![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Puncak Kuil Gunung Suci Haten.
Asher dengan tenang mendorong kursi roda yang diduduki Leticia, sambil ditemani angin lembut yang menerpa wajah mereka.
Setelah mencapai posisi yang sempurna, Asher berhenti mendorong, dan berdiri tepat di sampingnya.
"Angin hari ini benar-benar menenangkan …. Apa kamu menyukainya juga? "
Leticia yang matanya terpejam menoleh ke samping, lalu mendongak dan 'melihat' tepat pada wajah Asher.
" … Ya."
Jawabannya agak dingin, tapi itu sudah cukup bagi Leticia.
Gadis itu tersenyum lembut, dan kembali mengarahkan wajahnya ke depan sambil bersenandung kecil.
Segala urusan yang melibatkan posisinya sebagai seorang Saint sangatlah melelahkan, dan hanya di saat seperti inilah Leticia bisa merasakan ketenangan.
Hanya beberapa detik kemudian, Leticia sudah mengangkat tangannya sedikit, melambai-lambai ke samping seolah ingin menggapai sesuatu.
Tak perlu dikatakan, Asher sudah memahami keinginannya. Dia langsung menangkap tangan Leticia, dan menggenggamnya dengan erat. Saat itulah senyum cerah akhirnya mekar di wajah Leticia.
Dia tidak mengatakan apa pun, dan memperkuat genggamannya pada tangan Asher.
Sementara itu, Asher sendiri sedang dibanjiri oleh berbagai pikiran.
Dia sudah mendapatkan laporan dari Souris bahwa misinyabtelah berhasil dilaksanakan. Dan kini, Asterisk resmi memiliki tiga orang anggota bawahan.
Hanya lima orang tersisa, dan dua berada di bawah tanggung jawabnya.
Sebenarnya, dia bertanggung jawab atas tiga orang, tapi karena dia bersikeras untuk tidak melibatkan Saint Leticia, jumlahnya diturunkan menjadi dua meski itu hanya untuk sementara.
Dia ingin segera mencari Dolca dan Fitz Walstein. Namun, posisinya tidak memberinya kebebasan untuk bergerak di luar gereja.
Dia harus berada di sisi Saint Leticia nyaris dua puluh empat jam.
Karena itulah, Asher sampai saat ini masih kebingungan dengan bagaimana dia harus menghubungi kedua target. Terlebih lagi, yang bernama Dolca itu sepertinya lebih merepotkan.
Fitz Walstein tidak akan menjadi masalah besar karena nama keluarga bisa langsung diselidiki, namun ada lebih dari seribu orang yang memakai nama Dolca di Kawasan Netral Elfrieden. Ini membuat pencarian lebih merepotkan.
Setidaknya dia tahu kalau Dolca adalah orang dari suku asli yang menempati bagian selatan dari Kawasan Netral Elfrieden. Lebih dari setengah jumlah awal telah disingkirkan saat fakta itu terkuak, dan kini Asher hanya perlu menjalankan sistem seleksi.
Semua akan mudah jika dia memiliki banyak waktu luang, tapi sepertinya sia-sia untuk memikirkannya.
Bukan berarti Asher tidak senang dengan tuntutan pekerjaan ini. Justru sebaliknya. Dia merasa lega karena bisa menemani dan mengawasi Leticia setiap saat.
Tapi karena itu juga kesempatannya untuk menghubungi target jadi sangat berkurang.
Kini dia benar-benar kagum pada Souris Noelle yang berhasil mengumpulkan ketiga target hanya dalam waktu kurang dari satu minggu.
(Seandainya aku punya waktu untuk berkeliaran seperti dia.)
Asher menggeleng pelan, dan mulai mengingat-ingat jadwalnya.
Ada beberapa hari di mana dia tidak bertugas. Namun bahkan pada saat seperti itu dia masih harus menemani Leticia.
Namun, jika diingat lagi, Asher sebenarnya memiliki tugas ekspedisi yang akan dijalankan tiga hari lagi. Itu adalah tugas yang mengharuskannya untuk pergi dari gereja, dan melakukan inspeksi di area-area tertentu.
Yang artinya, dia berkesempatan untuk mencari keberadaan Dolca atau Fitz Walstein.
Tugas ekspedisi paling lama hanya akan memakan waktu satu setengah minggu. Itu berarti dia harus menyelesaikan pencarian Fitz Walstein dan Dolca dalam waktu itu.
Itu akan sulit, karena dia juga harus menyelesaikan pekerjaannya sebagai Kesatria Templar.
Tapi tentu saja, dia hanya perlu memotong waktu untuk istirahat.
Saat Asher mulai memikirkan rencana untuk menemukan Fitz Walstein dan Dolca, dia bisa merasakan genggaman pada tangannya menjadi semakin erat.
Asher untuk sementara menyingkirkan semua pikirannya, dan menoleh pada Leticia.
"Hei, Asher. Apa kamu sedang memikirkan sesuatu? "
" ………."
Asher menyipitkan matanya sedikit saat dia merasakan sedikit penyesalan karena membiarkan beban pikirannya terungkap.
"Aku baik-baik saha. Hanya sedang mengatur jadwal untuk tugas ekspedisiku," jawabnya.
Lebih dari apa pun, Asher tidak ingin membuat Leticia khawatir. Karena itulah, dia akan memberikan sedikit kebohongan padanya.
Atas jawaban itu, respon pertama yang Leticia berikan padanya adalah kerutan di dahi.
"Kamu sama sekali tidak pandai berbohong."
Suaranya mengandung kekesalan yang bisa dengan jelas Asher rasakan. Meski begitu, Asher tak mengatakan apa pun. Dia sudah memutuskan untuk tidak melibatkan Leticia pada apa pun yang berkaitan dengan Asterisk.
Dengan matanya yang tertutup, Leticia kembali menoleh ke arahnya.
"Tolong berceritalah ketika kamu punya masalah."
—"Karena bagaimanapun juga, kita adalah keluarga." adalah apa yang ingin diucapkan Leticia. Namun, kata-kata itu tercekat di tenggorokannya, membuatnya hanya bisa menyelesaikan setengah dari kalimat yang ingin ia keluarkan.
Leticia menurunkan alisnya dengan kecewa, bertanya-tanya kenapa dia tiba-tiba tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Pada akhirnya Leticia kembali seperti semula, dengan ekspresi kebingungan di wajahnya. Melihat itu, Asher justru tersenyum lembut, dan meremas tangan Leticia yang masih di genggamannya.
Apa pun akan ia lakukan untuk melindungi sosok rapuh ini. Namun, apa dia benar-benar bisa melakukannya? Pada saat ini, Asher dibanjiri oleh rasa ragu yang amat kuat.
Pada saat yang sama dia juga mulai bertanya-tanya mengapa Leticia justru menjadi kandidat untuk anggota bawahan. Apakah dia memiliki peran di masa depan?
Bagaimanapun juga, Asterisk sepertinya membantu tiap anggotanya untuk menghindari skenario yang tak diinginkan dalam hidup mereka.
Tapi jika Leticia sampai menjadi kandidat? Apa yang akan terjadi di masa depan?
...****************...
Hampir dua jam berlalu saat Asher dan Leticia menikmati angin dan sinar matahari sore di puncak Kuil Gunung Suci Haten.
Tak terasa waktu telah berjalan begitu lama sehingga rasanya sangat tidak nyata.
Dari belakang, seorang pelayan wanita datang.
Asher sontak berbalik dan melihat ke arahnya, bertanya-tanya apa yang dia lakukan.
Setelah mencapai jarak yang cukup dekat dengan Asher dan Leticia, pelayan itu membungkuk.
"Tuan Asher, Anda diminta untuk segera menghadiri rapat. Ini perintah dari 'Dewan Dua Belas Cahaya'."
Dewan Dua Belas Cahaya adalah sebutan untuk tingkatan tertinggi kedua setelah Saint di dalam Gereja Dewi Lumine. Jika Saint tidak ada, maka kekuasaan sepenuhnya berada di tangan mereka.
Namun sekarang, Dewan Dua Belas Cahaya hanya akan muncul jika ada sesuatu yang mendesak, atau seperti saat mereka harus menyebarkan 'pesan Tuhan' yang Saint terima dalam doanya.
Sangat jarang bagi Dewan Dua Belas Cahaya untuk muncul dan mengadakan rapat seperti ini.
"Rapat apa? "
Asher sendiri tidak tahu apa pun tentang rapat yang akan dilaksanakan ini. Dia mencoba mengingat, tapi memang tidak ada rapat yang dijadwalkan untuk hari ini.
Tanpa mengangkat punggungnya, pelayan itu kembali berbicara, "Mohon maaf, tapi rapatnya memang diselenggarakan secara mendadak. Ada masalah mendesak yang menuntut kehadiran semua eksekutif sekarang juga."
Asher memang termasuk dalam jajaran eksekutif, tapi jika ada suatu masalah yang mengharuskan semua eksekutif untuk hadir, maka ini pasti sudah menjadi masalah yang sangat serius.
Rapat yang diadakan secara mendadak oleh Dewan Dua Belas Cahaya, dan menuntut kehadiran setiap eksekutif.
Masalah apa yang sebenarnya terjadi? Asher. sontak mengerutkan keningnya.
Di sampingnya, Leticia juga memahami keseriusan dalam situasi ini, jadi dia menunjukkan wajah khawatir pada Asher.
Asher merasakan kecemasan itu, dan berusaha menenangkannya dengan meremas erat tangan Leticia. Dia pun kembali menoleh pada pelayan itu.
"Apa Saint juga harus hadir? "
Kali ini, pelayan itu mengangkat punggungnya, dan tersenyum pada Asher.
"Yang Mulia masih harus bersiap untuk perjalanan menghadiri gereja cabang, jadi beliau tidak perlu hadir dalam rapat. Anda bisa menyusulnya setelah rapat selesai. Kereta tidak akan berangkat tanpa kehadiran Anda, Tuan."
Asher merasa keberatan, karena terlalu berbahaya untuk membiarkan Leticia sendirian. Namun, keraguannya seketika dipatahkan saat ia melihat wajah Leticia yang tersenyum padanya.
"Pergilah, dan segera kembali padaku setelah pekerjaanmu selesai," ucap Leticia dengan senyum lembut, lalu mengecup tangan Asher yang masih memegang tangannya.
...****************...
Distrik militer Republik.
Damian duduk di belakang mejanya, dengan tatapan yang jelas sekali tidak fokus pada berkas di hadapannya.
Ada sangat banyak hal yang harus dipikirkan, sehingga dia bingung harus memikirkan yang mana terlebih dahulu.
Sementara tatapannya kabur, waktu terus bergerak.
Laporan dari Souris membuatnya cukup terguncang.
Mengesampingkan kecepatan kerjanya, Damian benar-benar terkejut saat mendapatkan kabar lain di hari yang sama dengan datangnya laporan dari Souris.
Nantz sil Grandbell telah mati. Itulah judul berita paling hangat di kalangan pejabat rakyat dan pejabat militer Republik.
Meski dia sudah menduga ini, dia masih kesulitan menerima faktanya.
Nantz sama sekali tidak mati. Dia memalsukan kematiannya, dan direkrut oleh Noelle untuk menjadi anggota bawahan Asterisk.
Itu berarti laporan mengenai kematian Nantz sil Grandbell adalah kebohongan belaka. Namun, mayat dia dan pelayannya sudah ditemukan, membuat Damian semakin ragu lagi.
Apakah mayat yang ditemukan itu milik orang lain? Lalu bagaimana Souris Noelle bisa mengubah wujud dari mayat itu semirip mungkin dengan Nantz dan pelayannya Robert.
Damian menggelengkan kepalanya, menganggap itu sebagai hak yang tidak penting untuk dipikirkan.
Bagaimanapun, dia pernah melihat Souris mengubah penampilannya sendiri. Tentu saja wajar jika dia bisa mengubah wujud dan penampilan orang lain.
Sekarang semuanya sudah jelas.
Nantz sil Grandbell yang direkrut untuk menjadi anggota bawahan Asterisk itu adalah orang yang sama dengan yang Damian kenal. Dia tidak memilih untuk mengambil tugas mendekati Nantz karena Souris telah merebut tugas itu lebih dulu. Tapi mengetahui faktanya sendiri, membuat Damian sedikit kesal.
Keluarga Grandbell adalah monster politik yang sangat berpengaruh dalam keutuhan Republik. Dengan satu-satunya anggota dari keluarga itu dinyatakan tewas, maka tidak akan ada lagi orang yang bisa diandalkan dalam menyelesaikan pekerjaan yang sangat penting.
Sosoknya sangatlah berharga bagi Republik, namun apa boleh buat takdir mengharuskannya untuk bergabung dengan Asterisk.
Meski berpikir kalau itu tidak ada salahnya, Damian tetap menganggap kalau ini adalah sebuah kesalahan. Pasti ada cara lain yang bisa dilakukan untuk merekrut Nantz.
Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Nantz harus mati dalam skenario yang Souris—Noah Ashrain buat?
Terlebih lagi, tidak hanya Nantz dan pelayannya. Dia juga sudah melakukan penyelidikan yang mendalam, dan mendapatkan informasi bahwa seorang anggota gereja bernama Noah Ashrain juga telah dinyatakan tewas dalam sebuah pertarungan.
Skenario yang Noah buat benar-benar tidak bisa dimengerti Damian. Apa yang menjadi tujuannya? Apa yang sebenarnya terjadk sehingga dia harus memalsukan kematian Nantz dan membunuh identitasnya sendiri sebagai Noah?
Memikirkan jawaban yang tidak ada jawabannya hanya akan membuatnya pusing. Dia sudah tidak ada hubungan apa pun lagi setelah membuatkan Souris identitas baru sebagai Noah Ashrain.
Seseorang juga sudah dikirim untuk menggantikan Nantz dalam negosiasi dengan beberapa negara tetangga.
Damian menyingkirkan beberapa lembar kertas yang terkait dengan kematian Nantz, lalu mulai melihat ke lembaran lain.
Di sana tertera sebuah surat identitas seseorang bernama Wilbert.
Dia adalah orang lain yang menjadi kandidat perekrutan Asterisk.
Selama beberapa terakhir, Damian telah menyelidiki tentangnya. Dan dia secara tak terduga menemukan fakta lain.
Wilbert memiliki nama keluarga, tapi saat rincian mengenai Wilbert muncul di kepala setiap anggota Asterisk, dia hanya memiliki nama Wilbert saja, tanpa ada nama keluarga.
Damian juga baru mengetahuinya setelah ia memeriksa berulang kali bahwa Wilbert yang ia temukan adalah orang yang benar.
Masalahnya, Wilbert adalah bagian dari keluarga Valayen, sebuah nama yang sangat berbekas dalam diri Damian.
Wilbert Valayen, adalah adik dari Joan Valayen. Usia mereka berbeda dua puluh tahun, jadi wajar bagi Damian untuk tidak menyadarinya.
Namun, nama itu … dia benar-benar tidak menduga akan melihatnya lagi di sini.
Joan, adalah satu dari tiga mantan rekan Damian yang telah gugur karena mengorbankan hidup mereka untuknya.
...****************...
Kejadian itu berlangsung sekitar dua puluh empat tahun yang lalu, sebelum dia mendapatkan keabadian.
"Dan begitulah, misi kali ini cukup sederhana, tapi memiliki resiko yang tinggi. Aku ingin semua orang berhati-hati."
Misi yang sederhana, namun beresiko tinggi. Begitulah mereka menyebutnya. Dan meski mengetahui itu, mereka tetap melaksanakannya.
Karena ini adalah perintah.
Demi kedamaian negara, seorang tentara harus mematuhi perintah dari negara mereka.
Karena itulah, tim Damian, yang terdiri dari delapan belas orang termasuk dirinya, dengan senang hati menerima perintah itu.
Resikonya masih belum diketahui seberapa tinggi, tapi sudah pasti ini berbahaya.
Beberapa hari yang lalu, markas mendapatkan informasi dari seorang agen daerah. Informasi dari laporannya berisi mengenai kegiatan mencurigakan apa saja yang akan dilakukan oleh warga dari sebuah desa.
Desa yang dia awasi, adalah desa yang cukup damai dan tentram. Nyaris tidak memiliki masalah, setiap penduduknya hidup berkecukupan.
Namun, semua berubah saat beberapa pedagang keliling datang dan memperkenalkan sebuah ajaran baru pada mereka.
Tak dijelaskan ajaran apa yang dimaksud, tapi dapat disimpulkan kalau itu adalah ajaran dari suatu agama yang belum diketahui, atau masih asing di telinga orang.
Agen melaporkan bahwa ada gerak-gerik mencurigakan di desa itu. Dan ketika dia menyelinap, barulah dia sadar akan apa yang terjadi.
Ajaran yang mempengaruhi para warga desa itu membuat mereka semua mengatur jadwal, untuk melaksanakan sebuah ritual doa pada dewa yang mereka sembah.
Biarpun Republik sedikit tertutup dan rasis, mereka masih menerima agama lain yang disebar. Namun, itu hanya sebatas pada 'ajaran yang masuk akal'.
Ritual doa yang dilaporkan itu mengharuskan para warga desa untuk mengorbankan setengah dari hewan ternak mereka, beserta satu bayi laki-laki yang baru saja lahir.
Setiap anggota tubuh dari pengorbanan akan digunakan untuk konsumsi para pelaksana ritual; mulai dari darah, tangan dan kaki, tulang, organ dalam, dan beberapa organ eksternal lain yang ada pada tubuh manusia. Tidak ada yang tersisa, karena begitulah cara mereka untuk menghargai pengorbanan.
Jelas, sebuah ritual doa yang mengharuskan pelaksana untuk mengorbankan seorang bayi yang baru lahir itu tidaklah masuk akal. Karena itulah, militer secara resmi menjadikan ini sebagai situasi darurat, dan harus segera menghentikan ritual.
Menghentikan ritual itu adalah misi yang diserahkan pada tim Damian.
Besoknya, Damian dan timnya langsung melakukan perjalanan menuju lokasi, dan bersembunyi di area hutan sampai malam tiba.
Seharusnya ini adalah misi yang diserahkan pada gereja, tapi hubungan gereja dan militer belakangan ini cukup memburuk, sehingga mengharuskan mereka untuk bekerja secara independen.
Awalnya semua berjalan dengan lancar. Damian dan timnya berhasil mencegah ritual untuk dilaksanakan sepenuhnya.
Para peserta itu benar-benar berkepala batu. Meski beberapa dari mereka telah tewas, yang lain akan terus bergerak untuk melakukan ritual.
Bisa dipastikan kalau mereka semua telah kehilangan kendali.
Situasi semakin memburuk saat salah satu dari warga desa yang rupanya seorang penyihir, menembakkan sihir proyektil yang tak terlihat pada tim Damian. Alhasil, beberapa dari mereka dinyatakan tewas seketika karena hantaman pada titik vital.
Dan begitu pula sampai semuanya berakhir. Tim Damian terpaksa melanggar perintah, dan harus membunuh para warga yang semakin liar.
Namun sayangnya, itu sedikit terlambat.
Seorang warga telah menyelesaikan ritual pertama untuk pengorbanan, dan tidak ada cara lagi untuk menghentikannya. Setelah ritual dimulai, mereka hanya bisa melanjutkannya. Jika tidak, lingkaran sihir yang digunakan akan mengamuk dan menyebabkan kekacauan yang amat merusak.
Pertarungan berlangsung dengan cukup sengit, hingga beberapa dari tim Damian tewas.
Pada saat dimulainya ritual, beberapa anggota menyusul ke alam kematian, dan Damian tidak bisa melakukan apa pun selain melihat mereka pergi.
Hanya ada Damian dan tiga temannya yang tersisa. Dan tiga orang itu adalah Joan, Asta, dan Ruka.
Karena ritual yang tak dapat dihentikan, pengorbanan harus dilakukan.
Lingkaran sihir itu akan terus mengamuk sampai pengorbanan secara sukarela dilakukan.
Di situlah, segalanya berubah untuk Damian.
Dengan tubuh kakunya, Damian berdiri diam di tengah lingkaran sihir, sementara tiga temannya masing-masing berdiri agak jauh darinya, dalam posisi melingkar.
Dia tidak ingat dengan apa yang ketiga temannya katakan itu, tetapi dia masih ingat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.
Tepat di hadapan matanya, Joan, Asta dan Ruka melakukan serangan bunuh diri dengan menghunuskan pedang pada jantung mereka sendiri.
Mereka tidak langsung mati, tapi sepertinya ada sesuatu yang tertarik keluar dari ketiganya.
Ketiga rekannya kemudian mati, dan apa yang keluar dari mereka langsung menari di udara, dan masuk ke tubuh Damian seorang.
Saat itulah hidup Damian berubah.
Dia jatuh pingsan, dan terbangun tepat di tengah ketiga rekannya yang tewas.
Dari hal itu, yang paling membuat Damian merasakan kebencian dari kejadian di masa lalu adalah kekuatan untuk menjadi abadi.
Dia tidak mati bahkan setelah jantungnya menerima tusukan. Rasa lapar dan Haus juga sama sekali tidak mempengaruhinya.
Barulah pada saat itu Damian sadar, bahwa dia telah monster yang tak bisa mati.
Meski begitu, dia sepertinya masih bisa mati karena faktor usia. Dia terus menua bahkan sampai sekarang.
Begitu ingatan masa lalu itu melintas di benaknya, Damian langsung menggeleng pelan.
Dia kemudian dengan penuh kerinduan menatap pada nama Valayen, dan siap untuk membalik ke lembaran berikutnya.
Namun, itu tak terjadi.
Sekretarisnya muncul dari balik pintu, dan memberitahunya bahwa ada panggilan darurat.
"Apa yang terjadi? " tanya Damian pada sekretarisnya.
Sekretaris itu terlihat bingung bagaimana harus menjelaskannya, tapi kemudian dia bisa melakukannya tanpa ada kesalahan.
"Itu … ada serangan yang terjadi di sekitar Féncen. Anda diminta untuk hadir dalam pertemuan darurat."
...****************...