![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Di salah satu reruntuhan bangunan yang telah ditinggalkan di pinggiran Eisen.
Terneth berjalan menyusuri reruntuhan itu dengan kecepatan yang konstan. Tidak cepat, dan tidak lambat. Dia mengerutkan dahinya saat dia melihat ke belakang.
"Sudah 4 hari sejak itu. Apa yang terjadi pada mereka? "
Dia bertanya pada seseorang yang entah sejak kapan ada di belakangnya.
Penampilannya seperti seorang bocah laki-laki dengan kemeja putih dan tuxedo merah yang formal. Dasi kupu-kupu berwarna putih platinum juga terlihat menggantung di kerah bajunya.
Meskipun dia terlihat seperti seorang bocah, Terneth–orang yang telah berhubungan dengannya dalam jangka waktu tertentu sadar, kalau dia bukanlah manusia.
Justru, dia tidak layak untuk disebut sebagai manusia, keberadaannya pastilah lebih tinggi lagi.
'Dia' melayang di sekitar Terneth, dan memberinya senyum polos yang akan membuat semua orang berpikir kalau dia tidak lebih dari seorang bocah biasa.
"Aku melakukannya seperti yang kau inginkan. Lalu apa masalahmu? Kau ingin menjebak mereka di 'taman' yang kuciptakan, tapi kau tidak secara spesifik memintaku untuk melakukan apa pun. Jadi, aku melakukan sisanya sesuai dengan yang kuinginkan."
Terneth mendecakkan lidahnya, dan lanjut berjalan. "Aku tahu itu. Itu adalah kecerobohanku yang tidak memberikan instruksi yang spesifik. Tapi, apa yang sebenarnya kau lakukan pada mereka? "
Bocah itu berhenti bergerak, diam seperti patung, sebelum akhirnya memberikan senyum misterius pada Terneth.
"Biar aku tanyakan satu hal padamu. Apa yang sebenarnya kau harapkan tentang mereka? "
"Itu sudah jelas. Aku ingin mereka mengalami perpecahan dan saling menyakiti satu sama lain. Dengan begitu, aku tidak perlu turun tangan langsung dalam eksekusi. Apa kau melakukannya seperti yang kuinginkan? "
'Dia' melebarkan senyumnya dan memberikan tatapan yang merendahkan pada Terneth.
"Kalau begitu, sangat disayangkan. Aku adalah aku yang menyukai dongeng dan masa lalu, aku suka cerita yang berakhir bahagia. Akhir yang kau harapkan itu, bertentangan dengan keinginanku."
"Lalu apa masalahnya?! Bukankah aku sudah memberimu biaya kontraknya?! Aku sudah membiarkanmu menikmati semua kenangan itu! Apa yang kurang?! "
Kali ini Terneth membentak, tapi tak memberikan sedikit pun rasa takut pada'Nya'.
'Dia' pun tersenyum.
"Itu memang benar. Aku menikmati semua jamuan yang mereka berikan padaku. Ada banyak kenangan membahagiakan yang sangat kusukai."
"Kalau begitu–"
Terneth berniat menyela, tapi Dia segera menyipitkan matanya dengan tajam dan memberikan intimidasi penuh pada Terneth hanya menggunakan aura keberadaannya.
"Tapi, aku memiliki prinsipku sendiri. Jika aku suka dengan jamuannya, maka aku akan dengan senang hati membagikannya pada semua orang. Jika aku tidak suka, maka aku akan memberikan mereka mimpi buruk yang setimpal dengan harga dari merusak kesenanganku. Apa kau masih tidak mengerti itu? "
" ……… "
Terneth tak menjawab, dia hanya terus diam sambil menatap 'Dia' yang memberinya intimidasi.
Perlahan, terjadi perubahan pada sosok bocah itu. Dia memiliki beberapa tentakel tajam yang terlihat kaku tumbuh di pinggangnya. Tak hanya itu, masing-masing tentakel itu juga memiliki beberapa bola mata yang tumbuh di sana, membuatnya terlihat menjadi semakin menjijikkan.
Terneth mau tak mau mengernyitkan dahinya saat ia melihat itu.
Memang, dia sudah sadar kalau sosok bocah laki-laki itu bukanlah wujudNya yang sebenarnya. Tapi, ia juga belum pernah melihat wujud sejatinya.
Apakah dia memiliki wujud humanoid, atau bahkan gabungan antara beberapa makhluk sehingga membuatnya terlihat mengerikan dan menjijikkan.
Yang jelas, Terneth tidak mau terlibat dengan 'keberadaan tak diketahui' itu lebih jauh.
Dia memang tertarik dengan kekuatan yang diberikannya, tapi lebih dari apa pun, dia masih menghargai tujuannya yang harus ia capai dengan kekuatannya sendiri.
Meminjam kekuatan dari 'keberadaan yang tak diketahui' ini hanyalah asuransi yang meningkatkan persentass keberhasilannya dalam menyingkirkan gangguan.
"Aku memberimu kekuatan untuk mengurung dan menyingkirkan mereka. Lalu apa masalahnya? Jangan lupa kalau sejak awal, aku sama sekali tidak berafiliasi denganmu. Kau bisa menerima kekuatanku hanya karena Olpus dan Nuko yang menginginkannya."
" ……… "
Itu memang benar, dan Terneth tidak dapat membantahnya.
Setelah semua yang terjadi, ia telah berada pada posisi terendah sehingga tak memiliki hak atau kualifikasi untuk protes terhadap semua yang dilakukan Voyager. Dia hanya bisa dengan patuh menerima perlakuan mereka.
Sebenarnya, dia beruntung karena masih diizinkan untuk bertindak bebas sampai batas tertentu.
Sosok yang ada di hadapannya, adalah salah satu dari 'Mereka' yang disebut sebagai dewa dari dunia luar. Terneth tidak pernah mengetahui keberadaan mereka sebelumnya, baru setelah ia bekerja sama dengan Voyager ia menemukan akar keberadaannya.
Bukan karena mereka menyembunyikan diri. Justru, mereka ada di semua tempat, dan tersebar di seluruh dunia. Hanya saja, mereka berada dalam dimensi yang tak dapat dijangkau manusia mana pun. Sehingga, tidak ada yang bisa melihat atau melakukan kontak dengan mereka.
Bahkan Terneth masih membutuhkan bantuan misterius dari para Voyager untuk melihat salah satu keberadaannya.
Jika ia mencoba mengintip lebih banyak lagi, ia yakin kalau itu tidak akan berakhir hanya dengan kematian yang menyakitkan.
Sebelumnya, ia telah menerima beberapa obat-obatan dan ramuan yang membantunya untuk melihat dan mendengar keberadaan 'Mereka', sehingga Terneth bisa berhubungan dengan para keberadaan tak diketahui itu sampai batas tertentu.
Itu adalah hal yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh Werli, karena dia hanya bisa mendengar bisikan dari 'Mereka'.
"Kau seharusnya bersyukur karena akulah yang membantumu, dan bukan pak tua itu. Jika kau melakukan kontak dengannya, aku ragu kau akan mempertahankan kewarasanmu untuk waktu yang lama."
"Yang Menelan Kebijaksanaan, huh … "
Terneth mulai membayangkan sosok pria tua di kepalanya. Wujudnya tidak terlalu jelas, tapi Terneth secara samar mampu memahami bagaimana bentuk manusia dari 'pria tua' itu.
Terneth sudah mengembalikan ketenangannya. Dia akhirnya kembali fokus dan mulai mengorganisasikan semua pikirannya.
Berbagai tebakan tentang sosok di luar pemahaman manusia itu dikumpulkan satu per satu, lalu dibentuk menjadi suatu kesimpulan sederhana di kepalanya.
" … Berapa banyak jumlah kalian semua? "
Intensitas ancaman dari bocah itu mulai memudar, dan ia tersenyum sinis sebagai responnya.
"Ada banyak. Jauh lebih banyak dari yang kau bayangkan. Jika kau mengenal banyak dewa yang melayani Anastasia, maka jumlah kami lebih banyak dari itu. Kau bisa menyebut kami sebagai dewa, tapi kami tidak memiliki kekuatan apa pun di dunia ini, sehingga kami butuh bantuan makhluk lain untuk memanifestasikan jiwa atau kesadaran kami di sini."
Penjelasannya terdengar cukup sederhana bagi Terneth.
Seperti yang sudah dijelaskan, para dewa luar seperti mereka tidak bisa memberikan pengaruh langsung pada dunia ini, itu karena mereka tidak memiliki akar muasal yang terkait dengan tempat di mana semua akar muasal dunia ini berada.
Namun, itu justru memberikan keuntungan lain. Keuntungan itu berupa hak untuk lepas dari batasan mutlak yang mengikat para dewa asli dunia ini; seperti Anastasia.
"Tunggu, kau bilang kalau kalian semua tidak bisa memberikan pengaruh apa pun pada dunia ini kecuali kalian menemukan media yang cocok. Tapi, bagaimana kalian bisa mempengaruhi media itu? "
Pertanyaan lain muncul dari Terneth. Namun, sekarang, dia tak dapat menemukan jawabannya sendiri.
Pertanyaannya terdengar agak rumit, tapi itu sebenarnya sederhana. Ia bingung dengan bagaimana kontak pertama antara dewa luar, dengan media lokal dapat terjadi. Jika dewa luar memang tidak bisa memberikan pengaruh apa pun seperti yang dikatakan 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa lalu', lalu bagaimana mereka bisa membuat kontak dengan entitas di dunia ini?
Dia pun tersenyum masam. "Untuk seorang manusia, kau memang banyak tanya. Baiklah, aku akan menjawabnya, tapi ini yang terakhir. Setelah ini, aku ingin kau fokus saja pada apa yang harus kau lakukan. Ini hanya saran, tapi mungkin kau harus mematuhinya. Jika tidak, kau mungkin akan masuk ke kondisi yang kalian semua sebut 'berserk' itu."
Terneth menelan ludahnya dengan gugup saat dia menunggu penjelasan.
"Benar, itu seperti yang kukatakan sebelumnya. Tanpa media, kami tidak bisa memberikan pengaruh apa pun. Tapi, bagaimana kontak pertama dilakukan? Itu mudah saja. Jika ada satu makhluk yang memenuhi kualifikasi untuk mendengar bisikan dan merasakan kehadiran kami, maka kami hanya perlu membuatnya melakukan kontak berdasarkan keinginannya sendiri. Cara kami melakukannya adalah dengan memberikan bisikan yang kemudian akan mempengaruhi pikirannya. Setelah melakukan kontak pertama, sang media dapat menjadi wadah yang kemudian akan menyebarkan pengaruh kami ke seluruh dunia, membuat kehadiran kami menjadi lebih tebal dan lebih mudah untuk dirasakan."
"Itu artinya … Ada entitas yang sebelumnya sudah membuat kontak dengan salah satu dari kalian semua, ya … Siapa dia? "
"Maaf, tapi kesempatanmu sudah habis. Aku tidak akan menjawab pertanyaan apa pun lagi. Fokuslah untuk mencari katalis yang akan kita gunakan untuk menciptakan lebih banyak doppelganger."
Sayang sekali, Terneth merasa akan terbunuh karena rasa penasarannya sendiri. Masih banyak yang ingin ia tanyakan, seperti asal usul mereka, bagaimana mereka bisa mencapai dunia ini, dan apa yang harus dilakukan untuk terhubung dengan mereka. Namun, bagaimanapun ia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengetahuinya.
Dia juga ingin membatasi pengetahuan yang ia miliki, mengingat betapa besarnya bahaya yang harus ia temui jika berhubungan terlalu lama dengan mereka.
...****************...
"Noelle! "
Teriakan Cryll sama sekali tidak memasuki telinga Noelle. Suaranya seolah telah diredam oleh semburan lahar panas yang berdiri tegak layaknya menara.
'Berdiri tegak', itu adalah cara yang aneh untuk menggambarkannya, tapi itulah kenyataannya. Beberapa pilar lahar panas tampak menopang gua yang luas itu, dan puluhan bola lahar oranye kemerahan itu terus ditembakkan ke segala arah.
Noelle berusaha menghalangi setiap bola lahar yang berusaha mengenainya, tapi semua itu terasa sia-sia karena bola lahar yang terus bermunculan.
Tak hanya jumlahnya yang seolah tidak terbatas, bola lahar itu juga memperbarui pergerakannya di udara seolah memiliki kesadaran sendiri untuk melakukan manuver.
Itu membuat sistem pertahanan yang Noelle buat hampir tak dapat bekerja.
Penghalangnya tak dapat menahan lahar yang panas, jadi dia hanya bisa berlindung di balik dinding batu yang dilapisi dengan darahnya sendiri.
Noelle dengan cepat berlari dan melompat ke salah satu pijakan batu yang ia ciptakan, dan mulai melindungi dirinya sendiri di sana.
Dia tidak bisa melindungi semua orang sekaligus dalam keadaan seperti ini. Jadi, yang terbaik yang bisa dia lakukan, adalah meminjamkan Norman senjatanya—Aligma yang tiap tembakannya entah bagaimana dapat menyingkirkan satu bola lahar.
Cryll sendiri terlihat sedang bergelantungan di langit-langit. Dia memanfaatkan rantai panjang yang Noelle berikan, dan mulai melakukan manuver di udara untuk menghindari rentetan serangan bola lahar yang menyerbu selayaknya rudal.
Lebih dari apa pun, mereka belum menemukan jalan keluar.
Satu-satunya keanehan yang ada di sana adalah seorang pria bertopeng badut yang mengenakan setelan jas tuxedo dan topi hitam yang mewah.
Badut itu terlihat menari dan menikmati adegan di mana Noelle, Cryll, dan Norman tengah dengan susah payah menghindari bola lahar.
Noelle merasa agak jengkel dengan badut itu, jadi dia mengirimkan beberapa pedang yang ujungnya mengarah langsung pada badut itu, tapi badut itu justru menghindari semuanya dengan santai sambil melakukan gerakan mengejek.
"Cryll! Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu pada badut itu?! "
Pertanyaan yang konyol, Noelle sendiri sudah tahu jawabannya. Sejenak, ia menyesali pertanyaan yang baru saja ia lontarkan, sebelum akhirnya menatap pada Norman.
"Kau bisa menembaknya? "
"Sedang kucoba."
Jawaban singkat diberikan Norman yang dengan susah payah membidik pada badut itu, tapi rentetan bola lahar terus saja mengganggu konsentrasinya.
Saat Norman berhasil membidik badut itu dan menarik pelatuknya, badut itu justru dengan santai menggerakkan tubuhnya dan menghindari peluru sihir yang Norman tembakkan.
"Tch. Apa-apaan badut itu … "
Cryll mendecakkan lidahnya dengan kesal saat ia menyaksikan badut yang melakukan tarian untuk menghindari kematian itu.
Dia berpikir kalau ada sesuatu yang aneh tentang badut itu, dan respon yang berbeda kemudian datang dari Noelle.
"Ini aneh … "
Noelle membagi kesadarannya dan memberikan dukungan pada Norman dengan menciptakan sebuah dinding darah yang mengelilinginya, lalu bergumam.
Gumamannya itu didengar oleh Cryll, yang memberinya tatapan keheranan. Namun, sebelum Cryll dapat mempertanyakan maksudnya, dia sudah harus kembali bergerak karena beberapa bola lahar yang terbang mengarah tepat padanya.
"Jika mengikuti pola sebelumnya, maka tempat ini seharusnya menjadi proyeksi ingatan seseorang. Tapi … Baik aku, kau, atau bahkan Norman tidak memiliki ingatan apa pun tentang ini. Dari mana semua ini berasal? "
Tentu saja Noelle bisa menghapus semua kecurigaan itu dan menganggap kalau semuanya hanyalah kebetulan. Tapi, setelah semua yang terjadi, rasanya agak aneh untuk menganggap ini hanya sebagai kebetulan belaka.
Sama sekali tidak ada petunjuk, dan dia tidak memiliki informasi apa pun yang bisa dijadikan dasar untuk tebakannya.
Ini benar-benar situasi yang menjengkelkan. Tentu saja ketiganya secara otomatis berpikir begitu.
"Kurasa … Untuk sekarang, bsrtarung adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan. Noelle, kau mau mengamuk sedikit? "
Cryll memberikan senyum menantang pada Noelle, yang kemudian dibalas Noelle dengan senyum sinisnya.
"Entahlah, aku akan melakukan apa yang kubisa untuk mencari informasi. Untuk melakukan itu … Tidak ada salahnya untuk menggila sedikit! "
Noelle melompat dari posisinya dan tanpa ragu menukik ke arah kolam lahar panas di bawah. Senyum gila terpampang di wajahnya, dan tubuhnya seketika memperbaiki posisinya di udara, berganti ke posisi pendaratan.
Seketika, sebuah pijakan yang terbuat dari darah muncul dan menghentikan Noelle dari kejatuhan. Noelle dengan lembut mendaratkan kakinya di sana, dan mengeluarkan beberapa pedang yang kemudian ia lontarkan sekaligus ke segala arah.
Masing-masing pedangnya memiliki bilah dan ujung yang sangat tajam, jelas memiliki kualitas yang bagus.
Salah satu pedangnya menembus pilar lahar itu, dan keluar dalam keadaan setengah meleleh, sementara pedang lainnya yang hanya menargetkan udara kosong sejak awal kembali padanya.
Noelle kembali mengendalikan semua pedang itu untuk menyerang badut yang terus tertawa itu, dan tanpa henti memberinya serangan yang dapat melumpuhkan.
Manuvernya dengan mudah mengabaikan segala hal yang mengganggu, dan semua bola lahar yang menargetkannya hanya menabrak dinding dan lantai dengan sia-sia. Beberapa bola lahar bahkan menyatu dengan kolam lahar yang ada di bawah sana.
Noelle tak berhenti. Dia terus memberikan serangan pada badut itu, meskipun sia-sia karena tak ada satu pun serangan yang berhasil mendarat di tubuh si badut.
Kemudian, Noelle mencoba menggunakan kemampuan manipulasi darahnya untuk membunuh si badut dari dalam. Hasilnya, tubuh badut itu segera memiliki beberapa tombak tajam yang tumbuh mencuat dari sekujur tubuhnya.
Meskipun begitu, badut itu terlihat tak kesakitan, dia justru mengeraskan suara tawanya dan membuat tariannya menjadi jauh lebih liar dari sebelumnya.
Menyadari serangannya telah gagal, Noelle hanya dapat mendecakkan lidahnya dengan kesal.
Meskipun begitu, kenyataan itu tak membuatnya berhenti. Tombak darah yang mencuat di tubuh badut itu telah menjadi sesuatu yang menyegel pergerakannya. Bahkan meski badut itu tidak mati, dia masih tidak bisa bergerak mengingat ada beberapa tombak yang memaku dirinya sendiri di tanah dengan sangat kuat.
Noelle memanfaatkan itu untuk terus memberikan serangan pada badut itu. Tebasan dan tusukan dari pedang ia layangkan, dan mendapat bantuan tembakan peluru sihir dari Aligma yang ada di tangan Norman.
Semua itu seharusnya sudah cukup untuk memberikan kekuatan destruktif yang luar biasa, tapi badut itu masih hidup tanpa menunjukkan tanda akan berhenti bergerak.
Di saat itu, Cryll tiba-tiba muncul tepat di atasnya dan mengayunkan salah satu pedang melengkungnya tepat pada tubuh badut itu.
Bilah pedangnya yang merupakan set perlengkapan dari senjata bintang itu dengan mudah menembus dan memotong tubuh si badut dari atas ke bawah, lalu membelahnya menjadi dua.
Di saat itu, barulah si badut menunjukkan tanda kematian.
Gerakannya perlahan memudar, dan suara jeritan yang dicampur dengan tawa mengerikan itu perlahan menghilang.
Cryll bangun dan melihat mayat badut itu. Hanya ada tubuh seorang yang telah dibagi menjadi dua. Namun, sama sekali tak ada organ dalam yang dapat ditemukan di tubuh makhluk hidup mana pun.
Yang menyusun tubuhnya hanyalah tulang dan daging, tanpa organ internal lain seperti jantung, paru-paru, usus, lambung, dan lainnya.
Secara alami, pemandangan itu membuat ketiganya curiga.
Cryll berniat memeriksa lebih teliti lagi dengan mendekati mayat badut itu. Tapi, segera dihentikan oleh Noelle yang tiba-tiba berteriak.
"Menjauh dari sana! Cryll! "
Insting Cryll berteriak. Intuisi yang telah ia latih dengan keras untuk waktu yang lama memerintahkannya untuk mengikuti instruksi Noelle.
Dia harus segera pergi dari sana. Kalimat itu terus diulang di kepalanya seperti sebuah radio yang rusak.
Namun, meskipun begitu, Cryll sama sekali tak bergerak.
Pikirannya melambat, dan tubuhnya tak dapat bergerak sesuai dengan yang dia inginkan.
Apakah itu karena intimidasi? Tidak, bukan itu. Cryll yakin kalau bukan itu alasannya.
Bahkan meskipun pikirannya tah diperlambat dengan demikian cara, dia masih paham kalau dia tidak akan mudah takut hanya karena intimidasi dari seseorang.
Itu pastilah efek dari sesuatu yang lain.
Cryll tertegun pada adegan yang tiba-tiba terjadi di depannya.
Mayat badut yang terbelah itu memuncratkan banyak sekali darah, dan perlahan berdiri. Mata dengan pupil segelap dan sepekat lumpur itu menatapnya dengan tatapan hampa, membuatnya merasakan merinding di bagian punggung.
Barulah ia menyadari situasinya ketika cengkeraman yang kuat dari darah Noelle itu membuatnya kembali ke posisi semula.
Noelle menyadari kondisi aneh Cryll, dan langsung menggunakan manipulasi darah untuk menciptakan cakar yang kemudian akan menarik Cryll dengan paksa.
Usai menarik Cryll ke sisinya, mereka mulai melihat perubahan pada badut itu.
Darah masih dikeluarkan dari sisi tubuhnya yang terpotong dengan rapih, dan jeritan yang tercampur dengan tawa itu kembali muncul. Kali ini, badut itu terasa seperti memberikan seringai mengerikan seperti seorang iblis.
Badut itu telah berdiri, dan kedua tangannya yang dibentangkan ke samping mulai menunjukkan pergerakan.
Kedua lengannya yang ditutupi kemeja lengan panjang yang dilumuri darah itu menekuk dan membuka beberapa kali, seolah menguji apakah persendiannya masih berfungsi atau tidak.
Setelah itu, sebuah jarum hitam mulai tumbuh dari sisi tubuhnya yang telah dipotong.
Duri itu sangat banyak. Demikian banyak dan besar sehingga tampak menyatu dengan duri yang tumbuh di sisi bagian tubuh yang lain.
"Kurasa ini telah berubah menjadi lebih buruk … "
Noelle tak bisa menyangkalnya. Dia memiliki firasat yang sama dengan Norman!
Jeritan itu semakin lama terdengar semakin keras dan kasar. Suaranya nyaring, dan hidung serta telinga mereka yang mendengarnya terasa panas sehingga mengeluarkan beberapa tetes darah dari sana.
Ketiganya hampir saja kehilangan keseimbangan mereka karena direbutnya indera mereka secara paksa, tapi entah bagaimana dapat mempertahankan posisi bersiaga dengan senjata.
Tak lama kemudian, suatu perubahan besar mulai terjadi.
Tubuh badut itu telah sepenuhnya berubah menjadi bentuk makhluk yang aneh.
Meskipun samar, Noelle dapat melihat bagaimana ratusan belatung dan cacing transparan itu keluar dan bertumpuk satu sama lain di tubuh badut itu.
Hingga akhirnya, transformasi sang badut selesai.
Kini, yang ada di hadapan mereka bukanlah sesosok badut yang sama dengan yang sebelumnya.
Melainkan seekor makhluk aneh yang bentuknya mirip seperti campuran antara kelabang dan kalajengking raksasa.
...****************...