[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 84: Konflik (1)



...****************...


Setelah mereka bertiga menghancurkan kristal yang ada di dalam mulut sage mantis itu, kristal itu mengeluarkan sinar yang sangat menyilaukan sampai akhirnya pecah menjadi butiran cahaya.


Dan seolah benang yang mengendalikan kehidupannya telah terputus, sage mantis itu perlahan kehilangan tenaganya dan diam tak tak berdaya sementara tubuhnya masih ditahan oleh duri-duri raksasa yang dikeluarkan Chloe untuk menyegel pergerakannya tadi.


Cryll dan Dyland secara bersamaan terjatuh dari mulut sage mantis setelah menghancurkan kristal yang ada di mulutnya.


Terjatuh dari ketinggian sekitar 50 meter seharusnya bukanlah masalah untuk orang-orang terlatih seperti mereka berdua, namun keadaan Cryll dan Dyland sekarang tidak cukup bagus sehingga mereka hanya terjatuh tanpa daya.


Untungnya, tubuh mereka berdua ditangkap oleh Chloe dengan menggunakan bayangannya sebelum mereka berdua terjatuh sepenuhnya.


Chloe perlahan membawa mereka ke tanah dan Brackas pergi untuk menghampiri mereka.


Bayangan yang Chloe kendalikan bertindak sebagai tangan raksasa yang meletakkan tubuh Cryll dan Dyland di atas tubuh besar Brackas, sehingga Brackas bisa membawa mereka berdua ke tempat di mana yang lain sudah menunggu.


Begitu Norman dan yang lain melihat keadaan mereka berdua, semua orang yang ada di sana sontak melebarkan mata mereka dengan terkejut sambil mengerutkan kening dengan ngeri.


Tubuh Cryll dan Dyland penuh dengan luka. Namun, yang paling mengerikan adalah Cryll. Kulit tangan dan kakinya telah terbakar dan meleleh sehingga menunjukkan daging yang mengeluarkan aroma busuk.


Sedangkan Dyland, keadaannya juga cukup parah. Namun luka yang ia dapatkan masih jauh lebih baik daripada apa yang Cryll dapatkan.


Tangan dan kakinya sedikit gosong dan memiliki kemungkinan patah tulang, namun selebihnya ia baik-baik saja.


Mungkin karena ketahanannya sebagai kesatria suci atau karena kemampuannya dalam menghindari serangan fatal yang dapat melindunginya hingga saat ini.


Stella tanpa menyembunyikan raut cemas dan panik dari wajahnya langsung menghampiri Cryll. Namun, Chloe menenangkannya dan mengatakan kalau ia hanya pingsan.


Meskipun Chloe sudah mengatakan itu untuk menenangkannya, Stella tetap tidak menghapus wajah khawatirnya dan terus menatap tubuh Cryll yang perlahan sembuh dengan regenerasi alaminya.


"Regenerasinya ... Terlalu lambat," ucap Stella.


"Yahh, itu wajar. Cryll baru saja menggunakan hampir semua kekuatan sihirnya hanya untuk sihir penguatan dan untuk mengaktifkan《Accel》"


Noelle datang dengan tubuh yang penuh luka sambil menyiramkan suatu cairan ke tubuh Cryll dan Dyland.


Tak lama kemudian, tubuh Cryll dan Dyland langsung pulih dan kembali ke penampilan asli mereka.


"Itu hanya akan menyembuhkan luka luar, jadi kita harus segera memberikan mereka berdua perawatan secepat mungkin. Kondisi mereka tidak begitu buruk, hanya patah tulang di beberapa bagian … Itu akan sembuh dalam waktu singkat bahkan tanpa bantuanku."


Noelle menjelaskan sambil mengangkat bahunya.


Sementara ia melakukan itu, ia juga meminum suatu cairan merah dari tabung transparan yang ia ambil dari sakunya.


Berikutnya, semua luka di tubuhnya langsung menghilang dan menampilkan sosoknya yang biasa.


"Noelle … Dari mana? "


Olivia bertanya sambil memiringkan kepalanya dengan bingung.


Ia membawakan Noelle jubah baru untuk menggantikan jubahnya yang telah menghilang entah ke mana.


Noelle mengeluarkan ekspresi pahit sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Olivia.


"Setelah aku menembak mata sage mantis dan menghancurkan pelindungnya, aku kehabisan mana dan sempat pingsan untuk beberapa saat. Di saat itulah sekelompok wyvern menyerangku yang dalam keadaan pingsan itu."


Efek recoil yang diberikan Aligma jauh lebih besar dari yang ia kira sampai-sampai Noelle terlempar dari pijakannya di udara dan terjun bebas ke tanah.


Saat ia hendak menyelamatkan diri dari jatuh bebas, ia kehilangan kesadarannya karena penggunaan mana yang berlebihan dalam waktu singkat.


Saat Noelle sadar, ia sudah berada di sarang wyvern yang jaraknya cukup jauh dari lembah tempat pertarungan dengan sage mantis dimulai.


"Dan karena aku belum pulih sepenuhnya, aku berniat memanggil Brackas sebagai bantuan, tapi … Aku sendiri tidak menyangka kalau Chloe juga akan ikut dengannya … "


Noelle menghela napas lelah sambil mengacak-acak rambutnya.


"Selain itu … "


Dengan ekspresi suram, Noelle mencoba menambahkan. Namun, ia terlihat tidak ingin mengatakan apa pun.


Meskipun begitu, Noelle menarik napas panjang dan memberitahu Olivia dan yng lain tentang apa yang ia temukan.


"Aku menemukan sarang mereka, dan … Jumlah mereka terlalu besar. Jauh lebih besar dari yang diperkirakan."


"Sarang wyvern tempat Tuan ditangkap cukup berdekatan dengan tempat para monster itu. Kami juga sudah menandai lokasinya, tapi … Lebih baik untuk kembali dan melaporkan ini pada guild untuk instruksi selanjutnya," tambah Chloe dengan wajah serius.


Olivia dan Charlotte yang sudah tahu kalau Chloe bukanlah tipe orang yang akan serius cukup terkejut melihatnya.


Noelle dan Chloe memiliki kemiripan dalam berbagai aspek …


"Tunggu, tunggu! Jika sarang mereka ada di dekat sini, dan kalian sudah mengetahuinya, kenapa kita tidak serang saja secara langsung?! " Norman tiba-tiba menyela percakapan.


"Kau sudah gila, ya? Tidak, kau pasti memang gila. Kau belum melihat isi sarang mereka, jadi kau tidak tahu. Di sana ada dua lagi makhluk yang sama dengan sage mantis itu, kau tahu?! "


Noelle membantah Norman dengan wajah tidak senang.


"Apa itu masalah? Jika kalian menyerangnya seperti tadi, kalian bisa mengalahkan mereka dengan mudah, 'kan? " kata Norman dengan wajah mengejek.


Noelle yang sebenarnya tidak ingin berbasa-basi dan langsung ingin pergi mengerutkan keningnya saat mendengar itu.


Senyum tipis tiba-tiba muncul di bibir Noelle.


"Kalau begitu, silahkan saja coba sendiri," kata Noelle tanpa menghilangkan senyumannya.


Norman mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Apa maksudmu …? "


Senyum Noelle semakin dalam.


"Seperti yang kukatakan, silahkan lakukan sendiri. Kelompokku akan kembali ke kota untuk memberikan laporan dan melakukan perawatan untuk Cryll. Kalian kalahkan saja mereka semua sendiri."


Noelle kemudian mengangkat tubuh Cryll dengan tangannya dan Brackas masuk ke dalam bayangan Noelle untuk beristirahat.


Mereka pergi sambil meninggalkan Dyland yang tergeletak di tanah.


Olivia, dan yang lain mengikutinya dari belakang. Sebelum mereka semua pergi, Charlotte sempat berhenti dan menatap kelompok Norman dengan mata kasihan. Namun, senyum senang jelas terpancar di wajahnya.


Norman dan yang lain hanya menatap Noelle dengan mata tercengang. Sesaat kemudian, Norman tersadar dan berteriak ke arah Noelle dengan marah, namun–


"Ahh, ya, benar juga … Lokasi sarang mereka terletak di beberapa kilometer di barat. Kalian bisa sampai hanya dengan mengikuti jalan lurus itu," ucap Noelle seraya menunjuk jalan berbatu yang dikelilingi pepohonan hutan yang rimbun.


Usai menunjukkan arahnya, Noelle kemudian pergi sambil mengabaikan teriakan Norman di belakang.


Tidak ada satu pun orang di kelompok Noelle yang ingin terlibat dengan Norman dan kelompoknya.


Noelle, Olivia, dan Charlotte tidak pernah ingin terlibat dengan orang-orang itu sejak mereka bereinkarnasi, sedangkan Stella hanya mempedulikan Cryll tidak peduli di mana ia berada.


Sementara Chloe … Sejak awal ia memang tidak pernah mengenal mereka, jadi ia tidak peduli.


"Kurasa di sini sudah bagus … "


Setelah beberapa menit perjalanan meninggalkan Norman dan kelompoknya di belakangnya, Noelle tiba-tiba berhenti di area kosong yang cukup luas dengan pepohonan yang mengelilinginya.


"Kenapa berhenti? "


Olivia bertanya sambil memiringkan kepalanya.


Noelle berbalik dan melihat semua orang masih dalam keadaan energik seperti sebelumnya seolah mereka tidak pernah bertarung dengan sage mantis itu.


"Kita akan berkemah di sini malam ini. Meskipun sekarang dia baik-baik saja, luka dalam Cryll harus segera ditangani."


Mengerti dengan penjelasan Noelle, Stella mengangguk dengan wajah serius.


"Yahh, selain itu … "


Noelle dengan canggung melanjutkan.


"Aku juga kehabisan energi. Aku menggunakannya terlalu banyak saat menggunakan Aligma, dan aku jadi kehilangan lebih banyak lagi saat melawan sekelompok wyvern sekaligus memberikan Chloe penguatan untuk membantu kalian tadi … "


Olivia yang mendengar alasannya itu berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya ia tersenyum lembut.


"Baik, ayo sudahi percakapan kalian. Bagaimana kita akan berkemah di sini? Ahh, tunggu. Aku yakin kalian pasti membawa sesuatu untuk itu. Kalian punya, 'kan? "


Charlotte dengan wajah datar menyela percakapan mereka dan bertanya pada Noelle untuk memastikan.


Noelle tersenyum sambil mengatakan 'kau pikir siapa aku ini? ', lalu berbalik.


Ia menghentakkan kakinya di tanah, dan sebuah lingkaran sihir besar mulai terbentuk di tanah, menarik dirinya ke atas menjadi bentuk silinder yang aneh.


Berikutnya, sebuah rumah besar bertingkat muncul tepat di dalam silinder transparan yang terbuat dari lingkaran sihir itu.


" " " ……… " " "


Charlotte, Stella, dan Chloe menatap rumah itu dengan kedutan di dahi mereka.


"Noelle … Kau sebut ini berkemah? " tanya Charlotte.


Noelle memiringkan kepalanya dan menjawab.


"Tentu."


"Tapi … Bukankah tempat ini terlalu besar? "


Stella terlihat kebingungan saat ia menatap rumah yang baru saja muncul di hadapannya. Charlotte juga menatap Noelle dengan wajah penuh pertanyaan.


"Nahh … Itu karena mereka pasti akan datang ke sini."


" " ………? " "


Mereka berdua secara bersamaan memiringkan kepala mereka dengan bingung, sementara Olivia dan Chloe hanya mengangguk dengan penuh pengertian.


"Bagaimana aku harus mengatakannya, tapi … Aneh rasanya ketika melihat Chloe jauh lebih mengerti tentang hal ini dibandingkan diriku … " kata Charlotte dengan depresi.


"Nah, kau akan mengerti nanti."


Tersenyum tipis, Noelle tidk mengatakan apa pun lagi dan langsung masuk ke dalam rumah itu, meninggalkan Charlotte dan Stella yang masih kebingungan.


...****************...


"Hey, Norman … Apa kau benar-benar akan mendatangi tempat itu sekarang? "


Saat dalam perjalanan menuju lokasi yang ditunjuk Noelle, Rico tiba-tiba memecah keheningan yang selama ini mendominasi perjalanan.


Norman terlihat kesal saat mendengar kata-katanya.


"Menurut analisisku, itu benar. Cana– maksudku Noelle, dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dari kita tentang tempat itu. Terlebih … Kita masih membawa Dyland. Dalam hal ini, kembali ke kota dan membuat laporan adalah hal yang paling bagus. Kita juga harus melakukan perawatan pada Dyland."


" … Tch."


Norman mendecakkan lidahnya pada Rico yang membuat keputusan yang terdengar logis itu.


Tidak hanya Rico, tapi Kaira, Iris dan yang lain juga menatapnya dengan penuh keraguan.


Meskipun begitu, Norman tidak akan kembali. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa tidak ingin kembali dan bertemu dengan Noelle.


Ia hanya bisa melanjutkan perjalanannya bahkan jika ia sendirian.


Norman dengan wajah yang merah padam karena emosi kemarahan berbalik dan berjalan meninggalkan mereka yang masih terdiam.


Tak lama kemudian, Rico berbisik di telinga Kaira.


"Kau tahu? Di saat seperti inilah aku menyesal karena menolak ajakan Wandell untuk ikut berpetualang bersamanya."


Kaira mengeluarkan senyum pahit dan menganggukkan kepalanya sambil mengingat teman mereka yang sekarang tidak ada bersama mereka.


Detik berikutnya, sebuah suara dentuman ledakan yang sangat besar tiba-tiba muncul dan memekakkan telinga mereka semua.


Norman yang jaraknya tak begitu jauh dari mereka juga langsung berlutut sambil berusaha menutup telinganya.


Usai ledakan, Norman mencoba berdiri dengan kaki yang gemetar.


Telinganya masih tidak berfungsi dengan baik dan masih mengeluarkan dengungan yang menyakitkan ke otak, tapi entah bagaimana ia mampu menahannya.


Norman dengan kaki gemetar berusaha berdiri dan dengan panik melihat ke arah ledakan itu.


Asal ledakan itu tepat di tempat yang ditunjuk Noelle sebelumnya.


Ia memaksakan tubuhnya yang masih sempoyongan untuk berlari ke tempat itu.


"Tunggu! Norman! Itu berbahaya! "


Norman mengabaikan teriakan peringatan dari Rico dan terus berlari.


"Ahhh sial! "


Rico dengan jengkel mengacak-acak rambutnya dan berlari menyusul Norman, diikuti dengan Kaira dan yang lain.


Setelah berlari selama beberapa menit, mereka akhirnya mampu menyusul Norman.


Namun, ada yang aneh dengannya. Norman menatap tempat itu dengan mata yang melebar dan tubuh yang gemetar karena takut.


Mereka tidak tahu tentang apa yang dilihat Norman karena mereka masih cukup jauh di belakangnya. Namun, mereka langsung mengerti alasannya begitu mereka melihatnya secara langsung.


Itu adalah area lapangan hutan rawa yang luas dengan semak belukar dan kolam-kolam air keruh.


Beberapa pohon yang memiliki ketinggian lebih dari 40 meter terlihat mengelilingi hutan rawa itu.


Meskipun pemandangannya cukup indah, bukan itu yang membuat mereka terkejut.


Melainkan, kumpulan monster humanoid dengan jumlah yang tak masuk akal terlihat berkumpul di tempat itu.


Beberapa cyclops terlihat bekerja sama dengan para orc untuk mengangkut barang pepohonan yang pada akhirnya akan langsung dimasukkan ke kawah api yang terlihat sangat panas.


Di sisi lain, ada sebuah bangunan kecil yang tampak akan roboh kapan saja. Dari sana jeritan dari berbagai orang dapat terdengar.


Mereka secara insting tahu tentang apa yang ada di dalam bangunan itu, namun tidak satu pun yang berani bergerak untuk memastikan.


Berikutnya, seorang wanita keluar dari bangunan itu tanpa menggunakan sehelai pun kain di tubuhnya.


Ia memiliki tubuh yang penuh luka dan darah, kaki dan tangannya terlihat seolah akan hancur kapan saja, dan perutnya mengembung dengan ukuran yang tidak dapat dibayangkan siapa pun.


Selang beberapa detik setelah wanita itu keluar dan menghampiri tempat yang tampaknya dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, seekor orc keluar dari balik pepohonan dan langsung menghantam kepala wanita itu ke meja batu yang ada di dekatnya.


Tak perlu dikatakan dengan jelas, kepala wanita itu langsung hancur dengan otak yang berceceran sedangkan orc itu tersenyum.


Detik berikutnya, perut mengembung wanita itu langsung meledak dan mengeluarkan beberapa sosok kerdil dengan kepala babi dan bertanduk kuning yang dilumuri dengan darah dan organ dalam dari wanita itu.


Norman, dan beberapa orang lainnya yang melihat pemandangan itu langsung memiliki wajah pucat dan berusaha menahan muntah. Namun, yang lain tidak sekuat dirinya. Beberapa dari mereka sudah memuntahkan isi perut mereka seraya berlutut di tanah.


Meskipun mereka tidak menginginkannya, ingatan tentang pemandangan itu akan tertanam secara permanen di otak mereka.


"Hmm~ Itu mengerikan, ya? "


Suara Chloe tiba-tiba muncul di samping mereka dan membuat mereka secara refleks mengarahkan pandangan padanya.


"Sebelumnya jauh lebih mengerikan, loh. Tapi karena Tuan sudah baik hati untuk 'menyelamatkan' beberapa dari mereka, situasinya menjadi seperti ini."


Chloe tersenyum manis saat ia mengarahkan tangannya ke depan.


"《Hastam》"


Sebuah tombak muncul dari bayangannya, dan dengan mudah terbang, lalu menusuk leher wanita lain yang mencoba keluar dari bangunan itu.


" … Kenapa kau … Melakukannya … "


Norman dengan ekspresi syok yang jelas di wajahnya mencoba bertanya pada Chloe yang membalasnya hanya dengan senyuman.


"Kau pikir kenapa wanita-wanita itu menghampiri tempat penyimpanan senjata? " tanya Chloe sambil duduk di kursi yang ia buat dengan bayangannya.


"Tentu saja untuk melawan, 'kan?! Memangnya apa lagi?! " teriak Norman dengan marah.


Chloe tersenyum. "Kau benar-benar berpikir begitu? Tidak heran Tuan menyebutmu anak bodoh yang tidak memiliki otak."


"Ap–?! "


Tak dapat menyelesaikan kalimatnya, Norman tiba-tiba memiliki kain hitam yang menutup mulutnya dengan paksa.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita lihat sendiri."


Chloe menjentikkan jarinya, dan membuat tombak lain dengan bayangannya.


Tombak itu dengan cepat melesat maju dan menembus tengkorak orc yang keras.


Wanita lain yang ikut keluar dari bangunan itu terlihat terkejut ketika melihat tombak yang menghantam kepala orc di belakangnya, namun ia mengabaikannya dan dengan langkah tertatih-tatih mencoba menghampiri tempat penyimpanan senjata.


Norman sedikit diisi dengan harapan ketika ia melihat wanita itu memegang pedang di tangannya, dengan harapan setidaknya ia akan melawan.


Namun, berlawanan dengan harapannya, wanita itu justru menusuk lehernya sendiri dengan pedang itu dan akhirnya terjatuh ke tanah dalam keadaan tak bernyawa.


Norman dan yang lain terlihat sangat terkejut saat menyaksikan itu. Namun, Chloe hanya tersenyum senang seolah ia telah memenangkan suatu pertaruhan.


"Lihat? Orang-orang seperti mereka tidak mungkin akan membela diri. Mereka sudah begitu putus asa sehingga pilihan terbaik untuk mereka adalah mati."


"Pada akhirnya, menyelamatkan mereka atau membiarkan mereka sendiri itu tidak ada bedanya. Mereka hanya akan berakhir dengan kematian."


Chloe dengan senyum dan kata-kata yang tampak tidak cocok dengan penampilannya itu kemudian berdiri dan berbalik.


"Yahh, aku mungkin akan mengalami hal itu juga jika Tuan tidak menyelamatkanku saat itu~"


"Mau ke mana kau? "


Norman yang masih belum pulih dari keterkejutannya dengan paksa melepaskan kain yang menutup mulutnya dan bertanya pada Chloe.


"Tentu saja kembali. Tuan akan khawatir jika aku pergi terlalu lama~"


"Tuan yang kau maksud itu … Apa dia Noelle? "


"Hmm? Tentu saja? Kau pikir aku memiliki tuan lain selain Tuanku? "


Chloe memiringkan kepalanya dan menatap Norman dengan bingung.


Ia benar-benar tidak dapat memikirkan kalau dirinya akan memiliki tuan lain selain Noelle. Ia hanya menyukai Noelle, dan tidak tertarik pada hal lain selain Noelle. Hanya itu.


Seolah menyampaikan itu dengan tatapannya, Chloe kemudian berbalik dan pergi.


"Ahh, ya … Tuan bilang, kalian bisa menumpang di rumahnya jika kalian butuh tempat untuk beristirahat, jadi sebaiknya kalian cepat ikuti aku atau kalian akan tertinggal."


...****************...


Setelah beberapa menit perjalanan, Norman dan yang lain akhirnya tiba di tempat 'perkemahan' yang didirikan Noelle.


Tentu saja mereka menemukannya dengan bantuan Chloe.


Selama perjalanan tadi, tidak siapa pun yang berani berbicara di udara yang berat itu.


Untungnya, salah satu orang di kelompok Norman diam-diam terus merapalkan mantra sihir yang akan menenangkan mental.


Berkat itu, wajah pucat mereka menjadi jauh lebih hidup dan terlihat sehat meskipun udara berat masih mengisi ruang di antara mereka semua.


"Ahh! Tuan~ Aku kembali dengan membawa mereka semua seperti yang Tuan katakan~ Ahh … "


Saat Chloe dengan riang berlari dengan niat menghampiri Noelle, kakinya tiba-tiba terhenti ketika ia melihat Noelle yang sedang berdiri terpejam sambil menggenggam Langen dengan erat.


Noelle sama sekali tidak bergerak dari posisinya seolah ia adalah patung.


Norman terlihat bingung dan mencoba mendekati Noelle, namun dihentikan oleh beberapa tangan bayangan yang keluar dari bayangannya sendiri.


"Kenapa kau menghentikanku? " tanya Norman dengan raut tidak senang.


" … Kau akan mati jika kau mendekati Tuan sekarang."


" ……… "


Chloe menghela napas lelah saat ia melihat Norman yang masih tidak mengerti maksudnya.


Ia mengambil satu batu kerikil dari tanah, dan melemparkannya pada Noelle.


Dengan gerakan yang tak dapat dilihat, batu kerikil itu langsung terpotong rapih menjadi beberapa bagian setelah ia memasuki area lingkar 2 meter di sekitar Noelle.


"Tuan sedang berlatih, jadi lebih baik kita masuk dan menemui Nona Olivia dan yang lain," kata Chloe dengan sedikit kecewa.


Norman dan yang lain tanpa mengatakan apa pun berjalan mengikuti Chloe yang perlahan memasuki bangunan yang ia sebut sebagai 'perkemahan' itu.


Kecuali dengan Lilith yang wajahnya masih suram.


...****************...