![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
(Entah bagaimana aku bisa kabur, tapi … Ini benar-benar menyakitkan … )
Beberapa saat telah berlalu sejak Noelle melarikan diri dari Lucius dengan transformasi kabut miliknya.
Awalnya dia merasa pesimis kalau rencana pelarian menggunakan transformasi kabut akan berhasil, tapi untungnya itu berjalan dengan lancar.
Noelle telah kembali ke wujud fisiknya dan berlari melompat satu bangunan ke bangunan lainnya, menuju titik kumpul yang sudah disepakati semua anggota Asterisk.
Ledakan masih terjadi di seluruh titik penting kota, tapi Noelle dengan mudah mengabaikan itu dan mendarat tepat di sebuah lapangan yang dikelilingi reruntuhan bangunan.
Noelle telah sampai ke tempat yang disepakati, tapi tampaknya dia datang terlalu cepat karena sama sekali belum ada anggota Asterisk yang muncul.
Sejenak, Noelle berpikir untuk membantu mereka, tapi ia segera menghapus pemikiran itu begitu melihat sosok Colyn yang datang dengan berbaring di atas bantalnya.
Kecepatan terbang bantal Colyn tidak begitu bagus. Jadi butuh waktu yang lebih lama baginya untuk sampai ke titik kumpul yang terletak di pinggiran kota.
Noelle melepas topengnya dan melambaikan tangannya pada Colyn yang semakin mendekatinya.
"Souris, kau cepat! Apa kau sudah menyelesaikan bagianmu? "
Colyn bertanya padanya saat ia tiba tepat di hadapan Noelle.
Sama sekali tidak ada noda baik di bantal maupun tubuhnya. Yang artinya, Colyn menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat cepat sehingga tidak ada noda yang tersisa.
Noelle hanya bisa tersenyum masam saat memikirkan seberapa besar kerusakan yang disebabkan Colyn dengan kemampuan《Inviolable Area》miliknya.
"Yahh, ada beberapa masalah dengan itu. Tapi, itu seharusnya tidak masalah."
Colyn memiringkan kepalanya dengan bingung, tapi dia tidak bertanya lebih jauh karena sosok Damian tiba-tiba muncul dan menghampiri mereka bersama Lucia.
"Bagaimana bagian kalian? " tanya Damian.
Lucia yang berjalan di sampingnya telah kembali memasang kain hitam yang menutupi matanya. Dia berjalan dengan noda darah di beberapa bagian pakaiannya.
"Sayangnya tidak. Aku gagal membunuh wali kota karena bajingan bernama Lucius itu menggangguku."
"Lucius? "
Saat mendengar nama itu, Noelle dapat melihat ada perubahan ekspresi yang cukup drastis di wajah Damian.
Matanya menyipit, dan tatapannya tajam, seolah menyiratkan pada Noelle untuk melanjutkan penjelasannya.
Lucia yang memiliki kekuatan dari mata dewa tentunya dapat melihat maksud dari tatapan Damian, dan hal yang disembunyikan Noelle. Tapi, dia memutuskan untuk tetap diam sambil tersenyum, membiarkan Noelle mengurus itu semua.
Satu-satunya yang tidak mengerti dengan situasinya adalah Colyn yang menatap Noelle dan Damian dengan kebingungan.
(Apa yang terjadi? )
Hanya itu yang dapat ia pikirkan saat melihat perubahan suasana yang tiba-tiba itu.
"Souris. Kau tadi menyebut Lucius, 'kan? "
"Unn. Apa kau mengenalnya? "
Noelle bertanya untuk memastikan. Walaupun sebenarnya, ia sudah tahu jawabannya.
Jika dilihat dari seragamnya, Damian adalah seorang tentara dari Republik. Terlebih lagi, berpangkat tinggi. Tidak mungkin dia tidak mengenal sosok sekuat Lucius yang kemungkinan besar sering berada di medan pertempuran.
Menanggapi pertanyaannya, Damian mengangguk.
"Aku pernah bertemu dengannya saat pertemuan diplomatik beberapa tahun yang lalu, dan … Hanya untuk memastikan, Lucius yang kau maksud itu adalah Lucius Roux, 'kan? "
Noelle mengangguk. Meskipun Damian sebelumnya berkata kalau ia bertemu Lucius dalam pertemuan diplomatik, Noelle dengan mudah sadar kalau itu adalah kebohongan.
"Begitu, ya … Kalau begitu, tidak salah lagi. Dia adalah salah satu anggota Knight of Round yang ada di Kerajaan ini … "
Damian tampaknya sangat mengenal Lucius, itu membuat Noelle merasa tertarik untuk mengorek informasi yang lebih dalam lagi. Tapi, Damian akan melihat niatnya jika ia bertanya lebih jauh tentang hubungan mereka.
Kalau begitu, ia harus mengalihkan pembicaraan untuk menutupi niatnya yang mulai terlihat.
"Hei, sebenarnya … Apa itu Knight of Round? "
Noelle memutuskan untuk menanyakan hal itu sebagai gantinya. Lagipula, ia juga cukup penasaran dengan apa itu Knight of Round.
Tentu saja dia sudah memiliki teorinya sendiri tentang apa unit itu sebenarnya, tapi Noelle masih ingin memastikannya dari orang yang mengenal mereka.
Damian tampaknya menyadari rasa penasaran Noelle. Dia menghela napasnya dan berusaha melarikan diri dari tatapan penasaran Noelle.
"Singkatnya, Knight of Round adalah nama satuan unit kesatria kehormatan di Kerajaan ini. Saat ini, hanya ada sekitar 13 orang yang menempati posisi itu. Disebut kesatria kehormatan karena mereka berada di bawah perintah langsung sang Raja. Hanya otoritas Raja yang bisa menggerakkan mereka."
(Ahh, sudah kuduga … )
Noelle memang sudah bisa menebaknya saat melihat kesetiaan yang ditunjukkan Lucius sebelumnya, tapi tetap saja ia merasa jengkel ketika mendengarnya langsung dari Damian.
Knight of Round, atau sering disebut sebagai unit pribadi Raja. Adalah unit kesatria yang dipilih untuk melayani Raja secara langsung.
Bahkan posisi dengan otoritas tingkat tinggi seperti Pangeran, Ratu, dan Duke sekalipun tak dapat menggerakkan mereka kecuali saat terjadi situasi yang mendesak.
Karena itulah, semua anggota Knight of Round disebut sebagai unit yang terkuat dalam berbagai artian.
Setiap anggotanya memiliki kekuatan yang dapat merubah kondisi peperangan dalam waktu singkat, dan mereka juga sering ditugaskan untuk berjaga di area yang sangat rawan akan konflik bersenjata.
"Orang bernama Lucius Roux yang kau lawan itu adalah salah satu anggota Knight of Round yang memiliki pengaruh kuat di wilayah Rondo. Tidak heran jika dia tiba-tiba muncul dan menghentikanmu."
"Begitu, ya … "
Noelle mengangguk dengan penuh pengertian, tapi kemudian disadarkan oleh apa yang Damian katakan sebelumnya.
"Tunggu, tadi kau bilang kalau dia memiliki pengaruh yang kuat di sini, 'kan? "
"Ya? "
"Jika kau tahu tentang itu, kenapa kau tidak memperingatkan siapa pun? "
Jika Damian memiliki informasi seperti itu, seharusnya ia memberikannya pada semua anggota Asterisk pada saat rapat sebelumnya. Tapi, Damian justru tak melakukan itu dan malah merahasiakannya.
Siapa pun yang melihat tindakannya pasti akan langsung berpikir kalau dia berkhianat. Colyn sudah hampir memiliki pemikiran itu, tapi tiba-tiba Damian mengangkat tangannya.
"Itu karena aku tidak tahu kalau dia ada di sini. Sebelumnya, aku mendapat kabar kalau Lucius akan berada di kawasan netral Elfrieden. Tidak mungkin aku berpikir kalau dia ada di kota ini."
Pergerakan Lucius memang sudah dipantau oleh para agen intelijen yang dikirim Republik, karena itu Damian dapat dengan mudah mempercayai informasi yang diberikan para agen padanya.
Tapi, mungkin satu hal yang tak pernah dipikirkan oleh para agen adalah Lucius memiliki pergerakan yang sangat fleksibel sehingga mampu menghindari pengawasan semua agen yang dikirim Republik.
(Yahh, dia tidak layak untuk menempati posisi itu jika dia tidak bisa menghindari mata-mata.)
Setelah keheningan itu berkuada untuk beberapa saat, Damian kembali berbicara.
"Tapi … Kau benar-benar luar biasa karena bisa tetap hidup setelah berhadapan dengannya … Kudengar dia tidak akan pernah segan-segan terhadap musuhnya."
(Memang itu yang terjadi.)
Noelle hanya mampu tersenyum masam. Tidak salah lagi, Lucius memang sangat kuat bahkan saat dia tidak dalam mode bertarung, dan menjadi jauh lebih kuat lagi setelah Noelle memprovokasinya.
Terlebih, Lucius memiliki teknik merepotkan yang dapat menonaktifkan sebagian besar skill pasif yang dimiliki lawannya. Karena pengaruh rasa sakit yang tiba-tiba mendatanginya saat itu, Noelle hampir tak bisa berpikir dengan jernih. Hasilnya, ia hampir diubah menjadi daging cincang oleh Lucius seorang.
Untungnya, teknik aneh yang Lucius gunakan pada Noelle untuk menyegel skill pasifnya sudah menghilang. Kini Noelle bisa tetap tenang tanpa harus terganggu oleh rasa sakit dan terus beregenerasi tanpa rasa khawatir.
Colyn kini tampak khawatir pada Noelle yang telah menghadapi Lucius. Ia menatap Noelle dengan pandangan bertanya-tanya apakah ia baik-baik saja atau tidak.
Ekspresi mengantuk Colyn yang disertai dengan sedikit raut sedih pada wajahnya mengingatkan Noelle akan penampilan Olivia yang sedang mengkhawatirkannya beberapa waktu lalu.
Noelle tersenyum masam pada Colyn dan bersandar pada salah satu puing batu yang ada di dekat mereka.
"Tidak perlu khawatir tentang itu. Entah bagaimana aku berhasil selamat dan pergi dengan cepat meninggalkan Lucius itu tanpa membiarkannya mengikutiku."
Damian kemudian berbicara setelah memastikan kondisi Noelle.
"Kau memang terlihat baik-baik saja. Tapi … Akan menjadi hal yang merepotkan jika kau melepaskan wali kota seperti itu."
Noelle mengangkat satu sudut bibirnya dan menatap Damian tanpa rasa takut.
"Jangan khawatir tentang itu. Jika semua berjalan sesuai dengan rencanaku, wali kota itu tidak akan bertahan hidup untuk waktu yang lama."
"Apa maksudmu? "
"Bukan sesuatu yang harus kau pedulikan. Untuk saat ini, aku sudah memiliki rencana yang siap dilaksanakan kapan saja. Hanya itu yang perlu kau ketahui."
Damian tidak mengatakan apa pun lagi. Begitu juga dengan Colyn.
Mereka berdua hanya menatap Noelle dalam diam, sementara Noelle perlahan memejamkan matanya sambil merasakan dinginnya permukaan batu di punggungnya.
Untuk saat ini, tahap pertama dari rencananya telah selesai. Ia sudah berada cukup jauh dari posisi Lucius.
Meskipun masih ada beberapa tahap yang harus diselesaikan, Noelle tidak bisa banyak bertindak karena dia kekurangan pion.
Sebelumnya, Noelle telah mengatur semua hal sedemikian rupa sehingga Lucius akan bergerak seperti yang telah ia rencanakan.
Berhubungan dengan rencana yang baru ia buat beberapa waktu lalu, tampaknya Damian sama sekali tidak menunjukkan tanda kesadaran akan hal itu. Jadi, saat ini Noelle masih bisa bernapas dengan tenang.
Meskipun, ia mungkin harus melakukan beberapa manuver gila di balik layar nanti.
"Kau memang berhasil melarikan diri darinya, tapi … Apa kau terluka? Aku bisa menyembuhkanmu jika kau mau."
Saat Noelle dalam diam memikirkan bagaimana semua rencananya berjalan, Lucia menghampirinya dan bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Tidak, itu tidak perlu. Sebagian besar luka yang kualami di tubuhku sudah hilang, aku hanya perlu menghapus beberapa luka kecil yang tersisa."
Bahkan saat dia sedang berbicara dengan semua orang, regenerasi super cepat miliknya terus bekerja untuk menghapus semua luka yang dialami tubuhnya.
Sejak awal, Noelle tak begitu terluka, jadi Lucia tidak perlu mengkhawatirkannya seperti itu.
"Baiklah jika itu yang kau katakan," ucap Lucia sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, sosok Asher muncul dengan jatuh dari langit dan mendarat dengan lembut di tanah.
Hampir tak ada noda di tubuhnya. Rambutnya bersih, dan begitu juga dengan pakaiannya.
Hanya saja, wajahnya yang sudah bebas dari topeng itu tampak muram.
Noelle penasaran dengan apa yang terjadi, tapi dia memutuskan untuk tidak menanyakannya. Itu adalah pilihan yang bijaksana karena tampaknya Asher sedang dalam suasana hati yang buruk.
Akan merepotkan jika Noelle memicu emosinya lebih jauh.
Asher melihat keempat anggota Asterisk yang sudah berkumpul, lalu menelusuri sekelilingnya.
"Apa Mordred dan Caver belum datang? "
Wajar jika ia mengatakan itu. Jika dibandingkan dengan Noelle yang menargetkan kantor wali kota, dan Lucia yang menargetkan markas militer, menghancurkan area produksi dan gudang seharusnya bukanlah masalah besar.
Seharusnya Tania dan Arnaz yang mendapatkan bagian itu bisa menyelesaikan pekerjaan mereka lebih awal.
Selain itu, Ethan juga tidak bersama mereka.
Ethan menargetkan bagian Departemen Administrasi Pusat, itu cukup berdekatan dengan posisi Colyn sebelumnya.
Itu memang titik yang penting, tapi penjagaan di sana seharusnya tidak begitu ketat. Setidaknya, pertahanan di sana mungkin lebih lemah jika dibandingkan dengan kantor wali kota.
"Hei … Aku memiliki firasat buruk di sini … Apa kita bisa menyusul mereka? "
Hanya dengan memikirkan semua itu, Noelle sudah memiliki kesimpulan kalau ada sesuatu yang terjadi pada mereka bertiga.
Untuk itu, ia memutuskan untuk menyelidiknya.
"Kau benar. Meskipun Ortis itu terlihat seperti seorang anak-anak, dia tetap saja kuat. Tidak mungkin dia akan menghabiskan waktu yang lama hanya untuk hal ini."
Meskipun Damian merasa sangat tidak enak ketika harus membayangkan Ethan melakukan pembunuhan, ia tidak bisa melakukan apa pun untuk melakukannya.
Lebih tepatnya, ia tak boleh.
Meskipun Ethan masih anak-anak, dia adalah satu dari delapan orang yang dipilih untuk menjadi anggota Asterisk generasi yang sekarang. Hanya dengan hal itu saja sudah cukup bagi Damian untuk memiliki kesimpulan kalau Ethan bukanlah manusia normal.
"Apa kita akan membantu mereka? Tapi … Di mana mereka sekarang? "
Colyn bertanya pada mereka sementara kedua kakinya berayun dengan bebas di udara.
"Sekitar satu jam sudah berlalu sejak operasi ini dimulai. Dengan asumsi kalau mereka semua sudah selesai dengan tugas yang diberikan, mereka seharusnya tidak akan jauh dari lokasi yang sudah ditetapkan sebelumnya."
Noelle kemudian membentangkan peta di hadapan semua orang.
"Dari mereka bertiga, hanya Mordred dan Caver yang mendapatkan bagian dengan lokasi yang saling berdekatan. Sedangkan untuk Ortis, dia berada cukup jauh dari mereka berdua."
Damian mengangguk ringan.
"Mempertimbangkan beberapa ledakan yang terjadi sebelumnya, itu seharusnya berasal dari gedung area produksi. Lokasi Mordred. Tapi, ledakan itu sudah tidak terjadi lagi. Yang artinya, ada kemungkinan kalau mereka semua sudah pindah."
"Persempit jangkauannya. Mordred sama sekali tidak bisa menggunakan sihir. Dia seharusnya butuh waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Caver dan Ortis cukup bagus dalam serangan berskala besar," tambah Asher.
Sementara mereka bertiga tengah sibuk berdiskusi, Colyn hanya dengan bosan mengayunkan kedua kalinya sambil memperhatikan mereka semua. Sedangkan Lucia yang ada di sampingnya hanya berdiri mematung, seolah mengabaikan semua hal yang ada di sekitarnya.
"Itu artinya … Lokasi mereka seharusnya ada di sekitar pabrik produksi yang menjadi bagian Mordred, 'kan? Kalau begitu, ayo kita ke sana segera."
Mengatakan itu, sosok Noelle kemudian menghilang dan kembali muncul beberapa puluh meter di depan. Sangat jelas kalau ia sedang tergesa-gesa.
Asher tak mempedulikannya dan mengikuti Noelle dari belakang, sementara Damian sendiri menyusul mereka.
Sementara itu, Colyn dan Lucia yang tertinggal di belakang …
" … Kau butuh tumpangan? "
" … Tolong."
...****************...
Begitu Noelle dan yang lain sampai di lokasi yang mereka duga menjadi tempat Tania, Arnaz, dan Ethan berada, mereka langsung dikejutkan dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka.
Gedung yang runtuh sehingga membuat bentuknya yang sebelumnya menjadi tak terlihat lagi, dan permukaan tanah yang hancur dengan banyak cairan hitam aneh yang memiliki bau menyengat.
Gumpalan hitam yang sebenarnya adalah pasukan serangga mikro milik Arnaz berkeliaran tak terkendali, membuatnya menampilkan pemandangan yang begitu mengerikan sekaligus menjijikkan.
Noelle sudah menebak kalau semua serangga yang dikendalikan oleh Arnaz memiliki atribut korosif, tapi ia tidak menyangka kalau kerusakan yang dihasilkan akan sebesar ini.
Sementara ia memikirkan itu, pertarungan aneh terus berlangsung di depan matanya.
Arnaz dan Tania melompat ke semua arah tanpa arah yang jelas, seolah menghindari sesuatu, sementara Ethan melakukan yang terbaik untuk menjaga posisinya yang berada di puncak pohon sambil melemparkan beberapa kartu remi sebagai senjata.
Meskipun begitu, Noelle tak dapat melihat apa atau siapa yang mereka lawan saat ini.
Beberapa puing batu terlihat melayang dan terlempar ke arah Noelle, tapi batu itu langsung hancur begitu ujung tombak Asher menyentuhnya.
"Jangan lengah," ucap Asher singkat.
Noelle tetap diam dan mengangguk sebagai ganti ucapan terima kasih, lalu berbalik dan menatap Lucia yang duduk dengan tenang di atas bantal malas Colyn.
"Apa kau bisa melihat apa yang mereka lawan? "
Baik Arnaz, Ethan, maupun Tania tampaknya belum menyadari kehadiran mereka, jadi Noelle memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari informasi terlebih dahulu.
Noelle memiliki informasi sampai batas tertentu tentang kemampuan mata yang dimiliki Lucia. Saat pertama kali mengetahuinya, Noelle menganggap itu luar biasa sebelum akhirnya Lucia memberitabunya tentang efek samping yang diberikan mata itu.
Kemampuan mata Lucia adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk menganalisis situasi yang Asterisk hadapi saat ini. Tanpa itu, Noelle mungkin akan kesulitan untuk membuat rencana cadangan jika rencana utamanya gagal nanti.
Lucia tetap diam sambil memperhatikan Tania dan Arnaz yang terus bergerak demi menghindari satu per satu serangan yang datang menghampiri mereka dari sumber yang tak diketahui.
Tak lama kemudian, Lucia merespon dengan mengerutkan keningnya.
Noelle memiringkan kepalanya sedikit. "Auger? Apa yang salah? "
" … Ini aneh … Mereka seharusnya tidak melawan siapa pun saat ini, tapi … Serangan terus saja berdatangan … "
"Apa maksudmu? "
Damian yang mendengar itu langsung menyipitkan matanya dan menyiratkan pada Lucia untuk terus melanjutkan kalimatnya.
"Tidak ada siapa pun di sana. Tidak selain mereka bertiga, dan kita berlima. Serangan yang terus mendatangi mereka itu, muncul begitu saja dari ruang kosong … "
Colyn masih tidak mengerti dengan apa yang Lucia katakan, tapi ia sadar kalau situasinya sangat serius sehingga semua orang mengubah ekspresi mereka.
Tidak ada sesuatu yang salah di pengelihatan Lucia. Kemampuannya masih bekerja dengan baik seperti biasa. Namun, entah mengapa ia sama sekali tidak dapat melihat sosok yang melancarkan serangan itu.
Wujud fisik, jiwa, koneksi serangan, sihir, aura yang dipancarkan, hawa keberadaan, atau bahkan konsep akar muasal. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan yang dapat ditemukan pada entitas normal.
Artinya, apa yang mereka lawan saat ini adalah sesuatu yang lain.
Lucia tiba-tiba teringat dengan apa yang dikatakan Olpus sebelumnya.
Di dunia ini, ada sosok yang melampaui akal sehat manusia, namun memiliki derajat yang lebih rendah dari dewa.
Keberadaan mereka abstrak dan mustahil untuk dimengerti bahkan oleh mata dewa.
"Aku benar-benar tidak mengerti ini … "
Lucia menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah menolak kenyataan yang baru saja ia lihat.
Noelle secara alami sadar kalau ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Dia menatap Lucia dengan wajah tanpa ekspresi, dan berbicara dengan nada dinginnya, "Jelaskan semua yang kau tahu."
Meskipun penampilannya tidak berbeda dengan remaja kebanyakan, niat membunuh yang terpancar darinya itu bahkan membuat Damian, yang sejatinya adalah seorang anggota militer berpengalaman, merasakan sedikit gemetar.
Menahan niat membunuh itu bukanlah masalah untuk Lucia, tapi ia tetap harus menjelaskannya pada Noelle demi keberhasilan misi mereka.
Dengan begitu, Lucia akhirnya menjelaskan semua yang ada di pikirannya.
Baik Asher, Damian, terutama Chloe tidak begitu mengerti dengan apa yang ia katakan. Tapi, Noelle memahami itu dengan baik.
Dahinya berkerut, dan kedua ujung alisnya saling bertemu, membuatnya menampilkan ekspresi kecemasan yang sangat jelas.
Jika apa yang Lucia katakan itu memang benar, maka itu akan menjadi situasi yang berbahaya. Setidaknya, itulah yang Noelle pikirkan.
Setelah mendengar semuanya, Noelle membuat kesimpulan kalau lawan yang sedang dihadapi Arnaz, Ethan, dan Tania dengan susah payah saat ini adalah sesuatu yang abstrak dan paradoks.
Sosok itu eksis, dan di saat yang sama juga tidak. Dia ada, tapi juga tidak. Semua tindakan yang dia ambil menjadi sesuatu yang nyata, tapi di saat yang sama juga tidak.
Itu benar-benar sesuatu yang sangat sulit dimengerti. Secara singkat, Noelle menggambarkannya sebagai 'kehendak alam'.
Musuh yang Asterisk hadapi, adalah sosok paradoks yang tidak mungkin dapat mereka mengerti. Sosok fisiologis non-eksistensi.
Saat Noelle sedang sibuk berpikir sendiri, beberapa bebatuan besar lainnya tiba-tiba muncul dan hampir menimpanya dirinya. Namun, bebatuan itu dengan mudah langsung terbagi menjadi beberapa bagian dengan kedua pedang di tangan Damian.
"Apa yang kau lakukan? Ini bukan waktunya untuk melamun. Kita harus membantu mereka, dan pergi secepatnya."
" … Kau benar."
Noelle mengangguk, menyudahi topik yang ia pikirkan di kepalanya.
Namun, saat mereka semua baru akan bertindak, kilatan cahaya tiba-tiba muncul di langit, menampilkan sesuatu seperti komet putih yang indah di langit malam.
Noelle dan yang lain terdiam sambil menatap 'komet' itu.
'Komet' itu bersinar dengan sangat terang, sehingga membuat pemandangan di sekeliling mereka terlihat seperti saat siang hari.
Beberapa saat setelah 'komet' itu melintas, kilatan yang mirip peluru cahaya lain tiba-tiba muncul dan mengikuti 'komet' itu dari belakang.
Detik kemudian, barulah mereka menyadari kalau itu sebenarnya bukanlah komet.
...****************...