[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 117: [Asterisk: Countdown] (3)



...****************...


Begitu Noelle membuka mata, pemandangan reruntuhan yang masih sama seperti sebelumnya adalah hal pertama yang menyambutnya.


Tampaknya butuh waktu sekitar 30 detik bagi kristal yang semua anggota Asterisk miliki untuk mengaktifkan sihir teleportasi bersama.


Usai meninggalkan tempat aneh yang dipenuhi dengan kabut itu, Noelle kini dihadapkan oleh ratusan, atau bahkan ribuan pertanyaan yang menyerbu kepalanya.


Begitu banyak yang ingin ia tanyakan tentang Asterisk, tapi untuk saat ini, ia akan mengabaikan itu.


Karena, ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia pastikan.


Noelle segera melompat setinggi mungkin, dan memanfaatkan sihir gravitasi untuk terbang ke arah yang ia inginkan.


Untuk sekarang, ia harus segera kembali ke kota, dan memberikan laporan yang telah ia siapkan sebelumnya, kepada Earl. Lalu, ia akan bertanya pada Olivia tentang apa yang terjadi di sana saat ia pergi.


Berkat koneksi yang ia miliki dengan《Oath of Blood》, Noelle secara alami menyadari kalau ada sesuatu yang salah dengan Olivia saat pertemuan anggota Asterisk masih berlangsung.


Untuk memastikan itu, ia sudah mengirim Colyn dan Tania sebagai bala bantuan, tapi mereka berdua tidak menceritakan apa pun pada Noelle ketika mereka kembali.


Colyn hanya menggelengkan kepalanya dengan lemas sambil mengatakan “Tanyakan itu pada gadis itu.” Sedangkan Tania, ia bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun, dan langsung meminta imbalan dari Noelle.


Sebagai bayaran, Noelle memberikan beberapa kristal sihir dengan tingkat kemurnian yang tinggi pada Tania, dan sebuah bantal malas besar, serta buku tebal berisi ratusan sihir untuk penggunaan sehari-hari pada Colyn.


Noelle hanya mampu tersenyum masam saat mengingat senyum polos yang dibuat Colyn begitu ia menerima bantal baru dari Noelle.


Sambil memikirkan beberapa jawaban singkat mengenai apa yang terjadi hari ini, Noelle dengan cepat terbang dengan sihir gravitasi miliknya, dan segera kembali ke kota.


Berdasarkan posisi matahari, seharusnya ini sudah sekitar pukul 4 atau 5 sore, tapi ia masih belum yakin sepenuhnya karena ia merasa belum pergi selama itu.


Noelle sempat berpikir untuk menemui Cryll lebih dulu, tapi ia segera menolak gagasan itu dan langsung pulang. Lagi pula, ia tidak sempat membuat janji titik kumpul dengan Cryll sebelumnya.


Saat dalam perjalanan udara, Noelle juga mengolah informasi mana saja yang akan ia berikan untuk laporan. Itu sedikit merepotkan karena keberadaan para Asterisk belum boleh dipublikasikan sebelum waktunya.


Walaupun, keberadaan Asterisk sebenarnya sudah diketahui karena ulah seorang gadis tertentu yang dengan mudahnya mendeklarasikan kekuasaannya.


Tak butuh waktu lama hingga Noelle akhirnya bisa melihat pemandangan kota dengan cukup jelas.


Di dalam benteng kota yang tampak kokoh itu, ada banyak kekacauan yang tak pernah Noelle pikirkan sebelumnya.


Beberapa pilar es dan darah masih berdiri menjulang tinggi di area tertentu. Rumah dan banyak bangunan penting yang sebelumnya telah direkonstruksi, kini hancur sepenuhnya tanpa menyisakan apa pun selain puing-puing yang tak berbentuk.


Noelle tidak tahu situasinya, tapi jelas kalau itu sangat buruk.


Berkat penciumannya yang tajam, ia setengah mengerti tentang apa yang terjadi.


Aroma menyengat dari timah panas yang tercampur dengan bubuk mesiu, serta bau manis dari darah yang membeku menjadi sebuah pilar raksasa di sekitar kota.


Hanya dengan itu semua sudah cukup untuk memberi Noelle gambaran kasar tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Noelle segera meningkatkan kecepatannya dan mendarat di sungai yang tak jauh dari kota. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dengan berlari.


Begitu ia sampai, ia semakin dikejutkan dengan pemandangan beberapa mayat prajurit yang masih menggunakan set zirah lengkap di tubuh mereka.


Satu-satunya bekas luka yang menyebabkan kematian mereka hanyalah lubang bekas tembakan yang ada tepat di dahi.


“Luka tembakan … Dan bau mesiu ini … “


Noelle memiliki cukup banyak pengetahuan tentang senjata api, jadi ia juga cukup akrab dengan aroma dari bubuk mesiu.


Meskipun begitu, Noelle tetap mengerutkan keningnya ketika melihat bekas tembakan itu. Bagaimana tidak, ia benar-benar tidak pernah menduga kalau akan ada musuh yang menyerang menggunakan senjata api.


Noelle mencoba menggeledah mayat itu, dan mengambil salah satu peluru yang menancap di tanah tempat mayat itu berada.


Peluru yang dia temukan adalah peluru dengan ujung tajam. Bagian ujung pada peluru itu sudah sedikit datar karena hantaman dari zirah logam yang keras, tapi tetap saja Noelle masih bisa melihat bentuk sejatinya dengan cukup jelas.


“Peluru penetrasi, ya … Ini pasti berasal dari senapan laras panjang.”


Di pikirannya, ia secara otomatis memilah dan menebak jenis senjata yang digunakan pelaku untuk melakukan penyerangan ini. Walaupun, itu sebenarnya adalah tindakan yang tidak berguna.


Saat Noelle sedang tenggelam dalam pikirannya, beberapa hawa keberadaan yang cukup kuat mendekatinya dengan berlari.


“Noelle.”


Olivia mendekatinya dengan wajah yang menunjukkan ekspresi khawatir.


Noelle mengerutkan keningnya dan memperhatikan sekitar. Selain Olivia, hanya Chloe dan Stella, serta Brackas yang mendatanginya.


Secara alami, Noelle menyadari sesuatu yang kurang.


“Di mana Charl? “


Olivia dengan murung menggelengkan kepalanya, lalu mengatakan, “Akan kuceritakan apa yang terjadi nanti. Untuk sekarang, Noelle harus bertemu dengan Earl untuk mengkonfirmasi beberapa hal.”


Memiringkan kepalanya dengan bingung, Noelle kemudian berjalan mengikuti Olivia dari belakang, sambil merasakan suasana penuh kecemasan yang berasal dari semua orang.


“Umm … “


Stella mendekatinya dan menarik lengan bajunya sedikit, lalu bertanya dengan ekspresi khawatir di wajahnya.


“Di mana … Cryll? “


“Eh? “


Pertanyaan yang diajukan Stella itu sangat tidak terduga, bahkan bagi Noelle. Awalnya Noelle mengira kalau Cryll mungkin sudah kembali lebih dulu ke kota, tapi melihat dari bagaimana Stella bertanya padanya, jelas kalau ia belum kembali.


Secara otomatis, Noelle langsung berpikir kalau Cryll juga dibawa ke suatu tempat yang penuh kabut seperti dirinya, tapi ia segera menghapus pikiran itu.


Noelle pergi lebih lama karena ada pertemuan dengan para anggota Asterisk, tapi jika ia tidak mengalami itu, ia mungkin akan kembali lebih cepat. Begitu juga dengan Cryll.


Cryll seharusnya sudah kembali lebih dulu karena tidak ada sesuatu yang penting di reruntuhan tempat penyelidikan mereka, sehingga mereka bisa kembali lebih awal untuk memberikan laporan.


Noelle mengerutkan keningnya saat memikirkan itu.


“Ayo kita temui Earl lebih dulu. Mungkin ia tahu sesuatu.”


Stella hanya bisa mengangguk dengan murung atas usulan Noelle.


...****************...


Setelah melewati semua prosedur darurat resmi untuk bertemu dengan Earl, Noelle tanpa berbasa-basi langsung bertanya padanya. Di belakangnya, Olivia dan Stella masih menunggunya selesai dengan khawatir.


Chloe tidak ikut karena ia harus merawat Levina yang jatuh pingsan saat melepaskan semua kekuatannya sebelumnya. Ada banyak yang ingin Noelle tanyakan tentang sosok Levina, tapi untuk saat ini, ia akan mengabaikannya.


“Bahkan jika kau bertanya padaku … Tidak mungkin aku tahu.”


Earl menjawab pertanyaan Noelle dengan nada rendah dan wajah lelah yang sangat jelas.


Wajar saja, kota yang berada di naungannya telah dihancurkan tepat setelah insiden penyerbuan monster, sekaligus kudeta yang terjadi beberapa hari yang lalu.


Tidak mungkin dia tidak merasa pusing setelah mengalami insiden beruntun ini.


Noelle hanya mampu menghela napas pasrah dan turut berduka untuknya.


“ … Berapa banyak yang mati? “


“Belum bisa dipastikan. Kemungkinan, lebih dari 300 orang tewas saat pilar es itu bermunculan.”


Earl menjawab pertanyaan Noelle dengan cepat. Jumlah korban itu masih terbilang sedikit untuk serangan berskala besar yang muncul secara tiba-tiba. Tapi, tetap saja tak dapat dipungkiri kalau ada banyak yang mati.


Sementara mengagumi bagaimana kecepatan proses evakuasi sehingga jumlah korban dapat diminimalisir, Noelle memikirkan beberapa hal terkait pilar-pilar es yang bermunculan itu.


“ … Hei … Siapa pelaku penyerangan kali ini? “


“ … Dia menyebut dirinya sebagai [Archon] ke-delapan, Nix Regina. Senjata pembunuh dewa yang diciptakan oleh orang yang disebut ‘Iza’.”


Dahi Noelle berkedut. Untungnya, ia berhasil menahan otot-otot wajahnya dan mempertahankan ekspresi datar.


“Selebihnya, kau bisa tanyakan padanya,” ucap Earl sambil menunjuk Olivia yang berdiri di belakang Noelle.


Olivia menunduk dengan murung saat ditunjuk. Noelle tidak mengerti, tapi ia secara alami tahu kalau ini ada kaitannya dengan Olivia.


“Lalu, ada sedikit kabar buruk untuk kalian.”


“Apa itu? “


Earl kemudian mengeluarkan sebuah lempengan logam berukuran genggaman dengan pola lingkaran sihir berwarna merah di bagian tengahnya.


“Beberapa saat yang lalu, seseorang yang menyebut dirinya sebagai Nuko tiba-tiba saja muncul di sini dan memberikan benda ini padaku.”


Noelle menerima lempengan logam itu dan memperhatikan setiap ciri yang ada pada lingkaran sihir.


Baik pola, maupun huruf sigilnya disusun dengan cara yang aneh, itu membuat Noelle tak dapat membaca dan menganalisis isinya.


“Dia mengatakan kalau ini adalah alat perekam. Kau bisa mengaktifkannya dengan menuangkan sihirmu ke lingkaran sihir itu. Aku sudah menonton isinya lebih dulu tadi, jadi kalian bisa langsung melihatnya.”


Noelle tanpa mengatakan apa pun lagi langsung menuangkan energi sihirnya ke pola lingkaran sihir yang kemudian bersinar dengan cahaya samar.


Sebuah layar hologram yang cukup akrab di mata mereka tiba-tiba muncul di hadapan semua orang, dan menunjukkan pemandangan yang sedikit mengejutkan dari sana.


Di layar itu, ada Cryll yang duduk dengan tubuh terikat tali logam, dan dikelilingi oleh puluhan tombak tajam yang tumbuh dari tanah.


“Cryll! “


Stella secara refleks bergerak untuk mencapai layar itu, tapi segera dihentikan oleh Olivia yang juga menonton layar itu dengan kening yang mengerut.


Tak lama kemudian, suara muncul dari layar itu dan membuat semua orang langsung fokus padanya.


『Hmm … Apa ini sudah menyala? Kalau begitu … 』


Seorang pria dengan tubuh yang ditutupi oleh jubah panjang tiba-tiba muncul di layar. Wajahnya tidak dapat dilihat karena ditutupi oleh jubah, tapi Noelle samar² mengetahui paras wajahnya.


『Langsung saja ke intinya. Kami sudah memiliki sandera bersama kami, dan bukan hanya dia, tapi kami juga sudah menyandera semua orang yang kalian sembunyikan di bawah tanah. Patuhi perintah, dan kabulkan keinginan kami, atau tubuh semua orang akan meledak. Batas waktunya adalah tiga hari, dan dua malam.』


Pria itu mengayunkan lengannya, kemudian melanjutkan,『Jangan membenci kami atas apa yang terjadi. Ini adalah penebusan dosa untuk kalian semua.』


“Omong kosong apa yang dia bicarakan.”


Noelle mengatakan itu sambil mengerutkan keningnya.


『Ahh, satu hal lagi. Karena tampaknya ini masih kurang untuk menghukum kalian semua, setiap satu jam, akan ada sekitar 10 orang dari wargamu yang akan mati.』


Dengan begitu, layar hologram itu menghilang, dan lempengan logam yang menjadi sumbernya segera berhenti bersinar.


“Cryll … “


Hanya ada suara penuh kecemasan dari Stella yang mengisi ruangan itu.


Noelle berpikir sejenak, lalu berusaha menenangkan Stella dengan informasi yang ia temukan saat menonton rekaman itu.


“Yahh, setidaknya Cryll akan baik-baik saja.”


“Eh? “


Stella menatapnya dengan bingung. Melihat itu, Noelle tersenyum masam.


“Apa kau benar- benar tidak melihat kode yang Cryll sampaikan tadi? “


“Tapi … Cryll tidak melakukan apa pun … “


Memang terlihat seperti itu awalnya. Tapi, jika ia memfokuskan pandangannya lebih jauh lagi, ia dapat melihat berbagai gerakan mikro yang dilakukan Cryll. Dengan iseng, Noelle mencoba menyampaikan isi pesan yang ia lihat itu secara bertahap pada Stella.


“Selama rekaman tadi, Cryll mengetuk lantai dengan jarinya berdasarkan pola dan ritme tertentu.”


Namun, yang menjawab tebakannya bukanlah Stella, melainkan Olivia yang sudah maju dan berdiri di sampingnya.


“Kode morse.”


Noelle tersenyum masam, dan melanjutkan, “Itu benar. Dia mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja.”


Meskipun ekspresi cemas belum sepenuhnya terhapus dari wajahnya, Stella sudah jauh lebih tenang karena penjelasan Noelle.


“Nah, daripada itu … Apa yang dia maksud dengan ‘penebusan dosa’ tadi, apa kau tahu sesuatu? Tidak, kau pasti tahu sesuatu.“


Noelle bertanya pada Earl, tapi dia tidak terlihat akan menjawab apa pun. Itu membuat Noelle secara alami mengerutkan keningnya karena kesal.


...****************...