![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Dexter! "
Dexter tidak mempedulikan peringatan dari Tian. Dia terus mengumpulkan kekuatan pada kepalan tangannya, lalu memukul. ke depan dengan sekuat tenaga.
Namun, bukannya melukai Moldy, tinju Dexter justru tidak pernah mencapai targetnya.
Moldy masih tersenyum di tempatnya berdiri, dan di hadapannya adalah seorang gadis yang terlihat lebih muda.
Dexter melebarkan matanya karena terkejut, namun karena itulah dia tidak memiliki waktu untuk membuat respon yang tepat.
Dengan kepalan tangannya yang tidak berhasil menyentuh apa pun, Dexter langsung terlempar jauh ke belakang hingga menabrak dinding bangunan yang rapuh.
Bangunan itu seketika runtuh setelah menerima hantaman dari tubuh Dexter.
Meskipun menerima hantaman yang kuat pada tubuhnya, Dexter masih bisa menjaga kesadarannya. Dia hanya sedikit meringkuk karena kesakitan, lalu kembali bangkit seolah tidak ada yang salah.
Di tempat Moldy, berdiri seorang perempuan yang kemungkinan berada di usia 20 tahun.
Gadis itu memakai jubah hitam yang menutupi tubuhnya, serta memegang sebuah tongkat sihir berukuran kecil di tangan kanannya.
"Terima kasih, Silis. Itu akan menyakitkan jika mengenaiku langsung," ucap Moldy berterima kasih pada gadis itu.
Gadis itu, Silis hanya meliriknya sedikit sambil tersenyum sebelum berkata, "Kau terlalu merendah. Seharusnya pukulan seperti itu tidak ada apa-apanya bagimu."
Tian yang melihat semua itu mau tak mau berkata, "Siapa dia? "
Dia cukup mempercayai laporan Noelle, dan dia yakin kalau tidak ada yang menyatakan keberadaan wanita lain selain Feran Cerces.
Yang artinya, wanita yang melindungi Moldy itu adalah bala bantuan.
"Begitu, ya … Informasi pengejaran ini sudah bocor. Karena itulah dia bisa mendapatkan bala bantuan."
Tian hanya bisa mengerutkan keningnya saat dia menyadari fakta itu.
Bukan hal yang langka jika informasi mengenai misi organisasi mengalami kebocoran. Namun, hal ini tetap membuat Tian heran.
Tidak banyak yang mengetahui kasus ini. Hanya anggota organisasi, dan para petinggi gereja.
Selain dari itu, seharusnya tidak ada yang tahu.
Pihak kepolisian memang memiliki sedikit informasi mengenai hal ini, tetapi mereka sama sekali tidak terlibat, mengingat ini semua adalah kasus yang berkaitan dengan gereja.
Untuk sejenak, Tian memikirkan sosok Noah Ashrain.
Memang, lelaki itu bisa menjadi tersangka pertama dalam masalah bocornya kasus ini.
Dia adalah anggota baru, dan kedatangannya tepat saat gereja menghadapi kasus Feram Cerces.
Itu adalah sebuah kebetulan yang terlalu bagus.
Memang benar Noah bergabung karena dia mengenal Erwin, tapi itu tidak menutup kemungkinan kalau Noah sebenarnya merupakan agen luar.
Noah juga merupakan kontributor terbesar untuk kasus ini. Dia memberikan banyak informasi yang berharga, sehingga Tian mau tak mau mempertanyakan bagaimana dia bisa mendapatkannya.
Meskipun begitu, Tian dengan cepat menghapus kecurigaannya terhadap Noah.
Tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Yang jelas, musuh mereka bertambah, dan kemungkinan akan ada musuh lain yang datang nantinya.
Tian mengangkat tongkat kayu di tangannya, memegang bagian ujung dengan kuat, lalu menariknya.
Sebuah bilah pedang yang tipis dan ramping muncul, dan Tian langsung dalam posisi bertahan.
Sebenarnya, tongkat yang selalu ia bawa selama ini adalah pedang, yang disamarkan menjadi tongkat biasa.
"Bersiap untuk serangan! "
Saat dia meneriakkan perintah itu, suara dentuman muncul dari sisi lain.
Menoleh kek kanan, Tian dapat melihat tiga sosok manusia. Dua sosok yang sudah ia kenal dengan baik, dan satu sosok asing.
...****************...
Ketiga sosok itu muncul di saat yang bersamaan. Salah satunya adalah seorang pria, yang terjatuh menghantam tanah dengan sangat keras.
Mereka adalah Noelle, Fice, dan Tania, yang akhirnya sampai setelah pengejaran singkat.
Yang pertama Tian lihat dari kelompok itu adalah kehadiran Tania. Gadis itu sangat asing, Tian yakin dia tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Kemudian, dia melihat pada Noah dan Felice.
Keduanya terlihat baik-baik saja, namun noda darah yang mengotori sekujur tubuh Noah membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.
Lebih dari itu, Noah tersenyum.
"Hei, apa kami terlambat? "
Noelle sudah menyadari situasinya, tapi tetap bertanya pada Tian karena akalnya yang sedikit rusak.
Dia masih belum pulih sepenuhnya dari kegilaan, tapi tingkat pemulihannya sudah cukup bagus sehingga dia bisa berbicara dengan agak normal.
" … Tidak. Kalian tepat waktu."
Tian masih tidak bisa memahami orang bernama Noah Ashrain ini. Meskipun ahli membaca suasana dan cenderung selalu mengikutinya, Noah masih memiliki suasananya sendiri, yang hanya memuat dirinya sendiri tanpa ada kehadiran orang lain.
Noelle yang mendapatkan jawaban dari Tian itu pun mengangguk senang. Dia melihat ke sekeliling, lalu matanya fokus pada sosok Moldy.
Moldy pun menatapnya, lalu tersenyum.
"Senang bertemu denganmu. Bagaimana harimu? "
"Itu sangat baik," jawab Noelle sambil bersiap menyerang dengan pedangnya.
"Benarkah? Senang mendengar itu." Moldy juga tidak tinggal diam. Dia langsung bersiap dengan sebuah pedang panjang di tangannya, dan beralih ke posisi kuda-kuda menyerang.
Namun, sebelum dia sempat maju, Silis menghentikannya.
"Dia bukan lawanmu. Kami sudah membawakan orang yang lebih tepat untuk mengatasinya."
"Haa? Apa maksudmu? Dwayne bilang aku bebas bersenang-senang hari ini."
"Peraturannya sudah diubah. Aku sudah memanggil orang lain yang lebih layak. Kau sebaiknya cukup hadapi pria tua itu. Dia sepertinya cukup kuat, kau tahu? "
Moldy dengan tidak senang menggaruk kepalanya dan mendecakkan lidah.
"Sialan. Bertarung melawan orang tua bukanlah hobiku. Aku tidak ahli dalam menahan diri."
Moldy menutup mata dan berjalan sambil mengayunkan pedangnya sekali. Namun, suasana santainya itu seketika hancur saat dia merasakan aura membunuh yang sangat kuat mendekat.
Tanpa dia sendiri menyadarinya, dia sudah mengangkat pedangnya, dan menangkis serangan yang datang.
Serangan itu berasal dari Tian, seorang pria tua yang ia remehkan sebelumnya.
"Tunggu, jangan bilang kau ini … Cukup kuat? "
"Entahlah. Aku sudah terlalu tua untuk ini. Sudah waktunya bagiku untuk pensiun."
Atas jawaban datar Tian, Moldy hanya tersenyum dan tertawa kecil. Dia kemudian mengerahkan tenaga yang lebih besar, hingga akhirnya bisa membuat Tian harus melompat jauh ke belakang.
"Kalian semua, bersiaplah untuk semua serangan. Jangan alihkan fokus kalian dari musuh. Prioritaskan untuk menyelamatkan yang terluka, lalu bantulah yang lain untuk menyingkirkan bala bantuan."
"Baik! "
Semua anggota membalas Tian secara serempak, lalu mulai bersiap untuk menyerang Silis.
Biar pun mereka ragu apakah Tian sanggup menghadapi Moldy sendiri, bukan hak mereka untuk menginterupsi. Perintah pimpinan adalah prioritas utama.
Silis sudah menyelesaikan urusannya dengan Moldy, jadi dia berbalik melihat ke arah kelompok Noelle.
"Sekarang, aku harus menyelesaikan urusanku dengannya di sini," ucap Silis sambil tersenyum.
Tatapannya diarahkan pada satu orang, dan itu adalah Felice. Silis sepenuhnya mengabaikan kehadiran anggota pengejaran, sekaligus Noelle dan Tania.
Untuk sejenak, Felice bingung, namun tak lama kemudian, dia akhirnya sadar. Matanya melebar, dan dia dengan wajah tidak percaya berjalan mundur selangkah demi selangkah.
"T-tidak mungkin … "
Seolah baru saja melihat hantu, Felice terus menggumamkan kata 'tidak mungkin' sambil mengambil langkah mundur.
Tidak mungkin dia tidak mengenalnya. Wajahnya memang terlihat berubah. Namun, gadis itu tetaplah orang yang Felice kenal.
"Silis … "
Meskipun bersusah payah menghadapi ketakutannya, Felice tetap gemetar saat dia menyebutkan nama itu.
...****************...
Noelle dengan cepat memahami situasi yang terjadi di antara Felice dan Silis. Dia kemudian berinisiatif untuk memperingatkan orang-orang di sekitarnya.
(Hei, apa kau tahu sesuatu tentang orang itu? Aku merasa cukup familiar dengannya.)
Noir mungkin tahu sesuatu, karena itulah Noelle bertanya padanya. Tentu saja, dia masih tidak begitu berharap kalau Noir akan menjawabnya.
『Hehe, dia orang yang sangat mudah iri, ya? 』
Meskipun bukan jawaban langsung yang diberikan, Noelle tetap memahami maksudnya.
(Begitu, ya? Dia adalah pemegang skill《Envy》, ya? Hehe, tidak kusangka kalau deduksiku yang sederhana waktu itu menghasilkan jawaban yang benar.)
(Yahh, kurasa merupakan hal yang bagus untuk menemukan pemilik skill dosa lainnya.)
Sejauh ini, hanya Olivia dan Charlotte yang Noelle ketahui memiliki skill dosa. Untuk yang lain, dia masih belum menemukannya.
Dia kemudian menoleh pada Tania.
"Selesaikan urusanmu dengan cepat. Portalnya ada di dekat sini, 'kan? "
Tania mengangguk. "Sangat. Portal itu … Ada di balik bangunan itu," ucap Tania sambil menunjuk pada sebuah proyek kontruksi yang tidak diselesaikan.
Noelle tidak merasakan sesuatu yang aneh dari tempat itu, tapi itu mungkin karena dia memang tidak dapat merasakannya.
Keunikan Tania membuatnya dapat dengan jelas merasakan energi dan keberadaan dari dunia bawah. Jelas itu akan berbeda dari manusia kebanyakan.
"Bantuan. Apa kau membutuhkannya di sini? "
Menanggapi pertanyaan Tania, Noelle dengan cepat menggeleng. "Tidak. Tidak perlu."
Tania sekali lagi mengangguk padanya, dan kemudian pergi. Setelah itu, Noelle kembali mengarahkan fokusnya pada Silis.
"Hei, kau wanita cantik. Apa kau ingin menemaniku malam ini? "
Tentu saja, kata-kata itu sama sekali tidak serius.
Namun, hasil dari kata-kata itu berhasil membagi perhatian Silis pada Noelle. Silis menatap pada Noelle, kemudian mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman yang licik.
"Aku akan senang melakukannya, tapi maaf karena aku masih memiliki urusan. Sebagai gantinya, kau bisa bermain dengan orang itu sebentar."
Noelle melihat ke arah yang Silis tunjuk, dan seketika mengangkat alisnya.
"Kau menyuruhku untuk bermain dengan pria tua? Bukankah itu sangat jahat? "
Tempat yang ditunjuk oleh Silis, adalah tempat di mana munculnya sesosok manusia yang ditutupi dengan jubah hitam.
Meskipun seluruh tubuhnya ditutupi dengan jubah yang tebal, Noelle yakin kalau sosok itu adalah seorang prita tua.
Sangat mudah mengidentifikasinya berdasarkan suara langkah kaki, postur, dan cara berjalan.
Sosok itu pun berjalan tanpa ragu, hingga akhirnya berhenti tepat di antara lokasi Noelle dan Silis.
Para anggota pengejaran yang berniat menyerang Silis pun berhenti saat melihat sosok itu.
Satu per satu dari mereka diam tak bergerak seperti batu, sebelum akhirnya terjatuh tanpa daya ke tanah.
(Apa mereka mati? )
Noelle dengan sedikit waspada melihat pada tubuh para anggota pengejaran. Karena jaraknya yang terlalu jauh, dia tidak bisa memastikannya dengan jelas, tapi kelihatannya mereka masih hidup.
『Mereka semua masih hidup, tapi kesadaran mereka telah ditarik sepenuhnya. Hehe, sudah lama aku tidak melihat ini.』
Apa itu artinya hal semacam ini pernah terjadi? Noelle masih agak ragu dengannya, tapi Noir benar-benar tahu banyak tentang segala sesuatu yang terjadi.
Selain itu, kekuatan untuk menarik kesadaran seseorang secara paksa adalah kekuatan yang jelas mengerikan. Itu sangat efektif digunakan dalam pertarungan.
Noelle tersenyum tipis saat membayangkan bagaimana cara kerja kekuatan orang itu.
Lebih dari itu, yang membuatnya lebih terkejut adalah identitas di balik jubah itu. Noelle masih sedikit tidak menyangkanya, tapi dia mau tak mau harus menerima kenyataan.
"Hehehe … Aku tidak menyangka kalau kau memiliki kekuatan seperti itu, Pak tua."
Suaranya menjadi semakin datar, dan lama kelamaan menjadi tidak bernada. Noelle terus menatap pada sosok yang disembunyikan jubah itu, sampai akhirnya sosok itu membuka tudung jubahnya sendiri.
"Bagaimana kau bisa langsung mengenaliku? "
Sejak kemunculannya di tempat ini, Noelle langsung mengenalinya. Dia masih tidak ingin percaya, tapi kenyataan yang disajikan di hadapannya ini membuatnya sedikit tidak nyaman.
Dia sudah mengembangkan perasaan simpati yang kompleks terhadap orang ini, dan kali ini dia telah muncul sebagai musuh.
"Apa namamu adalah Gild? "
Pria tua itu tersenyum tipis, lalu mengangguk padanya.
Sebenarnya, sampai sekarang, Noelle masih ingin menyangkal kenyataan bahwa pria tua yang memberinya nasihat di kota Nif dulu merupakan seseorang bernama Gild, dan dia adalah musuhnya.
"Begitu, ya … "
Meskipun begitu, Noelle tidak membiarkan dirinya terganggu akan hal itu. Kenyataan di hadapannya membuatnya semakin yakin untuk bertindak.
Di sebelah sana, Tian dan Dexter sedang bertarung melawan Moldy, dan di dekatnya juga Silis masih dalam keadaan yang menyedihkan.
Tidak banyak pilihan yang dia miliki.
Noelle tersenyum dan menatap sosok Gild sambil mengarahkan satu ujung pedang padanya.
"Mati."
...****************...
Gild membalas kalimat ancaman Noelle dengan mengangkat tangannya yang memegang sebuah tongkat kayu.
Tidak ada yang spesial dari tingkat itu, namun pandangan Noelle terus tertuju padanya. Kemudian, barulah dia sadar kalau tongkat itu memiliki efek yang dapat menarik perhatian orang lain.
Noelle kemudian melihat ke arah lain, dan terkejut. Yang dia lihat adalah lengan Gild, dan yang ada di sana seketika membuatnya terkejut.
Bagaimana tidak? Di lengan yang seharusnya organik itu, kristal ungu kehitaman aneh justru terlihat sedang menyelimuti seluruh bagian lengannya.
"Virus itu … "
Gild mendengar apa yang Noelle gumamkan, dan dia melihat pada lengannya sendiri.
"Luar biasa bukan? Aku berhasil selamat dari wabah itu, tapi penyebaran kristalnya tetap tidak berhenti."
Seingat Noelle, Gild, atau pria tua itu hanya memiliki kristal di bagian lehernya. Sebelumnya, bagian tangannya masih seperti manusia normal.
Bagaimana mungkin kristal itu tiba-tiba menyebar? Wabah itu adalah kejadian lama, dan seharusnya Gild sudah selamat darinya. Namun, kristal itu justru baru menyebar sekarang.
"Kupikir aku sudah berhasil lari darinya, tapi kristal ini masih terus menyebar, dan kecepatan penyebarannya menjadi semakin meningkat semenjak pertemuan kita. Aku penasaran, apa yang menyebabkannya? "
Gild terus melihat pada kristal yang menempel di lengannya, lalu tersenyum lebar.
"Tapi aku sudah tidak peduli. Usiaku memang sudah tidak lama lagi. Selama aku bisa terus memanfaatkan kekuatan dari kristal ini, aku akan baik-baik saja."
(Kekuatan? Apa maksudnya? )
『Hehehe, karena sepertinya kau benar-benar kebingungan, maka aku akan memberitahumu. Kristal di tubuhnya itu memberinya kekuatan tambahan. Kau lihat saat dia menjatuhkan semua orang tadi? Itu adalah kekuatan yang diberikan kristal itu. Hehe, dia benar-benar sudah menyatu dengan kristalnya.』
Secara keseluruhan, Noelle masih belum terlalu mengerti. Namun, dia sudah sedikit memahami intinya.
Jika ada seseorang yang selamat dari wabah kristal itu, maka dia akan diberkahi dengan kekuatan baru dari kristal. Mungkin begitu yang Noir maksud.
"Yahh, aku tidak peduli dengan itu. Pokoknya mati."
Noelle tidak mengatakan apa pun lagi, dan langsung menerjang ke depan.
Dia menjulurkan pedangnya ke depan, dan menargetkan dada Gild. Namun, Gild dengan mudah menangkap tusukan pedangnya dan membelokkan serangan itu ke arah lain.
Tak berhenti di sana, Gild langsung memanfaatkan kesempatan dengan melompat dan berputar di udara guna mengumpulkan momentum yang tepat. Momentum itu kemudian ia gunakan untuk memberikan tendangan pada bagian perut samping Noelle.
Tentu saja, serangannya tidak berhasil.
Noelle telah lebih dulu mengubah posisinya, sehingga tangannya berhasil menangkap tendangan Gild.
Noelle seketika menyuntikkan lebih banyak tenaga pada cengkeramannya, dan memanfaatkan itu untuk melempar Gild ke arah lain.
Gild terpental jauh ke belakang, tapi dia berhasil memperbaiki posisi. Dengan menempelkan jari-jari tangannya ke tanah, Gild berhasil menahan tubuhnya agar tidak terpental terlalu jauh.
Kemudian, tongkat kayu di tangannya bersinar dengan cahaya mengerikan, yang kemudian dia ketuk ujungnya ke tanah.
Seketika, sebuah portal menuju dunia bawah terbuka, dan belasan monster dengan wujud yang aneh keluar tanpa terkendali dengan niat membunuh yang terarah pada Noelle.
"Yang benar saja … "
Noelle mengerutkan keningnya dengan perasaan tidak senang saat dia melemparkan pedangnya ke depan, dan menggunakan rantai darah untuk mengendalikannya.
Pedang yang merupakan gabungan antara Langen dan Verstand dengan pola tak tentu terus menebas semua yang dilewatinya. Noelle tanpa henti mengayunkan pedang itu melalui rantai, yang kemudian akan kembali ke tangannya sendiri.
Namun, dia salah memperkirakan.
Atau lebih tepatnya, dia benar-benar lupa.
Bukan hanya ada dirinya dan Gild di sana, dan Gild juga tidak mungkin hanya akan fokus padanya.
Noelle menoleh ke samping, dan menemukan Felice yang masih terduduk di tanah. Di sekelilingnya, beberapa monster dari dunia bawah berlarian ke arahnya, dan terlihat akan menyerang kapan saja.
(Ini mulai menyulitkan.)
Noelle menggunakan rantai darah yang ujungnya ia ubah menjadi cakar, lalu menarik dirinya sendiri ke dekat Felice.
Setelah sampai di posisi baru, dia segera menciptakan dinding batu dengan sihirnya, dan menghancurkan itu untuk memanfaatkan puing-puingnya sebagai senjata tambahan.
Puing batu yang keras itu menabrak tubuh para monster, tapi itu nyaris tidak memberikan luka pada mereka.
Noelle juga tidak tinggal diam. Dia menjulurkan lengannya ke depan, dan beberapa pedang seketika keluar dari udara kosong.
Masing-masing pedang itu menancap di titik fatal setiap monster, tapi ada beberapa monster yang masih bertahan hidup.
(Ayo lihat apa mereka bisa menahan sihir.)
Noelle mengarahkan telapak tangannya ke atas, dan menciptakan sebuah tombak api dengan sihirnya.
Tombak api itu terus membesar, dengan bagian dalamnya yang diisi dengan sebuah tombak batu.
Untuk berjaga-jaga jika sihir tidak berfungsi, Noelle menyiapkan sebuah tombak batu agar jika sihir apinya menghilang, tombak batu itu masih memiliki waktu untuk memberikan luka.
Tombaknya sudah memiliki ukuran yang besar, dan Noelle tanpa ragu melemparkannya pada kerumunan monster.
Sebuah ledakan terjadi, dan bebatuan kecil bersuhu panas ditembakkan ke semua tempat.
Hasilnya—
"Tidak berhasil, ya … "
Semua monster itu berhasil bertahan dari sihir api, namun setidaknya salah satu dari mereka memiliki sebuah tombak batu yang menembus tubuh mereka.
"Monster dari dunia bawah cenderung memiliki ketahanan sihir yang kuat. Kau harus menggunakan serangan fisik untuk membunuh mereka."
Tania tiba-tiba mendarat di sampingnya, dan menatap semua monster itu. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah portal yang berada tak jauh dari Gild.
"Apa kau sudah selesai dengan urusanmu? "
Tania menggeleng. "Kupikir sudah, tapi portalnya juga dibuka di sini. Aku harus menutupnya."
Noelle tersenyum sambil menatap pada Gild di kejauhan.
"Mau membagi tugas? "
Tania menjawab tanpa ragu, "Ya. Lagi pula, hanya akan ada bencana jika kita membiarkan portalnya terbuka."
"Kalau begitu … "
Noelle melirik Felice di belakangnya, dan menghela napas ringan.
Dengan keadaan seperti ini, tidak mungkin Felice bisa ikut bertarung. Namun, Silis masih mengincarnya, yang artinya ini adalah situasi yang buruk.
"Ayo alihkan perhatian mereka semua."
Tania mengerti maksud Noelle, dan dia segera mengangguk.
"Baik."
...****************...