[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 271: Tahapan



...****************...


Tengah malam, Noelle memakai semua pakaiannya, dan keluar dari apartemen.


Hanya dengan satu langkah keluar, Noelle bisa merasakan banyak kehadiran sedang memperhatikannya. Mereka pasti para agen gereja yang ditempatkan untuk mengawasinya.


Noelle berhenti berjalan, dan melirik ke setiap tempat dengan kehadiran mereka, lalu mengangkat syalnya agar menutupi mulutnya sendiri.


Dia kemudian berjalan, dengan santai mengabaikan semua kehadiran itu.


Jumlahnya ada tiga belas orang. Itu cukup banyak, dan sebenarnya lebih banyak dari yang Noelle perkirakan di awal. Namun, itu justru bagus.


Semakin banyak yang memperhatikannya, semakin bagus pula hasilnya. Ini akan menjadi drama yang luar biasa.


Noelle berjalan santai seolah sedang mengelilingi kota, tapi sebenarnya dia tidak berjalan dengan rute yang acak. Dia sedang memeriksa salah satu rute pelarian yang telah Nantz persiapkan untuknya.


Nantz bilang kalau dia bisa menggunakan rute ini untuk melarikan diri, tapi Noelle tidak berencana menggunakannya seperti itu.


Sejak awal, dia tidak membutuhkan sesuatu seperti rute pelarian. Asalkan perhatian para agen bisa lepas darinya meski itu hanya untuk satu detik, Noelle bisa melarikan diri dengan mudah.


Karena itulah, Noelle berencana menggunakan rute ini untuk sesuatu yang lain.


Rutenya mencakup dari area pemukiman kumuh hingga pasar. Itu tempat yang sempurna untuk pelaksanaan.


Noelle berhenti di salah satu toko buku yang masih buka, dan membeli beberapa buku baru dari sana. Dia melakukannya agar para agen tidak merasa curiga tentang mengapa ia berkeliaran tak tentu arah di malam hari.


"Terima kasih atas kunjungannya! "


Noelle mengangguk ramah pada penjual buku itu, dan melanjutkan perjalanannya mengikuti rute yang telah ditentukan.


Rencananya sendiri terbagi menjadi tujuh tahap, dengan beberapa tahap sudah dilaksanakan lebih awal dari yang direncanakan.


Tahap pertama adalah memancing perhatian para agen, tahap kedua yaitu memeriksa rute pelarian yang Nantz sediakan, dan memikirkan rencana tambahan.


Tahap ketiga baru akan Noelle lakukan. Ini tahap yang sederhana, tapi membutuhkan perhatian khusus agar tidak dicurigai oleh para agen.


Noelle berhenti berjalan sejenak, dan membuka salah satu buku.


Buku itu masih baru, dan kertasnya yang tipis juga cukup keras. Ini sesuai dengan yang Noelle butuhkan.


Noelle membaca satu halaman, dan berniat membuka halaman selanjutnya, saat—


"Aduh–"


Jari telunjuknya tersayat, dan satu tetes darah keluar dari sana. Namun, alih-alih memulihkan lukanya, Noelle justru melambaikan tangannya, dengan sengaja meneteskan darah itu ke tanah.


Dia kemudian lanjut berjalan dengan luka terbuka di jarinya, dan meneteskan sedikit demi sedikit darah di setiap titik penting dalam rutenya.


Inilah tahap ketiga. Noelle menyebarkan darahnya di titik tertentu agar bisa dimanfaatkan nanti.


Tahap keempat sudah selesai saat Noelle datang metekrut Kino. Proses ini cukup sederhana. Dia hanya perlu mengumpulkan beberapa mayat. Untuk sekarang, Noelle memiliki empat untuk berjaga-jaga. Mayat ini akan sangat penting dalam rencananya nanti.


Sekarang, hanya tiga tahap tersisa.


Noelle terus berjalan mengikuti rute yang dia buat sendiri, dan akhirnya kembali ke apartemennya.


Dia tanpa ragu masuk, mengunck pintu, dan duduk di kursi belajar kamarnya setelah meletakkan semua buku di meja.


Setelah membuang uang untuk membeli buku itu, dia tidak ingin menyia-nyiakannya.


Satu per satu kehadiran orang yang mengamatinya memudar, dan kini Noelle bisa bernapas lega.


Sejauh ini, menarik perhatian para agen adalah bagian tersulit dari rencana Noelle. Karena dia harus melakukannya dengan sangat hati-hati. Jika dia ceroboh sedikit saja, pandangan mereka terhadapnya akan berubah negatif, dan rencana Noelle akan kacau.


Setelah semua kehadiran itu memudar, Noelle menggunakan kekuatan telekinesis Verstand untuk mengangkat kursi yang ia duduki, memutarnya seratus delapan puluh derajat, dan mengaktifkan sihir pemanggilan.


Tak butuh waktu lama hingga sosok pria muda dengan rambut merah yang khas muncul.


"Yo, apa aku mengganggu tidurmu? "


Noelle dengan santai memulai pembicaraan, mengabaikan wajah kesal Harold yang terarah padanya.


"Apa lagi yang kau inginkan? " tanya Harold.


Dia sudah mengenal Noelle untuk beberapa waktu, dan dia semakin sadar kalau tidak mungkin untuk menolak 'permintaan' orang ini. Noelle selalu memiliki cara untuk membuatnya tidak dapat menolak, atau bahkan dia bisa dengan santai memaksanya melakukan apa yang dia inginkan.


Noelle mengangguk, merasa senang atas keterusterangan Harold. Dia kemudian menyilangkan kakinya, dan memainkan buku yang baru saja dia beli.


"Besok malam, aku ingin kau melakukan tugas kecil."


"Tugas kecil? "


Harold tidak percaya itu. Noelle tidak mungkin akan menyerahkan tugas kecil pada orang lain. Harold tahu betul bahwa Noelle adalah orang yang akan menyelesaikan semua pekerjaannya sendiri.


Itu artinya, tugas ini merupakan sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan Noelle sendiri.


"Benar, tugas kecil. Besok, aku ingin kau berperan sebagai penjahat. Bagaimana? Itu cocok untukmu, 'kan? "


"Penjahat? "


Harold mengerutkan keningnya.


Memang, itu peran yang cocok untuknya. Dia sering berperan sebagai tokoh itu, dan bahkan mendalaminya di dunia nyata. Dia bahkan yakin kalau dirinya sebenarnya memang merupakan seorang penjahat.


Tetapi, kesampingkan hal itu. Noelle memintanya berperan sebagai penjahat. Itu artinya dia memiliki rencana yang besar sekarang.


Noelle tersenyum sinis sambil mengangguk.


"Seorang pria muda yang baik hati, Noah tanpa sengaja melihat seseorang telah membunuh seorang wanita tua. Dengan rasa keadilan yang memenuhi dirinya, dia pergi mengejar pembunuh itu. Namun, saat beradu pedang dengannya, dia kalah dan mati."


"Bagaimana? Sederhana, bukan? "


"Noah … apa itu namamu sekarang? "


Senyum di wajah Noelle mendalam, membentuk senyum yang lebih mengerikan dan terasa lebih dingin dari semua yang pernah dia tunjukkan. Ini seolah Noir telah mengendalikannya.


Dia senang karena Harold cepat dalam memahaminya. Karena dengan begitu, dia bisa menghemat banyak waktu.


"Yahh, kau tidak perlu tahu detail apa pun tentang tugas ini. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengikuti skenarionya seperti yang kuperintahkan. Ahh, jangan bertindak kecuali aku menyuruh, karena itu akan mengacaukan temponya."


"Skenario yang jelek," ucap Harold sambil menunjukkan wajah jijik.


Entah apa yang Noelle rencanakan, tapi Harold sudah tidak menyukainya. Bahkan, meski dia mendapatkan peran yang sangat cocok dengan drama itu.


Namun, respon dari Noelle justru kebalikan dari apa yang ia harapkan.


"Hehe, terima kasih atas pujiannya."


"Aku benar-benar ingin menghajarmu, dan melihat apakah kau masih akan tersenyum atau tidak," ucap Harold sambil menyipitkan matanya.


Namun lagi-lagi, Noelle hanya tersenyum. Dan sebelum Harold bisa mengatakan apa pun, pemandangan di sekitarnya berubah menjadi sebuah hutan. Ini adalah lokasi perkemahannya.


Sejenak, dia tetap diam, memikirkan kata-kata yang ia dengar secara samar dari Noelle.


"Coba saja kalau kau bisa."


...****************...


Setelah mengirim Harold kembali ke tempatnya, Noelle langsung melirik pada celah di jendela yang memancarkan sinar bulan.


『Hehe, lihatlah. Ada seseorang yang sedang terburu-buru sekarang.』


Noelle dengan mudah mengabaikan ocehan Noir, dan mengembalikan posisi kursi ke tempat semula.


Tubuh fisik vampir tidak akan lelah hanya karena tidak tidur selama satu atau dua hari. Tidur hanyalah opsional yang menyenangkan.


Saat ini, daripada tidur, Noelle lebih memilih untuk membaca habis buku yang baru saja dia beli.


Tahap kelima dari rencana, yaitu merekrut Harold sebagai aktor pemeran telah selesai. Sekarang, hanya ada dua tahap yang tersisa, dan itu semua adalah urusan mudah.


Tahap keenam adalah memastikan agar semua 'pemeran' berada di posisi mereka masing-masing. Untuk membantu menyelesaikan itu, Noelle mengeluarkan beberapa hal dari gudang spasial miliknya.


Itu semua adalah mayat. Totalnya ada empat, dengan satu untuk jaga-jaga.


Tubuh manusia yang sudah mati jauh lebih mudah untuk didominasi, dan karena itulah Noelle memilih untuk menggunakan mayat daripada boneka.


Seketika, gumpalan asap hitam muncul dari telapak tangan Noelle, dan menyelimuti tiga mayat yang ada.


Salah satu mayat itu berpenampilan seperti dirinya, Noah Ashrain, sedangkan yang satu lagi persis seperti Nantz.


Senyum aneh tanpa sadar terbentuk di wajah Noelle, dan dia menatap setiap mayat itu dengan perasaan aneh.


『Hehe, hehehe, kau memang memiliki bakat alami dalam hal ini.』


Akhirnya, tahap ketujuh; pelaksanaan.


...****************...


Akhir bulan, tanggal 31 Oktober.


Suasana pesta yang bahagia masih memenuhi diri Felice.


Dia keluar dari apartemennya dengan sangat ceria, dan hendak memanggil Noah keluar. Namun, dia ingat kalau shift Noah hari ini akan dimulai saat jam satu siang.


"Dia mungkin lelah. Aku tidak boleh mengganggunya."


Felice meyakinkan dirinya sendiri, dan berangkat ke bar sendirian.


Sesampainya di bar, Felice langsung membersihkan meja, menyiapkan menu yang akan disajikan, dan akhirnya membuka bar.


Pada saat siang, hanya satu jam sebelum shift Noah dimulai, Felice merasa aneh.


"Bukankah Noah biasanya datang satu jam lebih awal? "


Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Felice akhirnya meninggalkan meja konter. Untungnya, sekarang adalah shift Mona, jadi dia bisa mengambil alih sementara Felice pergi.


Felice berjalan cepat menuju ruangan Dolf, dan membuka pintu dengan suara keras seolah mendobraknya.


"Kapten, apa kamu melihat Noah? "


Dolf mengerutkan keningnya sejenak. "Tidak, aku belum melihatnya hari ini. Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar? "


"Tidak mungkin! "


Felice dengan cepat membantah, dan merasakan kegelisahan semakin tumbuh di hatinya. Dan tentu saja, Dolf menyadarinya.


"Tenanglah, Felice. Bahkan karyawan yang rajin bisa datang terlambat sesekali."


"K-Kapten benar … maafkan aku … "


Merasa bodoh dengan dirinya sendiri, Felice langsung berjalan keluar dari kantor Dolf, meninggalkan Dolf sendirian di sana dengan ekspresi murung.


...****************...


Sekarang sudah jam dua, dan Noah belum datang juga.


Kegelisahan dalam diri Felice memuncak, dan dia sudah tidak bisa menahannya.


Felice pergi ke ruang karyawan, dan mengganti pakaiannya. Kemudian, dia berlari keluar dari bar tanpa mengatakan apa pun pada Mona yang memanggilnya dari belakang.


(Apa yang terjadi? )


Napasnya berat, tapi Felice tidak berhenti. Biar pun udara dingin begitu menusuk kulit, dia terus berlari menuju apartemen.


Sesampainya di apartemen, Felice langsung mengetuk pintu apartemen Noah, tapi tidak ada respon.


Sekarang dia semakin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres.


Felice menahan kegugupannya dan terus mengetuk. Namun, tak peduli seberapa lama ia melakukannya, tak ada respon dari dalam. Hingga akhirnya—


"Menyingkir."


Seorang pria asing dengan jubah gereja muncul, dan mendobrak pintu apartemen Noah.


Felice membeku saat melihatnya, tapi kemudian dia sadar kalau pria itu adalah agen dari gereja.


"Tidak ada jejak. Dia sudah meninggalkan tempat ini berjam-jam yang lalu."


Hanya dengan memeriksanya sekilas, agen itu sudah sudah tahu apa yang terjadi. Meski begitu, Felice tidak percaya, dan masuk ke dalam untuk memeriksa.


Pintu kamar Noah tidak terkunci, dan saat dia masuk ke sana, dia disambut oleh keheningan total.


Tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada sebuah kasur kecil, meja kerja lengkap dengan kursi, dan satu rak yang penuh dengan buku usang.


Di meja, ada satu buku yang terbuka di pertengahan halaman. Itu adalah sebuah buku tesis tentang sihir, yang membahas tentang penggunaan sihir dalam kegiatan sehari-hari.


Felice tidak tertarik dengan bukunya, dan langsung keluar dari sana.


Apartemen Noah benar-benar kosong.


"Dia lepas dari pengawasan …. Sialan, kerahkan semua pengintai, kita akan mencarinya sekarang juga," ucap pria dengan jubah gereja pada seseorang yang bersembunyi di balik bayangan pintu.


Felice nyaris tidak dapat berpikir, tapi entah bagaimana dia masih bisa sadar, dan bergegas kembali ke bar.


Dia berniat mengabari semua orang bahwa Noah telah menghilang.


...****************...


Sementara itu, di mansion keluarga Grandbell.


Noelle dengan wujud aslinya sedang duduk bersantai, sambil membaca salah satu buku yang disediakan oleh Nantz untuknya.


Dia sudah berada di tempat ini sejak tengah hari, dan dia sama sekali tidak berencana untuk kembali.


"Apa kau yakin tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada mereka? "


Nantz tak jauh dari tempatnya berbicara, dan Noelle hanya meliriknya sedikit.


"Itu tidak perlu. Aku tidak cukup dekat dengan mereka, sehingga harus mengucapkan selamat tinggal," balas Noelle.


Tentu saja, Nantz tidak percaya itu. Yang Noelle katakan adalah sebuah kebohongan, yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.


Namun, Nantz dengan jelas memahami itu.


Kata-kata itu Noelle gunakan untuk melindungi dirinya sendiri. Dia sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan bahwa dia cukup dekat dengan semua orang di bar.


Mengucapkan selamat tinggal memanglah berat. Nantz sangat memahami hal itu. Karena itulah, dia tidak membantah Noelle, dan justru tersenyum padanya.


"Sifat itulah yang membuatmu kesulitan bergaul. Aku tidak ingin memiliki adik ipar yang anti sosial sepertimu."


Noelle awalnya tidak menanggapi, tapi kemudian dia ingat dengan sesuatu yang ingin dia tanyakan.


"Bicara tentang adikmu … Livia, maksudku Sirius, apa kau tahu alasan dia diculik? "


"Heh, panggil dia sesukamu. Tentang alasannya … tidak mungkin aku tahu. Bahkan, aku juga ingin mengetahuinya sekarang."


Ini adalah pertanyaan yang mengganjal di pikiran Noelle sejak lama. Bagaimana asal-usul dia dan Olivia, sehingga mereka bisa berada di tempat yang sana?


Rasanya terlalu bagus untuk menjadi kebetulan. Mereka terlahir kembali, dan dibuang ke sebuah gereja di desa kecil.


Noelle awalnya berpikir kalau itu memang sebuah kebetulan saja, tapi dia segera sadar kalau itu tidak mungkin.


Bagaimanapun, ada terlalu banyak faktor yang bisa diperhitungkan. Salah satu faktor terkuat adalah karena keterlibatan 'pengulangan waktu'.


Noelle masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia berfirasat kalau dirinya memiliki peran yang besar di garis waktu sebelumnya.


Noelle menghela napas dan menggelengkan kepalanya.


Dia tidak boleh teralihkan dengan masalah itu. Saat ini, keberlangsungan misi adalah yang utama.


Noelle membalik halaman untuk melihat konten berikutnya, tapi semua lembaran setelah lembar yang ia baca itu kosong.


"Apa buku ini belum selesai ditulis? "


Tidak mungkin ada kesalahan cetak, karena semua dilakukan secara manual.


Di belakangnya, Nantz mengangkat kepala seolah baru ingat sesuatu.


"Ahh, benar. Aku yang menulis buku itu, dan itu memang belum selesai."


Mengabaikan itu, Noelle menutup bukunya, dan mengambil buku lain dari rak. Kali ini, dia memastikan kalau setiap halaman memiliki kata-kata yang dicetak di atasnya.


Sisa waktu sebelum rencana dimulai:


"Empat jam, dua belas menit, dan tiga puluh satu detik. Ini terlalu lama … "


...****************...