![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Setelah beberapa menit mengistirahatkan diri di dalam《Reign》, Noelle dan yang lainnya akhirnya keluar tepat di posisi di mana kapal mereka terakhir kali berada.
Mereka semua berdiri melayang di udara dengan menggunakan pijakan datar yang dibuat dari darah Noelle.
Puing-puing kapal yang masih tersisa mengambang bebas di air dan terjerat di antara bebatuan sungai.
Sedangkan di pinggiran sungai, beberapa mayat dari orang-orang yang bertugas di kapal mereka terlihat dalam keadaan yang sangat mengenaskan dengan seluruh tubuh bagian bawah telah menghilang dan beberapa bagian tubuh yang tersisa sudah gosong karena serangan pilar cahaya tadi.
Semua orang di kelompok Norman menjadi pucat saat melihatnya.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Mereka berada terlalu jauh dari lokasi kita saat serangan, aku tidak bisa melindungi mereka," ucap Dyland sambil berlutut di hadapan Norman yang memandangi mayat itu dengan sedih.
" … Tidak … Itu bukan salahmu … Serangan itu terjadi begitu tiba-tiba … Benar, tidak masalah … Ini hanya kecelakaan … "
Norman berucap sambil terengah-engah dan berusaha menenangkan dirinya.
"Hmmm … Tapi, tetap saja … Kapal itu benar-benar hancur tak tersisa, ya … "
Suara Noelle yang terdengar heran memecahkan keheningan dan membuat semua perhatian tertuju padanya.
Norman yang melihatnya pun mengerutkan keningnya.
"Apa kau tidak merasa bersalah? " tanya Norman.
Noelle mengangkat alisnya dengan bingung saat mendengar pertanyaan Norman. Ia menghela napasnya dan menjawab dengan santai.
"Kenapa aku harus? Seperti yang kalian katakan tadi. Serangan itu terjadi begitu tiba-tiba, dan lokasi mereka berada cukup jauh dari kita. Bahkan aku tidak bisa melindungi mereka karena jarak mereka begitu jauh."
Jika ditanya apakah ia merasa bersalah atau tidak, tentu saja ia merasakannya. Meskipun itu mungkin hanya sedikit.
Tentu ia akan menyelamatkan mereka jika ia bisa, tapi itu tidak mungkin bahkan dengan kemampuannya saat ini.
"Sejak awal, aku tidak bisa melindungi semua orang karena kapal ini terlalu besar. Jadi jangan salahkan aku jika mereka mati. Ini semua tergantung pada faktor keberuntungan dan kesialan mereka," ucap Noelle sambil mengangkat bahu.
Pada kenyataannya, Noelle tidak terlalu percaya pada faktor keberuntungan ataupun kesialan. Ia lebih percaya jika ada faktor matematis lain yang mempengaruhi suatu kejadian di setiap saat.
"Meskipun begitu, tetap saja … Apa kau benar-benar merasakan apapun? "
Norman menyipitkan matanya dengan tajam.
Hening sejenak, Noelle kemudian mengangguk beberapa kali dan membuat wajah penuh pengertian.
"Aku mengerti … Kau sedih karena kau sudah mengenal mereka, 'kan? Nah, aku sama sekali tidak pernah mengenal atau bahkan menemui mereka, jadi aku tidak terlalu peduli."
Begitulah pikir Noelle. Kebanyakan orang– atau bahkan hampir semua orang tidak akan peduli dengan kematian orang yang tidak mereka kenal.
Mereka tidak akan merasakan apa pun dan hanya akan mengatakan 'turut berduka cita'. Hal itu tidak berubah bahkan di dunia ini.
"Itu–"
Sebelum Norman menyelesaikan kata-katanya, Noelle telah berbalik dan berjalan mendekati salah satu mayat terdekat.
"Yahh, daripada membuang-buang waktu dengan percakapan yang tidak berguna … Lebih baik kita segera mengurus mayat-mayat ini."
Semua mayat itu akan membusuk jika tidak diurus sesegera mungkin.
"Hey, ada beberapa mayat yang masih utuh di sini. Apa kita harus membawa semuanya? Atau lebih baik untuk mengkremasinya di sini? "
Noelle bertanya pada Dyland sambil menunjukkan api berwarna putih di telapak tangannya.
Dyland berpikir sejenak, kemudian menjawab Noelle setelah mengangguk singkat.
"Itu benar … Kita tidak memiliki kendaraan lain untuk membawa semuanya, jadi lebih baik kita mengkremasinya dan memberikan abunya pada keluarga mereka."
Dyland kemudian berjalan mendekati salah satu pria pelayan yang telah tewas dalam keadaan setengah tubuhnya hilang.
Menyentuh kening pria itu, Dyland kemudian mengeluarkan sebuah lingkaran sihir di semua jarinya.
"Beristirahatlah dengan tenang,《Flame of Purgatory》."
Tubuh pria itu langsung terbakar menjadi abu tanpa perlu menghabiskan banyak waktu.
Dyland membuat guci menggunakan sihir tanah dan memasukkan semua abu pria itu ke dalamnya.
Noelle yang melihat itu mau tak mau langsung melebarkan matanya.
"Jadi kau juga bisa melakukan itu, ya … "
"Tentu saja. Melakukan kremasi dengan sihir elemen suci adalah hal dasar yang bisa dilakukan semua kesatria suci," jawab Dyland dengan santai.
"Hee~ Begitu ya~"
Senyum cerah muncul di wajah Noelle saat ia mendengarnya. Itu bukan informasi yang penting, tapi ia senang mempelajari sesuatu yang baru dari seorang kesatria suci seperti Dyland.
"Nahh … Daripada itu … Kenapa kalian tidak ikut membantu mengumpulkan mayat mereka agar kita bisa melakukan proses kremasi dengan lebih cepat."
Noelle berbicara pada semua orang dengan senyum mengancam sambil menunjukkan potongan kaki di genggamannya.
...****************...
"Dengan ini …《Flame of Purgatory》."
Noelle mengayunkan tangannya dan mengeluarkan lingkaran sihir berukuran cukup besar di udara.
Lingkaran sihir itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan dan mulai membakar semua mayat yang telah dikumpulkan itu dengan api putih.
"Mhmm, dengan ini tugas kita selesai. Sekarang … "
"Jadi kau juga bisa menggunakannya, ya … "
Dyland mengangguk penuh kagum pada Noelle seolah kebenciannya pada saat pertama bertemu hanya kebohongan belaka.
"Begitulah, tapi aku tidak bisa menggunakannya seefektif seperti yang kau lakukan."
Meskipun ia bisa menggunakan sihir dengan elemen suci, kemampuan Noelle dalam elemen itu tidak begitu bagus sehingga ia harus mengerahkan lebih banyak kekuatan hanya untuk mengkremasi semua mayat itu.
Mungkin karena ia adalah vampir atau karena ia memang tidak memiliki bakat untuk itu, tapi biaya penggunaan mana hanya untuk menggunakan mantra《Flame of Purgatory》bisa setara dengan penggunaan《Reign》.
Dibandingkan dengan Noelle yang hanya bisa menggunakan mantra suci beberapa kali dalam sehari, jelas Dyland jauh lebih unggul karena ia bisa menggunakannya terus menerus.
Dyland mengangguk dan menunjukkan wajah seolah mengerti dengan penjelasan Noelle.
Perasaan negatif yang Dyland miliki terhadap Noelle telah berkurang walaupun sedikit.
Noelle perlahan berdiri dan melihat ke sekelilingnya.
"Kita hanya bisa berjalan kaki, huh … "
Menghela napas pasrah, Noelle kemudian kembali pada kelompoknya yang sudah menunggu di tempat lain sementara Dyland sibuk memasukkan semua abu mayat tadi ke dalam guci.
"Noelle, bagaimana? " tanya Cryll.
"Seperti yang kau pikirkan, kita hanya bisa berjalan kaki. Aku bisa menggunakan kekuatanku sendiri untuk membawa semua orang, tapi … Itu terlalu merepotkan."
Setelah mendengar penjelasan dari Noelle, Cryll kemudian menunjukkan wajah bermasalah.
"Bagaimana dengan jaraknya? Orang-orang di kelompok Yang Mulia memang memiliki kemampuan yang cukup bagus dalam pertarungan dan stamina mereka, tapi … Beberapa dari mereka hanya bertindak sebagai pendukung."
"Nahh, kau sudah mengenal mereka dengan cukup baik, jadi kau tahu persis kemampuan mereka. Menurutmu, apa mereka bisa berjalan dengan jarak yang cukup jauh? " tanya Noelle untuk memastikan.
Cryll membuat gerakan berpikir sejenak, namun segera mengalihkan wajahnya ke arah Stella yang sedang duduk di bebatuan di pinggir sungai.
"Talya, sebelumnya kamu cukup akrab dengan para gadis bangsawan itu, 'kan? Apa menurutmu mereka bisa melakukannya? "
Stella terlihat kebingungan saat ditanya oleh Cryll. Bagaimanapun, ia sudah tidak memiliki hubungan dengan mereka sejak ia meninggalkan rumahnya untuk mengikuti Cryll.
Setelah merenung sejenak, Stella menjawab pertanyaan Cryll dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
"Kupikir itu tidak masalah, tapi … Saat ini suasana hati mereka sepertinya cukup buruk, jadi kupikir itu mungkin akan mempengaruhi perjalanan."
"Jadi, seperti yang kau dengar. Seharusnya tidak akan ada masalah selain suasana yang suram," ucap Cryll seraya mengalihkan pandangannya menuju Noelle.
Menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan wajah penuh pengertian, Noelle kemudian mengalihkan pandangannya ke ujung sungai.
"Jika kita mengikuti sungai ini, kita seharusnya bisa sampai di tempat perhentian kita, dan jaraknya seharusnya tidak begitu jauh karena kita sudah melakukan beberapa jam perjalanan menggunakan kapal sialan itu."
Yang pertama harus mereka lakukan adalah mencapai tempat perhentian yang seharusnya dicapai menggunakan kapal.
Jika mereka sudah mencapai tempat itu, mereka hanya perlu menggunakan peta untuk menjadi petunjuk jalan.
Noelle tidak tahu pasti dengan jarak antara posisinya dengan tempat perhentian karena selama ini ia hanya berada di dalam ruangan, tapi itu seharusnya tidak terlalu jauh.
( … Yahh, aku hanya perlu melakukannya.)
Mengacak-acak rambutnya sejenak, Noelle berjalan memimpin kelompok dengan mengikuti arus sungai.
...****************...
Perjalanan berlangsung dengan normal tanpa hambatan.
Tentu saja ada segerombolan monster yang menyerang mereka di perjalanan, tapi semua orang dengan mudah mengalahkan mereka.
Yang paling mencolok dari mereka semua adalah Noelle, Cryll, dan Dyland yang terus membantai monster tanpa henti.
Noelle cukup terkejut ketika melihat gaya bertarung Dyland yang sangat efektif dan menghemat stamina, berkat itu ia jadi mempelajari beberapa gerakan baru yang mungkin bisa ia praktikkan nanti.
Dyland terus mengayunkan pedang panjangnya yang bersinar dengan cahaya emas yang menyilaukan dan terus membunuh monster yang menghalangi, sementara sebuah perisai yang mengeluarkan cahaya yang sama dengan pedangnya terlihat melayang di sekelilingnya.
Jika ada monster yang ia lewatkan dengan pedangnya, perisai itu akan menabrakkan dirinya menuju bagian vital monster itu sehingga Dyland bisa mengalahkan banyak monster dalam waktu yang sama.
Gaya bertarung itu cukup mirip dengan Noelle yang memanfaatkan kemampuan telekinesis untuk mengendalikan senjata, kekurangannya mungkin kemampuan Dyland itu terbatas hanya pada pedang dan perisai yang ia gunakan, dan tidak seperti Noelle yang bisa dengan bebas mengendalikan benda mati apa pun dengan jumlah maksimum lima barang.
Perjalanan dengan jalan kaki hanya berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Waktu terasa berjalan lebih lambat karena suasana suram yang mengisi udara di sekitar Lilith dan yang lain.
( ……… )
Noelle yang tampaknya tahu alasan mengapa suasana hati Lilith tampak suram tidak mencoba untuk mengatakan apa pun padanya.
( ……… Merepotkan … )
"Nahh, dari sini kita hanya perlu berjalan mengikuti peta … Kalian tidak buta arah, 'kan? " tanya Noelle pada yang lain.
Bagaimanapun, sebagian besar orang yang ada di kelompok mereka adalah reinkarnator yang tidak terbiasa melihat peta.
Noelle sedikit khawatir akan terjadi masalah pada mereka, karena kemungkinan besar ia akan diminta bertanggung jawab nantinya.
Setelah beberapa saat Noelle mengajukan pertanyaan, salah satu laki-laki di kelompok Norman maju mewakili semua orang.
"Begitu, ya … Dan … Kau? "
"Ahhh, maaf karena terlambat memperkenalkan diri. Namaku adalah Kaira sera Sankaria. Salam kenal, ya."
Kaira mengulurkan tangannya pada Noelle dan dibalas Noelle dengan tatapan bingung.
Meskipun begitu, Noelle tetap balas menjabat tangan Kaira. Namun, saat tangan mereka terhubung satu sama lain, Kaira segera memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Noelle.
"Kau mungkin lebih mengenalku dengan nama Fudou Ayato. Salam kenal ya, Canaria."
Kaira kembali memundurkan tubuhnya dan melepas jabat tangannya dengan Noelle.
Sambil mengabaikan Noelle yang mengerutkan keningnya dengan tidak senang, Kaira terus berbicara.
"Setelah dipikir-pikir, kita semua belum berkenalan satu sama lain, ya … Bagaimana kalau kita berkenalan lebih dulu? "
"Itu bisa dilakukan nanti, untuk sekarang kita harus pergi."
Menolak usulan Kaira, Noelle segera berjalan pergi meninggalkan Kaira dan yang lain dalam keadaan membisu.
Olivia, Charlotte dan Chloe tanpa mengatakan apa pun segera mengikutinya.
Cryll dan Stella terlihat bingung sejenak, namun mereka hanya saling memandang dan kemudian pergi mengikuti Noelle.
"Kaira, bagaimana? "
Setelah Noelle berada pada jarak yang tidak bisa mendengar percakapan mereka, Lilith bertanya pada Kaira dengan raut wajah khawatir.
Kaira dengan pasrah menggelengkan kepalanya.
"Itu percuma. Aku tidak bisa membaca pikirannya sama sekali bahkan setelah menyentuhnya. Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membaca pikiran orang-orang yang memiliki berkah dari dewa."
"Bahkan kemampuan spesial keluarga Sankaria juga tidak bisa, ya … "
Menggumamkan itu, Lilith segera menjatuhkan bahunya dengan kecewa.
"Nah, nah, Sen- maksudku Lilith, sebaiknya kau tidak perlu bersedih dulu. Ada kemungkinan kota bisa mendapatkan informasi tentang Canaria dan yang lain melalui orang-orang di kelompoknya."
Kaira dengan santai berbicara untuk menenangkan Lilith yang suasana hatinya semakin suram.
"Bagaimanapun, aku cukup yakin kalau Cryll, Nona Roselynn dan gadis berambut hitam itu tidak memiliki berkah dari dewa, jadi ada kemungkinan kita bisa mendapatkan informasi tentang Canaria dan yang lain dari mereka."
" … Semoga saja kau benar … " ucap Lilith dengan sedih.
Lilith dengan jelas menunjukkan kekhawatirannya terhadap Noelle dan yang lain karena mereka adalah kelompok reinkarnasi.
Sebagai satu-satunya orang dewasa (dengan mengabaikan supir bus), ia tentunya akan merasa bertanggung jawab dengan keamanan para muridnya.
Sebelumnya Lilith sudah meminta Kaira untuk membaca pikiran Noelle untuk menemukan informasi tentang mereka agar ia bisa memastikan kalau dia hidup dengan aman.
Kaira di kehidupan sebelumnya adalah mantan teman sekelas Noelle dan yang lain. Di dunia ini, ia terlahir kembali sebagai putra dari keluarga Marquis Sankaria yang memiliki peran yang sangat penting di Kerajaan, dan terkadang bertanggung jawab dalam bernegosiasi serta membentuk hubungan yang baik dengan pihak lain.
Semua orang yang terlahir di keluarga Sankaria memiliki kemampuan untuk membaca pikiran seseorang hanya dengan melakukan kontak fisik dengan targetnya.
Karena itu, Lilith meminta Kaira yang seorang putra dari keluarga Sankaria untuk membaca pikiran Noelle.
Namun itu berakhir dengan kegagalan karena Noelle juga seorang reinkarnasi yang memiliki berkah dari dewa.
" ……… "
Kaira menunjukkan wajah bermasalah saat Lilith masih dalam suasana hati yang buruk. Ia benar-benar bingung tentang bagaimana cara untuk menenangkannya.
Dan tepat saat Kaira sedang memikirkan solusi, Dyland mendatangi mereka setelah ia menyimpan semua guci berisi abu jenazah di gudang spasial miliknya.
(Nice timing, Dyland.)
Kaira tersenyum lega saat melihat Dyland yang semakin dekat dengan mereka.
"Tuan, aku tidak berniat mengganggu pembicaraan kalian semua, tapi … Jika seperti ini, kita akan tertinggal," ucap Dyland sambil menunjuk area hutan yang Noelle masuki tadi.
"Ahh, benar. Ayo kita pergi."
Seolah ingin menghilangkan suasana canggung yang memenuhi udara, Norman dengan semangat berlari kecil menyusul Noelle.
Lilith tanpa mengatakan apa pun berjalan mengikutinya dari belakang bersama beberapa reinkarnator lain.
Sementara itu, Kaira tertinggal di belakang bersama seorang laki-laki yang tampak seumuran dengannya.
"Ini benar-benar merepotkan," ucap laki-laki itu.
Kaira tersenyum masam dan mengatakan, "kau benar."
"Hey, Ayato. Apa menurutmu kita bisa melakukan sesuatu tentang ini? "
Laki-laki itu bertanya pada Kaira dengan ekspresi bingung.
"Dengar, aku sudah memintamu untuk berhati-hati saat memanggil nama lain semua orang dari kehidupan sebelumnya, tapi … Entahlah. Sejak awal, Canaria dan Airi bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudah kau ajak bicara. Wajar saja jika Lilith sedikit kesulitan."
"Mhmm, padahal aku sudah mengharapkan reuni yang menyenangkan … "
"Kau mungkin harus bersabar, Rico. Itu akan sedikit sulit untuk saat ini," ucap Karia sambil mengangkat bahu.
"Mhmm … Ahh! Bagaimana kalau kita buat kesempatan agar Lilith bisa berbicara dengan Canaria hanya berdua? Mungkin kita bisa membuat semuanya jadi lebih baik. Kita bisa melakukan itu dengan memindahkan Canaria dengan paksa ke tempat Lilith menggunakan teleportasi! "
" ……… Rico … Apa kau jenius? "
Karia mulai tercengang pada ide Rico.
"Fufu~ Kau bisa terus memujiku! " Rico membusungkan dadanya dan menunjukkan wajah sombong.
"Tidak, aku hanya bercanda, kau tahu? Idemu sangat buruk."
"Tch."
Menghadapi ekspresi datar Kaira, Rico hanya mampu mendecakkan lidahnya dengan raut wajah tidak senang.
"Oi! Mau berapa lama lagi kalian diam di sana?! Kalian akan tertinggal! "
Saat mereka berdua sedang melakukan percakapan, mereka bisa mendengar suara seorang laki-laki memanggil mereka dari kejauhan.
Karia dan Rico saling menatap, dan kemudian mengangkat bahu.
Mereka tanpa mengatakan apa pun lagi langsung berlari menyusul Norman dan reinkarnator lain.
...****************...
"Baik, kita sudah sampai! Tapi, kita mungkin sedikit terlambat."
Noelle dengan riang mengumumkan pada semua orang kalau mereka sudah mencapai lokasi yang dituju.
Saat ini, Noelle dan yang lain berada di tengah area hutan dengan pepohonan yang lebat menghalangi pandangan semua orang.
Noelle menunjuk tepat ke arah celah yang terbentuk di antara kedua pohon.
Saat Dyland mengintip ke celah tersebut, ia bisa melihat pemukiman desa yang sudah setengah hancur dengan banyak bagian yang masih terbakar.
Tentu saja, ada beberapa tubuh pria tergeletak tak bernyawa di tanah sambil membawa berbagai macam alat pertanian.
"Kita terlambat, ya … " ucap Dyland sambil mengerutkan keningnya dengan sedih.
Usai mengatakan itu, Dyland kemudian kembali pada Norman dan yang lain, dia segera berlutut dan memberikan laporannya pada Norman.
"Kita terlambat. Desa itu sudah hancur, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana."
Norman melebarkan matanya dengan terkejut saat mendengar laporan dari Dyland. Dia berusaha menampilkan wajah tenang meskipun tangan dan kakinya gemetar karena rasa terkejut dan takut.
"Tidak– Itu aneh! Tuan Terneth … Dia tidak mengatakan apa pun tentang keberadaan desa itu, kau tahu! "
" ……… "
"Seharusnya–"
"Ahh, tunggu sebentar, Yang Mulia."
Sebelum Norman menyelesaikan kata-katanya, Noelle menyela percakapan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Hancurnya desa itu bukan masalah kita. Sejak awal, Terneth sama sekali tidak pernah menyinggung desa itu di dalam laporan misi yang diberikan padaku. Jadi, meskipun desa itu hancur karena serangan monster yang kita incar, itu sama sekali bukan salah kita."
-–Ada kemungkinan kalau Terneth memang tidak tahu apa pun tentang desa itu.
Selain itu, sama sekali tidak ada penanda lokasi yang menunjukkan desa itu di peta yang mereka gunakan.
Jadi ada kemungkinan kalau sejak awal, keberadaan desa itu seharusnya memang tidak pernah ada.
Kesimpulan terbaik yang bisa Noelle dapatkan adalah, desa itu dibuat beberapa waktu setelah pemetaan area terakhir dilakukan.
Itu mungkin sudah beberapa bulan, atau bahkan tahun.
"Kenapa kau bisa setenang itu?! Semua orang di sana baru saja tewas karena kita datang terlambat! Apa kau tidak merasa bersalah?! "
( … Merepotkan.)
Tentu saja Noelle sedikit merasa bersalah, lagi pula, sebagian dari masalah itu tetap saja bagian dari kesalahannya yang salah memperhitungkan keberadaan penduduk di kawasan sekitar sarang monster.
Tapi, Noelle tidak menghiraukan perasaan bersalahnya karena memang tidak ada laporan mengenai keberadaan desa itu di keterangan misi yang ia terima.
"Meskipun begitu–"
Lagi-lagi Norman tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena suara ledakan yang terjadi dari arah desa itu.
"Tuan, ada serangan. Lebih baik kita bersiap."
Dyland dengan wajah tegang menyiapkan pedang dan perisainya sambil memandangi area desa itu.
Ledakan terjadi lagi, dan kali ini, tidak hanya ledakan itu yang muncul.
Segerombolan monster raksasa bermata satu yang membawa batang pohon di tangan mereka muncul sambil menghancurkan area di sekitar mereka.
Di belakang gerombolan monster itu, ada sosok monster yang sudah mereka incar sejak awal.
Dengan ukuran yang jauh melebihi perkiraan mereka.
"Akhirnya ketemu, kau serangga brengsek."
Noelle mengeluarkan Aligma dan kedua pedang bintangnya dari gudang spasial sambil menatap monster itu.
...****************...