![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Bintik-bintik cahaya yang mirip seperti bintang tiba-tiba muncul saat adegan proyeksi ingatan itu berakhir.
Kabut abu-abu tebal yang menutupi kaki mereka perlahan menghilang, digantikan dengan lantai yang terbuat dari marmer putih, sama seperti yang mereka ingat sebelumnya.
Tak lama kemudian, pemandangan telah sepenuhnya berganti. Tidak ada lagi tempat aneh dengan proyeksi ingatan itu. Kini, semua telah kembali Norman.
Olivia melihat ke sekelilingnya, dan menemukan kalau bunga yang tumbuh di setiap sudut itu masih sama seperti sebelumnya, seolah waktu sama sekali tak bergerak semenjak mereka memasuki babak proyeksi.
"Sekarang … "
Iris juga tak tinggal diam. Dia segera berlari keluar dari tempat itu, dan berkeliling, meningkatkan kekuatan deteksinya.
Sementara itu, Olivia yang baru saja memeriksa koneksinya dengan Noelle mendadak menghela napas pasrah. Dia masih belum bisa terhubung dengan Noelle.
Tak lama kemudian, teriakan Iris bergema, membuat mereka tersadar. "Cepat ke sini! "
Olivia dan semua orang segera berlari, menuju tempat di mana Iris berada.
Setelah sampai, betapa terkejutnya mereka karena menemukan sebuah tangga marmer yang muncul di tempat yang sebelumnya kosong.
"Tangganya akan muncul setelah kita menyelesaikan semua proyeksi ingatan itu, ya … "
Usai menyuarakan tebakannya, Olivia langsung berjalan menaiki tangga itu, tangga yang mengarahkannya pada sebuah bangunan marmer raksasa yang melayang di udara.
Di dalam bangunan itu, ada banyak sekali patung dan lukisan. Namun, yang paling menarik perhatian mereka adalah lukisan seorang anak laki-laki berambut putih dengan mata biru yang sangat cerah.
Di lukisan itu, dia sedang berdiri sedikit menyamping, matanya fokus ke depan, seolah menatap semua orang yang melihatnya melalui lukisan itu.
"Siapa dia? "
Olivia mengabaikan pertanyaan yang digumamkan Alan, dan mulai menyelidiki sekelilingnya.
Pada saat ini, dia tidak yakin apakah dia benar-benar sudah keluar dari proyeksi atau tidak. Bisa jadi, dia dan semua orang di sini masih terjebak di ilusi yang sama..
Lukisan itu mungkin bisa menjadi petunjuk, tapi tak ada seorang pun di sana yang memahami maksudnya. Mungkin saja, lukisan itu adalah manifestasi dari ingatan seseorang yang ada di sini.
"Ini aneh … "
Berdiri di paling belakang bergumam sejenak, namun tidak ada seorang pun yang bisa mendengarnya.
Akhirnya, dia secara alami ikut bersama kelompok Anzu untuk menyelidiki patung-patung yang ada di sana.
"Bisikan mereka … Mulai melemah … "
Anzu yang ada di paling depan itu dengan lembut menyentuhkan jarinya di permukaan patung. Seketika, sensasi halus dan berdebu dari patung itu mulai menyebar ke kulitnya.
Di saat yang sama, dia juga mulai merasakan sensasi merinding yang aneh di lehernya. Anzu melepaskan tangannya, dan memegangi lehernya sendiri.
Reaksi tubuh yang keluar tanpa ia sadari itu membuatnya bingung. Anzu sontak melihat ke sekeliling, dan menyadari bahwa Olivia serta Iris sudah menghilang.
" …… "
Interval detak jantungnya mulai mengencang, sementara keringat dingin telah mengalir di tangannya tanpa ia sadari. Wajahnya memucat, dan sensasi dingin yang dirasakan tubuhnya mulai menguat.
Semua orang juga mengalami hal yang sama. Hanya saja, mereka tidak bisa menemukan keanehan apa yang menyebabkan itu.
Anzu melihat ke samping, dan menemukan bahwa sosok bocah laki-laki yang ada di lukisan itu kini tersenyum. Senyum yang menakutkan, disertai dengan mata yang menyipit tajam.
Seketika, suara bising yang entah dari mana asalnya mulai memenuhi telinga mereka.
Kaca yang pecah, garpu dan ujung pisau yang digesekkan ke keramik, dan suara dua logam tajam yang saling bergesekan mulai muncul, membuat semua orang dengan raut kesakitan langsung menutup telinga mereka.
Setelah beberpa saat, suara itu akhirnya mereda. Telinga mereka yang masih sedikit sakit itu perlahan-lahan mulai pulih.
Di saat itu, beberapa orang yang sudah lebih dulu pulih langsung berkeliling dan mencari petunjuk tentang keberadaan Olivia dan Iris.
Namun, pada akhirnya, mereka tidak menemukan petunjuk apa pun.
Satu-satunya hal yang bisa mereka jadikan sebagai dasar untuk petunjuk itu adalah lokasi terakhir Olivia dan Iris.
Saat itu Olivia dan Iris benar-benar terpisah dari semua orang, dan menyelidiki tempat itu sendiri, jadi tidak ada yang tahu pasti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua.
Tim pencarian dibentuk dengan memecah semua orang menjadi dua kelompok. Kemudian, mereka semua berpencar, masing-masing menuju tempat terakhir Olivia dan Iris.
Lokasi terakhir Olivia adalah sebuah altar dengan banyak patung manusia yang memegang cermin di tangannya, sementara Iris sebelumnya berada di sebuah tempat yang dikelilingi oleh banyak sekali patung manusia dengan anatomi hewan.
Anzu memimpin kelompok yang memeriksa tempat Olivia, dan menemukan ada beberapa kalimat yang diukir di atas batu. Kalimat itu diukir menggunakan bahasa Minerva kuno, yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi alam atau lingkungan sekitarnya.
Awalnya Anzu tidak berani membaca kalimat itu, tapi ia segera berubah pikiran. Jika ini adalah satu-satunya petunjuk, maka dia harus memeriksanya lebih dalam lagi.
"'Dunia cermin yang indah, menyesatkan pengelana, yang memberikan mimpi indah'."
Setelah membaca kalimat itu, sebuah cermin raksasa dengan banyak sekali energi sihir terpancar pada bagian tengahnya tiba-tiba muncul. Seketika, sosok Olivia yang berambut perak itu keluar dari sana, dalam keadaan pingsan.
Olivia dengan lembut terjatuh ke lantai, dan cermin yang menjebaknya sebelumnya itu langsung pecah menjadi kepingan cahaya yang menyilaukan.
Olivia yang terbaring di lantai sedikit membuka matanya, dan langsung tersadar.
"Aku … Sudah bebas …? "
Matanya tidak fokus, dan dia masih sedikit bingung. Tapi, begitu melihat Anzu dan yang lainnya, Olivia entah bagaimana merasa lega.
Anzu mendekat dan berjongkok, membantunya bangkit dari posisinya. "Apa yang terjadi padamu? "
Dahinya berkedut sejenak, tapi tak ada respon berlebihan yang Olivia tunjukkan. Dia hanya memalingkan wajahnya sedikit, dan bergumam, "Aku … Tidak ingat. Aku mungkin akan ingat sesuatu nanti."
" ……… "
...****************...
Di sisi lain, Alan memimpin kelompok yang bertugas menemukan Iris.
Tempat ini tidak begitu besar, jadi pencarian seharusnya bisa dilakukan dengan cepat. Namun, rasanya Alan dan kelompoknya hanya berputar di tempat ini, tidak menemukan petunjuk apa pun.
"Kota sudah memeriksa tempat ini sebanyak dua kali, tapi … "
Liscia menghela napasnya dengan pasrah saat dia melihat ke arah patung-patung yang tampaknya diposisikan secara acak itu.
Masing-masing patung memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, kebanyakan darinya adalah manusia berkepala hewan, dengan anatomi hewan tambahan pada tubuh mereka.
Posenya juga beragam, dan mereka ditempatkan secara berbaris.
Sekilas, hampir tak ada yang aneh dengan ini. Namun, Alan, yang sudah mengamati tempat ini untuk waktu yang cukup lama menemukan suatu masalah.
"Patung-patung ini … Tidak ditempatkan secara acak."
Usai mengatakan itu, dia pun mulai berjalan ke arah lain, mencoba untuk melihat barisan patung dari sudut pandang yang berbeda.
Hasilnya, seperti yang ia duga.
Jika ia melihat patung-patung itu dengan perspektif yang berbeda, maka semua patung akan menghasilkan bentuk seperti simbol atau suatu huruf.
Alan mulai memeriksa ingatannya, mencari tahu kombinasi yang cocok untuk bentuk yang ia temukan ini; dan akhirnya. dia menemukannya.
Posisi patung-patung itu ditempatkan sedemikian rupa sehingga membentuk pola yang mirip dengan huruf Minerva kuno.
Liscia mengikutinya, dan langsung memahami apa yang dimaksud Alan. Dia langsung mengerutkan keningnya, secara perlahan menguraikan pesan yang disampaikan semua patung itu.
"Tidak, kita tidak seharusnya membaca ini … "
Saat Liscia menggelengkan kepalanya, Alan yang ada di sampingnya berkata, "Tidak masalah jika hanya mengucapkannya dalam hati. Asalkan kau tidak melafalkannya secara langsung, atau meneriakkannya dengan tegas, seharusnya tidak akan ada masalah."
Alan berkata bukan hanya untuk menenangkan Liscia, melainkan juga berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Dia sudah selesai membaca itu, dan menemukan kalau pesannya benar-benar acak, bahkan mungkin tidak berhubungan dengan kondisi Iris.
Waka, yang sejak tadi diam, kemudian membuka mulutnya. "Kurasa kita harus mengucapkannya secara langsung. Mungkin saja Iris menemukan ini lebih dulu, dan membacanya … "
Waka tidak melanjutkan kata-katanya karena ia juga ragu dengan itu. Namun, Alan merespon dengan anggukan singkat. "Aku setuju denganmu. Mungkin saja Iris dipindahkan ke suatu tempat setelah dia membaca kalimat itu. Kalau begitu … Kita hanya bisa mengucapkannya langsung untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi."
Sejujurnya, Alan masih dalam suasana hati yang tidak memungkinkannya untuk berpikir dengan jernih. Itu semua karena yang ia lihat di proyeksi ingatannya sendiri. Ada banyak bagian yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya, namun justru ditampilkan sebagai proyeksi ingatannya.
Setelah beberapa saat hening, Alan kemudian membuka mulutnya. "Bersiaplah untuk yang terburuk. Aku akan membaca kalimat itu."
Liscia dan Waka secara aktif mengangguk, dan langsung melompat mundur. Keduanya telah bersiaga dengan senjata mereka masing-masing, bersiap untuk segala kemungkinan.
Sementara itu, Alan yang sedang menatap barisan patung itu diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya mulai menarik napas panjang.
Menghembuskan napasnya, dia dengan lantang mengucapkan kalimat yang dibentuk dari deretam patung itu.
"'Dunia kabut dan ilusi, yang memerangkap pengelana, yang menyesatkan orang-orang. Memberikan pengetahuan, sekaligus penyesatan'."
Sejenak, tak ada apa pun yang terjadi. Namun, tak lama kemudian, ruang di sekitarnya mulai terdistorsi, menunjukkan celah yang cukup besar di udara.
Energi sihir dalam jumlah besar keluar bersamaan dengan suhu panas yang perlahan menyebar. Setelah itu, sesosok manusia dimuntahkan dari celah, terjatuh dan berguling di lantai dalam keadaan pingsan.
Itu adalah Iris.
Tak lama setelah sosoknya keluar, celah yang terbentuk di udara perlahan mulai menyusut, sebelum akhirnya benar-benar menghilang.
Keheningan kembali melanda, namun keheningan itu seketika dihancurkan oleh Iris yang perlahan bangun.
Iris duduk, memegangi kepalanya dengan bingung. Dia melihat ke arah Alan yang masih waspada padanya, dan Waka bersama Liscia yang masih memegang senjata mereka.
" … Apa yang terjadi? "
Dia benar-benar tidak mengingat apa pun tantang apa yang dia alami.
...****************...
Setelah menemukan Olivia dan Iris, mereka kembali berkumpul, dan berdiskusi tentang bagaimana mereka harus keluar.
Tanpa terasa, sekitar satu jam sudah berlalu.
Akhirnya, mereka menemukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk bagi mereka untuk keluar dari sini.
Itu adalah lambang yang ada di permukaan perisai raksasa yang ada di luar bangunan. Perisai itu dipajang di dinding, sedikit menyentuh langit-langit sehingga mereka secara tidak sadar melewatkannya.
Pada bagian bawah lambang itu, diukirlah sebuah kalimat dalam bahasa Minerva kuno, kalimat yang kemungkinan akan membawa mereka keluar dari tempat ini.
Olivia sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa Minerva kuno, jadi dia hanya bisa diam, menyerahkan masalah ini pada yang lebih memahaminya.
Anzu dan Alan maju, bersiap untuk segala kemungkinan sambil membaca kalimat itu dengan lantang.
" "Engkau yang merupakan penyusup dari dunia luar. Yang menyukai dongeng dan masa lalu." "
Begitu kalimat itu diucapkan, sebuah gerbang raksasa dengan pola dan simbol aneh pada bingkainya tiba-tiba muncul.
Gerbang itu terbuka, menampilkan cahaya dan kabut ilusi yang ada di baliknya.
Sejenak, tak ada yang berkutik di antara mereka. Namun, Iris dan Anzu yang telah lebih dulu sadar langsung bergumam, menyadarkan semua orang.
" … Gerbang roh? "
Lagi-lagi, kalimat yang tidak Olivia mengerti. Dia tidak tahu apa itu Gerbang Roh, dan dia juga tidak tahu apa itu bahasa Minerva kuno. Mendadak dihadapkan pada situasi di mana dia sama sekali tidak memiliki informasi, Olivia langsung disadarkan tentang kelemahannya dalam aspek tersebut.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Olivia langsung mendekat, menyentuhkan jarinya ke cahaya yang keluar dari gerbang itu.
Namun, begitu jarinya bersentuhan langsung dengan cahaya dan kabut ilusi itu, suara yang membisikkan berbagai hal aneh mulai masuk ke telinganya.
Suara mereka benar-benar aneh, memberikan informasi yang acak, dan tidak jelas. Olivia seketika menarik kembali jarinya dan melihat ke sekeliling.
Kecemasan memenuhi raut mukanya, tapi dia langsung tenang saat dia menyadari satu hal.
"Koneksiku dengan Noelle … Mulai pulih! "
Olivia tiba-tiba merasa semangat. Dia tidak mempedulikan semua orang yang ada di sana, dan langsung melompat ke dalam gerbang.
Dia mengabaikan semua bisikan yang masuk, menggunakan harapannya yang ingin dipertemukan kembali dengan Noelle sebagai satu-satunya pegangan untuk menjaga kewarasannya.
Tak lama kemudian, pemandangan sekali lagi berubah.
Dia telah keluar dari tempat aneh dengan banyak cahaya yang menyilaukan dan bisikan itu, lalu mendarat di sebuah tempat yang tidak dia kenal.
Tempat ini, adalah taman bunga dengan kabut abu-abu tebal menutupinya.
Hal pertama yang Olivia lakukan setelah sadar adalah memeriksa koneksinya dengan Noelle. Hasilnya, itu stabil! Dia bisa merasakan kehadiran Noelle!
Olivia semakin bersemangat, dia langsung melihat ke sekeliling, dan menemukan beberapa siluet manusia dan satu siluet serigala besar mendekatinya.
Tak perlu melihatnya dengan lebih jelas, Olivia langsung tahu siapa itu.
Tanpa membuang satu pun tarikan napasnya, Olivia langsung melompat, dan mendarat tepat di dada orang yang dia tuju.
Itu adalah Noelle.
Olivia dengan erat memeluknya, dan memastikan kalau kehangatan yang dia rasakan itu bukanlah ilusi.
Dia mendongak ke atas, dan menemukan wajah yang sudah ia rindukan itu sedang tersenyum lembut padanya.
Olivia kembali menenggelamkan wak
jahnya, semakin mempererat pelukannya. Dia benar-benar mengabaikan semua orang yang ada di sekitarnya.
Tepat di belakang, Gerbang Roh itu lagi-lagi memuntahkan orang lain.
Kali ini yang keluar adalah Iris, Anzu dan Alan. Mereka keluar hampir bersamaan, yang kemudian diikuti oleh beberapa orang lainnya.
"Noelle … "
Olivia lagi-lagi mengabaikan mereka, fokus pada sosok yang ada di pelukannya. Dia memejamkan matanya, dan menarik napas panjang sambil perlahan kembali menatap Noelle.
" … Kerja bagus," ucap Noelle.
Dengan sensasi hangat dari sentuhan tangan di pipinya, Olivia segera mengendurkan wajahnya. Dia secara alami tersenyum hangat dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Noelle.
"Nn. Noelle bisa terus memujiku."
...****************...