![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Di saat Lucius masih terdiam dalam penyesalan karena tanpa sadar telah dikendalikan oleh Noelle, seekor elang yang terbang dengan kecepatan tinggi tiba-tiba menghampirinya.
Lucius mengenali sosok elang itu dengan sangat jelas. Ia sering melihatnya berkeliaran di sekitar istana kerajaan yang terletak di Celle.
Beberapa saat kemudian, elang itu akhirnya mendarat di salah satu puing logam tepat di hadapan Lucius, membuat Lucius seketika berlutut tepat di hadapan elang itu.
"Knight of Round, Lucius Roux. Aku membawakan pesan untukmu, dari Yang Mulia."
Elang itu secara mengejutkan bisa berbicara dengan normal seperti seorang manusia. Meskipun begitu, Lucius tak mengangkat kepalanya dan masih dalam posisi berlutut di hadapan elang itu.
"Angkat kepalamu, Lucius. Yang Mulia sudah memaafkan kecerobohanmu yang menyebabkan kematian Weise."
"Terima kasih."
Lucius kemudian mengangkat kepalanya dan berdiri, menatap elang itu.
"Bisakah aku menerima pesan yang ingin disampaikan Yang Mulia sekarang? "
Hanya dengan melihatnya, semua orang dapat menyadari kalau elang yang saat ini ada di hadapan Lucius bukanlah hewan biasa, melainkan seekor familiar yang dikirim langsung oleh raja.
Elang itu terlihat mendengus sejenak, lalu menatap Lucius.
"Yang Mulia memerintahkanmu untuk segera pergi ke Eisen."
"Eisen? "
"Benar. Saat ini, situasi darurat sedang terjadi di sana, dan Yang Mulia memutuskan untuk mengirim Kngiht of Round, Lucius Roux untuk pergi ke sana sebagai bala bantuan."
" … Apa yang terjadi di sana? "
Lucius memang sudah mendengar kabar tentang apa yang terjadi di Eisen belakangan ini, tapi ia mengira kalau itu tak begitu serius sehingga harus mengirim seorang Knight of Round untuk mengurusnya.
"Aku tidak tahu detailnya. Aku hanya diperintahkan Yang Mulia untuk mengabarimu. Sisanya, kau bisa memastikannya sendiri."
"Apa hanya itu tugasku? "
Hening sejenak, elang itu kemudian melanjutkan, "Ya. Tapi, kau harus memastikan untuk menyelesaikan pekerjaanmu dengan sempurna. Tak boleh ada sedikit pun kegagalan dari misi ini, atau kau akan mencoreng nama baik Knight of Round yang kau banggakan itu."
Tatapan Lucius menjadi semakin kuat. Tak ada keraguan dari tatapan dan suaranya.
"Perintah diterima. Aku akan melaksanakan tugasku dengan sempurna untuk menebus kebodohanku sebelumnya."
" … Baiklah. Aku sudah selesai di sini, sisanya kuserahkan padamu, Lucius."
Mengatakan itu, elang itu pun terbang dengan menembus dinding dan segera menghilang dari pandangan Lucius.
Untuk sesaat, Lucius masih tak bergerak dari tempatnya. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, dan berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan berbagai kalimat.
Namun, dia tiba-tiba sadar.
Elang itu adalah familiar milik raja, tapi dia dikirim hanya untuk memberikan perintah baru pada Lucius.
Lalu, bagaimana dengan Rondo yang sudah dalam keadaan kacau balau? Apa ia harus meninggalkannya?
Bahkan, Lucius yakin, kalau sampai saat ini, semua anggota Asterisk masih beraksi di luar sana, menciptakan kekacauan yang mengerikan dengan korban yang tak terhitung jumlahnya.
Lucius menggelengkan kepalanya, dan menghapus pemikiran 'pengkhianat' yang sempat ia miliki. Memikirkan kalau raja telah meninggalkan Rondo, baginya itu adalah yang tak dapat dimaafkan.
Menghela napas sejenak, Lucius kemudian berjalan menyusuri tangga yang hampir ditutupi puing-puing logam sebagai sisa dari tempat pelarian wali kota.
Begitu ia keluar, hal pertama yang menyambutnya adalah pemandangan mengerikan dari Rondo yang sudah setengah hancur, disertai puluhan hingga ratusan jeritan manusia yang memekakkan telinga.
Meskipun begitu, Lucius masih berusaha untuk mengabaikannya. Dia punya tugas lain yang diberikan oleh raja, itu adalah prioritas Lucius sekarang.
Lucius kemudian menciptakan sebuah tombak cahaya di tangannya, dan membuat pose melempar ke udara.
Penampilannya sangat menenangkan. Sama sekali tidak ada keraguan dari gerakannya, dan setiap gerakan yang ia lakukan sangatlah halus sehingga hampir tak dapat disadari.
Namun, beberapa saat kemudian, sebuah gelombang kejut terbentuk di sekitarnya, menghempaskan semua hal yang ada di dekatnya.
Tombak cahaya yang sebelumnya ia genggam dengan erat di tangannya, kini terbang bebas di langit. Dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara, tombak cahaya itu terlihat seperti sebuah komet yang menghiasi langit malam di Rondo.
Begitu tombaknya sudah pada jarak yang tepat, Lucius sendiri segera melompat dan terbang mengikuti tombak yang ia lemparkan sebelumnya, mengarah ke Eisen.
...****************...
Sementara itu, di saat yang sama, di lokasi yang cukup dekat dari tempat Lucius meluncurkan dirinya sendiri.
Seorang pria yang berdiri dengan anggun di atas reruntuhan gedung sedang menatap 'komet' cahaya yang sebenarnya adalah Lucius.
Pria itu adalah orang yang sebelumnya memperkenalkan dirinya sebagai seorang Voyager di hadapan Lucius. Namanya adalah Galkard.
Dia adalah salah satu Voyager, atau pengembara yang menjadi rekan Olpus.
Sebelumnya, ia mendapat informasi dari Olpus kalau Rondo telah tenggelam dalam kekacauan, dan karena itulah ia di sini sekarang. Untuk membereskan semua kekacauan yang disebabkan Asterisk.
"Asterisk, ya … Benar-benar kelompok yang merepotkan … "
Itu adalah ungkapan jujur darinya.
"Terima kasih, berkat kalian, aku jadi harus merevisi semua rencana yang telah kususun selama beberapa tahun ini … Kalian benar-benar bajingan … "
Meskipun dia masih terlihat tenang, siapa pun dapat dengan jelas merasakan kalau ia benar-benar marah saat ini.
Niat membunuh yang berusaha ia redam itu masih bocor dari sorot matanya, sementara tangannya yang mengepal dengan erat itu mengeluarkan darah karena kuku yang menggali daging telapak tangannya.
Betapa memalukan. Itulah kata-kata yang selalu bergema di kepalanya selama ini.
Tidak hanya membiarkan kelompok asing menghancurkan rencananya, ia juga membiarkan dirinya dipermainkan seperti boneka oleh musuh.
Tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan apa yang ia rasakan.
Saat itu, ia melihat sosok laki-laki berambut putih yang menggunakan topeng aneh sedang berbicara dengan Lucius. Secara alami, Galkard tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun begitu, ia tak dapat melakukan perlawanan apa pun.
Karena, semua jalan pelariannya sudah tertutup.
Laki-laki bertopeng itu, yang menyebut dirinya Souris, tampaknya paham betul dengan struktur rencana yang telah Galkard bangun. Dia memanfaatkan semua informasi itu, dan membuat rencana yang sangat sederhana, tapi juga mematikan.
Galkard masih bisa menghentikannya jika ia muncul tepat waktu, tapi sayangnya ia sedikit terlambat.
Galkard baru tiba di Rondo saat laki-laki itu, Noelle memberi tahu Lucius tentang rencana yang selama ini telah berlangsung di balik layar. Jika saja ia datang lebih cepat, ia mungkin akan bisa membalikkan situasinya.
Noelle memanfaatkan rasa penasaran dan moral yang Lucius miliki untuk menjalankan rencananya, dan Galkard paham itu dengan sangat baik.
Sebenarnya, rencana Noelle telah dimulai sejak dia memberi tahu Lucius tentang rencana penciptaan senjata malaikat itu.
Dirinya yang memberikan informasi yang tidak lengkap pada Lucius itu telah memicu tumbuhnya rasa penasaran yang sudah dimiliki Lucius sejak awal. Dengan begitu, Lucius pasti akan menemui wali kota demi mendapatkan kepastian tentang apa yang Noelle katakan sebelumnya.
Bahkan meskipun Lucius tampak yakin dengan dirinya sendiri, ia tetap tidak bisa mengabaikan apa yang telah Noelle katakan sebelumnya. Itu karena ia telah dibuat ragu dengan keyakinannya sendiri. Tentu saja, penyebab itu semua adalah Noelle.
Dengan bertemunya Lucius dengan Weise, maka Galkard sudah dipastikan kalah.
Bagi Galkard, Weise adalah pion yang sangat sempurna.
Dia mengetahui tentang apa itu rencana penciptaan senjata malaikat, tapi tidak pernah terlibat langsung di dalamnya. Sejauh ini, Weise adalah satu-satunya orang yang paling memenuhi kualifikasi untuk menjadi pion yang layak bagi Galkard.
Weise tidak perlu mengetahui apa pun. Ia hanya harus bertindak normal seperti biasa, sementara Galkard mengendalikannya dari balik layar.
Karena itulah, ketika Weise mendapatkan informasi tentang berlangsungnya rencana penciptaan senjata malaikat itu, ia langsung kehilangan kualifikasinya sebagai seorang pion. Itu membuat Galkard harus membunuhnya secepat mungkin untuk menghapus semua jejak.
Tujuan Noelle sejak awal adalah membunuh wali kota, dan Galkard telah membantunya untuk mencapai tujuan itu, dengan tangannya sendiri.
Membiarkan seseorang mengendalikan dirinya seperti itu, adalah hal yang sangat memalukan bagi Galkard. Tapi, ia akan memastikan untuk tidak melakukan itu lagi nanti.
Ini memang bagian dari kecerobohannya, tapi karena itulah ia tak bisa membiarkannya lebih jauh lagi.
Rondo sudah dihancurkan oleh Asterisk. Yang artinya, sudah tidak ada gunanya bagi Galkard untuk berada di tempat ini lagi.
Untungnya, Galkard sudah merevisi semua rencananya, jadi ia hanya perlu kembali berkumpul dengan Voyager lainnya.
"Kurasa kita akan menjadi musuh untuk waktu yang lama. Kalau begitu, ayo lihat bagaimana perkembangan kita semua nanti, Asterisk."
Dengan itu, sosok Galkard menghilang menjadi asap hitam yang tertiup angin.
...****************...
Di saat yang hampir bersamaan, di area gedung produksi tempat pertarungan yang aneh sedang berlangsung.
Noelle dan yang lain dengan terpana masih memandangi 'komet' yang perlahan menjauh itu.
Namun, sesaat kemudian ia menyadari. Ada sosok lain yang mengikuti komet itu dari belakang.
Itu adalah Lucius, anggota Knight of Round yang baru ia temui beberapa saat yang lalu.
"Lucius Roux! Ructus! Arah itu! "
Untuk pertama kalinya, dan setelah sekian lama, Noelle berteriak dengan panik.
Bukan tanpa alasan. Dia berteriak dengan panik karena sudah memiliki firasat buruk dengan 'komet' itu.
Damian di sebelahnya merespon dengan tenang. Meskipun begitu, kerutan terbentuk dengan sangat jelas di dahinya.
"Aku juga melihatnya. Tidak salah lagi, itu Lucius. Tapi, kemana dia pergi? "
"Arah itu, tidak salah lagi, itu Eisen! "
"Eisen? "
–Kenapa dia ke sana?
Adalah apa yang ingin Damian tanyakan. Tapi, begitu ia melihat ekspresi cemas di wajah Noelle, ia mencoba untuk tidak menanyakannya dan mengembalikan fokusnya pada situasi di sekitar.
Tania, Arnaz, dan Ethan masih bertarung dengan sosok yang mereka sebut 'kehendak alam', dan misi mereka sebagian besar sudah selesai.
Seharusnya, tidak ada alasan bagi mereka untuk berada di tempat ini lebih lama lagi. Jika bisa, Damian ingin menyelesaikan ini secepat mungkin, dan pergi. Tapi, ia tidak tahu apakah sosok yang sedang mereka lawan saat ini akan membiarkan mereka begitu saja.
"Ructus, bisakah kita memeriksa ke Eisen? "
"Kenapa kau begitu terburu-buru? "
Samar-samar, Damian dapat melihat kekhawatiran yang dirasakan Noelle. Meskipun begitu, ia tak dapat bertindak gegabah.
Hanya ada satu alasan mengapa seseorang sekuat Lucius dikirim ke Eisen, sementara tempatnya berada, yaitu Rondo, saat ini dalam bahaya.
Ada sesuatu yang buruk sedang terjadi di Eisen. Hanya itu alasan yang dapat Damian pikirkan.
Tapi, bahaya macam apa yang dihadapi Eisen sehingga Lucius harus turun tangan? Itu yang ingin Damian pastikan.
"Apa keputusanmu, Ructus? "
Asher di sampingnya menunggu keputusannya, sementara Noelle sama sekali tidak terlihat tenang seperti biasanya.
Noelle tidak tahu apa lagi yang terjadi di Eisen saat ini, tapi setidaknya ia bisa sedikit bernapas lega karena koneksi《Oath of Blood》yang menghubungkan dirinya dengan Olivia masih aman.
Meskipun begitu, ia tetap tak bisa bertahan dari rasa cemas yang perlahan mulai menguasai dirinya.
Jika Lucius benar-benar mendatangi Eisen, itu pastinya untuk membereskan suatu masalah yang ada di sana.
Noelle tidak begitu gila sehingga rela meninggalkan Olivia di sebuah kota yang dalam keadaan kacau.
Namun, meskipun Noelle sangat ingin kembali ke Eisen sekarang, ia tetap tak bisa melakukannya.
Jarak dari Rondo ke Eisen cukup besar, tidak mungkin dia bisa mencapai Eisen dalam waktu singkat dengan cara terbang.
Satu-satunya cara tercepat untuk datang ke sana adalah dengan memanfaatkan kemampuan teleportasi yang diberikan kristal pada semua anggota Asterisk. Tapi, menggunakan kemampuan itu membutuhkan persetujuan dari anggota yang lain.
Itulah yang menyebabkan Noelle tidak bisa menggunakannya begitu saja.
"Baik, aku sudah memutuskannya."
Damian mengangguk dengan penuh kepastian, laku menatap Noelle, sebelum akhirnya beralih ke Lucia dan Colyn yang masih diam di belakang.
"Pekerjaan kita di sini sudah selesai. Sekarang, kita akan pergi ke Eisen. Persiapkan teleportasi! "
Teriakannya bergema di seluruh area gedung, membuat Ethan, Tania, dan Arnaz yang sebelumnya sibuk bertarung, menjadi menolehkan kepala mereka secara refleks.
Mereka bertiga tampak begitu terkejut dengan kemunculan Noelle dan yang lain, tapi Ethan dengan cepat memulihkan ketenangannya dan dengan riang menyapa mereka semua.
Arnaz yang tak membuang waktu lagi langsung melompat dari tempatnya berdiri sebelumnya, dan mendarat tepat di hadapan Damian.
Tania dan Ethan masih di tempat mereka, menangkis dan menghindari semua serangan yang muncul dari udara kosong.
"Apa yang akan kau lakukan, bajingan tua? "
"Kita semua akan pergi ke Eisen. Persiapkan teleportasi."
Itulah yang Damian katakan, sebelum akhirnya sosoknya menghilang, lalu kembali muncul tepat di hadapan Tania.
Sebuah batu besar yang melayang ke arah Tania itu seketika terbelah menjadi beberapa bagian, dan gagal mengenai dirinya.
Tentu saja, Damian adalah penyebab semua itu.
Sosoknya yang menggenggam erat kedua pedang di tangannya itu membuat Tania dan Ethan terkejut sejenak, tapi mereka segera kembali sadar, dan langsung menghampirinya.
Damian tak membuang waktu lagi langsung memberi mereka perintah.
"Persiapkan teleportasi! Kita akan pergi ke Eisen sekarang! "
Tania dan Ethan tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi, tapi hanya dengan melihat keseriusan Damian dan Noelle membuat mereka hanya mampu menyetujui tanpa mengatakan apa pun.
Sementara mereka sibuk menyiapkan teleportasi, Noelle masih berusaha memastikan keselamatan Olivia melalui koneksi《Oath of Blood》miliknya.
Tidak ada yang salah dengan koneksi itu. Hanya saja, beberapa saat yang lalu, ia merasakan suatu keanehan yang ditransmisikan《Oath of Blood》padanya.
Jelas sumber keanehan itu berasal dari Olivia. Tapi, Noelle tam dapat memastikan apa yang terjadi padanya sekarang.
Jaraknya dengan Olivia saat ini begitu jauh sehingga Noelle tak dapat melakukan apa pun untuk memastikan keadaannya.
Untuk saat ini, ia harus fokus pada tugasnya, dan menyelamatkan Olivia secepat mungkin.
Olivia memang tidak akan kalah dengan mudah, tapi, tetap saja Noelle masih merasa khawatir dengannya.
Untuk itu, ia harus cepat kembali ke Eisen, dan memeriksa situasinya secara langsung. Dengan itu, ia mungkin harus menghentikan beberapa rencananya yang sudah mulai berjalan sejak beberapa saat yang lalu.
Saat ini, Noelle masih belum sadar tentang betapa mengerikannya kekuatan baru yang Olivia bangkitkan.
...****************...