![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Cahaya itu menghilang, bersamaan dengan pemandangan yang ia lihat sesaat sebelumnya.
Begitu pandangan Cryll pulih, dia langsung sadar kalau dia tidak sedang berada di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Tidak ada lagi patung dan papan batu raksasa dengan tulisan yang rumit. Semua telah berubah menjadi sebuah ruangan besar, memanjang hingga jauh ke depan.
Ini seperti aula kerajaan yang mewah, dengan banyak lilin raksasa menyinari dari setiap sisi dinding, diletakkan dalam jarak tertentu.
Meskipun ada pencahayaan yang jelas, tetap sulit bagi Cryll untuk melihat apa yang ada di ujung aula sana. Namun, ketika dia berhasil melihatnya, rasa penasaran seketika melanda.
Ada papan batu raksasa di ujung sana, terlihat menjulang dengan tinggi yang tidak dapat Cryll perkirakan.
Sebenarnya, langit-langit ruangan ini juga aneh. Hanya ada kegelapan di sana, entah karena kurangnya pencahayaan atau karena jaraknya begitu jauh dan dalam sehingga tidak mampu dijangkau cahaya dari lilin raksasa.
Papan batu itu berdiri megah, seolah mematenkan dirinya sebagai satu-satunya objek yang berbeda di ruangan ini.
(Firasatku buruk, tapi aku harus memeriksanya.)
Cryll melirik ke belakang, dan dia tidak menemukan apa pun selain kegelapan total. Tidak ada apa pun di sana.
Tidak ada pilihan lain. Dia sudah dikirim ke tempat ini, dan sepertinya terus maju adalah satu-satunya jalan.
Cryll siap mengeluarkan pedangnya kapan saja saat dia berjalan mendekati papan batu raksasa itu.
Anehnya, semakin dekat dia dengan papan batu, ukuran papan batu itu sepertinya semakin bertambah sehingga tidak ada celah lagi untuk melewatinya.
Beberapa meter sebelum mencapai papan batu, Cryll sadar kalau ada tulisan yang terukir pada papan batu itu. Namun, pandangannya sedikit tidak jelas sehingga dia tidak bisa membacanya.
"Tidak ada siapa pun, 'kan? "
Setidaknya kemampuan deteksi Cryll sama sekali tidak menangkap kehadiran seseorang. Namun, itulah yang membuatnya waspada.
Jika situasinya seperti ini, biasanya akan ada banyak perangkap yang dipasang, dan Cryll tidak mau terjebak di dalamnya.
Memperhatikan seluruh area saat dia diam, Cryll akhirnya membuat keputusan tetap dan mulai memperhatikan jalan yang akan dia lewati.
Tidak ada cara untuk mendeteksi perangkap, tapi Cryll masih bisa mempercayai instingnya sendiri.
Dengan cepat dan tepat dia melompati bagian tertentu, lalu secara ajaib mampu sampai di hadapan papan batu raksasa.
Melihatnya dari dekat membuat Cryll semakin terkejut.
"Ukurannya … bertambah? Tidak, bukan cuma itu. Tulisan anehnya juga semakin banyak." Cryll bergumam dengan suara rendah, masih waspada dengan perangkap yang bisa saja diaktifkan dengan suara.
Rasanya ukuran papan batu itu menjadi jauh lebih besar lagi. Kalimat yang terukir di permukaannya menjadi jauh lebih banyak dari yang Cryll lihat sebelumnya.
Ini seolah perubahan telah ditetapkan pada papan batu seiring dengan langkah yang Cryll ambil.
Pada akhirnya Cryll memilih untuk mengesampingkan itu sejenak dan fokus pada konten yang tersembunyi di kalimat pada papan batu.
Semua kata yang terukir dibuat dengan bahasa yang tidak Cryll kenal. Itu bukanlah Hermes, dan bukan pula Minerva Kuno. Benar-benar asing. Namun, entah kenapa dia mampu memahaminya.
Ini tidak seperti dia pernah melihatnya, atau sesuatu yang mirip. Makna dari setiap kata yang terukir di sana secara langsung ditransfer ke pikiran Cryll, membuatnya langsung paham meski itu diukir dengan bahasa yang tidak dia kenal.
"Jangan-jangan aku ini jenius? "
Mampu memahami sebuah bahasa yang bahkan belum pernah ia lihat. Ini jelas merupakan prestasi untuknya. Cryll mengangguk dengan penuh kebanggaan pada dirinya sendiri sebelum kembali menyipitkan mata pada papan batu.
(Tapi … meski aku paham makna kalimatnya, aku masih tidak mengerti.)
Ini jauh lebih rumit dari yang terlihat dan dari yang ia bayangkan.
Cryll melihat ke langit-langit sejenak, tapi itu masih sama, tidak ada apa pun selain kegelapan yang pekat. Dia pun mengulurkan tangannya untuk menelusuri ukiran kalimat di permukaan batu itu.
"Gelembung yang rapuh, hancur dalam sentuhan …."
" … Cahaya akan terbit, dari ujung timur yang jauh …."
" … Dan senja akan datang, dari ujung barat."
Ketiga kalimat itu hanyalah penggalan dari puluhan paragraf yang tertera pada papan batu. Namun, ketiga kalimat itu saja sudah cukup untuk membingungkannya.
"Aku tidak mengerti. Kurasa aku bukanlah jenius."
Yang ada di pikiran Cryll sangatlah sederhana. Sedangkan arti dari ketiga kalimat itu mungkin jauh lebih dalam dari yang dia pikirkan.
Di tengah kebingungannya, Cryll bisa merasakan satu demi satu tetes cairan dingin jatuh ke puncak kepala, dan mengalir di wajahnya.
Mungkin itu hanyalah kebocoran. Atau setidaknya itulah yang ingin Cryll pikirkan. Namun, cairan yang jatuh ke atas kepalanya ini terasa cukup kental dan sangat dingin. Jelas ini tidak normal.
Cryll mengoleskan jarinya ke cairan yang membasahi kepalanya, lalu melihat wujud sejati dari cairan tersebut. Dan seketika, dia terkejut.
Cairan di ujung jarinya berwarna merah pekat. Kekentalannya juga cocok seperti yang Cryll ingat.
Itu darah.
"Sialan! "
Cryll melompat jauh ke belakang karena refleks, tapi itu benar-benar tindakan yang tepat untuk dilakukan.
Karena, di tempat dia berdiri sebelumnya, telah ada sebuah duri raksasa yang menancap dan menembus lantai hingga kedalaman yang tak diketahui.
Melihat ke atas, Cryll tidak dapat melihat sumber dari darah yang menetes dan duri raksasa itu. Namun, tak lama kemudian, sebuah getaran hebat tiba-tiba mengguncang seisi ruangan dan membuat Cryll kehilangan keseimbangan.
Bebatuan besar mulai berjatuhan dari langit-langit yang masih diselimutu kegelapan. Banyak darinya jatuh dengan menabrak papan batu, tapi papan batu itu bahkan tidak tergores sedikit pun.
Hingga akhirnya, sosok yang menyebabkan itu semua terjadi muncul.
Dalam situasi itu, anehnya pikiran Cryll tenang seperti permukaan air di sungai. Namun, dalam situasi itu pun dia hanya bisa memikirkan satu kata saat melihat sosok itu.
'Raksasa'.
Tubuhnya besar. Begitu besar sehingga keseluruhan tubuhnya tidak akan muat di ruangan besar ini.
Tubuhnya tanpa menghancurkan apa pun tenggelam ke dinding, lantai, dan langit-langit. Itu menyelam, seolah semua permukaan dinding dan lantai itu hanyalah ilusi optik semata. Namun, Cryll sendiri dapat memastikan kalau semuanya adalah hal yang nyata.
Raksasa terus bergerak, melewati dinding, lantai dan langit-langit itu dengan santai.
Tubuhnya yang panjang itu terus bergerak, mengandalkan kakinya yang kemungkinan berjumlah ribuan itu untuk merayap seperti seekor serangga kecil. Namun, yang ada di hadapan Cryll ini adalah kebalikannya. Itu raksasa.
Seekor kelabang raksasa.
Siapa pun yang memiliki trauma atau rasa takut mendalam terhadap makhluk merayap tanpa diragukan lagi akan langsung pingsan. Dan kemungkinan terburuknya, mereka akan bunuh diri karena rasa takut yang memuncak.
Karena tubuhnya terlalu panjang, sulit untuk mengidentifikasi mana bagian depan dan belakang. Namun, itu akan menjadi jelas tak lama lagi.
Tubuhnya yang panjang terus bergerak dengan melewati setiap permukaan yang ada, entah itu dinding, lantai, atau bahkan langit-langit.
Hingga akhirnya, ujung dari tubuhnya yang besar dan panjang itu muncul. Berhenti bergerak tepat di hadapan Cryll.
Ada sepasang tanduk besar berwarna merah kehitaman yang terletak tepat di kedua sisi kepalanya. Dan bentuknya saja sudah cukup untuk memberikan kesan intimidasi yang kuat kepada Cryll.
Kelabang itu memiliki tiga pasang mata—enam mata secara total yang terletak secara simetris di sisi 'wajahnya'. Mata yang dingin, kejam, tak berperasaan, dan penuh dengan rasa haus darah.
Keenam mata itu, secara langsung menatap Cryll yang telah terduduk di tempat dia berdiri sebelumnya.
『Siapa kau?』
Suaranya yang keras, kasar, dan terdengar tak berperasaan itu bergema, membuat Cryll yang tercengang tidak bisa melakukan apa pun untuk merespon.
...****************...
Itu adalah tempat yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Di tempat ini, tidak ada apa pun selain langit malam yang bertabur bintang dan segala macam benda luar angkasa lainnya. Selain dari itu, satu-satunya yang layak untuk dinggap sebagai 'objek' mungkin hanya altar tempat dia sedang duduk bersila sekarang.
Cryll duduk, berhadapan langsung dengan seekor kelabang raksasa dengan penampilan yang mengerikan. Seluruh tubuhnya terlalu besar sehingga ruang ini terasa begitu penuh akan kehadirannya.
"Siapa kau ini? "
Cryll tidk tahu harus mengatakan apa, tapi dia benar-benar penasaran dengan sosok kelabang raksasa yang ada di depannya. Karena itulah, mau tak mau dia bertanya.
Sebenarnya, dia sendiri pun mempertanyakan ada dirinya sendiri mengapa dia bisa begitu berani bertanya.
Seolah, sosok yang sangat mengintimidasi di depannya itu bukanlah apa-apa.
Meski mendengar pertanyaan Cryll, kelabang raksasa itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab. Sebaliknya, dia hanya terus menatap Cryll dengan diiringi seluruh tubuhnya yang bergoyang ke sana kemari tanpa mau diam.
Cryll muak dengan situasi dan keheningan ini. Dan itu ditunjukkan dengan jelas oleh perubahan pada ekspresinya yang kesal.
"Kau bertanya siapa aku, tapi kau sama sekali tidak menjawab ketika aku yang bertanya."
Di awal pertemuan mereka tadi, Cryll telah lebih dulu memperkenalkan dirinya. Dia melakukan itu karena mendapat desakan dari kelabang raksasa yang ada di depannya sekarang.
『Bocah sombong. Kenapa aku harus memperkenalkan diriku? Aku seharusnya sudah membunuhmu sekarang.』
Suaranya bergema meski tempat ini kelihatannya sama sekali tidak memiliki permukaan yang bisa memantulkan suara.
"Kau bilang aku sombong? Bukankah yang sebenarnya sombong di sini adalah kau? Berkata seolah kau bisa membunuhku kapan saja."
『Tentu aku bisa.』
Tanpa Cryll sadari, ekor kelabang raksasa itu telah berada di belakangnya, siap menusuk lehernya dengan duri raksasa yang terlihat amat tajam.
(Aku seharusnya tidak bilang yang baris terakhir itu.)
Tentu saja makhluk seperti kelabang raksasa ini bisa membunuhnya kapan saja. Cryll merasa bodoh karena tidak menyadarinya.
Sekarang keduanya hanya diam, tanpa mengatakan apa pun.
Satu hanya duduk bersila sambil dengan canggung berusaha mengalihkan pandangannya, sedangkan yang satu lagi melayang tanpa tujuan di udara, terlihat sama bingungnya dengan Cryll.
Akhirnya, setelah muak dengan keheningan, Cryll kembali mengulangi pertanyaannya. "Siapa atau apa kau ini? "
Tidak ada jawaban. Bahkan setelah dia menanyakannya lagi, kelabang raksasa itu masih menjawab.
Dari interaksi sebelumnya, Cryll yakin kalau kelabang raksasa ini mampu berpikir dan berbicara seperti manusia. Dia juga berbicara dalam bahasa yang Cryll pahami, jadi ini seharusnya tidak rumit.
Namun, semua tergantung pada apakah kelabang itu mau menjawabnya atau tidak. Dan hasilnya, adalah tidak.
Kelabang itu masih diam, tampak serius saat dia berpikir sendiri. Namun, entah karena dia terlalu fokus berpikir sendiri atau karena dia memang sengaja, tapi pertanyaan yang seharusnya hanya diucapkan dalam hati itu justru muncul ke permukaan sampai didengar oleh Cryll.
『Ini memang sudah lewat waktunya, tapi kenapa justru bocah ini yang muncul? Apa yang terjadi pada ramalannya?』
Mendengar itu, Cryll mau tak mau memiringkan kepalanya.
Dia tidak tahu apa yang dimaksud dengan ramalan, tapi dia penasaran.
"Ramalan apa yang kau maksud? "
Tidak ada respon dari kelabang raksasa. Cryll sudah menduga hal itu. Karena itulah dia tidak tersinggung. Justru, dia mulai berpikir sendiri tentang apa yang baru saja dikatakan oleh kelabang raksasa.
Kata kuncinya adalah ramalan. Kalau begitu, apa yang membuat kelabang raksasa itu bertanya-tanya? Yang jelas, Cryll yakin ada maslah pada sesuatu yang kelabang itu percayai.
Setelah memikirkan semuanya dalam-dalam, Cryll akhirnya tersenyum tipis.
Dia memang tidak sepintar Noelle, dan kecepatannya dalam membuat kesimpulan juga jauh di bawahnya. Namun, bukan berarti dia bodoh.
Cryll memanifestasikan Geist, membuat sebuah kerangka manusia muncul dan melindungi tubuhnya layaknya armor. Di masing-masing tangan kerangka, ada pedang satu bilah yang melengkung, mirip seperti katana. Pedang itu diselimuti aura yang sama dengan yang dimiliki kerangka.
Detik berikutnya, sebuah kilatan petir yang luar biasa cepat jatuh menimpa sisik kelabang yang keras dan mengkilap.
Tentu saja, petir itu tidak ada efeknya.
Cryll tidak berhenti. Dia terus menjatuhkan petir ke berbagai titik di tubuh kelabang. Hingga akhirnya, kelabang itu memperhatikannya.
Petir dari Cryll benar-benar diperlakukan seperti mainan anak-anak sehingga sedikit menyakiti harga diri Cryll.
『Apa yang kau inginkan?』
"Penjelasan," jawab Cryll singkat.
Bahkan Cryll pun sadar kalau jawaban dan cara bicaranya ini terlalu arogan. Karena itu, dia tidak akan terkejut jika kelabang raksasa di depannya ini langsung mengamuk dan membunuhnya.
Namun, alih-alih intimidasi kuat yang menakutkan, aura mengerikan itu justru seperti angin sepoi-sepoi bagi Cryll.
Benar-benar tidak ada efeknya. Namun, Cryll yakin kalau yang dikeluarkan kelabang itu adalah intimidasinya—sesuatu yang akan membuat pingsan makhluk hidup mana pun.
(Apa yang terjadi? )
『Kau … tidak terpengaruh?』
Bahkan kelabang raksasa itu pun terkejut dengannya. Dia sudah memastikan bahwa itu cukup kuat untuk membunuh makhluk hidup seperti hewan tanpa akal dan manusia yang lemah. Namun, dia tidak menduga bahwa ada yang bisa menahannya seperti angin lewat.
Cryll sama sekali tidak paham dengan pola pikir makhluk di depannya. Makhluk itu selalu diam, dan memandanginya sesekali. Dan tepat setelah memberikan intimidasi yang kuat, dia justru bergerak dan mengelilingi Cryll seolah sedang mengamati hewan langka.
Tubuh panjang kelabang itu bergerak dan menggeliat mengelilingi Cryll.
Tidak ada perasaan menjijikkan, tetapi dia bisa merasakan keanehan yang amat jelas; seolah tubuh dan jiwanya sedang dilihat tanpa sensor.
Dan saat perasaan seperti itu menyelimutinya, Cryll langsung terjatuh ke tempat dia berpijak.
Memegangi dadanya sendiri, dia tampak mencengkeram erat pakaian yang melindungi tubuhnya. Tentu saja, dia melakukan itu bukan tanpa alasan, tapi karena rasa sakit brutal yang tiba-tiba saja muncul dan menyerang tubuhnya.
Dia tidak tahu dari mana asalnya rasa sakit itu, tapi rasa sakitnya sangat berbeda daripada saat sebuah pedang menembus dadanya. Ini mirip seperti iritasi, yang membuatnya berkeinginan kuat untuk mencabut jantungnya sendiri.
(Seolah aku mau melakukan itu! )
Geist yang melindungi tubuhnya semakin memancarkan aura yang kuat, dan dua pedang yang ikut termanifestasi bersama kerangka itu pun membesar.
『Hehehe …. Hahaha! Sialan! Ternyata itu alasannya! 』
Rasa sakit di dadanya perlahan menghilang, dan suara tawa keras kelabang itu pun langsung masuk ke telinganya.
Entah apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat seekor kelabang yang begitu besar itu tiba-tiba tertawa. Terlebih lagi, tawanya begitu keras sampai membuat Cryll harus menutup paksa telinganya.
Tawa itu masih bergema, dan sementara Cryll sibuk menutup telinga dan meminimalisir suara yang masuk, tanpa dia sadari telah ada sebuah kepalan tangan tepat di bagian perutnya. Itu menembus perlindungan dari kerangka, dan langsung melepaskan semua gelombang kejutnya sesaat setelah mendarat di perut Cryll.
Seketika itu pula, Cryll terpental jauh ke belakang. Dia sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Pikirannya telah terhempas jauh bersamaan dengan mendaratnya pukulan yang tiba-tiba itu.
Dua detik terasa seperti keabadian. Dia sangat yakin kalau hanya dua detik waktu telah berlalu, tapi kesadarannya telah diperlambat secara drastis untuk menerima semua informasi yang masuk secara tiba-tiba.
(Ahh, siapa? )
Tanpa membiarkan kesadarannya hilang sepenuhnya, Cryll berusaha melihat sosok yang memberinya pukulan. Tapi dia sudah terlalu jauh sehingga altar tempat dia berpijak sebelumnya pun telah hilang.
Dan kini, dia hanya terus diterbangkan tanpa tahu sudah seberapa jauh dia pergi. Saat dia sadar, punggungnya telah menabrak sebuah dinding tak terlihat. Tapi itu tepat sebelum pukulan lain datang tepat ke punggungnya.
Dia pun kembali terpental kembali ke altar.
Kekuatan macam apa yang bisa membuatnya mengalami hal seperti itu? Cryll bertanya-tanya, tapi tidak bisa menemukan jawabannya. Lagi pula, jika dia benar-benar dipukuli seperti itu, maka kehilangan kesadaran adalah hal yang sangat wajar.
Berbagai pemikiran semacam itu terus berdatangan ke pikiran Cryll, hingga akhirnya dia bisa melihat sosok itu—pelaku yang telah membuatnya menerima pengalaman luar biasa diterbangkan dari satu titik ke titik lainnya dengan cara dipukul.
Sosoknya hanya bisa digambarkan dengan kata 'pria yang sembrono'. Rambutnya merah gelap, dengan tanduk di kedua sisi dahinya. Ada juga tato yang sangat mencolok muncul di area wajah sampai ke lehernya.
Cryll merasa sangat tidak asing dengan tanduknya.
Kesadarannya perlahan pulih, dan dia bisa dengan jelas melihat sosok pria itu. Menang, tepat seperti yang ia perhatikan saat masih setengah sadar.
Namun berkat visinya yang semakin jelas, Cryll akhirnya berhasil mengidentifikasi sosok itu.
Namun, sebelum dapat bertanya, sosok itu telah tertawa lebih dulu, tidak memberinya kesempatan untuk mengatakan sesuatu.
"Hehehe– kupikir aku bisa langsung membunuhmu, ternyata kau lebih berguna dari yang kubayangkan."
Dia terkikik sedikit. Tidak merasa bersalah sedikit pun setelah memberikan pukulan mematikan pada Cryll. Korbannya sendiri pun heran mengapa dia masih hidup setelah menerima dua pukulan yang gila itu.
"Berterimakasihlah padaku, Raja Naga Azhar, karena telah melihat manfaat dari keberadaan kecil seperti dirimu."
Azhar telah ada di sampingnya, menepuk bahu kiri Cryll dua kali sambil mengangkat satu sudut bibirnya ke atas dengan menunjukkan deretan taring tajam di sana.
"Tapi untuk menjadi sepenuhnya bermanfaat, kau yang sekarang masih terlalu lemah. Kurasa aku akan melatihmu sedikit."
...****************...