[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 171: Gangguan



...****************...


Beberapa detik berlalu dengan penuh keheningan. Tak ada satu pun dari semua hal yang ada di sana berani mengeluarkan suara.


Bahkan meski makhluk aneh itu sudah menghilang tanpa jejak, sebagian besar orang yang melihatnya masih diselimuti rasa ketakutan terhadap sosok yang tak jelas itu.


Sampai akhirnya, Noelle merasakan sakit yang sangat mengerikan di kepalanya.


"Akh– Ughh–"


Noelle memegangi kepalanya sendiri saat matanya membelalak terkejut. Itu tidak seperti sakit kepala yang biasa ia alami. Ini sangat berbeda. Seperti ratusan jarum yang menusuk setiap bagian di kepalanya.


Noelle dengan putus asa berusaha mengatur napasnya, dan menahan rasa sakit itu. Sementara di sampingnya Olivia tampak terkejut dan dengan panik menggunakan tangannya untuk membanty menopang Noelle.


Tak lama kemudian, rasa sakit itu akhirnya mereda, dan kemudian menghilang. Kepalanya sudah ringan, tapi kecemasan akan rasa sakit yang bisa saja muncul kembali itu masih menghantuinya.


Dengan dibantu Olivia, Noelle akhirnya berhasil sampai di tempat tidur, dan segera duduk di tepi.


Di sampingnya, Olivia menatapnya dengan cemas.


"Apa Noelle baik-baik saja? "


Sebagai respon, Noelle hanya tersenyum, dan mengangguk singkat. "Aku tidak apa. Hanya saja … Apa itu tadi … "


"Tadi? "


Olivia terlihat bingung. Dia memiringkan kepalanya sementara Noelle masih berusaha mencerna semua informasi itu.


Menatap Olivia, Noelle kemudian berusaha mengingat semua yang terjadi sebelumnya. Namun, hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak bisa mengingat apa yang baru saja terjadi.


Tentang makhluk aneh yang memiliki banyak tentakel itu, ia sudah melupakan semuanya. Tetapi, bahkan jika ia melupakan semua itu, perasaan yang ditinggalkannya masih sangat kuat. Jadi Noelle secara alami paham kalau ada sesuatu yang baru saja terjadi.


"Livia … Apa kamu ingat … Apa yang terjadi sekitar 2 menit yang lalu? "


Waktu yang Noelle habiskan untuk menenangkan dirinya cukup lama, dan ia menghabiskan waktu yang lebih banyak lagi saat mengatur pikirannya di tempat tidur.


Dan saat Noelle menanyakan itu, ekspresi kebingungan di wajah Olivia menjadi semakin jelas.


Ia tidak mengerti mengapa Noelle menanyakan itu, tapi ia akan berusaha menjawabnya.


Namun, ia tak bisa.


Saat ia mencoba menjawab, entah mengapa bibirnya berhenti bergerak. Bukan karena ada sesuatu yang mengganggu, tapi itu karena ia tidak tahu dengan apa yang harus ia katakan.


Semua pikirannya tentang apa yang terjadi beberapa saat yang lalu telah menghilang sepenuhnya.


Olivia menggeleng dan dengan takut menatap Noelle. "Tidak … Aku sama sekali tidak ingat … Apa yang terjadi? "


Anehnya, baik itu Noelle maupun Olivia sama sekali tidak kehilangan ingatan mereka akan hal lain. Percakapan mereka sebelumnya, dan adegan saat Noelle akhirnya kembali dari kamar mandi. Semua masih sangat segar di ingatan keduanya.


Hanya ada satu bagian yang terpotong. Seolah itu adalah sebuah klip video yang telah dihapus dari memorinya.


Dihadapkan semua pertanyaan itu, Noelle hanya memiliki satu jawaban sederhana.


Memang agak sulit untuk mempercayainya, tapi hanya itu alasan paling logis yang bisa ia pikirkan.


"Manipulasi waktu, ya … "


Jika memang seperti itu, maka semua akan menjadi jelas. Hanya pengendalian waktu yang bisa mengendalikan ingatan seperti itu.


Olivia yang mendengarnya seketika mengangguk dengan penuh pemahaman. Ia dengan cepat membuat pose berpikir, dan mengurutkan semua kejadian di kepalanya satu per satu.


Meskipun begitu, sebenarnya, masih ada satu teori yang belum Noelle ungkapkan pada Olivia.


Itu adalah tentang keberadaan makhluk aneh yang kemungkinan besar muncul, dan segera menghilang bersamaan dengan ingatan mereka tentangnya.


Dibandingkan teori pengendalian waktu yang masih bisa dibuktikan, teori Noelle yang satu ini agak sulit untuk dipercaya. Lagi pula, ia tidak punya bukti yang bisa memperkuat teorinya.


Semuanya, hanya didasarkan pada instingnya belaka.


Apa pun itu, Noelle tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia hampir kehabisan akal.


Sejak awal, kenapa hal itu bisa terjadi? Apa tujuannya? Dan kenapa semua keanehan itu terjadi di sekitarnya? Noelle tidak mau mengakuinya, tapi jawabannya ada pada dirinya sendiri.


Semua kejadian itu, semua kejadian yang melibatkan perputaran waktu itu, selalu melibatkan dirinya seorang.


(Kurasa aku akan gila … )


...****************...


"Fuuuhhh … "


Matahari sudah berada dalam posisi yang cukup tinggi. Angin pagi yang anehnya cukup deras hari ini meniup semua dedaunan dan materi kecil yang ada di sekitarnya.


Noelle menghela napasnya dengan lelah dan mulai melakukan peregangan singkat.


Sudah hampir satu jam penuh sejak kejadian aneh itu, dan Noelle sudah cukup menenangkan dirinya.


Sekarang, Noelle akhirnya bisa kembali fokus pada tujuan awalnya.


"Noelle … Apa Noelle benar-benar baik-baik saja? Lebih baik Noelle beristirahat … "


Saat Noelle sedang memikirkan hal apa yang harus ia lakukan selanjutnya, Olivia datang dan dengan cemas menarik ujung pakaiannya.


Noelle berbalik dan menatap Olivia dengan bingung, sebelum akhirnya memajang senyum lembutnya secara alami.


"Aku baik-baik saja, sungguh. Itu semua berkatmu," ucap Noelle seraya mengangkat satu tangannya dan meletakkannya di atas kepala Olivia.


Tangannya itu secara alami bergerak untuk mengelusnya, tapi segera berhenti ketika dia menyadari kehadiran orang lain di sana.


Wajah Olivia terlihat memerah, tapi dia segera memasang ekspresinya yang biasa saat merasakan kehadiran mereka.


Ada dua orang yang muncul, dan itu adalah Norman bersama Kaira.


Noelle memberikan isyarat pada Olivia menggunakan tatapannya, dan Olivia mengerti itu. Dia langsung berjalan mundur dan meninggalkan Noelle sendiri bersama Norman dan Kaira.


Dia sedikit khawatir dengan ide itu, tapi sejak awal ia selalu saja kesulitan untuk menolak permintaan Noelle. Pada akhirnya, dia hanya bisa setuju.


Begitu Olivia menjauh, Noelle langsung menoleh pada Norman dan Kaira. "Apa yang kalian ingin bicarakan? "


"Hanya hal sepele," jawab Kaira sambil mengangkat bahunya.


"Sepele? "


Noelle mengangkat alisnya dengan bingung, dan beralih pada Norman.


Di sana, Norman memiliki ekspresi yang sangat berbeda dari semua orang. Dia tampak cemas, dan usahanya untuk menutupi ekspresi itu sedikit sia-sia karena Noelle dapat dengan jelas melihatnya.


Kaira mengangguk, mengabaikan Noelle yang sedang berpikir sendiri.


"Ya. Sebenarnya, ini terkait dengan kepulangan kita. Apa kita akan mengikuti rute yang sama dengan sebelumnya? "


Noelle terlihat diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Tidak, kita tidak akan melewati portal itu lagi. Setelah semua yang terjadi … Aku yakin kalau beberapa orang sudah menutup atau menghancurkan portal itu."


Semua orang menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menyelamatkan Cryll. Mungkin saja, dengan memanfaatkan waktu itu, para musuh yang tersisa telah berhasil menghancurkan portal yang mereka semua gunakan untuk mencapai pulau ini.


Tapi, jika memang begitu, bagaimana mereka akan kembali? Kaira selalu memikirkan itu.


Sejak awal, lokasi pasti pulau ini tidak diketahui. Mereka bisa mencapainya karena portal yang entah bagaimana Noelle temukan.


Artinya, hanya ada satu kemungkinan.


"Kau sudah menyiapkan rutenya, ya … "


Kaira bergumam sambil menatap tanah, mencoba untuk menebak semua yang telah Noelle rencanakan secara diam-diam.


Noelle mengangguk, dan kemudian meregangkan tubuhnya. "Memang. Tapi, aku cukup khawatir dengan satu hal."


"Dan? Apa itu? "


Kali ini Norman bertanya dengan agak gugup. Noelle tidak tahu alasannya, tapi ia sedikit tertarik untuk menggali kecemasan yang Norman rasakan itu.


"Transportasi. Karena kita akan menyeberangi lautan, kita butuh alat transportasi yang bagus agar membuat perjalanan lancar."


Noelle memang sudah menyiapkan beberapa perahu kecil di gudang spasialnya, tapi ia sedikit khawatir dengan fakta bahwa semua orang di sana tidak memiliki pengalaman dalam mengemudikan sebuah perahu.


Selain itu, banyak juga monster laut berlevel tinggi. Memang bukan menjadi masalah karena mayoritas orang di sana memiliki kekuatan yang besar, tapi tetap saja itu beresiko menghancurkan perahu yang akan mereka gunakan.


Kapal pengangkutan atau kapal transportasi untuk lintas laut telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga para monster tidak akan menyerangnya. Dan bahkan jika mereka menyerang, kapal itu tidak akan hancur dengan mudah karena semua mekanisme sihir perlindungan yang bekerja.


Ada satu pilihan lain yang bisa Noelle pikirkan, tapi ia dengan cepat menolaknya sendiri ketika menyadari beban yang akan dihasilkan.


Alasan Noelle menolak pilihan itu tentu saja karena cara itu akan sangat membebani dirinya.


Mengendalikan sebuah karpet yang saat itu diisi kurang dari 10 orang saja sudah cukup berat, bagaimana ia bisa bertahan untuk beberapa jam perjalanan dengan membawa 16 orang.


Tentu ia bisa memasukkan mereka semua ke dalam《Reign》, tapi itu akan lebih merepotkan mengingat konsumsi sihirnya yang akan meningkat seiring bertambahnya jumlah orang yang masuk ke sana.


"Aku mengerti … "


Menjawab singkat seperti itu, Norman kemudian mengangguk. Dia terlihat merenung sejenak, sebelum akhirnya kembali mengangkat wajahnya dan menatap Noelle.


"Apa kalian tidak punya sihir yang bisa membuat jalan yang akan kita lewati? "


"Itu bisa dilakukan dengan sihir es Livia, tapi membekukan permukaan air laut tidak semudah yang kau bayangkan, jadi aku akan menolak ide itu."


"Begitu, ya … "


Norman sedikit kecewa, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan itu di ekspresi yang terpampang di wajahnya.


"Jadi itulah masalah kita sekarang. Tidak ada alat transportasi yang bisa kita gunakan. Dan sekarang, aku memiliki satu saran. Tapi aku ragu kalau kalian semua akan setuju dengan ini."


"Katakan saja, apa itu," ucap Kaira dengan penuh penekanan.


Noelle menanggapinya dengan santai, sama sekali tidak mempedulikan tatapan mengancam yang diarahkan Kaira padanya.


"Kalian tunggu di sini untuk beberapa waktu, sementara aku akan pergi untuk menculik– maksudku menjinakkan monster yang bisa membawa kita pergi melintasi lautan."


Noelle tidak tahu pasti seberapa besar jarak yang memisahkan antara pulau ini dengan dataran Eisen, tapi itu seharusnya tidak terlalu jauh.


Dia seharusnya memiliki cukup banyak waktu untuk pergi berburu beberapa monster seperti wyvern, atau monster laut yang bisa digunakan sebagai kendaraan.


"Norman, bagaimana menurutmu? " Kaira bertanya pada Norman untuk memastikan, tapi Norman tak langsung menjawabnya, dan justru merenung untuk beberapa saat.


Sejujurnya, Kaira sendiri berpikir kalau menggunakan monster sebagai kendaraan adalah hal yang bagus. Dia belum pernah menunggangi wyvern atau monster kuat lainnya, tapi itu akan menjadi ide yang menarik.


Yahh, dia adalah laki-laki, jadi wajar baginya untuk merasa bersemangat dalam hal ini. Meskipun begitu, Kaira tak menunjukkan ketertarikannya, dan justru bertanya pada Norman untuk mengetahui pendapatnya.


Kemudian, Norman menjawab.


"Kupikir … Itu akan menjadi ide yang bagus, tapi … Aku khawatir, beberapa dari kita tidak pernah menaiki monster, jadi mungkin mereka akan sedikit takut."


"Tapi … " Norman kemudian melanjutkan, "Kurasa kita tidak punya pilihan lain."


Singkatnya, jawaban Norman adalah ya.


Itu adalah dilema. Norman tidak bisa memutuskan mana yang harus ia prioritaskan. Apakah kenyamanan dan keamanan teman-temannya, atau efisienitas dalam menjalani suatu proses. Dia tidak bisa memilih salah satu dari itu.


Karena itulah, membuat keputusan seperti itu menjadi hal yang cukup sulit untuk Norman.


Sayangnya, Noelle tidak mengerti hal itu. Jadi, Noelle langsung membuat keputusan ketika Norman telah memberikan persetujuannya.


"Kalau begitu … Langsung saja. Kita tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi."


Mengatakan itu, Noelle berbalik dan berjalan menuju lokasi di mana semua orang telah menunggu.


...****************...


Sementara itu, di tempat yang tak jauh dari pulau terpencil itu …


Sesosok manusia dengan jubah hitam yang menutupi seluruh bagian tubuhnya tampak sedang melayang di udara.


Meskipun begitu, tak ada yang menyadari kehadirannya.


Di belakangnya, seorang pria bertubuh besar yang juga dalam posisi melayang di udara memperhatikan sekelilingnya dengan bingung.


"Aku tidak pernah tahu kalau ada pulau di tempat seperti ini … "


Dia hanya bergumam, tapi pria berjubah yang berdiri di depannya justru merespon dengan cepat.


"Itu wajar. Para petinggi dari regu pembebas yang lain telah merahasiakan tempat ini dari semua anggota. Itu karena mereka tidak mau bawahannya mengetahui kalau mereka dan para utusan Voyager telah melakukan hal yang tak manusiawi di sini."


Dia kemudian melepaskan tudung jubahnya, dan menunjukkan wajah dingin tanpa ekspresi yang menatap pulau itu.


Dia adalah Terneth, yang secara diam-diam melarikan diri dari Nuko yang telah merawat semua lukanya.


"Tapi … Apa yang kita lakukan di sini? "


Pria di belakangnya terlihat bingung, tapi Terneth tak berniat menjawabnya, dan lebih memilih untuk menunjukkannya secara langsung.


"Sekarang, ayo kita mulai ini lagi. Aku tidak akan membiarkan mereka semua merasakan tidur yang nyenyak. Aku penasaran, siapa yang akan lebih dulu memberontak dan memisahkan diri setelah mengetahui banyak hal yang pernah terjadi di masa lalu mereka semua … "


Pria itu, bagaimanapun, hanya terdiam saat melihat sosok Terneth.


Terneth tersenyum, tapi entah kenapa senyumnya begitu kosong dan tak memiliki kesan apa pun. Kesenangan? Bukan. Kebencian? Tidak juga.


Pria itu tidak begitu mengerti, tapi ia yakin kalau Terneth saat ini tengah merasakan emosi yang sulit untuk dimengerti oleh dirinya maupun orang lain.


Sesuatu seperti emosi yang hanya bisa dipahami oleh diri sendiri.


"Rasakanlah, ini akan menjadi balas dendam kecil dariku."


Dan dengan begitu, beberapa lingkaran sihir yang rumit muncul di hadapan Terneth, membawakan benih perpecahan pada Noelle dan yang lain.


...****************...


"Nngghhh … "


Erangan penuh kenikmatan keluar dari bibir Noelle ketika ia meregangkan tubuhnya.


Kedua tangannya disatukan, dan diangkat ke atas, sementara tubuh bagian atasnya sedikit berputar ke samping. Bunyi retakan yang terdengar nyaman di telinga seketika keluar ketika ia melakukan itu.


"Sekarang … Apa semua sudah siap? "


Begitu selesai, Noelle menoleh dan melihat ke semua orang. Mereka hanya saling memandang dan kemudian menatap Noelle dengan bingung.


"Kami sudah dengar detailnya dari Norman dan Kaira, tapi … Apa kita semua benar-benar akan kembali dengan menunggangi monster? "


"Apa kalian tidak suka dengan ide itu? "


Beberapa dari mereka menggeleng sebagai respon, dan melanjutkan, "Tidak, kami semua sudah setuju. Hanya saja … Ini akan menjadi pengalaman pertama kami dalam menunggangi monster di lautan. Jadi … Ini sedikit menegangkan … "


Noelle tidak terkejut, tapi masih melebarkan matanya ketika mendengar itu secara langsung. Terlebih lagi, dari Iris yang ia pikir akan menjadi gadis paling pemberani di sana.


Bagaimanapun, dia hanya mengangkat bahunya dengan lesu, dan menjawab, "Kalau begitu, aku akan membuat ini menjadi pengalaman yang mungkin tidak akan kalian lupakan. Jadi bersiaplah."


Noelle memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, dan menoleh ke belakang.


Di sana, tiga ekor kura-kura raksasa tampak sedang diam dengan tempurung mereka yang telah dipasangi sesuatu seperti pelana kulit yang tahan air.


Tiga ekor kura-kura itu adalah monster laut yang berhasil Noelle dapatkan ketika dia sedang menjelajahi lautan di sekitar pulau ini.


Untungnya, mereka adalah makhluk herbivora dan cukup toleran pada manusia sehingga Noelle tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menjinakkan mereka.


Noelle kemudian merasakan sentuhan lembut di sekitar lengan kanannya, dan secara alami menoleh ke sana.


Di sampingnya, Olivia menatapnya dalam diam sambil memeluk lengan kanan Noelle.


" …? "


Noelle sedikit bingung, tapi segeraengerti dengan apa yang ingin Olivia sampaikan.


Dia langsung menundukkan kepalanya dan mendekatkan telinganya ke bibir Olivia untuk mendengar apa yang akan Olivia bisikkan.


Tapi, tepat sebelum Olivia bisa mengatakan apa pun ….


Sebuah lingkaran sihir dengan pola yang rumit tiba-tiba muncul di bawah kaki mereka masing-masing.


Noelle secara refleks langsung mendorong Olivia menjauh untuk menyelamatkannys, hanya untuk menyadari kesalahan fatal yang ia buat.


Lingkaran sihir itu muncul di bawah kaki mereka semua. Yang artinya, akan menjadi lebih berbahaya jika ia menjauhkan Olivia darinya.


Sebelum Noelle bisa merespon tindakannya yang ceroboh itu, cahaya yang menyilaukan seketika memenuhi bidang pandangnya, dan meredam semua suara yang masuk.


Noelle tak dapat merespon tepat waktu. Satu-satunya hal yang sempat ia lakukan adalah memperhatikan pola lingkaran sihir yang ada di bawah kakinya.


Pikirannya yang cepat memberitahunya, kalau itu adalah lingkaran sihir untuk mantra teleportasi.


Dan ketika ia menyadari itu, kesadarannya seketika menghilang.


...****************...