![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Setelah adegan itu, proyeksi kembali berlanjut.
Ingatan semua orang yang hadir di sana, satu per satu ditunjukkan, yang kemudian diakhiri dengan adegan aneh yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.
Banyak adegan yang membuat mereka bingung, mulai dari Iris yang dalam diam menyaksikan lautan api di hadapannya, Alan yang berada di sebuah hutan terpencil bersama seorang gadis asing, Werli kecil yang berlarian bersama seorang anak yang tak pernah ia temui, Waka yang memeluk saudarinya—Muku—sambil menangis, dan banyak lagi.
Semua adegan itu tak pernah ada di ingatan mereka, dan mereka juga tak dapat menemukan kesimpulan apa pun karena kurangnya informasi.
Sekarang, setelah ingatan mereka satu per satu diungkapkan, proyeksi itu justru menampilkan adegan lain, sebuah adegan yang tak mereka ketahui dari ingatan siapa itu berasal.
Adegan yang diproyeksikan itu, menampilkan tanah gersang yang tidak diketahui seberapa besar luasnya. Selain bebatuan dan pasir yang kering, ada beberapa hal yang sangat mencolok di sana.
Itu adalah kristal, kristal hitam keunguan yang tumbuh dari bebatuan, menjulang tinggi ke langit.
Di bawah kristal itu, seorang pria terlihat sedang duduk, menatap tanah dengan suasana suram di sekitarnya.
Mereka tidak bisa melihat wajahnya, tapi pria itu memiliki ciri fisik yang cukup membekas. Tubuh yang terlihat tinggi meskipun sedang duduk, rambut pirang kusam yang menyatu dengan debu, dan tangan kiri yang ditumbuhi beberapa kristal hitam kecil.
Menancap di batu tepat di sebelahnya, sebuah pedang panjang, model katana terlihat bersinar dan berkedip sejenak, sebelum akhirnya kehilangan semua kilaunya, menyisakan sebuah pedang biasa yang ditancapkan di batu.
Tak lama kemudian, cairan kental berwarna hitam mulai mengalir dari semua tempat, perlahan bergerak menuju kristal itu.
Beberpa makhluk aneh berukuran kecil bangkit dari cairan itu, mereka semua memiliki kristal hitam keunguan aneh di tubuh mereka. Kristal di tubuh mereka serupa dengan kristal raksasa yang ada di belakang pria itu.
Mereka semua perlahan mendekat, bersama dengan genangan cairan hitam kental yang seolah memiliki kesadarannya sendiri.
"Symptom-Creature, kah … "
Usai menggumamkan sebaris kalimat, pria itu menghela napasnya dan dengan lelah berdiri dari posisinya.
Dia segera menarik pedang yang tertencap di batu di sebelahnya, lalu mengayunkan itu secara horizontal dengan kecepatan yang tak dapat diikuti bahkan oleh Olivia.
Seketika, hembusan angin muncul, seolah efek dari tebasan pedang pria itu telah ditransmisikan pada mereka.
Hembusan angin yang kuat, dan terlalu mendadak sehingga beberpa dari mereka mulai kehilangan keseimbangan dan terjatuh di tempat.
Beberapa 'Symptom-Creature' di sana langsung terbelah, menyisakan cairan hitam aneh yang menggenang di bawah mayat mereka.
Cairan hitam itu kemudian secara perlahan membeku, berubah menjadi kristal hitam yang sesuai dengan genangan sebelumnya.
Setelah memastikan semua 'Symptom-Creature' itu mati, pria itu menghela napas, dan menatap ke langit.
Langit yang suram, ditutupi awan kekuningan dan membawa angin kuning yang penuh dengan debu.
"Kurasa ini waktunya … "
...****************...
Adegan kembali berganti. Kali ini proyeksi itu menampilkan seorang pria muda dengan rambut cokelat yang cerah.
Tubuhnya tidak terlalu terlihat, karena dia memakai jubah hitam yang menutupi sebagian besar bagian tubuhnya.
Tapi, mereka samar-samar saat merasakan emosi kesedihan yang mendalam dari pria itu.
Pria itu dalam keheningan total berjalan, entah ke mana tujuannya, dia hanya pergi ke mana kakinya melangkah.
Proyeksi itu buram sejenak, lalu kembali menampilkan adegan dengn jelas. Kali ini, adegannya sudah berganti.
Sosok pria itu kini terlihat berdiri dengan tidak berdaya saat beberapa pedang dan tombak menusuk, dan menembus tubuhnya.
Dia tersenyum lembut sedikit, dan menatap orang yang menusukkan pedang itu ke tubuhnya.
"***, kau tidak perlu memaafkanku, karena aku juga tidak akan memaafkan diriku sendiri."
Begitu dia mendengarnya, pria dengan pedang dan tombak yang menusuk tubuhnya itu hanya tersenyum simpul. Perlahan, dia menutup matanya, membiarkan darah dengan cepat dikuras habis dari tubuhnya.
" … Siapa mereka? "
Iris tidak bisa memberikan respon apa pun terhadap proyeksi itu, tidak ada reaksi apa pun selain pertanyaan yang mengungkapkan kebingungannya.
Sama seperti sebelumnya, mereka semua tidak bisa melihat wajah kedua orang itu. Bahkan, nama yang seharusnya diucapkan oleh orang yang menusukkan pedang itu pun hanya terdengar seperti dengungan kebisingan di telinga mereka.
Tak diketahui berapa lama pria itu bertahan dengn pedang dan tombak yang menancap di tubuhnya. Tapi, tak lama kemudian, dia akhirnya tumbang.
Dengan kekuatan terakhirnya, dia mengulurkan tangannya ke depan, berusaha menggapai sesuatu. Namun, tangannya hanya dengan lemah terjatuh kembali ke tanah.
Di tengah itu semua, dia bergumam, "Maaf, [***]. Aku tidak bisa menepati janjiku. Aku tidak cukup kuat, tapi aku puas dengan ini. Dengan tidak adanya kita, semua akan kembali … Pada keseimbangan sejati … Saat kau bangkit … Aku harap … Kau bisa melihat semuanya … Menggantikanku … "
Setetes air mata mengalir di wajahnya; dan dengan begitu, dia akhirnya tumbang, tidak menunjukkan tanda-tanda akan kehidupan.
...****************...
Adegan berganti.
Proyeksi itu secara bergantian menampilkan adegan yang entah berasal dari ingatan siapa, Bahkan semua yang hadir masih tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka masih belum menemukan jalan keluar, jadi mereka terpaksa menunggu di sini, menyaksikan adegan proyeksi ingatan yang terus berganti, sampai jalan keluar itu muncul dengan sendirinya.
Olivia duduk di tempat, dan mulai fokus menyaksikan adegan yang diproyeksikan, berharap bisa menemukan petunjuk untuk bisa keluar. Sementara yang lain juga hanya bisa melakukan hal yang sama, karena mereka sendiri sebenarnya tidak punya ide untuk masalah ini.
Adegan proyeksi ingatan kali ini menampilkan sosok seorang pria, yang memiliki rambut hitam dan kulit pucat yang kontras.
Dia berjalan menaiki tangga yang entah akan membawanya ke mana. Satu per satu pintu mulai muncul di ruang kosong, tapi dia hanya mengabaikannya dan terus berjalan, fokus pada tujuannya.
Tak lama kemudian, setelah melewati semua gangguan dari pintu-pintu yang berusaha menariknya, dia akhirnya sampai di ujung.
Apa yang menyambutnya di sana adalah sebuah pintu kayu sederhana, tanpa motif dan pola apa pun.
Pria itu menarik napas sejenak, sebelum akhirnya dengan tangannya sendiri langsung memegang gagang pintu yang dingin, seolah tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun.
Dia perlahan mendorong pintu itu, dan melangkah masuk. Begitu dia melakukannya, suatu perubahan mulai terjadi pada tubuhnya.
Rambutnya dengan cepat memutih, dan pakaiannya segera berubah menjadi sebuah mantel hitam dengan pola garis biru di beberapa titik. Selain itu, dia juga langsung memiliki sebuah syal ungu panjang yang melilit di lehernya.
Pria itu masuk, dan melihat apa yang ada di dalam.
Di sana, ada sekitar 30 meja kayu dengan masing-masing meja juga memiliki 1 kursi. Tidak salah lagi, itu adalah ruang kelas.
Papan tulis kapur dengan perangkat digital yang terpasang di pinggir, podium, meja dan kursi guru, jendela yang memperlihatkan dunia luar. Itu semua adalah pemandangan yang sudah tidak asing bagi Olivia dan yang lain.
Namun, yang paling menangkap perhatian mereka bukanlah benda-benda yang ada di ruang kelas itu. Melainkan seorang gadis dengan wajah yang tidak bisa dilihat, sedang duduk dan melipat bangau kertas menggunakan origami.
Gadis itu memiliki rambut putih yang panjangnya menyentuh lantai, fitur wajah yang cantik, mata heterokrom yang indah, dan kulit pucat yang halus.
Dia mengenakan seragam militer dengan aksen hitam dan merah dan paduan emas di beberapa bagian. Selain itu, di bawah kakinya, ratusan burung bangau kertas dalam berbagai warna yang sudah ia buat sebelumnya dibiarkan berserakan memenuhi lantai.
"Kamu benar-benar datang."
Gadis itu berhenti melipat origami, dan menatap lurus pada pria yang baru saja datang itu. Dia tersenyum simpul, sebuah senyum yang memancarkan kebahagiaan, sekaligus kesedihan.
Ada banyak emosi yang tercampur di tatapan matanya, dan itu membuat semuanya jadi terlihat menyakitkan.
Tatapannya melembut, dan kedua tangannya perlahan dan dengan lembut meraih, lalu mengangkat bangau kertas itu.
"Kebanyakan orang mengatakan kalau bangau kertas memiliki arti kebahagiaan dan umur panjang. Tapi, sebenarnya arti sesungguhnya dari lipatan kertas ini tidak diketahui. Kita menganggapnya seperti itu karena banyak orang juga berpikiran demikian. Hehe, pikiran kita secara otomatis mengikuti pendapat mayoritas, kurasa kita masih harus belajar makna sesungguhnya dari 'memahami orang lain'."
Tersenyum masam sejenak, dia kemudian menutup matanya dan berdiri.
Seketika, pemandangan berubah; dari yang awalnya ruang kelas biasa, menjadi sebuah taman luas berbentuk lingkaran yang melayang di langit. Di pinggiran taman itu, ada deretan salib raksasa yang mengelilingi taman seperti sebuah pagar.
Berbagai jenis bunga, dengan warna yng beragam seketika memenuhi pandangan semua orang. Mereka terkejut sejenak saat melihat itu, tapi segera memulihkan ketenangan ketika menyadari tidak ada sesuatu yang berbahaya.
Gadis itu dikelilingi oleh pusaran bunga berwarna merah, yang kemudian bubar, menunjukkan dirinya yang sepenuhnya berganti penampilan.
Rambut putihnya jadi lebih pendek, sehingga hanya mencapai pinggangnya, dan itu juga diikat dengan model pigtail yang sederhana. Selain itu, matanya juga berubah, dari yang sebelumnya heterokromia, menjadi sepenuhnya emas yang menyilaukan.
Pakaiannya juga ikut berubah. Dari yang sebelumnya seragam militer tanpa banyak hiasan, menjadi sebuah gaun indah dengan beberapa renda dan ekor yang lebar. Meskipun begitu, warna merah masih lebih dominan di penampilannya.
Sejauh ini, pria itu tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam, menyaksikan semua yang dilakukan gadis itu tanpa ada perubahan pada ekspresinya.
Menyadari itu, gadis itu pun tersenyum sedih. "Aku penasaran, sampai kapan semua kebahagiaan ini akan berlangsung? "
"Apakah, suatu saat nanti, kebahagiaan ini akan direnggut dariku? Hei, bagaimana menurutmu? Apakah kita, para bidat pemberontak bisa mendapatkan kembali semua kebahagiaan kita? Apa menurutmu … Kita bisa mengembalikan semuanya seperti semula? "
"Tolong katakan padaku, apa kamu … Benar-benar ingin mengemban semua tanggung jawab itu sendirian? "
Gadis itu berputar, menatap pada pohon besar yang menjadi satu-satunya objek berukuran besar di sana.
Dia memunggungi pria itu, dan melanjutkan kata-katanya. "Sejujurnya, kamu ingin hidup dengan normal, 'kan? "
"Kamu selalu mengatakan kalau kamu membenci semuanya. Tapi, kamu ingin hidup, 'kan? Kamu … Ingin melarikan diri? "
Gadis itu berbalik, dan memberinya senyuman yang dipenuhi dengan emosi kesedihan.
Saat itu juga, adegan yang diproyeksikan itu berhenti, digantikan dengan kegelapan pekat yang tidak memiliki batas.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tak ada satu pun dari mereka yang tahu.
...****************...
Segera setelah itu, adegan lagi-lagi berganti.
Kali ini, yang ditunjukkan oleh proyeksi itu adalah sebuah ruangan kosong, dengan kegelapan malam dan cahaya keemasan dari lilin yang terbakar.
Di tengah semua itu, seorang wanita, dengan perut yang tampaknya sedang membawa kehidupan itu tengah duduk di sebuah kursi malas, sambil mengelus perutnya.
Mereka tidak bisa melihat wajah wanita itu. Tubuh bagian atasnya hampir sepenuhnya ditutupi dengan kain hitam tipis yang agak transparan.
Tapi, meskipun mereka tidak bisa melihat wajahnya, emosi yang dipancarkannya dapat dirasakan dengan sangat jelas.
Itu adalah emosi yang penuh dengan kebahagiaan, kesedihan, yang kemudian bercampur dengan perasaan penuh harapan.
Suatu emosi yang campur aduk, dan sulit untuk dimengerti.
Tak lama kemudian, suara nyanyian yang merdu dan menenangkan akhirnya keluar dari bibir wanita itu.
Suaranya halus, menyanyikan lirik itu dengan penuh keseriusan, seolah liriknya sendiri telah menjadi bagian dari kisah hidupnya.
" … Jika takdir yang tidak bisa diperjuangkan itu telah ditentukan, maka aku ingin hidup bersamamu, hidup untukmu. Karena, aku tahu kalau hidup bersama dan untuk seseorang pasti akan membuat semuanya jadi lebih bersinar … "
"Menanamkan, dan menumbuhkan benih yang merupakan perwujudan dari harapan, aku akan menanggungnya. Tidak peduli bahkan jika kamu menjadi monster yang mengerikan, tolong izinkan aku untuk tetap bersamamu. Biarkan semua harapan kita tersalurkan pada benih kecil ini. Karena, kita tahu, kalau benih harapan yang kita tanam ini akan kuat menanggung keras dan kejamnya dunia."
"Gerbang takdir yang terbuka menuntunku kembali padamu, aku punya firasat untuk sesuatu yang akan dimulai. Biarkan jalan menuju masa depan terbuka, aku ingin melewatinya bersamamu, dengan semua kebahagiaan yang kita hasilkan."
"Tidak peduli seberapa jauh, dan seberapa kejam takdir yang membawa kita, aku akan selalu bersamamu. Meskipun kita harus berjuang dan berharap untuk semua kebahagiaan itu, meskipun kita harus melewati banyak perputaran kehidupan untuk mencapainya … "
"Hei, biarkan aku berada di sisimu … "
Suaranya perlahan memudar, meninggalkan gumaman samar yang tampaknya mengungkapkan semua emosinya.
Selama wanita itu bernyanyi, tak ada satu pun dari mereka yang berani menyelanya. Mereka tidak punya keinginan untuk itu. Justru, mereka merasa kalau lagu yang dinyanyikan wanita itu sangatlah menenangkan.
Lebih dari itu, yang membuat emosi dalam lagu itu lebih tersalurkan, adalah bagaimana wanita itu bernyanyi seolah semua liriknya berasal dari pengalamannya sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Kenapa dia menyanyikan lagu itu?
Juga … Kenapa tempat ini menampilkan semua proyeksi ingatan ini? Apa ada sesuatu yang berusaha 'Dia' sampaikan?
Mengabaikan semua pertanyaan itu, adegan kembali berganti.
Wanita itu, yang kini perutnya telah rata berjalan menyusuri genangan air yang jernih di tengah kegelapan.
Kabut abu-abu yang tebal itu seharusnya menghalangi pandangannya, tapi dia bisa berjalan dengan normal seolah tidak terganggu dengan kabut itu.
Kali ini, figurnya tersampaikan dengan jelas.
Rambut hitam panjang yang mencapai betis, gaun putih langsung yang menutupi dari bahu sampai mata kaki, dan kain hitam tipis yang sedikit transparan menutupi kepalanya.
Wajahnya sedikit terlihat, dan ekspresi yang ditampilkan di sana adalah suatu kebahagiaan yang bercampur dengan kesedihan dan harapan.
Mengikuti di belakangnya, beberapa tentakel tebal, yang tampaknya tumbuh dari pinggang belakangnya itu terseret dan mengapung saat dia berjalan menyusuri genangan air.
Di atas kepalanya, sebuah halo malaikat berwarna emas pudar melayang dan berputar dengan lemah.
Tak lama kemudian, dia akhirnya berhenti berjalan, dan menatap pada sosok yang berdiri di hadapannya.
Itu adalah monster. Tak ada cara lain untuk menggambarkannya selain dengan kalimat itu.
Ukurannya besar, terlihat seperti daging tanpa kulit, tidak memiliki darah sedikit pun. Dia memiliki wujud aneh.
'Monster' itu memiliki empat tanduk daging yang tumbuh di kepalanya, serta beberapa lengan raksasa yang tumbuh di punggungnya. Lingkaran halo malaikat berwarna hitam pekat terlihat melayang, meneteskan cairan hitam aneh seiring dengan putarannya.
'Dia' hanya memiliki satu mata raksasa di kepalanya, serta mulut yang terbuka lebar, menampilkan gigi geraham dan beberapa taring yang sangat besar.
Kedua tangan utamanya yang besar dan dipenuhi garis urat yang menonjol itu ditempelkan ke permukaan, seolah sedang menopang tubuhnya; dan empat kakinya yang berdempetan satu sama lain juga berpijak ke permukaan, dengan beberapa tentakel daging yang tebal menggeliat dari bagian pinggang belakangnya.
Alis mereka semua menyatu saat melihat wujud monster itu. Sebelumnya, mereka belum pernah melihat wujud monster yang seperti itu, jadi wajar bagi mereka untuk merasa takut, sekaligus jijik.
Namun, hal itu tak berlaku untuk wanita itu.
Dia justru tersenyum lembut pada 'monster' itu, dan berjalan mendekatinya.
'Monster' itu merespon dengan mendekatkan kepalanya. Matanya terpejam dengan kelopak daging yang tebal.
Keduanya terus saling mendekat, hingga akhirnya, wanita itu menempelkan dahinya ke wajah 'monster' itu.
"Tidak apa, mari kita percayakan semua padanya. Kita akan selalu melindunginya, dari sini, di tempat yang tidak dia ketahui."
Wanita itu dengan lembut berbicara, yang kemudian direspon oleh 'monster' dengan geraman singkat.
Akhirnya, sinar keemasan menelan wanita itu, mengubah wujudnya menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari manusia.
...****************...