![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Mayat monster badut itu perlahan meleleh menjadi cairan hitam, yang kemudian cairan itu langsung berkumpul di satu tempat.
Semua cairan itu seolah memiliki pikirannya sendiri. Mereka segera berkumpul, dan berubah menjadi gumpalan aneh sehingga membentuk suatu gerbang besar yang sepenuhnya terbuat dari cairan hitam yang kental.
Noelle, Cryll, dan Norman hanya bisa diam sambil menyaksikan semua itu terjadi. Sampai akhirnya, gerbang telah sepenuhnya terbentuk, dengan banyak pola dan simbol aneh yang menonjol di bagian 'bingkainya'.
Suara derik yang biasa dihasilkan oleh kobaran api tiba-tiba muncul, dan 'gerbang' itu pun langsung mengisi celah yang terbuka di dalamnya dengan cahaya kebiruan yang indah.
"Apa kita harus masuk? "
Norman bertanya, yang kemudian dibalas oleh Noelle dengan anggukan kecil.
"Kurasa begitu. Sejauh ini, kita tidak menemukan jalan keluar, dan gerbang ini muncul setelah kita mengalahkan badut yang berubah menjadi monster itu."
"Itu artinya … Gerbang ini adalah jalan keluarnya, ya … "
Cryll dengan curiga langsung menyipitkan matanya. Dia mengambil batu kerikil di tanah, dan melemparkannya ke dalam gerbang.
Setelah banyak kecerobohan yang dia lakukan sebelumnya, Cryll akhirnya mempelajari tentang betapa pentingnya bersikap waspada setiap saat.
Batu kerikil yang Cryll lemparkan itu dengan ringan menembus cahaya yang mengisi ruang kosong di gerbang, sebelum akhirnya terjatuh dengan hentakan kecil di sisi lain gerbang.
Melihat kerikil itu sama sekali tidak masuk ke dalam cahaya, melainkan menembusnya, Cryll hanya bisa memiringkan kepalanya dengan bingung.
Noelle dan Norman juga melihat itu. Mereka segera membuat beberapa tebakan asal tentang gerbang itu.
Kemudian, Noelle menjentikkan jarinya sekali dan menyuarakan idenya. "Mungkin gerbang ini hanya merespon sesuatu yang mengandung kehidupan. Kerikil tadi adalah benda mati yang tidak memiliki jiwa, jadi mungkin itu tidak bisa masuk ke dalamnya."
Mendengar tebakan Noelle, Norman sontak bergumam, "Seperti gerbang roh, huh … "
Apa yang Norman katakan itu tak luput dari pendengaran Noelle. Namun, sayangnya Noelle tidak memiliki cukup waktu untuk menanyakan itu, dan dia juga tidak tahu sampai kapan gerbang ini akan mempertahankan dirinya. Karena, bisa saja gerbang ini memiliki batas waktu sebelum itu akhirnya menutup kembali, menjebak mereka di sini tanpa jalan keluar.
Untuk sekarang, Noelle mengesampingkan masalah itu sejenak, dan langsung mengangguk. "Ayo masuk."
Dua laki-laki yang berdiri di sampingnya juga setuju; dan dengan begitu, ketiganya secara bersamaan menyentuh cahaya yang dikeluarkan gerbang dengan jari mereka.
Begitu ujung jari Noelle menyentuh permukaan cahaya, suatu sensasi aneh tiba-tiba menyerang tubuhnya. Sensasi seperti kesemutan muncul dari jarinya, kemudian menyebar ke seluruh tubuh dengan kecepatan yang konstan.
Seketika, pengelihatannya menjadi aneh. Warna merah menjadi semakin merah, kuning menjadi semakin kuning, dan putih menjadi semakin putih, berubah menjadi cahaya yang menyilaukan.
Di matanya, semua tiba-tiba terlihat seperti lukisan minyak yang pernah ia lihat.
Noelle secara naluri menutup matanya, tapi anehnya ia masih bisa melihat semua pemandangan itu di balik matanya yang tertutup.
Begitu ia menyadari kalau itu sia-sia, dia segera kembali membuka matanya, dan melihat ke sekeliling.
Pemandangan di sekitarnya berubah.
Tidak ada lagi gua yang memiliki kolam lahar. Semua telah digantikan oleh dunia berwarna putih murni, dengan banyak pilar cahaya aneh dengan warna yang berbeda-beda.
Ada sekitar tujuh pilar di sana, dan masing-masing pilar itu memiliki warna yang berbeda, tampaknya mewakili sesuatu yang selama ini tidak Noelle ketahui.
Mengabaikan betapa kontrasnya penampilan pilar cahaya dengan pemandangan di sekitarnya, Noelle segera memalingkan pandangannya, berusaha untuk tidak menatap pilar itu terlalu lama.
Ini bukan berarti dia tahu hal buruk apa yang akan didapat ketika dia menatap pilar, melainkan insting pribadinya sendiri yang memerintahkannya untuk menjauh dari pilar itu.
Namun, hal itu justru menyebabkan berbagai jenis suara langsung masuk ke kepalanya, menembus gendang telinga dan seolah akan merusak otaknya.
Noelle menggertakkan giginya dengan putus asa saat dia berusaha menahan semua suara itu.
Suara-suara itu sendiri sepertinya berasal dari sumber yang berbeda-beda. Tipe suara, dan apa yang mereka 'bisikkan' padanya cukup berbeda satu sama lain.
Namun, satu hal yang pasti, semua suara itu menghasilkan suara jeritan kesakitan yang memekakkan telinga.
Tak lama kemudian, sensasi kesemutan dan perasaan mengerikan yang seolah jantungnya telah digenggam langsung itu segera menghilang dari Noelle. Suara-suara itu juga perlahan mulai menghilang, seolah penghalang yang melindungi dirinya dari semua suara itu telah kembali.
Noelle berusaha meyakinkan dirinya sendiri, dan melihat ke sekeliling.
Pemandangannya sudah berubah. Kali ini, dia ada di sebuah hutan yang sangat luas, dengan pepohonan besar yang rimbun di atasnya.
Tak jauh darinya, Cryll dan Norman yang memiliki wajah pucat sedang bersandar pada batang pohon, berusaha menenangkan napas mereka.
Dari reaksi itu, Noelle menyimpulkan kalau mereka berdua belum pernah merasakan hal yang serupa di masa lalu.
"Apa-apaan itu … Teriakan mereka sangat menyakitkan … Ini berbeda dari perjalanan melalui dunia roh yang kutahu! "
Dengan ekspresi kesakitan di wajahnya, Norman berusaha mempertahankan posisinya untuk tetap berdiri, tapi kakinya yang mulai kehilangan tenaga itu tanpa daya menekuk dan membiarkan tubuhnya ikut terjatuh ke tanah.
Sementara itu, Noelle, dia tengah sibuk memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya, sehingga ia hampir tidak mempedulikan apa yang diucapkan dan digumamkan oleh Cryll dan Norman.
(Apa kami kembali? Tidak, ini … Tanahnya berbeda. Pepohonan yang ada di sini juga merupakan pepohonan yang hanya tumbuh di area kedalaman hutan … Apa 'Gerbang Roh' itu membawa kami ke luar, tapi bukan ke tempat yang kami tahu? Apa pun itu … )
Noelle menghela napas lelah sejenak, lalu berjongkok untuk menyentuh tanah di bawah kakinya.
(Tanahnya lembab, tapi tidak terlalu basah. Selain itu … Bebatuan di sini juga memiliki banyak lumut di atasnya. Seperti yang kuduga, ini mungkin area kedalaman hutan yang belum pernah dijelajahi.)
Noelle melihat ke sekelilingnya, menemukan banyak rumput liar yang tumbuh, dan akar berukuran besar dari pohon di sekelilingnya yang timbul ke atas tanah.
Saat Noelle sedang memastikan bagian daratan, Cryll dan Norman menghampirinya. Raut wajah mereka sedikit cemas, dan kewaspadaan yang intens dapat dirasakan dari mereka berdua.
"Noelle, lihat langitnya."
"Hmm? "
Noelle bingung sejenak, tapi tidak membantah. Dia dengan patuh melihat ke langit, lalu melebarkan matanya hampir dalam seketika.
Bagaimana mungkin dia tidak terkejut? Apa yang dia lihat di langit itu, bukanlah pemandangan langit yang dia ingat.
Awan kelabu memang menutupi sebagian besar langit itu, tapi hanya dengan itu saja tidak akan bisa mengelabui pengelihatannya.
Di balik awan kelabu itu, ada sebuah bola mata raksasa. Warnanya hitam pekat, dengan bagian putihnya yang pucat tanpa ada tanda merah dari pembuluh darah.
Bola mata itu diam di langit, tampak seperti mengawasi semua yang terjadi di bawah. Berdasarkan posisinya, Noelle yakin kalau bola mata itu berfungsi sebagai matahari.
"Kita belum keluar, ya … "
Tak hanya bola mata itu, Noelle samar-samar dapat melihat ratusan dan ribuan tentakel raksasa yang menggeliat di langit. Tidak diketahui dari mana tentakel itu berasal, karena bahkan Noelle saja hanya bisa melihat siluetnya. Tapi, Noelle yakin, kalau yang ada di balik 'matahari' dan tentakel itu adalah sosok yang mengerikan.
Seolah merespon emosi ketiganya, sebuah tugu batu tiba-tiba muncul. Bentuknya seperti pilar berbentuk lempengan besar, dan itu memiliki banyak teks yang tercetak di atasnya.
"Bahasa ini … "
Tatapan mereka secara alami tertarik pada tulisan yang ada di sana. Terutama Noelle, dia sangat mengenai ciri tulisan itu. Itu adalah bahasa dan huruf-huruf, mirip dengan yang ia lihat di reruntuhan Aino, yang ketika ia membacanya, menyebabkannya terbawa pergi ke tempat aneh untuk dipertemukan dengan para Asterisk.
"Minerva kuno? "
Norman bergumam, dan itu membuat Noelle tertarik.
Dia sudah pernah mendengar tentang bahasa Minerva kuno sebelumnya, tapi tak memiliki kesempatan untuk mempelajarinya. Bagaimana pun, semua buku dan literatur yang dia jadikan bahan pembelajaran, memiliki jangkauan waktu yang sangat terbatas.
Semua buku itu hanya menceritakan segala sesuatu yang terjadi dari seribu tahun yang lalu, tepat saat kontak pertama yang dilakukan Raja Iblis dengan dunia ini, sampai dengan masa kemenangan pahlawan, yaitu sekitar 700 tahun yang lalu.
(Aku benar-benar kekurangan informasi, huh … )
Karena Noelle menyadari kelemahannya itu, ia tidak repot-repot menutupinya, dan justru menanyakan lebih banyak pada Norman.
"Minerva kuno? Bisa kau ceritakan itu lebih lanjut? "
"Noelle, sebenarnya dari mana kau berasal? Kau bahkan tidak tahu bahasa itu? "
(Bagaimana aku bisa tahu? Semua kata yang kubaca dan kudengar, semuanya akan secara otomatis diterjemahkan ke dalam bahasa yang paling kupahami! Salahkan Anastasia yang membuat kemampuan penerjemahan ini menjadi begitu hebat! )
Memang benar kalau memahami suatu bahasa bukanlah masalah untuk tingkat kecerdasan dan kecepatan pemahaman Noelle. Namun, yang menjadi masalahnya adalah kemampuan penerjemahan otomatis. Itu sedikit merepotkan karena bersifat pasif dan akan terus aktif tanpa ada cara untuk mematikannya.
Karena itulah, Noelle sedikit kesulitan dalam memahami struktur bahasa di negara ini. Dia hanya bisa mengandalkan matanya sendiri untuk membaca gerak bibir lawan bicaranya, yang sering kali sangat berbeda dari yang ia dengar.
Norman tampaknya juga memahami kesulitan Noelle. Meskipun dia tidak begitu putus asa karena telah mendapatkan pendidikan formal yang membuatnya mampu mempelajari bahasa itu lebih cepat.
"Dari mana aku harus menjelaskan … Baiklah, Noelle, apa kau tahu bahasa apa yang digunakan di negara–tidak, benua ini? "
Sebelum Noelle menjawabnya, Norman telah lebih dulu melanjutkan kalimatnya. "Itu disebut sebagai bahasa Hermes, bahasa turunan yang asalnya dari bahasa Minerva."
Menurut penjelasan Norman, dapat disimpulkan kalau bahasa yang digunakan di sebagian besar negara saat ini, bahasa Hermes adalah bentuk penyederhanaan dari bahasa yang lebih rumit, yaitu bahasa Minerva.
Sebelum bahasa Minerva, ada bahasa Minerva kuno yang masih belum diketahui pasti asal-usulnya.
Yang jelas, bahasa itu digunakan oleh bangsa Aino sebelum era kepemimpinan mereka berakhir.
Tak ada yang tahu dari mana asalnya bahasa Minerva kuno. Namun, banyak sejarawan yang sepakat kalau bahasa asli sebelum bahasa Minerva kuno adalah jenis bahasa yang sakral, dan memiliki kandungan sihir sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap sekitarnya.
Ada banyak literatur kuno yang menjelaskan tentang ritual yang dilakukan untuk membuat kontak dengan para dewa sebelum era perang melawan Raja Iblis, dan ritual itu menggunakan 'bahasa asli' sebagai sumber kekuatan utamanya.
Dikatakan, jika seseorang merapalkan nama kehormatan, atau do'a untuk dewa yang menjadi target mereka dengan bahasa ini, maka sudah pasti jalan untuk terhubung dengan sosok itu akan terbuka lebar.
Namun, itu juga membawa berbagai dampak buruk. Saat itu, belum ada daftar pasti untuk nama dewa yang bisa dipercaya, dan mana dewa jahat yang bisa menyebabkan kehancuran. Sehingga, berdo'a menggunakan bahasa itu sangatlah beresiko karena dapat menyebabkan terbukanya jalan untuk berkoneksi dengan keberadaan luar biasa itu.
Ada banyak keberadaan dewa di luar sana, jauh lebih banyak dari yang orang-orang ketahui, dan percayai. Mereka sama seperti manusia, memiliki karakteristik khusus dalam hal sifat dan nurani mereka; yang menyebabkan adanya dewa yang baik, dan dewa yang jahat.
Karena berbagai resiko dan efek sampingnya yang mengerikan, maka diciptakanlah bahasa turunan yang disederhanakan, yang hampir tidak mengandung kekuatan apa pun, sehingga bisa digunakan untuk berinteraksi secara normal dengan orang lain.
Nama bahasa itu tak lain adalah Minerva kuno, yang kemudian diturunkan menjadi Minerva, dan diturunkan, atau disederhanakan lagi menjadi bahasa yang umum digunakan sekarang, yaitu bahasa Hermes; yaitu bahasa normal yang sama sekali tidak mengandung kekuatan apa pun.
"Jadi begitu … "
Noelle bergumam saat dia melihat Norman membuat contoh huruf dalam semua bahasa yang dia ketahui; mulai dari Minerva kuno, Minerva, dan Hermes.
"Sangat disayangkan karena tidak ada catatan tentang bahasa asli yang menjadi sumber dari bahasa Minerva kuno, tapi kurasa itu adalah hal yang bagus mengingat betapa besar resikonya."
"Aku mengerti … "
Noelle mengangguk, dan mulai mengingat kata-kata yang membuatnya terseret ke tempat aneh bersama para Asterisk lainnya.
Kemudian, dia menyadari sesuatu. Kalimat yang ia baca saat itu, memiliki dua kalimat yang serupa, tapi ditulis dengan huruf yang berbeda. Apa keduanya berasal dari bahasa yang berbeda? Dari penjelasan dan contoh yang diberikan Norman, Noelle menyimpulkan kalau dua kalimat pertama yang berbunyi: "Benih berkumpul, terjadilah perubahan" dan "Semua penyimpangan akan dimusnahkan", itu ditulis dalam bahasa Minerva kuno, sesuai dengan contoh yang diberikan Norman.
Lalu, ada dua kalimat lain dengan bunyi yang serupa, tapi ditulis dengan bahasa yang berbeda. Noelle tidak tahu bahasa apa itu. Bentuknya benar-benar berbeda dengan yang dicontohkan Norman dari semua bahasa yang dia tahu; baik itu Minerva kuno, Minerva, maupun Hermes.
(Jika aku bisa menguraikan bahasa itu … Mungkin aku akan menemukan sesuatu … )
Noelle tertarik untuk memecahkan pertanyaan tentang bagaimana dia dan semua anggota Asterisk lain dapat dikumpulkan. Selain itu, dia masih belum melupakan tujuan sejatinya, yaitu untuk menemukan Chronoa dan mencari cara untuk pergi ke dunia lain.
Setelah mengetahui banyaknya masalah dengan dunia ini, Noelle jadi sedikit kehilangan minatnya, dan ingin mempercepat proses pencarian cara untuk pergi ke dunia lain.
"Jadi begitulah, ada dua bahasa yang umum digunakan saat ini. Di antaranya adalah Hermes yang kita gunakan, dan Ganesha yang dipakai oleh orang-orang selatan. Keduanya cukup mirip dalam huruf dan kosakata sehari-hari, yang membedakannya adalah; bahasa Ganesha lebih banyak menggunakan huruf vokal 'E' dalam kosakata mereka." Norman melanjutkan penjelasannya tanpa menunggu pertanyaan dari Noelle.
Setelah mendengar semua penjelasan Norman, Noelle akhirnya mengangguk seolah memahami sesuatu. Dia kemudian berdiri dan melihat ke sekelilingnya.
(Penjelasan itu memakan waktu sekitar 20 menit, tapi tidak ada perubahan dari posisi matahari– maksudku bola mata itu. Selain itu … Suasananya aneh, aku tidak bisa merasakan kehadiran monster apa pun … )
Noelle menarik napas panjang sejenak, dan mulai memastikan kekuatannya sendiri. Tidak ada masalah, dia yakin itu. Dia masih bisa menggunakan semua kekuatannya. Hanya saja, koneksinya dengan Olivia dengan《Oath of Blood》masih terputus.
"Kita akan simpan pembahasan lainnya untuk nanti. Sekarang, apa yang akan kita lakukan? "
Dia menoleh pada Cryll dan Norman untuk memastikan, tapi keduanya hanya menggelengkan kepala mereka dengan bingung. Mereka dalam situasi yang serupa dengan Noelle.
Setelah beberapa saat berdiskusi, mereka akhirnya sepakat untuk berjaga selama 24 jam penuh mulai dari sekarang. Tentu saja, sistem penjagaannya akan memakai sistem rotasi. Dimulai dari Noelle yang akan berjaga di sekitar selama 40 menit, lalu digantikan oleh Cryll untuk berjaga dalam durasi yang serupa. Setelah itu, Norman akan menggantikan mereka berjaga dalam durasi 40 menit juga.
Setelah putaran pertama, mereka akan meningkatkan durasinya menjadi satu jam penuh, dengan urutan yang sama seperti sebelumnya.
Noelle akan mengeluarkan tenda dari gudang spasialnya, dan menjadikan itu sebagai tempat peristirahatan dan perkemahan.
Alasan dia melakukan sistem penjagaan ini, jelas karena ia ingin memastikan sistem perputaran waktu di dalam dungeon.
Sejak ia memasuki dungeon, jam internalnya telah sedikit kacau dan tidak bisa menyesuaikan situasi. Dia ingin memeriksa aliran waktu di sini dengan cara itu.
Juga, dengan cara ini, mereka semua bisa memulihkan keadaan fisik dan mental masing-masing, sehingga tidak akan mengganggu dalam pertarungan yang bisa terjadi kapan saja.
Akhirnya, rotasi penjagaan dimulai. Kini Noelle sedang berada di tempat yang tak jauh dari lokasi Cryll dan Norman berada.
Noelle melihat ke sekelilingnya, dan menemukan banyak pepohonan yang tumbuh secara acak, membuat jalan di sekitarnya terlihat seperti labirin.
Satu-satunya petunjuk arah di tempat ini adalah tongkat logam berwarna kuning dan merah yang ia tancapkan di tanah.
Selain itu, ada juga sungai kecil yang mengalir dengan cukup deras di dekatnya, dan dengan ini, masalah makanan dan minuman sudah teratasi. Tentu saja, dengan asumsi kalau ikan dan air dari sungai di dungeon ini layak untuk dikonsumsi.
Sambil menunggu gilirannya selesai, Noelle melakukan beberapa hal untuk menghapus kebosanannya.
Dia mengambil sebuah tombak dari gudang spasialnya, dan dengan cepat menusukkan ujungnya ke salah satu ikan yang dia lihat.
"Sudah lama aku tidak berburu … "
Selain hewan-hewan kecil yang relatif aman, sama sekali tidak ada keberadaan monster yang berbahaya, jadi dia bisa santai sekarang.
Noelle lanjut memburu beberapa ikan lainnya, sekaligus menciptakan perangkap untuk menjebak kelinci liar. Hingga akhirnya, semua bahan sudah terkumpul.
Sambil berkeliling, Noelle memetik beberapa tanaman yang dia identifikasikan sebagai tanaman herbal, dan tentu saja dia akan menggunakannya sebagai bumbu untuk makan siangnya.
Secara total, dia mendapatkan sembilan ekor ikan berukuran sedang, dan dua ekor kelinci liar yang sudah dewasa.
Menghabiskan waktu untuk mengeringkan darah mereka, Noelle kemudian menyadari kalau gilirannya berjaga sudah selesai.
Dia kemudian melihat ke langit, dan menyadari kalau posisi bola mata yang menggantikan matahari itu telah berubah sedikit.
(Aliran waktunya sedikit lebih lambat dari yang kuduga … )
Noelle mencatat posisi matahari saat ini ke buku hariannya, dan berjalan meninggalkan posisi sambil membawa hasil buruan.
(Kami akan berjaga selama 24 jam, jadi seharusnya besok matahari akan kembali ke posisi ini. Tapi … Dengan aliran waktu selambat ini … Mungkin kami akan selesai saat masih pagi … )
Mereka bertiga menggunakan perhitungan mental untuk menghitung waktu, jadi posisi matahari tidak akan mengganggu mereka. Tapi, tetap saja, akan sedikit tidak nyaman ketika 24 jam telah berlalu, dan posisi matahari masih rendah, belum kembali ke posisi saat mereka bertiga menemukannya.
(Yahh, semua akan terungkap setelah waktunya … )
...****************...