![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Sabit putih itu berputar di udara dan berhenti tepat di hadapan Olivia yang hampir terkena serangan pemusnah yang dikeluarkan Nix.
Semburan cahaya dan peluru yang sebelumnya mengarah langsung ke Olivia langsung berhenti dan menghilang begitu menyentuh sabit itu.
"Zephiroth?! "
Suara keterkejutan itu datang dari Olivia yang langsung memanfaatkan kesempatan dengan menarik dirinya sendiri ke salah satu duri raksasa yang telah ia tancapkan rantai esnya.
Begitu ia melihat wujud sabit itu, ia mau tak mau langsung mengaitkannya dengan salah satu senjata bintang yang pernah Anastasia jelaskan padanya malam itu.
Ukurannya yang cukup besar dengan warna putih murni dan sedikit corak merah di beberapa bagian, serta kemampuan untuk meniadakan serangan yang diluncurkan Nix, tidak salah lagi, itu adalah sabit pemakan sihir Zephiroth.
"Siapa kau, sialan?! "
Nix berteriak dan memperkuat tembakannya, meskipun begitu, sabit itu tampak tak bergeming dan justru terus berputar di tempat sambil menyerap semua serangan yang ia lepaskan.
"Tch, senjata bintang, ya?! "
Menyadari kalau serangannya sama sekali tidak berguna untuk melawan kemampuan khusus yang dimiliki Zephiroth, Nix segera menghentikan serangannya dan mengembalikan senapan dan sayapnya ke bentuk dan posisi semula.
(Kelihatannya dia memiliki informasi tentang senjata bintang, tapi … Siapa yang melempar sabit itu …? )
Olivia memperhatikan sekelilingnya dengan waspada guna mencari sosok yang menyelamatkannya dari bahaya itu. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sosok itu.
Seorang gadis berambut hitam tiba-tiba muncul dengan membelakangi dirinya dan berdiri di atas sebuah pijakan berwarna hitam pekat yang ia tak tahu terbuat dari apa.
" … Siapa kau? "
Olivia bertanya dengan waspada dan menyiapkan senjatanya untuk berjaga-jaga, tapi gadis itu hanya meliriknya sejenak sebelum akhirnya kembali menatap sosok Nix yang juga tampak terguncang.
"Akan dijelaskan nanti. Untuk saat ini, pergilah. Pauper akan membawamu ke tempat yang lain berada," ucap gadis itu dengan suara tanpa nada.
Gadis itu kemudian melambaikan tangannya sedikit, lalu sabit putih yang masih berputar di udara itu kemudian kembali ke tangannya dengan kecepatan yang nyaris tak dapat dilihat mata.
"Pauper, bawa dia."
Kemudian seorang gadis lain muncul di samping Olivia dan menatap gadis dengan sabit itu dengan mata bosan. Dia memiliki penampilan yang tampak seumuran dengan Olivia dan gadis dengan sabit itu, hanya saja suasana yang ia pancarkan lebih seperti seorang pemalas yang terpaksa melakukan sesuatu yang ia benci.
Posisinya saat ini adalah brrbaring di sebuah bantal besar yang melayang di udara, kakinya berayun ke depan dan belakang setiap kali ia bergumam.
"Kau bisa melakukannya sendirian? Mordred? "
Meskipun Olivia tidak begitu mengerti situasinya, akan lebih baik jika ia bisa mengerti beberapa hal dari mendengar percakapan yang mereka lakukan.
Gadis dengan sabit yang tampaknya memiliki nama Mordred itu menggelengkan kepalanya dengan ragu sebagai tanggapan untuk Pauper.
" … Tidak yakin. Dia … Bukan manusia."
"Dilihat dari mana pun, dia memang bukan manusia, 'kan? Lihat, dia bahkan punya sayap," ucap Pauper sambil menunjuk sayap logam yang ada di punggung Nix.
"Yahh, apa pun itu … Souris hanya meminta kita ke sini untuk meredakan situasi sedikit, jadi jangan memaksakan dirimu. Asterisk tidak boleh kehilangan satu anggota sebelum rencana kita bisa direalisasikan. Kau mengerti apa yang terjadi jika kau mati di sini, 'kan? "
Mordred mengangguk dengan muram dan menyiapkan serangan dengan sabitnya, lalu berbicara pada Pauper, "Aku … Tidak akan mati meskipun aku ingin … "
" ……… "
Pauper tidak mengatakan apa-apa lagi dan menatap Mordred dengan wajah malasnya.
(Yahh, asalkan dia tetap selamat, maka … )
Mengangguk singkat, Pauper kemudian menoleh dan menatap Olivia yang masih bergantungan dengan rantai esnya di duri raksasa itu.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Untuk sekarang, sebaiknya kau ikut aku."
Sebuah rantai yang nyaris tak terlihat kemudian melilit tubuh Olivia dan mengangkatnya ke atas bantal Pauper.
"Aku tidak suka ada orang yang menginjak bantalku, tapi karena ini hanya tindakan sementara, aku akan memaafkanmu."
Mengatakan itu, bantal yang mereka duduki bersama kemudian perlahan menjauhi Mordred dan turun mendekati tanah.
" … Siapa kalian berdua? "
Olivia bertanya untuk memastikan beberapa hal. Meskipun ia sudah mendengar percakapan mereka berdua sebelumnya dengan sangat baik, ia masih tak dapat memahami apa yang mereka maksud.
Pauper terlihat tak menggerakkan ekspresinya dan menjawab Olivia sambil berbaring dan mengayunkan kedua kakinya secara bergantian.
"Bukankah sudah kubilang kalau aku akan menjelaskannya begitu kita sampai? Aku tidak mau membuang-buang trnagaku hanya untuk menjelaskannya berulang kali. Akan lebih efisien jika kau bisa mendengar jawabannya bersama dengan yang lain.
" ……… "
...****************...
Begitu mereka sampai di tempat di mana semua orang berkumpul, Pauper segera menurunkan Olivia dan melepaskan lilitan rantai yang mengekangnya.
Melihat Olivia yang akhirnya datang, Stella dan Chloe dengan cepat berlari ke arahnya dengan wajah cemas.
"Livia! A-apa kau baik-baik saja? Kau tidak memiliki luka berat, 'kan?! "
"Aku baik-baik saja. Aku berhasil melarikan diri sebelum serangannya mencapaiku … Walaupun sebenarnya dia yang menolongku."
Olivia menunjuk sosok Mordred—yang sebenarnya adalah Tania—yang sedang bertarung dengan Nix di udara.
Mordred mengayunkan sabitnya dengan cepat dan menebas ke udara kosong di hadapan Nix, lalu bilah tajam yang terbuat dari hembusan angin itu melaju langsung menuju bagian perut Nix.
Nix menghindari luka dari serangan itu dengan menyilangkan kedua senapannya dan menahan tebasan angin itu.
Begitu serangannya berhasil di tahan oleh Nix, Mordred langsung menghilang dari pandangan semua orang dan muncul kembali tepat di hadapan Nix, memberinya tendangan yang sangat kuat ke perutnya.
" … Siapa dia? "
Suara penuh keraguan dari Stella memecah keheningan dan membuat semua orang memaku perhatian mereka padanya.
"Ahh, benar … Harusnya kami pakai topeng seperti yang Souris katakan … "
Pauper menutupi bibirnya dengan terkejut begitu ia menyadari kesalahan fatal yang baru saja ia dan Mordred lakukan.
"Ughh … Ini akan merepotkan … Aku harap Souris tidak menurunkan bayaran kami untuk ini! "
Mengatakan itu, Pauper segera bangun dari bantalnya dan melihat ke sekeliling. Selain Olivia, ada beberapa orang yang juga telah ia kumpulkan dari semua tempat di kota.
Menyadari hampir semua penduduk sudah selesai mengungsi, ia mengangguk dan berbicara pada semua orang.
"Aku yakin kalian semua bingung dengan apa yang terjadi sekarang ini, tapi … Untuk sekarang kalian harus tenang. Asterisk telah mengirimkan kami berdua—Pauper dan Mordred—untuk menjadi bantuan sementara."
Meskipun ia mengatakan itu untuk menenangkan semua orang, tidak mungkin mereka bisa tenang di saat seperti ini. Wajah kebingungan mereka masih sangat jelas dan membuat Pauper, atau Colyn mau tak mau hanya mampu menghela napas pasrah.
(Sebaiknya aku minta Souris menaikkan bayarannya.)
Ia benar-benar tidak mau melakukan pekerjaan yang merepotkan seperti menyelamatkan penduduk kota, atau tindakan baik hati lainnya kecuali jika ia dibayar.
"Umm … Maaf, tapi … Apa itu Asterisk? "
Stella dengan bingung bertanya pada Colyn tentang hal yang membuat semua orang bertanya-tanya. Semua terjadi begitu saja dalam waktu singkat sehingga kecepatan berpikir dan analisis mereka tak sanggup mengimbangi situasi.
"Ahh, Asterisk adalah ……… "
Ekspresi di wajah Colyn seketika membeku. Ia ingin menjelaskan pada semua orang di sana tentang apa dan siapa itu Asterisk karena usulan yang diberikan Souris, atau Noelle.
Sebelum Colyn dan Tania datang ke Eisen sebagai bala bantuan kecil, Noelle mengusulkan untuk menjadikan ini sebagai debut aksi pertama Asterisk, dan Colyn dengan mudahnya menyetujui itu karena ia menganggap ini keren.
Dan sekarang, hasilnya sudah terlihat jelas. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan paling dasar ini.
Bahkan ia sendiri juga tidak begitu mengerti tentang apa itu Asterisk. Yang ia tahu, ia hanya tiba-tiba datang ke tempat aneh setelah ditelan oleh suatu kabut misterius, lalu dipaksa untuk bekerja sama dengan orang-orang aneh yang tak ia kenal untuk menghentikan kejadian buruk yang akan menimpanya di masa depan.
Terima kasih berkat kristal bernama Pauper itu, ia menjadi lebih tenang dan dapat menerima situasinya dengan lebih mudah, tapi, tetap saja ia masih bingung dengan semua ini.
Bahkan, semua anggota Asterisk sendiri juga saling tidak mengetahui identitas masing-masing. Mereka memutuskan untuk saling memanggil dengan nama kristal yang mereka dapatkan.
Dihadapkan pada tatapan kebingungan dari puluhan orang membuat Colyn kebingungan sehingga ia tak memiliki pilihan lain di kepalanya.
(Kurasa aku hanya bisa bertindak keren sekarang.)
Colyn memaksakan senyum di wajahnya dan berdiri dengan penuh wibawa(lol) di atas bantalnya, lalu menatap semua orang dengan pandangan merendahkan.
(Ehehe … Sudah lama aku tidak melakukan ini … )
Colyn berusaha mati-matian hanya untuk menahan diri dari membentuk senyum konyol di wajahnya, dan sebagai gantinya, ia menampilkan ekspresi yang tegas dan penuh kebanggaan(lol).
"Dengar sini kalian para pecundang! Kami adalah Asterisk! Orang-orang yang akan membimbing dunia ke jalan yang seharusnya! Kami akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan kami! Siapa pun yang berani menentang kami layak untuk mati! "
Teriakannya yang cukup keras itu dapat dengan jelas didengar semua orang yang hadir di sana, dan seketika membuat udara membeku dengan keheningan.
" ……… "
(Apa yang salah? )
Ia benar-benar tidak tahu tentang apa yang menyebabkan semua orang menjadi diam. Tentu ia sadar dengan tatapan dingin dari Olivia, tapi ia memutuskan untuk mengabaikan itu karena Souris—Noelle—meminta dirinya untuk tidak melakukan hal aneh padanya.
Tak butuh waktu lama hingga semua orang sadar dengan apa yang ia katakan. Mereka semua mengeluarkan berbagai ekspresi keheranan di wajah mereka. Beberapa dari mereka menunjukkan wajah kesal sambil mencemooh Colyn dengan sebutan-sebutan kasar, tapi Colyn tidak mempedulikan mereka dan berbalik untuk melihat sosok Nix yang manuver udaranya menjadi semakin cepat.
"Uwaa … Dia benar-benar tidak masuk akal … Tapi … Bagaimana Souris bisa tahu kalau sedang ada masalah di tempat ini … "
Colyn mulai mengingat-ingat tentabg apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Saat itu ia dan Tania masih berada di tempat yang penuh dengan kabut itu, mereka memutuskan untuk menyebutnya markas besar Asterisk.
Colyn yang sedang bebaring di bantalnya sambil memikirkan tentang apa yang terjadi langsung dipanggil oleh Noelle yang sedang menikmati wine yang ia dapatkan entah dari mana.
Saat itu Noelle yang mereka sebut sebagai Souris mengatakan pada Colyn kalau ia merasakan ada masalah di tempat teman-temannya berada, jadi ia meminta Colyn dan Tania untuk pergi ke sana dan memeriksa situasinya, atau bahkan bertarung untuk situasi terburuk.
Tentunya Colyn tidak langsung menerima itu. Jika Noelle benar-benar bisa mendeteksi suatu masalah yang terjadi di sana, ia seharusnya bisa saja menyelesaikan masalah itu sendiri tanpa mengandalkan bantuan anggota Asterisk yang lain.
Sejak awal, mereka masih belum tahu banyak hal tentang Asterisk, Noelle seharusnya tidak mengambil keputusan dengan resiko besar seperti mengirim dua orang tak dikenal untuk menolong teman-temannya.
Meskipun pada akhirnya Colyn dan Tania memutuskan untuk menerima permintaannya setelah tergiur dengan hadiah yang cukup besar.
Noelle berjanji akan memberikan Colyn beberapa grimoire lama yang menjadi salah satu koleksinya, dan memberikan beberapa Manadyte (kristal sihir) dengan kemurnian yang tinggi pada Tania.
Colyn benar-benar bingung dengan bagaimana Noelle dapat dengan mudah menebak apa yang sedang ia dan Tania cari.
Colyn menghela napasnya dengan pasrah saat mengingat itu kembali. Ia melihat ke sosok Tania yang mengerutkan keningnya sambil memberikan tebasan cepat pada Nix di udara.
Nix menembak menggunakan kedua senapan dan sayapnya, tapi itu semua ditahan dengan mudah oleh Tania.
Peluru panas yang dikeluarkan senapannya dengan kecepatan yang mengerikan dengan mudah dihindari dan ditangkid oleh Tania menggunakan sabitnya, dan gelombang energi super dingin yang dikeluarkan sayapnya dengan mudah pula diserap oleh sabit yang bergerak tak terkendali di udara.
Tania melempar sabitnya dan mengarahkannya langsung ke Nix. Sabit itu berputar di udara dan menggores gaun putih Nix, tapi Nix berhasil menghindari luka fisik dengan terbang ke samping.
Menyadari kalau itu sia-sia, Tania langsung menarik kembali sabitnya yang tampaknya terhubung dengan rantai hitam tipis di ujung gagangnya, laku bersiap untuk serangan berikutnya.
"Aku sudah memikirkan ini sebelumnya, tapi … Aku belum pernah melihat senjata seperti itu sebelumnya. Apa kalian mengetahui sesuatu? "
Colyn berbalik dan bertanya pada semua orang di belakangnya. Dan tentu saja, ia langsung mendapatkan sambutan kesal dari semua orang karena deklarasi aneh yang ia ucapkan sebelumnya.
Melihat tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan itu, Olivia memutuskan untuk memberitahu Colyn beberapa hal yang ia ketahui, "Itu salah satu senjata bintang. Sabit pemakan sihir, Zephiroth."
Itu adalah penjelasan yang singkat, tapi Colyn sudah mengerti banyak hal hanya dengan itu.
Jika itu benar-benar sesuai namanya, maka senjata itu praktis menjadi senjata pembunuh penyihir karena kemampuan khususnya yang dapat menyerap semua sihir yang menyentuhnya.
"Aku tidak tahu apa sabit itu juga akan memakan sihir penggunanya atau tidak. Lagi pula aku belum pernah melihatnya secara langsung."
Tambahan penjelasan dari Olivia membuat Colyn mengangguk penuh pengertian, sebelum akhirnya menatap sosok Tania lagi.
Ia baru menyadarinya sekarang, tapi tampaknya Tania tidak memiliki begitu banyak mana di dalam tubuhnya. Colyn mau tak mau langsung berpikir kalau Tania benar-benar tidak terlahir untuk menggunakan sihir.
"Aku terkejut kau tahu banyak," ucap Colyn memuji Olivia.
"Itu karena aku punya sesuatu yang mirip," balas Olivia sambil menepuk rapier yang menggantung di pinggangnya.
Ratusan peluru yang tampak bersinar mengubah langit di atas kota menjadi medan tempur yang sangat nyata. Tania menghindari itu semua dengan mudah dan membalas serangan itu dengan sabitnya sendiri. Meskipun begitu, sejak tadi, tak ada satu pun serangannya yang berhasil melukai Nix.
Begitu pula dengan Nix. Tania entah bagaimana belum menerima satu pun luka darinya sehingga pertarungan tampak imbang sekarang.
Sesekali Tania melempar sabitnya, tapi Nix dengan mudah menghindari atau bahkan menepis sabit itu sehingga mengubah lintasannya ke tempat lain. Sabitnya menancap di salah satu duri es raksasa yang berdiri dengan kuat di tengah kota, tapi, tak butuh waktu lama hingga duri es itu sepenuhnya menghilang tanpa jejak.
"Kemampuan yang menjengkelkan! "
Nix berteriak pada Tania dan mempercepat gerakan menembaknya sehingga peluru yang keluar dari lubang senapan itu tak dapat lagi dilihat bahkan dengan kemampuan pengelihatan yang superior.
Tania mendapatkan beberapa goresan di tubuhnya karena peluru itu, dan membuatnya melompat jauh ke belakang, lalu mendarat di sebuah pijakan hitam yang muncul entah dari mana.
Ia berusaha menganalisis pilihan terbaik yang harus ia buat untuk menyerang Nix, tapi hasilnya nihil.
Tania dengan ekspresi kesal menyiapkan sabitnya dan berniat kembali menyerang, tapi sebuah kristal berwarna biru tua tiba-tiba muncul tepat di sampingnya.
『Mordred, apa kau benar-benar bisa melakukannya? Aku bisa membantumu jika kau mau.』
Suara yang keluar dari kristal itu adalah suara Colyn. Ia yakin itu. Tania tampak bimbang sejenak dengan pilihannya, lalu menjawab, "Kalau begitu, tolong. Aku butuh waktu untuk melakukan serangan berikutnya."
Kemudian, sosok Tania tiba-tiba menghilang dari hadapan Nix, dan muncul di tanah, tepat di samping bantal Colyn yang melayang beberapa puluh sentimeter di atas tanah.
"Tolong alihkan dia untuk beberapa saat," kata Tania.
Sabit putih di tangan Tania lalu bersinar secara samar bersamaan dengan mata Tania yang mulai tertutup. Olivia secara naluri tahu apa yang akan Tania lakukan.
Tania pasti akan menggunakan kemampuan lain yang dimiliki sabit itu, yaitu pelepasan. Selain menyerap, sabit Zephiroth juga memiliki kemampuan untuk mengeluarkan semua sihir yang telah ia serap sebelumnya.
Ia telah menyerap begitu banyak serangan sihir dari Nix, jadi Olivia tidak bisa membayangkan akan sebesar apa dampak yang diberikan sabit itu nanti.
Bantal Colyn perlahan maju membelakangi Tania yang sedang menyiapkan serangannya. Meskipun begitu, Colyn terlihat seolah ia sama sekali tidak memiliki niat menyerang.
Sebagai senjata yang diciptakan untuk membunuh dewa, Nix secara naluri menyadari apa yang Colyn pikirkan.
Nix menciptakan beberapa golem es dan salju berukuran raksasa dan menargetkan Colyn yang tampak masih bersantai di bantalnya.
Olivia dan yang lain secara refleks langsung menyiapkan senjata mereka untuk menghadapi golem itu, tapi Colyn menghentikan mereka dengan tatapannya.
"Ini akan menjadi panggung yang bagus untuk menunjukkan kekuatan Asterisk."
Colyn melambaikan tangannya sedikit, dan semua golem raksasa itu seketika lenyap dari pandangan semua orang.
" ……… Apa yang terjadi? "
Tidak ada satu pun yang merespon pertanyaan Olivia, selain Colyn yang menatap Nix dan melebarkan seringai di wajahnya.
"Kalau begitu, ayo kita mulai lagi."
"《Telan dia》"
...****************...
Sementara itu, di suatu tempat gelap yang tak diketahui siapa pun.
Charlotte sedang duduk di sebuah kursi sambil menatap kosong pada meja kaca di hadapannya.
"Sudah dimulai, ya … Ini sangat menyedihkan, tapi … Aku tak memiliki pilihan lain selain melakukannya."
Senyum samar yang tampak menyedihkan mulai terbentuk di wajahnya.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi secepatnya … Tanpa harus melanjutkan semua kebohongan ini … "
...****************...