![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Suasana keheningan yang aneh menguasai udara di tempat mereka berada saat ini.
Semua orang sedang duduk di kursi yang disusun sedemikian rupa sehingga mengelilingi sebuah meja bundar yang cukup besar dengan lubang di tengahnya.
Di tengah meja bundar itu, sebuah patung wanita dengan timbangan di tangan kiri, serta pedang berantai di tangan kanannya berdiri dengan anggun, sementara wajahnya bahkan tidak memiliki satu pun detail wajah manusia.
Noelle duduk di salah satu kursi, dengan sebuah kristal violet mengambang di hadapannya. Begitu juga dengan yang lain, mereka masing-masing duduk di kursi mereka sendiri, dengan sebuah kristal di hadapan mereka. Tentu saja, sosok Pauper—Colyn adalah pengecualian. Dia berbaring tengkurap di bantalnya yang mengambang di udara.
Tak lama setelah keheningan menguasai mereka, seorang pria berwajah tegas, dan pedang di pinggangnya, berbicara sambil menatap kristal hijau dengan nama Ructus di hadapannya berbicara.
" … Jadi, apa pendapat kalian tentang gambaran yang diberikan semua kristal ini tadi? "
"Bukankah sudah jelas? Tentu saja aku akan menghentikannya. Aku tidak peduli dengan keselamatan semua orang, tapi aku tidak bisa memaafkan para bajingan yang berniat mengganggu hidupku seperti itu."
Seorang pria dengan kasar menjawab itu. Dia adalah Arnaz, yang memegang kristal berwarna cokelat bernama Caver.
Pria yang pertanyaannya dijawab dengan kasar itu, Damian van Houten, juga pemilik kristal Ructus itu tak menggerakkan ekspresinya sedikit pun. Dia hanya memejamkan matanya dengan tenang dan memikirkan beberapa hal, sebelum akhirnya menatap sosok wanita dengan mata yang ditutupi sehelai kain hitam, Lucia Khora.
"Bagaimana denganmu? "
Lucia, atau juga bisa dipanggil dengan nama kristalnya—Auger tersenyum tipis pada Damian. Meskipun kedua matanya ditutupi dengan kain, dan separuh wajahnya hampir tak terlihat karena kain transparan, ekspresi yang ia keluarkan entah bagaimana mampu dimengerti oleh semua orang.
Lucia bernapas dengan tenang, lalu berbicara.
"Gambaran masa depan yang diberikan kristal ini padaku sedikit terlalu mengerikan. Tentu saja aku akan menghentikannya. Tapi, aku khawatir aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk itu."
"Ahh, tunggu. Secara pribadi, aku setuju untuk mengambil tindakan secepatnya, tapi … Aku ingin menanyakan satu hal."
Seorang laki-laki mengangkat tangannya. Itu adalah pemilik kristal kuning bernama Ortis, nama aslinya adalah Ethan. Dia bertanya dengan wajah polos seolah tak peduli dengan situasi ini.
Damian menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan untuk permintaan izin Ethan.
"Yang ingin kutanyakan adalah … Kita semua mendapatkan suatu gambaran masa depan, 'kan? Apa semua gambaran yang kita dapatkan itu sama? Karena kita sepertinya saling mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan di sini."
"Kurasa begitu."
Arnaz menjawab dengan singkat sambil mengangkat bahunya sedikit. Hanya dengan respon singkat itu tampaknya sudah cukup bagi Ethan untuk mengelola informasi dan membuat beberapa kesimpulan di kepalanya.
Noelle benar-benar merasakan keakraban tertentu dengannya.
"Kalau memang begitu, maka aku akan Terima jawaban kalian bertiga. Lalu … Bagaimana dengan kalian? Souris, Tristan, Pauper, dan Mordred."
Noelle membuka matanya yang sejak tadi terpejam, dan diam-diam melirik ke tiga sosok yang berada di dekatnya.
Tristan, atau juga Asher menganggukkan kepalanya sedikit, kemudian berbicara.
"Aku sendiri tidak layak untuk mengatakan ini, tapi … Keberadaan yang menyimpang harus dimusnahkan."
Asher mengucapkan itu dengan penuh penegasan, seolah menekankan pada semua orang di sana kalau ia serius. Noelle sepenuhnya mengerti perasaannya. Meskipun, Noelle memiliki cara lain untuk menyatakan persetujuannya.
"Secara pribadi, tentu aku setuju dengan keputusan kalian. Memusnahkan mereka semua adalah hal yang paling logis untuk dilakukan saat ini."
Dengan memanfaatkan situasi seperti yang ada di 'ramalan' itu, Noelle bisa saja berdalih dan bersembunyi di balik kalimat 'pembelaan diri'. Dalam situasi itu, menjadi tidak tega dan bersimpati adalah hal yang paling tidak masuk akal baginya.
Noelle tentu saja yakin kalau selain dirinya, semua orang di sana juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Hanya saja, cara berpikir dan cara mereka mengungkapkannya cukup berbeda. Itu yang membuatnya merasa kesulitan untuk membentuk suatu pemahaman.
Menyilangkan kedua lengannya, Noelle kemudian bersandar di kursi tempat ia duduk, dan mulai memikirkan beberapa hal sambil memperhatikan pergerakan konstan dari kristal violet di depannya.
"Hei … Apa kalian benar-benar percaya pada apa yang diperlihatkan kristal ini pada kita tadi? "
"Ada apa, Souris? Apa kau tidak percaya dengan apa yang baru saja kau lihat tadi? "
Damian bertanya padanya dengan mata yang sedikit menyipit dengan tajam, tapi itu tidak menghentikan Noelle dari membentuk pemikiran-pemikiran logis di kepalanya.
"Aku sendiri tidak tahu apa aku percaya atau tidak, tapi … Di saat seperti ini, mempertanyakan kebenarannya adalah hal yang logis, 'kan? Seseorang tidak bisa begitu saja mempercayai gambaran yang tiba-tiba muncul di kepala mereka tanpa sebab."
Begitu Noelle mengatakannya, semua orang kembali diam. Mereka jelas mengerti kalau semua yang Noelle katakan itu adalah hal yang benar.
Mereka tidak bisa begitu saja mempercayai gambaran masa depan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Lupakan tentang mempertanyakan ramalan itu sejenak, mereka berdelapan masih harus memikirkan situasi mereka saat ini. Ada begitu banyak pertanyaan sehingga mereka sedikit bingung ingin memecahkan pertanyaan mana lebih dulu.
Noelle sudah menemukan beberapa pertanyaan yang sangat krisual, dan memberikannya pada semua orang di sana.
Pertanyaan pertama adalah yang paling penting, itu adalah 'apa itu Asterisk? '. Jawaban yang dihasilkan dari pertanyaan yang satu ini akan membimbing mereka ke jawaban yang lain. Ini seperti bermain teka-teki silang yang dimana mereka harus menemukan satu jawaban sebelum menemukan jawaban lainnya.
Pertanyaan berantai ini sangat menjengkelkan bahkan bagi Noelle.
"Bukan berarti aku tidak memahami perasaanmu, tapi … Souris, tindakan apa yang akan kau ambil? Mengingat kau bahkan masih belum mempercayai 'ramalan' itu sepenuhnya."
Begitu Damian menanyakannya, Noelle menjentikkan jarinya beberapa kali sambil berpikir, lalu berbicara setelah membuat keputusan di kepalanya.
"Menjengkelkan mengakuinya, tapi … Tidak ada salahnya untuk mengambil tindakan yang sama dengan kalian saat ini. Baiklah, aku akan ikut."
"Heh, tsundere, kah? "
Arnaz berbicara dengan nada yang hampir tertawa seolah mengejeknya. Menanggapi itu, Noelle menyipitkan matanya pada Arnaz.
"Apa yang lucu, Caver? "
"Uwahh~ Menakutkan~"
Senyum mengejek masih tak menghilang dari wajahnya, tapi Arnaz dengan tenang menutup matanya dan meletakkan kedua kakinya di atas meja.
"Aku sudah memiliki keputusanku sendiri. Jadi itu terserah kalian ingin melakukan apa."
Meskipun Arnaz mengatakan itu … Pada kenyataannya, ia juga tidak memiliki ide tentang apa yang harus dilakukan dalam situasi ini. Sejak awal, satu-satunya pilihan yang dia dan yang lain miliki hanyalah 'melawan' untuk menghentikan semua yang terjadi di ramalan itu.
"Apa itu artinya aku bisa menganggap kalau semua orang di meja ini setuju dengan pengambilan tindakan segera? "
Semua orang tanpa mengatakan apa pun lagi langsung mengangguk pada Damian.
Noelle dan Arnaz terlihat tak berniat mengucapkan sepatah kata pun, dan Asher sejak tadi bahkan tak menggerakkan ekspresinya. Colyn, dan Tania juga memiliki ekspresi mengantuk di wajah mereka.
Selain Ethan yang tak menghapus senyum di wajahnya, hanya ada Lucia yang mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan para Damian.
"Maaf jika yang kutanyakan ini sedikit tidak terkait dengan 'rencana penindakan' tadi, tapi … Siapa yang akan jadi pemimpin di sini? Ahh, maksudku … Pemimpin akan sangat dibutuhkan untuk mengorganisir semua hal agar sesuai dengan apa yang direncanakan. Dan juga … Tepatnya, kapan kita akan mengambil tindakan itu? "
Lucia dengan mudah menanyakan pertanyaan yang sangat sensitif itu tepat di hadapan semua orang.
Berbicara tentang sosok pemimpin, mungkin tak ada yang lebih cocok dari sosok Damian yang menampilkan perawakan anggota militer, tapi, tetap saja itu sangat meragukan.
Noelle dengan lelah menghela napasnya dan menatap Lucia dengan mata tak bernyawa.
"Kurasa kita tidak membutuhkan itu. Lagi pula, tempat ini berisi orang-orang yang tak saling mengenal satu sama lain. Akan sangat aneh jika kita memutuskan seorang pemimpin sekarang."
"Dan? Kenapa begitu? "
Lucia bertanya padanya sambil tersenyum tipis. Menanggapi itu, Noelle mengangkat satu sudut bibirnya dan menaikkan kedua kakinya ke atas meja, seperti yang dilakukan Arnaz.
"Mengesampingkan hubungan kerja sama untuk menghadapi ramalan itu, aku sama sekali tidak mempercayai kalian. Kita semua baru mengenal selama kurang lebih tiga jam. Dan itu tidaklah cukup untuk membentuk suatu kepercayaan."
" … Aku setuju."
Asher yang sejak tadi diam tiba-tiba angkat bicara.
"Aku akan bekerja sama dengan kalian, tapi … Aku tidak bisa melakukan sesuatu lebih dari itu. Bagaimanapun, aku masih belum mempercayai kalian semua."
Mengatakannya secara blak-blakan seperti itu seharusnya akan menjadi masalah, tapi Asher tanpa rasa khawatir dengan mudahnya mengatakan itu semua.
Alasan Asher tidak ragu mengatakannya seperti itu, tentu saja karena ia tahu kalau selain dirinya, semua orang di sana memiliki perasaan dan pemikiran yang sama.
Sejak awal, alasan mereka semua dipertemukan masih belum jelas. Informasi yang mereka miliki masih terbatas.
Yang mereka tahu, Asterisk adalah kelompok yang terdiri dari hanya delapan, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Noelle dan yang lain saat ini adalah anggota generasi ke-47.
Mungkin mereka akan menemukan jawaban lainnya jika mereka menyelidiki semua patung yang ada di sana, tapi mereka akan melakukannya lain kali. Lagi pula, itu merepotkan.
Noelle hanya tersenyum masam saat menyadari isi pikiran Asher. Tidak salah lagi, Asher dan semua orang di sana memiliki pemikiran dan kesimpulan yang sama dengannya.
(Rasanya sangat menjengkelkan ketika seseorang memiliki isi pikiran yang sama denganku.)
"Kalau begitu, aku punya sedikit usulan."
Noelle tiba-tiba berbicara dan menarik perhatian semua orang di sana. Ia tak mempedulikan tatapan mereka, dan lanjut mengungkapkan ide yang ada di kepalanya.
"Di sini, kepercayaan lebih mahal dari nyawa seseorang. Kalau begitu, kita tidak perlu saling percaya di sini. Kita hanya perlu melakukan sesuatu untuk menghentikan ramalan itu tanpa harus bergantung satu sama lain. Asterisk akan menjadi kelompok delapan orang dengan anggota yang independen."
" … Apa maksudmu? "
Damian bertanya pada Noelle, dan langsung dijawab dengan senyum kecil.
"Seperti yang Tristan katakan. Aku juga tidak percaya pada kalian, dan kalian juga tidak percaya padaku. Kalau begitu, satu-satunya solusi adalah berhenti mengharapkan sesuatu dari masing-masing anggota. Kita akan tetap berkumpul untuk membahas beberapa hal, dan berbagi informasi, tapi kita akan bergerak secara sendiri-sendiri ketika waktunya tiba."
" " " " " " " ……… " " " " " " "
Semua orang mengangguk dengan penuh pengertian sambil terus mendengarkan usulan Noelle.
"Semua orang di Asterisk akan berdiri di posisi yang setara. Tidak ada yang lebih tinggi, dan tidak ada yang lebih rendah. Karena itulah, kita tidak butuh pemimpin. Kita hanya perlu bertindak berdasarkan keputusan yang diambil sesuai dengan apa yang kita diskusikan. Itu sama sekali tidak butuh kepercayaan, 'kan? "
Damian memejamkan matanya sejenak, lalu kembali menatap Noelle dengan mata menyipit.
"Aku setuju dengan usulan Souris. Tapi, apa kau benar-benar yakin dengan itu? Sebuah kelompok tanpa adanya pemimpin akan menjadi sangat kacau dan tidak teratur. Bagaimana kau akan mengurus itu? "
Noelle mengangkat bahunya sedikit dan memberikan senyum sinis pada Damian.
"Mudah saja. Kita hanya perlu memberi 'pelaku' yang menyebabkan kekacauan itu hukuman yang pantas. Kita ada delapan orang, 'kan? Asumsikan saja kalau ada satu, dua, atau tiga orang yang menyebabkan kekacauan pada kelompok, yang lain masih bisa memberikan hukuman yang layak pada pelaku itu."
Tentu saja, itu akan menjadi hal yang menyulitkan jika justru mayoritas anggota yang menjadi 'dalangnya'.
"Terdengar cukup bagus bagiku," ucap Colyn sambil mengayunkan kedua kakinya.
Tania membuat gerakan berpikir sejenak, lalu mengangguk tanpa mengatakan apa pun.
Arnaz mendengus sambil tersenyum, sementara Asher dan Ethan menunjukkan senyum tipis mereka.
" … Bagaimana menurutmu, Auger? "
Damian menoleh untuk melihat tanggapan dari Lucia, dan Lucia membalas tatapannya dengan memberikan senyum kecil dari balik tudung transparannya.
"Kalau begitu, kita semua setuju dengan usulan Souris. Mulai sekarang, Asterisk akan menjadi kelompok dengan anggota yang sepenuhnya setara tanpa ada yang lebih tinggi, atau lebih rendah."
"Lalu," Damian melanjutkan, "Untuk tindakan yang akan kita ambil untuk mencegah 'ramalan' itu terjadi di dunia nyata, kita akan melaksanakan 'pembasmian' tepat saat tengah malam nanti. Gunakan kemampuan teleportasi bersama yang diberikan kristal pada kalian untuk berkumpul. Untuk titik kumpulnya, aku akan mengumumkannya melalui telepati setelah melakukan penyelidikan nanti."
Mereka semua mengangguk secara bersamaan guna menanggapi Damian.
Noelle menghela napasnya, dan menatap sosok Colyn, serta Tania yang ada di hadapannya.
"Jika kita sudah selesai di sini, bisakah aku minta bantuan kalian berdua? "
Colyn dan Tania saling menatap dengan bingung.
"Aku berjanji akan memberikan bayaran yang layak tentang itu. Jadi bisakah kalian membantuku sedikit? "
" … Tentang apa itu? "
Setelah diam sejenak, Colyn kemudian angkat bicara.
"Sebenarnya … Aku merasa kalau teman-temanku di kota saat ini sedang menghadapi lawan yang merepotkan. Kurasa mereka tidak akan bisa mengalahkannya dengan mudah. Jadi, aku ingin kalian berdua meminjamkan sedikit kekuatan kalian."
Tak perlu waktu lama hingga negosiasi yang terjadi di antara Noelle, dengan Colyn dan Tania selesai.
Alhasil, Colyn dan Tania mau melakukan tugas yang diberikan Noelle, dan sebagai gantinya, Noelle akan memberikan mereka beberapa hadiah yang menurutnya cukup bagus.
Sekitar setengah jam kemudian, Colyn dan Tania kembali ke tempat berkabut itu dengan keadaan yang tidak cukup bagus. Bercak darah masih membekas di pakaian Colyn, dan penampilan Tania jadi cukup buruk dengan rambutnya yang berantakan, serta darah di wajahnya.
Noelle hanya mampu tersenyum masam saat melihat mereka, dan memutuskan untuk menanyakan situasinya pada Olivia nanti.
...****************...