![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Sebuah lingkaran sihir besar dengan pola yang rumit muncul di tengah reruntuhan aneh yang terletak di kedalaman hutan.
Lingkaran sihir itu memancarkan cahaya yang terang, dan memperlihatkan reaksi tak biasa. Ruang di sekitar lingkaran sihir itu mulai terdistorsi, dan menampilkan delapan sosok yang berbeda.
Noelle membuka matanya, dan memperhatikan tujuh sosok yang ikut muncul bersamanya di titik lingkaran sihir teleportasi itu.
"Sepertinya teleportasinya berjalan lancar," ucap Damian sambil menilai situasi.
"Ughh … Teleportasi ini membuatku mual … "
Colyn yang masih dalam posisi tidur di bantal barunya itu terlihat tidak senang dengan teleportasi yang baru saja terjadi, ia beberapa kali melayangkan protes dengan wajah kesal tanpa mengangkat tubuhnya dari bantal itu.
Noelle melihat ke sekelilingnya, dan menemukan kalau titik teleportasinya berada di area lereng pegunungan.
"Dingin … "
Tania mengucapkan itu sambil memegangi bahunya yang menggigil. Melihat itu, Noelle langsung menghela napas, dan mulai melepas jubah yang ia gunakan.
"Pakai ini."
Tania menerima itu tanpa protes, dan langsung memakainya. Tentu saja, sambil merasakan tatapan Colyn dari sampingnya.
"Bagaimana denganku? "
"Aku hanya punya satu," jawab Noelle sambil mengangkat bahunya.
"Kalau begitu, gunakan punyaku."
Asher mulai melepas jubahnya, dan memberikan itu pada Colyn.
"Oohh! Terima kasih! "
Mengabaikan interaksi mereka, Noelle mulai memperhatikan sekelilingnya lebih jauh lagi menggunakan sihir pendeteksi miliknya.
Sama sekali tidak ada keberadaan monster. Setidaknya dalam radius satu kilometer di sekitar mereka.
Suhu dingin yang menjalari tubuhnya menjelaskan kalau ia sekarang ada di suatu tempat di lereng gunung. Namun, Noelle tidak tahu tepatnya.
Sebagai gantinya, ia mencoba untuk bertanya pada Damian, "Hei, sebenarnya … Di mana kita sekarang? Aku tidak terlalu akrab dengan lingkungan negara ini."
Mereka memang sudah memutuskan titik teleportasinya bersama, tapi Noelle benar-benar tidak tahu tepatnya di mana titik itu.
"Aku belum pernah ke sini, tapi … Ini seharusnya reruntuhan peninggalan bangsa Aino yang terletak di bagian Utara ibukota Zeltis, tapi … Aku sendiri sedikit ragu dengan itu."
Keraguan yang ditunjukkan oleh Damian sudah cukup untuk membuat semua orang di sana terperangah saat melihatnya. Namun, ada satu orang yang tampak tak terganggu dengan itu. Dia adalah Ethan.
Ethan maju dan memperhatikan sekelilingnya dengan mata penasaran, lalu tersenyum.
"Kita ada di reruntuhan peninggalan Aino yang dijadikan museum di Ibukota Zeltis. Lebih tepatnya, kita sekarang ada di pinggiran wilayah Rondo yang ada di kawasan Kota Zeltis Pusat."
"Ortis … Apa kau akrab dengan wilayah ini? "
"Aku hanya tahu beberapa hal tentang tempat ini. Lagi pula, aku terlahir dan besar di bagian lain dari ibukota."
Noelle membuat pose berpikir sejenak, lalu mengeluarkan sebuah kertas besar dari saku celananya. Itu adalah sebuah peta dengan detail yang bahkan mencakup jalan pintas yang umumnya tidak diketahui banyak orang.
" … Aku terkejut kau bisa memiliki peta itu … "
Untuk Damian yang seorang anggota militer berpengalaman, tentu ia mengetahui betapa berharganya sebuah peta detail seperti yang dimiliki Noelle. Jelas kalau ia akan terkejut saat melihatnya.
"Apa kau itu orang penting? "
"Tidak mungkin, 'kan? Aku hanya seorang petualang biasa. Untuk peta ini, aku tidak sengaja mendapatkannya saat memeriksa mayat seorang prajurit yang tewas."
Tentu saja jawaban itu bohong. Nyatanya, Noelle sama sekali tidak menemukan peta di semua jasad yang telah ia periksa selama ini. Sebenarnya, ia mendapatkan peta detail itu saat ia menyelinap ke dalam mansion Terneth.
Tentu saja, dengan cara mencurinya.
"Mhmm … Aku tahu kalau Ibukota kerajaan ini memiliki luas yang lebih besar dari semua wilayah di bawah kekuasannya, tapi … Aku tidak menyangka kalau ini akan terbagi dalam beberapa wilayah lagi … "
Ibukota kerajaan Nothernos memiliki nama Zeltis. Nama itu diberikan langsung oleh sang pahlawan yang menjadi pilar utama kerajaan ini.
Berdasarkan apa yang Ethan katakan, dan membandingkannya dengan peta detail, Noelle dapat memastikan kalau lokasinya saat ini memang di wilayah sub-distrik Rondo yang berada dalam kawasan Kota Zeltis Pusat.
Ibukota Zeltis sendiri terbagi menjadi lima kota administrasi yang besar. Yaitu, Zeltis bagian Pusat, Zeltis bagian Utara, Zeltis bagian Timur, Zeltis bagian Selatan, dan Zeltis bagian Barat.
Semua bagian ibukota itu adalah bagian yang sangat penting untuk menjalankan fungsi utama kerajaan.
Lokasi yang mereka berdelapan jadikan sebagai titik teleportasi ini terletak di pinggiran kota Zeltis Pusat, tepatnya di salah satu kawasan sub-distrik bernama Rondo.
Noelle memperhatikan pepohonan yang sudah tertutup salju di sekitarnya. Iklim dingin kerajaan ini membuat suhu jadi jauh lebih dingin saat malam hari, bahkan di musim semi.
Itu sangat menjengkelkan karena ia harus terus menghangatkan tubuhnya secara sadar menggunakan kemampuan manipulasi suhu tubuh.
"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang? "
Arnaz membuka percakapan setelah semua orang berpikir tentang situasi yang mereka hadapi.
Damian membuat gerakan berpikir sejenak, lalu berbicara dengan aura yang sedikit mengintimidasi.
"Lebih baik kita segera mulai semuanya. Tidak baik menghabiskan waktu di sini. Kita akan membagi peran seperti apa yang kita diskusikan tadi siang."
"Itu artinya … Aku menyerang bagian pusatnya, ya … "
Noelle menjawab setelah menghela napas lelah sejenak.
Jika mengingat tentang apa yang mereka diskusikan tadi siang, maka Noelle terpilih untuk menyerang bagian pusat dari wilayah ini. Yaitu, kantor Walikota.
"Jika kita menyesuaikannya sedikit, maka aku akan menyerang kantor Walikota, lalu Pauper akan menargetkan kantor cabang departemen administrasi … Tunggu, wilayah ini termasuk wilayah produksi terbesar, 'kan? Kalau begitu … Mordred akan menyerang bagian pabrik produksi, dan Caver bagian gudang yang berdekatan dengannya … Lalu … "
Menghela napas sejenak, Noelle kemudian melanjutkan kata-katanya setelah ia berpikir kalau ini semua adalah hal yang merepotkan.
"Ortis akan menyerang bagian pusat departemen administrasi yang berdekatan dengan lokasiku, dan Tristan seharusnya pergi menghancurkan area pengungsian, 'kan? "
Noelle melihat ke peta, dan menemukan kalau lokasi pengungsian untuk wilayah ini adalah sebuah bunker besar yang terletak di bawah tanah.
"Itu benar."
Damian mengangguk, lalu melanjutkan, "Selanjutnya, Auger akan menargetkan bagian departemen keamanan seorang diri, dan aku akan menjadi pengalih perhatian untuk semua bala bantuan yang akan datang dari gerbang pusat."
"Apa … Kau benar-benar yakin dengan itu? "
Noelle bertanya dengan sedikit khawatir, lalu menoleh ke arah Lucia.
"Aku hanya merasa kalau peranmu dengan Auger itu terbalik … "
Mendengar itu, Damian hanya menyilangkan lengannya, dan menutup mata seolah tak ingin meresponnya, sedangkan Lucia hanya tersenyum tipis pada Noelle.
"Fufu~ Apa kau khawatir denganku, Souris? "
Ekspresi Noelle sama sekali tak bergerak bahkan ketika dihadapkan dengan senyum menawan dari Lucia. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan acuh, dan membalas, "Tidak, tidak juga. Ini hanya masalah moralku yang membiarkan seorang wanita menangani bagian tersulit itu sendirian."
"Bagian departemen keamanan tidaklah sulit jika dibandingkan bagian pusat administrasi yang akan dijaga oleh banyak pihak," jawab Lucia.
"Ini dan itu adalah hal yang berbeda. Lagi pula, bagian pusat administrasi tidak akan memiliki banyak pengawalan. Aku yakin hanya akan ada beberapa orang kuat di sana. Jika dibandingkan dengan unit penjaga militer yang kau targetkan, jumlah yang akan kulawan tidak akan sepadan."
"Hmm~ Membandingkan kualitas dengan kuantitas, ya~"
Jika ia mempertimbangkannya berdasarkan moral dan kenyataan yang dimiliki seseorang, pemikiran yang Noelle miliki itu masih wajar.
Tapi, meskipun begitu, Lucia sudah mendapatkan bagiannya sendiri. Noelle tidak bisa membantah bagian itu karena kesepakatan yang ia usulkan saat rapat sebelumnya.
'Semua anggota Asterisk akan bergerak secara independen'.
Noelle menghela napas singkat dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak keberatan dengan itu. Sekarang, apa kita akan memulainya? "
"Ahh, tunggu."
Saat mereka semua bersiap untuk pergi ke lokasi yang sudah ditentukan, Ethan menyela mereka dengan panik.
"Apa lagi? "
Ethan tidak menjawab, dan langsung melepaskan tas kecil yang ia bawa di punggungnya. Tas itu cukup kecil sehingga Noelle bahkan tidak menyadari keberadaannya sampai Ethan yang menunjukkannya sendiri.
Merogoh bagian dalam tas itu sejenak, Ethan kemudian mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasnya.
Itu adalah topeng.
"Kalian mungkin akan butuh ini," ucap Ethan sambil memberikan itu pada semua orang.
Noelle menerimanya, dan menatap topeng itu dengan bingung.
"Apa kau yang membuat ini? "
Ethan memiringkan kepalanya dengan bingung sebagai tanggapan dari pertanyaan Noelle. Noelle, bagaimanapun, dia hanya bisa diam dan mengangguk sedikit sambil memikirkan beberapa hal aneh.
Jumlah topeng itu sesuai dengan jumlah mereka. Yaitu, delapan. Setiap topeng memiliki bentuk dan motif yang berbeda-beda dengan warna yang berbeda juga.
Mungkin untuk mengenal identitasnya, atau hanya keisengan Ethan semata, tapi semua warna pada corak topeng itu memiliki warna yang sama dengan kristal yang mereka miliki.
"Woah! Kau benar-benar membuat ini sendiri? Ortis luar biasa~"
Colyn memandangi topeng yang baru ia dapatkan itu dengan mata bersinar penuh kekaguman murni pada Ethan.
Ethan, bagaimanapun, dia hanya bisa tersenyum dan menjawab, "Gereja tempatku tinggal itu miskin, jadi aku harus memiliki banyak kemampuan untuk bekerja dan mendapatkan uang."
Berkat kondisi hidupnya yang bisa dibilang 'miskin', Ethan jadi memiliki banyak kemampuan yang mampu membuatnya menghasilkan uang. Salah satunya adalah kemampuan membuat kerajinan tangan.
Noelle tidak mendengarkan sisa percakapan Ethan dengan semua orang, dan lanjut memandangi topeng yang ia dapatkan itu.
Bentuknya menutupi wajah sepenuhnya, tapi sama sekali tidak ada lubang di sana. Benar-benar topeng dengan warna dasar putih yang polos. Satu-satunya saya tarik yang dimiliki topeng itu adalah pola aneh berwarna ungu violet yang ada di bagian kirinya.
(Kenapa aku selalu mendapat topeng tanpa lubang untuk mata? )
Meskipun itu detail yang tidak terlalu penting, Noelle tetap saja mau tak mau harus memikirkan kebetulan yang aneh ini.
Topeng hitam yang sebelumnya diberikan oleh orang aneh itu masih ada padanya, tapi Noelle sudah tidak pernah menggunakannya lagi sejak penyusupan ke mansion Terneth.
(Yahh, tidak masalah untuk menggunakan yang ini.)
Noelle mengangkat bahunya dengan ringan, dan mulai memakai topeng itu. Begitu Ethan melihatnya, Ethan langsung tersenyum cerah dan mendatanginya dengan cepat.
"Sudah kuduga itu cocok untukmu! Aku sudah menyesuaikan bentuk dan pola warnanya agar cocok dengan warna rambutmu, tapi tidak kusangka itu akan sebagus ini! "
" ……… "
Tanpa mendapatkan respon apa pun dari Noelle, Ethan langsung berlari pergi menghampiri anggota lain dan mengomentari semua topeng yang ia berikan pada mereka.
"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini, tapi … Rasanya sia-sia aku menggunakan topeng … "
" … Wajah kita … Sudah terlihat … "
Noelle berjalan meninggalkan mereka dengan percakapan antara Colyn dan Tania sebagai latar.
...****************...
"Hei … Apa kita benar-benar akan menyerang tempat ini? "
Suara penuh ketegangan, namun juga penuh antisipasi dari Arnaz itu mengungkapkan apa yang ingin dikatakan oleh semua orang di sana.
Saat ini, semua anggota Asterisk tengah berdiri di atas menara batu yang ada di sudut kota. Menara itu memiliki ketinggian yang cukup untuk membuat tubuh seseorang berubah menjadi 'percikan merah' di tanah jika mereka terjatuh.
Mereka semua memandangi tempat di mana takdir mereka kemungkinan akan berubah. Itu adalah Rondo. Sebuah kota sub-dustrik besar yang dikelilingi oleh tembok batu raksasa yang hanya samar-samar dapat mereka lihat karena jaraknya yang sangat jauh.
Meskipun saat ini waktu telah menunjuk pada tengah malam, kota itu masih dipenuhi oleh banyak kehidupan. Cahaya yang tampaknya berasal dari lampu jalanan menerangi pandangan mereka terhadap semua jalanan utama kota itu, sementara puluhan orang dan kereta kuda yang masih aktif bahkan di malam hari itu tampak berkeliaran di sekitar kota.
Mereka semua memandangi dan memindai setiap sudut kota yang memiliki ukuran luar biasa itu. Tidak salah lagi, hanya orang gila yang mau melakukan penyerangan di tempat seperti ini.
(Ini bahkan lebih luas dari Eisen dan Suiren … )
"Mhmm … Tidak heran ukurannya akan sebesar ini. Lagi pula, Rondo adalah kota administrasi yang berada di area ibu kota Zeltis pusat."
Ethan membuka topengnya sedikit, dan berbicara seolah membaca pikiran Noelle.
"Hanya orang gila yang akan memulai debut kejahatan besar mereka di tempat seperti ini."
Ucapan Colyn itu masuk akal. Lagi pula, bahkan meski hanya melihatnya dari area pinggiran, Noelle dapat merasakan banyak kehadiran kuat yang berasal dari beberapa tempat di sana.
Meskipun begitu, Noelle menanggapinya hanya dengan mendengus dan tersenyum mengejek di balik topengnya.
"Kalau begitu, kita adalah orang gilanya."
Dengan kata-kata itu sebagai pemicunya, sosok Noelle langsung menghilang dari menara itu, diikuti oleh semua orang. Satu per satu, semua anggota Asterisk akhirnya meninggalkan menara, dan tiba di tempat tujuan mereka masing-masing.
Noelle berjongkok di atas tiang yang entah digunakan untuk apa, dan memandangi sebuah bangunan besar yang ada di hadapannya.
Syal panjang berwarna merah yang ia gunakan di lehernya berkibar karena hembusan angin, bersama dengan rambut putihnya yang ikut bergoyang dengan lembut.
Syal yang ia gunakan itu tampak tak memenuhi perannya sebagai penghangat tubuh, dan justru terlihat seperti sebuah hiasan semata. Lagi pula, pakaian yang ia gunakan saat ini sangat tidak wajar untuk cuaca yang dingin di malam hari.
Selain syal panjang itu, Noelle hanya menggunakan sesuatu seperti sebuah kaus hitam tak berlengan yang tampak ketat. Itu lebih seperti pakaian olahraga yang biasa ia gunakan ketika latihan.
Dengan celana hitam panjang dengan bagian ujung kaki yang sedikit longgar, dan sebuah sepatu bot dengan beberapa bagian logam di solnya.
Noelle menciptakan dua buah pedang dengan bilah kembar yang memiliki bentuk aneh di kedua tangannya. Tentu saja, ia menciptakan itu dengan menggunakan darahnya sendiri.
Serangan baru akan dimulai ketika sinyal sudah diberikan. Karena itu, Noelle tetap diam dan menunggu sambil mengawasi pergerakan semua orang yang ada di sekitar bangunan besar itu.
Berdasarkan hawa kehadirannya, ada lebih dari 40 orang di dalam bangunan itu. Ditambah dengan orang-orang di luar bangunan yang tampaknya menjadi para petugas sipil, ada sekitar 60 orang di sana.
(Tidak apa … Aku … Sudah terbiasa dengan ini … )
Noelle berusaha meyakinkan dirinya sendiri saat ia tengah menunggu sinyal dari Lucia yang sedang berada di pusat departemen keamanan yang jaraknya cukup jauh dari posisi Noelle saat ini.
Ini seharusnya tidak akan menjadi pekerjaan yang sulit baginya. Ia hanya perlu membunuh beberapa orang, dan pekerjaannya akan selesai. Hanya itu. Tapi, entah mengapa ia merasakan keanehan di sini.
Ia masih bisa menghitung berapa banyak orang yang ia bunuh dengan kedua tangannya sendiri, tapi ia sudah tidak bisa menghitung jumlah yang ia bunuh secara tidak langsung.
Tragedi pembantaian sekolah swasta Sakuragaka adalah hasil terbesar yang pernah diciptakan Noelle. Ia mendapatkan rekor itu setelah 'mencuci otak' seorang murid bernama Asahina Tanaka yang ingin membalaskan dendamnya sendiri.
Noelle tidak bisa menghitung berapa banyak orang yang mati dalam tragedi itu. Tapi, ia yakin kalau jumlahnya melebihi angka 100 orang. Meskipun begitu, Noelle tetap tidak merasakan apa pun. Bahkan setelah melihat hasil mengerikan dari 'eksperimen' yang ia lakukan, ia tetap tidak merasakan apa pun. Kepuasan, kesedihan, rasa bersalah, keputusasaan, atau bahkan emosi lainnya. Ia tak dapat merasakan itu bahkan saat melihat bagaimana Tanaka membunuh semua orang.
Berdasarkan kekosongan yang ia rasakan saat itu, Noelle saat ini yakin kalau ia seharusnya juga tidak akan merasakan apa-apa. Tapi, kenapa ia justru terganggu dengan perasaan tak enak yang memenuhi dirinya? Semua tindakan yang akan ia ambil ini adalah hal yang sangat penting untuk memastikan masa depannya bersama Olivia. Hanya itu.
Sebelum bencana mengerikan itu datang, ia harus memusnahkan orang-orang yang akan menjadi benihnya di masa depan.
(Tidak apa … Ini masih belum seberapa … Aku akan baik-baik saja.)
Meskipun ia berulang kali mengucapkan itu untuk menenangkan dirinya, emosi yang bergejolak di dalam dirinya tetap tak berhenti. Sensasi antara membantai banyak orang secara langsung, dan membantai banyak orang dengan memanipulasi seseorang dari balik layar … Keduanya sangat berbeda.
Noelle menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk membuat dirinya fokus pada tujuan awal. Untuk saat ini, ia akan baik-baik saja selama ia mengabaikan emosi negatif yang memenuhi hatinya.
Noelle menyiapkan kedua pedangnya saat ia merasakan sedikit gelombang kepanikan dari jarak yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
Karena Noelle tidak bisa membiarkan identitasnya terbongkar, ia harus mengubah gaya bertarung, dan senjatanya agar tidak ada yang bisa mencocokkan dirinya dengan ciri-ciri itu.
Agak sulit untuk menggunakan pedang kembar yang ia pakai saat ini, tapi senjata ini adalah yang paling efektif jika ia ingin melakukan eksekusi cepat. Jadi, Noelle entah bagaimana harus membiasakan dirinya.
Untuk beberapa alasan, ia ingin tetap menggunakan syal merah itu meskipun ini adalah tindakan yang sangat beresiko. Mungkin di kedalaman hatinya, ia ingin tetap memegang sesuatu yang diberikan Olivia padanya, bahkan saat ia akan melakukan sesuatu yang mengerikan.
Tak lama kemudian, sebuah ledakan besar datang dari arah timur dari posisi Noelle sekarang. Tidak salah lagi, itu adalah sinyal dari Lucia.
Dengan sinyal itu, sosok Noelle langsung menghilang dan seketika muncul di hadapan para penjaga yang ada di depan gerbang bangunan besar itu.
Tanpa membiarkan para penjaga yang terkejut itu mengambil tindakan, Noelle segera memutar tubuhnya 360 derajat, bersama dengan kedua pedang kembarnya yang ikut melepaskan hembusan angin tajam.
Kepala dua orang penjaga yang ada di dekatnya seketika terjatuh ke tanah dan membuat para penjaga yang lain kebingungan. Tentu saja, Noelle tidak melepaskan kesempatan itu dan langsung memutar tubuhnya lagi dengan gerakan yang sama setelah ia mencapai posisi dua penjaga yang lain.
Begitu melihat dua kepala lain yang terjatuh ke tanah, Noelle segera melompat maju dan mengayunkan salah satu pedangnya ke kelompok penjaga yang lain, membuat kepala mereka ikut terpenggal karena tebasan dari bilah yang sangat tajam, serta hembusan angin yang tercipta setelahnya.
"Brengsek! Apa-apaan kau?! "
Salah satu penjaga mendekatinya dari belakang dengan mengayunkan sebuah pedang panjang, tapi Noelle langsung menendang dagu pria itu tanpa membalikkan tubuhnya, dan memanfaatkan momentumnya untuk memberikan tebasan menggunakan pedang di tangannya. Leher penjaga itu dengan mudah tertekan dan memuncartkan banyak sekali darah, diikuti oleh suara lembut dari kepalanya yang terjatuh ke jalanan berbatu.
"Penyusup! Habisi dia! "
Salah satu penjaga berteriak, dan membuat semua penjaga yang lain berkumpul di sekitarnya. Noelle tidak melepaskan kesempatan itu dan langsung melompat tinggi ke atas, lalu melemparkan sebuah bom yang diberikan Damian padanya.
(Bahkan bom granat sudah tercipta … )
Mengabaikan kebingungan yang ia rasakan, Noelle segera menyilangkan lengannya dan bersiap menerima hantaman kecil dari gelombang kejut yang datang bersamaan dengan ledakan dari bom itu.
Pecahan karet yang panas dan tajam menancap di kulit lengan Noelle, tapi itu bukan masalah untuknya. Ia segera memposisikan dirinya di udara, dan menemukan tempat untuk mendarat.
Hampir setengah dari para penjaga yang datang menyerangnya telah mati karena hantaman dari ledakan itu. Beberapa bahkan hanya menyisakan daging dan organ dalam yang berceceran di tanah.
Noelle dengan mata dingin tanpa emosi yang ditutupi oleh topeng itu menatap semua penjaga yang terkejut dari atas pagar tempatnya mendarat, dan menghitung jumlah orang yang sudah mati.
(Ini mungkin waktu yang tepat.)
Begitu ia memikirkannya, Noelle segera berbicara dengan suara yang sedikit teredam karena efek gema dari topeng yang ia gunakan.
"Aku Souris, dari Asterisk. Datang untuk membunuh kalian."
...****************...
(AN: Referensi senjata Noelle: pedang Karina ML.)