[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 131: Neutral Enemies (2)



...****************...


"Bersumpahlah atas nama dewa dan raja yang kau yakini, dengan mengorbankan darahmu."


"M-maksudmu, sumpah darah?! "


–Sumpah darah.


Itu adalah jenis sumpah yang dilakukan dengan mengorbankan sejumlah darah dari orang yang melaksanakan sumpahnya.


Sumpah itu akan memaksa pelaku ritualnya bertindak atau berbicara jujur seperti apa yang ia sumpahkan. Dan jika pelaku ritual itu melanggarnya, darah yang telah ia korbankan itu akan bereaksi dan langsung membunuhnya dalam seketika.


Itu adalah sumpah yang seharusnya digunakan untuk tujuan interogasi, tapi karena efek kekuatannya yang cukup mengerikan, ritual sumpah itu jadi sering disalahgunakan, dan menjadi salah satu senjata yang digunakan untuk membunuh sesama.


Akhirnya, ritual itu menjadi ritual yang dilarang untuk dilakukan, kecuali dalam situasi yang darurat.


Kenyataannya, Lucius sendiri tidak ingin melakukan ritual sumpah ini. Harga dirinya tidak mengizinkannya untuk melakukan sebuah ritual yang dapat membahayakan nyawa seseorang.


Tapi, ia tetap harus melakukannya karena hanya cara ini yang ia miliki.


Akan lebih baik jika salah satu anggota Knight of Round yang lain, Philip Tauret ada di sisinya. Tapi, orang itu saat ini sedang dalam pekerjaan investigasi di wilayah selatan, menggantikan Lucius yang datang ke Rondo.


Philip adalah yang terbaik dari semua Knight of Round jika itu terkait dengan interogasi, tapi sayangnya ia memiliki terlalu banyak bakat dalam hal itu sehingga harus ditugaskan di banyak tempat yang jauh.


Lucius menatap sosok Weise yang terlihat gemetar dengan ketakutan saat membahas ritual sumpah itu.


Bagaimana tidak, Weise sendiri sudah sering menyaksikan kengerian dari sumpah itu.


Hanya memikirkan kalau ia akan melakukan ritual itu sekarang, membuatnya secara refleks membayangkan situasi terburuk.


Meskipun begitu, ia harus tetap melakukannya.


Semua demi membuktikan kalau dirinya bersih dari segala kecurigaan yang dilayangkan Lucius padanya.


Weise menarik napas panjang dan mempersiapkan dirinya secara mental, lalu menatap Lucius dengan penuh keyakinan.


"Jika itu untuk membuktikan semuanya, maka ayo lakukan."


Lucius mengangguk, mengeluarkan sebuah belati dari sabuknya, lalu memberikan itu pada Weise.


Weise terlihat takut, tapi ia tetap menerima belati itu, dan menatapnya dengan keraguan.


Belati yang ia terima dari Lucius itu memiliki penampakan yang sangat indah. Dengan bilah emas yang dihiasi dengan ukiran perak yang mewah, membuat belati itu terlihat seperti sebuah belati seremonial.


Lucius yang menyadari pandangan tertegun dari Weise itu pun seketika tersenyum.


"Aku menghargai keberanian yang kau miliki untuk membuktikan dirimu. Karena itu, aku memberikan kehormatan untuk memegang simbol Knight of Round milikku, 'Belati Keabadian' ini padamu."


Belati keabadian, itu adalah artefak yang diwariskan pada Lucius Roux ketika ia menerima kehormatan untuk menjadi Knight of Round.


Setiap Knight of Round memiliki simbol mereka masing-masing berupa artefak yang diberikan langsung oleh sang raja.


Dalam kasus Lucius, ia menerima 'Belati keabadian' itu.


Sekilas, itu hanya terlihat seperti sebuah senjata seremonial biasa, tapi belati itu memiliki efek lain yang dapat menyegel skill pasif milik orang yang ia targetkan.


Kemampuan penyegelan yang Lucius tunjukkan pada Noelle sebelumnya juga berkat belati ini.


Selain kemampuan penyegelan, belati itu juga memiliki segudang kemampuan lain yang terlalu sulit untuk dijelaskan. Bahkan Lucius sendiri masih tidak mengerti bagaimana belati itu bekerja.


Weise masih menatap belati itu dengan pandangan tertegun, sementara Lucius menatapnya dengan tegas, seolah berusaha mengalihkan kekhawatiran yang dimiliki Weise.


"Kau tidak perlu takut. Gunakan saja belati itu, dan jalankan ritualnya. Jika kau memang tidak bersalah, maka kau akan selamat. Hanya itu yang perlu kau pikirkan."


Weise menarik napas panjangnya sekali lagi, lalu mengangguk dengan penuh keyakinan.


Dia lalu menyayat ujung jarinya sendiri dengan belati itu, membuat sejumlah darah menetes dari sana.


Darah yang keluar dari lukanya itu mengalir, dan terjatuh ke tanah, membentuk sebuah pola lingkaran sihir yang indah, namun juga mengerikan.


Weise pun mengucapkan rapalan yang dibutuhkan untuk melakukan ritualnya.


"Aku, Weise sera Haustür dengan ini mengikrarkan sumpahku. Di atas ritual yang terbentuk melalui ikatan darah suci, aku bersumpah atas nama dan kebanggaanku. Jika aku layak, maka selamatkanlah aku. Dan jika aku adalah pendosa, maka bunuhlah aku."


(Sudah lama aku tidak menyaksikan ini … )


Penampilan Weise yang perlahan ditutupi oleh lingkaran sihir aneh di udara itu membuat Lucius terdiam.


Ia sudah sering melihatnya, tapi ia tetap tidak bisa menahan rasa kagumnya.


Sementara ia tenggelam dalam perasaan nostalgia yang menenangkan, ritual sumpah terus dilanjutkan oleh Weise.


"Engkau yang menjalin sumpah dan perjanjian, dan engkau yang menjaga kehidupan. Terimalah darahku, dan terimalah sumpahku."


Detik kemudian, ruang di sekitar mereka terdistorsi. Rantai emas yang tak terhitung jumlahnya mulai mengalir keluar dari dekat yang terbentuk di udara, satu persatu mengelilingi dan melilit tubuh Weise.


Weise tidak melakukan apa pun untuk melawannya. Ia menerima itu semua tanpa rasa takut.


Tak lama kemudian, rantai itu pecah menjadi partikel cahaya, lalu menghilang tanpa jejak.


Ritual sumpah darah telah selesai, dan Weise selamat dari 'kutukan' yang sebelumnya mengikatnya.


Artinya, Weise tidak berbohong tentang ketidaktahuannya terhadap rencana penciptaan senjata malaikat.


(Dengan ini ritual selesai, tapi … Apa dia benar-benar tidak tahu apa pun? )


Lucius yang bahkan sudah melihat proses ritual itu masih tidak mempercayainya.


Kata-kata yang ditanamkan Noelle di kepalanya masih bergema dengan kuat, seolah meyakinkan dirinya kalau sumpah itu salah.


Weise yang sudah menyelesaikan ritual dan membuktikan kalau dirinya tidak tahu apa pun tentang rencana itu pun menatap Lucius.


Dia kemudian mengembalikan bekati keabadian yang diberikan Lucius padanya.


"Aku sudah membuktikannya padamu. Dengan ini, aku seharusnya sudah bebas dari tuduhan. Tapi, tampaknya kau tidak berpikir seperti itu, ya? "


Weise tampaknya menyadari apa yang Lucius pikirkan sekarang. Lucius seketika mengembalikan kesadarannya dan menatap Weise dengan tajam.


"Tidak, kau sudah membuktikan dirimu. Aku akan mencoba untuk mempercayainya."


Weise mengangkat satu sudut bibirnya, "Mencoba, ya? "


Dengan kalimat itu, Weise mengerti kalau Lucius masih belum mempercayainya bahkan setelah melakukan ritual sumpah itu.


Yang artinya, ada hal lain yang menjadi kekhawatiran Lucius saat ini. Tapi, Weise tak dapat menebaknya.


Kemampuannya dalam membaca ekspresi sama sekali tidak berguna di hadapan Lucius. Entah bagaimana itu bisa terjadi.


Setidaknya, dengan ini Weise telah mencoba untuk membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.


Selebihnya, ia akan membiarkan Lucius melakukan apa pun untuk melakukan segala hal akan dirinya bisa percaya dengan apa yang ia lihat.


Bagi Lucius, itu benar-benar aneh.


Biasanya, ia tidak akan pernah memikirkan apa yang dikatakan musuhnya. Yang Lucius tahu, ia hanya akan mematuhi perintah dari raja dan melakukan tugasnya sebagai Knight of Round dengan sepenuh hati.


Dia adalah 'pedang' raja, jadi seharusnya ia tidak akan bisa digoyahkan oleh kata-kata yang diucapkan orang asing padanya.


Tapi, entah mengapa informasi yang Noelle berikan padanya masih membuatnya merasa tidak enak.


Ini seperti ada firasat buruk yang menghantui dirinya tanpa ia sadari.


Untuk memastikan itu lebih lanjut, Lucius kemudian kembali bertanya pada Weise.


"Apa kau … Benar-benar tidak tahu kalau rencana itu sedang dilanjutkan secara diam-diam? "


Weise menghela napas pasrah. "Tentu saja aku tidak tahu. Aku bahkan baru tahu tentang itu ketika kau bertanya padaku sebelumnya."


"Kau tidak terlihat terkejut dengan itu."


"Tentu saja aku terkejut. Tidak mungkin aku akan menyangka kalau rencana itu telah dilanjutkan secara diam-diam. Hanya saja, ada satu hal yang menurutku aneh."


Lucius menyipitkan matanya dengan tajam, "Apa itu? "


Merespon itu, Weise juga ikut mempertegas ekspresinya dan menatap Lucius dengan kuat.


"Seperti yang kau tahu, rencana itu telah dihentikan ketika Yang Mulia menaiki takhta. Yang Mulia juga sudah melarang tindakan apa pun terkait rencana gila itu. Menurutku, tidak mungkin akan ada orang yang berani melakukannya secara diam-diam. Karena, itu berarti mereka telah menentang perintah Yang Mulia."


Weise mungkin benci mengakuinya, tapi kerajaan tempat ia tinggal memiliki banyak bangsawan dengan loyalitas yang sangat tinggi terhadap raja mereka.


Bahkan meskipun bangsawan itu adalah seorang bajingan di masyarakat, Weise yakin kalau mereka tidak pernah memiliki niat untuk mengkhianati raja mereka.


Raja yang memimpin mereka sekarang adalah sosok raja yang sangat hebat. Memberikan banyak sekali penemuan revolusioner yang mempercepat perkembangan kerajaan mereka.


Semua orang mengagumi dirinya, dan semua orang juga setia padanya. Dia juga memiliki pasukan pribadi yang dikenal sebagai kelompok kesatria terkuat di kerajaan, Knight of Round. Karena itu, tidak mungkin akan ada orang yang berani untuk menentangnya.


Begitu Lucius memikirkannya, ia akhirnya sadar dengan kejanggalan yang dibicarakan Weise.


Memang benar kalau tidak mungkin ada satu pun orang di Nothernos berani menentang raja. Kalau begitu, hanya ada satu jawaban untuk pertanyaannya.


Dengan asumsi kalau Noelle tidak berbohong, satu-satunya pihak yang berani melanjutkan percobaan yang telah dilarang itu hanyalah pihak luar.


Tapi, kesimpulan itu justru menimbulkan pertanyaan lain. Bagaimana pihak luar bisa tahu tentang percobaan itu, sementara semua hal yang berkaitan dengan percobaan itu adalah informasi rahasia yang hanya diketahui beberapa orang saja.


"Kebocoran informasi? "


Hanya itu jawaban yang bisa Lucius pikirkan. Memang, itu adalah jawaban yang paling logis.


Kebocoran informasi bukanlah hal yang jarang terjadi dalam sebuah kerahasiaan. Itu adalah hal yang sangat biasa.


Atau setidaknya itulah yang ingin Lucius percayai.


Tapi, informasi setingkat itu seharusnya tidak akan bocor begitu saja.


Lucius benci mengakuinya, tapi ia sekarang tidak memiliki pilihan lain selain mempercayai itu.


Ada pengkhianat di jajaran bangsawan feodal di Kerajaan Nothernos.


Weise termasuk ke dalam daftar kecurigaannya, tapi Weise sudah menunjukkan kalau dirinya bebas dari segala tuduhan dengan melakukan ritual sumpah darah.


Itu sudah cukup untuk membuat namanya langsung dicoret dari daftar kecurigaan.


Ada pula tentang kasus kematian Alfred Beltof. Lucius yakin kalau salah satu dari mereka pernah terlibat.


Semua pertanyaan yang berputar di kepalanya, satu per satu mulai terpecahkan. Sekarang, ia mau tak mau harus mengakui kalau kata-kata Noelle sebelumnya berhasil mempengaruhi dirinya.


Jika bisa, ia ingin memastikannya sendiri. Tapi, itu akan membutuhkan waktu mengingat semua kejadian itu telah lama berlalu.


Bukanlah hal yang mudah untuk mengorek informasi tentang apa yang terjadi 17 tahun yang lalu. Terlebih lagi, semua yang ia coba selidiki ini adalah informasi rahasia yang tak banyak orang mengetahuinya.


Untuk itu, ia butuh setidaknya satu atau dua orang yang rela membantunya menyelidiki masa lalu itu.


Lucius kembali menatap Weise dan menghela napasnya.


"Hei, hanya untuk memastikan, kau memang tidak tahu apa pun tentang berlanjutnya rencana itu, 'kan? "


Weise juga menghela napasnya ketika mendengar pertanyaan itu.


"Berapa kali aku harus mengatakannya? Aku sana sekali tidak terlibat. Dan daripada itu, apa kau benar-benar yakin kalau rencana itu memang sedang dilanjutkan? Apa kau sudah memastikannya? "


" … Aku belum memastikannya, tapi … Kemungkinannya tinggi."


Setelah sejauh ini, tidak mungkin dia bisa dengan yakin memutarbalikkan apa yang Noelle katakan.


"Begitu, ya … Jika itu yang kau katakan, maka … "


–Aku akan mempercayaimu, adalah apa yang ingin Weise katakan.


Namun, tepat sebelum ia mengatakan itu, cahaya yang sangat menyilaukan tiba-tiba saja muncul dan membutakan matanya.


Tidak hanya Weise, tapi Lucius juga tampak terganggu dengan cahaya itu. Meskipun, matanya segera kembali normal tak lama kemudian.


Meskipun begitu, Lucius hampir tak dapat memulihkan diri dari rasa terkejut yang melanda dirinya.


Tepat setelah cahaya itu menghilang, apa yang ada di hadapannya membuatnya seketika melebarkan mata dengan tidak percaya.


Weise yang sebelumnya berbicara dengan dirinya, telah direduksi menjadi setumpuk daging tak berbentuk yang menjijikkan.


Lucius tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, tapi ia segera menyiapkan senjatanya begitu ia merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya.


Niat membunuh yang luar biasa kuat seketika keluar, memenuhi ruangan bunker yang sudah setengah hancur itu.


"Tunjukkan dirimu," ucap Lucius dengan penuh penekanan.


Tak lama kemudian, seseorang yang tubuhnya ditutupi jubah hitam sehingga tak dapat dikenali tiba-tiba muncul di hadapan Lucius.


Awalnya Lucius mengira itu Noelle, tapi ia segera menghapus kecurigaannya begitu menyadari aura yang dipancarkan oleh orang di hadapannya.


Orang itu memberikan kesan yang anehnya tenang, tapi menakutkan. Sangat berbeda dari sosok Noelle, atau Souris sebelumnya yang muncul di hadapan Lucius dalam keadaan hati yang bimbang.


"Siapa kau? "


Untuk memastikan apa yang ia pikirkan, Lucius mencoba bertanya pada orang itu.


Lucius tidak mengharapkan kalau orang itu akan menjawab, tapi ia kemudian kembali dikejutkan dengan respon yang diberikan orang itu.


Dia langsung melepas jubahnya dan menampilkan sosok sejatinya yang sedang tersenyum pada Lucius.


Yang ada di hadapan Lucius saat ini adalah seorang pria yang tampaknya berada pada usia 40 tahun lebih. Dengan setelan pakaian tuxedo putih yang mewah, orang itu menatap Lucius sambil tersenyum simpul.


Lucius tak membuang waktu lagi dan langsung menghilang, lalu kembali muncul tepat di hadapan pria itu, sambil mengayunkan pedangnya ke arah leher tanpa penjagaannya.


Meskipun begitu, pria itu tak terlihat takut, atau bahkan terkejut. Dia hanya terus memajang senyum sopan di wajahnya, sementara tuhuhnya berdiri dalam posisi yang sempurna.


Lucius yang melihat itu menjadi semakin waspada dan bersiap untuk menyerang kapan saja, tapi pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak.


Dengan pemikiran itu di kepalanya, Lucius kembali ke posisinya sebelumnya, dan menatap pria itu.


"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan di sini? "


Seharusnya ia tak perlu menanyakan itu dan langsung saja membunuhnya di tempat. Tapi, Lucius anehnya merasa tak dapat melakukan itu.


Mengingat bagaimana pria itu muncul tepat setelah kilatan cahaya yang membuat Weise menjadi gumpalan daging menjijikkan itu muncul, Lucius dapat dengan menyimpulkan kalau pria di hadapannya adalah pelakunya. Tapi, Lucius masih ragu dengan tindakan apa yang harus ia lakukan sekarang.


Itu semua tak luput dari instingnya yang mengatakan kalau pria di hadapannya memiliki informasi yang lebih lanjut, tentang dilanjutkannya rencana penciptaan senjata malaikat itu.


Sementara ia menunggu jawaban dari pria itu, Lucius juga mengaktifkan semua skill yang memiliki efek 'mengganggu' kinerja sihir dan skill lawannya.


Sesaat kemudian, pria itu mendengus seolah telah membaca apa yang Lucius pikirkan.


"Tidak perlu waspada seperti itu, Tuan Knight of Round yang terhormat, Lucius Roux."


(Dia mengenalku? )


Bukanlah hal yang aneh jika ia dikenali oleh banyak orang. Tapi, Lucius tidak menyangka kalau lawannya akan mengenalinya dalam waktu singkat.


"Kau terlihat terkejut dengan kenyataan kalau aku mengenalmu, ya? Padahal kau sangat terkenal di luar sana."


Itu memang tidak mengherankan. Unit pribadi raja, Knight of Round adalah kelompok kesatria yang diisi oleh orang-orang dengan kekuatan yang dapat menguasai peperangan. Wajar saja jika keberadaan mereka bahkan sampai dikenali di daerah terpencil.


Namun, itu semua tidak penting bagi Lucius.


"Jawab pertanyaanku."


Asalkan ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan sempurna, dan tidak mengecewakan raja yang ia layani, maka itu sudah cukup.


Ia tidak peduli ingin dianggap apa oleh masyarakat. Satu-satunya hal yang dapat memuaskan dirinya adalah memberikan kemenangan yang sempurna pada rajanya, seperti seekor anjing yang patuh pada majikannya.


"Ternyata benar kau itu orang yang sulit untuk diajak bicara."


Pria itu terkekeh sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya.


"Sangat disayangkan karena aku tidak bisa memberitahumu namaku, tapi … Kau bisa menyebutku sebagai Voyager di sini."


"Voyager? Nama yang aneh."


"Hehe, aku tahu itu. Kalian mungkin tidak terbiasa dengan istilah seperti itu. Kalau begitu, panggil saja aku 'Pengembara', Tuan Lucius Roux."


Orang itu, Pengembara langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda tidak akan melakukan perlawanan apa pun, sementara beberapa pedang yang bersinar tampak sedang mengarahkan ujungnya ke lehernya.


"Cepat jelaskan alasan kau melakukan semua ini."


"Benar-benar … Pria yang tidak sabaran."


Menghela napas sejenak, dia kemudian melanjutkan, "Yahh, lagi pula yang lain sudah menungguku. Sebaiknya aku selesaikan ini dengan cepat atau Olpus akan marah padaku."


(Olpus … )


Lucius tidak mengenal nama itu. Tapi, yang pasti orang bernama Olpus itu adalah orang yang berpengaruh dalam kelompok bernama Voyager itu.


"Sekarang, kau pasti bertanya-tanya tentang kenapa aku membunuh Weise sera Haustür itu. Dengan senang hati, aku akan menjawabnya."


"Berhenti berbasa-basi. Jelaskan kenapa kau membunuhnya."


"Itu tentu saja, karena dia sudah tidak berguna."


"Tidak berguna? "


Lucius tidak begitu mengerti maksudnya, tapi niat membunuh yang terpancar darinya menjadi semakin kuat karena kalimat itu membuatnya kesal.


Merenggut nyawa seseorang hanya karena dia sudah tidak berguna, adalah hal yang bertentangan dengan keyakinan yang Lucius miliki.


"Benar. Dia sudah tidak berguna, jadi aku membunuhnya. Ahh, asal kau tahu, seharusnya dia masih hidup setidaknya sampai beberapa tahun lagi, jika semuanya sesuai dengan rencana kami."


" … Apa maksudmu? "


Apa krang itu berniat mengatakan kalau keberadaan Lucius sendirilah yang menyebabkan kematian Weise? Hanya dengan memikirkan itu sudah membuat Lucius merasa jijik.


"Benar. Dia kehilangan kualifikasinya sebagai seorang boneka yang sempurna begitu kau muncul di sini. Jika saja kau tidak memberitahunya tentang rencana penciptaan senjata itu … Dia masih hidup sampai sekarang."


"Jadi, kau ada kaitannya dengan rencana biadab itu, ya? "


Wajar bagi Lucius untuk berpikir begitu. Lagi pula, dia secara tidak langsung telah memberi tahu Lucius kalau alasannya membunuh Weise adalah karena Lucius yang mengungkapkan informasi tentang itu.


"Yahh, aku tidak bisa menyalahkanmu atas keputusan yang kau ambil. Lagi pula, ini salah orang yang menyebut dirinya Souris itu. Dialah yang memberimu informasi, dan kau meneruskannya karena moral dan rasa penasaranmu."


Begitu dia mengatakannya, Lucius seketika sadar.


Alasan Souris, Noelle pergi ke gedung wali kota adalah untuk membunuh wali kota yang 'katanya' terlihat dalam rencana itu. Tapi, Lucius telah menghentikannya dari melakukan pembunuhan, dan membiarkannya lepas begitu saja.


Meskipun begitu, Noelle dengan sengaja memberinya informasi yang berharga tentang rencana itu. Semua dilakukan untuk memicu moral dan rasa penasaran yang dimiliki Lucius.


"Oho? Kau menyadarinya, ya? Kukira semua orang di sini adalah orang bodoh. Itu benar, Lucius Roux. Kau, dan aku telah menari di telapak tangan orang yang menyebut dirinya Souris itu."


" ……… "


Sekali lagi, Lucius benci mengakuinya, tapi itu benar.


Lucius telah bertindak ceroboh dengan memberi tahu wali kota tentang rencana itu karena rasa penasarannya sendiri, dan sebagai akibatnya, seorang Voyager datang untuk membunuh wali kota yang telah mengetahui informasi itu.


Semua sejalan dengan tujuan Noelle, yaitu membunuh Weise sera Haustür.


Meskipun Lucius telah membuatnya mundur, semua tetap berakhir sesuai dengan keinginan seorang 'Souris'.


"Asterisk, benar-benar sekelompok bajingan yang mengerikan. Mereka bahkan tak segan menghancurkan satu-satunya tempat perlindungan yang dimiliki penduduk kota ini."


Orang itu membicarakan tentang gereja Lumine yang telah dihancurkan oleh Asher sebelumnya.


Meskipun Lucius mendengar semua hal yang orang itu katakan, otaknya sama sekali tidak bekerja untuk memproses semua itu.


Satu-satunya yang ia rasakan saat ini adalah kekecewaan terhadap dirinya sendiri karena telah dipermainkan oleh orang yang seharusnya ia kalahkan.


"Yahh, kelihatannya kau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Kau bisa menafsirkan semuanya sesukamu."


Diam sejenak, orang itu kemudian melanjutkan, "Kalau begitu, aku pergi. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti, Lucius Roux."


Dengan itu, sosoknya tiba-tiba menghilang seperti angin, meninggalkan Lucius yang masih diam mematung dengan kebingungan.


Di saat itu, sebuah pesan datang padanya, dari sang Raja.


...****************...