[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 176: Clausa Memoria (1)



...****************...


"Apa kalian sudah mendapatkan informasi tentang lokasi kita sekarang? "


Setelah hampir satu jam berpencar untuk mengumpulkan informasi, semua orang akhirnya kembali berkumpul di tempat yang sama dengan sebelumnya.


Anzu dengan lantang bertanya pada semua orang, yang kemudian dibalas mereka dengan anggukan singkat.


Alan maju selangkah dan menjelaskan situasinya pada Anzu. "Aku yakin kau sudah tahu, tapi kita terjebak di dalam sebuah dungeon. Dan kurasa … Agak mustahil untuk keluar secara normal dari tempat ini."


"Kenapa? " tanya Anzu sambil mengangkat alisnya dengan bingung.


Tapi, jawaban yang ia tunggu itu tidak kunjung keluar dari mulut Alan. Justru, yang menjawabnya adalah suara yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.


"Kita ada di bawah laut."


Anzu sontak menoleh ke belakang, dan menemukan sosok di balik suara itu.


Itu adalah Werli. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apa pun, tapi dia terlihat agak jengkel ketika ia menyingkirkan sebuah rumput laut yang menempel di kepalanya.


Sekujur tubuhnya telah basah karena air, dan tampaknya pakaian yang ia gunakan justru menyerap semua pakaian itu dan membuatnya terlihat sangat berat.


" … Kenapa kau basah kuyup? "


Olivia mencoba bertanya, yang kemudian dibalas Werli dengan wajah jengkel. "Aku mencoba untuk membuat jalan keluar dengan menghancurkan dinding dan langit-langit, tapi itu justru membuat semua air ini muncul. Airnya asin, dan banyak rumput laut, jadi sudah jelas kalau kita sekarang ada di bawah laut ."


"Jadi tidak mungkin untuk membuat jalan keluar, ya … Lalu, apa yang kalian temukan? "


Anzu kembali pada semua orang dan memberikan tatapan penuh pertanyaan.


Mereka, bagaimanapun hanya menghela napas lelah.


"K-kami menemukan tangga menuju bawah, dan melihat beberapa makhluk aneh yang berkeliaran. Kurasa itu adalah monster, tapi monster itu tidak ada di catatan mana pun … Apa yang harus kita lakukan? "


Rias mencoba menjelaskannya sambil berusaha menutupi kegugupannya sendiri dengan membaca dialog yang sudah ia siapkan di buku catatannya.


"Dungeon bawah laut, ya … Dan monster yang belum ada di daftar … Kita bisa asumsikan tempat ini sebagai dungeon yang belum pernah ditemukan," ucap Iris sambil memainkan ujung rambutnya.


Anzu mengangguk dan kembali menoleh pada Rias. "Lalu, apa kau menemukan petunjuk tentang lokasi kasar tempat ini? "


"I-itu … "


Rias tampaknya belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini, jadi ia terus melirik ke segala tempat dengan cemas. Namun, itu hanya sebelum Liscia membantunya.


"Belum, tapi setidaknya kita bisa membuat gambaran kasar kalau kita ada di tempat yang jauh dari kota. Kita ada di bawah laut, dan kau tahu sendiri kalau kondisi wilayah perairan negara ini tidak begitu bagus. Ada banyak monster sehingga tidak ada jalur untuk kapal."


Apa yang Liscia katakan itu memang benar. Begitu banyak bahaya di wilayah perairan, dan begitu sedikit perlawanan yang bisa diberikan. Hal itu menyebabkan minimnya transportasi atau perdagangan lintas lautan. Terlebih lagi, kondisi cuaca yang tidak menentu juga berkontribusi dalam semua kerugian itu.


Wilayah lautan kerajaan ini sangatlah sepi. Dan bahkan jika mereka bisa keluar dengan normal dari dungeon ini, ini tidak seperti mereka akan menemukan petunjuk tentang di mana mereka sekarang.


" … Kurasa kau benar. Kalau begitu, semua sudah diputuskan. Kita akan menjelajah lebih jauh ke dalam dengan tujuan bertemu kembali dengan semua orang. Setelah itu, kita akan mencari cara untuk keluar dari tempat ini. Apa kalian punya pertanyaan? "


Muku mengangkat satu tangannya, dan Anzu langsung menunjuknya. "Apa yang ingin kau tanyakan? "


"Ini tentang penjelasan terakhirmu. Kau berjaya kalau kita akan mencari semua orang. Tapi … Bagaimana caranya? Kita tidak memiliki apa pun yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan mereka yang berada di tempat yang berbeda."


"Tentang itu … "


Sejujurnya, Anzu juga tidak tahu jawabannya.


Dia membuat keputusan itu karena ia yakin kalau Noelle akan melakukan hal yang sama. Dengan asumsi kalau Noelle juga terjebak di tempat ini, maka dia pasti akan masuk lebih dalam dengan cara apa pun.


Tentu saja, Anzu tidak akan mengatakan itu. Dia harus memberi mereka suatu kepastian, sehingga mereka bisa yakin.


Anzu melirik sedikit pada Olivia, yang pada akhirnya direspon Olivia dengan sedikit menghela napas.


Olivia maju selangkah, dan mulai menjelaskan, "Aku memiliki koneksi yang kuat dengan Noelle, jadi aku bisa melacak keberadaannya. Norlle seharusnya juga bisa melacak keberadaanku, jadi kurasa tidak ada masalah. Hanya saja … Koneksi kami tiba-tiba melemah dan membuat deteksi kami menjadi samar … Aku harap kalian mengerti kalau deteksi ini tidak akan begitu akurat."


Olivia terpaksa memberikan kebohongan itu untuk memberikan jawaban yang memuaskan pada semua orang.


Meskipun begitu, kebohongan ini tak bisa dipertahankan untuk waktu yang lama. Jika ia gagal menemukan Noelle tepat pada waktunya, maka semua orang pasti akan menyadari kebohongannya, dan mulai panik.


Konflik internal di tempat yang antah berantah, itu adalah skenario terburuk yang bisa ia pikirkan.


"Kalau begitu–"


Telat sebelum Iris melanjutkan kata-katanya, sebuah guncangan yang cukup kuat muncul.


Tanah, dinding, dan langit-langit seketika mengalami keretakan, dan membuat puing-puing baru berjatuhan.


Pikiran mereka tak sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, mereka sedikit terlambat untuk merespon.


Untungnya, Olivia yang ada di saja telah sadar lebih dulu. Dia menghentakkan kakinya ke tanah, dan menciptakan beberapa pilar es yang menopang langit-langit bersamaan dengan dinding itu.


Di saat itu, ia akhirnya berteriak, "Tempat ini akan segera runtuh! Cepat pergi ke lantai berikutnya! "


Namun, tampaknya semua orang terlalu fokus dengan apa yang terjadi, sehingga tidak mendengar teriakannya.


Olivia hampir saja mendecakkan lidahnya dengan kesal, tapi segera membatalkan niat itu ketika ia akhirnya sadar dengan tindakan apa yang seharusnya ia lakukan.


Olivia mengangkat satu tangannya, dan nerapalkan mantranya. "《Frost Nova》"


Udara dingin seketika menyebar, bersamaan dengan lingkaran sihir raksasa yang tercipta di udara.


Dalam waktu yang sangat singkat itu, seluruh ruangan membeku. Retakan dan puing-puing batu yang berjatuhan seketika berhenti ketika ditopang oleh pilar es yang tiba-tiba muncul.


"Aku tidak bisa menahannya untuk waktu yang lama karena guncangan ini terus memaksa menerobos. Gunakan waktu ini untuk pergi ke lantai berikutnya! "


Berkat informasi yang semua orang berikan, Olivia akhirnya memahami struktur tempat ini.


Dia masih belum tahu ada berapa banyak lantai yang dimiliki dungeon ini. Tapi, jika ia bisa membawa semua orang turun ke bawah, mungkin situasi akan menjadi sedikit lebih tenang.


Bagaimanapun, sampai sekarang dungeon masih menjadi misteri. Struktur yang tingkat kemunculannya cukup rendah ini masih belum banyak diketahui latar belakangnya. Setidaknya, sejauh ini sudah ada beberapa informasi tentang dungeon. Di antaranya, setiap dungeon memiliki jumlah lantai yang berbeda, dan memiliki jenis yang berbeda pula setiap lantainya.


Ini adalah dungeon yang berada di bawah laut, jadi seharusnya struktur di dalamnya juga tidak akan terlalu berbeda. Tapi … Olivia tidak bisa mengatakannya dengan yakin karena ia sendiri tidak begitu mengetahui apa dungeon itu.


Dia akhirnya berlari dan membimbing semua orang menuju tangga yang mengarah ke bawah itu. Hingga akhirnya, semua orang telah sampai ke lantai berikutnya.


Seperti yang ia pikirkan, getaran itu berhenti, dan struktur lantai juga berubah secara drastis.


Jika sebelumnya adalah gua dengan topografi yang aneh, maka tempat ini adalah sebuah lereng dengan kabut tebal melapisinya.


" … Perhatikan langkah kalian," ucap Olivia saat ia berjalan dengan hati-hati melewati akar pohon yang menjalar di tanah.


Tepat di hadapannya adalah sebuah jurang kecil yang cukup dalam, dan untungnya Olivia sudah lebih dulu menyadari itu, jadi dia berhasil menghindari kejatuhan yang menyakitkan.


"Hmm? Apa kalian mencium sesuatu yang aneh? "


Di belakangnya, Iris mengendus dan berkomentar dengan keningnya yang berkerut kesal.


Olivia tidak mengerti maksudnya, tapi secara alami melakukan hal yang sama untuk memastikan. Hasilnya, ia mencium sesuatu.


Baunya harum, dan aroma itu tersebar di semua tempat.


Tombak itu dengan mudah menancap dan menghempaskan kabut yang ada di sana, tetapi kabut dengan mudah kembali berkumpul dan menutupi permukaan.


—Itu sudah cukup, batin Olivia.


Berkat celah yang ia buat sebelumnya, ia berhasil melihat bagaimana penampakan permukaan itu.


Olivia mendarat dengan lembut di tanah dan dengan kuat menggenggam gagang tombak es yang sebelumnya ia tembakkan.


Tombak es itu tercabut, dan Olivia mengayunkannya sekali. Hembusan angin yang tercipta itu terasa sangat dingin dan seperti akan membekukan segalanya hanya dengan hawanya belaka.


"Apa kau menemukan sesuatu? "


Anzu menghampirinya dan bertanya dengan nada yang tersengar sedikit berharap. Bagaimanapun, Olivia hanya mengangguk sambil mengangkat satu tangannya ke atas.


Beberapa tombak es lain mulai memanifestasikan dirinya di udara, kemudian menembakkan diri mereka sendiri ke depan dengan pola garis lurus.


Semua tombak telah menancap dengan aman, dan Olivia langsung berbalik menatap semua orang.


"Aku sudah memeriksa daratan di sini, dan tampaknya tidak ada jurang yang berbahaya. Tapi, ada baiknya untuk berjaga-jaga. Gunakankah tombak-tombak itu sebagai penanda jalan agar kalian tidak melenceng terlalu jauh dari rute aman."


" … Kalian dengar itu? Ayo pergi."


Semua orang tidak begitu beraksi saat Olivia mengatakannya, tapi mereka langsung menurut begitu Anzu turun tangan.


Tepat seperti yang Anzu pikirkan. Olivia memang kuat dan memiliki pemikiran yang tajam, tapi dia bukanlah tipe orang yang bisa memimpin suatu kelompok. Dia tidak memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang pemimpin, mungkin karena ia selalu bersembunyi di balik bayangan sosok Noelle.


Tampaknya Olivia sendiri sadar akan hal itu, tapi ia tak terlihat keberatan. Wajahnya masih datar seperti biasa.


Untuk sekarang, Anzu akan menyimpan masalah ini untuk dirinya sendiri. Kini ia harus fokus dengan apa yang ada.


Anzu mengangguk dan akhirnya berjalan maju mengikuti rute yang telah ditandai dengan tombak es Olivia.


...****************...


"Di mana kita sekarang … "


Setelah sekitar satu jam penelusuran, mereka akhirnya berhenti berjalan.


Kabut tebal yang berbau harum itu masih memenuhi ruang yang mereka tempati, tapi kabut itu menjadi lebih tebal sehingga mereka bahkan tidak bisa melihat anggota tubuh bagian bawah mereka sendiri.


Bau harum yang memabukkan, dan kabut yang membuat mata seolah tak berfungsi. Itu semua bisa menjadi pemicu untuk suatu halusinasi.


Untuk mencegah itu, beberapa dari mereka menggunakan sihir angin dalam upaya untuk menyingkirkan kabut itu, tapi semua sia-sia. Tampaknya kabut tidak lagi terpengaruh dengan hembusan angin yang kencang sekali pun.


Olivia entah bagaimana dapat melihat sedikit, mungkin karena pandangannya yang lebih tajam dibandingkan semua orang.


Berulang kali Olivia sudah mengulangi proses melempar tombak untuk menjadi petunjuk arah, tapi kini tombak-tombak itu sudah tidak dapat dilihat, jadi ini benar-benar jalan buntu.


Bukanlah masalah jika ia terbang sendiri dan mencari jalan keluar, tapi itu justru akan semakin buruk karena ia meninggalkan semua orang di sini.


Olivia hampir saja berpikir untuk meninggalkan semua orang dan memberikan laporan kematian palsu nantinya, tapi ia segera membatalkan niat itu ketika membayangkan Noelle akan kecewa padanya.


Sambil menggelengkan kepalanya, Olivia mulai memikirkan solusi untuk segera keluar dari situasi ini. Dan tepat sebelum ide itu muncul di kepalanya, sesuatu terjadi.


"~~~"


Sebuah suara, atau lebih tepatnya nyanyian yang sangat samar muncul.


"Siapa itu?! "


Iris bersiap dengan cambuknya dan dengan waspada melihat ke sekeliling, tapi tak menemukan apa pun atau siapa pun yang menjadi sumber suara itu.


Semua orang juga sama, mereka bersiap untuk segala sesuatu yang akan terjadi, tapi tak menemukan apa pun sebagai hasilnya.


Suara itu terdengar sangat merdu, tapi juga terdengar cukup samar sehingga siapa pun yang mendengarnya akan berpikir kalau sumber suara itu berada pada jarak yang cukup jauh.


Olivia mengerutkan keningnya dengan tidak senang ketika mendengar suara itu. Berbagai emosi aneh mulai membanjiri hatinya, dan dia sendiri juga berusaha menggali ingatannya tentang suara itu.


Dia seperti pernah mendengar suara itu di suatu tempat, tapi ia tak dapat mengingatnya. Setiap kali ia hampir menemukan petunjuk tentang suara itu, ingatan yang berkaitan dengannya justru akan semakin tenggelam seolah melarikan diri dari genggaman Olivia.


Tak lama kemudian, suara nyanyian itu menghilang, dan digantikan dengan munculnya kilauan cahaya yang bersinar di ujung pandangan.


Kabut yang menutupi tempat itu perlahan menghilang, dan tanah berwarna hitam bercampur merah crimson mulai menampakkan dirinya.


Meskipun begitu, tak ada satu pun yang mempedulikan menghilangnya kabut itu. Mata mereka terfokus pada satu titik, dan titik itulah yang menjadi sumber dari cahaya yang berkilauan itu.


Semua orang terdiam, seolah terhipnotis oleh sinar dewa yang tiba-tiba saja muncuk itu. Namun, Anzu akhirnya sadar.


Dia segera menyipitkan matanya sambil memalingkan wajahnya dari cahaya itu, dan mulai mengambil beberapa butir kelereng dari sakunya.


Bukan berarti cahaya itu memiliki efek yang buruk. Anzu sama sekali tidak merasakan dampak dari kontak dengan cahaya itu. Namun, segala sesuatu yang mencurigakan tak lepas dari resiko bahaya, jadi ia lebih baik mengambil tindakan pengamanan.


Anzu segera melemparkan kelerengnya, dan menciptakan suara gemerincing dengan itu, membuat semua orang sadar.


Olivia menoleh padanya dan mengangguk sedikit sebagai tanda terima kasih, lalu menciptakan sebuah tembok es yang melindungi semua orang dari cahaya itu.


Kelereng yang sebelumnya Anzu lemparkan kini kembali ke tangannya. Saat itu juga, semua orang akhirnya tersadar.


Mereka mempertanyakan apa yang baru saja terjadi, tapi tetap saja tak seorang pun bisa menjawabnya.


Hingga akhirnya, suatu titik pencerahan menghampiri mereka dengan sendirinya.


Tembok es yang Olivia ciptakan menghilang dengan sendirinya, dan tentu saja membuat Olivia terkejut.


Dia mencoba menciptakannya kembali, tapi itu segera menghilang seperti sebelumnya.


"Kenapa?! "


Olivia menghentakkan kakinya ke tanah dalam upayanya untuk memperkuat dinding pembatas itu, tapi semua juga sia-sia.


Sampai akhirnya, Olivia menyerah dan memilih untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Garis-garis cahaya mulai bermunculan, menggeliat layaknya ular dan sangat berantakan seperti kabel. Jumlah mereka tak terhitung banyaknya, tapi setiap jalinan garis cahaya itu memiliki ujung yang saling terkait dengan setiap permukaan dinding yang ada di sekitar.


Garis cahaya itu mungkin hanyalah efek visual yang terlihat nyata karena mereka tidak bisa merasakannya dengan sentuhan, tapi itu saja sudah cukup untuk membuat mereka heran.


Tak ada jejak sihir, tapi garis cahaya itu dengan bebas bergerak sendiri. Apakah seseorang Mengendalikannya? Entahlah. Ini tidak seperti mereka tahu jawabannya.


Olivia sempat heran dan berniat sedikit 'mengacaukan' garis cahaya itu, tapi tampaknya ia kurang cepat dalam bertindak karena garis cahaya mulai menunjukkan tanda akan pergerakan.


Salah satu garis cahaya itu mengangkat dirinya sendiri ke udara, dan membanting dirinya sendiri juga dengan sangat kuat. Hasilnya, sinar yang sangat terang muncul dan membutakan mata semua orang.


Mata Olivia yang masih mengaktifkan pengelihatan malamnya masih sangatlah sensitif dengan cahaya.


Karena Itulah, ketika ia menerima intensitas cahaya sebesar itu secara tiba-tiba, ia hampir saja menghancurkan matanya sendiri.


Namun, lebih dari itu semua, suatu perubahan telah terjadi.


...****************...