemukan Claudia sebelum pihak Reformasi yang lain menemukannya lebih dulu. Alhasil, sampai saat ini, Damian masih merawat dan melindungi Claudia. Karena tidak mungkin untuk memberitahukan identitas sejati Claudia pada orang lain, Damian memutuskan untuk mengadopsi Claudia dan menjadikan gadis itu sebagai putrinya.
Semua berkas dan surat-surat izin adopsi telah ia dapatkan secara resmi dari pengadilan setelah ia memberi tahu mereka kalau ia menemukannya dari panti asuhan.
"Asta, Joan, Ruka … Kali ini … Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama … "
Damian menggenggam erat liontin emas yang ia dapatkan dari ketiga rekannya itu.
...****************...
Area pemukiman kumuh di ibukota kerajaan Nothernos, Zeltis.
Itu adalah sebuah bar kecil, dan Ethan yang sedang beristirahat dari pekerjaannya sedang berjalan keluar dari bar itu.
Ia berjalan menuju suatu gereja sekaligus panti asuhan yang berjarak tak jauh dari bar tempatnya bekerja.
Sejak masih bayi, Ethan sudah tinggal di gereja itu bersama dengan anak-anak lainnya. Kini ia sudah cukup besar, dan mampu berpenghasilan sendiri.
Ia bekerja sebagai bartender untuk menghasilkan uang agar gereja tempatnya tinggal dapat bertahan, dan anak-anak yang hidup bersamanya di sana dapat menjalani kehidupan yang cukup layak.
Meskipun sedikit melelahkan untuk bekerja penuh waktu dengan tubuhnya yang kecil itu, Ethan tidak bisa mengeluh. Ia hanya bisa terus melakukan pekerjaannya.
Satu-satunya keinginannya adalah untuk melindungi semua orang yang berada di gereja. Para suster yang merawatnya, anak-anak yang menganggapnya sebagai seorang kakak, dan pastor tua yang ia anggap sebagai ayah sendiri. Mereka semua adalah keberadaan yang berharga bagi Ethan.
Gambaran masa depan mengerikan yang ditunjukkan kristal itu padanya … Tidak mungkin ia akan membiarkan itu terjadi.
...****************...
『Huh … Entah bagaimana kita bisa mencapai lantai 80 di saat terakhir.』
Di suatu tempat di kedalaman dungeon, Tania dengan cepat mengayunkan sabitnya yang berlumuran darah itu, dan menyebabkan semua darah yang sebelumnya menempel di sabit, terciprat ke dinding.
"Navi … Bagaimana … Menurutmu? "
Ia terlihat seperti berbicara sendiri, tapi … Ia sebenarnya sedang berkomunikasi dengan 'seseorang' yang bernama Navi.
『Apa maksudmu … Asterisk? Yahh, bagiku itu cukup menarik.』
" ……… "
Kesunyian kembali memenuhi ruangan peristirahatan yang aman dari pengaruh monster dungeon.
Suara statis Navi masih sibuk berbicara di kepala Tania, tapi Tania tampak tak terganggu dengan itu.
Sejak awal, ia tak menganggap sosok Navi sebagai seorang pengganggu. Walaupun, Navi sebenarnya adalah semacam parasit yang menempel di jiwanya sejak lahir.
Suara Navi terdengar seperti seorang perempuan, tapi di saat yang sama, itu juga terdengar seperti suara laki-laki.
『Dan … Yahh, banyak hal menarik yang bisa kulihat dari mereka.』
" … Apa itu? "
『Semua orang di sana … Memiliki sesuatu yang mirip seperti diriku yang menempel di jiwa mereka.』
"Parasit? "
『Kejam sekali menyebut diriku ini sebagai parasit! Yahh … Kau bisa menyebutnta begitu. Tapi … Mereka masih belum bangkit sepenuhnya … Terutama, dua laki-laki yang disebut Souris dan Tristan itu. Ada sesuatu yang menghalangi kebangkitan kekuatan mereka.』
Meskipun keberadaanya menjengkelkan, Navi sendiri telah membantu dan memberikan banyak kekuatan pada Tania. Jadi, ia agak terkejut ketika mendengar kalau semua anggota Asterisk juga memiliki 'Navi' dalam diri mereka.
"Sesuatu yang menghalangi … Apa itu? "
『Berkah dewa.』
Jawaban singkat dari Navi sudah cukup untuk membuat Tania melebarkan matanya dengan terkejut.
『Mereka berdua memiliki berkah dewa. Itu menjadi penghalang untuk 'kekuatan' mereka bangkit. Tidak seperti anggota Asterisk lainnya, mereka tidak memiliki berkah sehingga kekuatan mereka bisa bangkit sepenuhnya.』
" ……… "
『Tania, berhati-hatilah. Asterisk mungkin aman untuk saat ini, tapi … Kita tidak tahu kapan mereka akan berkhianat dan menyerangmu.』
" ……… Aku tahu itu … "
...****************...