[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 295: Unnamed Memory



...****************...


Malam hari. Suatu tempat yang tak jauh dari danau di tengah hutan, Noelle akhirnya selesai menyiapkan tenda untuk dia dan Tania tidur.


Sudah beberapa jam semenjak mereka menemukan sarang Spirit Hunter, dan kini keduanya dalam proses menunggu sampai akhirnya monster yang dimaksud itu kembali ke sarangnya.


Setelah memastikan paku terakhir dipasang dengan kuat, Noelle menjatuhkan tubuhnya di sebuah alas yang dia letakkan tepat di depan tenda, menghadap langsung pada api unggun yang menyala terang.


Melamun menatap pada langit berbintang, Noelle akhirnya menghela napas lelah.


Mau tak mau dia mengakuinya; dia sudah terlalu terbiasa dengan gaya hidup yang berubah-ubah.


Hidupnya sebagai Noelle sangatlah bebas, dan juga bahagia. Sementara Noah Ashrain memiliki banyak batasan, Noelle entah bagaimana mampu beradaptasi dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Sekarang, dia memulai hidup baru sebagai Grei Noctis; seorang petualang yang baru saja akan memulai debut publiknya.


Sampai sejauh ini, semua berjalan dengan lancar. Meski sebenarnya sulit dipercaya, Noelle berhasil menjalani semuanya dengan amat lancar.


Sama seperti bintang-bintang di langit. Meski tidak begitu terlihat, mereka terus bergerak. Begitulah hidup Noelle sekarang; kehidupan yang stagnan, tanpa terlihatnya perubahan tertentu, namun sebenarnya terus bergerak.


Noelle, yang telah kembali ke wujud sejatinya hanya diam sambil menatap langit. Saat hanya sendirian, atau bersama Tania, Noelle akan langsung kembali ke wujud sejatinya. Baginya, ini adalah wujud yang paling nyaman digunakan.


Tangannya pun satu per satu menunjuk bulan di langit.


"Ishka, Lecca, dan … Pan-dora …."


Noelle dengan lancar menyebutkan nama masing-masing satelit itu, dan kemudian perhatiannya jatuh pada Pan-dora, yang sampai saat ini seperti masih memanggilnya.


Noelle tidak tahu dari mana asalnya perasaan itu, tapi dia tidak bisa menyingkirkannya. Mungkin, dirinya memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan Pan-dora.


Selain itu, Pan-dora juga merupakan tujuan dari Voyager. Noelle sendiri masih belum tahu apakah Pan-dora yang mereka maksud itu sama dengan Pan-dora dengan yang ia tahu. Tapi, akan lebih baik untuk berasumsi kalau semuanya saling terkait. Dengan begitu, Noelle bisa memikirkan semua masalah itu pada saat yang sama.


Noelle cukup percaya diri pada caranya membagi perhatian. Dia bisa memikirkan sesuatu, atau melamun, sambil memperhatikan sekitar. Meski begitu, dia tetap terkejut saat telinganya menangkap sesuatu, di saat tatapannya menelusuri kosmos dan jari-jarinya menyusun pola rasi bintang.


Suara yang berhasil dia tangkap itu berasal dari arah danau, tempat Tania berada saat ini. Noelle bisa menduga siapa yang mengeluarkan suara itu. Namun, dia tetap terdiam saat suara yang dihasilkannya terus berlanjut dengan alunan melodi yang indah.


Ini suara Tania. Dia sedang menyanyikan sesuatu.


Nyanyian itu sangat lembut dan halus, meski suara yang digunakan itu sedikit serak dan bervolume rendah.


Liriknya juga terputus-putus. Meski begitu, Noelle entah bagaimana merasa sangat tidak asing dengan lagunya, meski pada akhirnya dia tidak bisa mengingat lagu apa itu.


"Sendirian di tengah tanah penderitaan, berusaha menelaah perkataan bintang-bintang. Ah, bersama pasti menyenangkan."


Liriknya sulit dimengerti, tetapi Noelle dengan jelas memahami setiap makna di baliknya.


"Benar, kita masih menderita bahkan sampai sekarang. Menantikan masa depan yang tak jelas kabarnya, berusaha mempertahankan rasa cinta kita pada dunia yang busuk ini."


Bukan berarti dia bisa memahami setiap kata yang berkarakteristik 'puitis', melainkan karena ia memahami betul emosi yang coba disampaikan oleh Tania, yang menyanyikannya.


Seperti yang sudah Noelle ketahui, Tania adalah orang yang sulit dan canggung dalam mengekspresikan dirinya. Karena itulah, saat dia berusaha keras menyampaikan perasaannya dengan menyanyikan lagu ini, Noelle entah bagaimana langsung memahami semua perasaan yang coba ia sampaikan.


Yang membuat semuanya terasa begitu menenangkan bagi Noelle bukanlah karena keindahan suaranya. Justru, Tania sepertinya tidak berusaha memperindah suaranya saat dia bernyanyi. Dia hanya fokus berusaha menyampaikan kata-kata yang tersusun dalam bentuk lagu.


Karena merasa tertarik oleh lagu itu, Noelle bangkit dari tempatnya, dan berjalan menghampiri lokasi yang menjadi sumber suara.


Jaraknya tidak begitu jauh dari tenda yang sudah ia bangun. Hanya perlu melewati barisan pohon dan semak belukar yang lebat, dia telah sampai ke sebuah danau kecil yang dikelilingi Hutan Dingin.


Anehnya, meski dingin, air di danau ini sama sekali tidak membeku. Itulah yang menyebabkan Tania ingin mencoba mandi dengannya.


Dan dia masih melakukan itu sekarang.


Saat Noelle datang, Tania telah sampai ke dua baris terakhir yang dia ingat.


"Benar, kita masih menderita bahkan sampai sekarang. Memperjuangkan impian yang tak masuk akal, diabaikan oleh realita, menyatakan diri kita sebagai bidat yang dibenci oleh surga."


"Apakah ini kutukanku? Ataukah egomu? Yang membuat kita menderita dalam perjuangan tiada arti. Benar begitu? "


Meski pelafalannya sedikit terbata-bata, dan ada beberapa bagian yang menghilang, Noelle entah bagaimana mampu 'menerjemahkannya', dan tetap memahami keseluruhan isi liriknya, meski liriknya sendiri tidak begitu jelas.


Melafalkan satu demi satu kata, Tania juga mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang saat ia duduk di batu yang ada di tepi danau.


Noelle sedikit tidak menduganya, dan dia juga hendak langsung pergi saat melihat. Namun, sayang keberadaannya telah disadari lebih dulu.


Tania, yang dalam kondisi tidak memakai pakaian apa pun, menoleh dan berbalik menghadap Noelle, memberinya pandangan heran.


Sementara itu, Noelle hanya terdiam saat tatapannya terpaku pada sosok Tania.


Noelle melihat semuanya, tanpa sedikit pun sensor. Sosok yang indah, tanpa ada benang satu helai pun menutupi kulitnya, sedang bermandikan sinar bulan.


Sadar akan situasinya, Tania kemudian mengambil handuk dari sampingnya, dan mulai menutupi tubuh bagian depannya dengan itu.


Tidak ada rona merah yang menunjukkan rasa malu. Sebaliknya, dia hanya menatap Noelle seolah dia penasaran akan sesuatu.


Dia kemudian memiringkan kepalanya, dan menunjuk pada Noelle dengan satu jari. "Mengintip? "


"Tidak," jawab Noelle hampir secara refleks.


Keduanya pun terdiam, mengubah situasi menjadi lebih canggung. Namun, Noelle tidak berniat mengulur waktu lebih lama, karena itulah ia akan langsung mengeluarkan isi pikirannya.


"Lagu apa itu? "


Awalnya, Noelle ingin bertanya 'dari mana Tania mendengar lagu itu', tetapi dia segera mengubahnya karena itu mungkin terlalu aneh.


Noelle sama sekali tidak memiliki kaitan apa pun dengan lagu ini. Hanya saja, dia merasa tidak asing dengannya, dan lirik yang dibawakan lagu itu juga cukup membuat Noelle terkejut.


Menanggapi pertanyaannya, hal pertama yang Tania lakukan adalah kembali berbalik, memainkan kakinya yang hanya beberapa senti di atas permukaan air.


Butuh waktu lama sampai akhirnya jawaban yang diinginkan Noelle kluar. Namun, jawaban itu sama sekali tidak mengecewakan.


Tania tertunduk merenung sejenak, dan bergumam, "Aku … sering mendengar seseorang menyanyikan lagu itu di mimpiku, tapi aku tidak terlalu ingat, karena itulah liriknya tidak lengkap."


(Mimpi ….)


Satu kata kunci telah muncul. Noelle tidak menganggap ini sebagai masalah sederhana lagi.


"Bagaimana mimpimu itu? "


Noelle mengabaikan penampilan Tania yang hanya ditutupi selembar handuk, dan berjalan memasuki tepi danau.


Tania mengetahui lagu itu dari mimpinya, dan 'mimpi' merupakan sebuah kata yang sangat Noelle waspadai. Bagaimanapun, dia telah menemukan banyak kejadian aneh yang melibatkan mimpi. Lagu yang dinyanyikan Tania juga membawakan perasaan nostalgia padanya. Karena itulah, Noelle dapat dengan cepat membuat kesimpulan.


Tak jauh dari posisinya, Tania duduk diam. Matanya menatap kosong pada pantulan bulan di permukaan air.


"Aku … tidak terlalu ingat. Tapi, aku ingat kalau lagu ini dinyanyikan oleh seorang gadis, yang berdiri di tengah kekacauan—medan perang, kurasa …."


Tania mengangkat kepalanya, dan menyipitkan mata saat menatap langit yang penuh dengan bintang berkilau.


"Gadis itu menangis. Aku tahu kalau yang bernyanyi di sana bukanlah diriku. Tapi, aku ingin tahu, pemandangan seperti apa, dan perasaan apa yang dimiliki gadis itu ketika menyanyikannya."


Noelle tidak begitu mengerti bagian ini. Karena sejak awal, dia hanya mendengar lagunya dari Tania, bukan dari penyanyi aslinya yang hanya ada di mimpi Tania seorang.


Jika saja Noelle mendapatkan kesempatan untuk mendengar langsung lagu itu, maka mungkin dia dapat memahami perasaan gadis yang menyanyikannya, meski mungkin itu akan sulit, mengingat Noelle sudah dapat melihat betapa kompleksnya perasaan penyanyi yang tertuang pada penggalan lirik lagu yang dibawakan Tania.


"Kata-kata yang dibawakan gadis itu membuatku menanyakan banyak hal. Apa yang menjadi tujuanku? Apa yang sebenarnya kuinginkan? Dan apa arti dari hidupku sebenarnya? "


Noelle tidak tahu bagaimana, tapi sepertinya Tania mampu memahami lagu ini jauh lebih baik. Sebenarnya itu tidak mengherankan, karena Tania memang mendengar langsung lagu itu di mimpinya.


Hanya saja, ini membuat Noelle terkejut.


Noelle hanya mendengar empat baris dari keseluruhan lagu yang dinyanyikan Tania. Itu pun tidak begitu jelas, dan dia menyambung lirik dengan asumsinya sendiri. Namun, melebihi perkiraannya, Tania membaca makna lagu itu jauh lebih baik, meski dia mengaku tidak ingat pasti liriknya.


"Apa judulnya? "


Tania menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Noelle.


"Tidak ingat."


"Aku mengerti …."


Tidak semua orang mampu mengingat keseluruhan isi mimpi mereka. Kebanyakan hanya akan mengingat seperempat isi. Hal itu juga berlaku untuk Noelle, meski Noelle juga sering mengingat semuanya, dan menulis semua isi mimpi itu sebelum ia melupakannya lagi.


"Kau … ingin mendengar pendapatku? "


"Pendapat? " tanya Tania sambil memiringkan kepalanya.


Noelle mengangguk sebagai bentuk konfirmasi, dan dia pun melompat, lalu duduk di batu besar yang tak jauh dari tempat Tania.


Setelah duduk, Noelle mulai memilah-milah mana saja yang harus dia ungkapkan pada Tania.


"Aku … sedang menyelidiki sesuatu yang mungkin sangat sulit untuk dipercaya."


"Apa itu? "


"Pengulangan waktu."


...****************...


Pengulangan waktu, adalah apa yang ingin Noelle beri tahukan pada Tania.


Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi perasaan nostalgia dan tak asing yang Noelle dapatkan setelah dia mendengar lagu Tania itu membuatnya berpikir; bahwa dia pernah mendengar lagu itu di masa lalu.


"Pengulangan waktu …."


Ini adalah istilah yang benar-benar asing bagi Tania. Dia belum sepenuhnya—bahkan belum paham sedikit pun tentang topik ini. Tapi itu tidak masalah, karena Noelle berniat menjelaskannya hingga dia paham.


Untuk memudahkan Tania dalam memahaminya, Noelle harus menjelaskan dengan cara yang lebih baik lagi.


"Sulit dipercaya, tapi aku juga sering memimpikan sesuatu. Mimpi yang biasanya membawakan kenangan padaku, meski aku yakin kalau itu bukanlah ingatanku."


Begitu mendengarnya, Tania sontak mengangkat wajah, dan dengan cepat menoleh pada Noelle.


Matanya berbinar, dan wajahnya dengan jelas memancadkan cahaya yang menyiratkan bahwa dia bersemangat.


"Kau pernah bermimpi seperti itu juga? "


Noelle tersenyum masam. "Mungkin sedikit berbeda, tapi secara keseluruhan, kasus kita sama. Aku terkadang bermimpi bertemu dengan seseorang, dan melakukan percakapan panjang dengannya. Tapi aku tidak akan ingat dengan apa yang terjadi begitu aku bangun. Selain itu, ada juga saat di mana adegan-adegan yang bukan berasal dari ingatanku muncul di mimpiku begitu saja."


"Awalnya aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi semakin lama aku mulai paham. Ada kejadian di mana aku sedang berjalan santai di kota, dan tiba-tiba saja semua orang di sekitarku menghilang, kemudian muncul kembali seolah tidak ada yang terjadi."


Tania menunduk, berusaha mencerna semua yang Noelle katakan.


"Apa itu yang membuatmu berpikir kalau waktu telah diulang? "


Noelle mengangguk. "Sebenarnya, tidak hanya itu. Ada banyak yang membuat teoriku ini semakin kuat, tapi sulit untuk menjelaskannya karena kau mungkin tidak akan paham."


Biarpun Noelle berencana menjelaskannya pada Tania, dia tidak berniat menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk membahas tentang pengulangan waktu yang melibatkan seorang gadis bernama 'Charlotte'.


Sebagai gantinya, Noelle mengeluarkan sebuah benda dari gudang spasialnya, dan melemparkan itu pada Tania.


Tania dengan canggung menangkap itu, dan mulai memperhatikan benda yang baru tiba di tangannya.


"Ini … topeng? "


Apa yang dia pegang sekarang adalah sebuah topeng hitam, yang hanya menutupi bagian mata, memiliki pola yang mengingatkan Tania pada seekor gagak.


"Semua pemikiranku berawal dari topeng itu."


Noelle kemudian menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan topeng hitam itu, dan meringkas penjelasannya menjadi sesingkat mungkin.


Sampai saat ini, dia masih belum bisa mengkonfirmasi keberadaan seorang pria tua yang memberinya topeng itu. Dia juga tidak pernah menemukannya meski telah melakukan penyelidikan saat masih di Kerajaan. Yang pasti, topeng itu jatuh ke tangannya berkat permainan takdir yang rumit.


Dari tangan orang asing yang tak dikenal, kemudian diwariskan pada keluarga pria tua yang menjaganya, dan akhirnya diberikan pada Noelle—yang menurut pria tua dari keluarga pewaris itu layak untuk memegangnya.


Topeng itu telah melakukan perjalanan panjang dalam waktu yang tak terhitung lamanya, dan dibimbing oleh kekuatan takdir, yang sejak awal sangat sulit untuk dimengerti.


Setelah menjelaskannya panjang dan lebar, Noelle akhirnya berbaring di batu, dan menatap pada Pan-dora yang masih memberikan getaran seolah sedang memanggilnya.


"ingatan-ingatan dan hal-hal yang berkaitan dengan garis waktu sebelumnya akan datang ke garis waktu sekarang sebagai mimpi atau sensasi déjà vu. Setidaknya, itulah yang kupahami untuk saat ini."


Tania merenung lama, sebelum akhirnya menyerahkan topeng itu kembali pada Noelle.


"Rasanya sulit dipercaya …."


Kali ini tidak dengan wajah datar, Tania mengatakannya sambil memberikan senyum tipis, yang mungkin dia keluarkan dengan kemampuan terbaiknya guna mengekspresikan perasaan yang dia miliki.


Tania masih belum terlalu paham dengan pengulangan waktu. Namun, dia mengerti garis besarnya.


Ayunan kakinya di atas permukaan air menjadi semakin cepat, dan rona merah muncul di wajahnya seiring dengan menguatnya cengkraman terhadap handuk yang menutupi tubuh bagian depannya.


Noelle yang melihat ini dari samping mau tak mau kembali mengevaluasi ulang pendapatnya mengenai Tania.


Berlawanan dari yang dia tunjukkan, Tania mungkin seorang gadis yang amat emosional. Dia hanya tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikannya.


(Rasanya memuaskan saat berbagi pikiran dengan seseorang ….)


Noelle menghela napas ringan sambil tersenyum, kemudian menggulung celananya, dan melompat turun dari batu.


Dia mendarat tepat di mana danau mulai semakin dalam, dan kemunculannya yang tiba-tiba itu menakuti semua ikan yang sebelumnya berenang dengan tenang.


Tanpa mempedulikan mereka, Noelle mengangkat wajahnya untuk menatap langit, dan tangannya seolah berusaha menggapai apa yang ada di atas sana—tepat pada Pan-dora.


(Suatu saat, mungkin tidak jauh dari sekarang, aku akan mencapai kebenarannya.)


Karena bagaimanapun juga, misteri tentang pengulangan waktu adalah tantangan terbesar yang harus Noelle hadapi. Karena hanya dengan itulah dia bisa memahami segalanya, mulai dari sejarah, fiksi atau realita, dan bahkan dirinya sendiri.


Tania masih di tempatnya saat dia menyaksikan Noelle yang berusaha menggapai Pan-dora. Dia tidak bergerak sedikit pun, hanya menatap Noelle dengan heran.


Lalu, tatapan heran itu berubah saat matanya sedikit menyipit, dan menatap Noelle dengan kebahagiaan murni.


Kemudian–


"hmm?! "


Noelle berhenti bergerak. Matanya menyipit tajam pada hutan di seberang danau, dan dia penuh dengan kewaspadaan. Seketika membungkuk, Noelle memanifestasikan pedang Langen-Verstand di tangannya, dan melompat ke arah yang dia waspadai sebelumnya.


Tania yang masih di tempatnya tidak bisa memberikan reaksi apa pun selain kebingungan total. Dari reaksi Noelle, dia pasti telah merasakan kehadiran makhluk hidup di sekitar, tapi anehnya Tania tidak mampu merasakan itu.


Entah karena dia sedang lengah, atau memang kemampuan deteksinya tidak cukup baik untuk menemukan kehadiran yang Noelle kejar. Yang jelas, Tania yang dibiarkan kebingungan itu dengan cepat menjadi waspada, dan mengambil 'aksesoris' berbentuk sabit di sampingnya, dan memanifestasikan bentuk sejati dari 'aksesoris' itu.


Dengan satu tangan berusaha menahan handuk yang menutupi tubuh bagian depan, sedangkan tangan lainnya memegang sabit, Tania dengan waspada berjalan ke arah Noelle menghilang.


Tapi, sebelum dia bisa menemukan apa pun, bunyi dentingan dua logam yang sedang beradu muncul, dan diakhiri dengan suara hancurnya sesuatu yang terdengar seperti bongkahan kaca atau kristal.


Akhirnya, suara menghilang. Butuh waktu yang agak lama sampai Tania akhirnya mencapai jarak terdekat dengan lokasi itu. Meski begitu, dia masih berada di air.


Saat Tania berusaha mendekat untuk memeriksa situasi, Noelle telah lebih dulu muncul dari semak-semak, dengan senyum cerah di wajahnya saat dia memamerkan sebongkah kristal biru cerah yang berkilau indah di tangannya.


Tidak salah lagi, itu adalah jantung Spirit Hunter.


"Hehe, misi selesai dengan cepat," ucap Noelle saat dia berjalan mendekati Tania yang ada di air sambil memandangi bongkahan kristal di tangannya.


Target pencarian sudah didapatkan. Dengan begini, keduanya bisa pulang ke Alten besok.


Melihat itu, Tania pun turut senang. Dia tersenyum tulus pada Noelle, dan berjalan mendekatinya setelah mengembalikan Zephiroth ke bentuk aksesoris.


Dengan hati-hati dia mengulurkan satu tangannya dan memegang tangan Noelle yang memegang jantung Spirit Hunter, lalu berkata, "Tidak seperti tubuhnya, jantung Spirit Hunter itu sangat lunak. Kamu harus berhati-hati untuk tidak menghancurkannya."


Tania membawa tangan Noelle yang memegang jantung Spirit Hunter dengan erat ke dalam air danau yang dingin, dan menenggelamkannya untuk beberapa saat.


"Jantungnya juga cukup dingin, jadi kita bisa membasahinya untuk melapisinya dengan es dari air yang membeku."


Noelle tidak banyak membantah, dan membiarkan Tania menuntunnya. Bagaimanapun juga, Tania tahu lebih banyak tentang hal ini.


Namun, tetap saja, situasinya agak buruk sekarang.


Tania masih tidak menggunakan pakaian apa pun selain selembar handuk yang dipegang dengan satu tangan, susah payah menutupi bagian penting dari tubuh gadisnya. Meski begitu, Noelle tidak akan menyangkalnya, dia memang melihat sedikit melalui celah kecil yang tercipta saat Tania bergerak.


Tidak diragukan lagi, Tania memang gadis yang cantik dengan tubuh yang sangat proporsional. Siapa pun akan takjub saat ada sosok seperti dirinya, hanya dengan selembar handuk menutupi setengah atau tiga perempat bagian dari depan tubuhnya, berdiri di depan mereka.


Tatapannya sendiri jatuh pada bagian kenyal yang akan terekspos setiap kali Tania bergerak, dan itu akan memperlihatkan segalanya, termasuk tonjolan kecil merah muda yang indah di ujung.


(Ukurannya pas, atau mungkin sedikit lebih besar untuk tanganku ….)


Saat pemikiran tak pantas itu terlintas di benaknya, Tania telah mengangkat kembali tangan Noelle yang menenggelamkan jantung Spirit Hunter ke air. Dan seperti yang dia katakan, jantung itu kini memiliki lapisan es tipis yang melindunginya.


"Kau benar …."


Noelle sedikit terkejut saat ia melihat lapisan es tipis pada jantung Spirit Hunter. Meski begitu, keterkejutannya hanya bertahan selama beberapa detik, sebelum perhatiannya terfokus pada hal lain.


Tania melepaskan tangannya dari Noelle, dan kini memegang erat handuk dengan kedua tangan. Dia pun tersenyum lembut sebelum akhirnya mengalihkan wajah ke arah lain dengan warna merah samar yang menyebar di wajahnya.


Satu-satunya hal yang mencegah Tania untuk berbalik sekarang ini adalah kenyataan bahwa handuknya hanya mampu menutupi bagian depan tubuhnya saja. Jadi, jika dia berbalik sekarang, Noelle pasti bisa melihat bagian belakang tubuhnya yang tanpa perlindungan, dan itu akan menjadi pemandangan yang tidak pantas, sekaligus memalukan bahkan bagi Tania sekalipun.


Perubahan itu, tentu saja Noelle menyadarinya.


(Dia menjadi lebih lembut padaku? )


Caranya memanggil Noelle juga ikut berubah, seolah pengaturan baru telah diterapkan di kepalanya.


...****************...