[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 188: Clausa Memoria (7)



...****************...


Di sebuah taman yang termasuk area vila, dua orang anak dapat terlihat sedang berlarian dengan ekspresi yang berbeda di wajah mereka.


Yang satu, si gadis kecil, dia memiliki ekspresi ceria saat dia berlari dengan penuh semangat. Satu tangannya diulurkan ke belakang, menyeret seorang anak laki-laki untuk berlari bersamanya.


Sedangkan anak laki-laki itu, wajahnya menunjukkan ekspresi kecemasan yang sangat jelas. Dia terlihat kesulitan dengan betapa bersemangatnya gadis itu. Namun, meskipun begitu, ia tak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya.


Tanpa mengubah ekspresi cemasnya, bocah laki-laki itu bertanya, "Ke mana kita akan pergi? "


Gadis itu—Ayano—tidak memperlambat gerakannya. Dia dengan kelincahan yang tak dapat dibayangkan dari seorang anak terus berlarian di sekitar taman, lalu berputar dan menatap Izaya dengan senyum cerah.


Izaya melebarkan matanya untuk alasan yang dia sendiri tidak tahu. Mungkin, dia merasa kagum dengan keceriaan dan kebebasan yang dimiliki Ayano. Dapat bermain dengan bebas tanpa perlu khawatir akan mendapatkan teguran keras dari seseorang, mungkin itulah yang membuat Izaya merasa kagum padanya.


"Kamu terlihat sedih. Mama bilang, kalau aku melihat anak lain sedih, maka aku harus membantunya! "


Itu konyol, pikir Izaya. Kenapa dia harus ikut campur dalam urusan orang lain?


Izaya tak bergerak dari posisinya. Dia tetap diam, menatap Ayano dengan bingung.


Tak lama kemudian, dia akhirnya mendengar suara langkah kaki yang disertai dengan ketukan dari sebuah tongkat.


Izaya secara refleks melihat ke arah itu, dan menemukan sosok seorang pria dewasa dengan figur wajah yang tegas. Rambut hitamnya yang mulai memutih disisir rapih ke belakang, dan sebuah monocle berbingkai emas dapat terlihat di mata kanannya.


Di tangannya, dia memegang sebuah tongkat kayu hitam yang bertatahkan perak.


" … Stanton … "


Di saat yang bersamaan, ekspresi Oliv8a juga menjadi sedikit terdistorsi. Nama itu jelas membawa kenangan buruk untuknya.


Frederick Stanton, dia adalah salah satu kerabat yang mereka miliki. Salah satu anggota keluarga inti dalam garis hubungan keluarga besar mereka. Secara biologis, dia memiliki hubungan darah yang erat dengan Izaya.


Sosoknya bisa dibilang biasa saja. Jika seseorang mengesampingkan sikap tegas dan terlalu disiplin yang dia miliki, maka dia tidak lebih dari seorang pria pebisnis yang sangat berbakat.


Stanton-lah yang mengatur semua jadwal padat Izaya. Semua diatur agar dia bisa mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki Izaya sejak awal. Dengan begitu, keluarga inti tidak perlu kehilangan seseorang dengan bakat murni lagi.


Dalam proyeksi, Izaya terlihat sedikit ketakutan saat melihat sosok Stanton di ujung pandangannya. Namun, Ayano tak terlihat peduli. Dia menyadari kehadiran Stanton, tapi tak menunjukkan reaksi ketakutan apa pun.


"Ke sini."


Dengan terkikik kecil, Ayano berbisik pada Izaya dan menariknya menuju semak-semak terdekat, membuat tubuh kecil mereka sepenuhnya tersembunyi di balik semak itu.


"Stanton akan menemukan kita."


Wajar baginya untuk merasa takut. Jika Stanton menemukannya, maka dia sudah bisa melihat masa depan di mana dia dikurung di sebuah ruangan kecil selama hampir 24 jam.


Namun, lagi-lagi Ayano menunjukkan senyum cerahnya. "Tidak apa. Paman itu akan menutupi kita."


Tak lama setelah ia mengatakan itu, sepasang sepatu bot yang mengkilat tiba-tiba muncul di samping Izaya.


Izaya dengan sedikit takut melihat ke atas, ke sosok yang menjadi pemilik sepatu bot itu.


Dia adalah seorang pria tua, dengan baju santai dan celana panjang tebal di tubuhnya. Kedua tangannya memegang sebuah gunting besar dengan bekas dedaunan masih menempel di sana.


Izaya mengenal orang itu. Dia adalah salah satu pelayan yang ada di mansion. Dia tidak ingat namanya, tapi dia adalah tukang kebun yang selalu menunjukkan wajah ramah pada semua orang.


Tukang kebun itu memperhatikan keberadaan Izaya dan Ayano, lalu tersenyum hangat sambil melirik pada Stanton.


Tanpa perlu komunikasi langsung, tukang kebun itu mengerti maksudnya. Dia secara alami langsung bergerak menutupi tubuh kecil Izaya dan Ayano, lalu menggunting beberapa bagian yang mengganggu pada semak itu.


Stanton yang lewat hanya meliriknya sebentar, sebelum akhirnya bertanya dengan tatapan tajam. "Apa kau melihat Izaya? "


Tukang kebun itu diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Tuan Muda? Tidak, saya tidak melihatnya sejak jam pagi."


"Begitu, ya? Tolong beri tahu aku jika kau menemukannya."


"Sesuai dengan yang Anda inginkan."


Tukang kebun itu memposisikan tangan kanannya di dada, dan membungkuk pada Stanton, sedangkan Stanton sendiri lanjut berjalan dengan ditemani suara ketukan dari ujung tongkatnya.


Berdasarkan perilakunya, tukang kebun itu jelas memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman dalam bertindak formal. Izaya tidak bisa memberikan reaksi apa pun selain kekaguman.


Tak lama kemudian, sosok Stanton menghilang dari pandangannya, dan dia pun mundur beberapa langkah lalu menatao bergantian pada Izaya dan Ayano.


"Tuan Stanton sudah pergi, kalian bisa keluar."


"Ehehe, terima kasih~"


"Suatu kehormatan untuk saya," jawab tukang kebun itu sambil membungkuk dengan tangan kanannya yang dipasangkan di dada.


Ayano tersenyum cerah dan langsung berdiri, menyeka beberapa tanah dan dedaunan yang menempel di tubuhnya. Izaya juga mengikutinya, lalu menatap pada tukang kebun itu.


"Kenapa kau membantu kami? "


Tukang kebun itu terdiam sejenak. Tak lama kemudian, senyum hangat muncul di wajahnya, dan tatapan yang dipenuhi rasa kasih sayang murni menerpa Izaya.


"Tidak ada alasan bagi saya untuk menghentikan dua anak yang tersenyum dengan sepenuh hati."


...****************...


"Serius, aku tidak menyangka kalau kau begitu ceria di masa lalu … "


Iris yang sebelumnya berpura-pura tidak memiliki minat terhadap proyeksi ingatan, kini dengan terang-terangan menunjukkan rasa penasarannya pada Olivia.


Olivia, bagaimanapun dia hanya menundukkan kepalanya dengan murung saat ingatan masa lalu perlahan mulai bangkit di kepalanya.


"Aku dulu memang sedikit bodoh. Tidak bisa membaca suasana, dan dengan mudahnya membawa Izaya keluar, meskipun saat itu aku tahu kalau Stanton pasti akan marah."


Menghela napas dalam diam, Olivia menyesali kebodohannya di masa lalu. Tetapi, dia tidak benar-benar menyesalinya; yang ada, dia justru bersyukur karena dirinya saat itu berhasil membawa keceriaan sedikit pada Izaya. Itu adalah langkah awal yang membuat Izaya menjadi semakin dekat dengannya.


Adegan yang diproyeksikan kembali berkanjut, dan kini sosok Izaya dan Ayano kecil terlihat sedang berbaring di sebuah ruangan yang penuh dengan buku dan kartu yang berserakan.


Keduanya menutup mata mereka, dan bernapas dengan lembut. Dari sini, semua orang bisa melihat kalau mereka berdua sedang tertidur.


Tapi, mereka juga yakin kalau Ayano tidak benar-benar tertidur di sana. Lagi pula, jika Ayano benar-benar tertidur, maka adegan yang diproyeksikan seharusnya jadi terpotong, persis seperti yang terjadi pada manifestasi ingatan Anzu sebelumnya.


Proyeksi itu kemudian menampilkan sepasang daun pintu besar yang kemudian terbuka, membuat udara hangat seketika memasuki ruangan.


Dari sana, dua orang pria tua dengan paras yang lembut muncul. Keduanya diam sejenak, memperhatikan penampilan Izaya dan Ayano yang tertidur pulas.


" … Sudah lama sejak terakhir kali Tuan muda banyak beraktifitas seperti itu. Ini mungkin pengalaman baru untuknya."


Pria dengan pakaian pelayan di sampingnya mengangguk dengan sedih. "Aku harap Tuan Mikhail dan Tuan Stanton mampu memberikan toleransi untuk ini … "


Hening sejenak, dia kemudian melanjutkan, "Tuang Muda akan menginjak usia lima tahun tidak lama lagi, dan Tuan Mikhail juga akan berusia 99 tahun. Sudah hampir lima tahun sejak Tuan Adalrich meninggal dalam kecelakaan, dan semua tanggung jawab beserta hak untuk keluarga ini akan jatuh ke tangan Tuan Stanton pada waktunya. Aku benar-benar berharap bahwa setidaknya Tuan Chaddrick akan membawa Tuan Muda bersama keluarganya saat kembali ke Jepang … "


Tidak diketahui bagaimana Mikhail Wecker dapat hidup dengan usia yang begitu panjang. Yang jelas, semasa hidupnya, dia telah memiliki begitu banyak keturunan dan keluarga tanpa hubungan darah di bawah kekuasaannya.


Adalrich adalah saudara kandung dari Frederick Stanton. Hanya dari hal itu, dapat disimpulkan bahwa Adalrich adalah ayah kandung dari Izaya, yang kemudian tewas pada kecelakaan pesawat, tak lama setelah Izaya dilahirkan.


Adalrich-lah yang mendirikan nama Canaria, yang kemudian akan dimiliki oleh Izaya sebagai satu-satunya pewaris yang sah.


Setelah Izaya Canaria tewas dalam kecelakaan pada perjalanan wisata sekolah, nama Canaria telah kehilangan semua pewarisnya, yang membuat nama itu menjadi sekedar sejarah belaka.


Itu jelas merupakan pukulan telak pada semua anggota keluarga inti yang tersisa. Kehilangan anggota keluarga yang sangat berbakat, adalah hal paling mengerikan yang pernah mereka bayangkan.


Kedua pelayan itu berjalan mendekati Izaya dan Ayano, lalu dengan lembut menggendong mereka, siap membawa mereka ke kamar.


"Takdir seorang anak ajaib di keluarga ini benar-benar mengerikan … "


Saat salah satu dari mereka mengatakan itu, keduanya secara refleks menatap pada Izaya, yang masih bernapas dengan lembut.


"Setelah ini, mungkin akan ada banyak rintangan yang harus dihadapi semua orang. Dengan kembalinya Tuan Chaddrick, Beliau pasti akan mengajukan pernyataan untuk mendapatkan hak asuh Tuan Muda."


"Ya, dan itu akan memberikan hasil mengerikan lainnya. Saat Tuan Chaddrick berinisiatif untuk mendapatkan hak asuh Tuan Muda, semua orang pasti tidak akan tinggal diam. Terutama, Tuan Stanton. Beliau pasti tidak akan diam saja saat 'pewaris ajaib' yang ditinggalkan Tuan Adalrich jatuh ke asuhan Tuan Chaddrick. Perselisihan internal tidak bisa dihindari."


Jika semua berjalan sesuai dengan yang mereka prediksi, maka hanya akan ada kekacauan yang menunggu di depan sana.


Mereka tidak tahu apakah itu akan menjadi jalan yang berdarah atau tidak, tapi pastinya itu akan sangat berpengaruh pada sosok Izaya kecil.


Apakah Chaddrick, yang memiliki niat murni untuk menyelamatkan keponakannya—anak dari saudara, sekaligus sahabatnya yang telah wafat; atau Stanton, yang memiliki niat untuk memaksimalkan bakat dan potensi yang dimiliki Izaya, yang merupakan keponakannya.


Saat itu, tidak ada yang tahu siapa yang akan memenangkan 'pertarungan' itu. Tapi, hasilnya langsung terlihat setelah dua tahun.


Pemenang dari pertarungan itu adalah Chaddrick zil Airi, dia berhak mendapatkan hak asuh untuk Izaya setelah mendapatkan persetujuan langsung dari kepala keluarga, Mikhail Wecker yang saat itu sudah genap berusia 100 tahun.


Perang dingin yang dilakukan karena seorang anak, berakhir dengan keberuntungan yang memihak anak itu.


Bersamaan dengan pengumuman perebutan hak asuh oleh Chaddrick, diumumkan juga bahwa Izaya, secara resmi akan dipasangkan dengan Ayano, yang merupakan satu-satunya anak Chaddrick.


"Tunggu sebentar, Olivia! "


Iris yang mendengar dan memahami semua penjelasan itu seketika berteriak, membuat fokus semua orang langsung diarahkan padanya.


Iris tak peduli dengan tatapan mereka, dia menatap Olivia dengan raut keheranan sambil menunjuk pada proyeksi.


"Apa maksudnya itu?! Kalian sudah bertunangan sejak lama?! "


Olivia mengangguk singkat. "Jawabannya adalah ya dan tidak."


Menarik napas sejenak, Olivia kemudian melanjutkan, "Saat itu memang diumumkan kalau kami akan ditunangkan. Tapi, itu belum resmi karena usia kami masih sangat muda. Hasilnya, pertunangan itu tidak benar-benar dilakukan secara formal sampai akhirnya kita semua tewas dalam kecelakaan."


Itulah yang membuat Olivia—Ayano—dulu begitu bersusah payah dalam mendapatkan perhatian Izaya. Dia ingin pertunangan itu segera diresmikan.


Olivia sebisa mungkin menjelaskannya dengan singkat, tapi Iris justru menunjukkan ekspresi kesal padanya.


"Bukan itu yang kumaksud! Maksudku, kalian benar-benar berencana untuk bertunangan di mas lalu? Bukankah kalian punya hubungan darah?! "


Ya, itu adalah masalah yang paling mengganggunya sampai sekarang. Moralitas yang dia miliki mempertanyakan apakah hubungan yang dimiliki Izaya dan Ayano itu benar-benar sesuatu yang baik atau tidak.


Menanggapi itu, Olivia hanya menyilangkan lengannya dan membusungkan dadanya sedikit.


"Itu legal secara hukum, dan ada banyak keluarga pengusaha yang sudah mempraktekkan pernikahan sedarah sebelumnya. Keluarga kami juga termasuk. Sistem itu sangat berguna untuk menjaga kemurnian darah keluarga, sekaligus menjaga agar rahasia dan harta keluarga tidak jatuh ke tangan orang luar. Ayahku dan ayah Iza dulu dapat dianggap berbeda karena mereka menikahi orang luar secara normal. Selain itu … Kami bisa dipasangkan karena kami adalah sepupu jauh, dan hubungan darah yang kami miliki tidak terlalu kuat karena baik ayahku dan ayah Iza sama-sama menikahi orang luar yang tidak memiliki hubungan darah."


Tidak ada yang bisa menyangkal itu. Dia memberikan alasan yang sangat logis. Ini hanya masalah moralitasnya saja.


...****************...


Adegan kembali berganti, dan kini ditunjukkan sebuah rumah besar dengan salju yang memenuhi halaman dan jalanan di sekitarnya.


Itu adalah rumah yang ditinggali oleh keluarga Airi saat mereka di Jepang.


Pintu rumah terbuka, dan seorang gadis remaja dengan usia yang mungkin 15 atau 16 tahun keluar.


Itu adalah Ayano, yang penampilannya sesuai dengan yang ada di ingatan semua orang.


Ayano keluar dari rumah, dan dengan senyum cerah berbalik, menatap wanita cantik yang merupakan ibunya. Sulit dipercaya bahwa mereka adalah ibu dan anak. Karena, mereka benar-benar terlihat seperti adik dan kakak karena ciri wajah sang ibu yang awet muda.


Dengan ekspresi khawatir di wajahnya, wanita yang merupakan ini dari Ayano itu menatap sekeliling. "Apa kamu yakin semuanya sudah siap? Kamu tidak kekurangan barang apa pun?"


Ayano terlihat sedikit jengkel, tapi dia menjawab dengan lembut, "Mama sudah menanyakan itu sembilan kali sekarang."


"Benarkah? "


Dia terlihat bingung sejenak, sebelum akhirnya memasang wajah tegas ada Ayano.


"Apa kamu yakin dengan itu? Aku khawatir kalau kamu melupakan beberapa barang. Bagaimanapun, kamu akan pergi dengan Iza dan menginap di tempatnya selama satu hari. Selama itu, kami berdua juga akan pergi untuk menghadiri beberapa acara. Kamu tidak kekurangan apa pun, 'kan? "


Tanpa menghapus ekspresi khawatir di wajahnya, dia kembali berbicara, "Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya? Bagaimana dengan 'pengaman'? Kamu membawanya, 'kan?"


"Aku tidak! "


Dengan wajah yang memerah, Ayano berteriak. Detik kemudian, dia menyadari apa yang baru saja dia lakukan, dan sontak memperhatikan sekelilingnya.


Setelah menemukan kalau tidak ada yang mendengarnya, Ayano menghela napas lega.


"Kenapa aku harus membawa benda seperti itu? "


Ketika dia menanyakannya, dia bisa melihat perubahan yang sangat jelas pada wajah ibunya. Itu berubah dari kekhawatiran yang normal, menjadi ketegasan yang menakutkan.


"Apa maksudmu 'kenapa'? Tentu saja kamu membutuhkannya. Aku tidak ingin kalian memiliki anak sebelum waktunya."


" … Tidak mungkin Iza akan melakukannya. Usia kami baru 15 tahun."


"Ya, dan aku 32."


"Lalu– Eh? "


Ayano hanya bisa menatap kosong pada ibunya, tidak mampu memberikan reaksi apa pun, hingga akhirnya ibunya telah bergerak dan memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya tanpa ia sadari.


Dia baru menyadarinya ketika dia membongkar isi tasnya pada tengah malam di kamar apartemen Izaya, dan tak perlu dikatakan bagaimana reaksinya saat melihat satu kotak yang penuh dengan 'pengaman'.


Dia hanya bisa menyembunyikan itu di dalam tasnya, menimbunnya di antara berbagai barang, dan langsung menenggelamkan wajahnya yang memerah di bantal yang biasa digunakan Izaya.


Dia cemas, sekaligus penuh harap, saat dia menatap tasnya sendiri. Tentu saja dia memiliki keinginan untuk hal itu.


...****************...


Setelah adegan itu berakhir, adegan lain yang muncul membuat mereka kebingungan sejenak.


Itu adalah sebuah taman yang sangat luas, dipenuhi berbagai jenis bunga dengan warna yang beragam.


Jauh di ujung taman itu, berdiri beberapa pilar marmer raksasa yang tidak diketahui seberapa tinggi itu sebenarnya. Seolah, pilar itu sendiri adalah sesuatu yang menopang langit biru yang tak terbatas.


Namun, fokus utama mereka bukan pada menara marmer, atau bahkan langit biru yang kosong itu.


Melainkan pada sesosok gadis yang terbaring di hamparan bunga, tertidur pulas, lalu bangun dan menunjukkan wajah mengantuknya sambil melihat ke sekeliling.


Rambut perak, mata hitam, dan tubuh yang agak mungil. Tidak salah lagi, itu adalah Olivia. Penampilannya sangat identik dengan Olivia yang berdiri di samping mereka sekarang. Hanya saja, Olivia di sana terlihat sedikit lebih dewasa, dan ekspresinya juga dapat digambarkan sebagai 'perwujudan dari ketenangan'.


Olivia yang ada di proyeksi itu tersenyum, dan melihat ke sekelilingnya. Gaun merah anggurnya tampak menyatu dengan hamparan bunga, dan tangannya yang halus dengan lembut memetik salah satu bunga itu.


Setelah itu, adegan kembali berganti.


Latarnya masih sama. Hanya saja, ada sosok lain yang bersama Olivia; dan itu adalah Noelle.


Olivia kembali terbangun di tengah hamparan bunga, dan menemukan Noelle menyambutnya di sampingnya.


Noelle memegangi tangan kanannya, dan memberikan senyum lembut pada Olivia yang baru bangun.


Meskipun sudah jelas siapa laki-laki yang ada di sana, entah mengapa mereka tidak bisa melihat wajahnya dengan cukup jernih. Ini seperti ada kilatan cahaya yang membuat wajah Noelle di sana menjadi kabur dan tidak jelas. Selain senyum lembutnya, mereka hampir tak bisa menemukan apa pun di wajah Noelle.


Olivia, yang disambut oleh Noelle saat bangun tidur, balas memberikan senyum lembut padanya.


Mereka saling menatap sejenak, sebelum akhirnya mendekatkan wajah mereka masing-masing. Bibir mereka tumpang tindih, dan sosok mereka yang berciuman dengan jelas disampaikan pada semua orang.


Namun, sebelum mereka bisa memberikan respon apa pun, ruangan langsung bergetar. Proyeksi ingatan itu menghilang, dan digantikan dengan pemandangan monokrom dari adegan sebelumnya—saat Noelle dan Olivia bertukar ciuman ringan.


" … Apa yang sebenarnya terjadi? "


Olivia, sangat yakin kalau dia tidak memiliki ingatan seperti itu. Dia dengan penasaran mencoba menyebarkan energi sihirnya, tapi itu hanya membuat udara semakin dingin, tanpa memberikan pengaruh apa pun pada proyeksi.


Dia benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa itu benar-benar ingatannya? Atau sesuatu yang lain?


Pada saat itu, Olivia akhirnya mengingatnya, teori yang pernah Noelle jelaskan padanya, tentang waktu yang telah dimanipulasi oleh seseorang.


(Apa ini … Ingatan dari waktu sebelumnya? )


Itu hanya tebakannya, dan ia tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi, Olivia memiliki firasat, yang membuatnya sangat yakin kalau ini memanglah ingatannya.


Meskipun sulit, Olivia akhirnya bisa merasakannya, sebuah ingatan—atau lebih tepatnya mimpi, yang tak terbatas, memberinya kebahagiaan yang tak pernah berakhir. Ingatan tentang itu semua perlahan timbul di kepalanya.


Namun, saat dia mencoba untuk menggali lebih dalam, ingatan itu justru semakin menjauh darinya, membuatnya tak dapat menemukan kebenaran.


(Mungkin … Aku harus memberi tahu Noelle tentang ini … )


...****************...