[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 212: Memandang Debu di Balik Awan (1)



...****************...


Olivia mencoba untuk membuka matanya, namun itu terasa sangat berat, seolah ia sudah tidak pernah membuka matanya selama bertahun-tahun.


Meskipun begitu, dengan kesadarannya yang berangsur-angsur pulih, saraf-sarafnya langsung menegang, dan membuatnya bangun dalam seketika.


Dia masuk ke posisi duduk, lalu melihat ke sekeliling.


Pemandangan yang tidak asing, tapi ini terasa tidak nyata. Kemudian dia sadar kalau dia sekarang sedang berada di alam mimpi kolektif.


"Ini buruk."


Olivia masih dengan jelas mengingat apa yang terjadi sebelum ia dibuat tidur dengan kabut itu. Tidak salah lagi, di dunia luar, Noelle sedang bertarung melawan 'sosok itu', sosok yang tidak ia ketahui sama sekali.


Dia mencoba bangun dari posisinya, tapi kakinya begitu mati rasa sehingga dia tidak bisa berdiri.


Dengan cukup banyak usaha, dia akhirnya bisa bangkit dan berdiri. Satu tangannya disandarkan pada dinding untuk menopang tubuhnya yang masih tidak seimbang.


Setelah melihat sekelilingnya sedikit, Olivia hampir yakin kalau kali ini dia bangkit di tempat yang sama seperti sebelumnya.


Itu adalah sebuah pemakaman bergaya gothic yang indah. Dinding batu dengan puncaknya dihiasi pagar duri itu menjadi satu-satunya hal yang memisahkannya dengan dunia luar.


Olivia mencoba menggunakan《Oath of Blood》untuk memeriksa kondisi Noelle, tapi koneksi itu telah terputus sejak ia memasuki alam mimpi kolektif ini.


Alhasil, dia hanya bisa menunggu sampai kakinya pulih, lalu berkeliling untuk mengumpulkan informasi.


Dia ingat kalau sebelum dirinya memasuki alam mimpi, sosok bernama Noir itu melakukan sesuatu yang hanya bisa dia sebut sebagai 'mengendalikan asp hitam aneh'. Setelah asap hitam itu membaur dengan kabut alami yang ada di sekitarnya, Olivia langsung diseret ke alam mimpi.


Hanya dari ini saja sudah dapat disimpulkan kalau Noir-lah yang membuat dirinya memasuki alam mimpi ini. Pertanyaannya, bagaimana dia melakukannya? Berdasarkan hasil diskusi Olivia dengan Noelle saat mereka masih di kapal, mereka berdua memiliki kesimpulan yang sama; bahwa tempat ini tercipta karena pertarungan para dewa yang terjadi di masa lalu.


Semua hal aneh yang ada di area ini bisa terjadi karena sisa-sisa kekuatan 'Mereka' yang masih melekat dengan alam sekitar. Kabut yang menarik seseorang ke alam mimpi adalah efek kekuatan Dewi Penjaga Malam Zelica, dan itu seharusnya menjadi otoritas mutlak mengingat 'Dia' adalah salah satu Dewa Ortodoks yang berkuasa.


Setelah menandai semua titik, Olivia akhirnya sampai pada suatu kesimpulan, kesimpulan yang sama dengan yang dimiliki Noelle.


"Enam dewa yang bertarung bersama … Itu terdengar tidak masuk akal karena aku hanya makhluk fana yang tidak mengetahui kekuatan 'Mereka', tapi … Semua titiknya mengarah pada kesimpulan yang sama. 'Mereka' saat itu bertarung dengan Noir, dan area di lautan ini adalah tempat yang menjadi segel untuk menahan Noir."


Bahkan meskipun Noir adalah sosok yang kuat, akan sulit bagi'Nya' untuk menghadapi enam dewa sejati sekaligus.


Setelah para dewa meninggalkan area ini, Noir telah terisolasi bersama sisa-sisa kekuatan 'Mereka', yang membuatnya dapat menggunakan otoritasnya untuk mengendalikan semua sisa kekuatan itu.


Sesaat setelah Olivia menyuarakan kesimpulan yang dia buat, dia langsung melangkahkan kakinya ke luar, akhirnya berhasil pulih dari kondisinya.


Dia sampai di luar pemakaman, lalu melihat ke sekeliling.


Pemandangannya masih sama dengan yang ia lihat sebelum ini. Hanya saja, kali ini ada sebuah reruntuhan kuno berukuran besar yang terletak tak jauh dari sana.


Olivia mendekati reruntuhan itu sambil bersiap untuk segala serangan. Dia sudah melihat bagaimana keadaan Noelle saat dia bertarung melawan Noir, dan dia akhirnya sampai pada satu pemikiran.


Yang Noelle lawan di dunia nyata bukanlah tubuh sejati Noir, melainkan hanya proyeksi atau avatar yang 'Dia' kendalikan untuk berinteraksi dengan dunia nyata.


Mengingat bagaimana segel ini dibentuk oleh enam dewa sejati, tidak mungkin dia bisa menembus itu sepenuhnya. Paling tidak, dia hanya bisa membocorkan sedikit kekuatannya.


Itu hanya berarti satu hal; tubuh sejati Noir masih terjebak di alam mimpi kolektif, dan bisa menyerang kapan saja. Karena itulah Olivia harus ekstra hati-hati dibandingkan sebelumnya.


Pandangannya berkeliling dalam tujuan mengekstrak setiap informasi yang dia temukan. Namun, gumpalan asap hitam tiba-tiba muncul dan menutupi semua tempat.


Hal itu seketika membuat Olivia meningkatkan kewaspadaannya. Dia langsung menarik rapier Achto yang menggantung di pinggangnya.


Begitu pandangannya pulih, dia segera menyadari kalau semua yang ada di sekitarnya tiba-tiba berubah.


Tidak ada lagi reruntuhan besar misterius itu. Kini semuanya telah digantikan oleh puluhan lempengan batu raksasa yang disusun mengelilingi area itu dalam pola lingkaran. Susunan batu itu mengingatkan Olivia pada Stonehenge yang pernah ia lihat di buku jurnal ayahnya di bumi.


Hanya saja, celah yang tercipta di antara bebatuan itu tidak menampilkan pemandangan di sisi lain, melainkan sepenuhnya hitam pekat seolah mengarah ke kekosongan mutlak.


Kemudian, dia tersadar. Dia tidak sendiri di tempat ini. Setidaknya, ada beberapa orang lain yang terjebak bersamanya. Di antaranya adalah Stella, Anzu, Werli, Erwin, dan seorang pria tak dikenal.


Perhatian Olivia fokus pada pria itu. Dia memiliki rambut hitam yang mengkilap, serta kata hitam obsidian yang indah, mirip seperti miliknya sendiri. Bagian paling mencolok dari pria itu adalah pakaiannya yang menyerupai jubah penyihir kuno, disertai sebuah mahkota hitam yang mengambang di atas kepalanya.


Itu adalah Noir.


Noir tersenyum saat dia memandangi Olivia yang sudah sadar akan keberadaannya. Kemudian, dia mebyipitkan matanya sedikit sambil mengangkat satu tangan.


Seketika, sebuah tombak hitam raksasa muncul di udara, dan bersiap menyerangnya.


Tombak hitam itu memiliki panjang sekitar delapan meter, dan itu memiliki dua ujung yang tajam, membuat Olivia seketika mengingat sebuah garpu kue.


Tombak itu mundur sedikit dari posisinya, lalu melesat dengan cepat ke arah Olivia.


Olivia berniat menghindar, tapi gerakannya tiba-tiba terhalang oleh dinding batu yang muncul entah dari mana.


Tidak tinggal diam, dia kemudian langsung menendang dinding itu hingga runtuh, lalu bergerak untuk menghindari serangan tombak.


Hanya sedikit lagi. Jika saja dia terlambat melompat sepersekian detik, maka dia pasti sudah berakhir mengenaskan.


Tembok batu yang tersisa telah menjadi objek yang ditusuk oleh tombak itu. Sebelumnya dinding batu itu terlihat kokoh, namun sekarang telah melebur menjadi debu hanya dalam hitungan detik.


Pada saat ini, semua orang yang juga terjebak bersama Olivia akhirnya tersadar.


Mereka dengan tercengang melihat tempat Olivia berdiri sebelumnya, lalu beralih menatap Noir.


Penampilannya masih segar di ingatan mereka, jadi tidak mungkin bagi mereka untuk salah mengenalinya. 'Dia' adalah 'orang' yang dilawan Noelle sebelumnya, 'orang' yang membuat mereka kembali ke alam mimpi kolektif ini.


Tanpa mempedulikan mereka semua, Noir terus menciptakan tombak yang sama dan menyerang Olivia menggunakan itu.


Setiap kali tombak itu gagal mengenai Olivia, tombak itu akan berubah menjadi asap hitam dan kembali menjadi sebuah tombak di dekat Noir, siap menyerang siapa saja yang dia inginkan.


(Dia tidak bisa menciptakan dua tombak sekaligus. Satu tombak yang sudah ditembakkan harus 'dipecahkan', lalu 'dibentuk ulang' sebelum bisa digunakan lagi … Aku harap aku bisa memanfaatkan ini … )


Stella yang sudah sadar akan situasinya langsung mencoba mencari cara untuk menyerang Noir, tapi dia tidak pernah bisa menemukan kesempatan. Secara ajaib, panahnya juga ikut masuk ke alam mimpi kolektif, membuatnya dapat menyerang musuh. Hanya saja, semua serangannya tidak memberikan efek apa pun pada Noir.


Semua serangan yang ia luncurkan akan hancur setiap kali itu akan menyentuh Noir.


Hal itu juga berlaku untuk Anzu, Werli, dan Erwin. Mereka sudah melakukan beberapa cara untuk menyerang Noir, namun semuanya hanya berujung pada kegagalan.


Olivia sama sekali tidak menyadari upaya yang mereka lakukan untuk memberinya bantuan, tapi dia sadar kalau mereka sudah mencoba untuk membantu.


Sebelumnya dia sudah melihat bagaimana kemampuan telekinesis yang diberikan Verstand masih bisa Noelle gunakan di alam mimpi. Hal ini membuat Olivia sadar kalau dia juga bisa mencoba hal serupa.


Olivia mengangkat pedangnya, bersiap untuk menghadapi serangan yang akan datang.


Ujung ganda tombak hitam itu terus mendekat setiap detiknya, hingga akhirnya–


Ujung tombak itu bertabrakan langsung dengan ujung rapier Achto, lalu meledak.


Tombak itu hancur sebagian, tapi gerakannya tidak berhenti. Itu terus melesat seolah mengabaikan semua kerusakan yang dialaminya.


Olivia secara refleks langsung melompat menghindarinya, tapi di tempatnya mendarat sudah ada beberapa duri hitam berukuran besar yang tumbuh.


Tangannya seketika mengeluarkan pancaran cahaya putih kebiruan yang indah, lalu memanifestasikan sebuah tombak es dengan panjang hampir sepuluh meter.


Ujung tombak Olivia menancap di tanah, dan memberinya kesempatan untuk mengubah posisi mendarat.


Setelah dia mendarat dengan aman di tanah, tombak es itu segera hancur menjadi butiran cahaya seolah sudah tidak mampu menahan bentuknya sendiri. Ini adalah pengaruh《Magic Interference》yang tersebar bersama kabut di area ini.


Karena efek pengganggu itulah Olivia tidak dapat menggunakan sebagian besar sihirnya. Dia tidak bisa terbang, dan regenerasi yang dia miliki kini hanya terbatas pada pengobatan luka kecil saja.


Kekuatan terbesar Olivia memang terpusat pada sihir dan semua yang berkaitan dengannya. Namun, dia tetap saja memiliki kemampuan yang bagus dalam aspek selain sihir; baik itu pertarungan pedang maupun tangan kosong.


Sejenak, Olivia kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan. Dia sudah melihat bagaimana pertarungan yang Noelle dan Noir lakukan, dan dia mendapatkan satu jawaban yang jelas; mustahil melawan Noir dengan serangan langsung dari jarak dekat.


Olivia tidak memiliki kemampuan telekinesis yang membuatnya mampu menyerang dengan proyektik, dan dia juga tidak bisa mengandalkan sihirnya mengingat medan pengganggu sihir di sini sangat kuat. Bahkan meski ia berhasil mengirimkan satu proyektil pada Noir, dia ragu kalau itu akan cukup.


Serangan proyektil tidak akan berguna saat melawan Noir.


Yang artinya, Olivia hanya memiliki satu pilihan; yaitu terus melakukan pertarungan tanpa harus 'bertabrakan' langsung dengan'Nya'.


Ini adalah jenis pertarungan yang memakan lebih banyak waktu, tapi cenderung efektif dalam menghadapi seseorang seperti Noir.


Strategi inilah yang Noelle gunakan sebelumnya. Dia terus menyerang sambil menjaga jarak, lalu akan menyerang secara membabi buta jika menemukan celah sekecil apa pun.


Strategi ini mengharuskan Olivia untuk memaksimalkan kemampuannya dalam mengeksploitasi kelemahan yang dimiliki lawan. Sejujurnya, ini adalah bidang yang tidak terlalu Olivia kuasai.


Dia tidak memasukkan Stella, Anzu, Werli, atau bahkan Erwin ke dalam rencananya karena ia tahu itu akan sia-sia. Noir jelas tidak tertarik pada mereka, jadi mereka relatif aman untuk sekarang. Itu sudah menjadi situasi yang sempurna.


Selain itu, Stella dan yang lainnya jelas tidak memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi Noir.


Namun, entah mengapa, Olivia merasakan adanya sesuatu yang salah.


Noir yang ada di hadapannya, terasa sangat berbeda dari Noir yang dihadapi Noelle.


Apa karena ini adalah tubuh utama'Nya'? Itu bisa jadi. Lagi pula, dia sedang berada di alam mimpi kolektif, segel yang menahan Noir. Masuk akal jika dia bisa berkeliaran dengan bebas di sini.


Olivia memikirkan itu sambil mencari cara untuk menyerang. Tombak hitam kembali terbentuk di samping Noir, dan itu langsung meluncur tanpa tanda-tanda, mengarah langsung pada Olivia.


Serangan kejutan ini membuat Olivia tertegun sejenak, tapi kesadarannya segera pulih, dan dia langsung melompat ke samping.


Namun, tombak yang gagal mengenainya itu langsung berubah menjadi asap hitan, lalu kembali menjadi tombak yang menargetkan Olivia.


Meskipun itu terlihat seperti tombak biasa, Olivia percaya dengan instingnya yang mengatakan kalau tombak itu sangatlah berbahaya. Mungkin bisa membunuhnya hanya dalam satu tusukan.


Pertunjukan seperti itu terus berlanjut selama beberapa menit, sebelum akhirnya senyum di wajah Noir semakin melebar.


" … Dia hebat."


Setelah menggumamkan itu, Noir segera mengangkat satu lengannya dan mengepalkan tangannya.


Seketika, tombak yang sebelumnya gagal menargetkan Olivia kini hancur menjadi asap hitam, lalu terbentuk lagi tepat di hadapannya.


Olivia tidak sempat merespon, tapi refleksnya yang sudah dilatih dengan banyak bahaya langsung membuatnya bergerak tanpa harus berpikir.


Dia melompat ke samping, menancapkan sebuah rantai yang ia buat dari darahnya ke sebuah dinding batu yang sudah lama runtuh.


Olivia tidak terlalu ahli dalam manipulasi darah, tapi membentuknya menjadi rantai yang kuat adalah hal yang sederhana. Dia bisa melakukan itu dengan baik.


Meskipun begitu, tombak hitam tetap tidak mengubah arah bidikannya. Itu terus menargetkan Olivia, lalu meluncur dengan kecepatan yang lebih mengerikan.


Olivia ingin melompat untuk menghindarinya, tapi sebuah rantai hitam dengan borgol hutam tiba-tiba muncul dan menahan lengan serta kakinya.


Di saat itu, dia melihat Noir menyeringai licik dan menyentil ujung mahkota hitam di atas kepalanya. "Aku meniru gaya bertarung kalian. Kurasa ini cukup bagus, aku menyukainya."


Dia tidak melanjutkan kalimatnya, dan membiarkan tombak hitam terus maju.


Namun, tepat sebelum kedua ujung tombak menyentuh Olivia, sesosok tiba-tiba muncul dan menghentikan pergerakan tombak dengan tubuhnya sendiri.


Ujung tombak dengan lancar menusuk dada dan perutnya, lalu menembus ke belakang hingga hampir menyentuh Olivia, tetapi untungnya tombak itu telah berhenti.


Detik kemudian, tombak hitam berubah menjadi gumpalan asap hitam aneh, lalu menyebar ke sekitar.


Noir dalam diam memperhatikan sosok itu—Erwin yang kini tergeletak di tanah.


Itu benar, sosok yang menyelamatkan Olivia tidak lain dan tidak bukan adalah Erwin.


Dia menghalangi pergerakan tombak dengan cara mengorbankan tubuhnya sendiri, lalu tewas seketika.


Ini adalah alam mimpi, yang artinya semua orang yang ada di sini adalah proyeksi astral dari jiwa atau tubuh fisik seseorang.


Hal itu membuat semua luka yang diterima seseorang di alam ini menjadi jauh lebih menyakitkan karena langsung ditransfer ke jiwa mereka yang relatif lemah.


Rantai dan borgol yang mengekang Olivia kini telah melebur menjadi asap hitam, dan Olivia langsung terduduk dengan tercengang sambil menatap sosok Erwin.


Pria paruh baya yang baik hati itu, yang sebelumnya dengan gembira menceritakan semua pengalamannya semasa berpetualang, orang yang mengatakan bagaimana seseorang harus menikmati hidup sebelum kehidupan itu berakhir—kini telah tewas di tangan seseorang yang tingkat kekuatannya masih tidak diketahui.


Dia tergeletak di tanah, dengan mata dan mulutnya terbuka lebar, serta dua lubang yang terbuka di bagian dadanya.


Tombak itu terlah menembus tubuhnya, dan kini efek dari tusukan itu mulai terlihat.


Tubuh Erwin perlahan berubah menjadi batu, lalu secara bertahap mulai runtuh menjadi tumpukan abu.


...****************...