![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Noelle sudah tahu ini sejak awal, tapi tetap saja ia tidak menduga kalau situasinya akan lebih dari yang dia pikirkan.
Kota Féncen selalu terkenal karena kepadatan penduduknya. Namun, yang Noelle lihat sekarang ini jelas jauh lebih banyak dari yang diberitakan.
Dia baru saja turun dari kereta, dan bersiap pergi dari stasiun. Namun, jalannya terhalang oleh puluhan orang dari berbagai ras yang dengan buru-buru menaiki kereta.
Hanya setelah setengah jam kemudian Noelle akhirnya bisa keluar dari stasiun. Untungnya, tidak ada barang yang menghilang meski ia merasakan beberapa tangan yang meraba kantungnya saat itu.
Justru, Noelle berhasil mendapatkan satu atau dua dompet tambahan di tengah keramaian itu.
"Seseorang benar-benar harus waspada saat di tengah keramaian, huh … "
Stasiun di kota ini memiliki ukuran yang cukup besar, tapi bahkan dengan ukuran itu masih tak sanggup menampung gelombang pengunjung yang tidak pernah berakhir.
Bahkan saat Noelle sudah di luar, dia masih dikelilingi oleh puluhan orang asing yang lewat.
"Untuk sekarang … "
Noelle menghela napas lelah dan menatap lurus ke depan, tapi dia tidak bisa menemukan palang petunjuk arah yang seharusnya diletakkan di sana. Mungkin sudah roboh atau dipindahkan.
Papan petunjuk arah memang penting, tapi itu bukan hal yang perlu Noelle khawatirkan. Dia bisa bertanya pada orang lain tentang lokasi tujuannya.
Sayangnya, karena keramaian di stasiun itu, Noelle tidak sempat membeli peta lokal. Satu-satunya yang sempat ia dapatkan adalah koran yang baru saja terbit pagi ini.
Isi beritanya sendiri tidak terlalu penting, kebanyakan hanya berupa promosi dagang. Namun, di pertengahan halaman, Noelle melihat berita yang ingin ia cari.
Mengabaikan judul yang dibuat dengan ukuran yang besar, Noelle langsung membaca poin penting yang ada di berita itu.
Pertama, kondisi keuangan di kota ini cukup stabil, dan yang lainnya adalah keadaan politik yang saat ini sedang berlangsung.
Ada perdebatan yang panas antara dua pihak yang mencalonkan diri untuk menjadi walikota berikutnya.
Secara keseluruhan, itu cukup bagus. Dari kelihatannya, tidak akan ada maslah besar yang terjadi. Kota ini juga terletak tepat di tengah, dikelilingi beberapa kota besar lainnya, jadi tidak akan ada banyak monster kuat berkeliaran di daerah pinggiran.
"Ini kondisi yang sempurna."
Noelle tersenyum tipis dan melipat kembali korannya. Dia kemudian lanjut berjalan dengan menenteng satu koper besar, lalu berhenti tepat di pinggir jalan.
Jalanan utama cukup ramai dengan kereta kuda, jadi sulit untuk menemukan waktu yang tepat untuk menyeberang. Jadi, Noelle pada akhirnya mengambil rute lain dengan memutar di alun-alun kota.
Di sekitar alun-alun kota, Noelle segera menaiki kereta yang ditarik dua ekor kuda. Ini adalah metode transportasi paling umum di sini, dia naik bersama beberapa penumpang lainnya.
"Ke mana tujuanmu? "
Kusir kuda itu sedikit kasar, tapi Noelle tidak keberatan. Dia segera mengangguk dan menjawab, "Gereja Dewi Zelica."
"Baiklah, 20 Penny untuk itu."
Noelle hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Penny adalah jenis uang terendah di Republik, yang nilainya hanya setara dengan satu tembaga atau perunggu di Kerajaan.
Bagi Noelle, itu adalah jumlah yang sedikit, jadi dia tidak keberatan untuk membayar dengan jumlah itu.
Kusir kuda itu menganggap anggukan Noelle sebagai konfirmasi terakhir, jadi dia tidak mengatakan apa pun lagi dan langsung mengendalikan dua ekor kuda yang menarik keretanya.
Tingkat prioritas pengantaran penumpang diurutkan berdasarkan lokasi tujuan mereka. Karena tujuan Noelle cukup dekat, maka kusir itu lebih mendahulukan Noelle sebelum mengantarkan penumpang lainnya.
Jarak antara alun-alun dengan gereja tujuan Noelle tidak terlalu jauh, namun masih memakan waktu yang cukup lama jika hanya ditempuh dengan berjalan kaki.
Kereta kuda itu mengambil belokan di kiri saat mencapai persimpangan. Arah itu adalah kawasan pusat kota yang memiliki banyak bangunan bersejarah dan titik paling penting dalam urusan administratif. Gereja berada di kawasan itu, sedangkan arah lainnya adalah kawasan pemukiman, area pabrik produksi, dan banyak arsitektur sosial lainnya.
Setelah beberapa belokan di jalanan yang besar, kereta akhirnya berhenti. Noelle segera turun dan memberikan bayaran dengan jumlah yang sesuai pada kusir.
Di stasiun sebelum ia mencapai kota Nim, dia menyempatkan diri untuk mengunjungi bank dan melakukan penukaran. Noelle menganggap itu tidak akan bagus jika ia terus menggunakan mata uang Kerajaan untuk melakukan pembayaran.
Bagaimanapun, Noelle sekarang adalah Noah Ashrain, orang asli Republik. Akan mencurigakan jika ia memiliki lebih banyak uang Kerajaan daripada uang Republik.
Setelah turun dari kereta, Noelle segera melihat sekeliling dan mengamati pemandangan di sekitarnya.
Gereja yang ia tuju sudah ada di hadapannya, tapi fokus Noelle bukanlah gereja itu, melainkan bangunan lain yang ada di sekitarnya.
Salah satu bangunan itu kemungkinan besar menjadi basis utama untuk organisasi milik gereja, yang dinamakan Lunatic Order.
Pengamatannya selama beberapa menit sama sekali tidak membuahkan hasil. Noelle dengan berat hati duduk di bangku taman dan menghela napas lelah.
"Tidak ada gunanya mencari mereka dengan cara ini … Mereka benar-benar berhati-hati, aku bahkan tidak bisa merasakan kehadiran mereka … "
Jika itu adalah organisasi atau kelompok berandalan biasa, Noelle bisa menemukan mereka dengan mudah. Caranya adalah dengan memaksimalkan jangkauan deteksinya, dan memeriksa bangunan dengan banyak penghuni, atau dia juga bisa mendeteksi kekuatan yang bocor dari orang itu sendiri.
Sebuah organisasi pastilah akan memiliki satu atau dua orang yang kuat, jadi mudah untuk menemukan mereka melalui deteksi mana.
Sampai saat ini, Noelle belum menemukan satu pun dengan kekuatan yang 'luar biasa' dengan deteksinya. Paling banyak, dia hanya menemukan sekelompok orang dengan kekuatan yang lebih besar dari manusia biasa, tapi mereka hanyalah kelompok petualang.
(Yahh, jika kehadiran mereka bisa kurasakan, maka tidak layak untuk menyebut mereka sebagai 'Pelayan Dewi'.)
Noelle diam-diam tersenyum mencela, lalu segera berdiri. Dia menatap kosong pada bangunan gereja itu sejenak, kemudian mulai meregangkan tubuhnya.
Dia sudah di sini, ada baiknya untuk memeriksa dengan lebih detail. Erwin tidak menunjukkan alamat yang lebih spesifik untuk suratnya, jadi Noelle bisa menyerahkan itu pada gereja secara langsung. Justru, itulah pilihan terbaiknya.
Bunyi yang membuat telinga puas keluar dari tubuhnya, dan itu membuat persendian Noelle menjadi lebih lega.
Untuk sejenak, senyum di wajah Noelle menghilang. Dia segera beralih ke ekspresi tegas dan mulai berjalan memasuki gereja itu.
Begitu masuk, suasana yang menenangkan tiba-tiba memenuhi dirinya, membuat konsentrasinya seketika pecah. Berbagai ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul, terlintas di benaknya dan membuat dirinya mulai merasa sedih akan hal itu.
Itu berlangsung selama hampir 1 menit penuh. Selama itu pula, Noelle telah diam di tempatnya, tanpa sempat mencari tempat duduk. Dia benar-benar hanya berdiri tepat di depan pintu.
Begitu sadar, Noelle segera bergerak dan mengambil tempat duduk di barisan ke-tiga dari belakang. Barisan itu cukup kosong, dan sebagian besar orang mengambil bangku yang ada di barisan depan.
Secara alami, kilas balik tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa sebab. Noelle memang sudah merindukan Olivia, tapi dia sudah merelakan itu sedikit demi sedikit sehingga sekarang ia berada di tahap yang bisa menjalani hari tanpa memikirkannya sama sekali.
Karena itulah, Noelle bingung dengan apa yang terjadi padanya.
Tentu saja, dia sudah memikirkan beberapa alasan yang masuk akal terkait kejadian itu. Salah satunya adalah efek penenang yang muncul setelah dia melangkahkan kaki ke gereja.
Efek itu membuatnya mulai mengingat kenangan-kenangan indahnya, lalu untuk sejenak membuat Noelle tenang. Kesedihan yang berkaitan dengan kenangan itu perlahan memudar, dan pikiran Noelle menjadi sangat jernih.
Ini efek yang mirip dengan《Lust》yang selalu Olivia terapkan padanya.
Noelle menutup matanya, dan suara-suara di sekitarnya perlahan menghilang, digantikan dengan suara dari musik klasik yang sangat ia kenal.
Nadanya sangat halus, dan setiap ketukan pada tuts piano itu sangatlah lembut sehingga getarannya hampir tidak dapat dirasakan.
Detik kemudian, suatu adegan terlintas di benak Noelle. Itu adalah sosok Izaya, yang tampak berusia 13 tahun, sedang duduk di kursi, memainkan piano dengan jari-jari kecilnya.
Menontonnya, sosok kecil Ayano terlihat sangat polos saat matanya berbinar karena melihat Izaya yang memainkan musik untuknya.
Noelle ingat ini. Kejadian yang muncul ini adalah kejadian nyata, yang terjadi saat usianya 13 tahun. Saat itu, dia dan keluarga Ayano berkunjung ke Jerman untuk menghadiri upacara tahunan atas meninggalnya pendiri keluarga mereka.
Di tengah kesedihan semua orang, dia dan Ayano melarikan diri ke ruang seni, dan dia memainkan piano yang ada di sana tanpa diketahui siapa pun.
Apa yang dia mainkan saat itu adalah sebuah lagu berjudul 'Moonlight Sonata', yang merupakan karya dari komponis klasik asal Jerman bernama Beethoven.
Noelle ingat kalau dia bisa memainkan banyak lagu, tapi dia paling sering memainkan lagu ini karena Ayano sangat menyukainya. Meskipun pada kenyataannya, Ayano saat itu tidak begitu menyukai arti yang terkandung dalam musik ini.
Moonlight Sonata memiliki nuansa kesedihan yang sangat kental, dan sama sekali tidak memiliki kesan romansa di dalamnya. Meskipun begitu, ini tetap menjadi favorit Ayano karena menggambarkan gerakan pembukaan yang mirip dengan kerlap-kerlip cahaya bulan.
Karena itulah, setiap kali dia memiliki kesempatan, dia akan meminta Izaya untuk memainkan lagu ini.
Kebiasaan itu pun masih ia miliki sampai sekarang. Piano adalah barang mahal, tapi Noelle dan Olivia memiliki satu yang sudah sangat tua saat mereka masih di kastil vampir.
(Kenapa … Ingatan ini … )
Noelle memejamkan mata, dan menyatukan kedua tangannya. Dia diam-diam berdoa pada Dewi Zelica, memohon penjelasannya meskipun tahu kalau itu akan sia-sia.
Di podium yang tak jauh dari tempat Noelle duduk, seorang pastor sedang berdiri dengan aura yang bermartabat, menatap semua orang satu per satu dengan tatapan yang penuh dengan jelas kasih.
Meskipun ini adalah agama yang tidak terlalu Noelle pahami, ia merasakan kemiripan yang jelas dengan agama Kristen Katolik dengan agama Dewi Zelica. Terutama, pada penyebutan untuk umat dan pemimpinnya. Ada kesamaan yang sangat jelas di antara keduanya.
Pastor itu memberikan ceramah pada semua orang, tapi Noelle sama sekali tidak mendengarkannya. Suara pastor itu hanya masuk ke telinga kanan, lalu keluar lagi dari telinga kirinya. Saat ini, Noelle fokus ke hal lain.
Dia penasaran, ke mana dia harus memberikan surat Erwin ini.
Noelle membuka tangannya dan menatap kosong pada sebuah amplop lusuh. Noelle tidak tahu apa yang ditulis Erwin dalam suratnya, tapi ia yakin kalau itu cukup penting. Dia tidak bisa secara sembarangan menyerahkan ini pada orang lain.
Tentu saja, pihak kepolisian yang memeriksanya karena kasus pembunuhan itu adalah hal yang berbeda. Noelle terpaksa menyerahkan surat Erwin karena itu bisa menjadi bukti yang menyatakan kalau dia tidak bersalah.
Noelle menutup matanya, seketika memperluas jangkauan deteksi. Seketika, dia segera menemukan banyak kehadiran makhluk hidup di sekitarnya. Sebagian besar itu datang dari manusia yang sedang berdoa, dan sebagian lagi berasal dari menara yang ada di kedua sisi bangunan gereja.
Noelle melihat ke sekelilingnya sekali lagi, dan segera mengangguk saat ia menemukan apa yang ia cari.
Itu adalah ruang pengakuan, sebuah ruangan kecil, yang biasa dipakai oleh para umat untuk mengakui dosa-dosa mereka pada pastor dan pendeta yang hadir.
Noelle akan memberikan surat Erwin ke sana.
Setelah menetapkan tujuannya, Noelle kembali menutup mata, dan menyatukan kedua tangannya.
Adalah fakta umum bahwa seseorang tidak bisa memasuki ruang pengakuan sebelum sesi ceramah pastor berakhir.
Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya pastor selesai memberikan ceramah. Dia mulai membacakan doa-doa untuk keselamatan semua orang, lalu menutup kitab di tangannya dan berbalik menatap simbol Dewi Zelica yang tertanam di dinding.
Semua orang, termasuk Noelle mengikuti gerakan pastor. Mereka semua secara alami mencubit jari mereka, dan mulai mengetuk dada sebanyak tiga kali dengan pola bulan sabit.
Setelah semua itu selesai, banyak orang mulai membubarkan diri dan pergi ke luar, sedangkan beberapa lainnya tetap duduk di tempat untuk menyejukkan pikiran mereka.
Noelle termasuk ke barisan orang yang tetap diam, tapi dia memiliki alasan yang kuat untuk itu.
Noelle segera berdiri, memperbaiki posisi syal yang melilit lehernya, lalu berjalan menuju ruang pengakuan.
Di samping ruang pengakuan itu, ada sebuah kotak kayu dengan ukuran yang indah. Pada kotak itu, terdapat selembar kertas bertuliskan 'kotak sumbangan'.
Noelle merogoh sakunya sejenak, lalu memasukkan dua koin Lunar ke dalam kotak. Dua koin Lunar, setara dengan 20 koin perak di Kerajaan. Ini adalah jumlah yang besar bagi rakyat kecil. Beberapa orang akan sangat beruntung untuk memiliki gaji bulanan yang sama jumlahnya dengan 20 koin perak.
Suara dentingan koin muncul setelah uang dimasukkan, dan Noelle dengan tidak mengatakan apa pun langsung masuk ke ruang pengakuan.
"Selamat siang, wahai 'Domba yang tersesat'. Bisakah gembalamu ini mengetahui masalah apa yang sedang kau hadapi? "
"Selamat siang." Hanya menjawab salamnya, Noelle kemudian meletakkan amplop lusuh Erwin di mejanya.
Seperti kebanyakan ruang pengakuan, dua sisi tempat 'Gembala' dan 'Domba' duduk adalah sisi yang saling berhadapan, namun dihalangi oleh tirai kecil yang menghalangi mereka untuk melihat wajah satu sama lain. Ini sangat berguna untuk membuat 'para domba' merasa tenang sangat mengakui dosa-dosa mereka.
Noelle meletakkan amplop itu, lalu berdiri dan membungkuk pada pastor yang duduk di sisi lain. Setelah itu, dia segera berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun.
Pastor yang masih duduk di tempatnya itu pun hanya tersenyum lembut pada sosok Noelle yang sudah menghilang, dan dia kemudian menggeser tirai, lalu mengambil amplop lusuh yang Noelle tinggalkan.
Dia menyadari kalau amplop itu telah dibuka dan dilem beberapa kali, tapi dia tidak keberatan. Bahkan meski isinya palsu, dia masih akan tetap membacanya dengan teliti untuk menghargai usaha 'domba' yang menuliskan ini.
Namun, tak lama setelah ia mulai membaca isi surat, matanya secara perlahan menutup. Ekspresinya menjadi kosong, dan tangan yang memegang surat itu terjatuh dengan lemas ke atas meja.
Sang Pastor duduk di tempatnya, membuka mata dan menatap langit-langit yang sudah sering ia lihat dalam hidupnya.
"Jadi begitu nasibmu, ya … "
...****************...