[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 157: Cryll Rescue Act (14)



...****************...


"Jane! "


Liv berteriak ketika melihat aksi yang dilakukan Jane,


Olivia dan Stella juga sama terkejutnya. Sejak awal, mereka tidak pernah mengira akan memiliki lawan yang rela melakukan hal gila seperti memotong kakinya sendiri untuk terbebas dari penahanan.


Jane memanfaatkan kelengahan Olivia dan akhirnya mendarat di tanah dengan keras.


Biar pun ia sudah tidak memiliki satu kakinya, ia masih memiliki yang lain, jadi itu bukan masalah. Selain itu, Jane juga bisa menggunakan teknik transmutasi dengan menciptakan suatu senjata yang akan menggantikan kakinya.


Untuk melakukan itu, ia membutuhkan material yang kuat.


Jane menatap pedang besarnya, dan tersenyum.


"Maaf, kawan. Kurasa aku akan menggunakanmu.《Transmute》."


Sambil bersandar pada salah satu pohon, dia kemudian mengeluarkan sebuah lingkaran sihir, yang pada akhirnya langsung menelan pedang besarnya.


Lingkaran sihir yang menempel di pedangnya langsung bersinar. Sinarnya bahkan terasa seperti menenggelamkan pedang itu sehingga tak ada siapa pun yang bisa melihat wujudnya.


Tak lama kemudian, pedang besarnya telah direduksi menjadi partikel logam biasa yang melayang di udara sekitar. Jane langsung menggunakan teknik transmutasinya untuk mengubah partikel logam itu menjadi sebuah senjata untuk kaki barunya.


Senjata itu berupa kaki buatan. Dengan logam yang sangat kuat sebagai materialnya, itu tidak akan hancur dengan mudah.


Di tempat betis belakangnya seharusnya berada, bilah pedang yang tajam muncul dari sana, sehingga dapat menjadi sebuah pedang tajam jika Jane menendang menggunakan kaki belakangnya.


Tak hanya itu, lututnya juga menjadi sebuah senjata. Logam tumpul yang benar-benar padat berkumpul di sana, menjadikannya bagian yang paling keras dari semua bagian dari kaki prostetik barunya.


Begitu selesai bertransformasi, Jane tersenyum, dan menatap Olivia dengan sinis.


"Ada apa? Aku kira kau adalah orang yang tidak akan mau menunggu sampai lawanmu selesai bersiap."


Olovia mengerutkan keningnya dengan tidak senang. Apa yang Jane katakan itu benar, tapi ketika dia mengatakannya, itu justru menjadi sebuah penghinaan bagi Olivia karena ia telah membuang waktunya yang berharga hanya untuk menyaksikan transformasi tak berguna.


Seharusnya dia bisa menggunakan waktu itu untuk langsung menghabisi lawannya.


(Tidak ada cara lain.)


Olivia langsung maju dengan menghunus pedangnya, tapi Jane menahan ujung rapiernya dengan lutut logamnya yang keras.


Dan tak berhenti di sana, Jane juga langsung memberikan tendangan menyamping yang sangat kuat pada Olivia setelah mendorong kembali pedangnya.


Sebagai hasilnya, Olivia langsung terpental jauh ke belakang, menabrak sebuah pohon dengan sangat keras hingga merobohkannya.


Berat badan Olivia tak sebesar itu, jadi ia seharusnya tak akan bisa menghancurkan sebuah pohon hanya dengan menabraknya. Yang artinya, kekuatan yang diberikan tendangan Jane sangatlah kuat sehingga menghasilkan momentum yang kuat, dan meningkatkan kekuatan tabrakan Olivia menjadi seperti sebuah truk yang melaju dengan kencang.


Olivia berusaha berdiri sambil meringis kesakitan. Dengan menjadikan pedangnya sebagai tumpuan, ia mulai berusaha meregenerasi semua lukanya sendiri.


Luka yang dihasilkan tabrakan itu sangatlah mengerikan. Beberapa tulangnya telah hancur total, dan organ dalamnya seperti diacak-acak.


Meskipun begitu, entah bagaimana Olivia masih bisa mempertahankan kesadarannya dan berdiri. Walaupun, ia melakukannya dengan susah payah.


Namun, semuanya sia-sia. Regenerasinya benar-benar menjadi jauh lebih lambat dari seharusnya, dan resistensinya terhadap rasa sakit menghilang.


Olivia tanpa berkata apa pun langsung roboh di tempat.


"Olivia! "


Stella langsung menendang tubuh Liv sekuat tenaga, dan dengan panik menghampiri Olivia.


Berkat perlindungan dari zirahnya, hampir tak ada luka luar yang benar-benar serius. Namun, gelombang kejut yang dihasilkan hantaman yang sangat kuat pasti akan berpengaruh pada organ dalamnya yang rapuh.


Stella memperhatikan kondisi Olivia dan bertanya-tanya apakah ada hak yang bisa ia lakukan atau tidak.


Dan ia akhirnya sadar. Dia tiba-tiba mengingat benda yang pernah Noelle berikan padanya untuk berjaga-jaga jika situasi yang buruk terjadi.


Mengabaikan Jane yang sedang membantu Liv berdiri, Stella merogoh sakunya, dan mengeluarkan dua buah tabung logam dari sana.


Dia membuka salah satu tabungnya, dan langsung menuangkan itu ke dalam mulu Olivia.


Secara tak sadar, Olivia menelan cairan yang berasal dari tabung itu. Dan perlahan, lukanya mulai beregenerasi dengan normal.


Sebenarnya, tabung itu berisikan darah Noelle yang telah disimpan untuk berjaga-jaga.


Ada dua tabung yang disimpan Stella, dan ia sudah menggunakan satu untuk menyelamatkan Olivia.


Sekarang, hanya ada satu tabung lagi. Ia ragu apakah itu akan cukup, tapi tak ada waktu untuk ragu.


Sebelumnya, Noelle pernah berkata padanya. Jika dia terlibat dalam pertarungan yang berbahaya, dia harus melemparkan tabungnya dan membiarkan darahnya tumpah ke tanah.


Itu adalah pesan yang Noelle berikan saat ia menyerahkan dia tabung darahnya pada Stella.


(Apa pun itu, tolonglah.)


Stella tanpa ragu melemparkan tabung itu, dan membuat darah yang tersimpan di dalamnya tumpah ke tanah.


Jane dan Liv bingung dengan apa yang dia lakukan, tapi Stella tak peduli. Ia menggendong Olivia dengan kedua tangannya dan melompat jauh ke belakang.


Setelah beberapa saat, Olivia akhirnya bangun.


" … Apa yang terjadi? "


Pandangannya buram, tapi ia masih bisa melihat dengan cukup jelas jika dia menyipitkan matanya.


"Akhirnya kau tersadar."


Kelegaan dapat terlihat di balik raut serius Stella. Dia benar-benar tak begitu ahli dalam menyembunyikan ekspresinya.


Olivia tiba-tiba menyadari situasinya, dia langsung memaksa turun dan berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Melihat ia sudah bisa berdiri dengan normal lagi membuat Olivia bingung.


" … Berapa lama aku pingsan? "


"Tidak lama. Hanya beberapa detik. Aku membantu mempercepat regenerasimu menggunakan darah yang Noelle berikan padaku."


" …… Noelle … Memberikan darahnya padamu? "


Mata Olivia tiba-tiba menjadi kosong. Tak ada jejak kehangatan di sana. Dia menatap Stella dengan penuh pertanyaan.


"Y-ya … Untuk berjaga-jaga jika situasi seperti ini terjadi … "


Olivia masih tak menunjukkan perubahan pada ekspresinya. Justru, udara di sekitarnya menjadi semakin dingin.


Itu wajar. Karena, bagi vampir seperti dirinya dan Noelle, menyerahkan darah sama artinya dengan menggantungkan hidup. Noelle memberikan darahnya pada Olivia sebagai bukti kalau ia bergantung padanya. Dan begitu pula sebaliknya.


Noelle memberikan darahnya pada Stella. Yang artinya, Noelle telah menggantungkan hidupnya pada Stella ….


Wajar saja Olivia merasa bingung.


"Ahh! Tak ada waktu untuk itu! Lihat! Mereka mulai bergerak lagi! "


Hanya akan menjadi hal yang sia-sia jika Stella terus meladeni tingkah Olivia. Jadi, ia dengan cepat mengalihkan topik dan menatap musuh.


Jane dan Liv masih berdiri jauh di seberang sana. Mereka tak bergerak untuk menyerang Olivia dan Stella.


Setelah mereka melihatnya lagi, Jane tampak kesulitan dengan kaki barunya itu.


Dia mungkin belum terbiasa karena ini adalah pertama kalinya dia menggunakan kaki prostetik seperti itu.


Sementara itu, darah Noelle yang telah Stella lemparkan ke tanah tampak bereaksi dengan cara yang mengerikan,


Darah yang dimasukkan ke dalam tabung itu seharusnya tidak begitu banyak. Hanya beberapa mililiter.


Namun, genangan yang dihasilkan anehnya sangatkah besar, dan ukurannya meningkat seiring berjalannya waktu.


Genangan darah itu juga tampak bergoyang dan menggeliat seperti sebuah lendir yang menjijikkan, tapi itu tidak semuanya.


Beberapa makhluk asing dengan wujud yang mirip dengan serigala mulai bermunculan dari genangan darah itu.


Tubuh mereka kelihatannya sangat keras. Warnanya juga merah pekat seperti darah Noelle. Ukuran mereka tidak begitu besar, tapi kekerasan dan ketajaman taring mereka sudah cukup untuk menghancurkan tubuh seorang pria dewasa.


"Itu … Penciptaan familiar darah? Tapi … Sejak kapan Noelle mempelajarinya? "


Olivia pernah mendengar tentang kemampuan ini sebelumnya. Sama seperti kemampuan penciptaan familiar yang dimiliki banyak orang, penciptaan familiar darah juga memiliki fungsi untuk menciptakan seekor familiar yang patuh pada penciptanya.


Namun, tak seperti penciptaan familiar yang norman, penciptaan familiar darah tidak membutuhkan hewan atau monster apa pun sebagai target penjinakan.


Yang perlu penggunanya lakukan hanyalah menyebarkan darahnya sendiri menjadi bentuk genangan, dan menciptakan makhluk yang mereka inginkan dari sana.


Terdengar mudah, tapi sebenarnya itu adalah teknik yang sulit bahkan bagi vampir sendiri.


Noelle membutuhkan waktu lebih dari lima tahun untuk mempelajarinya secara diam-diam.


Awalnya itu tak sempurna, jadi Noelle tak pernah menggunakannya, tapi belakangan ini kemampuannya semakin berkembang, dan akhirnya Noelle memutuskan untuk menggunakan skill ini sekali lagi.


Tiga ekor serigala yang terbentuk dari darah yang memadat itu menatap Jane dan Liv. Berikutnya, mereka maju menerkam mereka berdua.


Namun, hanya dengan itu saja tak cukup.


Jane menggunakan kaki prostetiknya untuk menendang serigala itu, sedangkan Liv menggunakan belatinya untuk mengikis beberapa bagian dari serigala itu.


Karena strukturnya yang terbuat dari darah yang memadat, tak ada unsur organik lembut yang dapat dijadikan kelemahan.


Dan di sanalah, Olivia merasakan keanehannya.


Kemampuan itu terlalu sempurna. Jika memang begitu cara kerjanya, bukankah familiar itu akan menjadi sesuatu yang sangat kuat? Pasti ada kelemahannya, pikir Olivia dalam hati.


Dia dengan jeli memperhatikan semua pergerakan yang dilakukan para serigala darah, dan menemukan celahnya.


Tubuh mereka memang sangat keras karena terbuat dari darah yang memadat. Tapi, Liv bisa memotong beberapa bagian tubuh dari para serigala itu seiring berjalannya waktu.


Olivia melebarkan matanya ketika ia menyadari kelemahan yang dimiliki familiar darah.


"Kita harus cepat. Familiar darah memiliki batas waktu aktifasi, jadi kita gunakan kesempatan ini untuk menyingkirkan semua batu bulan yang menghalangi."


Stella mengangguk menyetujuinya.


Mereka berdua kemudian bergerak dan menyingkirkan semua batu bulan yang mereka temukan di sekitar.


Akan mudah untuk menghancurkannya, tapi Olivia khawatir kalau pecahannya akan memberikan efek yang serupa, jadi dia memilih untuk mengambil jalan akan dengan menyingkirkannya saja.


Olivia yakin kalau batu bulan itu tersebar di semua tempat di pulau ini, tapi ia tak memiliki waktu untuk menyingkirkan semuanya. Jadi Olivia meminta Stella untuk menyingkirkan semua yang ada di sekitar 'arena pertarungan' ini.


Sementara Jane dan Liv sibuk bertarung melawan serigala darah, Olivia dan Stella terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk menyingkirkan semua batu bulan yang tersedia.


Dan akhirnya, mereka selesai. Kekuatan Olivia kembali. Regenerasinya kembali normal, dan aliran energi sihirnya kembali berjalan dengan lancar. Sekarang ia sudah bisa menggunakan sihir dan skill-nya secara normal.


Terlebih lagi, semua itu terjadi tepat pada waktunya.


Olivia dan Stella sudah bersiap untuk melawan Jane dan Liv, dan semua familiar yang bertarung dengan mereka langsung kembali menjadi genangan darah yang menjijikkan.


"Kau terlihat segar. Apa kau melakukan sesuatu? " tanya Jane pada Olivia.


Olivia tak menjawabnya, dan bersiap menggunakan pedangnya.


Untungnya, Jane masih memiliki pemikiran kalau Olivia hanya bisa menggunakan kekuatan fisiknya. Jadi, itu bisa Olivia gunakan sebagai umpan yang bagus.


Di sisi lain, Stella juga bersiap dengan busurnya sendiri. Dia menarik anak panah dan membidik tepat ke arah Liv.


Detik kemudian, anak panah ditembakkan, menjadi pertanda akan dimulainya pertarungan mereka.


Meskipun, itu sudah tak layak untuk disebut pertarungan lagi.


Olivia dan Jane saling berhadapan, dan Olivia berpura-pura menusukkan pedangnya ke arah perut Jane, sementara Jane menggunakan kaki prostetiknya untuk memindahkan jalur tusukan Olivia.


Namun, jelas itu sia-sia.


Olivia membuat senyum yang mengerikan, dan partikel hitam mulai berkumpul di ujung jari telunjuknya yang bebas.


"《Lust: Unholy Maiden》"


Senyum di wajah Olivia semakin dalam. Suasana di sekitarnya telah berubah drastis.


Tak ada jejak akan keberadaan Olivia yang lemah yang sebelumnya Jane lawan.


Yang ada di hadapannya, adalah sosok yang lebih mengerikan.


Jane secara refleks langsung melompat mundur. Dia sendiri mempertanyakan mengapa ia melakukan itu, tapi ia kemudia menyadari kalau itu adalah pilihan yang menyelamatkan nyawanya.


Tepat di tempat Jane berdiri sebelumnya, sebuah duri hitam besar muncul dengan menusuk ke atas. Jika Jane masih berdiri di sana, maka dia pasti sudah mati.


Jane hanya bisa tertawa kering saat menyaksikan perbedaan kekuatan Olivia yang sangat mencolok dari yang sebelumnya.


"Kenapa kau melarikan diri? "


Olivia tanpa menyembunyikan senyumnya kembali mengayunkan jarinya sendiri. Berikutnya, sebuah kubus hitam raksasa muncul di udara, dan dengan cepat terjatuh ke tanah seolah ditarik oleh gravitasi yang kuat, membuat Jane seketika melompat ke samping untuk menghindarinya.


Dia beruntung karena berhasil menghindari yang satu itu. Tapi, bagaimana dengan Liv? Apa dia bisa mengatasi situasi ini? Jane melirik sejenak ke arah Liv, dan bersyukur karena yang dia lawan adalah Stella.


Namun, ia benar-benar tak diizinkan untuk mengalihkan perhatiannya walau hanya sebentar.


Saat dia masih memperhatikan Liv, Olivia diam-diam tersenyum dalam dan merapalkan satu mantra.


"《Abandonment Cube》"


Beberapa kubus hitam raksasa yang sama seperti sebelumnya mulai bermunculan di udara, dan terus berjatuhan menghujani Jane tanpa henti.


Jane tak diberikan kesempatan untuk membalas. Yang bisa dia lakukan hanyalah menghindar. Itu pun, dia masih harus bertarung dengan waktu.


Karena, setiap kali ia bangkit, kubus lain akan muncul dan menghujani dirinya tanpa henti.


Dibandingkan pertarungan, ini lebih seperti Olivia yang mempermainkan lawannya.


Namun, tak lama kemudian, ekspresi di wajah Olivia menghilang. Mungkin karena ia telah kehilangan minat dengan Jane.


"Kau membosankan."


Olivia mengayunkan jarinya sekali lagi, dan menciptakan sebuah jangkar hitam raksasa di udara.


Kali ini, Jane bahkan tak menghindar. Ia hanya menatap jangkar raksasa itu dengan penuh terpesona. Namun, itu akan menjadi akhir dari hidupnya.


"Jane! "


Liv berteriak memanggilnya, tapi Jane tan merespon. Dia dalam diam menatap jangkar raksasa yang perlahan mulai terjatuh, dan akhirnya … Menimpa dirinya.


Itu adalah akhir dari hidup seorang tahanan dengan kode nama 41C, atau yang juga dipanggil sebagai Jane.


Tak ada perubahan pada ekspresi Olivia. Dia dengan bosan mengayunkan jarinya, dan jangkar raksasa itu langsung lenyap menjadi partikel hitam yang menyatu dengan udara.


Sementara itu … Liv yang menyaksikan semuanya … Hanya bisa berteriak dengan histeris.


Tubuh Jane telah hancur sepenuhnya, tak ada yang tersisa selain bagian tubuh yang telah rata dengan tanah.


Tentu saja, itu adalah hal yang alami ketika tubuh manusia biasa ditimpa dengan sesuatu yang berat seperti jangkar raksasa.


Olivia menoleh, dan menyaksikan Liv yang masih berteriak histeris, tidak percaya dengan kenyataan kalau Jane telah tewas tepat di hadapannya.


Diam-diam, Olivia membayangkan Liv sebagai dirinya, dan Jane sebagai Noelle. Jika posisi mereka ditukar seperti itu, apa Olivia akan bersedih seperti yang Liv lakukan? Jawabannya tentu saja iya.


Tidak, mungkin akan lebih dari itu.


Seberapa dalam kesedihan yang akan dirasakan saat melihat orang yang dicintai tewas tepat di hadapan mata akan sangat bergantung pada seberapa dalam hubungan yang kedua individu itu miliki.


Olivia menggelengkan kepalanya, menghapuskan pemikiran itu, dan sekali lagi mengayunkan jarinya.


Partikel hitam mulai berkumpul di sekitar dirinya, dan menciptakan sebuah duri besar dengan bagian bulat pada pangkalnya.


Bentuknya seperti jarum pentul. Memang agak sulit untuk digunakan ketika bertarung, tapi itu adalah bentuk yang paling mudah dikendalikan dari jarak jauh.


Tak berselang lama kemudian, jarum besar itu langsung maju dan menusuk tepat di bagian perut Liv.


Ini bukanlah pertarungan. Mereka berdua hanya dipermainkan oleh Olivia secara sepihak. Benar-benar mengerikan.


Stella yang menyaksikan itu hanya bisa diam. Dalam hal ini, ia sepenuhnya berpihak pada Olivia.


Itu karena, dia pasti akan melakukan hal yang sama jika ia dan Cryll dalam posisi terdesak.


Kemampuan untuk menghabisi musuh tanpa ragu, adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki jika mereka memang berniat melindungi apa yang berharga bagi mereka.


Olivia ingin melindungi dirinya sendiri, dan Noelle yang berdiri bersamanya. Tentu dia harus memiliki keberanian untuk menghabisi musuhnya tanpa ragu.


Dan Liv juga sama. Dia memiliki keinginan untuk melindungi Jane. Hanya saja, dia lemah, dan tak memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukannya.


Hasilnya, Jane tewas tepat di hadapannya, dan dia tak mampu melakukan apa pun untuknya. Hingga akhirnya, ia juga tewas dengan sebuah duri raksasa yang menusuk perutnya.


Olivia menarik kembali duri itu, dan membiarkan tubuh dingin tak bernyawa Liv terjatuh tanpa daya ke tanah.


Dalam hatinya, Olivia membacakan doa agar setidaknya mereka bisa tenang di sana.


Sebelumnya, Olivia tak pernah merasakan simpati dari orang-orang yang ia habisi dengan tangannya sendiri.


Namun, entah mengapa, ia merasakan kedekatan dengan Liv. Mungkin karena mereka memiliki keinginan yang sama, yaitu hidup sampai akhir bersama orang yang mereka cintai.


Olivia menghela napasnya dan berjalan menuju bangunan itu. Setelah menghabisi Jane dan Liv, ia yakin kalau tak akan ada orang lagi yang datang ke sana.


Stella, yang tidak mengatakan apa pun sejak tadi hanya berjalan mengikutinya dari belakang.


...****************...