![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Kamar ini benar-benar berantakan. Kamu harus sering membersihkannya."
Suara Lucia Khora yang sudah halus itu semakin tidak terdengar di tengah ruangan yang memiliki tumpukan buku sebagai peredam.
Lawan bicaranya, Colyn yang sedang memeriksa lemarinya sendiri sepertinya mendengar itu, tapi ada jeda waktu yang cukup lama sampai respon berhasil diberikan.
"Aku merapihkannya setiap musim panas tiba. Sebentar lagi musim dingin, mereka semua akan berperan untuk menghangatkan lantai."
Biarpun alasannya tidak masuk akal, Lucia tetap menerimanya. Dia kemudian dengan susah payah berjalan melewati tumpukan buku, dan sampai di sebuah area yang benar-benar berantakan.
Ada rak kayu berukuran besar, tapi sepertinya itu pun tak sanggup menahan beban dari semua buku yang ditampungnya, sehingga rak itu memuntahkan semua buku ke lantai.
Seluruh ruangan ini benar-benar berantakan. Meski cukup luas, semua buku yang tergeletak dan menumpuk di lantai membuatnya terlihat sangat sempit.
Jika dilihat, ada ratusan buku, dengan puluhan di antaranya terbuka dengan lipatan penanda, dan beberapa lagi memiliki kertas penanda yang sudah usang di salah satu halaman.
Sebenarnya pemandangan ini membuat Lucia sangat ingin membereskannya. Namun, dia sadar kalau waktunya tidak sebanyak itu.
Dia sedang berada di sebuah rumah pohon yang dijadikan sebuah rumah permanen oleh Colyn, dan dia datang ke sini hanya untuk membantu Colyn bersiap-siap.
Beberapa hari yang lalu, keduanya sudah mendapatkan laporan mengenai keberhasilan Souris Noelle dalam menyelesaikan misinya.
Merekrut tiga orang dalam waktu yang sangat singkat bukanlah hal yang mudah, tapi Souris menyelesaikannya jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Hal ini justru membuat anggota lain semakin terburu-buru meski mereka sebenarnya tidak sedang dikejar waktu.
Begitulah situasi Lucia sekarang. Dia harus membantu persiapan Colyn yang entah kapan selesainya.
Yang membuatnya jengkel, Colyn terlalu malas untuk bergerak sehingga baru hari ini dia bisa membuat persiapan.
Lucia menggeleng pelan sambil menghela napas, membuat lonceng kecil yang menjadi antingnya itu berbunyi nyaring sedikit.
Pandangannya kemudian tertuju pada tumpukan buku di sekitar.
Diambilnya salah satu buku itu, dan kemudian diletakkan di rak. Hal yang sama terjadi lagi pada beberapa buku, hingga setengah rak hampir terisi.
Namun, tangannya berhenti bergerak saat menyentuh salah satu buku.
Itu terlihat biasa saja. Buku gambar tipis, dengan sampul polos yang sudah usang. Tetapi, bukan itu yang menarik perhatian Lucia, melainkan bekas tetesan air yang tercetak jelas di sampulnya.
Sepertinya itu air mata, dan menetes di tempat yang sama berulang kali sehingga mampu meninggalkan bekas pada sampul yang sebenarnya cukup keras.
Begitu dibuka, apa yang Lucia lihat adalah coretan khas milik anak-anak, yang menggambarkan sebuah keluarga utuh; ada ayah, ibu, kakak perempuan, dan adik perempuan.
Hanya empat orang, dan mereka semua digambar dengan sangat sederhana, tanpa ada detail apa pun.
Lucia membalik ke halaman berikutnya, dan menemukan kumpulan sosok yang sama, sedang melakukan sesuatu yang ia duga sebagai 'berkebun'.
Halaman berikutnya, menggambarkan keempat sosok itu sedang membaca buku dengan bahagia di tengah tumpukan buku yang tak terhitunt jumlahnya.
Lucia yang terus melihat-lihat gambarnya mau tak mau bertanya, "Siapa mereka? "
Dia tidak mengharapkan jawaban apa pun, karena sebenarnya pertanyaan itu hanya ditunjukkan untuk dirinya sendiri.
Namun, Colyn yang berada tak jauh darinya dengan tenang menjawab, "Bisa dibilang, itu aku dan seluruh anggota keluargaku."
Meskipun terdengar santai, Lucia dapat dengan jelas merasakan jejak kegelisahan dan kesedihan dalam suara Colyn. Tangannya juga berhenti bergetak, dan dia menatap pada sebuah foto usang yang menunjukkan sosok empat orang.
Foto itu diambil dengan alat sihir, dan kualitasnya juga belum seberapa. Namun, melihat empat sosok buram itu setiap hati sudah cukup untuk membuat Colyn merasa bahagia.
"Apa mereka sudah tiada? " tanya Lucia secara terang-terangan.
" ……… Nn."
Colyn hanya mengangguk, dan kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa terganggu.
Lucia pun sadar kalau tidak ada gunanya bertanya lebih lanjut. Itu juga tidak sopan. Karena itulah, dia memilih untuk diam dan melanjutkan kegiatannya dalam merapihkan koleksi buku Colyn.
Namun lagi-lagi, perhatiannya tertuju pada salah satu buku.
Matanya yang bisa melihat apa pun meski tertutup kain hitam membuatnya dapat melihat sesuatu yang berbeda dari buku itu.
Lucia hendak membuka halaman pertama dan membacanya, tapi konsentrasinya pecah saat tangan mungil yang dingin meraih bahunya dari belakang.
Kehadirannya begitu tipis, dan membuat Lucia sontak saja langsung berbalik dengan waspada padanya.
"Aku sudah selesai bersiap. Ayo pergi sekarang juga, atau kita akan kehabisan kamar di penginapan."
Colyn yang mendapat reaksi itu hanya tertawa dan pergi ke arah pintu sambil menyeret bantal malas pemberian Souris.
"Apa boleh buat."
Lucia menghela napas pasrah dan menyimpan buku itu ke dalam gudang spasialnya. Dia berniat menyimpan itu untuk dibaca nanti.
Bukan hal yang mudah untuk menghubungi kandidat bernama Arcal itu. Paling tidak, dia dan Colyn akan menghabiskan waktu beberapa hari atau bahkan minggu hanya untuk berinteraksi dengannya.
Karena itulah, Lucia berencana membawa satu atau dua bahan bacaan yang bisa menemaninya di kala bosan.
"Ayo pergi sekarang."
Setelah keluar dari kamar, Lucia menuruni tangga, dan menemukan Colyn yang sudah berbaring santai di atas bantal malasnya.
Cahaya mentari pagi yang menyusup masuk melalui celah dedaunan dan kayu membuat Colyn mengantuk sejenak, tapi dia berusaha menahannya dan menarik lengan Lucia untuk segera pergi.
...****************...
Perjalanan dari rumah pohon Colyn menuju ibu kota Kekaisaran memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar empat hari.
Meski begitu, mereka yang bisa mencapai pusat dari sebuah negara dari daerah pelosok dengan kecepatan seperti itu sudah cukup mengagumkan.
Metode transportasi mereka tidak lain dari terbang. Lucia menumpang bantal Colyn yang biasa diterbangkan.
Sesampainya di ibu kota, hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari penginapan.
Kekaisaran memiliki tradisi unik yang selalu dilakukan selama sebulan penuh menjelang musim dingin, yaitu melakukan persembahan dan ritual pada True Sun God Qulhod untuk meminta berkah dariNya agar mereka bisa bertahan di musim dingin yang kejam.
Ritual itu meliputi persembahan makanan, pengurbanan hewan ternak, dan tarian yang dianggap dapat menyenangkan dewa.
Dengan kata lain, di Kekaisaran, ada sebuah festival yang berlangsung selama sebulan penuh.
Karena itulah, Colyn dan Lucia menjadi cukup khawatir karena pada saat seperti ini ibu kota sangatlah ramai. Tapi untungnya, mereka berhasil mendapatkan kamar di penginapan meski itu butuh perjuangan yang keras.
Colyn tidak sedikit pun ragu saat menunjukkan rasa lelahnya di kursi taman yang berada tak jauh dari area penginapan.
Bahkan di tempat yang ia anggap menenangkan itu sendiri juga tak luput dari keramaian. Ada puluhan orang yang lalu lalang tanpa peduli erangan kelelahan dari Colyn.
"Apa kamu memang selemah ini? Atau kamu hanya malas? "
Lucia menghampiri Colyn dengan dua stik apel yang dilapisi gula leleh di tangannya.
"Keduanya," jawab Colyn tanpa basa-basi.
Tapi itu memang benar, sihir yang Colyn gunakan untuk menerbangkan bantalnya memakan cukup banyak konsentrasi. Dengan kekuatannya yang biasa, dia hanya bisa mengendalikan itu paling lama sampai enam jam saja.
Lebih dari itu akan sangat melelahkan..
Selain itu, Colyn juga sama sekali tidak kuat dalam fisik maupun sihir. Jika diadu dengan seekor goblin berlevel rendah, Colyn akan langsung kalah jika dia tidak diizinkan untuk menggunakan kekuatan 'Absolute Area' miliknya.
Lucia tidak terlalu terkejut dengan itu, jadi dia hanya tersenyum ramah kemudian duduk setelah menyerahkan satu stik apel itu pada Colyn.
Mereka hanya diam sambil mengamati orang-orang yang terus lewat, dan tanpa sadar banyak waktu telah berlalu.
Apel gula di tangan Colyn dan Lucia sudah habis, dan kini mereka hanya diam sambil memainkan stik kayu yang digunakan untuk menancapkan apel itu.
"Apa ini hanya perasaanku, atau memang ada banyak perhatian yang menatap kita sejak tadi? "
Setelah cukup lama diam, Lucia akhirnya berbicara. Suaranya dengan jelas mengindikasikan ketidaknyamanan, dan Colyn sadar akan hal itu.
"Abaikan saja. Orang-orang Kekaisaran memang cukup tertutup pada orang asing seperti kita. Terutama, mereka sangat religius, jadi mereka merasa tidak nyaman saat melihat gaun pendetamu."
Colyn melirik pada pakaian pendeta yang sudah melekat di tubuh Lucia seperti kulitnya sendiri.
Meskipun sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan mereka, Colyn tahu bagaimana bentuk jubah atau pakaian yang biasa digunakan oleh masing-masing gereja, terutama Gereja True Sun God Qulhod, agama mayoritas di negara ini. Secara alami, dia tahu kalau pakaian endeta Lucia sama sekali bukan pakaian pendeta dari agama yang ia ketahui.
"Sebenarnya, agama apa yang kamu ikuti? Aku sama sekali tidak religius, jadi aku hanya tahu sedikit tentang itu."
"Ahh, ini? "
Lucia kemudian melihat pada pakaiannya sendiri. Jubah atau gaun pendeta yang ia gunakan itu memiliki paduan tiga warna; hitam, putih, dan ivory. Selain itu, ada beberapa aksesoris tambahan seperti kalung, gelang dan anting loncengnya yang berwarna emas pucat, membuat orang bertanya-tanya apakah itu emas asli atau bukan.
"Ini adalah pakaian lama dari Gereja Dewi Ereshkigal."
"Ereshkigal? "
Nama yang belum pernah Colyn dengar. Dia seketika memiringkan kepalanya dengan penuh pertanyaan sambil menunggu Lucia menjawab.
"Dewi yang menguasai dunia bawah, Goddess of Underworld Ereshkigal. Memang tidak terlalu dikenal, tapi itu adalah agamaku, dan aku berperan sebagai pendeta dari gereja itu. Meskipun sebenarnya yang kupuja adalah The Merciful One."
"Apa ada perbedaan antara keduanya? " Colyn bertanya dengan setengah ketertarikan pada suaranya.
"Dewi Ereshkigal masih belum lama menjadi penguasa dunia bawah. Sebelum mendapatkan kekuasaan terhadap hal itu, 'Dia' adalah sosok yang disebut 'The Merciful One'. Meskipun pada dasarnya keberadaan yang sama, makna dan inti dari nama serta keberadaan mereka berbeda."
"Kenapa kamu memujanya? "
Colyn tidak terlalu religius, dan bahkan tepat untuk dikatakan kalau dia sama sekali tidak memiliki agama. Yang membuatnya masih layak untuk disebut pemuja True Sun God Qulhod adalah kebiasaan yang telah mengakar sejak dia masih kecil.
(Dibandingkan dengan dewa, aku lebih percaya dan bergantung pada diriku sendiri.)
Pemikiran itu terbentuk karena ia sadar akan satu hal; bahwa tidak akan ada yang menyelamatkannya meski ia berteriak kencang. Hanya dirinya sendiri.
Lucia terlihat kebingungan sejenak saat ia menerima pertanyaan itu. Namun, tak butuh waktu lama hingga ia menjawab.
"Bisa dibilang … ini merupakan penebusan dosa? "
...****************...
Setelah puas beristirahat, Lucia dan Colyn akhirnya berkeliling penjuru kota untuk menentukan dari mana mereka akan mencari Arcal.
Arcal adalah seorang petualang yang cukup terkenal, jadi untuk mencarinya mereka bisa mulai dari guild terlebih dahulu.
Namun, guild adalah asosiasi internasional yang tidak terlalu terikat pada aturan negara tempat mereka bernaung. Ada banyak aturan ketat, terutama yang berkaitan dengan kerahasiaan dan privasi seseorang.
Guild akan menjaga privasi setiap anggota mereja, sehingga sulit bagi siapa pun untuk mengorek informasi rinci mengenai seseorang, kecuali jika orang itu memang perlu diselidiki.
Terlebih lagi, Arcal adalah petualang berlevel tinggi, sehingga mendapatkan pelayanan khusus dari guild. Secara alami, mereka pasti menjaga kerahasiaan Arcal dengan sangat baik.
Meski mengetahui itu, keduanya tetap tak keberatan.
Yang pertama akan mereka kunjungi adalah guild, dan dari situ mereka akan mulai mengorek informasi.
Tidak diberitahukan oleh resepsionis pun tak masalah, karena Lucia hanya perlu hadir di sana untuk melihat kebenarannya.
Bukan tanpa alasan kemampuannya disebut sebagai《Mata Tuhan》. Itu sangat berguna pada situasi seperti ini.
"Ini mungkin pertama kalinya aku memasuki tempat seperti ini, jadi aku sedikit gugup," ucap Lucia sambil memaksakan senyum.
Seperti biasa, sulit bagi siapa pun untuk mengetahui ekspresi apa yang ia buat jika matanya tertutup seperti itu. Hanya dengan mengangkat sudut bibir terasa sedikit meragukan untuk disebut sebagai senyuman.
Colyn di sampingnya tidak banyak bicara, dan langsung membuka pintu.
"Selalu ada yang pertama untuk segalanya. Aku ingat Souris pernah mengatakan itu."
Pintu terbuka, dan keramaian yang memuakkan seketika muncul di hadapan keduanya.
Tempat itu nyaris penuh. Untung saja masih ada ruang untuk berjalan di sana.
Mereka berdua dengan hati-hati melangkah tanpa menabrak siapa pun, namun langkah mereka seketika terhenti saat suara yang nyaring muncul dari samping.
"Ohh! Bukankah itu kamu, Colyn! Lama tidak bertemu! "
Seorang wanita muda maju menerobos melewati kerumunan, dan dia segera memeluk Colyn begitu memastikan kehadirannya.
Lucia tidak bisa memahami situasinya dan hanya bisa diam, sementara itu Colyn sudah tenggelam dalam pelukan wanita itu, tidak diberikan ruang untuk bernapas.
"T-tunggu! Lepaskan aku, siapa kamu?! "
Colyn berusaha memisahkan diri dari wanita itu, tapi apa yang bisa dilakukan seorang gadis dengan fisik yang lebih lemah dari seekor goblin? Tangannya bahkan tak sanggup mendorong wanita itu.
"Eh? Apa kamu lupa denganku? "
Berkat kata-kata Colyn sebelumnya, wanita itu akhirnya melepaskan pelukannya, dan dia dengan bingung melihat wajah Colyn yang sama bingungnya.
"Tunggu sebentar, aku yakin pernah melihat wajahmu sebelumnya …. Ohh! Bukankah kamu Milfa? "
"Itu benar! Senang kamu bisa mengingatku! "
Wanita bernama Milfa itu kembali memeluk Colyn, dan sepenuhnya mengabaikan kehadiran Lucia.
"Permisi … jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu menyingkir? Kami masih memiliki urusan …."
Bukan hobi Lucia untuk mengganggu reuni, tapi dia sadar akan keterbatasan waktu yang dia miliki di sini.
Lucia tidak memiliki cara untuk menahan kekuatan matanya. Bahkan, saat tertutup kain pun matanya masih berusaha membaca dan mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapannya.
Berada di keramaian adalah hal yang merepotkan bagi Lucia karena dia tidak bisa mengontrol sebanyak apa informasi yang bisa masuk melalui matanya. Karena itulah, dia berencana menyelesaikan ini secepat mungkin tanpa harus membebani otaknya sendiri.
Dia tidak mau bernasib sama seperti orang-orang yang kepalanya meledak saat dia menyuntikkan jutaan informasi ke otak mereka.
"Hm? Siapa kamu? Colyn, apa dia kenalanmu? "
"Ya, begitulah," jawab Colyn dengan tenang sambil berusaha memisahkan diri dari Milfa.
"Lucia, namanya adalah Milfa, dia orang yang sudah banyak membantuku saat aku masih pemula di sini." Colyn yang tahu keterbatasan kekuatan Lucia langsung memperkenalkan Milfa, dan berniat mengakhiri percakapan secepat mungkin.
Namun, Milfa jelas bukan orang yang bisa menyelesaikan percakapan dalam dua dialog.
"Ohh! Salam kenal! Panggil aku sesukamu! Jadi kamu yang sudah menjaga Colyn, ya … aku harus berterima kasih. Dia sudah seperti adik bagiku, jadi kamu harus selalu merawatnya."
(Dia benar-benar banyak bicara.)
Lucia tanpa sadar memikirkan itu, dan berusaha menahan mulutnya agar pikiran itu tidak bocor dalam bentuk kata-kata. Sementara itu, Colyn sudah kembali berbicara pada Milfa.
Percakapan mereka sama sekali tak terdengar, tapi kelihatannya Colyn kesal akan sesuatu, sementara Milfa hanya terus tersenyum padanya.
Lucia tersenyum, namun matanya menatap sangat dingin pada titik di antara keduanya. Suara-suara di sekitar sudah memudar, dan matanya tanpa sadar fokus akan sesuatu yang entah ada atau tidak.
Sensasi dingin dan gatal seketika menjalari punggungnya, dan Lucia sontak gemetar karena hal itu.
Ada sesuatu yang amat menakutkan sedang bergerak. Dia menyadari hal itu bahkan tanpa perlu menatap langsung ke arahnya.
Yang pasti, itu bersumber dari belakang, dan terus bergerak.
Lucia tanpa sadar telah terdiam dan berkeringat dingin, dan lehernya yang kaku perlahan memutar untuk melihat sumber aura mengerikan itu.
Dia tahu kalau ini adalah tindakan yang bodoh. Terlalu banyak mengetahui sesuatu bukanlah hal yang baik, terutama untuk seseorang dengan kekuatan mata seperti dirinya.
Jika ia dengan rakus mengorek informasi yang seharusnya tidak dia ketahui, maka kesempatan untuk lepas kendali dan mengalami kondisi berserk adalah seratus persen.
Biarpun begitu, Lucia tetap menoleh.
Ini bukan keinginannya, melainkan rasa penasaran yang alami sebagai manusia.
Apa yang ia lihat di balik pintu itu seketika membuatnya terjatuh ke lantai, dan merasakan mual yang luar biasa. Jika saja dia tidak mengendalikan diri, maka dia pasti akan langsung muntah di tempat.
Berdiri tak jauh di belakangnya, dengan dihalangi sepasang pintu, adalah seorang pria, yang mengenakan pakaian serta jubah khas Gereja Dewi Lumine.
Pria itu tak memperhatikan Lucia, dan terus berjalan tanpa masalah dengan didampingi oleh beberapa Kesatria Templar yang seragamnya telah beberapa kali ia lihat dari Tristan Asher.
Meski dihalangi pintu, Lucia dapat dengan jelas melihat mereka, dan melihat apa yang mengerikan di sana.
Aura mengerikan itu bukan berasal dari 'kekotoran', melainkan dari kekuatannya sendiri yang jumlahnya di luar nalar. Terlebih lagi, ada kumpulan energi yang sama sekali tidak dikenal Lucia menyelimuti pria itu.
Meski sudah sering melihat orang dengan jumlah kekuatan dan mana di luar nalar, dia benar-benar ketakutan saat melihat sosok pria itu.
Kekuatan dan jumlah mana-nya tak terbatas. Tidak ada cara lain untuk menjelaskannya selain dengan kalimat itu.
Selain dari jumlah kekuatannya yang tidak masuk akal, Lucia juga melihat adanya hal lain yang seharusnya tidak dimiliki manusia.
Ada beberapa lubang, yang terbuka lebar di ruang di sekitar pria itu. Semua energi tak dikenal dan mana yang dia miliki dimuntahkan dari setiap lubang itu secara terus menerus dalam jumlah besar, seolah kapasitasnya memang tak terbatas.
Colyn, Milfa, dan beberapa orang di dekatnya mulai menghampiri dengan khawatir, tapi Lucia bahkan tak peduli dengan kehadiran mereka.
Pikirannya fokus menganalisis apa yang baru saja ia lihat.
Di dalam setiap lubang yang terbuka itu, ada kekosongan mutlak yang mengerikan. Namun, ada satu sosok yang berdiri diam tanpa rasa kehadiran apa pun di dalamnya.
Sepertinya semua kekuatan yang dimuntahkan lubang itu berasal darinya, dan sosok itu tetap diam tanpa melakukan apa pun.
Namun, saat diintip oleh Lucia, sosok itu balas menatapnya, seolah sedang melihat sesuatu yang sangat asing.
Perasaan yang mencekam, menakutkan, dan kegugupan seketika memenuhi Lucia saat ia bertatap mata dengan sosok itu meski hanya sepersekian detik saja.
Tidak mungkin dia bisa melupakannya. Sosok humanoid dengan kepala besar, memiliki dua mata bulat yang terbuka lebar dengan satu mata besar tambahan di dahi. Tidak memiliki kaki, melainkan belasan tentakel hitam berlendir yang berkedut setiap interval tertentu.
Sulit untuk mengetahui ukurannya, karena sosok itu berdiri di tengah kehampaan yang mencekam. Namun, tidak peduli ukuran, kehadiran itu sudah menanamkan rasa takut yang sangat mendalam terhadap siapa pun yang melihatnya, termasuk Lucia.
Meski hanya sekilas melihat, Lucia dengan jelas bisa mengingat setiap detail yang ia saksikan.
Seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali tiga mata yang sepenuhnya putih itu. Dan dengan salah satu tangannya, sosok itu memeluk sebuah papan batu dengan sebuah tulisan terpahat di permukaannya.
Ditulis dalam bahasa yang tidak Lucia kenal, tapi entah bagaimana mampu ia baca bahkan tanpa mengandalkan kekuatan matanya.
Di batu itu, terukir satu kata: 'ARCHIVE'.
Lucia nyaris kehilangan kesadaran, tapi ia perlahan pulih saat sosok pria dengan jubah Gereja Lumine itu pergi menjauh di antara keramaian.
Dengan napas berat, dia berhasil menyerukan satu kalimat.
"Aku … aku harus melaporkan ini! "
...****************...