![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Sosok Olivia yang terus tersenyum lebar tanpa eduli situasi itu membuat semua orang yang melihatnya seketika merasakan hawa dingin mengalir di punggung mereka.
Norman adalah yang pertama sadar. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan bingung dan menemukan kalau ada beberapa reinkarnator lain yang bersama mereka.
Di antaranya adalah Anzu, Lilith, Iris, dan Liscia.
Mereka dalam diam menatap Olivia yang semakin memperlebar senyumnya.
Sesaat kemudian, Olivia menoleh ke arah lain, tampaknya menyadari kehadiran musuh lebih cepat.
Dia melompat dari tempatnya berdiri saat ini, dan dengan sangat cepat melaju ke arah timur, lalu mengayunkan rapier di tangannya dengan gerakan yang besar.
Setiap kali rapier itu berayun, gelombang kejut yang dihasilkan sudah cukup untuk membuat bebatuan dan debu berterbangan ke arah lain. Dan meskipun Olivia sendiri menyadari kekuatan destruktif yang dimiliki rapier Achto saat ini, dia tak berhenti berlari dan terus mengayunkan itu tanpa rasa ragu.
Musuh yang ia targetkan sudah ada di depan mata. Itu adalah sekelompok orang yang membawa senjata jenis senapan bayonet.
Mata gelap Olivia memancarkan niat membunuh yang sangat kuat sehingga membuat mereka semua secara refleks menyiapkan senjata, dan mengarahkan moncongnya kepada Olivia.
Olivia terus melaju tanpa perubahan pada senyum di wajahnya. Dan begitu ia mencapai tepat di hadapan sekelompok orang itu, ia langsung mengayunkan rapier-nya dengan gerakan yang lebar.
Gerakannya begitu cepat sehingga hanya menyisakan goresan cahaya di udara, dan di saat semua orang sedang terperangah dengan pemandangan itu, leher semua orang yang mengarahkan senjatanya pada Olivia sebelumnya langsung menyemburkan darah dalam jumlah besar.
Tubuh mereka terjatuh tanpa daya ke tanah, dan kepala mereka yang telah terputus dari leher mereka memantul beberapa kali di tanah, sebelum akhirnya dihancurkan oleh pedang es yang tiba-tiba muncul di udara.
Mengapa semua bisa menjadi seperti ini? Ini semua berkaitan dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu …
...****************...
Olivia dan Anzu memandangi sumber suara ledakan dengan wajah tanpa ekspresi yang seolah mengatakan kalau mereka sudah lelah dengan ini.
Suara ledakan muncul sekali lagi, kali ini dari sisi barat. Meskipun begitu, mereka sama sekali tidak menemukan kobaran ap atau pun gumpalan asap yang menjadi ciri-ciri terjadinya ledakan.
Yang artinya, ledakan itu terjadi di bawah tanah.
Olivia menghela napas berat dan kembali memandangi pantulan bulan di atas air.
"Apa kau tidak mau ke sana? "
Anzu bertanya padanya, tapi Olivia tidak menjawab dan justru menghela napas lagi.
" … Aku memiliki prioritasku sendiri."
Mengatakan itu, Olivia kemudian melakukan peregangan, sebelum akhirnya mengganti semua pakaian kasualnya menjadi zirah ringan yang memiliki ciri khas gothic itu.
Saat ia hendak pergi, bayangan di bawah kakinya bergerak dengan aneh, dan memunculkan sosok yang ia kenal.
"Chloe? "
Chloe terlihat terengah-engah, butiran keringat mengalir di sekitar dahinya, membuat wajah kekanak-kanakan itu menunjukkan ekspresi lelah yang jelas.
"Apa yang terjadi? "
"Itu … Tempat pengungsian … Diserang oleh orang-orang aneh! Tempat itu … Sudah dikepung … "
Bahkan meskipun dia sudah diubah menjadi vampir oleh Noelle, kekuatan fisiknya masih setara dengan anak-anak. Jadi wajar jika ia terlihat sangat lelah.
Tapi, Chloe seharusnya bisa berpindah tempat secara instan ke bayangan Olivia atau Noelle, jadi ia tidak seharusnya mengalami kelelahan seperti itu.
"Brackas dan aku tadinya mencoba menahan mereka, tapi karena di sana sangat gelap, kami tidak bisa melakukan apa pun."
(Nah, itu masuk akal.)
Untuk seseorang yang memiliki kemampuan berbasis bayangan, berada di tempat gelap tanpa sumber cahaya adalah hal yang sangat merugikan bagi Chloe mau pun Brackas. Syarat bagi mereka untuk menggunakan kemampuan mereka adalah, mereka harus berada di tempat yang memiliki bayangan. Tempat gelap seperti itu jelas akan menjadi musuh alami mereka.
"Jadi kau lari sampai ke luar, lalu berpindsh dengan bayanganmu? "
Chloe tidak menjawab Olivia, dan hanya mengangguk dengan lelah.
Olivia menunjukkan senyum lembut sejenak sebelum akhirnya menepuk kepalanya beberapa kali. Dia kemudian mengeluarkan sebuah tabung transparan yang berisi cairan merah. Itu adalah darah Noelle yang Olivia simpan untuk berjaga-jaga.
"Untuk sekarang, minum ini. Kau bisa mengakses《Reign》, 'kan? "
"Ya," jawab Chloe singkat setelah meminum semua darah Noelle yang Olivia berikan.
"Kalau begitu, kembalilah ke rumah dan bawa Levina masuk ke dalam《Reign》. Ingat untuk tidak keluar sebelum aku menyuruhmu."
"Tapi … "
Chloe terlihat bermasalah dengan itu.
"Tidak ada penolakan. Kau harus tetap di dalam《Reign》bersama Levina dan Brackas sampai aku mengizinkanmu keluar."
"Uuuu … "
Chloe tidak bisa melakukan apa pun selain mengalihkan pandangannya ke sekeliling dengan panik.
Sebenarnya, ada alasan untuk rasa ragu itu. Chloe sebelumnya sudah mendapatkan pesan dari Noelle untuk melindungi Olivia ketika sesuatu yang buruk terjadi. Tentu saja, pesan itu disampaikan bahkan tanpa sepengetahuan Olivia sendiri.
Di satu sisi, Chloe ingin memenuhi permintaan tuannya dan melindungi Olivia seperti apa yang ia inginkan, tapi di sisi lain, Chloe sadar kalau dirinya tidak akan banyak berguna dalam pertarungan.
Bahkan jika ia mengeluarkan kekuatannya secara penuh dengan memanfaatkan penguatan dari darah Noelle, kekuatannya tidak akan banyak berguna di sana.
Olivia tampaknya menyadari itu, jadi ia tersenyum lembut dan kembali menepuk kepala Chloe.
"Aku tidak tahu perintah apa yang Noelle berikan padamu, tapi tolong tetap sembunyi di dalam《Reign》, dan lindungi Levina."
Mengatakan itu, Olivia kemudian meminum darah Noelle yang ia simpan sebagai cadangan, dan menyebabkan perubahan pada penampilannya.
Pupil matanya seketika berubah menjadi merah darah, dan lonjakan energi sihir mulai keluar dari tubuhnya.
Dia kemudian melompat jauh ke langit sehingga sosoknya tak dapat dilihat lagi, meninggalkan Chloe dan Anzu yang hanya bisa menatapnya dengan bingung.
"Umm … Apa yang harus kulakukan sekarang? "
Anzu tidak begitu mengerti situasinya, tapi untuk saat ini ia akan membiarkan dirinya terbawa oleh arus.
Dia pun dengan cepat berlari ke arah gerbang masuk pengungsian yang ada di bagian timur, mengikuti Olivia yang terbang menggunakan sihir gravitasinya.
Sementara itu, Chloe yang ditinggal sendirian masih menatap udara kosong dengan wajah bingung.
"Uhh … Apa yang harus kukatakan pada Tuan nanti … "
Chloe menghela napas berat, sebelum akhirnya pasrah dan menuruti perintah Olivia.
"Untuk saat ini, aku harus temui Levina itu … "
Sosoknya yang kecil itu kemudian tenggelam ke dalam bayangannya sendiri, sebelum akhirnya kembali muncul di suatu kamar dan mengagetkan seorang gadis kecil tertentu.
...****************...
Di sisi lain, Olivia dengan kecepatan yang tak masuk akal terbang menembus awan yang menutupi langit malam.
Dirinya yang dilapisi oleh sinar perak dari energi sihirnya sendiri itu menjadi penampakan yang mengagumkan, sehingga semua orang yang melihatnya pasti tidak akan mengira kalau cahaya itu berasal dari manusia, melainkan komet yang melintas.
Hanya beberapa detik yang berlalu sejak Chloe muncul di hadapannya, dan kini ia sedang dalam perjalanan menuju salah satu gerbang masuk menuju tempat pengungsian bawah tanah.
(Noelle … )
Secara alami, Olivia akan menghubungkan kejadian ini dengan Asterisk yang mulai mengambil tindakan. Meskipun begitu, masih terlalu cepat untuk menyimpulkan.
Olivia selalu mengenal Noelle sebagai orang yang berhati-hati, tentunya akan aneh jika Noelle mengambil suatu tindakan yang akan menyebabkan efek berantai ke semua orang yang seharusnya ia lindungi di belakang.
Yang artinya, kejadian ini tidak berhubungan langsung dengan Noelle dan Asterisk yang saat ini sedang bertindak.
Olivia tidak tahu lokasi semua anggota Asterisk saat ini, tapi ia yakin kalau jaraknya pastilah sangat jauh dari Eisen.
(Ini aneh … )
Berbagai pemikiran yang berisi kemungkinan tak terbatas tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini mengalir dengan bebas di dalam kepala Olivia. Meskipun begitu, hanya ada satu jawaban yang ia temukan.
Pihak yang sedang Asterisk hadapi, dengan pihak yang menjadi pelaku penyerangan kota, adalah dua kelompok yang berbeda.
Olivia tidak tahu apakah kesimpulan itu benar atau tidak, tapi untuk saat ini ia akan bergerak berdasarkan asumsi itu.
Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu ketika ia sedang fokus terbang.
Itu adalah sekelompok orang berjumlah lebih dari 20 orang. Mereka semua menggunakan jubah hitam, mungkin untuk menutupi identitas mereka.
Olivia menyipitkan matanya dan berhenti sejenak untuk mengamati mereka.
Dengan penguatan pada matanya, ia bisa melihat semua kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Mereka semua berbicara, tapi Olivia tidak bisa mengerti apa yang mereka katakan karena kemampuan penerjemahannya tidak cukup bagus sehingga bisa membaca gerak bibir.
Masing-masing dari mereka membawa suatu benda berbentuk persegi panjang dengan banyak kabel yang saling terhubung. Secara alami, Olivia tahu apa itu.
"Jadi … Mereka musuh, ya … "
Ketinggian tempat Olivia berdiri seketika turun secara drastis. Dia mendarat di tanah dengan hentakan yang sangat kuat, sehingga menyebabkan dampak kerusakan yang besar terhadap semua yang ada di sekitarnya.
Semua orang yang ada di sana dikejutkan dengan kedatangan Olivia yang tiba-tiba. Beberapa dari mereka tampak secara refleks langsung menarik senjata mereka dan bersiap melawan. Jelas kalau mereka sudah berpengalaman dalam pertempuran.
Hanya dengan sekali lihat, Olivia sudah memahami semua susunan dalam kelompok mereka. Berdasarkan formasi, cara berdiri, sikap kuda-kuda, dan cara menggenggam senjata, mereka semua bukanlah dari kelompok biasa seperti petualang, melainkan unit militer suatu negara.
"Siapa kau?! "
"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan itu? "
Olivia menyiapkan senjatanya, dan mengeluarkan energi sihir dalam jumlah besar dari tubuhnya. Itu adalah pemborosan, tapi itu penting untuk mengintimidasi.
Dan yang benar saja, beberapa dari mereka mulai gemetar dan terjatuh ke tanah karena tekanan yang dipancarkan Olivia, sementara yang lain justru menaikkan kewaspadaan mereka dan mengarahkan ujung senjata mereka pada Olivia.
Melihat keadaan musuh, entah mengapa Olivia justru teringat dengan kata-kata yang ia ucapkan pada Noelle sebelumnya. Meskipun, itu seharusnya tidak ada hubungannya dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
—"Aku akan menjadi orang yang menyediakan tempat dan alasan untuk Noelle kembali."
Itu adalah kata-kata yang sederhana, namun sulit untuk diucapkan secara serius.
Jika Olivia benar-benar serius dengan apa yang ia katakan, maka ia harus membuktikannya.
Ia sudah berjanji kalau ia tak akan terlihat langsung dengan aksi yang dilakukan Noelle secara diam-diam, ia juga mengatakan kalau ia akan menunggu Noelle kembali tak peduli seberapa lama itu.
Janji sangatlah mudah untuk dibuat, tapi sulit untuk dipenuhi. Hanya dengan memberikan susunan kalimat berupa janji pada seseorang, dapat memberi mereka harapan yang tinggi akan hal itu.
Karena itulah, sebuah janji tak bisa dibuat secara sembarangan dan hanya memikirkan keegoisan semata.
Olivia sudah menjanjikan banyak hal pada Noelle, dan Noelle juga sudah berjanji kalau ia akan kembali pada Olivia.
Janji yang mereka buat, memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kehidupan mereka. Terutama, janji yang mereka buat saat mereka pertama kali menjalani kontrak《Oath of Blood》sekitar delapan tahun yang lalu.
Hal kecil seperti itu sudah cukup untuk membawakan perubahan besar pada kehidupan mereka.
(Benar … Aku sudah berjanji pada Noelle.)
—Karena itu, aku harus menepatinya.
Wajah cantik Olivia yang tampak berkilau di bawah sinar rembulan itu, kini menampilkan ekspresi yang mengerikan.
Senyum lebar terbentuk di wajahnya, sementara matanya memancarkan niat membunuh yang luar biasa kuat sehingga akan melumpuhkan siapa pun yang tidak tahan dengannya.
—Tempat untuk Noelle kembali, aku akan menciptakannya.
—Tepat di sampingku!
Senyum Olivia semakin melebar, dan dia dengan cepat mengayunkan senjatanya yang ukurannya sudah lebih besar dari sebelumnya.
Olivia mengarahkan ujung pedangnya ke kepala salah satu orang di sana, dan rapier itu dengan mudah menembus tengkorak, hingga menghancurkan otaknya.
Tak berhenti di sana, kepala orang itu juga seketika meledak, membuat wajah dan rambut indah Olivia ternoda oleh darahnya. Meskipun begitu, Olivia tak mempedulikannya dan lanjut bergerak tanpa memperhatikan sekitar.
Gerakannya yang dipercepat dengan penguatan dan skill percepatan dari《God Speed》miliknya membuat dirinya hanya dapat dilihat sebagai after image yang tidak jelas.
Meskipun semua orang di sana tampak berpengalaman dalam pertempuran, jelas mereka tidak begitu terbiasa melawan musuh dengan kecepatan tinggi.
Olivia tiba-tiba muncul di hadapan salah satu dari mereka, dan menunjukkan senyumnya yang lebar itu.
Pemandangan seorang gadis cantik memberikan senyuman mengerikan itu adalah hal terakhir yang orang itu lihat, sebelum kepalanya meledak dengan sebuah rapier yang menancap di sana.
"Ehehe … Tidak apa, Noelle. Aku akan menjaga tempat ini. Hanya untukmu."
Sambil bergumam seperti itu, Olivia terus mengayunkan pedangnya dan membunuh semua orang itu satu per satu.
Dia bisa saja menggunakan sihirnya untuk menghabisi mereka semua sekaligus, tapi Olivia merasa kalau itu tidak cukup.
Di tangannya yang lain, terbentuk sesuatu yang berasal dari sihir es miliknya. Itu adalah puluhan senjata tajam berukuran kecil yang terhubung dengan sebuah rantai tipis.
Olivia mengayunkan lengannya dan membuat senjata itu berayun dengan bebas layaknya cambuk.
"Apa-apaan dia ini?! "
Salah satu orang di kelompok itu berteriak dan bersiap menyerang, tapi dihentikan oleh orang di sebelahnya.
"Jangan gegabah."
"Tapi–"
Tidak mungkin dia bisa diam saja ketika melihat seorang gadis tak dikenal tiba-tiba muncul dan menghabisi semua rekannya.
Meskipun begitu, orang di sebelahnya hanya menggelengkan kepalanya sementara tangannya yang menggenggam sebuah pedang itu menjadi lebih kuat.
"Dia sepertinya tidak mempedulikan kehadiran kita. Kau manfaatkanlah kesempatan ini, dan lanjutkan tugasmu. Aku akan menyusul setelah menyelamatkan yang lain."
"Itu–"
Dia terlihat tidak senang dengan perintah itu. Meskipun begitu, penolakannya tidak diterima.
"Cepatlah! Kita tidak boleh menghabiskan lebih banyak waktu lagi! "
Dia menggertakkan giginya dengan kesal, dan mulai berlari membelakangi mereka. Sementara itu, orang yang membiarkannya pergi sendirian itu kini memandangi sosok Olivia yang sedang bermandikan cairan darah dari semua orang yang dibunuhnya.
"Maaf saja, tapi aku tidak mau mati di tempat bajingan itu berkuasa."
Berkat pendengarannya yang menjadi lebih tajam, Olivia mampu mendengar kata-kata yang orang itu gumamkan. Dia secara refleks melihat ke arah orang itu, dan menyaksikan perubahan besar pada lingkungan sekitarnya.
Ruang di sekitarnya mulai terdistorsi, dan sesosok makhluk mengerikan tiba-tiba muncul dari sana.
Bentuk makhluk itu seperti seekor anjing liar yang kelaparan, tapi ukurannya jauh lebih besar. Tubuhnya sangat kurus sehingga tulang rusuknya bahkan dapat terlihat dengan jelas melalui kulit hitam pekat tanpa rambut itu. Lehernya panjang, dan kakinya juga memiliki bentuk yang aneh sehingga sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Olivia melebarkan matanya dengan terkejut saat melihat kemunculan makhluk itu, tapi itu tidak menghapus keinginan dan niat membunuh yang terpancar darinya. Olivia langsung maju dan mengarahkan ujung pedangnya ke kepala makhluk itu, tapi ujung rapier miliknya justru tak sanggup menembus kulit elastis makhluk itu.
"Apa-apaan anjing ini? "
Meskipun keberadaan anjing itu sangat menjengkelkan, Olivia hanya menganggap anjing itu sebagai seekor familiar belaka. Jadi, itu tidak akan jadi masalah jika ia bisa menghabisi pemanggilnya.
Olivia menggunakan sihir es untuk membekukan sebagian besar tubuh anjing itu, lalu berlari ke arah si pemanggil.
Tangannya bergerak dengan cepat, menciptakan posisi sempurna untuk menyerang dengan semua senjata di tangannya. Namun, orang yang menjadi pemanggil itu justru tersenyum.
Dia kemudian menancapkan senjatanya ke tanah, dan menciptakan getaran yang hebat di sekitar.
Ruang di sekitar mereka lagi-lagi terdistorsi, dan sesosok makhluk aneh kembali muncul.
Kali ini bentuknya dominan seperti gurita, tapi itu sangat menjijikkan sehingga Olivia hanya bisa mengerutkan keningnya.
Tentakel hitam berlendir yang memiliki ukuran setara dengan tubuh seorang pria dewasa itu menggeliat tak terkendali setiap detiknya, sementara beberapa tentakel lain tampak mengeras dan menusuk menuju Olivia.
Olivia menghindari itu dengan gerakan sekilas, dan langsung memotong tentakel itu menggunakan pedangnya. Bagian tentakel yang terpotong itu seketika membeku dan hancur menjadi butiran cahaya yang disertai asap hitam aneh.
"Hehe … Kalau begitu, sebaiknya aku menyusul yang lain."
"Tunggu–"
Olivia berteriak dan berusaha mencegah orang itu melarikan diri, tapi tentakel lain yang lebih tipis tiba-tiba menghampirinya dan menyerempet pipinya.
Tentakel itu berasal dari anjing yang sebelumnya telah dibekukan oleh Olivia. Anjing itu berhasil lepas dari efek pembekuan, dan mulai menumbuhkan banyak tentakel dari punggungnya.
"Menjengkelkan."
Mata Olivia perlahan menyipit dan membuatnya memancarkan niat membunuh yang luar biasa kuat sehingga anjing dan gurita itu tidak menyerangnya untuk sesaat.
Olivia langsung menggunakan sihirnya untuk membekukan semua yang ada di sekitarnya, lalu menghancurkan bebatuan es yang melapisi anjing dan gurita aneh itu.
Patung es yang berbentuk kedua makhluk aneh itu dengan mudah hancur menjadi butiran cahaya yang disertai asap hitam aneh. Itu adalah fenomena yang sama seperti sebelumnya.
Olivia memperluas deteksinya dan menyadari kalau sama sekali tidak ada kehidupan di sekitarnya. Itu tentu saja membuatnya terkejut sejenak. Namun, Olivia tak membuang waktu lagi dan langsung berlari dengan cepat untuk menyusul semua orang yang melarikan diri itu.
Hingga, ia akhirnya sampai di tempat evakuasi bawah tanah, bagian pusat.
Dan di sinilah Olivia saat ini. Mengayunkan semua senjatanya secara bebas tanpa peduli apa pun. Hanya tersenyum lebar sambil terus membunuh semua orang yang ia anggap musuhnya.
Tentu saja, Olivia sadar akan keberadaan Anzu dan yang lain yang sudah datang ke tempat ini, tapi itu bukanlah alasan untuk berhenti.
Olivia mengayunkan rantai es di tangan kirinya dan menjadikan itu cambuk untuk menyerang semua orang yang tak dapat ia capai dengan pedangnya.
Beberapa orang yang melarikan diri darinya sebelumnya juga ada di tempat ini. Mereka masih membawa suatu benda yang Olivia duga sebagai bom.
Mereka menatap Olivia dengan pandangan tertegun, dan hampir tak ada satu pun dari mereka yang dapat menandingi kekuatan fisik Olivia.
Meskipun begitu, orang yang sebelumnya menyebabkan beberapa masalah pada Olivia dengan familiar miliknya, tak tinggal diam. Dia kembali mengeluarkan beberapa makhluk aneh dari ruang kosong, dan memerintahkan mereka untuk menyerang Olivia serta kelompok Norman sementara mereka melarikan diri.
"Ughh … Kenapa aku selalu terlibat dengan tentakel … "
Seperti yang Olivia katakan, beberapa monster yang orang itu panggil memiliki banyak tentakel di tubuh mereka. Salah satunya adalah monster humanoid yang mirip dengan monyet raksasa di hadapan Olivia.
Penampilan monster itu benar-benar mirip dengan monyet, tapi tubuhnya sangat besar, dan wajahnya hancur. Bagian perut dan dadanya juga sangat kurus sehingga tulangnya dapat dilihat dengan jelas melalui kulit hitam berlumpur itu. Beberapa tentakel juga tumbuh dari bagian leher dan punggungnya, menggeliat dengan cara yang bahkan membuat Olivia merasa jijik.
Sebagai catatan, Olivia memiliki pengalaman yang buruk dengan tentakel. Itu semua karena apa yang pernah terjadi padanya beberapa tahun yang lalu. Itu benar-benar pengalaman yang mengerikan, sekaligus memalukan sehingga Olivia tidak mau mengingatnya.
Tak hanya monster aneh itu, ada juga sosok humanoid raksasa yang memiliki penampilan tak jelas. Sosoknya memiliki warna hitam sepenuhnya, tanpa ada corak atau apa pun sehingga sulit untuk dikenali sebagai suatu makhluk hidup.
Itu semua adalah jenis monster yang belum pernah Olivia lihat.
"Kalau begitu … "
Olivia memperhatikan semua monster yang mengelilingnya, lalu mulai menyatukan kedua telapak tangannya, menghasilkan suara tepukan yang sangat kuat sehingga menarik perhatian semua orang dan monster yang juga sedang saling bertarung saat ini.
Di saat itu, Olivia membuka matanya dengan lebar, dan menunjukkan pupil merah darah yang mengerikan, lalu mengaktifkan kemampuan yang baru saja ia dapatkan beberapa saat yang lalu.
"《Lust: Unholy Maiden ~ Twelve Anchor》"
...****************...