[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 301: Kilasan (1)



...****************...


Hanya bisa menghela napas pasrah atas kecerobohan Tania, Noelle akhirnya berpikir sendirian. Saat ini, ada banyak yang ingin dia tanyakan. Terlalu banyak sampai dia kerepotan memilah-milah pertanyaan itu di kepalanya sendiri.


(Kalau ini benar-benar disebabkan virus … kenapa kami tidak ikut terinfeksi? Tidak, kesampingkan itu dulu, ada yang sangat aneh di sini.)


Noelle mengerutkan keningnya, dan mulai menggertakkan giginya sendiri saat memiliki berbagai teori yang mulai berkembang secara berlebihan di kepalanya.


Karena itu, dia ingin memastikannya.


"Hei, katakan padaku. Sudah berapa lama kalian semua, suku Artof hidup? "


Tania mungkin tidak terlalu memikirkannya, tapi sebenarnya ini masalah yang serius bagi Noelle.


Meski pertanyaan itu ditujukan langsung pada Dolum, Noelle ragu kalau jawabannya akan sangat membantu. Bagaimanapun, suku Artof hidup terisolasi dari dunia luar. Mungkin saja mereka memiliki sistem penanggalan yang berbeda, dan catatan waktu mereka tidak akan banyak berguna bagi Noelle yang ingin mengetahui jawabannya.


Tapi, ada satu cara yang sebenarnya bisa Noelle gunakan untuk mengonfirmasinya. Meski begitu, untuk saat ini, dia akan menggunakan jawaban dari Dolum terlebih dahulu.


Dolum terlihat agak ragu, dan dia tidak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya, dia hanya mengusap kepala botaknya beberapa kali sebelum akhirnya menjawab dengan samar.


"Saya sendiri tidak yakin, tapi … dari catatan yang ditinggalkan para pendahulu, banyak dari mereka mengatakan kalau awal keberadaan kami sudah sangat lama. Tunggu sebentar."


Dolum membuka bukunya dan sibuk membolak-balik halaman. Sampai—


"Ini dia. Ini adalah catatan yang ditinggalkan oleh kepala suku dua generasi sebelum saya. Beliau bilang kalau eksistensi suku Artof sudah bertahan selama berabad-abad."


Yang menjadi masalah, Dolum sama sekali tidak memahami arti kata 'abad'. Bisa jadi kata 'abad' memiliki arti yang berbeda di kamus suku Artof.


Tapi, mengesampingkan itu semua, Dolum memang terlihat seperti seorang pria tua, meski tingginya di bawah rata-rata.


Bahkan meski suku Artof memiliki pemahaman yang berbeda terkait waktu, perbedaannya seharusnya tidak akan terlalu besar, mengingat mereka mengandalkan pengetahuan yang leluhur tinggalkan.


Selain itu, mereka masih tahu siang-malam, dan konsep hari serta bulan. Jadi Noelle menyimpulkan kalau perbedaan tidak akan terlalu menjadi masalah.


Hanya saja ….


"Berapa umurmu? " tanya Noelle pada Dolum.


Dolum hanya mengatur napasnya sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "49 tahun, tapi saya tidak yakin apakah itu adalah usia yang benar jika dihitung menggunakan standar waktu dunia luar."


"Selain itu," Dolum menambahkan, "Kami suku Artof tidak memiliki kesempatan untuk hidup dalam waktu yang lama. Kebanyakan dari kami akan berubah menjadi kristal saat menginjak usia enam puluhan."


(Jadi imunitas mereka berkurang seiring dengan bertambahnya usia, ya ….)


Memang, itu masuk akal. Semakin tua seseorang, semakin lemah pula mereka. Tidak heran jika virus mulai menginfeksi saat imunitas itu menurun.


(Tidak, bukan itu masalahnya. Fokuslah, Noelle.)


Noelle langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat guna menyingkirkan semua pemikiran yang tidak terlalu penting.


"Jawablah, apa kalian semua benar-benar sudah berada di Hutan Dingin sejak lama? "


Dolum tidak menjawab dengan kata-kata, tapi langsung mengangguk tanpa pertimbangan sedikit pun. Ini membuat Noelle semakin yakin.


Noelle mundur beberapa langkah dan menarik Tania bersama dengannya. Sesaat setelah mereka sampai di ujung ruangan, Noelle langsung berbisik. "Tania, sudah berapa lama Hutan Dingin ada? "


Tania diam sejenak, mencoba mengingat-ingat. Jika dia tidak salah ingat, ada catatan yang menyatakan kapan Hutan Dingin ditemukan.


Sesaat kemudian, Tania mengangkat wajahnya. "Ada di buku catatan yang kita baca. Hutan Dingin ditemukan pertama kali sekitar tahun enam ratus kalender Republik. Itu sekitar satu setengah abad yang lalu."


Republik dan Kerajaan memiliki sistem penanggalan yang sama, jadi tidak akan ada kesalahpahaman antara informasi yang dimiliki Noelle dengan Tania. Tapi, bagaimanapun juga, jawaban Tania membuatnya terkejut.


Saat ini sudah tahun 741 berdasarkan kalender Kerajaan. Jika Hutan Dingin benar-benar ditemukan sekitar tahun enam ratus, dan dalam keadaan 'musim dingin abadi' yang sama, maka itu membuktikan tokoh Ratu Bengis sudah ada selama sekitar satu setengah abad.


Ini agak sesuai dengan informasi yang Dolum berikan.


Tapi kemudian, jika memang sudah selama itu, kenapa bisa ada Wabah Kristal?


Wabah Kristal pada awalnya adalah sebuah virus yang disebarkan secara sengaja oleh pihak Voyager. Dan itu sekitar dua atau tiga dekade yang lalu. Waktunya tidak akan mencapai satu setengah abad.


Tapi, suku Artof kemungkinan besar telah ada sejak awal Hutan Dingin ditemukan. Atau, mereka bahkan sudah hidup lebih lama, mengingat tidak ada cara untuk memastikannya.


Yang jelas, keberadaan suku Artof seharusnya muncul dalam waktu yang sama atau berdekatan dengan kemunculan Ratu Bengis.


Bagaimana mungkin virus yang menyebar di Kerajaan bisa muncul di waktu lampau—satu setengah abad yang lalu?


Ini hanya berarti satu hal; Wabah Kristal telah ada bahkan sebelum 'mereka' menyebar di daerah tertentu yang dekat dengan Kerajaan. Tapi, bagaimana?


Apakah itu juga disebarkan oleh pihak Voyager? Tapi, jika mereka sudah melakukan itu, kenapa mereka harus repot-repot mengulangi eksperimen? Meski mereka sendiri tidak terlalu menyukai hasilnya. Bukankah tidak ada kebutuhan untuk mengulangi eksperimen ketika Voyager sudah menerima data dari eksperimen mereka pada pihak Ratu Bengis dan suku Artof?


Sambil berjalan kembali ke posisi sebelumnya, Noelle mulai menggerakkan roda gigi otaknya dengan kecepatan pemrosesan yang luar biasa


(Wabah Kristal yang muncul di sini bukan disebabkan oleh Voyager, tapi disebabkan hal lain. Pihak luar? Atau penyebab alami? Bagaimanapun, terlalu cepat untuk menyimpulkan ….)


Pikiran pertamanya adalah ide mengenai adanya pihak lain selain Voyager yang melakukan percobaan dengan virus. Namun, kelihatannya itu tidak mungkin.


Noelle tidak tahu pasti kekuatan intelijen milik Voyager, tapi mereka seharusnya tidak akan melewatkan informasi mengenai adanya eksperimen yang sudah dilakukan di masa lalu.


(Kalau begitu, penyebab alami, kah …? )


Itu tidak mustahil. Karena dari informasi yang dubagikan Auger Lucia, Voyager sendiri tidak begitu tahu dari mana asal-usul virus yang mereka bawa. Mereka hanya ingin bereksperimen demi alasan yang tidak diketahui.


Selain itu, sepertinya tidak hanya virus, sosok Kristal Penjajah yang terbaring di peti es itu pun menjadi misteri tersendiri.


Dari adegan mimpi yang Noelle lihat, sosok itu sedang bertarung, dan di akhir, dia membuat 'taman' yang dipenuhi dengan kristal dari virus yang sama. Ini membuat Noelle berpikir: 'Apakah ada keberadaan yang bisa mengontrol virus itu secara bebas? '


Voyager bahkan tidak mampu melakukannya. Mereka sampai harus menghasut beberapa pihak untuk memulai genosida hanya untuk melenyapkan virus itu sampai tak tersisa.


Tak menghiraukan keadaan pikiran Noelle yang agak kacau, Dolum telah melanjutkan perjalanan ke ruangan berikutnya. Tania mengikuti dari belakang sambil menarik tangan Noelle karena dia tahu kalau Noelle tidak akan peduli pada sekitarnya jika dia sedang sibuk berpikir.


Saat ini, mereka mungkin berada di pusat gua, jauh di kedalaman gunung. Ketiganya sampai di sebuah ruangan yang membeku, cukup luas, dan mungkin merupakan ruangan terakhir yang harus dikunjungi.


Namun, pemikiran itu runtuh ketika Noelle dan Tania melihat langsung sebuah gerbang raksasa yang menjadi pembatas antara ruangan ini dengan ruangan selanjutnya.


"Gerbang ini adalah apa yang ingin saya tunjukkan pada kalian."


Dolum, yang telah lebih dulu mendekati gerbang hanya bisa berkata-kata dengan pasrah. Dia tidak menuangkan banyak emosi, seolah dia sudah lelah melakukannya.


Pintu gerbang itu, sudah ada untuk waktu yang sangat lama. Anggota suku Artof yang lain tidak mengetahuinya, tapi setiap kepala suku akan mewariskan informasi pada kepala suku berikutnya. Dan informasi itu terkait erat dengan gerbang ini.


"Gerbang inilah yang selama ini melindungi kami dari Penjajah Kristal seperti yang saya perlihatkan di peti es itu."


Mendengar itu, Tania membelalakkan matanya. "Masih ada … Penjajah Kristal lain? "


Noelle juga ingin menanyakan hal yang sama, tapi dia sendiri sudah punya jawaban untuk itu. Tanpa tahu itu benar, Noelle menggunakannya sebagai dasar untuk setiap asumsi yang dia buat.


(Tidak mungkin hanya ada satu Penjajah Kristal. Tapi ….)


Apa di balik gerbang ini, ada lebih banyak kehadiran sosok itu? Memikirkannya saja membuat Noelle merasa kedinginan.


Setelah beberapa saat, Dolum akhirnya berkeinginan menjawab pertanyaan Tania sebelumnya.


"Tentu saja, Nona. Saya yakin ada lebih banyak dari mereka, dan mereka ada di balik gerbang ini, memberontak untuk dibebaskan."


Dolum kemudian berbalik, menatap Noelle dan Tania dengan serius. "Tapi, gerbang ini perlahan kehilangan kekuatannya."


Mengambil beberapa langkah ke depan, Dolum kembali berbalik dan menatap gerbang itu dengan mata yang menyipit.


"Saya dan semua leluhur yakin, kalau gerbang ini diciptakan oleh Ratu Bengis untuk melindungi kami. Tapi, kekuatanNya tidaklah abadi. Sedikit demi sedikit, sosok Penjajah Kristal yang lebih kecil akan keluar dari gerbang, membuat kami harus bertsrung untuk melindungi desa."


"Penjajah Kristal …."


"Yang lebih kecil? "


Noelle dan Tania saling melengkapi kalimat mereka, dan seketika mendapat respon positif berupa anggukan kepala dari Dolum.


"Mereka sepenuhnya terbuat dari kristal, tapi mereka hidup, keluar dari kubangan Lumpur Hitam, dan merangkak seperti hewan kecil. Saya memang belum pernah sekalipun melihat yang wujudnya sama dengan yang ada di peti es, tapi saya yakin kalau ada keberadaan yang serupa di balik gerbang ini."


Dari belakang, Noelle menyadari senyum tipis yang Dolum buat.


"Ahh, saya lupa. Ini sudah waktunya, ya? "


Dolum menoleh dan tersenyum pada mereka. Dan di saat yang sama, cairan hitam perlahan mengalir keluar dari celah pintu, menciptakan kubangan lumpur yang menjijikkan.


Mirip seperti tar, namun tidak berbau, dan itu bergerak-gerak seperti makhluk hidup.


Sejenak, ini mengingatkan Noelle pada transformasi yang dimiliki para anggota Swallow Life Order, tapi kemudian dia menyadari kalau keduanya adalah hal yang berbeda.


Mungkin inilah yang Dolum maksud dengan 'Lumpur Hitam'. Dan satu per satu, sosok kecil timbul dari permukaan, seperti seseorang yang akhirnya kembali setelah menyelam ke dasar laut.


Wujudnya memang kecil, terlihat seperti sekawanan ladybug dengan ukuran yang setara dengan seekor unggas seperti angsa.


Namun, yang paling mencolok, adalah tubuhnya yang sepenuhnya tercipta dari kristal ungu kehitaman, dengan corak kuning di beberapa bagian. Hampir identik dengan sosok Penjajah Kristal yang terbaring di peti es.


"Jadi ini … yang kau maksud dengan Penjajah Kristal yang lebih kecil …."


Tania menggeram pada Dolum, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain menyiapkan sabitnya.


Namun, semakin lama dia melihat kelompok Penjajah Kristal itu, semakin berat perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.


"Ada apa? Nona? Tuan? Apa ada masalah? Saya sudah repot-repot meliburkan semua penjaga untuk satu hari, agar kalian mendapat kesempatan untuk menyaksikannya sendiri; kemunculan para Penjajah Kristal itu. Apa kalian tidak tertarik? "


Tidak ada yang merespon. Baik itu Noelle atau Tania hanya terdiam, memusatkan perhatian mereka pada sekelompok Penjajah Kristal yang datang mendekat dengan cara merayap.


Hingga akhirnya, hembusan angin yang kuat muncul. Tidak secara alami, melainkan tercipta karena pergerakan yang dilakukan dengan sangat cepat.


Noelle telah menghilang dari samping Tania, dan kembali muncul tepat di atas sekumpulan Penjajah Kristal itu.


Dengan satu lompatan raksasa, Noelle hampir tiba di kubangan lumpur tempat pata Penjajah itu keluar. Dan itu tidak sia-sia.


Kehadirannya membuat para Penjajah Kristal mengalihkan perhatian mereka, dan sepenuhnya terpusat padanya seorang.


Namun Noelle, masih dalam tampilan tak berekspresi, dengan tenang menghabisi satu per satu Penjajah Kristal yang datang.


Sebuah pedang keluar di udara kosong, dan seketika menancap di tubuh Penjajah Kristal. Hal itu terus berlanjut hingga lantai di sekitar kubangan lumpur itu telah dipenuhi dengan pedang yang menancap lurus ke lantai es.


Akhirnya, semua makhluk kecil itu lenyap, dan Noelle mendapat kesempatan untuk mendarat. Dia berdiri diam dengan menggunakan salah satu pedangnya sebagai pijakan, fokus menatap kosong pada kubangan lumpur itu.


Dan seolah merespon tatapan kosong yang penuh dengan kebencian itu, kubangan lumpur mulai memuntahkan sosok lain.


...****************...