![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Dari semua orang, kenapa aku harus terjebak bersamamu … "
Suara serak Kaira keluar mengucapkan kata-kata itu sesaat setelah ia merintih kesakitan.
Di sampingnya, Rico memasang wajah cemberut, jelas tidak senang dengan apa yang baru saja dikatakan Kaira.
"Bukan keinginanku untuk terjebak di sini bersamamu. Jika bisa, aku ingin terjebak bersama seseorang yang akan menjamin keselamatanku. Seperti Noelle atau Norman misalnya."
Sekitar setengah jam telah berlalu sejak mereka terbangun di tempat ini. Dan selama itu, mereka berdua telah mengumpulkan cukup banyak informasi hanya dengan menyelidiki sebagian kecil dari tempat ini.
"Siapa yang menyangka … Kalau kita akan terperangkap di sebuah dungeon … "
Kaira menghemnuskan napas pasrah sambil menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah, memperhatikan langit-langit batu yang dipenuhi dengan stalaktit.
"Jangan berbaring di sana, atau kau tidak akan sempat melarikan diri jika stalaktit itu jatuh. Tapi … Aku setuju denganmu. Siapa yang merapalkan sihir teleportasi pada kita? "
Rico memperhatikan sekelilingnya dengan bingung.
Mereka tampak benar-benar santai. Tapi itu karena mereka telah sadar kalau tempat ini aman dari para monster.
Menghela napas lelah, Kaira kemudian bangun dan menatap pada Rico. "Hanya satu orang yang bisa kupikirkan. Aku akan bertaruh 10 koin emas, tebak siapa yang kupikirkan."
"Terneth? "
"Sialan," ucap Kaira sambil merogoh sakunya dan mengambil beberapa keping koin emas dari sana, sebelum akhirnya melemparkannya pada Rico.
Dengan senyum menantang di wajahnya, Rico menerima semua uang itu. "Tapi … Kau benar. Hanya dia yang bisa melakukan ini."
Bukan tanpa alasan keduanya menunjuk Terneth sebagai pelaku utama. Melainkan karena masalah yang mereka miliki dengan Terneth sebelumnya.
Setelah semua masalah itu, tidak mungkin Terneth akan tinggal diam. Dia pastilah akan melakukan sesuatu untuk mengacaukan kehidupan damai mereka semua.
Ada juga pemikiran mereka yang menganggap Earl sebagai pelakunya. Tapi, mereka dengan cepat menolak kemungkinan itu karena Earl tidak punya alasan untuk mengurung mereka di dungeon.
Justru, hal itu hanya akan merugikannya.
Dan di sinilah kesimpulan mereka dibuat. Orang yang memiliki dendam dengan mereka, dan akan memberikan berbagai gangguan pada Earl. Hanya Terneth seorang yang akan melakukan itu.
"Yang jelas, kita sudah punya perkiraan tentang siapa pelakunya. Sekarang … Apa yang harus kita lakukan? Kaira, apa kau punya ide? "
Dibandingkan kelompok lainnya yang telah dibentuk, tim yang anggotanya hanya terdiri dari mereka berdua jelas tidak begitu unggul. Sejak awal, mereka tidak begitu kuat dalam pertarungan langsung, dan mereka berdua sama-sama tipe orang yang akan bekerja di balik meja.
Jelas saja kalau pilihan yang mereka miliki akan sangat terbatas.
Kaira terlihat berpikir keras sejenak, sebelum akhirnya menghela napas pasrah untuk kesekian kalinya.
"Kurasa kita hanya bisa masuk semakin dalam. Dengan asumsi kalau semua orang juga dikirim ke tempat ini dengan anggota yang terpencar, mereka semua pasti akan masuk lebih dalam untuk mencari keberadaan satu sama lain. Tapi … Sejujurnya aku tidak begitu yakin. Kesempatannya 50:50. Bagaimana menurutmu, Rico? "
Kaira selesai mengungkapkan isi pikirannya, dan kini menunggu konfirmasi dari Rico.
Tak lama kemudian, Rico akhirnya menjawab, "Aku setuju denganmu. Menurutku, mereka semua akan masuk semakin dalam daripada mencari jalan untuk keluar menuju permukaan."
"Apa itu hasil analisismu, atau hanya firasat semata? "
" … Bagaimana kalau aku mengatakan … Keduanya? "
...****************...
"Ughh … "
Stella berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat, dan meraba sekelilingnya. Tapi, dia segera dikecewakan dengan tidak adanya sensasi kehangatan yang selama ini menemaninya.
"Padahal aku baru saja bertemu dengannya lagi setelah sekian banyak halangan. Tapi … Tidak kusangka aku akan dipisahkan dari Cryll lagi … "
Jika itu adalah dirinya yang lama, maka dia pasti sudah menangis karena ketakutan. Tapi, untungnya dia telah mengalami berbagai perkembangan dalam hal keadaan emosionalnya.
Sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, Stella mencoba bangun, dan menemukan keberadaan lain di sekitarnya.
Di antaranya adalah Chloe, Levina, dan Lilith.
Mereka bertiga adalah orang yang seharusnya berada di dalam《Reign》. Tapi, kenapa mereka bisa sampai keluar? Stella tidak tahu jawabannya.
Mungkin karena ada suatu masalah, yang menyebabkan mereka harus keluar dari《Reign》.
Bagaimanapun, Stella tidak tahu. Dia tidak terlalu mengenal Noelle, jadi dia juga tidak memahami cara kerja dari tekniknya.
Yahh, dia masih bisa mendapatkan informasi dengan cara lain.
Stella merangkak mendekati Chloe, dan mengguncang tubuhnya untuk membangunkannya. Tapi, tak hanya tak meresponnya, Chloe justru memiringkan tubuhnya ke samping dan memasang ekspresi puas seolah dia telah mendapatkan sesuatu yang besar di mimpinya.
" …… Seperti yang diharapkan … Aku tidak terlalu ahli dalam berurusan dengan mereka semua."
Stela bergumam sambil menghela napasnya saat ia mengingat berapa jauhnya jarak yang ia miliki dengan Noelle dan anggota kelompoknya.
Dia kembali mencoba membangunkan Chloe, tapi Chloe tampaknya tak memiliki niat untuk bangun. Dia terus tertidur tanpa mempedulikan panggilan Stella yang seolah mencoba menariknya dari dunia mimpi.
Beruntung, Stella mendapatkan bantuan.
" … Apa yang kamu lakukan? "
Itu adalah Lilith. Kelihatannya dia baru saja bangun dan kebingungan dengan apa yang Stella lakukan.
Stella tak menjawab dan hnya menatap Lilith untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berbicara dengan suara yang sangat pelan.
" … Tolong bantu aku membangunkannya," ucap Stella sambil menunjuk Chloe.
Dia tidak terlalu dekat dengan Lilith, jadi agak canggung untuk meminta bantuannya. Tapi, ini tidak seperti dia memiliki pilihan lain. Dia masih tidak mengerti dengan situasi yang dirinya dan ketiga orang itu hadapi, jadi ia harus bekerja sama dengan mereka semua untuk mencari cara agar bisa kembali berkumpul dengan semua orang.
Sejenak, Lilith terdiam. Tapi, begitu ia melihat sosok Chloe bersama Levina yang masih tertidur, dia langsung bereaksi.
"Di-Di mana kita?! "
Lilith dengan panik melihat ke sekelilingnya. Tapi, tak peduli seberapa sering ia melihat pemandangan itu, itu tak akan merubah kenyataan bahwa ia tengah terjebak di tempat yang asing.
"Tenanglah. Kita akan memikirkan cara untuk keluar dari sini setelah membangunkan mereka berdua," ucap Stella sambil terus mengguncang tubuh Chloe.
Tak lama kemudian, Chloe akhirnya menunjukkan reaksi. Alisnya saling bertaut, dan matanya perlahan terbuka, menatap Stella dengan tidak senang.
Mungkin karena dia masih dalam keadaan setengah sadar, ia jadi menggumamkan beberapa kata yang sulit untuk Stella dan Lilith pahami.
Namun, tak berselang lama kemudian, Chloe langsung bangun dari posisinya.
Dia terduduk di tempat dan memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan kebingungan yang sama dengan yang dimiliki Stella dan Lilith sebelumnya.
"Di mana ini?! Koneksiku dengan Tuan … Terputus?! "
Chloe terlihat panik. Matanya beralih dari Stella menuju Lilith, dan akhirnya berhenti ketika Levina akhirnya mencapai bidang pandangnya.
Begitu dia melihat Levina, dia akhirnya menghembuskan napas dengan lega. Entah apa yang akan terjadi padanya jika Levina sampai terpisah.
"Pina-chan, tolong bangunlah," ucap Chloe sambil mengguncang tubuh Levina.
Levina terlihat terganggu sejenak, tapi ia tetap bangun untuk menanggapi Chloe.
"Mhmm … Chlo … e … Di mana ini? "
Levina akhirnya bangun dan melihat sekelilingnya dengan tatapan penasaran. Chloe bingung harus bagaimana menjelaskannya, jadi ia menatap Stella dan Lilith yang sudah lebih dulu bangun sebelumnya.
Stella menghela napas, dan membantu Chloe menjelaskan situasinya. "Aku tidak tahu di mana kita sekarang. Tapi, ini mungkin semacam dungeon. Kita telah dipindahkan ke sini dengan teleportasi paksa."
"Begitu, ya … "
Baik Lilith maupun Chloe mengangguk. Mereka masih belum mengerti dengan pasti tentang situasinya, tapi mereka sudah memiliki gambaran kasar untuk itu.
Yang membuat mereka kebingungan sekarang adalah, bagaimana mereka bertiga—Levina, Lilith, dan Chloe bisa ikut terseret keluar?
"Kami seharusnya ada di dalam《Reign》dengan perlindungan anti sihir yang kuat dari Tuan. Tapi … Kenapa kita masih ikut terseret? "
Meskipun Chloe memiringkan kepalanya dengan bingung, dia tidak terlihat panik. Dia dengan mudah beradaptasi dengan situasinya dan mencoba memahami semua ini terlebih dahulu.
Levina di sampingnya terlihat ketakutan, tapi dia mengepalkan tinjunya yang kecil itu untuk memberanikan dirinya sendiri.
"Untuk sekarang … Brackas."
Chloe memanggil Brackas, dan sebagai gantinya, muncullah seekor serigala besar dari bayangan yang tercipta dari tubuh semua orang.
Brackas bisa dipanggil keluar, setidaknya itu adalah berita bagus. Chloe tidak terlalu percaya diri dengan kemampuannya dalam bertarung secara langsung, jadi keberadaan Brackas akan menjadi perlindungan untuknya dan semua orang.
Brackas berlutut di hadapan Chloe dan menunggu perintahnya, tapi Chloe justru hanya menatapnya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya bertanya, "Apa kamu bisa terhubung dengan Tuan? "
Tanpa menunggu lama, Brackas langsung menberikan responnya dengan menggelengkan kepala beberapa kali sambil menggaruk-garuk tanah dengan cakarnya.
" … Apa yang dia lakukan? "
Baik Stella atau bahkan Lilith kebingungan dengan tingkah Brackas, tapi tidak dengan Chloe yang sudah sepenuhnya memahami serigala itu.
"Saat sedang gelisah, Brackas akan menggaruk tanah menggunakan cakarnya. Itu mungkin karena dia merasakan putusnya koneksi yang dia miliki dengan Tuan."
Itu adalah informasi yang tidak terlalu penting, tapi itu menarik bagi Stella karena ia akhirnya bisa melihat sesuatu yang lucu dari serigala sebesar Brackas.
Beberapa kata itu berhasil keluar dari bibir Levina. Dengan raut sedih di wajahnya, Levina menunduk dan menelusuri tanah menggunakan ujung jari telunjuknya.
"Ahh, tolong jangan khawatir tentang itu! Kita akan segera keluar dari tempat ini, dan bertemu dengan Tuan! Jadi … Pina-chan, tolong tenang, ya."
Chloe mencoba menenangkan Levina, dan entah bagaimana berhasil melakukannya. Levina terdiam sambil menatap Chloe untuk beberapa saat, dan akhirnya tersenyum cerah.
"Nn! "
Dengan penuh semangat ia mengangguk sambil meniru gaya berbicara Olivia dengan cara yang agak canggung.
Tapi, dari semua itu, Stella dan Lilith hanya bisa menatap bolak-balik antara mereka berdua. Hingga akhirnya, Stella bersuara. "Meskipun kamu mengatakan itu … Bagaimana kita bisa keluar dari sini? "
" ……… Ayo pikirkan itu mulai sekarang," ucap Chloe dengan ekspresi canggung yang melengkapi wajah pasrahnya.
...****************...
"Ahhh!!! Aku benci ini!! "
Di lorong batu yang sangat panjang itu, tiga sosok orang tampak tengah berlari dengan sangat cepat menyusuri jalan yang ada.
Tiga sosok itu adalah Noelle, Cryll, dan Norman.
Cryll berteriak dengan penuh kekesalan saat ia berusaha berlari sekencang mungkin sambil mengatur napasnya. Di belakangnya, Noelle dan Norman juga ikut berlari dengan kecepatan yang sama.
Mengapa mereka berlari seperti itu? Dan mengapa wajah mereka juga tampak sedikit panik? Sebenarnya, itu semua karena apa yang terjadi sekitar setengah jam yang lalu.
Saat itu, Mereka bertiga akhirnya bangkit dan mulai melakukan penelusuran sambil bersiaga untuk kedatangan monster.
Tapi, monster yang dimaksud justru tak pernah muncul. Tampaknya itu adalah tempat yang benar-benar aman dari jangkauan monster.
Akan sia-sia jika mereka terus berdiam diri di tempat yang sudah dipastikan tidak ada jalan keluar itu. Jadi, ketiganya memutuskan untuk menelusuri lebih jauh lagi, dan akhirnya ….
Cryll yang agak kelelahan berniat bersandar pada permukaan dinding batu yang tidak rata. Tapi, tindakannya itu justru memicu pengaktifan perangkap yang ada di sana.
Perangkapnya tidak terlalu berbahaya bagi mereka, tapi tetap saja itu menjengkelkan.
Jika perangkapnya hanya hujan panah beracun dan beberapa duri yang muncul dari tanah, maka mereka bertiga bisa mengatasinya dengan mudah. Tapi, perangkapnya jauh lebih menjengkelkan dari itu.
Gua tempat mereka berada itu seketika berubah. Dindingnya menyempit, dan langit-langitnya juga sedikit turun, sehingga stalaktit yang ada di sana kini tepat berada di atas kepala mereka.
Mereka bertiga tentu saja tak tinggal diam. Masing-masing dari mereka telah bersiap dengan senjata mereka sendiri, tapi tak ada serangan yang muncul.
Satu-satunya yang terjadi di sana adalah perubahan yang tiba-tiba pada tempat mereka berada.
Tidak ada lagi gua luas dengan topografi yang aneh itu. Kini hanya ada lorong batu tak berujung, membuat Noelle, Cryll, serta Norman merasa sedikit tak nyaman saat melihatnya.
Meskipun begitu, ketiganya tak sedikit pun mau melonggarkan pertahanan mereka.
Hingga akhirnya, getaran tiba-tiba muncul, membuat mereka hampir kehilangan keseimbangan.
Noelle memperhatikan sekelilingnya dengan bingung, tapi tak dapat menemukan apa pun yang menjadi penyebabnya.
Namun, Norman dengan jelas merasakannya. Ada sesuatu yang datang. Setidaknya, itu bukanlah sesuatu yang begitu berbahaya sehingga dapat membahayakan nyawanya.
Meskipun begitu, ia tetap memperingatkan Noelle dan Cryll tentang bahaya itu.
Sayangnya, peringatannya sedikit terlambat.
Beberapa bola logam raksasa mulai terlihat dari sisi lain lorong itu, membuat mereka secara refleks bersiap untuk menghindar. Tapi, mereka langsung sadar kalau tak ada tempat yang tersedia untuk menghindar.
Jadi Noelle mengambil resiko dengan mengarahkan ujung pedangnya pada bola logam itu, dan secara bersamaan menggunakan sihir gravitasi untuk melemahkan tarikan bola logam itu.
Tapi, semuanya sia-sia.
Bola logam itu memang hancur karena pedang Noelle, tapi itu tidak cukup. Sebuah bola lagi muncul tepat di belakang bola logam itu, dan kali ini sihir Noelle tidak berguna.
Bola logam itu mungkin dibuat dengan material yang memiliki ketahanan yang kuat terhadap sihir.
Alhasil, semua jalan keluarnya terkunci.
Bahkan jika Noelle menghancurkan bola logam itu dengan kekuatan fisiknya, ada kemungkinan kalau bola logam lain akan muncul di belakangnya. Itu justru akan memperburuk situasi.
"Lari! " sahut Noelle sambil menarik kerah baju Norman lalu berlari menyusuri lorong panjang itu.
Dan di sinilah ia sekarang, sedang bermain kejar-kejaran dengan sebuah bola logam besar di sebuah lorong yang entah seberapa panjang itu sebenarnya.
"Kenapa bola bodoh itu harus mengejar kita?! "
Teriakan jengkel dari Cryll masih terus keluar dan membuat telinga Noelle panas. Jika bisa, Noelle akan memukulnya dan memintanya untuk diam, tapi itu tak mungkin dilakukan dalam situasi ini.
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri! Kau yang memicu perangkapnya! "
"Mana aku tahu kalau ada perangkap seperti ini di sini! "
"Ini adalah dungeon, kau harus bersiap untuk semua kemungkinan."
Norman sudah lepas dari pegangan Noelle, dan kini berlari dengan kakinya sendiri. Dengan ekspresi khawatir di wajahnya, dia melirik ke belakang dan menemukan kalau bola itu semakin dekat dengannya.
"Kurasa kita harus meningkatkan kecepatan … "
"Tch, Cryll! Apa kau bisa gunakan《Accel》?! "
"Itu tidak mungkin! Tempat ini terlalu sempit!
(Sudah kuduga.)
Meskipun memberikan peningkatan yang signifikan pada kecepatannya,《Accel》juga memiliki efek yang cukup buruk. Itu akan berpengaruh pada lingkungan di sekitar penggunanya.
Jika Cryll menggunakan《Accel》di tempat sempit seperti lorong ini, maka gelombang kejut yang dihasilkannya akan membuat langit-langit runtuh dan menjatuhkan semua stalaktit yang ada di sana.
Bagi manusia normal seperti Cryll dan Norman, sangat jelas kalau itu adalah tindakan bunuh diri.
Sambil terus berlari, Noelle memikirkan beberapa hal yang mungkin bisa digunakan untuk mengulur waktu.
"Ada yang salah dengan tempat ini! Aku ingin kalian memfokuskan diri untuk menemukan kejanggalan itu! "
Dia meneriakkan itu pada Cryll dan Norman sambil mengeluarkan beberapa pedang dari penyimpanan spasialnya, dan memposisikan semua itu di tanah sehingga bola logam itu akan sedikit terhalang pergerakannya.
Sayangnya, itu sia-sia. Bola logam itu dengan sangat mudah melindas dan menghancurkan semua pedang yang Noelle keluarkan.
Noelle tentu saja sadar kalau itu masih belum cukup. Dan sebagai gantinya, ia menggunakan sihir elemen tanah untuk menciptakan tembok besar yang terbuat dari batu, menghalangi lintasan bola logam itu.
Dan lagi-lagi, bola logam itu dengan mudah menghancurkannya.
"Seberapa kuat benda sialan itu?! "
Berbagai keluhan terus keluar dari mulutnya, tapi Noelle tak berhenti mencari cara yang bisa digunakan untuk menyelamatkan dirinya dan semua orang dari bola logam itu.
Noelle menggunakan darahnya sendiri untuk menciptakan sebuah tembok besar yang menghalangi bola itu, dan akhirnya, bola itu menabrak dengan sangat kuat sehingga Noelle yang hanya mengendalikan tembok itu dari jarak yang relatif jauh masih merasakan dampaknya.
Noelle menggertakkan giginya sambil berusaha mempertahankan bentuk dari tembok darah itu. Jika dia melepaskannya sekarang, entah seberapa cepat bola itu bisa melaju.
Tampaknya bola logam itu tidak bergerak karena suatu bidang miring, melainkan dengan sistem perintah 'maju, dan hancurkan semuanya'.
Karena ditahan oleh tembok darahnya, bola logam itu mungkin telah mengumpulkan momentum yang cukup kuat untuk memberinya peningkatan kecepatan yang mengerikan.
Noelle meminta Cryll dan Norman untuk menyelidiki tempat ini karena ia sudah memiliki beberapa dugaan.
Seperti yang diharapkan, lorong ini sedikit terlalu panjang, dan semua objek yang ada di sana juga sama persis dengan objek yang telah mereka lewati beberapa saat yang lalu.
"Noelle … Bukankah kita … Hanya berlari di tempat yang sama terus menerus? "
"Sudah kuduga! "
Noelle melayangkan senyumnya, dan secara bersamaan melepaskan konsentrasinya yang mempertahankan tembok darah itu. Akibatnya, tembok yang sebelumnya berdiri dengan kokoh itu kini berubah menjadi genangan darah segar yang segera dilindas oleh bola logam yang menggelinding dengan sangat cepat.
"Melompatlah ke kanan setelah aba-aba dariku! "
Dan dengan begitu, ketiganya kembali berlari.
Tapi, mereka tak benar-benar berlari tanpa arah sekarang.
Noelle mengeluarkan Langen yang diubah ke ukuran katana normal, dan langsung melemparnya ke depan. Lalu, sebuah rantai tipis namun panjang yang disambungkan dengan gagang pedang itu ditarik Noelle menggunakan tangan kanannya, yang menyebabkan Langen juga ikut berbelok ke kanan secara tiba-tiba.
Langen menancap di dinding, dan Noelle sekali lagi tertawa kecil.
"Sekarang! "
Begitu dia meneriakkannya, dia bersama Cryll dan Norman langsung melompat ke arah yang sama.
Berdasarkan pandangan mereka, titik pendaratan mereka seharusnya adalah dinding tempat Langen menancap. Tapi, itu justru tak terjadi.
Sebelum mereka benar-benar menabrak dinding, mereka melihat bagaimana Langen perlahan tenggelam ke dalam dinding itu seolah telah terserap olehnya.
Pandangan mereka seketika menghitam. Tak ada apa pun di pandangan mereka, semua telah berubah menjadi kegelapan total.
...***************...