[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 174: Absurditas (1)



...****************...


"Aku tidak bisa melihat apa pun! Di mana ini?! "


"Berisik, tenanglah! Kau berteriak tepat di telingaku! "


"Aku tidak tahu siapa kau, tapi kau menginjak kakiku! "


"Ohh, maaf. Itu mungkin aku. Ini, apa kau sudah lega? "


"Ohh, ya. Itu bagus."


"Ngomong-ngomong, tangan siapa ini? Kau menekan perutku."


"Jangan mengeluh, tempat ini sangat sempit. Sulit bagiku untuk bergerak. Dan juga, kau Noelle kan? Bukankah kau biasanya bisa melihat dalam kegelapan? "


"Biasanya aku bisa, tapi entah kenapa pengelihatan malamku tidak aktif sekarang."


"Tch, tidak berguna."


Belum satu menit sejak mereka akhirnya berpindah ke tempat ini. Tapi, kekacauan kecil langsung terjadi dan membuat mereka menjadi kesulitan untuk memahami situasinya.


Sebelumnya, Noelle telah menemukan jalan untuk keluar dari lorong yang tak berujung itu, tapi jalan keluar yang ia temukan justru membawanya ke tempat aneh lainnya.


Tempat ini sangat sempit, dan juga sangat gelap sehingga dia tidak bisa melihat apa pun.


Ketiganya dengan gelisah terus menggerakkan tubuh mereka dan saling menghimpit satu sama lain demi menemukan jalan keluar. Namun, semuanya sia-sia.


Apa yang mereka bertiga lakukan justru membuat tempat itu menjadi terasa semakin sempit. Norman bahkan mulai kesulitan bernapas karena himpitan dari Noelle dan Cryll yang terus saling berdesakan.


Sedikit kecelakaan tak dapat dihindari, jadi masing-masing dari mereka masih bisa memakluminya, tapi tetap saja menjengkelkan rasanya ketika ada orang lain yang terus menghimpit tubuhmu seperti itu.


"Ahhh, sialan! Jangan bergerak dulu! Aku akan mencoba sesuatu! " teriak Noelle dengan suara yang ditahan serendah mungkin agar tidak menyakiti telinga Cryll dan Norman.


Cryll dan Norman akhirnya tenang, dan menunggu apa yang akan Noelle lakukan selanjutnya.


Setelah itu, Noelle pun mencoba untuk menggunakan sihirnya dan menciptakan partikel cahaya kecil di udara.


Itu berhasil, tapi cahaya yang dihasilkannya terlalu redup. Dengan tingkat cahaya seperti itu, Noelle hanya bisa melihat rambut pirang Cryll yang ada tepat di hadapannya.


"Masih sangat gelap … Ini tidak seperti biasanya," ungkap Noelle dengan bingung.


"Coba perkuat," balas Cryll sambil menyipitkan matanya untuk memfokuskan pandangannya terhadap partikel cahaya itu.


Noelle mengangguk, dan menyuntikkan lebih banyak energi sihir ke dalam mantra itu.


Akhirnya, jumlah partikel cahaya di udara meningkat dan membuat mereka bisa melihat sedikit kondisi di sekitar mereka.


Norman memandangi sekitarnya dengan bingung, lalu menyipitkan matanya. "Apa mungkin … Kegelapan ini menyerap semua cahayanya? "


"Kata-kata itu terdengar menggelikan, tapi juga keren di saat yang sama. Sialan, aku ingin tahu bagaimana kau bisa mengucapkannya secara alami seperti itu."


"Eh? "


Norman menoleh sedikit untuk memberikan tatapan bingung sekaligus jengkel pada Noelle. Meskipun begitu, Noelle mengabaikannya dan meningkatkan jumlah energi sihir pada partikel cahaya itu.


Kesimpulan yang dia miliki sama seperti Norman. Kegelapan yang menyelimuti tempat ini, mungkin dapat menyerap hampir semua cahaya yang ada di sekitarnya.


Ini mengingatkan Noelle pada mata obsidian Olivia, dan membuatnya terdiam sejenak saat menyadari kesamaan itu.


Ketika jumlah energi sihir yang menjadi bahan bakarnya ditingkatkan secara drastis, partikel cahaya itu akhirnya memperbanyak jumlahnya, dan meningkatkan intensitas cahaya di sana.


Akhirnya, mereka bertiga bisa melihat ke sekitar dengan lebih jelas.


"Apa ini … Kaca? "


Cryll menempelkan telapak tangannya di permukaan 'kaca' yang menjadi kurungan untuk dirinya dan dua orang di belakangnya.


"Tidak, ini bukan," jawab Noelle sambil ikut menempelkan telapak tangannya di sana.


Norman hanya menempelkan ujung jarinya di sana, dan langsung mengerutksn keningnya dengan bingung.


"Ini aneh … Ini tidak seperti kaca, tapi … Aku juga tidak bisa merasakan sihir yang membentuknya … "


Noelle juga menyadari itu. Untuk menemukan jawabannya, ia mencoba untuk menghancurkan 'kaca' itu dengan kekuatan fisiknya, tapi itu sia-sia.


Pululan yang ia daratkan pada permukaan itu justru diredam dengan sangat lancar sehingga Noelle bahkan tak dapat merasakan ada luka pada permukaan kepalan tangannya itu.


Kekuatan fisik tidak mungkin, jadi ia segeraencoret pilihan itu dari daftar semu yang telah ia buat di kepalanya.


Noelle kemudian kembali menempelkan telapak tangannya di sana, dan mengalirkan energi sihirnya ke tangannya.


Dia berniat membuat gelombang kejut yang cukup kuat untuk menghancurkan itu, tapi tampaknya itu juga tidak berguna.


"Ughh–"


Gelombang kejut yang ia keluarkan dengan cara yang mengerikan dipantulkan kembali pada dirinya sendiri.


"Sialan … "


Noelle kini merasakan sendiri betapa kuatnya gelombang kejut yang ia keluarkan. Itu seperti organ dalamnya telah dihancurkan dari luar. Benar-benar sensasi yang mengerikan.


Tapi, Noelle kemudian menyadarinya.


(Aku … Bisa merasakan sakit? )


Hal ini sudah cukup sering terjadi belakangan ini, jadi ia tidak terlalu terkejut dengan sensasi yang muncul secara tiba-tiba itu. Tapi, dia masih bingung kenapa rasa sakit itu masih muncul bahkan ketika resistensi atau peniadaan terhadap rasa sakit fisiknya masih aktif.


Noelle penasaran dengan alasannya, tapi ia tak terlalu peduli lagi. Yang ada di kepalanya saat ini adalah niat yang sangat kuat untuk segera keluar dari tempat ini dan bertemu kembali dengan Olivia.


"Menyingkir sedikit," ucap Noelle pada Cryll dan Norman.


Mereka berdua tampaknya ingin menanyakan sesuatu, tapi tetap diam ketika melihat Noelle akan melakukan sesuatu.


Noelle memegang gagang Langen yang masih digantungkan di punggungnya, dan secara drastis mengubah ukurannya menjadi seperti sebuah belati dengan panjang kurang dari 40 sentimeter.


Ketika transformasi Langen selesai, Noelle langsung menancapkan ujung Langen pada permukaan itu sambil mengaktifkan kemampuan spesial yang dimiliki Langen.


Retakan kecil tercipta, dan perlahan mulai berubah menjadi retakan yang lebih besar dan tersebar di seluruh bidang pandang mereka.


"Pedang yang dapat memotong segalanya, ya … Aku tidak tahu kau bisa menggunakannya dengan cara seperti itu," ujar Cryll guna memberikan komentar pada apa yang baru saja Noelle lakukan.


Norman yang berdiri tepat di sampingnya tak mengatakan apa pun dan dalam diam menyaksikan apa yang Noelle lakukan.


Tak lama kemudian, retakan akhirnya memenuhi bidang pandang mereka. Noelle menarik Langen dari permukaan itu dan kembali menancapkannya dengan cepat sehingga memberikan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan penghalang itu.


Akhirnya, penghalang yang membatasi pergerakan mereka hancur dan berubah menjadi partikel cahaya.


"Kita akhirnya keluar … "


Cryll mulai meregangkan tubuhnya sendiri, sementara Norman terduduk dengan kakinya yang lurus ke depan untuk diregangkan.


"Kurasa inilah yang terbaik … " gumam Norman sambil melirik pada Noelle yang sedang menyelidiki lokasi di sekitarnya.


"Apa kau punya petunjuk tentang di mana kita sekarang? " tanya Norman pada Noelle.


Noelle menggeleng dan mendecakkan lidahnya dengan kesal. "Tidak, sama sekali tidak. Terlalu gelap, aku tidak bisa melihat apa pun."


Bahkan jika penghalang yang membatasi pergerakan mereka telah dihancurkan, itu tak menutupi masalah lain berupa tempat yang sangat gelap ini.


Satu-satunya sumber cahaya di sana adalah partikel cahaya yang diciptakan Noelle dengan memanfaatkan sihir cahaya.


Seperti yang Noelle katakan, tempat itu terlalu gelap untuk melihat apa pun. Jadi ia bahkan tak dapat melakukan penyelidikan di sana.


Hasilnya, Noelle hanya bisa terus menerus menguras sihirnya untuk menciptakan pencahayaan yang lebih baik lagi.


Ia mencoba menggunakan senter yang pernah ia buat saat bosan, tapi ternyata itu tidak berguna, jadi ia segera membuangnya saat itu juga.


Semua partikel cahaya yang Noelle ciptakan itu kemudian berkumpul di satu tempat dan bertransformasi menjadi suatu bola cahaya yang besar dan sangat padat.


Noelle mengendalikannya dengan membuatnya melayang di udara akan penyebaran cahaya menjadi lebih efektif. Hasilnya, semua menjadi lebih jelas.


Bagaimanapun, itu memang sesuatu yang aneh dan tidak jelas sehingga mereka bertiga menjadi kebingungan.


Sebuah rumah, atau mungkin pondok panggung beratap kerucut yang terbuat dari kayu dan dedaunan kering, serta taman dengan bentuk tanaman yang aneh. Ada bunga dengan bagian tengahnya yang berupa bola mata besar, dan ada sebuah pohon besar dengan kepala beserta topi penyihir kerucut yang tumbuh sebagai buahnya.


Rumah panggung itu juga tampak aneh. Tak ada warna yang menghiasinya, semua hanya hitam putih. Beberapa bintang putih yang tak memancarkan cahaya sedikit pun itu tampak berkelip beberapa kali, sebelum akhirnya lenyap menjadi partikel pelangi yang tak mereka kenal.


"Apa-apaan ini … "


Bahkan meskipun Noelle menyuarakan rasa kebingungannya dengan tegas, tak ada satu pun jawaban dari dua orang di sisinya. Mereka bertiga hanya terus memperhatikan pemandangan itu dengan pandangan bingung sekaligus jijik.


Normam akhirnya tersadar. Dia mencoba mendekati salah satu tanaman dengan bola mata yang tumbuh di bagian tengahnya, dan berniat menyentuhnya untuk penyelidikan lebih lanjut.


Tapi, bola mata yang ada di bagian tengah bunga itu langsung berubah menjadi sebuah mulut yang dipenuhi dengan gigi taring.


Norman terkesiap dan secara refleks memundurkan kakinya ke belakang untuk menghindar, tapi tanaman itu dengan agresif terus mencoba menyerangnya.


Tangkainya memanjang dan berusaha mencapai leher Norman, tapi Norman telah lebih dulu menarik survival knife yang tergantung di sabuknya dan menebas pada tangkai tanaman yang mencoba menyerangnya itu.


Ketika tangkainya dihancurkan, tanaman itu tanpa daya terjatuh ke tanah. Mulut yang dipenuhi dengan gigi taring itu terlihat membuka dan menutup beberapa kali, sebelum akhirnya lenyap menjadi abu di tempat.


"Apa-apaan itu … "


Norman yang terkejut duduk di tanah sambil memperhatikan semua tanaman itu.


"Kurasa semua tanaman yang ada di sini adalah jenis monster tipe tanaman yang akan menyerang semua yang mendekatkan."


Noelle tiba-tiba muncul di belakangnya dan berjongkok untuk memeriksa abu dari tanaman itu.


Hampir tak ada informasi yang bisa diekstrak dari abu itu, tapi Noelle entah bagaimana mampu memperoleh sejumlah informasi berkat menyaksikan tanaman yang menyerang Norman.


Berdasarkan apa yang ia lihat, monster berjenis tanaman yang ada di sini adalah monster dengan tipe defensif yang agresif. Mereka baru akan menyerang ketika merasakan ada bahaya yang mendekati mereka.


Jadi, mereka bertiga seharusnya bisa melewati tempat ini tanpa bertarung sedikit pun jika mereka bisa membuat semua monster ini yakin kalau mereka bukanlah ancaman.


"Yang menjadi masalah … Bagaimana kita bisa keluar dari sini … "


Cryll dengan terang-terangan menyuarakan kebingungannya, dan membuat Noelle hampir memijat kepalanya sendiri.


"Untuk sekarang kita masih belum tahu. Tapi, aku ingin kalian untuk memperhatikan semua yang kalian sentuh, Jangan sampai ada perangkap yang aktif hanya karena ketidaksengajaan kalian."


Noelle mengucapkan itu dengan penuh penekanan sambil melirik Cryll.


Cryll mengangguk dengan santai dan melipat kedua lengannya sambil memperhatikan rumah panggung itu.


"Yahh, apa pun itu … Aku punya firasat kalau kita akan menemukan apa yang kita cari di sana."


"Ya," jawab Norman sambil mengangguk sebagai tanda persetujuan.


"Kurasa itu sudah jelas," balas Noelle.


Ketiganya hanya saking menatap untuk beberapa saat, sebelum akhirnya sepakat untuk memeriksa rumah panggung itu.


...****************...


"Serius, apa-apaan tempat ini?! "


Begitu mereka bertiga memasuki rumah panggung itu, apa yang menyambut mereka adalah kegelapan total. Tapi, anehnya mereka masih bisa melihat semua objek yang ada di sekitar mereka.


Ini tidak seperti cahaya telah menghilang, tapi tempat itu memang sepenuhnya berwarna hitam pekat sehingga sulit untuk dilihat atau dirasakan permukaannya.


Ada banyak hal yang ada di sana. Salah satunya adalah beberapa patung dengan ukuran setara dengan seorang pria dewasa rata-rata.


Yang membuat mereka secara alami tertarik pada patung itu adalah desainnya yang aneh. Bentuk tubuhnya mirip seperti pria normal, tapi mereka semua memiliki ciri fisik tambahan yang agak tidak masuk akal.


Salah satu patung di sana memiliki patung lain yang berupa seekor kambing besar yang menyatu dengan bagian perutnya. Di punggungnya juga terlihat kepala seekor kuda dengan kelopak mata yang terbuka dan menutup dengan interval yang teratur.


Patung lain tidak kalah anehnya. Masing-masing dari patung tersebut memiliki ciri hewan pada bagian tubuh mereka.


Dan tak hanya itu, ada juga patung seekor sapi besar dengan kaki kecil seperti kambing, namun berkepala seorang pria tua keriput dan berjanggut.


Noelle, Cryll dan Norman yang melihat itu semua mau tak mau mengkategorikan pemandangan yang ada di hadapan mereka sebagai 'pemandangan paling aneh dan menjijikkan' yang pernah mereka lihat seumur hidup mereka.


Semua patung itu memang tidak terlihat nyata karena hanya memiliki warna putih marmer yang pucat, tapi itu sudah cukup untuk memberikan kesan buruk pada setiap orang yang melihatnya.


Noelle benar-benar tidak ingin mendekati, atau bahkan menyentuh patung itu, tapi ia terpaksa melakukannya demi mengorek informasi.


Noelle mendekati sebuah patung pria dengan kepala lumba-lumba dan memiliki tangan gorila, lalu menempelkan ujung jarinya di sana.


Sejenak, tidak terjadi apa pun. Noelle kembali melepaskan tangannya dan menggunakan Langen yang telah kembali ke ukuran semulanya, lalu menggunakannya untuk menghancurkan patung itu.


Cryll dan Norman sedikit khawatir saat melihatnya. Mereka berpikir kalau mungkin akan terjadi sesuatu jika patung di sini dihancurkan.


Tapi, kemungkinan buruk itu justru tak terjadi.


"Apa patung ini hanya dekorasi semata? Bagaimanapun, jangan lengah," ucap Noelle sambil melihat ke sekelilingnya.


Cryll di belakangnya mengangkat bahunya, dan membalas, "Lihat siapa yang mengatakan itu. Kau mengatakannya tepat setelah menghancurkan patung aneh itu."


"Benarkah? "


"Kalian berdua, tenanglah."


Norman mulai merasa jengkel dengan mereka berdua. Sebagai hasilnya, ia memutuskan untuk maju sendiri.


"Hati-hati, kita tidak tahu monster jenis apa yang bersembunyi di sini," sahut Noelle guna memperingatinya.


Norman mengangguk sambil meningkatkan jarak deteksinya.


Namun, ketika ia melakukan itu, ia segera disambut oleh sakit kepala yang luar biasa.


"Akh– Ughh … "


Sambil memegangi kepalanya sendiri, Norman mulai meringkuk di lantai.


Noelle dan Cryll yang melihatnya tentu saja bingung, tapi mereka secara alami memahami situasinya.


Noelle mencoba untuk meningkatkan jangkauan deteksinya, dan segera disambut oleh rasa sakit yang sama dengan yang dialami Norman.


Tebakannya benar. Di tempat ini, jangkauan deteksi sangatlah terbatas. Jika mereka memaksa untuk meningkatkan jangkauannya, mereka hanya akan merasakan sakit yang luar biasa.


Toleransi mereka bertiga terhadap rasa sakit cukup tinggi, jadi tak butuh waktu lama bagi Noelle dan Norman untuk kembali pulih.


Detik berikutnya, mereka segera membuat beberapa aturan untuk diri mereka sendiri.


Noelle maju menggantikan Norman. Di tangannya, sebuah belati berukuran sedang tampak dalam posisi siaga sehingga Noelle dapat menggunakannya kapan saja untuk menyerang atau bertahan.


Beberapa menit berlalu, dan mereka bertiga masih menyusuri ruangan demi ruangan yang tak pernah berakhir itu.


"Bukankah … Rumah ini tidak memiliki ukuran yang besar? Kenapa kita malah terjebak sangat lama di sini? " tanya Cryll.


Noelle sendiri sudah menemukan jawabannya, tapi ia ragu untuk mengatakannya karena ia tidak punya bukti untuk itu.


"Katakan saja jika kau tahu sesuatu," ucap Norman sambil melirik pada Noelle. Dia jelas menyadari apa yang Noelle sembunyikan.


Noelle tersenyum masam dan akhirnya mengatakannya. "Rumah ini … Mungkin semacam labirin besar yang dibentuk seperti sebuah rumah kecil dengan ilusi … Aku tidak tahu pasti, tapi kurasa kemungkinannya tinggi."


"Aku setuju tentang itu. Tapi … Jika ini labirin, bagaimana kita akan keluar? "


Norman meraba sekelilingnya, dan tak menemukan sedikit pun petunjuk. Satu-satunya hal yang ia temukan adalah patung aneh lainnya.


Ketiganya berhenti berjalan dan mulai saling menatap, sebelum akhirnya mengangguk secara bersamaan dan mulai berpencar untuk memeriksa setiap hal yang ada di sana.


Hasilnya, tidak terlalu sia-sia.


Mereka memang tidak menemukan jalan keluar, tapi mereka menemukan petunjuk untuk menciptakan jalan itu.


Semuanya terkait dengan setiap patung yang mereka lewati sebelumnya.


...****************...