[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 124: Asterisk Attention! (5)



...****************...


"Apa yang ada di pikiranmu sehingga kau mengkhianati kami, Lucia? "


Pria itu, Olpus, menatap mata Lucia tanpa rasa takut sedikit pun meskipun ia telah melihat langsung bagaimana cara Lucia membunuh semua orang dengan kekuatan matanya.


Bukan berarti Olpus bodoh. Hanya saja, ia tahu kalau Lucia tidak akan sembarangan menggunakan kekuatannya hanya untuk membunuh satu orang.


Seseorang seperti Olpus mengerti dengan keyakinan penuh kalau Lucia adalah wanita tipe 'rubah licik' yang akan menggunakan sekitarnya sebagai senjata.


Hanya saja, satu hal yang membuatnya bingung kali ini adalah mengapa Lucia berkhianat padanya.


Lucia, bagaimanapun, dia hanya tersenyum sambil menatap Olpus.


"Tolong jangan memikirkan sesuatu yang aneh tentangku. Aku tidak berkhianat pada kalian. Karena sejak awal, aku bahkan tak pernah berkata kalau aku akan bergabung dengan kalian semua."


Olpus mengerti kata-katanya. Itu memang benar, tapi tetap saja Olpus merasa kesal dengannya.


"Apa kau melupakan semua yang kami lakukan hanya untuk menyelamatkanmu 20 tahun yang lalu? Kau benar-benar tidak tahu yang namanya terima kasih, ya? "


Menanggapi itu, Lucia mengeluarkan senyum yang sangat mempesona, membuat kesannya sebagai seorang wanita dewasa menjadi semakin kuat.


"Fufu, jika tentang itu, tentu aku sangat berterima kasih pada kalian. Karena itulah aku setuju untuk membantu kalian dengan kekuatan yang kumiliki."


"Kalau begitu–"


"Tapi," Lucia menyela Olpus tanpa membiarkan Olpus menyelesaikan kalimatnya. Lucia kemudian melanjutkan, "Itu bukanlah alasan untuk bekerja sama dengan kalian semua. Aku memang setuju untuk memberikan bantuanku, tapi aku juga memiliki hak untuk menentukan hidupku."


Mata Olpus menyipit dengan tajam, "Apa kau benar-benar yakin tentang itu? "


"Tentang apa? " tanya Lucia dengan bingung sambil memiringkan kepalanya.


"Apa kau benar-benar berpikir kalau kau memiliki hak untuk menentukan hidupmu sendiri? "


"Aku tidak mengerti maksudmu."


Senyum masih tak menghilang dari wajah Lucia, tapi Olpus dengan jelas menyadari kewaspadaan Lucia yang semakin meningkat.


"Kau kelihatannya sangat yakin kalau kau memiliki hak untuk menentukan hidupmu. Tapi … Apa yang kau tahu tentang itu? Kenyatannya, kau tidak akan bisa lari dari kami. Itu adalah hal yang mutlak."


"Dan … Bagaimana jika aku bisa? "


Lucia bertanya dengan penuh kewaspadaan. Meskipun begitu, ia masih mempertahankan senyum mempesona di wajahnya.


"Kau seharusnya tahu apa yang akan terjadi."


" ……… "


Jawaban yang Olpus berikan tidak cukup memuaskan bagi Lucia. Tapi, itu sudah cukup untuk membuatnya merasakan sedikit ketakutan.


Lucia tidak keberatan dengan apa yang akan terjadi padanya. Ia sudah terbiasa dengan itu. Lucia tahu sendiri apa yang akan terjadi padanya jika ia memberontak. Meskipun begitu, itu bukanlah alasan baginya untuk merasa takut.


Satu-satunya yang membuat Lucia khawatir adalah, Olpus dan yang lain berkemungkinan besar akan menggunakan keberadaan Leonardo sebagai 'jaminan'.


Lucia sudah menganggap Leonardo sebagai keluarganya sendiri, dan pihak Olpus tahu itu. Jika mereka memanfaatkan kedekatan mereka, maka itu akan menjadi jalan buntu bahkan bagi Lucia.


Olpus tidak mengatakan apa pun untuk beberapa saat, seolah memberikan Lucia kesempatan untuk berbicara dengan betinnya sendiri.


"Kau sudah mengerti, 'kan? Sejak awal, kau tidak memiliki pilihan lain selain mematuhi kami."


Bahkan meskipun Olpus tidak mengatakannya secara langsung, Lucia masih mengerti semua itu dengan sangat jelas.


Lucia sendiri sadar dengan betapa besarnya resiko yang harus ia ambil untuk melenyapkan semua sumber bencana yang akan terjadi di masa depan.


Dan saat Lucia memikirkan itu, barulah ia mendapatkan kesimpulannya. Ia baru saja menyadari hal ini. Kenapa ia tidak menyadari ini semua jauh sebelum pertemuan anggota Asterisk terjadi? Ketika dia memikirkannya, dia benar-benar merasa bodoh.


Sejak awal, Lucia sudah tidak memiliki pilihan selain menjadi anjing peliharaan mereka yang patuh.


Lucia benar-benar terjebak dalam dua jalan yang hanya mengarahkannya pada jalan buntu.


...****************...


Kapan hidupnya mulai berubah? Dia sama sekali tidak mengingatnya.


Saat ia sadar, ia sudah berdiri di tengah-tengah anggota keluarganya yang telah menjadi mayat tak bernyawa.


Mereka semua mati dalam keadaan yang mengerikan. Sang ayah dan ibu tewas dengan kepala mereka yang hancur seolah telah diledakkan dari dalam, sedangkan si kakak laki-laki tewas dalam keadaan tubuhnya yang mengeras dan hancur seperti serpihan batu.


Sementara mereka semua dalam keadaan mengenaskan, gadis itu, dia hanya menatap bingung pemandangan di sekitarnya.


Matanya yang memiliki pupil emas yang indah, disertai puluhan lingkaran sihir yang terbentuk di dalamnya seolah memindai apa yang terjadi. Meskipun begitu, gadis itu masih tidak mengerti.


Saat tetangganya melihat dirinya yang berdiri di atas mayat keluarganya, barulah dia menyadari kalau dirinyalah penyebab semua itu.


Dia menangis dengan sangat kuat, sehingga memicu bangkitnya kekuatan baru di matanya.


Semua orang di desa telah menyalahkannya atas apa yang terjadi. Dia telah dibenci untuk alasan yang bahkan tidak ia mengerti. Kekuatan itu, bukanlah keinginan dirinya sendiri untuk memiliki itu.


Tangisannya yang sangat kuat dan disertai dengan kekuatannya yang baru saja bangkit itu seketika menenggelamkan desa tempatnya tinggal dalam sebuah kepanikan.


Sebuah pola mata raksasa muncul di langit tepat di atas desa itu. Membuat semua orang yang melihatnya hanya bisa menatap dengan kebingungan ke sana, tanpa menyadari kalau itu adalah pertanda dari akhir hidup mereka. Dan benar saja, ratusan sigil sihir aneh keluar dari bola mata itu, membentuk sebuah sangkar besar yang mengurung desa dan sekitarnya.


Semua penduduk yang terjebak di dalam sangkar itu tewas dalam penderitaan yang sangat mengerikan.


Sangkar itu bertahan selama beberapa minggu, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya.


Seorang gadis yang menjadi penyebab itu semua kini berjalan tak tentu arah. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Gadis itu telah mencoba membunuh dirinya sendiri berkali-kali, tapi dia tetap tidak pernah mati. Tidak peduli seberapa banyak ia melukai dirinya, lukanya akan terus pulih tanpa henti, seolah mencegah kematian menghampiri dirinya.


Beberapa tahun berjalan tanpa tujuan, dan menghancurkan semua yang ia lewati, gadis itu akhirnya bertemu sekelompok orang yang kelak akan mengubah hidupnya.


Kelompok itu menyebut diri mereka sebagai 'Voyager' yang sedang menjalankan misi. Gadis itu tidak mengerti, karena itu ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya yang tidak memiliki tujuan pasti itu.


Namun, salah satu orang di kelompok itu menghentikannya.


"Kau kelihatannya memiliki kekuatan yang berguna. Hei, bagaimana kalau kau bekerja sama dengan kami? "


"Oi, Olpus! "


Pria itu, Olpus memberikan tawaran yang tidak dapat dimengerti oleh gadis itu.


Bahkan saat salah satu rekannya menghentikannya, Olpus tetap menghiraukannya dan menatap mata gadis itu.


"Siapa namamu? "


" …… Lu … cia … "


Gadis itu, Lucia berhasil mengucapkan namanya sendiri setelah tidak pernah menggunakan pita suaranya selama beberpa tahun.


"Lucia, ya? Nama yang bagus. Kalau begitu, apa kau mau menerima tawaranku tadi? "


Lucia membalas tatapan Olpus dengan bingung. Melihat bagaimana Olpus tanpa ragi menatap matanya yang dipenuhi dengan kekuatan yang mengerikan membuat Lucia merasa aneh.


Selama ini, tak ada yang berani menatap matanya karena ratusan lingkaran sihir aneh yang ada di sana, tapi Olpus dengan mudah mengabaikan itu semua.


Lucia dengan ragu menerima jabat tangan dari Olpus. Meskipun ia tidak mengatakan apa pun, Lucia sudah menyiratkan kalau ia akan menerima tawaran yang diberikan oleh Olpus itu.


Tanpa tahu kalau kehidupannya akan melenceng dari garis takdir yang sudah ditetapkan untuknya.


...****************...


Lucia tahu kalau pada akhirnya ia akan mengalami sesuatu seperti ini. Tapi, ia tetap tidak berhenti. Lebih tepatnya, ia tidak bisa.


Semua pilihan yang ada untuknya hany akan mengarahkannya ke suatu jalan buntu. Meskipun begitu, Lucia harus memilih salah satu opsi pada pilihan itu. Memilih untuk mengorbankan dirinya, atau tetap pada pilihan untuk dikorbankan. Semua pilihan hanya akan membawakan mimpi buruk padanya.


Meskipun senyum masih terpajang di wajah cantiknya, suasana di sekitar Lucia menjadi semakin suram seiring berjalannya waktu.


Lucia kemudian menatap Olpus yang berdiri di hadapannya.


"Aku tahu itu. Aku juga tahu kalau Leonardo akan dalam situasi yang berbahaya karena tindakanku ini, tapi … Aku pasti akan mengatasi itu. Aku, kami … Asterisk telah mengambil pilihan yang menyimpang dari jalan hidup kami yang seharusnya. Tapi, karena itulah, kami akan mengatasi itu semua entah bagaimana caranya."


Meskipun Lucia mengatakan itu, nyatanya, sangat sulit untuk bekerja sama dengan anggota Asterisk yang lain.


Berkat usulan yang Noelle berikan sebelumnya, mayoritas anggota Asterisk hanya akan mempercayai anggota lain sampai batas tertentu. Bahkan, lebih tepat untuk mengatakan kalau mereka sama sekali tidak mempercayai anggota lain di luar pekerjaan mereka.


Lucia juga memiliki pemikiran seperti itu, tapi ia masih ingin menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan masing-masing anggota. Dengan begitu, ia akan memiliki banyak jalan penyelesaian untuk masalah yang akan menimpanya di masa depan.


"Aku berterima kasih padamu, Olpus. Aku sangat berhutang budi padamu karena menyelamatkanku di hari itu. Tapi, kurasa ini adalah saat yang di mana aku akan meninggalkan kalian semua."


Kalimat itu Lucia katakan dengan begitu kuat sehingga Olpus hanya bisa terdiam tanpa respon apa pun.


Olpus sudah mengenal Lucia sejak Lucia masih anak-anak, dan Olpus paham dengan sangat baik kalau Lucia seharusnya bukanlah seseorang yang akan bertindak sembarangan.


Menurut Olpus, Lucia hanya akan bergerak ketika semuanya benar-benar telah tersusun sedemikian rupa sehingga semua tindakan yang akan ia ambil dapat berjalan dengan lancar.


Karena ia mengerti hal itu, Olpus jadi cukup terkejut ketika melihat tindakan sembrono Lucia yang tiba-tiba mengkhianati mereka seperti ini.


Olpus menghela napasnya dengan pasrah, dan menyilangkan kedua lengannya.


" … Hanya butuh waktu 20 tahun bagimu untuk berubah, ya … Terserah. Aku tidak akan peduli dengan ini. Lucia, kau bebas melakukan apa pun yang kau suka mulai sekarang, tapi … Jika kau sampai menghalangi pergerakan kami lebih jauh lagi … "


Sosok Olpus tiba-tiba menghilang. Hanya butuh waktu kurang dari satu detik, beberapa ujung pedang yang tajam telah diarahkan ke leher Lucia dari jarak yang sangat dekat.


Olpus kemudian muncul kembali di hadapannya, bersamaan dengan beberapa pedang yang melayang di sisinya.


"Itu bagus. Kalau begitu, aku akan menutup mata untuk yang satu ini."


Mengatakan itu, Olpus kemudian berbalik dan berjalan pergi menjauhi Lucia. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, Olpus berbalik dan memberikan pertanyaan pada Lucia.


"Hei, Lucia. Apa kau percaya, kalau ada eksistensi yang tingkatannya jauh lebih tinggi? "


"Apa yang kau maksud itu dewa? "


Lucia memiringkan kepalanya, tidak mengerti mengapa Olpus menanyakan itu. Jika Olpus berkata kalau ada eksistensi yang tingkatannya jauh lebih tinggi, maka satu-satunya jawaban yang dapat Lucia pikirkan adalah dewa.


"Tidak, ini sesuatu yang berbeda. Derajatnya masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan dewa, tapi … Ini adalah keberadaan yang tidak dapat dipikirkan dengan logika manusia."


Olpus tersenyum, dan melanjutkan, "Jika manusia adalah objek 3 dimensi yang nyata dan memiliki kecerdasan independen, maka bisa dibilang kalau eksistensi ini berada pada tingkatan yang berbeda dengan kita."


Kata-kata itu, Lucia tidak dapat memahaminya. Lucia mencoba menggunakan matanya untuk melihat kebenarannya, tapi ia tak menemukan apa pun.


"Heh, tidak masalah jika kau tidak mengerti sekarang. Yang jelas, aku sudah tidak memiliki urusan lagi denganmu. Kalau begitu, selamat tinggal."


Dengan itu, Olpus kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Lucia, sebelum akhirnya sosoknya menghilang sepenuhnya.


...****************...


"Ughh … Sialan … Di mana bajingan itu sebenarnya … "


Di lokasi pabrik produksi yang menjadi target Tania, Arnaz saat ini sedang terengah-engah dengan beberapa pecahan kaca yang menancap di tubuhnya.


Jutaan serangga yang saling menempel membentuk gumpalan hitam aneh di sekelilingnya itu tampak berjatuhan ke lantai, sementara tebasan angin yang muncul entah dari mana membuat pergerakannya menjadi jauh lebih sulit.


Sudah sekitar setengah jam sejak Arnaz datang ke tempat ini, dan selama itu juga ia sudah bertarung dengan keberadaan yang bahkan tidak bisa dia lihat dengan matanya.


"Oi, Mordred! Lakukan sesuatu! "


Arnaz berteriak dengan marah pada Tania. Meskipun begitu, Tania juga dalam kondisi yang kurang bagus.


Musuh mereka sama sekali tidak terlihat, dan hawa kehadirannya juga tidak dapat mereka rasakan. Mereka berdua hanya bisa bertarung dengan mengandalkan insting mereka semata.


『Bocah itu benar-benar berisik! Tidak bisakah dia diam?!』


Teriakan kesal Navi bergema di dalam kepala Tania yang masih memperhatikan sekelilingnya dengan waspada.


Untuk beberapa alasan, Navi menjadi lebih diam dari biasanya. Dia memang masih berisik, tapi Tania merasa kalau Navi sedikit lebih tenang sekarang.


Mungkin karena mereka sempat bertengkar sedikit tadi.


『Yahh, daripada mempedulikan bocah nakal itu … Tania, apa yang akan kau lakukan sekarang? Rencanamu yang sebelumnya telah gagal, 'kan?』


" ……… "


Tania tidak menjawab, melainkan kembali mengambil posisi kuda-kuda untuk menyerang.


Memang, tindakan yang ia ambil dengan sembrono sebelumnya telah digagalkan dengan mudah, tapi itu bukan alasan bagi Tania untuk merasa ragu sekarang.


Awalnya ia mencoba untuk mengalihkan perhatian lawannya dengan banyak gerakan dan serangan pengecoh, namun itu semua berakhir sia-sia.


Kini Tania menyiapkan sabitnya dalam posisi siap menebas, lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah-arah tertentu.


Dengan begitu, ia mungkin bisa memperkirakan di mana posisi musuhnya sekarang.


Tapi, tindakannya itu justru memicu kemarahan dari Arnaz.


"Jangan menyerang secara sembarangan, brengsek! Tempat ini akan runtuh! "


Arnaz segera melompat jauh ke belakang, dan lanjut berlari ke luar bangunan itu, dengan diikuti oleh Tania.


Jika mereka tidak bisa melawannya langsung, maka hancurkan dia dengan memanfaatkan kondisi lingkungan sekitar.


Setidaknya itu adalah rencana sederhana yang dapat Tania pikirkan untuk meredakan situasi sedikit.


Beberapa saat setelah Tania dan Arnaz meninggalkan gedung produksi A-1, bangunan itu seketika runtuh seperti yang Tania harapkan.


"Apa bajingan itu mati? "


"Mungkin … Tidak."


Tania mencoba memperhatikan bangunan itu lebih jauh lagi, dan menemukan puing-puing bangunan yang bergerak di titik tertentu.


"Dia di sana," ucap Tania sambil menunjuk salah satu tempat yang terdapat sebuah batu beton besar menimpanya.


"Aku juga bisa melihatnya! "


Arnaz berteriak dan mengayunkan lengannya, membuat pasukan serangga miliknya bergegas terbang ke tempat itu.


Setiap objek yang bersentuhan oleh pasukan serangganya itu seketika melebur menjadi cairan yang menjijikkan, disertai dengan bau yang menyengat. Dan Arnaz secara alami berpikir kalau musuh yang menyerang dirinya juga akan mengalami itu.


Namun, pemikiran itu jelas salah.


Batu besar itu terbang dengan cepat, menghempaskan pasukan serangga yang mencoba mendatanginya.


『Apa-apaan itu?!』


Sementara Navi masih berteriak dengan marah di dalam kepalanya, Tania dengan cepat berlari dengan sabitnya, lalu mengayunkan sabit itu ke tempat yang telah ia prediksi.


Meskipun begitu, tebasan sabitnya hanya menyentuh udara kosong tanpa satu pun objek fisik yang menghalanginya.


『Sudah kuduga ini aneh, Tania. Aku tidak merasa kalau kita sedang bertarung dengan seseorang.』


(Apa maksudmu? )


Tania bertanya di dalam pikirannya sementara matanya dengan waspada memperhatikan setiap detail yang ada di sekitarnya.


『Maksudku … Aku tidak merasa kalau kita ini sedang bertarung dengan seseorang. Lebih tepatnya, aku merasa kalau lawan kita ini memang tidak ada di sini sejak awal.』


(Pengendalian jarak jauh? )


Tania tidak begitu mengerti maksudnya, tapi Navi tidak memiliki alasan untuk berbohong padanya. Jadi, jika Navi berkata demikian, maka itu mungkin benar adanya.


Pengendalian jarak jauh bukanlah hal baru lagi bagi Tania. Ia sudah sering melawan musuh dengan kemampuan untuk menyerang dari jarak yang tak dapat dilihat atau dirasakan.


Salah satu lawannya adalah seorang pengguna familiar yang mengendalikan monster terbang dengan bentuk yang aneh. Meskipun, pada akhirnya Tania berhasil membunuh si pengendali familiar.


『Tidak, ini berbeda. Jika lawan kita kali ini memang seseorang dengan kemampuan menyerang dari jarak yang sangat jauh, maka akan ada jejak berupa garis koneksi yang menghubungkan antara si pengguna, dengan serangan yang ia keluarkan.』


(Lanjutkan.)


Dia tidak memiliki banyak waktu. Sementara meminta Navi melanjutkan penjelasannya, Tania terus melompat dengan pola yang rumit demi menghindari semua serangan yang menghampirinya.


『Aku sama sekali tidak bisa merasakan jejak koneksi itu dari lawan kita. Yang artinya, lawan kita ada di sini, tapi di saat yang sama, dia juga tidak di sini.』


Tania memiringkan kepalanya dengan bingung. Dia tidak mengerti maksudnya.


『Ahhh!!! Sulit untuk memikirkan kalimat yang tepat untuk menggambarkannya! Pokoknya! Aku merasa kalau orang atau apa pun itu yang bertarung dengan kita saat ini sejak awal tidak pernah ada bersama kita!! Ini lebih seperti keberadaannya ada pada dimensi yang berbeda dengan kita!!!』


(Dimensi? )


Mungkin itu sejenis kemampuan spasial. Tapi, bukan itu yang ingin disampaikan oleh Navi.


Navi benar-benar merasa jengkel dengan kenyataan kalau ia sama sekali tidak bisa memberikan penjelasan yang tepat pada Tania. Dia benar-benar tidak bisa menemukan cara yang tepat untuk melakukannya.


"Oi! Mordred! "


Sementara Tania dengan bingung memikirkannya, Arnaz yang berada cukup jauh darinya dengan panik berteriak.


Pasukan serangga milik Arnaz dengan cepat terbang ke atas Tania dan membentuk suatu penghalang, seolah melindungi sosok Tania dari sesuatu yang akan jatuh dari atas.


Dan benar saja, sebuah bongkahan batu berukuran raksasa menabrak penghalang yang tercipta dari pasukan serangga Arnaz.


Tania menyadari itu dan segera melompat jauh ke belakang guna menghindarinya. Arnaz juga langsung menarik kembali pasukan serangganya begitu melihat Tania yang sudah dalam posisi aman.


"Terima kasih," ucap Tania dengan singkat.


Arnaz mendengus sejenak, lalu menjawab, "Tak masalah. Daripada itu, apa yang harus kita lakukan sekarang? "


" ……… Aku tidak tahu, tapi … Melawannya bukan tugas kita."


Memang menjengkelkan untuk mengakuinya, tapi mereka telah menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk mengurus lawan yang bahkan keberadaannya masih dipertanyakan.


"Kalau begitu, kita hancurkan sisa bangunan sialan itu, lalu kabur."


"Nn," Tania mengangguk sebagai tanda setuju untuk usulan Arnaz.


Mereka berdua sudah bersiap untuk menghancurkan gedung produksi yang tersisa. Namun, mereka kembali dikejutkan dengan kemunculan sosok yang tidak mereka berdua duga sebelumnya.


"Hmm? Ahh! Mordred, dan Caver! Apa kalian belum selesai di sini? "


Itu adalah Ethan yang muncul dengan darah di pakaian dan topengnya.


"Ortis?! "


...****************...