[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 291: Tania si Pemandu



...****************...


Pagi hari, kereta akhirnya tiba di Alten.


Noelle yang telah keluar dari antrian langsung bergegas menuju gerbang keluar stasiun, dan tatapannya berkeliaran memandang sekeliling.


Alten adalah kota yang indah, dengan gaya arsitektur yang telah merambat ke era revolusi Industri.


Meski asap kekuningan tipis terlihat menyelimuti area tertentu kota, secara keseluruhan Alten tetaplah indah.


Noelle membeli koran dan majalah dari toko terdekat, lalu langsung berjalan mengambil rute acak mengikuti penanda arah di jalan.


Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyewa kamar penginapan. Setelah itu, dia bisa bebas melakukan apa pun, dan bahkan menyelesaikan keperluannya di Alten.


Sebenarnya, Noelle tidak berniat menghabiskan waktu lama di Alten, tapi ini adalah pertama kalinya dia mengunjungi ibu kota sebuah negara, jadi ia sedikit bersemangat, dan memutuskan untuk tinggal lebih lama.


Noelle tiba di salah satu penginapan yang cukup mewah, dan menyewa satu kamar di sana. Setelah itu, dia tidak langsung memasuki kamarnya, melainkan pergi ke sebuah area pasar yang menjual beberapa hewan untuk berbagai keperluan.


Mencari ke sekeliling toko, Noelle menemukan apa yng dia cari.


"Aku akan membeli tikus putih ini," ucapnya sambil menunjukkan tikus putih yang ada di sebuah kandang jaring logam pada penjaga toko, dan penjaga toko hanya mengangguk tanpa mempertanyakan tujuannya membeli tikus itu.


Keluar dari toko dengan kandang yang diisi seekor tikus putih, Noelle akhirnya menghela napas pasrah.


"Ayo lakukan ini dengan cepat."


Sosoknya kemudian melebur menjadi asap hitam, dan kembali muncul di sebuah bangku taman yang agak jauh dari keramaian. Ini adalah tempat yang baru saja Noelle temukan, dan cukup cocok dengan situasinya.


Penginapan tempat ia menyewa kamar tidak mengizinkan hewan apa pun masuk, dan Noelle juga tidak berniat berlama-lama dengan tikus ini. Karena itulah, dia mencari tempat yang bisa langsung dijadikan tempat beraksi.


Noelle yang sudah duduk akhirnya membuka kandang, menangkap tikus putih yang ukurannya bahkan lebih kecil dari gabungan tiga jari tangannya.


Sebuah kertas kemudian muncul dari udara kosong, dan Noelle langsung menempelkan kertas itu ke tubuh tikus, dan membakarnya.


Sejenak, rintihan penuh kesakitan datang dari tikus itu, tapi tak lama kemudian suara tikus akhirnya menghilang, dan digantikan oleh suara anak laki-laki yang muncul langsung di kepala Noelle.


"Kau sudah berada di ibu kota sekarang? Cukup tidak terduga. Kupikir kau akan ketakutan dan tidak pernah datang ke tempat ini."


Apa yang tikus itu katakan memang masuk akal. Ibu kota Republik adalah salah satu tempat yang pling Noelle waspadai saat ini. Bagaimanapun juga, tempat ini dijadikan markas oleh para Voyager itu.


Meski memiliki kesepakatan gencatan senjata, Noelle dan mereka memiliki suatu aturan tak tertulis, yaitu untuk tidak mencampuri urusan masing-masing.


Jika ketahuan ada salah satu pihak yang melibatkan dirinya dengan pihak lain, maka gencatan senjata akan langsung dibatalkan.


Noelle yang datang ke Alten sebenarnya beresiko untuk menghancurkan gencatan senjata itu.


Meski Noelle ragu, Voyager mungkin sedang mengawasinya dari suatu tempat saat ini.


"Yahh, lupakan itu. Apa yang kau inginkan sampai harus memanggilku? "


Syukurlah 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu' sama sekali bukan karakter yang suka berbasa-basi. Jika tidak, tingkat keselamatan Noelle pasti akan lebih rendah sekarang.


"Senang kau memahaminya." Noelle tersenyum dan menyerahkan beberapa jamur kecil untuk dimakan tikus itu.


Meski awalnya menolak, 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu' sepertinya menyukainya, karena dia terlihat sibuk menggigiti pinggiran jamur yang mengering.


"Tentang segelmu, apa yang akan kudapat kalau aku berhasil membebaskanmu? "


" ……… Itu semua tergantung pada kenyataan apakah kau berhasil membebaskanku atau tidak."


"Anggap saja kalau aku berhasil melakukannya. Apa yang akan kau berikan? "


Noelle tidak repot-repot menjaga sopan santunnya, karena dia sejak awal berniat menjadikan ini sebagai negosiasi yang setara antara dua pihak. Dia tidak ingin mendapatkan kerugian dari ini, dan dia juga menginginkan keuntungan yang setara dengan 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu'.


Jadi, jika Noelle berhasil melepas segel 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu', Noelle harus mendapatkan keuntungan yang setara dengan hal tersebut.


Tikus putih kelihatannya bingung untuk sejenak, tapi dia langsung paham ketika selesai melahap habis jamur yang Noelle berikan.


"Aku tidak bisa menjanjikannya untuk sekarang. Tapi, setelah aku bebas, kau bisa meminta apa pun padaku. Sebut saja ini sebagai bentuk rasa terima kasih."


Itulah jawaban dari 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu'. Noelle menghargai negosiasi ini, dan berniat melakukannya sampai akhir, mengingat keuntungan yang akan ia dapatkan saat ini benar-benar melimpah.


Untuk mempertahankan keuntungan itu, dia harus mencari cara untuk melepas segelnya.


"Itu bagus. Sekarang, beri tahu aku secara detail tentang segel yang menahanmu itu."


Meski ini melanggar kesepakatan gencatan senjata, Noelle telah memikirkan suatu cara untuk mengakalinya, jadi ini relatif aman untuk dilakukan.


Resiko terbesarnya adalah ketika Voyager menangkap basah dia sebelum mampu membebaskan 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu'.


...****************...


Selesai melakukan negosiasi, 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu' kemudian pergi meninggalkan tubuh tikus, dan Noelle langsung menangkap tikus yang perlahan sadar itu.


Kobaran api menyala ditangannya, dan tikus itu terbakar hangus tanpa sisa.


Hal ini Noelle lakukan atas instruksi 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu'. Jika tikus itu tidak segera dibunuh, Voyager mungkin saja dapat mendeteksinya, dan membuat rencana Noelle berantakan.


Voyager bisa jadi telah mendeteksi komunikasi itu, mengingat tempat ini adalah markas mereka.


Meninggalkan tempat duduknya, Noelle segera pergi mengelilingi pusat kota yang benar-benar ramai, tidak seperti semua kota yang telah dia kunjungi.


Memang, Alten bisa disebut kota yang paling padat di Republik, meski tingkat kepadatannya tidak sebanding dengan Zeltis di Kerajaan.


Noelle berniat berkeliling kota, namun dia sadar kalau itu tidak mungkin. Dia tidak tahu ada berapa banyak anggota Voyager yang tersebar di kota, jadi akan lebih aman untuk meminimalisir penjelajahan, meski ini sedikit mengecewakan.


Dia sampai di area pasar, dan tempat ini tidak seburuk yang ia duga.


Noelle menebak kalau area pasar di sini pasti kotor, namun berkebalikan dengan dugaannya, tempat ini cukup bersih. Hanya saja, ada gelandangan yang tidur di sudut-sudut tertentu, sehingga Noelle segera kehilangan ketertarikannya.


Ada banyak jenis toko, dan banyak pula yang dijual. Noelle membeli beberapa tusuk daging sapi panggang, dan memakannya dalam perjalanan. Sampai akhirnya, dia tiba di salah satu toko yang cukup tertutup, berbeda dari suasana pasar.


Papan pengenal di atas pintu toko itu memberi tahu Noelle kalau itu adalah toko buku bekas, dan Noelle tanpa mengatakan apa pun langsung berjalan memasukinya.


Seketika, aroma dari debu dan kertas usang memasuki hidungnya, membuat Noelle hampir bersin.


Tempatnya sendiri cukup besar, tapi rak buku yang diletakkan baris berbaris di sana membuatnya terasa sangat sempit.


Noelle melihat ada beberapa orang yang juga sedang mencari buku untuk dibeli di sini. Kebanyakan dari mereka mungkin merupakan mahasiswa yang dalam pencarian referensi.


Noelle berjalan ke rak pertama yang ada di sisi kiri, lalu langsung melihat daftar buku yang terpajang. Rak ini penuh dengan buku novel dan dongeng, sesuatu yang memang Noelle cari.


"Ketemu."


Tanpa sedikit pun kesulitan, dia mengambil buku yang ada di rak paling atas, dan memperhatikan sampulnya.


Buku yang tebal, dengan sampul kulit dan kertas halaman yang sudah usang. Ada sobekan di lembaran tertentu, tapi itu tidak menghancurkan konten yang tertulis di dalamnya.


Di sampul, tertulis judul 'Shepherd and The Skinwalker'. Pada bagian bawah judul tertulis pula nama orang yang menciptakan karya itu.


Fuu Kafhka.


Noelle tidak tahu berapa banyak buku yang telah Kafhka terbitkan, tapi ada beberapa di sini, yang berarti dia setidaknya memiliki pengalaman menulis selama beberapa tahun.


Sayangnya teknik percetakan belum begitu maju, jadi semua buku benar-benar harus disalin satu per satu oleh pihak penerbit, dan itu memakan waktu, tenaga, dan biaya yang sangat besar. Karena itulah harga buku novel terbilang mahal.


Bahkan meski itu bekas, Noelle yakin kalau harganya mampu mencapai ratusan Lunar di sini.


Noelle membolak-balik halaman awal, dan menemukan kalau bagian pembuka pada novel itu cukup menarik. Kafhka benar-benar tahu bagaimana cara menulis bagian yang akan membuat pembaca secara pribadi ingin lanjut membaca lebih jauh.


Beberapa halaman awal telah ia baca, dan tanpa sadar tangan seseorang telah muncul di sampingnya, berusaha mengambil buku yang ada di rak di hadapannya.


Noelle menutup buku novel itu, mundur selangkah, dan membiarkan orang itu mengambil buku yang dia inginkan. Sampai—


"Tania? "


"Siapa? "


"Ahh …."


Noelle sadar dengan alasan kebingungannya, dan asap hitam pun segera menyelimuti tubuhnya.


Setelah asap hitam memudar, yang ada di hadapan Tania adalah sosok laki-laki berambut putih, Noelle Lynneheim atau yang lebih akrab ia kenal sebagai Souris. Lalu asap hitam kembali muncul, dan kali ini dia telah berubah menjadi Noah Ashrain.


Melihat semua perubahan itu, Tania langsung mengangguk.


"Sou–"


Sebelum Tania menyelesaikan kalimatbya, Noelle telah lebih dulu menutup mulut Tania dengan tangannya sendiri.


"Akan jadi masalah jika ada yang mendengar dan melaporkan nama itu. Panggil saja aku dengan nama yang kau tahu selain nama itu."


Tania mengangguk, dan Noelle langsung melepaskan tangannya.


"Noah … apa yang kau lakukan di sini? "


"Ada sesuatu yang kubutuhkan. Lalu kau? Apa yang kau lakukan? "


Noelle tidak menduga kalau Tania akan memanggilnya dengan nama Noah, tapi setelah dipikir, memang hanya nama itu yang dia tahu. Tania memang mengenal nama Noelle, namun dia belum terbiasa karena belum pernah menggunakannya.


Mendapatkan pertanyaan dari Noelle, Tania menarik kembali tangannya yang telah meraih buku di rak, dan menatap sampul buku itu dengan mata tanpa emosi.


"Akan ada dungeon yang terbentuk di sekitar sini tidak lama lagi, jadi aku sedang bersiap," jawabnya.


(Dungeon? )


Setelah semua hal yang terjadi, Noelle semakin tertarik dengan struktur yang dinamakan dungeon.


Seumur hidupnya, hanya satu dungeon yang pernah ia masuki, dan itu adalah dungeon yang diciptakan oleh 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu'.


Noelle masih belum tahu banyak tentang dungeon.


"Benarkah? Dari mana kau tahu? Apa ada tanda-tanda kemunculan? "


Karena jika memang ada, Noelle berniat mencari salah satunya nanti. Dia berniat menjelajahi dungeon lain untuk mengumpulkan beberapa informasi.


Apakah dungeon itu benar-benar struktur alami? Atau sesuatu yang diciptakan oleh entitas non-fisik seperti dewa? Noelle ingin informasi mengenai hal tersebut, biarpun sebenarnya dia tidak memiliki urusan.


Tania langsung menggeleng lembut, dan menjawab dengan suara yang halus, "Navi yang memberitahuku."


"Navi? " tanya Noelle. Dia tidak tahu apakah itu nama orang, atau sesuatu yang lain. Ini menggelitik rasa keingintahuannya.


"Siapa dia? " Noelle mencoba bertanya. Namun, Tania terlihat ragu saat ditanya seperti itu. Noelle merasa kalau dia mungkin tidak ingin atau tidak bisa menjawabnya.


"Yahh, terserahlah," ucap Noelle sambil mengangkat bahu dengan santai, lalu lanjut membaca buku di tangannya.


Selain toko buku, tempat ini juga memiliki fungsi lain yang mirip seperti perpustakaan. Pelanggan bebas membaca buku apa pun yang ada, dan mereka tidak perlu membayar untuk itu. Tapi tentu saja, mereka tidak bisa meminjam, dan harus membayar penuh jika ingin membawa buku itu pulang.


Noelle tidak buru-buru pergi membayar bukunya, dan memilih untuk bersantai sejenak karena ia tidak memiliki hal lain yang ingin dia lakukan.


Urusan membangun rumah akan ia lakukan secepatnya, tapi tidak sekarang.


Tania di sampingnya, juga fokus pada buku di tangannya sendiri. Dan sudah beberapa menit berlalu sejak percakapan itu, tapi tidak satu pun dari keduanya mencoba berbicara.


Tania yang beberapa kali telah meliriknya akhirnya penasaran.


"Apa buku itu … menarik? "


"Hmm? Lumayan. Aku bertemu penulisnya semalam, jadi aku penasaran, tapi … ceritanya sendiri di luar dugaanku."


Noelle sedikit tersenyum saat jarinya dengan lembut membalik lembaran yang mulai menguning.


Cerita yang dibawakan Kafhka pada buku ini cukup menarik bagi Noelle secara pribadi. Berserita tentang petualangan seorang penggembala domba yang dirasuki sosok monster mengerikan yang disebut 'Skinwalker'. Gembala itu bisa dirasuki karena dia secara sengaja memasuki sebuah reruntuhan saat sedang mengejar salah satu dombanya yang lepas.


Dari awal cerita, Noelle sebagai pembaca telah diberi tahu tentang tujuan utama penggembala itu, yaitu untuk membebaskan dirinya dari Skinwalker.


Belum jelas tujuan Skinwalker itu merasuki penggembala, namun Noelle yakin akan ada beberapa twist mengejutkan untuk cerita ini. Karena hal itulah dia menganggap cerita yang dibawakan Fuu Kafhka ini menarik untuk dibaca.


Di sampingnya, Tania terlihat fokus menatap buku berjudul 'Shepherd and The Skinwalker' itu. Tatapannya kemudian jatuh pada nama penulis yang ada di bawahnya, 'Fuu Kafhka'.


"Aku tahu penulis ini. Setelah kamu selesai, apa aku bisa pinjam? "


"Tentu, setelah aku selesai."


Noelle tidak keberatan. Harga buku ini mungkin tidak seberapa, jadi dia tidak memiliki rasa penyesalan untuk melepasnya. Noelle yakin bahwa dirinya bisa mempercayai Tania untuk hal sepele seperti ini.


Selain itu—


"Ngomong-ngomong, apa kau punya kegiatan lain setelah ini? "


—Noelle memiliki permintaan, jadi anggap saja meminjamkan buku ini sebagai pembayaran awal.


Noelle sudah diberi tahu kalau Tania sedang menunggu kemunculan dungeon baru. Namun, itu akan memakan waktu. Sampai waktu untuk itu tiba, Tania seharusnya luang.


"Aku cukup senggang," jawab Tania tanpa ada perubahan pada ekspresinya.


"Kalau begitu … apa kau cukup akrab dengan kota ini? "


Kali ini Tania terlihat ragu. Dia mengembalikan pandangannya pada buku di tangannya sendiri, lalu sedikit memiringkan kepala.


"Aku beberapa kali datang ke sini, tapi … aku masih tidak tahu banyak. Nn, tapi aku mungkin tahu lebih banyak darimu."


Tidak ada perubahan pada wajahnya, tapi Noelle bisa dengan jelas merasakan emosi bangga terpancar dari sana.


Ini membuat Noelle tanpa sadar membentuk senyum tipis.


"Baiklah, kalau begitu … apa kau bisa menjadi pemanduku? Aku masih harus waspada dengan musuh, tapi mungkin berkeliling tidak akan ada masalahnya."


Kali ini Tania sedikit tersenyum.


"Aku akan menjadi pemandumu."


Biarpun dia tidak tahu musuh macam apa yang Noelle maksud, tapi bisa menolong seseorang yang mengharapkan bantuannya dengan sepenuh hati adalah kebahagiaan tersendiri bagi Tania.


"Ahh, aku ingin memastikan sesuatu, apa aku bisa melihat kartu pengenal guild-mu? "


Dengan perasaan bingung, Tania kemudian mengeluarkan kartu identitasnya, dan memperlihatkan itu pada Noelle.


(Rank-A … seperti yang diharapkan. Ini bagus.)


Noelle ingat ada manfaat yang hanya bisa diterima petualang peringkat A dan S. Itu adah hak untuk merekomendasikan orang lain. Meski dengan banyak persyaratan yang sulit, Noelle berencana membuat Tania menggunakan hak itu.


Setelah mengembalikan kartu pengenal Tania, Noelle langsung berbicara, "Aku ingin kau merekomendasikanku. Ada banyak tempat yang hanya bisa dikunjungi oleh peringkat tinggi, dan kemungkinan besar aku akan pergi ke sana suatu saat. Untuk itu, aku membutuhkan lisensi sebagai peringkat tinggi."


Ini bukanlah kebohongan. Ada beberapa tempat berbahaya yang terisolasi dan dikendalikan oleh guild, sehingga hanya anggota peringkat atas mereka saja yang bisa masuk ke sana.


Menyelinap bisa menjadi masalah, karena itulah Noelle membuang pilihan itu.


"Aku tidak keberatan, tapi … apa kau yakin? "


Tania sepertinya lebih merasa khawatir pada Noelle daripada dirinya sendiri. Ini membuat Noelle bertanya-tanya hal apa yang harus mendapatkan perhatian khusus dari Tania.


"Itu tidak masalah."


Noelle mengangguk dengan keyakinan yang kuat, membuat Tania tidak dapat membantah lagi. Karena itu, pada akhirnya Tania hanya bisa menghela napas ringan dan mengangguk sekali.


"Kita akan langsung pergi setelah ini. Besok atau malam nanti akan menjadi waktu terburuk untuk datang."


...****************...