[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 317: Mentine (1)



...****************...


Sebuah taman rahasia dengan hamparan bunga Mentine, bunga favorit dari Ratu Clament. Noelle tidak berpikir ada tempat yang lebih layak dari itu untuk dijadikan tempat persembunyian harta ratu.


Noelle tersenyum dengan percaya diri, dan dia pun menjenrikkan jarinya.


"Tania, kita akan segera memeriksa tempat itu."


Baru dua detik sejak dirinya mengatakan itu, Noelle langsung diliputi oleh perasaan yang kurang menyenangkan.


Noelle berpikir bantuan Rudra akan sangat dibutuhkan dalam pencarian ini. Jika dirinya dan Tania tidak dapat menemukan salah satu katalis di taman itu, maka Rudra mungkin bisa membantu dengan petunjuk yang lebih jelas.


Namun, Rudra tidak bisa melangkahkan kaki ke luar bekas ibu kota ini. Dia masih terjebak.


Ini menyimpulkan, hanya Noelle dan Tania yang bisa pergi mencari, sedangkan Rudra akan diam di tempat ini, sendirian sambil menunggu keduanya datang membawa kabar terbaru.


Jelas, itu bukan perasaan yang menyenangkan.


Rudra sepertinya memahami apa yang Noelle pikirkan, jadi dia menoleh pada Noelle dan mengangguk dengan gerakan yang halus.


"Tidak akan ada masalah. Kalian pergilah ke tempat itu. Dan jika kalian menemui masalah, temui aku kapan saja di sini. Aku akan melakukan apa pun untuk membantu."


" … Apa maksudmu? "


Tania memiringkan kepalanya. Dia tertidur pulas semalam, dan yang dia ingat hanyalah saat Noelle memperbaiki selimutnya. Wajar dia tidak tahu tentang percakapan antara Noelle dan Rudra.


Noelle pun menjelaskannya pada Tania, tentang mengapa Rudra tidak bisa meninggalkan tempat ini.


"Bukankah itu … terlalu jahat, menyedihkan? Aku berpikir kita akan menemukan katalis yang tersisa bersama-sama."


(Hmm? Tania, sejak kapan cara bicaramu jadi begitu? )


Rasanya Tania baru saja memancarkan pesona seperti seorang gadis polos, yang sedih karena temannya tidak bisa ikut bermain.


Mengesampingkan Tania yang terlihat sedih dengan kabar mendadak ini, Noelle tidak memiliki pilihan selain menerimanya.


"Baiklah, maaf karena tidak bisa membawamu. Kami akan langsung kembali kalau kami butuh bantuan."


Noelle menepuk kepala Tania beberapa kali untuk menenangkannya, sedangkan Rudra mengangguk senang karena melihat perilaku Noelle yang telah berubah.


Meski … perilaku ini terlihat agak tidak cocok dengan penampilan kasar Grei Noctis.


"Kami akan pergi besok pagi. Tania, perhatikan semua perlengkapanmu."


...****************...


Keesokan paginya, Noelle dan Tania benar-benar pergi meninggalkan bekas ibu kota Kerajaan Fortenia dengan diantar oleh Rudra sampai gerbang. Itu adalah garis batas yang tidak bisa Rudra lewati.


Saat sudah cukup jauh, Noelle dan Tania berbalik sebentar untuk melihat pemandangan kota itu dari luar, dan tanpa diduga, Rudra masih berdiri di sana sambil melambaikan tangannya tanpa henti.


"Hehe." Noelle tidak bisa menahan senyum di wajahnya, dan dia memberikan balasan berupa acungan ibu jari.


Perjalanan pun dilanjutkan.


Keduanya mengikuti rute yang Rudra beritahukan. Meski rute itu sudah 600 tahun lamanya, seharusnya masih layak untuk dilewati.


Yang jadi masalah, peta yang Rudra berikan itu sudah sangat tua, dan hampir tidak valid karena struktur medan benar-benar sudah berubah.


Bahkan, ada rute yang terblokir oleh gunungan batu yang diselimuti salju. Tapi, semua rintangan itu jadi tidak berarti ketika Noelle memutuskan untuk beralih ke metode transportasi udara.


Setelah beberapa menit penerbangan, mereka akhirnya melihat tempat yang Rudra sebutkan.


Dari langit, tempat itu tidak ada bedanya dengan yang lain. Hanya hamparan warna putih yang membosankan.


Bagaimanapun, ketika didekati, itu langsung berubah menjadi taman besar dengan hamparan bunga Mentine yang indah.


Matahari sudah berada di posisi yang berlawanan dari ketika mereka berangkat. Ini membuktikan betapa tersembunyinya tempat ini. Bahkan dengan penerbangan sekali pun cukup sulit untuk menemukannya. Noelle beruntung karena dia mengikuti garis rute tepat seperti yang digambarkan pada peta.


Tempat ini benar-benar tersembunyi, berada di bawah lereng, dan dikelilingi oleh pegunungan yang terjal. Nyaris mustahil untuk mengunjungi taman ini dengan perjalanan darat kecuali pengunjung mengetahui rute rahasianya.


Namun, begitu sampai, Noelle dan Tania langsung melupakan kesusahan mereka. Keduanya mau tak mau terpesona dengan pemandangan yang luar biasa ini.


Hamparan bunga Mentine, persis seperti yang dikatakan Rudra. Semua bunga itu benar-benar tersebar luas di penjuru taman ini.


Sejauh mata memandang, hanya ada bunga putih dengan bercak biru yang indah.


Noelle melihat ke bawah, pada setangkai bunga Mentine yang ada di depan kakinya. Dia mencabut itu, dan langsung memasukkan kelopak bunganya ke mulut.


Rasanya tidak asing. Dingin dan memiliki sensasi pedas yang cukup menyenangkan. Ini benar-benar mirip dengan mint.


Terlebih lagi, tanpa perlu mengunyahnya, kelopak bunga Mentine itu seperti melebur dengan sendirinya di lidah Noelle. Seperti permen kapas ketika menyentuh permukaan air.


Noelle mencabut bunga Mentine yang lain, lalu menjulurkannya pada Tania.


"Ini enak. Ciciplah."


Ditawari begitu, Tania pun langsung memasukkan pucuk bunga Mentine itu ke mulutnya, dan seperti yang Noelle rasakan beberapa saat yang lalu, kelopak bunga itu seperti meleleh di lidahnya.


Biarpun semua kelopaknya sudah habis, Tania tetap membiarkan tangkai bunga itu di mulutnya, dan mulai melihat ke sekeliling.


"Inilah tempat yang Rudra katakan."


Tania maju beberapa langkah, melebarkan tangannya dan mencoba menikmati angin sejuk yang sesekali berhembus, sementara Noelle. memperingatkannya dari jauh.


"Hati-hati, jangan sampai antingmu lepas."


"Selain itu, kita tidak benar-benar punya waktu untuk melihat-lihat …."


Kalimat Noelle terhenti saat matanya menatap pada sosok Tania, yang berdiri dengan anggun di tengah hamparan bunga putih kebiruan.


Gadis yang cantik dan terlihat mempesona itu menatap kejauhan, dengan senyum tipis di wajahnya.


Merasakan tatapan Noelle, Tania pun berbalik, hanya untuk menemukan Noelle yang sudah memalingkan wajahnya.


(Yahh, tidak heran Ratu Clament menyukai tempat ini.)


Sementara dia memikirkan itu, Tania dengan hati-hati melangkah agar tidak terlalu merusak bunga, dan telah sampai di sampingnya.


Namun, alih-alih berdiri di sisi Noelle untuk membahas rencana selanjutnya, dia justru menatap Noelle dari jarak yang sangat dekat.


"Kenapa kamu memalingkan wajahmu? "


"Apa aku perlu menjawabnya? "


Noelle dengan raut tidak senang berusaha menjauhkan wajah Tania, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Tania semakin mendekatkan wajahnya pada Noelle, dan itu menyebabkan sedikit kecelakaan.


Sejak awal, ketinggian tubuh mereka berbeda. Jadi, untuk menatap Noelle dari jarak yang begitu dekat, Tania harus berjinjit agar matanya bisa setara dengan Noelle. Tapi saat dia melakukan itu, Tania kehilangan keseimbangannya, menyebabkan tubuhnya secara alami terjatuh ke depan dan mendorong Noelle ke tanah yang bersalju.


"Ahh, sudah kubilang untuk hati-hati, 'kan? "


Noelle berusaha bangkit dengan Tania yang masih bersandar pada bagian depan tubuhnya. Noelle hendak membantu Tania berdiri, tapi kemudian dia menyadari suatu noda yang seharusnya tidak ada di sana.


Itu adalah noda merah. Meski hanya beberapa tetes, melihat itu ada di telapak tangannya sendiri membuat Noelle bertanya-tanya dari mana datangnya darah itu.


Tapi kemudian, dia akhirnya sadar dari mana asalnya darah itu.


"Tania! Antingmu! "


Karena kejatuhan tadi, anting di telinga Tania secara tidak sengaja tertarik ke bawah dan menyebabkan luka kecil yang menghasilkan darah. Saat Noelle memeriksa kondisi Tania, luka di telinganya sudah menghilang, bersama dengan bekas tusukan anting itu.


Di sisi lain, tubuh Tania terlihat gemetar, yang membuat Noelle jadi semakin khawatir.


"Tania? Oi, Tania! "


Noelle mengguncang tubuh Tania, tetapi respon yang diberikan padanya sangatlah lambat.


Tania mengangkat kepalanya, dan menunjukkan wajahnya yang sangat pucat itu pada Noelle.


"N-Noah … ini dingin …."


Tubuh dan suaranya gemetar saat dia mengatakan itu. Persis seperti seekor hewan kecil yang sedang ketakutan.


Usai mengatakannya pun, Tania langsung menenggelamkan wajahnya ke dada Noelle, dan berusaha menyembunyikan tangannya yang terpapar udara dingin itu ke mantel tebal Noelle.


Melihat ini semua, yang bisa Noelle lakukan hanyalah menghela napas pasrah.


Dia bisa merasakan napas berat Tania di dadanya, dan gemetar tubuh Tania juga disampaikan dengan jelas pada Noelle. Karena itulah, sembari mencari di mana anting Tania jatuh, Noelle berulang kali menepuk punggung Tania untuk membuatnya tenang.


"Ketemu."


Anting itu sedikit tenggelam di salju, dan tertutupi oleh beberapa kelopak bunga Mentine yang jatuh.


Noelle memperhatikan anting itu dengan cermat, dan melihat kalau itu masih dalam kondisi yang bagus, tanpa ada kerusakan.


Itu melegakan, karena Noelle tidak memiliki akat sihir dengan fungsi itu lagi. Kemungkinan lain, dia harus membuatnya sendiri, dan itu membutuhkan waktu yang agak lama karena dia harus mempelajarinya terlebih dahulu.


Meski antingnya sudah ketemu dalam keadaan yang bagus, Tania benar-benar sudah jatuh dalam kondisi kedinginan total. Untungnya dia memiliki Noelle yang bisa dijadikan pegangan. Jika tidak, dia mungkin akan langsung mengalami hipotermia.


"Tolong angkat wajahmu, aku tidak bisa memasangnya kalau begini," ucap Noelle santai.


Telinga Tania tersembunyi di antara rambutnya, dan posisinya saat ini tidak memungkinkan Noelle untuk langsung memasangnya begitu saja.


Tania sedang meringkuk padanya saat ini, berusaha semaksimal mungkin untuk mencari kehangatan.


"Inilah kenapa aku memperingatkanmu. Kau terlalu mudah lengah."


Noelle sekali lagi menghela napas, berusaha menenangkan Tania yang masih dalam keadaan menggigil dengan cara menepuk punggung dan kepalanya sesekali.


"Itu karena … ada di sisimu benar-benar membuatku nyaman," balas Tania dengan suara yang rendah.


Cengkeramannya pada mantel Noelle menjadi semakin kuat. Kulitnya pun jadi semakin pucat sekarang.


"Oke, lupakan omong kosong itu. Kau benar-benar sekarat sekarang! "


Noelle seketika mendorong Tania untuk menjauhkan dia dari tubuhnamya, dan kini Tania terbaring terlentang di antara bunga Mentine yang rapuh.


Wajahnya masih tidak terlalu berekspresi, tapi sudah cukup untuk memberi tahu Noelle bahwa dia sedang kedinginan.


Dengan cepat, Noelle langsung memasangkan kembali anting sihir itu ke telinga Tania, dan warna kulitnya kembali seperti semula.


Ekspresi di wajahnya juga langsung kembali netral, dan dia bangkit ke posisi duduk sambil memperhatikan anggota tubuhnya.


"Luar biasa, rasa dinginnya langsung menghilang."


"Aku tidak akan menolong kalau ini terjadi lagi," ucap Noelle saat dia memberikan pukulan ringan tanpa tenaga sedikit pun ke kepala Tania.


...****************...