[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 127: Tragedi lampau (1)



...****************...


—Reruntuhan gereja besar di pusat Eisen.


Puing-puing batu yang sudah tak berbentuk berserakan di jalanan, membuat jalanan yang terbuat dari beton itu mengalami kerusakan yang cukup parah. Bahkan, beberapa puing juga ikut terjatuh ke dalam kanal sehingga membuat saluran air di sana menjadi macet.


Jelas akan butuh waktu lama untuk perbaikan semua itu.


Earl memandangi penampakan sekitarnya dengan wajahnyang menampilkan ekspresi prihatin. Tentu saja, dari semua orang, dialah yang akan paling merasakan dampaknya.


Kota yang berada dalam naungannya telah diserang beberapa kali tanpa henti. Setiap kali satu serangan terjadi, serangan lain akan muncul dan meluluhlantakkan seluruh kota yang seharusnya dalam proses pembangunan ulang.


Saat ini, Earl berada di reruntuhan gereja, menatap patung wanita besar yang masih utuh tanpa ada goresan sedikit pun.


Patung wanita cantik itu diukir secara manual oleh para pematung ahli di Eisen. Patung itu diciptakan sebagai tanda kehormatan sekaligus pemujaan terhadap seorang dewa yang telah memberi mereka kehidupan.


Dewi Anastasia.


Di Eisen, dan di seluruh wilayah kerajaan Nothernos, keberadaan dewi Anastasia menjadi sosok yang paling dihormati, sekaligus dipuja di sini.


Tentu saja, sejarah masa lalu menjadi penyumbang kontribusi terbesar untuk tingginya rasa hormat itu.


Earl awalnya hanya mempercayai keberadaan dewi Anastasia sampai taraf tertentu, tapi dia menjadi sangat yakin akan keberadaannya setelah menyaksikan langsung 'mukjizat' yang diturunkan olehnya beberapa hari yang lalu.


Meskipun begitu, Earl kini menatap patung dewi Anastasia dengan wajah tanpa ekspresi. Sangat tidak biasa untuk seorang pemuja yang sedang berdoa.


Itu tentu saja, lagipula dia tidak datang ke tempat ini untuk berdoa pada dewi Anastasia.


Tak lama kemudian, sosok yang sudah ia tunggu akhirnya datang dari belakangnya.


Earl berbalik, dan menatap orang itu.


Sosoknya yang tegap memakai jubah penyihir berwarna kelabu yang tampak menyatu dengan pemandangan sekitar. Tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat kayu panjang, sementara tangan kirinya membawa sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang dihiasi beberapa permata.


"Kau benar-benar datang, ya? Terneth."


Orang itu, Terneth menatap Earl dengan mata dingin tanpa ada kehangatan sedikit pun yang biasanya ia pancarkan.


Ujung tongkatnya bersinar, dan menyentuh ke tanah. Seketika, sebuah lingkaran sihir besar tercipta di udara, mengurung mereka berdua layaknya sebuah sangkar.


Earl tersenyum masam.


"Kau tidak perlu terlalu waspada seperti itu. Aku mengundangmu bukan untuk bertarung."


Kedua alis Terneth saling bertaut, jelas tidak senang dengan pernyataan Earl.


"Lalu? Apa itu seperti yang kupikirkan? "


"Kau bisa menebaknya? Syukurlah kau cepat mengerti," jawab Earl.


"Ya. Tapi, aku tidak akan pernah menjawabmu kecuali kau menanyakannya secara langsung."


"Itu tentu saja."


Earl tertawa kecil, sementara Terneth masih mengeraskan ekspresinya. Tak lama kemudian, Earl berbicara, "Seperti yang sudah kau tebak, akun ingin tahu. Alasan kau melakukan semua ini."


"Kau masih menanyakannya? "


Berlawanan dengan pertanyaan tulus dan serius dari Earl, Terneth justru membalasnya dengan senyum mengejek sambil mendengus kesal.


"Kau seharusnya menjadi orang yang paling tahu kenapa aku melakukan semua ini."


" ……… "


Tentu Earl tahu itu. Meskipun begitu, ia setidaknya ingin berharap kalau ini semua hanya kesalahpahamannya belaka.


Earl selalu menganggap Terneth sebagai seorang ketua guild yang kompeten, dan baik hati. Terneth sama sekali tidak pernah mengecewakan dugaannya.


"Hei, Terneth. Jawab aku dengan serius. Kenapa … Kau melakukan semua ini? "


" … Pertanyaan yang bodoh."


Terneth mendengus kesal dan berniat pergi keluar dari sangkar sihir itu, tapi tak peduli apa yang ia lakukan, ia sama sekali tidak bisa mengendalikan sangkar sihir yang ia buat sendiri.


"Apa kau lupa kalau aku adalah salah satu kandidat terbaik untuk penyihir kerajaan? "


" … Tentu tidak. Kemampuanmu selalu melebihi diriku dalam hal sihir."


"Kalau begitu, kau seharusnya tahu kalau kau tidak akan bisa meninggalkan tempat ini seenaknya. Ahh, tentu saja kau memiliki cara untuk keluar dari tempat ini."


"Dan? Bagaimana caranya? "


Ekspresi Earl berubah. Dia mengangkat satu sudut bibirnya, dan memberikan senyum yang menantang pada Terneth.


"Kau hanya memiliki dua cara. Yang pertama, kau harus menjelaskan alasan kenapa kau melakukan semua ini. Dan yang kedua, kau harus membunuhku."


Pilihan apa pun itu, hanya satu yang bisa Terneth pilih.


Terneth sendiri benci mengakuinya, tapi dengan kekuatannya saat ini, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan Earl.


Secara alami, Terneth akan memilih opsi pertama.


Earl tampaknya mengerti dengan apa yang dipikirkan Terneth. Dia kini tersenyum dan menatap Terneth dengan mata yang menyipit, mengeluarkan aura intimidasi yang akan membuat orang tak berpengalaman langsung pingsan.


"Jawab aku, Terneth. Kenapa kau melakukan semua ini? "


"Kenapa? Kau benar-benar masih mengatakan itu?! Kau benar-benar konyol! Kau seharusnya tahu kenapa aku melakukan ini, 'kan?! Atau kau sudah melupakan semuanya?! Semua dosa yang kau buat 27 tahun yang lalu! "


Terneth tertawa, tapi kemarahannya terlihat jelas melalui tawa anehnya itu.


"Kau benar-benar seorang bajingan. Bagaimana mungkin kau bisa dengan mudahnya melepas tanggung jawabmu akan hal itu?! Ratusan orang yang kau bunuh dengan tanganmu sendiri, apa kau sudah melupakan mereka?! "


" … Aku tidak … Melupakan mereka. Itu adalah salah satu penyesalan terbesarku."


Tawa Terneth menjadi semakin keras. Dia menatap Earl dengan wajah penuh kemarahan dan mata yang penuh penghinaan.


"Jika kau benar-benar menyesal dengan itu, kenapa kau masih memakai cincin itu? " tanya Terneth sambil menunjuk cincin yang dipasangkan di ibu jari Earl.


Cincin itu memiliki permata cantik berwarna biru keunguan dan memiliki corak hitam di beberapa bagian. Itu benar-benar cincin yang indah, sekaligus cincin yang sangat buruk.


Earl menghapus semua ekspresi di wajahnya, dan menatap Terneth dengan mata kosong.


"Cincin itu, kau tahu kalau cincin itu terbuat dari mereka, 'kan? Jika kau benar-benar menyesal, kenapa kau masih memakainya? Kau juga tidak melakukan apa pun untuk menghapus semua dosa yang kau miliki itu."


" ……… "


"Melihatmu hidup dengan normal dan penuh kebahagiaan selama 27 tahun benar-benar membuatku muak. Bagaimana mungkin kau bisa hidup begitu mudahnya setelah melakukan pembantaian sepihak itu?! "


Earl menarik napas panjang, dan menatap Terneth dengan wajah sedih. Ia kemudian berbicara.


" … Aku akui kalau itu semua memang menjadi bagian dari dosaku. Tapi, aku tidak bisa membantah perintah dari atasan. Ini juga hal yang diperlukan untuk mencegah penyebaran 'penyakit' itu."


Itu memang benar, tapi entah mengapa Eark merasa kalau ia hanya berusaha melarikaj diri dengan menggunakan alasan itu.


Saat itu, dia memiliki pilihan. Dia memiliki pilihan antara melakukan apa yang diperintahkan, atau menolak perintah itu. Dan hasilnya, ia memilih melakukannya.


Ia memilih untuk mengotori tangannya sendiri untuk mencegah penyebaran wabah yang pernah menjangkit ribuan orang di masa lalu.


Sekitar 28 tahun yang lalu, muncul sebuah wabah aneh yang tak dikenal di suatu kota.


Wabah itu disebut sebagai salah satu sejarah gelap kerajaan yang tidak akan pernah diungkapkan pada publik.


Polyhedral Orphiment Virus, atau yang disingkat menjadi Polyment Virus. Tak diketahui di mana tempat virus ini pertama kali muncul. Yang jelas, tempat dengan penyebaran terluas dari virus ini berada di salah satu kerajaan kecil yang terletak di antara Kerajaan Nothernos, dengan Kekaisaran Alacylia.


Virus itu awalnya disebut sebagai Apocalypse Virus karena keganasannya dalam membunuh dan menyebar.


Muncul secara tiba-tiba, dan itu juga sangat mematikan. Virus itu dapat membunuh orang yang terjangkit hanya dalam waktu 48 jam tak peduli ras maupun ketahanannya.


Begitu seseorang terjangkit, ia akan mati dalam kurun waktu 48 jam tanpa ada yang bisa dilakukan untuk penanganan. Yang membuatnya lebih mengerikan, sama sekali tidak ada gejala atau tanda seseorang terjangkit virus ini.


Satu-satunya jejak yang ditinggalkan adalah tubuh para korban yang secara perlahan menumbuhkan kristal aneh ketika hidup mereka hanya tersisa 12 jam lagi.


Orang yang mati karena terjangkit virus itu, tubuh mereka telah mengkristal sepenuhnya, tanpa menyisakan bahan organik penyusun tubuh manusia normal. Tidak hanya tubuh bagian luar, tapi bahkan organ dalam juga akan berubah menjadi kristal.


Organ dalam yang ada di tubuh manusia adalah bagian penting yang menjadi penyokong kehidupan. Jika bagian itu berubah menjadi kristal, bagian itu secara alami akan kehilangan fungsinya, dan hanya akan menjadi kristal berbentuk organ dalam biasa.


Kristal itu memiliki penampakan yang mengagumkan. Dengan warna campuran antara biru gelap, dengan ungu kehitaman yang indah, membuat banyak orang jadi tergiur saat pertama kali melihatnya. Banyak yang berpendapat kalau itu sangat layak untuk dijadikan perhiasan.


Namun, itu adalah pendapat orang-orang yang belum mengetahui kenyataan tentang berapa mengerikannya kristal itu.


Dikarenakan penyebarannya yang begitu cepat, virus itu dengan mudah menjangkit semua orang yang ada di Kerajaan kecil itu.


Terneth berjalan dengan santai dan duduk di salah satu bebatuan besar yang ada di sekitarnya.


"Baru-baru ini aku mendapat laporan kalau kau mengirim dua anggota guild untuk menyelidiki reruntuhan. Apa kau menceritakan keseluruhan insiden itu? "


—Tentu saja tidak, adalah apa yang ingin dikatakan oleh Earl.


Dia memang memberikan Noelle dan Cryll rincian mengenai misi yang mereka jalankan, tapi rincian itu telah ia manipulasi sedemikian rupa sehingga mereka berdua tidak akan bisa mengendus apa yang sebenarnya terjadi.


Sebagian besar yang Earl ceritakan pada mereka berdua memang benar adanya. Tapi, ada bagian penting yang ia potong dari cerita itu.


Itu adalah, kenyataan tentang sekte sesat yang sebenarnya sebagian besar pengikutnya adalah pengidap Polyment Virus.


Mereka memang mati karena membenturkan kepala mereka, tapi sebenarnya itu dalam keadaan tubuh mereka yang sudah 70% mengkristal.


"Kau mengirim mereka berdua untuk menemukan keberadaanku, tapi kau seharusnya tidak perlu repot-repot dengan itu."


Dengan kata-kata itu, niat membunuh yang kuat mulai terpancar dari mata Terneth yang menyipit dengan tajam.


"Kau memang benar dengan itu, Terneth. Tapi, melakukan tindakan gila seperti menghancurkan tempat ini, tidak akan merubah apa pun. Semua yang sudah terjadi di masa lalu tidak akan pernah bisa diubah."


"Tentu aku tahu itu. Tapi … Jika aku benar-benar tidak bisa merubah apa pun, setidaknya aku akan melanjutkan perlawanan orang-orang tak bersalah yang ikut terbunuh saat itu! "


Dikarenakan penyebarannya yang terlalu cepat, baik pihak Kerajaan, maupun Kekaisaran langsung mengambil tindakan darurat untuk mengatasinya.


Ratusan peneliti dari berbagai golongan dikerahkan untuk menyelidiki virus itu, tapi semua itu tidak pernah membuahkan hasil.


Penelitian yang sia-sia itu diteruskan sampai satu tahun lamanya.


Jumlah orang yang telah mati karena virus itu telah meningkat secara drastis dalam beberapa waktu terakhir, dan itu menyebabkan kepanikan serta rasa takut di antara para penduduk sekitar.


Genosida.


Itu tepat 27 tahun yang lalu. Saat itu, Earl Eisen masih belum menjabat sebagai seorang Earl, melainkan salah satu kandidat penyihir kerajaan. Dia mendapatkan perintah dari otoritas kerajaan untuk ikut dalam misi pembasmian orang-orang yang terjangkit dalam virus itu.


Bukan berarti ia harus melakukannya. Saat itu, ia mendapatkan kesempatan untuk menolak, tapi ia sudah membuat keputusan untuk mengotori tangannya demi mencegah penyebaran yang lebih lanjut dari wabah itu.


Proses genosida berjalan dengan cara yang mengerikan. Negara itu tenggelam dalam kekacauan. Mayat yang mengkristal berserakan di jalanan, dan hewan-hewan pemakan bangkai juga ikut bermunculan.


Dia tidak bisa menghitung ada berapa banyak orang yang telah ia bunuh. Bahkan, di antara semua korban pembantaian itu, ada beberapa orang yang seharusnya menjadi kerabatnya sendiri.


Meskipun begitu, itu tidak menjadi alasan untuk merasa ragu. Dia tetap menghabisi mereka semua tanpa ada keraguan dalam tindakannya.


Genosida itu memang tindakan yang mengerikan, tapi itu juga satu-satunya jalan yang mereka miliki untuk menghentikan penyebaran virus.


Tapi, bukan itu bagian paling mengerikan yang Terneth bahas.


Dalam proses genosida itu, tidak hanya para korban yang terinfeksi saja yang dibunuh, tapi hampir semua orang yang bahkan sama sekali tidak terjangkit juga ikut dibunuh tanpa pandang bulu.


Bayi, anak-anak, dewasa, lansia, pria, dan wanita. Proses genosida itu berlangsung tanpa memandang perbedaan.


Mungkin, satu-satunya hal yang mereka pikirkan adalah cara untuk mengatasi wabah itu tidak peduli seberapa berdarah caranya.


"Terneth … Apa itu benar-benar alasanmu melakukan penyerangan di kota? "


"Lagi? Berapa kali lagi aku harus menjawab itu? "


"Kalau begitu, biar kuganti pertanyaanku. Apa kau … Benar-benar melakukan ini semua atas kehendakmu sendiri? "


Kali ini Terneth menyipitkan matanya, dan tersenyum pada Earl.


"Apa kau pikir kalau aku sedang dimanipulasi oleh seseorang? "


" ……… "


Earl memang tidak menjawabnya, tapi tebakan Terneth itu memang benar adanya. Earl sudah memiliki beberapa teori yang dapat mengarahkannya ke satu kesimpulan besar, dan ia cukup percaya diri dengan itu.


Terneth seperti sudah melihat isi pikirannya saat senyum di wajahnya menjadi semakin dalam.


"Apa kau mengaitkan ini dengan para Voyager? "


Ekspresi Earl hampir tidak berubah, tapi Terneth bisa dengan jelas melihat pergerakan kecil yang dilakukan otot wajahnya itu.


Jelas ia terkejut dengan tebakan Terneth.


"Kelihatannya aku benar, ya? Kalau begitu, aku harus minta maaf karena telah mengecewakanmu."


" … Apa maksudmu? "


Terneth berdiri dan menatap bulan di langit melalui celah sangkar sihir yang mengurungnya.


"Nuko melakukan pekerjaannya dengan baik, huh … "


Nuko, itu adalah nama orang aneh yang sebelumnya tiba-tiba muncul di kantor Earl, dan memberikan pesan ancaman.


"Kau pasti berpikir kalau aku sedang dikendalikan oleh para Voyager, tapi kenyataannya tidak begitu."


Terneth kemudian melebarkan kedua lengannya yang masing-masing memegang sebuah pisau melengkung yang terlihat sangat tajam.


"Antara Voyager, maupun orang-orang yang melakukan penyerangan di sini, saat ini … Aku sama sekali tidak berkaitan langsung dengan mereka. Aku … Hanya memanfaatkan keberadaan mereka."


Dengan itu, sosok Terneth tiba-tiba menghilang dan kembali muncul tepat di hadapan Earl, sambil mengayunkan pisaunya tepat ke arah leher.


...****************...


Di tengah hutan rimbun yang jauh dari peradaban, sesosok pria dengan zirah ringan dengan berjalan dengan santai melewati bebatuan dan akar pohon yang memenuhi jalannya.


Tak lama setelah ia melewati jalanan yang penuh rintangan itu, ia akhirnya sampai di tempat yang menjadi tujuannya.


"Kau lama sekali, Olpus."


Di sana, ia melihat rekan-rekannya yang sudah menunggu dengan wajah tidak sabar.


Olpus tersenyum masam dan berjalan mendekati mereka.


"Ada sedikit masalah di Rondo, aku harus mengurusnya sebentar."


"Rondo? Apa yang bisa terjadi di tempat itu? "


"Yahh … Tidak begitu penting … "


Bahkan Olpus juga merasa ragu ketika harus menceritakan tentang 'pengkhianatan' yang dilakukan Lucia.


Karena itu, ia memutuskan untuk tidak menceritakannya pada rekan-rekannya.


"Daripada itu, bagaimana dengan Eisen? "


Begitu Olpus menanyakan itu, rekan-rekannya langsung tersenyum dan tertawa.


"Kau akan terkejut dengan betapa lancarnya semua itu, Olpus. Seharusnya kau ikut dengan kami tadi."


"Bukankah sudah kubilang kalau aku memiliki pekerjaan lain? Yahh, kudengar ada serangan lain yang terjadi saat siang hari, apa itu mengganggu? "


Olpus membicarakan tentang penyerangan kain yang dilakukan oleh sosok yang disebut Nix Regina.


Penyerangan yang dilakukan oleh Nix Regina sendiri sudah memberikan kerusakan yang mengerikan pada Eisen. Olpus khawatir kalau itu akan mengganggu rencana yang telah mereka susun selama beberapa tahun.


"Sejujurnya, keberadaan Nix Regina itu tidak begitu mengganggu. Hanya saja … Berkat dia, kita harus meluncurkan serangan lebih cepat dari yang dijadwalkan."


Olpus memang sudah mendengar kabar tentang itu dari rekan-rekannya yang berada di Eisen, tapi tetap saja, ia mau tak mau jadi penasaran dengan sosok yang disebut Nix Regina itu.


"Archon, ya … Apa kalian tahu dari negara mana dia berasal? "


Mereka semua menggeleng. Namun, ada salah satu rekannya yang membuat perkiraan kecil tentang itu.


"Aku tidak tahu apa ini benar atau tidak, tapi … Kurasa dia berasal dari Luveilia."


Mata Olpus seketika menyipit. "Apa kau pikir kalau anjing-anjing dari Luveilia itu sudah mencapai tempat ini? "


Mendapat tekanan dari tatapan Olpus, orang yang memberikan perkiraan itu menjadi terlihat panik sejenak, namun ia tetap berusaha mencari alasan untuk menutupi kesimpulan bodoh yang telah ia buat.


"Itu bisa saja terjadi, oke?! Bahkan kita bisa mencapai tempat ini berkat Yang Mulia yang membukakan jalan. Bisa jadi para anjing kampung itu memanfaatkan kesempatan ini dan mengikuti kita! "


Bahkan meskipun sudah mendapatkan sanggahan yang logis itu, Olpus masih tidak percaya. Lebih tepatnya, ia tidak mau mempercayainya.


"Jika mereka benar-benar mengikuti kita, kenapa kita sama sekali tidak menyadari itu? "


"Itu … "


Tidak mungkin mereka mau mengatakan kalau mereka semua dalam keadaan lengah sehingga tidak sanggup untuk mendeteksi kelompok yang mengikuti mereka.


"Sudahlah, kalian berdua. Kita masih memiliki pekerjaan setelah ini."


"Ivan … Menurutmu … Apa keberadaan musuh akan mengganggu? "


Olpus bertanya pada salah satu rekannya yang menghentikan perdebatannya sebelumnya. Ivan, bagaimanapun dia hanya mendengus kesal saat mendengar pertanyaan itu.


"Mau mereka mengganggu atau tidak, kita tetap harus melaksanakan tugas ini dengan sempurna. Kita tidak bisa mencoreng nama baik Yang Mulia dengan kegagalan, dan kalian mengerti itu. Kita lebih baik mati daripada harus menyumbangkan kegagalan pada Yang Mulia."


Dia berbalik, lalu menyentuhkan telapak tangannya ke tanah.


"Semua kehormatan untuk Yang Mulia."


Seketika, sebuah celah besar terbentuk di ruang tepat di hadapannya. Menampilkan pemandangan yang sangat kontras dengan tempatnya berada saat ini.


Tempat di balik celah itu, Olpus menganggapnya sangat mengerikan.


Dengan langit merah yang dipenuhi oleh miasma yang menyerupai awan hitam aneh, dan dipenuhi dengan bebatuan hitam berlumpur yang menjijikkan.


"Seperti biasa, ini sangat menjijikkan."


Orang yang berdebat dengan Olpus sebelumnya itu kini mengerutkan keningnya dan menunjukkan wajah jijik saat menatap ruang di dalam celah itu.


Selang beberapa detik kemudian, sesosok bayangan hitam besar mulai keluar dari celah itu, berdiri dengan penuh niat membunuh di hadapan Olpus dan yang lain.


Sosoknya mirip dengan anjing, tapi ukuran tubuhnya sama sekali tidak masuk akal. Kulit hitam tanpa rambut itu tampak ditutupi oleh lumpur hitam yang menjijikkan, sedangkan mulut lebarnya berisi deretan gigi tajam yang tak terhitung jumlahnya.


Ada hal lain yang membuat Olpus lebih terkejut ketika melihat monster itu.


"Ivan, kau benar-benar … Menyuntikkan virus itu ke tubuh monster? "


Tubuh monster itu ditumbuhi oleh kristal ungu kehitaman yang membuat penampilan monster itu menjadi semakin mengerikan.


Olpus dan yang lain secara alami mengerti dengan apa yang telah dilakukan Ivan pada monster itu.


Apocalypse Virus.


Ivan tersenyum bangga pada Olpus dan yang lain. Dia menatap anjing hasil eksperimennya itu dengan tatapan puas.


"Butuh ribuan percobaan untuk mendapatkan hasil sempurna seperti yang kuinginkan. Tapi, aku akhirnya mencapai apa yang sebelumnya menjadi tujuanku."


"Haha … Tidak heran mereka menyebutmu gila, Ivan."


Orang yang sebelumnya berdebat dengan Olpus, Ronandt hanya mampu tertawa kering sambil menatap Ivan dengan pandangan tertegun.


Ivan, bagaimanapun dia hanya terus memajang senyumnya dan balas menatap semua orang.


"Tidak sia-sia aku menyebarkan Apocalypse Virus itu ke pemukiman orang-orang Gardiant. Lihatlah hasilnya, aku berhasil menyempurnakan ini! "


Semua orang yang terjangkit oleh virus itu akan langsung mati dalam kurun waktu 48 jam, itu juga berlaku untuk hewan dan monster.


Tapi, apa yang akan terjadi jika satu entitas makhluk hidup berhasil selamat dari virus itu? Jawabannya hanya satu.


Mereka akan mendapatkan kemampuan baru, sesuai dengan kode genetik yang mereka miliki.


Orang yang menciptakan sekte sesat yang sebelumnya dibahas oleh Earl, adalah salah satu entitas yang berhasil bertahan dari virus itu.


Mata Ivan menyipit sementara senyum lebar masih terpampang di wajahnya. Membuatnya menampilkan ekspresi yang kejam.


...****************...