[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 160: Cryll Rescue Act (17)



...****************...


"Wow, itu benar-benar luar biasa."


Noelle menghapus butiran keringat yang ada di dahinya, dan tersenyum sambil menyaksikan bangunan besar itu perlahan hancur.


Di sampingnya, Cryll dan Norman dengan mata kosong memandangi bangunan itu, sementara yang lain bahkan tak dapat memproses kenyataan yang terjadi.


Satu-satunya yang membuat respon yang berbeda di sana adalah Olivia. Dia langsung berlari menghampiri Noelle, dan melompat untuk memeluknya.


Olivia mendarat tepat di dada Noelle, dan langsung menggosokkan pipinya di sana. Wajahnya terlihat gembira, dan Noelle samar-samar dapat mengerti dengan apa yang terjadi.


Mengabaikan penampilan kusut Olivia, Noelle langsung meresponnya dengan mengelus kepala Olivia beberapa kali, sebelum akhirnya kembali menatap semua orang.


Stella telah sadar dan mengerti situasi darurat yang dirinya, dan semua orang hadapi. Namun, dia tetap tak dapat menahan rasa bahagianya saat ia melihat Cryll masih baik-baik saja.


Dia berniat menghampiri Cryll dan langsung memeluknya, seperti apa yang Olivia lakukan dengan Noelle. Namun, dia sadar kalau situasinya tidak akan mendukung adegan seperti itu.


Karena itu, ia memutuskan untuk melewati bagian reuni mengharukan, dan langsung bersiaga dengan posisi bertarungnya.


Tak butuh waktu lama hingga getaran di tanah sepenuhnya menghilang. Gedung tinggi itu sudah roboh sepenuhnya. Debu dan pasir disertai dengan dedaunan pohon tampak dengan bebas berterbangan di sekitar mereka.


Noelle merasa itu menjengkelkan, jadi ia kembali mengayunkan Langen, menciptakan hembusan angin yang sangat kuat sehingga menghempaskan semua polusi yang menghalangi pandangannya.


"Apa sudah berakhir? "


Kaira bertanya dengan ketegangan yang jelas pada suaranya. Meskipun begitu, sama sekali tak ada yang menjawab. Tidak ada siapa pun selain Noelle.


Noelle menggeleng dan kembali bersiap dengan Langen di tangannya.


"Dia memang terlempar jauh karena hembusan angin yang kubuat di atas sana sebelumnya. Tapi, aku ragu kalau itu cukup untuk membunuhnya."


Keheningan lagi-lagi menguasai udara. Namun, Norman kemudian memecahkannya dengan mengajukan satu pertanyaan.


"Di mana Rico? "


Kaira menggeleng, wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir. Hal itu saja sudah cukup bagi Norman untuk memahami situasinya.


Selagi memperhatikan situasinya, Noelle juga melihat bagaimana kondisi semua orang. Bisa dibilang, semua orang dalam keadaan yang cukup baik. Hanya saja, menghilangnya Rico membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.


Belum sempat mereka memikirkan itu, sebuah tombak yang entah dari mana datangnya mulai berjatuhan menghujani mereka.


Noelle menggunakan pedangnya untuk menyingkirkan beberapa tombak sekaligus, sementara Olivia menciptakan beberapa perisai es yang melindungi semua orang dari tombak yang tersisa.


"Kalian semua! Bersiaplah untuk serangan! "


Memanfaatkan waktu yang diberikan Noelle dan Olivia, Norman langsung memberikan perintahnya pada semua orang.


Mereka seketika bersiap dengan senjata mereka sendiri. Namun, Cryll di sana justru masih berdiri dalam diam.


"Cryll? "


Stella dengan cemas bertanya padanya, yang kemudian dijawab Cryll hanya dengan senyuman kecil.


Cryll kemudian mendekati Noelle, dan menepuk bahunya dengan satu tangan.


"Hei, apa kau bisa menghancurkan gelang yang ada di tanganku ini? "


Noelle menoleh, dan menatap pada gelang besar yang tampaknya menempel kuat di pergelangan tangan Cryll.


"Begitu, ya? Awalnya aku bingung kenapa kau sama sekali tidak memberikan perlawanan di sana, jadi itu sebabnya."


Setelah mengangguk sejenak, Noelle kemudian menggunakan tangannya yang bebas dan mengubah bentuk Langen menjadi sebuah pedang yang lebih pendek.


Dia kemudian menyelipkan bilah hitam Langen di celah yang sedikit terbentuk di antara gelang dan pergelangan tangan Cryll.


Begitu Noelle menghancurkan gelangnya, Cryll langsung menarik lengannya kembali dan mengepalkan itu beberapa kali seolah memeriksa apakah ada yang salah.


"Bagaimana? "


"Cukup bagus," jawab Cryll,


Noelle mengangguk. Tebakannya mengenai gelang itu sepenuhnya benar.


Sebelumnya, Noelle heran mengapa Cryll sama sekali tidak membuat perlawanan terhadap musuh. Mengenal dirinya, Noelle sangat yakin kalau Cryll pasti tidak akan tinggal diam ketika dirinya dalam bahaya.


Paling tidak, dia pasti akan membuat beberapa perlawanan.


Dan kali ini, Cryll sama sekali tidak melakukannya. Yang artinya, ada sesuatu yang mencegah Cryll dari menggunakan kekuatannya. Dan itu adalah gelang yang sebelumnya terpasang di lengannya.


Entah bagaimana cara kerjanya, gelang itu memiliki efek yang sangat menjengkelkan seperti membuat aliran sihir penggunanya menjadi lebih kacau, dan menurunkan kekuatan fisiknya secara drastis. Singkatnya, gelang itu akan membuat orang yang menggunakannya menjadi jauh lebih lemah dari yang seharusnya.


Yang paling menyebalkan adalah, gelang itu sangat keras sehingga tidak bisa dihancurkan hanya dengan membenturkannya ke benda lain.


Karena itu, Cryll tak dapat melakukan perlawanan apa pun. Dia hanya bisa diam dan menunggu sampai Noelle datang. Dia tahu kalau pedang hitam Langen milik Noelle pasti bisa menghancurkan gelang itu.


"Noelle."


Setelah diam sejenak sambil memeriksa keadaan tubuhnya, Cryll langsung memanggil Noelle.


Noelle mengertu dan mengulurkan tangannya. Seketika, sebuah bola logam berwarna ungu kehitaman muncul di sana. Noelle lalu memberikan itu pada Cryll.


"Ini. Aku sudah menyelamatkan 'badainya' sebelum menjemputmu sebelumnya."


Tentu saja, 'badai' yang Noelle maksud di sini bukanlah badai secara harfiah, melainkan Geist yang memiliki kekuatan seperti badai sungguhan.


"Ahh, jadi itu maksud percakapan kalian tadi … "


Dari belakang, Norman bergumam saat menyaksikan adegan yang terjadi antara Noelle dan Cryll.


"Noelle! "


Teriakan Olivia membuat Noelle seketika menoleh. Dia melihat beberapa tombak yang berjatuhan dari langit dan menembus perisai es Olivia. Tampaknya hampir semua perisai yang Olivia ciptakan sudah pada batasnya.


Noelle langsung mengembalikan bentuk Langen menjadi seperti semula dan mengayunkannya dengan kuat di udara.


Namun, itu tak berhenti di sana. Semua tombak yang Noelle singkirkan dengan hembusan angin dari pedangnya hanya berpindah jalur sedikit, sebelum akhirnya kembali ke jalur semula.


Noelle sedikit terkejut, tapi itu masih dalam pemahamannya, jadi ia bisa membuat solusi alternatif dengan relatif cepat.


Noelle menghentakkan kakinya je tanah, dan menciptakan beberapa gundukan batu yang berdiri menjulang ke atas, tepat di area jatuhnya semua tombak itu.


Dan tepat seperti yang ia prediksi, semua tombak itu langsung menancap di batu, dan tak bergerak lagi. Kekuatan dan momentum yang tombak itu miliki tak sanggup untuk menembus dan menghancurkan sebuah batu besar yang sangat keras.


Begitu Noelle menghentikan kakinya sekali lagi, gundukan batu itu segera menyusut dan kembali ke tanah. Secara alami, tombak yang tertancap di sana juga ikut turun dan tancapannya segera terlepas, sebelum akhirnya terjatuh tanpa daya ke tanah.


"Mau sampai kapan kau bersembunyi di sana? "


Noelle dengan sengaja meninggikan suaranya dan memanggil dalang di balik semua tombak itu.


Tak lama kemudian, seorang pria muncul dairi balik puing-puing yang berserakan di sekitar.


"Kau! "


Norman hampir saja maju dan menerkamnya seperti seekor hewan buas, tetapi langsung ditahan oleh Noelle yang menarik kerah bajunya.


Itu adalah pria yang sama dengan yang mereka lawan sebelumnya. Barsio.


Norman sangat yakin kalau sebelumnya ia sudah melihat Barsio yang terjatuh dari ketinggian dan tertimpa reruntuhan. Namun, Barsio yang berdiri di hadapannya sekarang sama sekali tidak memiliki luka di tubuhnya. Bahkan, sebuah goresan saja tak dapat ditemukan di kulit ketatnya.


"Bagaimana kau bisa bertahan? "


Norman mencoba bertanya, tapi tentu saja Barsio tak menjawabnya. Di tangannya, sebuah tombak yang sudah mereka singkirkan sebelumnya kembali terlihat. Barsio tanpa mengatakan apa pun lagi langsung menancapkan ujung tombak itu ke tanah, dan reaksi yang sama seperti yang mereka saksikan sebelumnya mulai terlihat di tanah.


Tanah sekitar tempat mereka berdiri mulai berguncang, dan tanpa peringatan apa pun langsung menumbuhkan beberapa tombak.


"Livia! "


Noelle berteriak guna memperingati Olivia, yang pada akhirnya direspon Olivia dengan anggukan kecil.


Olivia langsung melompat jauh ke belakang, dan mulai merapalkan sihirnya.


Detik kemudian, beberapa duri es mulai bermunculan di udara kosong, dengan ujungnya yang menargetkan Barsio.


Olivia kemudian menembakkan semua duri itu ke arah Barsio, sementara di saat yang sama juga menggunakan sihir gravitasi untuk menarik semua orang ke dekatnya.


"Apa ini?! "


Kaira dan yang lain mencoba memberontak, tapi itu sia-sia. Olivia sama sekali tidak membiarkan mereka lepas. Dia langsung menciptakan dinding es yang melindungi semua orang, dan melapisinya dengan penghalang sihir sederhana.


Jika prediksinya benar, maka semua tombak itu hanya bisa tumbuh di area yang termasuk jangkauan pengelihatan Barsio saja. Karena itu, Olivia menciptakan sebuah dinding es untuk menghalangi pandangan orang yang menjadi dalang dari semua tombak itu.


Olivia tidak tahu dengan bagaimana Barsio mampu menumbuhkan tombak dari tanah, tapi dia memiliki dua tebakan untuk itu.


Yang pertama adalah kemampuan transmutasi seperti yang dimiliki Jane dan Leonardo. Olivia sendiri tidak terlalu mengerti dengan cara kerjanya, tapi itu pasti memanfaatkan partikel logam untuk menciptakan suatu objek.


Dan perkiraan kedua adalah, senjata bintang. Ini adalah kemungkinan terburuk yang bisa Olivia pikirkan.


Hanya saja, ia tak pernah mendengar tentang senjata bintang jenis tombak yang mampu menciptakan tombak lain dari permukaan yang ada di bidang pandangan penggunanya. Satu-satunya senjata bintang jenis tombak yang Olivia kenal adalah Begwun Spear yang memberikan kemampuan manipulasi spasial dan elemen gelap pada penggunanya.


Dan bahkan jika itu adalah senjata bintang, seharusnya tidak akan ada masalah selama Olivia dan yang lain bisa mengeksploitasi kelemahannya. Karena itu, Olivia memilih untuk berlindung di sini bersama yang lain, untuk memikirkan solusi, sementara Noelle, Cryll dan Norman bertarung di luar.


Olivia menggigit kukunya dengan kedua alis yang saling bertautan satu sama lain.


Sementara itu, di luar dinding penghalang.


Noelle melompat untuk menghindari semua tombak yang tumbuh dari tanah, berniat menghunus dirinya. Tempat ini adalah ruang terbuka, dan semua pohon juga sudah tersingkir saat bangunan besar itu runtuh. Jadi, tak ada tempat baginya untuk bergelantungan seperti sebelumnya.


Noelle menggunakan sihir gravitasi mikiknya untuk menjaga posisinya agar tetap di udara, sementara Cryll dan Norman berlarian dengan kecepatan yang mengerikan untuk menghindari puluhan tombak yang terus tumbuh dari tanah seolah mengejar mereka.


Dari atas, Noelle bisa memperhatikan situasinya dengan lebih jelas.


Dia sudah memiliki perkiraan tentang senjata apa yang digunakan Barsio, dan apa kelemahannya. Tapi, hanya dengan itu saja tak akan cukup.


Sementara Cryll dan Norman mengalihkan perhatian Barsio darinya, dia harus memikirkan solusi yang pasti.


Tentu saja Noelle tak hanya diam di atas dan mengamati situasinya. Di tangan kirinya, Verstand yang masih dalam wujud katana tampak bersinar, sementara beberapa pedang yang dia kendalikan sedang berterbangan di udara, mencoba menyerang Barsio dari semua arah.


Namun, semua tak berjalan seperti yang ia harapkan.


Barsio melompat mundur untuk menghindari satu tusukan pedang yang menargetkannya, lalu kembali menancapkan tombaknya ke tanah.


Belasan, hingga puluhan tombak mulai bermunculan dari tanah di sekitarnya, menjadi sebuah penghalang yang menghentikan semua pedang yang Noelle kendalikan.


Semua itu masih dalam perkiraan Noelle. Sambil mengamati pergerakan Barsio, Noelle kemudian mengeluarkan Aligma dari penyimpanannya.


Energi sihirnya seketika terserap ke dalam kristal suhir yang menjadi inti untuk Aligma. Dan setelah membidik sejenak, Noelle langsung menarik pelatuknya dan menembakkan peluru energi dengan tingkat kepadatan yang tinggi.


Tidak seperti serangannya sebelumnya, peluru energi bukanlah sesuatu yang bisa ditahan dengan materi fisik biasa. Jadi, serangan itu seharusnya berhasil melewati semua tombak yang melindungi Barsio dari bahaya.


Tapi, jelas kalau Barsio tidak akan bisa dikalahkan dengan semudah itu.


Dia menyadari serangan Noelle, dan menghindar dengan menggerakkan kepalanya sedikit ke samping.


Noelle juga memanfaatkan kesempatan itu untuk menembak semua titik yang ia prediksi akan menjadi lintasan pergerakan Barsio. Namun, semuanya sia-sia.


Pergerakan yang Barsio lakukan sangatlah sederhana, namun sangat efektif untuk menghindari serangan Noelle. Dan lebih dari itu, semua pergerakan yang telah Noelle prediksi sebelumnya juga tidak dia lakukan.


Ini seperti dia dapat menebak apa yang Noelle pikirkan, dan seketika merubah alur pergerakannya untuk membingungkan Noelle.


"Tch."


Noelle tanpa sadar mendecakkan lidahnya sekali. Ia langsung melemparkan Aligma ke Norman yang sudah mengambil posisi bersiaga di balik pohon yang ada, sementara Noelle sendiri turun ke tanah sambil membentuk posisi kuda-kuda selagi masih di udara.


Begitu Noelle mendarat di tanah, dia langsung maju sambil mengayunkan Langen dengan kedua tangannya. Arahnya sudah sangat jelas. Dia berniat untuk menghabisi Barsio dalam sekali serang.


Bilah melengkung Langen membuat Noelle melakukan pergerakan berputar beberapa kali, tapi itu bukanlah masalah. Justru, Noelle memanfaatkan putaran itu untuk memberinya momentum yang tepat.


Jarak antara dirinya dengan Barsio seketika menyusut. Noelle tanpa ragu mengayunkan Langen ke arah leher Barsio dengan niat membunuhnya. Namun, Barsio memanfaatkan celah waktu yang tercipta saat Noelle berniat mengayunkan pedangnya.


Meskipun itu hanya sepersekian detik, itu sudah cukup bagi Barsio untuk sepenuhnya menghindari serangan Noelle.


Dia mengarahkan ujung tombaknya ke bahu Noelle, dan langsung menusuknya saat itu juga. Dari gagang tombaknya, Barsio dapat merasakan sensasi menembus daging dan tulang di bahu Noelle. Dia pun tersenyum sambil memperdalam tusukannya di sana, sementara di saat yang sama juga berusaha mengayunkan tombaknya sedikit untuk memperlebar luka di bahu Noelle.


Berkat kekuatannya yang telah pulih, Noelle tidak merasakan sakit sedikit pun. Namun, tetap saja ia bisa dengan sangat jelas merasakan kekuatannya yang perlahan terkuras.


Pegangannya terhadap gagang Langen mulai melemah, dan postur Noelle sedikit kacau. Dia berniat menarik Verstand untuk mengubah gaya bertarungnya, tapi ia tak sempat.


Kaki Barsio telah mendarat di perutnya, memberikan tekanan yang sangat menyakitkan sehingga rasanya seperti mengaduk organ dalamnya yang berlindung di sana.


"Noelle! "


Cryll dan Norman akhirnya sudah selesai bersiap. Noelle melebarkan senyumnya, dan membiarkan tubuhnya terpental jauh ke belakang hingga menabrak pohon.


Ia sudah menduga ini, tapi is tidak menyangka kalau lawannya akan memiliki banyak kemampuan jenis pertahanan.


Noelle bisa saja menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi darah, dan menghabisi Barsio dalam sekejap. Tapi, dia justru tidak melakukannya.


Tentu saja, ada alasan di balik semua itu.


Itu karena ia sudah mencobanya, dan mendapatkan kegagalan.


Sebelumnya, Noelle sudah mencoba untuk memasukkan darahnya ke tubuh Barsio, sehingga dia bisa membunuhnya dari dalam. Namun, darahnya yang memasuki tubuh Barsio seketika dinetralisir saat itu juga.


Hanya dengan sekali percobaan, dan Noelle langsung memahaminya.


Tubuh Barsio secara alami menolak zat asing yang memasuki tubuhnya. Jika ada zat asing yang berhasil masuk, maka itu akan langsung dinetralisir.


Darah Noelle termasuk zat asing bagi tubuh Barsio. Karena itulah darah Noelle tidak bisa bertahan di sana.


Itu mirip dengan resistensi racun yang Noelle dan Olivia miliki.


Cara cepat tidak bisa digunakan. Karena itulah, saat ini, untuk mengalahkan Barsio, Noelle harus melakukan konfrontasi langsung dengannya.


Menggunakan sihir penghancur berskala besar bukanlah masalah, tapi itu akan menyebabkan banyak kerusakan. Dan juga, tak ada jaminan kalau Barsio akan langsung mati karena serangan itu. Justru, Noelle hanya akan membahayakan semua orang jika dia benar-benar melakukannya.


Sambil memikirkan solusi lain, Noelle memperhatikan Cryll dan Norman yang entah bagaimana mampu bekerja sama.


Cryll sudah terbebas dari pengekangan yang menahan kekuatannya. Dan dia juga sudah mendapatkan kembali Geist, kekuatan utamanya.


Sedangkan Norman, dia memiliki Aligma yang sebelumnya Noelle lemparkan padanya.


Dari jarak yang cukup jauh itu, Noelle mampu melihat beberapa petir yang terus menerus mencoba menyambar Barsio. Meskipun begitu, entah bagaimana Barsio mampu bergerak dengan kecepatan yang mengerikan sehingga semua petir yang Cryll tembakkan sama sekali tidak mengenainya.


Barsio terus berlarian untuk menghindari petir yang terus menyambar seolah mengejarnya, sementara Norman menembakkan peluru sihir ke titik yang ia pikir akan dilewati oleh Barsio.


Berkat tembakan petir beruntun dari Cryll, Barsio tak sempat menancapkan tombaknya ke tanah. Itu bagus, tapi di saat yang sama juga menjadi situasi yang buruk.


Noelle masih harus mengamati kekuatan tombak itu untuk memahami cara kerjanya. Jika Barsio sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan kekuatannya, maka ini hanya akan menjadi pertarungan panjang yang tidak akan berakhir.


Karena itulah, Noelle memutuskan untuk kembali mendekatinya.


Jika dia mendekati Barsio sekarang, ia yakin kalau Cryll dan Norman akan menghentikan penyerangan mereka. Dan dengan begitu, akan ada kesempatan bagi Noelle untuk memahami cara kerja kekuatan tombak Barsio.


Noelle kembali menggantungkan Langen di punggungnya, lalu menarik keluar Verstand yang juga masih dalam bentuk jatana itu.


Jika ia akan melakukan konfrontasi langsung seperti yang sudah ia pikirkan, maka akan lebih baik untuk memakai Verstand sebagai senjata utama.


Noelle membuat posisi kuda-kuda, dan langsung berlari mendekati Barsio dengan kecepatan yang bahkan tidak meninggalkan jejak akan keberadaannya di belakang.


Begitu mencapai tepat di hadapan Barsio, Noelle langsung mengayunkan Verstand ke lehernya, membuat Barsio langsung menggunakan tombaknya sendiri untuk menahan serangan kejutan dari Noelle.


Senjata mereka saling terkunci, dan kaku mereka juga tampak seperti telah ditanamkan dengan sangat kuat ke tanah sehingga tidak akan membuat mereka berpindah tempat.


Cryll dan Norman mengerti dengan apa yang akan Noelle lakukan, jadi mereka langsung berhenti menyerang dari jauh. Sebagai gantinya, mereka berdua maju secara bersamaan untuk menyerang Barsio dari segala sisi.


Barsio menyadari keberadaan mereka berdua. Dia langsung mendorong tombaknya yang kemudian mengganggu keseimbangan Noelle. Lalu, dia pun kembali mengayunkan tombaknya di udara untuk menciptakan tebasan angin yang menghempaskan semua hal di sekitar mereka.


Tentu saja, Cryll dan Norman tidak selemah itu sehingga akan langsung terpental hanya dengan hembusan angin.


Mereka berdua secara bersamaan mengayunkan senjata mereka, dan menargetkan titik vital Barsio.


Namun, lagi-lagi Barsio dapat menahannya.


Barsio memanfaatkan celah yang terbentuk sesaat setelah ia menciptakan hembusan angin itu, dan langsung menancapkan ujung tombaknya ke tanah.


Cryll dan Norman masih berada di udara, jadi mereka tak dapat langsung merespon tindakan Barsio. Namun, untungnya Noelle yang telah bersiaga sebelumnya langsung menciptakan sepasang tangan raksasa dari darahnya sendiri.


Masing-masing tangan itu menangkap Cryll dan Norman, mencegah mereka untuk terjatuh ke daratan, sementara Noelle sendiri melompat jauh ke belakang untuk menghindari puluhan tombak yang terus bermunculan tanpa jeda dari dalam tanah.


"Cryll! "


Cryll langsung mengangguk sebagai respon. Dia kembali menembakkan petir tepat ke arah Barsio sehingga Barsio harus kembali mencabut tombaknya untuk menghindar.


Taktik yang Noelle gunakan ini mirip dengan taktik hit-n-run. Terus menyerang dan menghindar sambil 'menyicil' serangan sehingga musuh akan menunjukkan celah. Sedikit merepotkan, tapi itu cocok untuk situasi saat ini.


"Sialan … "


Meskipun itu adalah taktik yang cukup bagus, itu akan sia-sia jika Noelle tak dapat menemukan celahnya.


Noelle hanya bisa terus berlarian untuk menghindari puluhan tombak yang tumbuh dari tanah, terus mengejarnya tanpa henti.


Sekali saja dia berhenti bergerak, maka tamatlah sudah. Dia hanya akan mendapatkan tubuh yang penuh lubang seperti sebuah spons.


Dan saat Noelle dengan frustasi memikirkan situasinya, sebuah pesan telepati datang memasuki kepalanya.


{Noelle. Aku menemukannya.}


Itu adalah Olivia, yang selama ini bersembunyi di balik dinding es, dan diam-diam mengamati pertarungan melawan Barsio di luar.


...****************...