![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Noir mungkin tidak akan menjawab pertanyaan itu lagi. Karena itulah, Noelle memilih untuk mengubah pertanyaannya.
"Otoritas-otoritas Chronoa … Apa kau bisa menjelaskannya sedikit? "
『Ohh, apa kau penasaran?』
Suara yang muncul itu terasa seperti menggodanya, tapi Noelle tidak peduli. Dia hanya mendengus sambil melirik pada tikus kecil yang seolah-olah sedang tersenyum licik.
"Begitulah. Itu mungkin bisa membantuku nanti."
Noelle sudah terlibat terlalu dalam, dan dia sadar kalau tidak ada gunanya mengkhawatirkan banyak hal.
Dia juga sering kali terlibat dalam situasi yang aneh, sehingga rasanya sudah tidak mengejutkan lagi jika dia jatuh dalam situasi yang sama.
『Hehe, aku tidak akan menjelaskannya secara rinci, karena itu juga bisa berakibat buruk padamu. Intinya, semua otoritas yang dimiliki Chronoa mewakili kekuatan yang 'Dia' miliki; Penciptaan, Imajinasi, Kekuasaan, Kebangkitan, Pemulihan, Kehidupan, dan Kematian.』
"Aku mengerti … "
Sedikit rumit, dan mendengarnya langsung membuatnya terasa sangat tidak nyata. Tapi apa boleh buat, Noelle tidak memiliki pilihan lain selain menerima hal-hal yang tak masuk akal itu.
"Aku sudah mendengar sedikit tentang para dewa dari Anastasia, tapi … benar-benar mengejutkan saat mendengarnya lebih detail lagi."
Noelle ingat dengan malam saat Anastasia tiba-tiba menyela percakapan, dan membuat topiknya berubah drastis menjadi pembahasan tentang para dewa.
Merasa sudah cukup untuk semua informasi itu, Noelle berniat berhenti bertanya, tapi—
『Hehe, informasi yang kau dapat dari wanita itu benar-benar sudah terpelintir. Tidak satu pun darinya benar.』
Kali ini Noelle mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu? "
『Satu hal yang harus kau ingat. Jangan mempercayai Anastasia.』
" … Beri aku alasan agar bisa meyakini peringatan itu."
Noelle memang sudah tidak begitu mempercayai Anastasia. Tapi, jika Noir sudah berkata seperti itu, maka itu pasti serius.
Noelle tidak bisa membayangkan Noir akan bercanda saat memberikan peringatan.
『Ada banyak alasan, dan aku akan memberitahumu. Yang pertama, semua pengetahuan yang Anastasia berikan padamu itu menyesatkan. Semua salah. Dewa tidak dilahirkan dengan cara yang sesederhana itu.』
Memang, jika Noelle memikirkannya lagi, cara kelahiran seorang dewa begitu ambigu, dan terkesan mudah. Asalkan ada konsep yang menyusunnya, dewa sudah pasti akan terlahir.
『Bagian itu tidak begitu salah. Dewa memang dibentuk dari konsep, dan konsep itu adalah nama kehormatan mereka. Tapi, tidak semua konsep akan melahirkan dewa. Kau bisa bayangkan betapa banyaknya dewa yang terlahir jika semua konsep bisa membentuk eksistensi itu.』
Kata konsep sendiri memiliki makna 'pendiri', jadi apa yang Noir katakan tidaklah salah.
Segala sesuatu di dunia ini memiliki konsep, bahkan hal-hal yang sederhana seperti tanaman ataupun serangga. Jika setiap konsep mampu melahirkan eksistensi yang disebut dewa, maka seluruh dunia ini akan penuh dengan keberadaan 'mereka' sendiri.
Sekarang Noelle memikirkannya; itu konyol.
Anastasia saat itu menjelaskan kalau konsep yang menyusunnya adalah 'cinta dan harapan umat manusia'. Tapi, hal itu sudah ada sejak zaman di mana dragonoid hidu. Seharusnya Anastasia sudah lama terlahir karena itu.
Noelle secara alami bangun dari posisi berbaringnya, dan mulai berpikir keras.
Setelah mendengar penjelasan Noir, kepercayaan Noelle terhadap Anastasia sudah menghilang. Dia tidak tahu kenapa selama ini dia tidak merasa heran dengan penjelasannya, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang bekerja di balik layar.
Benar, ini seperti ada sesuatu yang mengendalikan pikirannya untuk mempercayai setiap penjelasan yang Anastasia berikan.
『Hehe, kau baru menyadarinya? Sekarang cobalah untuk melepaskan sedikit penjagaanmu. Aku akan mencoba untuk mengubah beberapa hal.』
"Apa yang akan kau lakukan? " tanya Noelle dengan curiga.
Dia mungkin sudah tidak percaya pada Anastasia, tapi dia masih belum benar-benar percaya pada Noir. Tepatnya, dia tidak akan bisa mempercayainya.
『Hanya melakukan hal-hal kecil. Tenanglah, kau akan tetap tersadar.』
Sebelum Noelle sempat mengatakan apa pun, sesuatu seperti telah dibakar hangus dari dirinya. Itu tidak menyakitkan, tapi rasanya begitu aneh, sehingga Noelle merasa ada yang janggal.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? "
『Sederhana saja. Aku menghapus ingatanmu tentang semua penjelasan yang Anastasia berikan. Aku juga menghapus ingatan tentang wujud malaikat yang pernah kau lihat dulu.』
(Ahh, ya … Aku dulu pernah melihat malaikat … )
Noelle mencoba mengingat wujud atau nama malaikat itu, tapi dia tidak bisa menemukan apa pun yang sesuai dengan yang ia cari. Ingatan mengenai malaikat itu sudah benar-benar menghilang.
Selain itu, semua informasi yang Anastasia berikan padanya saat masih di kota Suiren juga menghilang.
Dia ingat kalau Anastasia pernah muncul di tengah percakapannya dengan Charlotte, tapi sekarang dia sudah tidak ingat apa pun yang Anastasia jelaskan.
『Ahh, aku seharusnya tidak menghapus ingatan tentang senjata bintang. Itu cukup penting.』
"Kau sialan."
...****************...
Noelle kembali berbaring dan menghela napas.
"Ngomong-ngomong, kau sudah memeriksa ingatanku, 'kan? "
Tidak mungkin dia belum. Lagi pula, untuk menghapus ingatan yang spesifik tentang hal-hal yang Anastasia jelaskan, Noir pasti harus memeriksa semua ingatannya satu per satu.
『Begitulah.』
Setelah mendengar jawaban yang ia inginkan, Noelle mengangguk singkat.
"Kalau begitu, kau pasti tahu tentang hal yang sudah mengganggu pikiranku selama ini."
『Hehe, tentang pengulangan waktu, ya? 』
"Benar."
Noelle bersyukur karena Noir benar-benar langsung ke inti, dan tidak banyak berbasa-basi dalam topik ini.
"Yang ingin kutanyakan adalah, apakah itu semua nyata? Apa semuanya benar-benar seperti yang kupikirkan? "
Dari semua hal, yang paling menyebalkan adalah pengulangan waktu yang kerap Noelle alami ini. Dia nyaris tidak mengetahui apa pun, dan semua hal terus berjalan di sekitarnya meski dia sendiri tidak tahu situasinya.
Pada akhirnya, Noelle hanya bisa menebak-nebak.
Tokoh kunci dalam hal ini pastinya Charlotte, Levina, Nix Regina, dan kemungkinan Chloe.
Mereka adalah orang-orang yang menurut Noelle ada kaitannya dengan pengulangan waktu. Terutama Charlotte, Nix Regina, dan Levina. Mereka bertiga hampir pasti memiliki kaitan langsung dengan itu.
Noelle menghela napas dan mengeluarkan sebuah topeng hitam dari gudang spasialnya. Topeng itu masih sama seperti saat terakhir kali Noelle melihatnya. Tidak ada tanda kerusakan, meski nyaris meledak saat Noelle mencoba melakukan eksperimen kecil padanya.
Kali ini, Noelle berniat melakukan percobaan yang sama.
Otoritas 'Dominasi' yang dia miliki seharusnya sudah menjadi lebih kuat dari terakhir kali. Itu disebabkan kontraknya dengan Noir, yang membuat pengendalian Noelle atas otoritas itu menjadi lebih baik.
Noelle mencoba untuk 'mendominasi' topeng itu sekali lagi, tapi hasilnya masih sama. Ada sesuatu yang melindungi topeng itu, meski rasanya tidak sekuat sebelumnya.
Saat ini, dia tidak memiliki banyak petunjuk. Mungkin, topeng ini adalah satu-satunya.
"Tidak, tunggu … rasanya aku melupakan sesuatu … "
Bergumam dengan tidak nyaman, Noelle kemudian mencoba menggali ingatannya sendiri, dan akhirnya—
"Ahh, itu benar. Masih ada orang bernama Harold itu."
Memalukan mengakuinya, tapi Noelle benar-benar sudah lupa dengan orang itu.
Bisa dibilang, pria bernama Harold adalah petunjuk terbaik untuk situasi ini, karena kemungkinan besar, dia pernah berinteraksi langsung dengan orang yang dicurigai sebagai Charlotte dari garis waktu yang lain.
"Kurasa aku akan memanggilnya nanti … "
Tidak seperti yang dia lakukan pada Olivia dan Chloe, Noelle sama sekali belum memutus koneksi dengan Harold. Yang artinya, pria itu bisa dipanggil kapan saja ke tempat ini.
『Hehe, kurasa aku tidak perlu menjawabnya. Semua sesuai dengan yang kau pikirkan.』
Konfirmasi langsung dari Noir membuat Noelle entah bagaimana menghela napas lega. Meskipun dia seharusnya tidak melakukan itu.
Dari apa yang ia pikirkan, garis waktu sebelumnya, di mana ada keberadaan para Archon seperti Levina dan Nix Regina, adalah garis waktu yang benar-benar kacau. Terlebih lagi, dirinya sendiri sepertinya memiliki banyak keterlibatan dalam hal itu.
"Aku tidak ingin memikirkan jawabannya, tapi … siapa itu Estelle Finnegard? "
Noir pernah menyebutkan nama itu saat kontraknya dengan Noelle baru dibuat.
『Keh-hehe, kau seharusnya tahu jawabannya.』
"Ughh … "
Noelle benar-benar tidak ingin memikirkan jawabannya. Namun, bagaimanapun nama itu berkaitan langsung dengan semua hal besar yang terjadi padanya. Tidak mungkin dia tidak akan terlibat dengan nama itu lagi.
Noelle hanya tidak ingin mengakuinya, bahwa Estelle Finnegard adalah namanya sendiri.
...****************...
Keesokan paginya, setelah menyelesaikan latihan hariannya, Noelle langsung pergi ke area pemakaman.
Meskipun dia cenderung tidak peduli pada orang lain, Tian dan Rita adalah orang baik yang peduli padanya. Noelle tidak bisa begitu saja melupakan semua yang mereka lakukan padanya.
Memang hanya sebentar, tapi Noelle cukup senang telah mengenal mereka berdua.
Meski dingin, Tian adalah pria tua yang perhatian, dan telah banyak membantunya. Dan meski Noelle belum terlalu banyak berbicara dengan Rita, Noelle sudah tahu kalau Rita adalah jenis orang yang berteman dengan orang lain tanpa memandang keuntungan atau kerugian apa pun yang akan ia terima. Itu adalah jenis orang yang paling jarang Noelle temukan.
Bulan Oktober sudah hampir berakhir, dan hari menjadi semakin dingin setiap harinya.
Noelle secara alami memakai pakaian yang lebih tebal, dengan mantel hitam-biru khas gereja dan syal merah melilit lehernya. Dia berjalan dengan tenang menuju salah satu toko yang ada di dekat area pemakaman.
Toko itu menjual bunga, dan harganya cukup murah. Setelah membeli dua ikat bunga berwarna putih yang tidak ia kenal, Noelle berjalan masuk ke area pemakaman, tepatnya ke makam Tian dan Rita.
Tian dan Rita dimakamkan di tempat yang berdekatan, jadi tidak sulit untuk mengunjungi mereka. Lokasi mereka juga tidak begitu jauh dari gerbang masuk.
Hendak menghampiri makam Tian dan Rita, Noelle kemudian sadar kalau ada seseorang yang juga berada di sana, memegang dua ikat bunga yang sama dengan yang Noelle miliki.
"Kukira kau tidak akan berkunjung ke sini," ucap orang itu—Louen.
Louen tersenyum pada Noelle, dan melambaikan tangannya sebagai isyarat untuk memintanya mendekat.
"Aku turut berduka cita untuk mereka."
Tanpa berbasa-basi, Noelle langsung menyampaikan maksudnya sambil menatap pada kedua batu nisan bertuliskan nama Tian dan Rita. Kemudian, dia meletakkan masing-masing satu ikat bunga di setiap makam mereka.
Noelle kembali bangkit, dan menyatukan kedua telapak tangannya. Dia tidak tahu doa apa yang harus diberikan, tapi tidak maslah meski itu hanya kata-kata belasungkawa seperti 'semoga tenang di sana'.
"Felis … kemarin berkunjung."
Setelah menyelesaikan doanya, Noelle menoleh ke samping dan tersenyum tipis saat mendengar berita itu.
Sebelumnya, Felice menolak untuk menghadiri upacara pemakaman Tian dan Rita. Tapi untunglah, dia bisa bertemu mereka setelah mendapat nasihat kecil dari Noelle.
(Meski aku tidak yakin apa itu bisa disebut nasihat.)
"Maaf karena baru berkunjung hari ini. Aku harus menjalani hukuman tahanan rumah kemarin."
"Yahh, aku mengerti itu," balas Louen sambil tertawa kecil.
Dia kemudian menyipitkan matanya sambil memperhatikan nama Rita yang terpajang di batu nisan.
"Aku tidak menyangka kalau dialah yang akan pergi lebih dulu."
Mendengar itu, mau tak mau Noelle menjadi penasaran.
"Sudah berapa lama kalian mengenal? "
Noelle tahu kalau Louen dan Rita telah mengenal dan berteman sejak lama, tapi dia hanya penasaran.
"Bisa dibilang … sejak kami bisa berjalan? Kami berasal dari desa yang sama, dan tidak banyak anak-anak seusia kami di desa, sehingga kami bisa menjadi sangat dekat."
Louen menutup mata saat kenangan membanjiri visi ilusinya.
"Saat itu usiaku masih sebelas tahun, dan Rita hanya dua tahun lebih tua dariku. Tapi aku sudah menganggapnya sebagai kakak," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Kami pergi bermain seperti hari-hari biasanya. Ada sebuah gereja kecil yang sering aku dan Rita kunjungi. Orang-orang di sana sangat baik, dan akan memberi kami hadiah setiap kali kami membantu."
"Aku dan Rita saat itu sedang membantu mereka menghitung persediaan di gudang, tapi saat itulah semuanya berubah."
" … "
Noelle tetap diam, dan dengan sabar menunggu Louen menyelesaikan ceritanya.
Sebagian besar, kisah masa lalu antara Louen dan Rita cukup mengingatkannya pada dirinya sendiri dengan Olivia.
"Gereja sedang mengejar Swallow Life Order, dan kebetulan mereka ada di desa kami. Mereka … menanamkan bahan peledak di setiap penjuru desa, kecuali area kecil di sekitar gereja kami berada saat itu."
"Saat itu aku dan Rita tidak tahu apa pun. Kami masih menghitung persediaan, saat ledakan yang kuat tiba-tiba terjadi."
"Tentu saja, sebagai anak-anak, kami tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari ledakan itu. Kami jatuh pingsan, dan saat kami sadar, desa itu sudah hancur."
Louen menghela napas, sambil tersenyum masam saat ingatan tentang dirinya dan Rita yang menggali reruntuhan bangunan itu muncul di benaknya.
Rita dengan susah payah menggali reruntuhan rumahnya, tapi apa yang dia lihat hanyalah mayat keluarganya yang sudah dalam keadaan mengerikan.
Ledakan itu begitu kuat sampai-sampai gudang tempat keduanya berada saat itu harus menerima dampak, meski tidak ditanami bahan peledak.
"Itu luar biasa, bukan? Kami benar-benar kehilangan segalanya dalam hitungan detik. Aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana mereka tega melibatkan orang-orang yang tidak tahu apa pun tentang situasinya. Mereka benar-benar meledakkan desa kecil yang damai, hanya untuk menghapus jejak keberadaan mereka. Haha, itu gila, 'kan? "
Bukannya Noelle tidak mengerti hal itu. Dia dan Olivia juga mengalami hal yang sama.
Mereka berdua pergi menjelajahi hutan hanya untuk beberapa jam, tapi saat mereka kembali, hanya ada mayat penduduk desa yang tersisa.
Jika dipikir lagi, itu mungkin satu-satunya saat di mana dia hampir menangis.
Noelle tidak begitu paham dengan perasaan orang lain, tapi dia tahu rasanya ditinggalkan maupun harus meninggalkan orang-orang yang mempedulikannya.
"Rita hidup dengan penuh niat untuk membalas dendam pada mereka. Baru kemarin dia bisa memenuhi sedikit dendamnya, tapi kurasa itu datang dengan bayaran yang setimpal."
Louen kemudian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pasrah. Kelihatannya dia sudah tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Selama ini, dia hidup bersama Rita hanya untuk menemaninya dalam perjalanan untuk membalas dendam. Tapi, kini dia kehilangan tujuan itu.
"Yahh, lagi pula aku tidak memiliki banyak waktu tersisa."
Kata-kata itu membuat Noelle ragu.
" … Apa maksudmu? "
"Aku membuat kontrak dengan Dewa Penebusan. Nama kehormatannya adalah 'Dia yang Menuntut Penebusan'. Hehe, dari namanya saja kau sudah tahu, 'kan? "
" ……… "
Noelle bisa membayangkannya sendiri, tapi itu cukup samar. Baru kali ini dia mengetahui keberadaan dewa itu.
"Kontrak ini memberiku sebuah sihir baru, yang dinamakan sihir eksekusi. Sihir ini bisa membuatku mencegah lawan mengalami kematian sampai siksaan diberikan padanya."
Terdengar sangat sesuai dengan namanya. Noelle berpikir kalau sihir itu layak untuk digunakan oleh para algojo untuk mengeksekusi mati tahanan.
"Tapi seperti kontrak lainnya. Harus ada hal yang kuberikan pada'Nya' sebagai ganti kekuatan ini."
Noelle sudah memiliki tebakan tentang apa itu, tapi dia memilih untuk tidak mengatakannya. Dia membiarkan Louen memberitahunya sendiri.
"Kontrak ini terus menerus mengikis jiwaku. Aku sudah membuat kontrak dengan'Nya' selama delapan tahun, dan sudah tidak terhitung berapa tahun yang sudah kukorbankan untuk memiliki kontrak ini sampai sekarang."
"Bahkan, pada detik ini, kontraknya terus mengikis jiwaku. Mungkin, paling lama aku hanya bisa hidup sampai enam bulan lagi."
Itu mengejutkan. Noelle mengira kalau Louen setidaknya akan bertahan lebih lama dari itu. Tapi, enam bulan mungkin masih terlalu lama baginya yang sudah kehilangan tujuan.
Saat ini, meski terlihat hidup, Louen sudah sangat pasrah akan hidupnya. Dia hanya menunggu sampai kematian menghampirinya sendiri.
"Hidupku sudah tidak lama lagi. Karena itulah, Noah, jaga semua orang di bar. Dari segala hal, bar itu adalah satu-satunya yang membuat Rita tersenyum. Aku ingin melindunginya, tapi aku tidak bisa. Karena itu, kurasa aku bisa mempercayakannya padamu."
(Ahh … sudah kuduga … )
Orang-orang di bar ini terlalu baik. Mereka sangat menerima Noelle, meski dia baru saja bergabung dengan mereka. Tidak mungkin Louen akan menyerahkan hal sepenting itu pada orang yang tidak dia percayai.
Mereka sangat baik, dan kebaikan mereka terasa sangat menyakitkan bagi Noelle yang hidup dengan identitas palsu. Menempel pada mereka layaknya parasit, dan akan pergi setelah tidak ada manfaat yang bisa diperoleh.
Ini tidak benar, Louen seharusnya tidak menyerahkan itu padanya. Noelle terus berpikir begitu saat matanya menyipit karena panas.
Masih ada Dexter, dan Kapten. Karena itulah, jangan serahkan itu pada dirinya. Noelle ingin berteriak, tapi dia tidak bisa. Kata-katanya tercekat saat dia melihat Louen yang tersenyum tulus padanya.
"Kau tahu? Pada saat ini, rasanya menyakitkan saat melihat wajah orang-orang di bar. Karena itu, aku berencana pergi. Kembali ke desa tempat aku dan Rita dilahirkan. Aku berencana tinggal di sana sampai kontrak ini mengikis habis hidupku."
" … Aku tidak bisa menjanjikan itu, kau tahu? "
Noelle menjawab sambil mengepalkan tangannya.
Identitasnya sebagai Noah Ashrain sudah memiliki tanda merah di pandangan gereja, jadi mungkin nama itu tidak akan bertahan terlalu lama.
Sebenarnya, Noelle sudah menyelesaikan urusannya di kota ini, dan dia juga sudah sedikit berdamai dengan Noir. Dia berencana pergi, tapi tidak mungkin saat kata-kata itu diucapkan padanya secara tulus begitu.
"Tidak masalah kau ingin menepatinya atau tidak. Menyerahkannya padamu adalah keputusanku sendiri, dan aku tidak akan menyesalinya."
Pada akhirnya, Noelle tidak mengatakan apa pun, dan hanya melihat Louen pergi meninggalkan pemakaman.
Laki-laki itu mungkin tidak akan pernah terlihat lagi di bar.
" … Dia bahkan tidak mengatakan selamat tinggal pada semua orang."
...****************...
Setelah menghabiskan waktunya di pemakaman, Noelle berniat pergi ke bar. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat sosok manusia yang berdiri tak jauh di depannya,
Dia seorang pria, mungkin berusia pertengahan dua puluhan.
Bagian dari dirinya yang menarik perhatian Noelle adalah penampilannya. Sosok pria itu membuatnya melebarkan mata.
Pria itu memiliki rambut perak yang halus, dengan sepasang mata berwarna hitam obsidian yang indah.
...****************...