![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Setelah mendapatkan jantung Spirit Hunter, Noelle dan Tania tidak langsung kembali ke tenda mereka, malainkan memilih untuk bermain di air sejenak.
Noelle sibuk menangkap ikan dengan tombak, sedangkan Tania hanya memperhatikannya dari daratan. Dia baru saja mandi, jadi dia tidak tertarik untuk mengotori tubuhnya lagi dengan berlarian di danau.
Di samping Tania, ada beberapa ikan yang ditusuk dan ditancapkan ke tanah untuk kemudian dikeringkan darahnya. Tugas Tania adalah menjaga agar ikan itu tidak dicuri oleh hewan liar.
Tak jauh dari sana, Noelle yang sedang fokus membidik seekor ikan dengan tombaknya tiba-tiba merasakan kehadiran lain.
Ini berbeda dari Spirit Hunter, dan semua hewan atau monster yang dikenalnya. Rasanya mirip seperti manusia atau makhluk humanoid lainnya, tapi entah mengapa mereka terasa sangat kecil dan dingin.
Noelle melemparkan tombak di tangannya ke ikan yang sudah ia bidik, dan tombak itu dengan lancar menancap—menembus tubuh ikan hingga mati seketika. Kemudian, Noelle memanifestasikan pedangnya, dan berjalan mendekati hawa kehadiran itu.
Semakin dia mendekat, semakin terasa aneh mereka. Jumlahnya juga cukup banyak, mungkin sebuah kelompok kecil berjumlah sepuluh orang.
Setidaknya dia tahu kalau mereka tidak bermusuhan. Bahkan, mereka mungkin tidak menyadari kehadiran dirinya dan Tania.
Tania melihat Noelle mendekati area hutan secara perlahan, dan rasa penasarannya seketika bangkit. Tania berdiri, merapihkan pakaiannya, dan memanifestasikan bentuk sejati dari sabit Zephiroth. Dia kemudian mengikuti Noelle, namun tetap berjalan di tepi danau.
Saat keheningan yang menenangkan menyelimuti seluruh area danau, Noelle tiba-tiba melompat maju, dan tanpa aba-aba langsung memasuki hutan.
Hal ini membuat Tania terkesiap, membuatnya seketika waspada dan menantikan apa yang akan terjadi berikutnya.
Namun, meski sudah sepuluh detik Tania menunggu, tidak ada bunyi dentangan logam atau tusukan seperti yang dia harapkan. Hanya keheningan total, seperti tidak ada yang terjadi.
Meski begitu, Tania tahu kalau Noelle baik-baik saja. Dia bisa merasakan kehadiran Noelle yang kuat dari arah hutan, bersama dengan kumpulan kehadiran kecil lain yang sama sekali tidak bermusuhan.
"Mhmm? "
Tania memiringkan kepalanya sejenak, lalu berlari sambil membawa sabitnya. Dia tidak khawatir, tapi Noelle yang tak kian muncul membuatnya merasakan kecemasan yang sulit dijelaskan.
Akhirnya, Tania menemukan Noelle, yang sedang melihat pada bawah tebing yang cukup pendek. Begitu tiba di sampingnya, Tania mau tak mau ikut terkejut dengan apa yang dia lihat.
Tatapan keduanya fokus pada hal yang sama, yaitu sekumpulan orang yang mungkin tidak layak disebut manusia. Tubuh mereka kerdil, tapi tidak seperti para dwarf yang relatif gemuk. Mereka seperti manusia normal, hanya saja begitu kerdil, dan memiliki ciri fisik lain yang membuat Noelle serta Tania kesulitan untuk mendeskripsikan makhluk apa mereka sebenarnya.
Ciri paling mencolok pada mereka adalah warna kulit mereka. Itu biru, pekat seperti tinta, memiliki tato putih berpola seperti bunga es pada punggung.
Siapa pun yng melihatnya pasti akan memiliki pemikiran dan pertanyaan yang sama di kepala mereka; 'makhluk apa mereka sebenarnya? '
Berjumlah sepuluh orang, mereka semua melakukan tarian aneh sambil mengelilingi sebuah api unggun.
"Puji Ratu Bengis! "
"Puji Ratu Bengis! "
"Puji Ratu Bengis! "
Setelah menyanyikan berbagai pujian kepada Ratu Bengis, mereka melanjutkan dengan menyanyikan lagu dalam bahasa yang sama sekali tidak dikenal.
Kemampuan penerjemahan otomatis milik Noelle bahkan tidak mampu mengartikan nyanyian mereka. Tapi, dari bahasa yang mereka gunakan untuk memuji Ratu Bengis, Noelle menyimpulkan kalau mereka bicara dalam bahasa Hermes.
"Tania …."
Noelle memanggil Tania dengan waspada, dan Tania meresponnya dengan anggukan kepala singkat.
"Kau pernah melihat mereka? "
"Belum," jawab Tania dengan suara bervolume rendah.
Noelle tidak ingat ada ras yang memiliki ciri fisik seperti kelompok orang yang menari di bawah sana.
Apakah ada ras lain yang belum diketahui publik? Seperti ras vampir yang hanya diketahui sebagai mitos.
Itu bisa jadi, dan justru merupakan kemungkinan terbesarnya.
(Kelihatannya mereka sedang melakukan ritual. Kalau begitu … lebih baik aku membawa Tania pergi dari sini segera.)
Bagaimanapun, rasa kewaspadaannya kini jauh lebih besar daripada rasa penasarannya. Karena itulah, alih-alih mendekati mereka, Noelle membimbing Tania untuk mundur beberapa langkah ke belakang.
Namun, rencananya untuk pergi tidak berhasil.
Salah satu pelaku ritual menyadari kehadiran keduanya, dan langsung berteriak dalam bahasa yang Noelle dan Tania pahami.
"Pengembara! "
"Sialan! " Noelle mendecakkan lidahnya dengan kesal, dan seketika mengangkat pedangnya.
Tania juga melakukan hal yang sama. Sedikit berlindung di belakang Noelle, dia telah bersiap untuk menyerang kapan saja menggunakan Zephiroth.
Akan lebih baik untuk melakukan serangan dadakan, tapi entah apa yang orang-orang kerdil itu miliki untuk bertahan. Bisa jadi mereka telah menyiapkan jebakan yang bahkan tidak bisa dihindari oleh Noelle dan Tania.
Para kerdil itu meninggalkan ritual mereka, dan langsung berlari ke arah Noelle dan Tania. Keduanya pun siap untuk bertahan. Namun, serangan yang telah dinantikan oleh keduanya tak pernah datang.
Para kerdil itu justru buru-buru menghampiri mereka, dan seketika bersujud setelah mencapai jarak sekitar satu meter dari keduanya.
"Ratu Bengis telah mengirimkan berkah! "
...****************...
Pagi hari, Tania berusaha membuka matanya setelah berulang kali percobaan, dan kali ini ia berhasil.
Matanya terbuka, tapi pengelihatannya masih kabur. Untuk menghapus itu, Tania akhirnya bangun dan menggosok kedua matanya berulang kali sambil berusaha melihat ke sekeliling.
Dia ada di dalam tenda, dan sinar matahari cerah menyelinap masuk melalui celah yang terbuka. Ini membuat Tania seketika memulihkan kesadarannya, dan berusaha keluar.
Begitu keluar, apa yang menyambutnya adalah Noelle dalam wujud aslinya, sedang sibuk memutar ikan yang masih dibakar di atas api unggun.
Melihat posisi matahari, ini masih belum terlalu terlalu siang. Meski begitu, suhu dingin yang tiba-tiba menusuk kulit membuatnya gemetar sejenak, sebelum akhirnya pulih dengan memakai anting pengatur suhu tubuh yang Noelle berikan.
Tania sama sekali tidak terbiasa memakai anting, jadi dia melepaanya saat hendak tidur. Tapi sepertinya itu adalah kesalahan, karena dia benar-benar kedinginan sekarang.
Sambil berusaha menahan tubuhnya yang menggigil, Tania bertanya pada Noelle, "Tidak membangunkanku? "
Malam sebelumnya, mereka telah sepakat untuk bergantian berjaga setiap tiga jam sekali.
Giliran pertama jatuh pada Noelle, dan Tania memanfaatkan waktu tiga jam itu untuk mengistirahatkan kepalanya yang lelah. Namun, dia baru bangun saat pagi tiba.
Noelle yang sedang sibuk dengan ikannya hanya tersenyum masam, lalu menjawab, "Kau tidur terlalu nyenyak, aku jadi tidak mau membangunkanmu."
Itu bukanlah kebohongan. Setidaknya, itu adalah salah satu alasan mengapa Noelle tidak membangunkannya.
Alasan terbesar Noelle adalah dia ingin menghabiskan waktu semalaman untuk menyelesaikan rumah yang ia buat sendiri. Saat ini, semua bagian sudah selesai, Noelle hanya perlu menambahkan beberapa struktur terakhir.
Meski itu adalah alasannya yang sebenarnya, Tania sama sekali tidak tahu. Dia hanya percaya pada jawaban yang Noelle berikan, dan tidak mempertanyakannya lagi.
Tapi sebenarnya, kepedulian yang Noelle tunjukkan membuatnya senang sekaligus malu, meski pada saat yang sama dia juga sedih karena tidak bisa melaksanakan tugasnya.
Tania kembali mengeraskan ekspresinya, dan mengangguk. Dia paham betapa gentingnya situasi ini.
...****************...
Guild petualang, Alten.
Di balik mejanya yang penuh dengan berbagai berkas, Francelis sedang memijat pelipisnya sendiri dengan penuh rasa lelah.
Tubuhnya mengurus, dan cekungan pada pipinya terlihat lebih dalam dari biasanya. Helai putih juga mulai menyebar di kepalanya, seolah kecepatan penuaan telah ditingkatkan berkali-kali lipat.
Biarpun posisi sebagai ketua guild memberinya banyak keunggulan absolut, tak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan ini amat melelahkan. Terutama bagi dia yang bekerja sebagai ketua guild yang bermarkas di ibu kota sebuah negara.
Manfaat terbesar yang bisa Francelis dapatkan dengan posisi ini adalah hak untuk 'mengambil sedikit' bagian dari pendanaan (meski kebanyakan ia lakukan tanpa konfirmasi dengan pihak pusat). Namun, mengingat banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan, Francelis menganggap ini sebagai pertukaran yang setara.
Bernapas dengan berat, Francelis akhirnya bersandar pada kursi, memilih untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Langit di luar cerah, tapi suhu yang dingin membuat kakinya sedikit menggigil saat menyentuh lantai. Di saat seperti inilah dia benar-benar menyesal karena meninggalkan alat sihir pengubah suhu tubuh itu di rumah.
Saat tatapannya jatuh pada kawanan burung yang mulai bermigrasi ke selatan, ketukan pintu terdengar. Namun, bahkan sebelum Francelis merespon, pintu itu telah dibanting terbuka, dan dua orang yang wajahnya sudah ia lupakan melenggang masuk tanpa rasa bersalah.
"Yo, aku sudah menyelesaikannya," ucap pria bernama Grei Noctis itu sambil menyeringai keji.
Meski Francelis sudah tidak menyukai orang ini sejak pandangan pertama, dia tidak bisa bersikap buruk padanya. Dia memiliki firasat bahwa Grei akan memberikannya keuntungan yang luar biasa di masa depan.
Francelis pun telah memberinya ujian apakah orang bernama Grei ini layak untuk diperalat atau tidak. Cara yang ia lakukan adalah dengan memanfaatkan keinginan Grei terhadap promosi instan.
Jantung Spirit Hunter memang menggiurkan. Itu dapat dijual dengan harga mahal di pelelangan. Namun, bukan itu tujuan utama Francelis.
Dia ingin melihat apakah Grei layak atau tidak.
Francelis memberi Grei tatapan dingin, yang direspon oleh Grei dengan senyum arogan. Sementara itu, Tania, berusaha menyembunyikan diri di belakang sosok Grei.
Sebelum Francelis sempat berbicara, Grei telah lebih dulu menarik kursi, duduk di atasnya, dan melemparkan sesuatu pada Francelis setelah mengeluarkannya dari udara kosong.
(Jadi dia juga punya gudang spasial? )
Gudang spasial, yang termasuk dalam kategori sihir ruang memanglah langka, tapi bukan berarti tidak ada yang memilikinya. Setidaknya, Francelis sudah melihat puluhan orang dengan kemampuan itu, dan kebanyakan dari mereka memang bisa dikategorikan hebat.
Menghapus rasa kagumnya, Francelis dengan santai menerima apa yang baru saja Grei lemparkan.
Itu dingin, dan ukurannya sedikit lebih besar dari telapak tangannya sendiri. Ada lapisan es tipis yang menyelimutinya, tapi itu sedikit demi sedikit meleleh di tangan Francelis. Sampai akhirnya–
Kobaran api hangat muncul di tangan Francelis, dan melelehkan lapisan es yang melindungi jantung Spirit Hunter.
"Ohh? Kau bisa memakai sihir? Kupikir orang yang bekerja di belakang meja sepertimu tidak lebih dari kutu buku belaka."
"Benar-benar tidak sopan." Francelis mendecakkan lidahnya dengan kesal pada Grei.
Salah satu hal yang membuat Francelis tidak menyukai Grei adalah perilaku dan cara berbicaranya. Dia baru saja bertemu dengannya, tapi Francelis sudah tahu kalau kebanyakan yang keluar dari mulut seorang Grei Noctis hanyalah kebohongan dan cacian belaka.
Itulah yang membuat Francelis kesulitan menghadapinya, karena Grei Noctis mirip dengan dirinya sendiri.
Usai memastikan keaslian jantung Spirit Hunter di tangannya, Francelis menghela napas pasrah.
Jantung Spirit Hunter memang rapuh, namun itu memiliki ketahanan panas yang cukup baik, sehingga api dari Francelis tidak memberinya kerusakan. Paling banyak, itu hanya akan melelehkan es yang melindunginya.
Francelis meletakkan jantung Spirit Hunter di meja yang kosong, dan menyiramnya dengan air.
"Kurasa aku sudah tidak punya pilihan. Kalau begitu, apa kau membantunya? "
Francelis menatap Tania dengan tajam, tapi Tania merespon dengan menggelengkan kepalanya. Berkat Noelle yang memberitahunya, Tania jadi paham kalau ujian promosi adalah tes independen, dan harus dilakukan sendiri oleh orang yang melakukan ujiannya.
"Heh, baiklah. Datanglah lagi untuk mengambil kartu pengenalmu tiga hari lagi. Ahh, juga … apa kau tidak keberatan kalau aku mengotak-atiknya sedikit? "
Sebelum Francelis selesai bicara, Grei dan Tania sudah berjalan menuju pintu, tapi kemudian Grei berhenti, menoleh ke belakang dan memberikan seringai keji pada Francelis.
"Kalau kau melakukan sesuatu yang aneh, gedung ini yang akan jadi jaminannya."
"Tanpa kau katakan pun aku sudah tahu. Kepribadianmu benar-benar brengsek. Tidak masalah, kau hanya memberikan informasi minimal tentang identitasmu, jadi aku akan merombaknya sedikit."
Memanipulasi identitas pada kartu pengenal adalah hal yang ilegal, dan Francelis bisa saja ditangkap, serta dicopot dari jabatannya karena terlibat dalam hal itu. Namun, resiko itu sebanding dengan keuntungan yang akan Francelis dapatkan di masa depan.
Sekarang nilai kelayakan individyal Grei telah mengalami evaluasi yang cukup positif di kepala Francelis. Bisa dibilang, Grei lulus setiap tes yang diam-diam Francelis lakukan.
Meskipun, mungkin saja Grei sendiri sadar akan tes itu, tapi memilih untuk diam dan membiarkan Francelis melakukannya.
...****************...
Setelah meninggalkan guild, Noelle dan Tania pergi ke restoran terdekat, memesan menu makanan yang agak mewah, dan beristirahat sampai puas.
Sebenarnya, yang membutuhkan istirahat bukanlah Noelle, melainkan Tania.
Menghabiskan waktu hampir dua hari di atas langit, hanya beralaskan karpet terbang adalah hal yang benar-benar memuakkan, dan Tania bahkan belum sempat melepaskan kerinduannya pada daratan yang nyaman. Karena itu, sebagai kompensasi, Noelle membiarkan Tania bebas memilih makanan apa yang dia sukai di menu.
Pesanan keduanya akhirnya datang. Tania memesan banyak makanan, sedangkan Noelle hanya menikmati pai apel berukuran sedang, ditemani minuman anggur yang agak mewah.
Sambil memakan pai yang tersaji di depannya, Tania melakukan beberapa perubahan pada jadwal yang sebelumnya dia tulis.
"Masalah pertama: mendapatkan kedudukan di guild, sudah selesai. Selanjutnya … masih ada beberapa masalah lain …."
Noelle mengerutkan kening saat melihat deretan masalah yang harus dia selesaikan. Namun, tatapannya kini tertuju pada satu jadwal yang cukup ringan, dan bisa dia lakukan kapan saja mulai dari hari ini dan besok. Justru, besok adalah batas terakhirnya.
Ada jadwal untuk wawancara dengan penulis Fuu Kafhka, yang telah direncanakan semenjak Noelle bahkan belum menginjakkan kaki di Alten.
Noelle tidak berniat datang, tapi melihat dirinya cukup luang, sepertinya tidak akan ada masalah untuk berkunjung sebentar. Kafhka juga mengonfirmasi bahwa wawancara itu tidak akan berlangsung lama.
Yang menjadi masalahnya ….
(Ada hal-hal penting yang harus diurus.)
Tania melihat perubahan yang tegas pada ekspresi Noelle, dan hanya tersenyum tipis sambil mengunyah porsi kecil pai apel yang ia ambil dari piring Noelle.
"Kita cukup luang. Masalah mereka bisa menunggu, dan dungeon yang akan muncul di Alten juga membutuhkan waktu yang lebih lama sampai itu terbentuk."
Itu adalah kode dari Tania yang ingin mengatakan: 'Lakukan saja apa yang kamu mau'.
Noelle memahami maksud Tania, dan mengangguk kecil. "Baiklah. Setelah ini, aku akan menemui orang yang menulis buku ini. Apa kau mau ikut? "
Tawarannya diberikan sambil menunjukkan buku 'Shepherd and the Skinwalker' yang sudah selesai ia baca sampai tamat. Tania berniat meminjamnya nanti, jadi mungkin ini tawaran yang bagus karena Tania bisa bertemu langsung dengan penulisnya."
Tania terus mengunyah pai apel di mulutnya, lalu menelan itu bulat-bulat sehingga membutuhkan waktu yang agak lama baginya untuk mengosongkan tenggorokan.
Setelah melakukan itu, dia pun mengangguk sambil tersenyum tipis. "Aku mau."
...****************...