![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Ini imbalanmu~"
Beberapa jam telah berlalu sejak Noelle kembali bekerja sebagai pelayan untuk melayani tamu.
Selama itu juga, Olivia dan Charlotte tanpa henti menghujani Mioku dengan berbagai macam serangan.
Namun, Mioku dengan senang hati menerima semua serangan itu dengan tubuhnya dan bahkan melindungi ruangan dari kerusakan dengan menggunakan sihir.
"Ahh, terimakasih~ Dengan begini, semua bahan yang kuperlukan sudah terkumpul~"
Mioku memberikan kantung kain yang terlihat sangat berat pada Noelle, dan dia dengan riang menerima apa yang diberikan Mioku padanya.
Saat Noelle mengintip ke dalam kantung itu, ia tidak bisa menahan bibirnya untuk membentuk senyum senang.
Kantung itu berisi bongkahan batu kristal yang bersinar terang dengan berbagai warna. Noelle mengambil salah satu batu dan melihatnya dari dekat untuk memeriksanya.
"Mhmm, ini bagus! Walaupun sebenarnya aku belum pernah melihat jenis mineral yang seperti ini sebelumnya, tapi aku yakin ini cukup berkualitas."
"Tentu saja~ Aku mengumpulkan itu semua sewaktu aku masih menjadi petualang, tapi sekarang aku tidak membutuhkannya lagi, jadi Noelle-chan bisa mengambil semuanya~"
Mioku mengatakan itu sambil tersenyum pada Noelle.
"Benarkah? Terimakasih."
Melebarkan matanya sejenak karena terkejut, Noelle kemudian dengan senyum cerah berterimakasih pada Mioku.
Mioku dengan senyum ramah kemudian mengalihkan pandangannya dan menunjuk tepat ke arah sudut ruangan.
"Tapi … Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tentang mereka … "
Di sudut ruangan yang Mioku tunjuk itu terdapat dua orang gadis yang sedang duduk memeluk lutut mereka dengan mata kosong.
Itu adalah Olivia dan Charlotte yang terlihat tanpa harapan sedang meratapi kekalahan mereka melawan Mioku.
Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Mioku akan menerima semua serangan mereka dengan senang hati dan sama sekali tidak terluka.
Di sebelah mereka adalah Chloe yang sedang terbaring tak bernyawa di atas tubuh berbulu Brackas.
Noelle yang melihat tiga sosok yang ia kenal dalam keadaan seperti itu hanya mampu tersenyum canggung dan kemudian berbicara pada Mioku.
" … Aku yakin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian, tapi … Tolong maafkan kekasaran mereka … "
Mioku tersenyum lembut dan menatap mereka dari kejauhan.
"Aku tidak keberatan, wajar saja mereka akan bereaksi seperti itu. Selain itu … Mereka sudah memberiku rangsangan yang sangat hebat♡"
"A-ahaha … "
Menghadapi Mioku yang mulai tersenyum ekstasi, Noelle hanya mampu dengan canggung memaksakan tawanya.
"Kalau begitu, kami pergi dulu."
"Baik~ Hati-hati di jalan~"
Tubuh Noelle mulai diselimuti asap hitam, dan penampilannya menjadi seperti semula.
(Sudah kuduga, wujud laki-laki adalah yang paling nyaman.)
Noelle berjalan menghampiri tempat di mana Olivia dan Charlotte yang sedang terpuruk berada.
Dia tanpa kata langsung menggendong Olivia dengan gendongan putri, lalu menaikkan Charlotte ke punggungnya.
"Ayo pergi, Brackas."
"Tu-tunggu, aku bisa berjalan sendiri! "
Charlotte yang mulai sadar langsung memukul bahu Noelle dengan tangan yang hampir tidak memiliki tenaga, lalu dengan paksa mencoba untuk turun sambil memalingkan wajahnya yang menjadi sedikit memerah.
"Kalau begitu ayo pergi. Sampai jumpa lagi nanti, Mioku."
"Okee~"
Mioku melambaikan tangannya dan tersenyum saat melihat punggung Noelle semakin jauh.
" … Aku akan menunggu sampai kamu membutuhkan bantuanku lagi~ Lagipula berkatmu tempat ini jadi ramai … "
Keheningan total menenggelamkan suara terakhir Mioku yang tersenyum sedih.
...****************...
Sesampainya di area depan penginapan, Noelle menurunkan Olivia yang sejak tadi ia gendong dan mengelus rambut Brackas yang sedang membawa Chloe di punggungnya.
Brackas dengan senang hati menutup mata dan menerima elusan Noelle.
"Kalau begitu, kalian masuk duluan. Aku masih memiliki beberapa hal yang harus kuurus secara langsung."
Kata-kata yang tiba-tiba Noelle ucapkan itu membuat Charlotte mengerutkan dahinya dan menatap Noelle dengan pandangan curiga.
"Lagi? "
Tidak hanya Charlotte, tapi Olivia juga menatapnya dengan mata menyipit.
Reaksi mereka tidaklah aneh, lagipula Noelle terlalu sering pergi ke luar belakangan ini, dan ia juga pergi ke luar dalam waktu yang cukup lama, jadi wajar jika mereka merasa jengkel dengan tingkah Noelle.
"Tenang saja, kali ini tidak akan lama," ucap Noelle sambil tersenyum dan berbalik pergi.
Olivia dan Charlotte yang melihat dari belakangnya hanya bisa menatapnya dengan pandangan yang tidak senang, sementara para pelanggan dan warga sipil yang berada di sekitar mereka menatap mereka dengan pandangan ketakutan karena keberadaan Brackas.
Hanya butuh beberapa waktu sampai para penjaga datang menghampiri mereka.
...****************...
Setelah meninggalkan penginapan sendirian, Noelle tengah menyeret kakinya menyusuri jalan dan jembatan yang kini telah akrab di ingatannya.
Meskipun ia baru beberapa hari di Eisen, otak dan tubuhnya sudah mengingat semua arah menuju tempat-tempat penting sehingga Noelle bisa berjalan dalam keadaan setengah sadar menuju tempat itu.
Kini ia sedang berjalan melewati kerumunan massa menuju bengkel Glantz yang letaknya telah ia ingat dengan sangat jelas.
Tentu saja, ia pergi sambil tanpa henti menggerakkan tangannya untuk 'merebut' dompet dari para perampok yang kebetulan ia lihat.
(Tempat ini memiliki terlalu banyak perampok … )
Noelle menghela napas pasrah dan menyebrangi jembatan penghubung terakhir yang menghubungkan antara pulau distrik utama dengan pulau distrik industri.
"Nah, ayo masuk."
Noelle tersenyum sambil menatap gedung bengkel tempat Glantz bekerja.
"Selamat datang kembali, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu untuk kali ini? "
Saat Noelle melewati gerbang, seorang pria dengan ramah menyambutnya sambil membungkuk.
Itu adalah Kuzto, orang yang diangkat menjadi manager pabrik besi yang dimiliki Glantz.
"Ahh, aku kemari untuk menemui Glantz. Apa dia ada di dalam? "
Noelle sambil mempertahankan senyumnya mencoba bertanya pada Kuzto, dan Kuzto tersenyum menanggapi Noelle.
"Jika itu Tuan Glantz, dia ada di dalam sedang mengerjakan beberapa pekerjaan."
"Begitu ya, apa dia sibuk? "
Hari sudah mulai malam, dan langit telah diwarnai oranye sepenuhnya, seharusnya jam kerja para pekerja di pabrik akan selesai tidak lama lagi, tapi tampaknya Glantz masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan.
Jika begitu, Noelle mungkin akan pergi atau menunggu di sana untuk beberapa saat, tapi Kuzto segera tersenyum dan menghilangkan kekhawatirannya.
"Tidak masalah, Tuan memang memiliki beberapa pekerjaan, tapi ia tidak begitu sibuk. Anda bisa mengunjunginya kapan saja."
"Benarkah? Apa dia tidak akan terganggu dengan kedatanganku? "
Noelle dengan raut wajah khawatir menanyakan pertanyaan yang akan membuat Cryll secara refleks berteriak 'sejak kapan kau peduli dengan itu' lalu memukulnya.
Untungnya Cryll tidak ada di sana sekarang, jadi ia bisa bebas dari pukulan yang cukup menyebalkan.
"Sudah saya bilang untuk tidak perlu khawatir tentang itu, Anda bisa mengunjungi Tuan kapan saja."
" … Baiklah kalau begitu."
Usai mengatakan itu, Noelle kemudian membungkuk dan berterimakasih pada Kuzto, kemudian pergi masuk ke dalam bengkel.
Di tengah perjalanannya menuju ruangan Glantz, Noelle menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi kebingungan sambil menyipitkan matanya.
" ……… Sudah kuduga itu aneh … "
Meninggalkan kata-kata itu, Noelle membuka pintu dan memasuki ruangan Glantz.
"Hmm? Yo, kau datang."
Begitu Noelle memasuki ruangan, suara berat seorang pria memanggilnya dari sudut lain ruangan.
Noelle menolehkan kepalanya dan melihat sosok Glantz yang memegang palu besi di tangannya.
"Mhmm, aku datang untuk memberikan bahan terakhir yang kau butuhkan itu," ucap Noelle sambil mengeluarkan kantung kain berukuran besar yang ia terima dari Mioku sebelumnya.
Noelle melempar karung itu, dan Glantz dengan mudah menangkapnya dengan satu tangan sedangkan tangannya yang lain memegang capit besi panjang yang berwarna kemerahan karena panas di ujungnya.
Glantz melihat isi karung itu dan melebarkan matanya.
"Ini kualitas yang sangat bagus, dari mana kau mendapatkannya? "
"Aku mendapatkan itu dari Mioku," jawab Noelle.
Glantz yang mendengar nama itu seketika melebarkan matanya dan membuat gerakan berpikir.
"Mioku … Mioku yang mantan petualang peringkat-A itu? "
"Ya, yang itu."
Noelle dengan senyum mengangguk pada Glantz.
"Aku terkejut dia mau memberikannya … Dia memang pria yang sangat baik, tapi dia juga sangat sensitif dan memiliki harga diri yang sangat tinggi sebagai petualang peringkat atas … Bagaimana kau membujuknya? "
"Nah, kau tidak perlu tahu tentang itu."
Noelle dengan senyum canggung menjawab Glantz.
"Aku ingat kalau Mioku membuka sebuah kafe di distrik utama … Dan tempat itu menjadi sangat ramai hari ini … "
"Sudah kubilang kalau kau tidak perlu tahu, 'kan? "
Noelle tersenyum lebar dan menyipitkan matanya saat mengatakan itu. Tekanan yang tak terlukiskan keluar dari tubuh remaja itu dan membuat Glantz terkejut sejenak.
Meskipun begitu, sebagai seorang veteran, menghadapi tekanan yang dikeluarkan Noelle bukanlah masalah untuknya.
"Daripada itu, apa kau bisa menyelesaikannya dengan cepat? Bagaimanapun, aku membuat permintaan ini dengan cukup mendadak, 'kan? "
"Tentang itu seharusnya tidak masalah. Aku hanya perlu memecahkan semua kristal sihir ini dan memadukannya dengan senjata yang kau inginkan menggunakan alkimia agar fungsinya menjadi semakin stabil. Jika tidak ada masalah, seharusnya bisa selesai besok pagi sebelum kau dan kelompokmu pergi menyelesaikan misi."
Glantz berbicara sambil memejamkan matanya untuk membuat perkiraan.
Tidak ada masalah dengan kualitas bahan berupa kristal sihir yang Noelle berikan padanya. Jadi ia bisa menyelesaikan permintaan itu dengan cepat.
"Begitu, ya … Baguslah, kau bekerja dengan cepat. Seperti yang diharapkan dari anjingku."
Bibir Noelle membentuk senyum dan matanya menyipit saat memanggil Glantz sebagai 'anjingnya'.
Sebagai catatan, Glantz masih dalam pengaruh cuci otak Noelle, dan tampaknya, Glantz juga sudah benar-benar tenggelam ke dalam efek hipnotis dan cuci otak yang diberikan Noelle padanya.
Dia masih bersikap normal pada Noelle karena perintah yang Noelle berikan padanya saat terakhir kali mereka bertemu.
Saat itu, Noelle tak henti hentinya merapal mantra hipnosis dan menanamkan pikiran pada alam bawah sadar Glantz kalau Noelle adalah tuan yang harus ia patuhi.
Saat itu juga Noelle meminta Glantz untuk dibuatkan suatu senjata yang akan Noelle gunakan untuk penyerbuan.
Namun, untuk membuat senjata itu, dibutuhkan bahan lain berupa kristal sihir.
Itu adalah bahan yang tidak Noelle ketahui. Jangankan memiliki bahannya, ia bahkan sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kristal itu.
Ini hanya perkiraannya, tapi ia berasumsi kalau kristal sihir adalah mineral yang baru ditemukan beberapa dekade setelah kekalahan pihak raja iblis.
Karena itulah tidak ada informasi tentang kristal sihir di gudang buku milik Noelle.
Jangankan memilikinya, mengetahui tentangnya saja tidak. Saat itu Noelle hanya mampu tersenyum masam karena ia harus menemukan sebuah bahan yang tidak pernah ia ketahui.
Untungnya, Glantz berkata kalau itu bukanlah barang yang langka. Kristal sihir dapat ditemukan di semua tambang yang memiliki kedalaman sekitar lebih dari 400 meter sehingga itu cukup banyak beredar di pasaran.
Hanya saja, untuk menemukan kualitas terbaik, ia harus berusaha lebih keras dalam proses penambangan karena kristal sihir yang memiliki kualitas yang lebih baik hanya dapat ditemukan di kedalaman lebih dari 1300 meter sehingga itu sulit ditemukan.
Terbatasnya oksigen dan tekanan di bawah tanah merupakan halangan terbesar untuk para penambang menemukan kristal sihir yang berkualitas baik.
Untungnya Noelle sempat membuat permintaan pada guild untuk menemukan kristal sihir yang memiliki kualitas baik yang pada akhirnya akan mempertemukannya dengan Mioku.
Menurut pengakuannya, Mioku mendapatkan semua kristal sihir berkualitas tinggi itu dari misi yang pernah ia lakukan saat ia masih menjadi petualang dulu.
Bahkan setelah memberikan beberapa dari itu pada Noelle, ia masih memiliki beberapa karung penuh dengan kristal sihir itu.
"Yahh, aku datang hanya untuk memberikan bahan ini, jadi aku akan pergi sekarang. Selesaikan pekerjaanmu secepatnya, okay~"
Noelle dengan riang berbalik meninggalkan Glantz yang sedang fokus mengecek detail kualitas kristal sihir yang ia berikan.
Saat ia keluar dari ruangan Glantz, ia dibuat cukup terkejut dengan kondisi bengkel yang tiba-tiba menjadi sepi.
Berdasarkan ingatannya, seharusnya para pekerja di bengkel tidak akan pulang sampai malam tiba.
" … Apa semua orang pulang lebih awal hari ini? "
Noelle bertanya-tanya, namun memutuskan untuk mengabaikannya dan segera pergi meninggalkan gerbang.
Langit sudah cukup gelap dan bunyi lonceng yang berasal dari pusat kota bergema ke semua tempat, menandakan berakhirnya aktivitas masyarakat.
Noelle berjalan menyusuri jalanan kota yang mulai sepi dari penduduk, dan menemukan sebuah kios kecil yang akan membereskan barang-barangnya.
Itu hanya kios biasa, tapi yang membuat Noelle tertarik adalah apa yang mereka jual, jadi ia mencoba berbicara pada mereka.
"Hey, apa yang kalian jual? "
Pemilik kios itu terlihat kebingungan sejenak, namun segera mengeluarkan senyum ramah pada Noelle.
"Itu … Kami menjual tiket lotre. Hari pengundiannya akan dimulai tiga hari lagi, tapi hari ini akan menjadi hari terakhir penjualan tiketnya. Apa Anda mau membeli beberapa untuk mencoba keberuntungan? "
(Lotre, ya … Aku tidak terlalu tertarik sih … )
Dibandingkan dengan melakukan undian yang tidak jelas seperti lotre, Noelle lebih suka bermain judi karena ia harus mengerahkan semua pikirannya untuk memenangkan keuntungan.
Menggunakan semua cara curang dan licik yang ia bisa lakukan adalah hal yang cukup menyenangkan baginya.
Jika dibandingkan dengan lotre yang hanya 'membeli kartu atau karcis bernomor lalu diundi', Noelle sudah pasti akan langsung memilih bermain judi.
Tapi tetap saja, ia tertarik untuk mencoba lotre setidaknya sekali.
Karena itu–
"Baiklah, aku beli satu," ucap Noelle sambil menyerahkan beberapa koin berwarna cokelat pada pemilik kios.
Pemilik kios itu dengan senang hati menerima uang dari Noelle, dan menyerahkan Noelle sebuah kertas seperti tiket karcis yang bertuliskan angka 789.
"Angka yang bagus, aku suka ini."
Noelle tersenyum dan memasukkan tiket karcis itu ke dalam sakunya.
"Hehe, terimakasih dan semoga beruntung, Tuan."
Pemilik kios tersenyum dan melambaikan tangannya pada Noelle sambil mengucapkan selamat tinggal.
...****************...
(AN: Ini mungkin terlambat, tapi … Selamat hari Valentine, semoga hari kalian baik~)