[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 180: Clausa Memoria (3)



...****************...


Ruang di sekitar Olivia terdistorsi, dan adegan proyeksi masa lalu pun turut berubah.


"Ini … Pagi? "


Latarnya masih di tempat yang sama seperti sebelumnya, hanya saja, melalui jendela besar yang ada di sana, cahaya matahari dengan sangat mudah masuk dan menginvasi ruang tamu.


Jam digital hologram di dinding memiliki angka 06:41 yang tertera di sana. Sebenarnya, itu masih terlalu pagi, dan saat itu adalah musim dingin, mereka semua tidak akan heran jika menemukan sosok Izaya yang masih tidur di ranjangnya.


Tapi, itu justru tak terjadi.


Pintu kamarnya terbuka, dan sosok Shion dengan jelas muncul di sana, dengan wajah mengantuk dan pakaian serta rambut yang berantakan.


Dengan kondisi seperti itu, Shion berjalan menghampiri salah satu pintu, dan mengetuknya.


"Iza … Kau di sana? "


Berdasarkan ingatan Olivia, itu adalah pintu menuju ruang ganti yang terhubung langsung dengan kamar mandi.


Tak memakan waktu lama, pintu terbuka, dan sosok Izaya muncul dengan hanya menggunakan celana panjang, dan sebuah handuk melilit lehernya.


" …… Kau baru saja mandi? "


"Apa ada yang salah? "


Izaya memiringkan kepalanya dengan bingung, lalu berjalan menghampiri kulkas yang berada di area dapur.


Dia membuka kulkas itu, dan mengambil sekotak susu yang tersisa.


"Serius? Kau benar-benar mandi saat pagi hari? Di tengah musim dingin ini? "


"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama dengan Shion. Apa Noelle memang selalu mandi pagi di musim dingin? Bung, aku bahkan tidak berani membayangkannya … "


"Lupakan tentang itu, Werli. Ada satu hal yang benar-benar ingin kutanyakan. Bagaimana dia bisa mendapatkan semua bekas luka itu? "


Adegan berhenti, seolah merespon pergerakan Alan yang menunjuk punggung Noelle yang terbuka.


Punggungnya tidak berbeda dari anak seusianya. Hanya saja, itu lebih berotot dan memiliki banyak bekas luka sayatan. Pemandangan itu tentu saja membuat mereka semua terkejut. Karena, selama mereka mengenal sosok Izaya, mereka tidak pernah tahu tentang bekas luka yang dimilikinya.


Itu mungkin berhubungan dengan Izaya yang tidak pernah mengikuti kelas renang dalam P.E dulu.


Menanggapi mereka, Olivia memberikan senyum sedihnya. Dia berjalan dan mendekati Izaya, lalu menelusuri bekas luka di punggung itu dengan jarinya.


Sama sekali tak ada sensasi sentuhan. Jarinya dengan mudah menembus tubuh Izaya, ini seolah tubuh Izaya memang tidak ada di sana. Meskipun begitu, Olivia tetap menelusuri bekas luka itu, dan tetap memajang senyum sedihnya.


Matanya sedikit menyipit saat perasaan nostalgia tiba-tiba memenuhi dadanya.


Setelah beberapa saat, Olivia kemudian tersenyum kecil sambil mendengus, lalu menutup matanya.


Tangannya yang sejak tadi berusaha menggapai tubuh Izaya telah ia tarik kembali, dan ia berbalik pada semua orang.


"Ceritanya panjang … Aku ragu aku bisa memberi tahu kalian semuanya. Selain itu … Noelle mungkin tidak akan suka jika kalian mengetahuinya."


Itu masuk akal. Semua orang berpikiran begitu.


Bagaimanapun, Izaya telah menyembunyikan hal ini dari mereka semua untuk waktu yang lama. Tentu saja dia tidak akan senang jika mereka mengetahuinya sekarang.


"Baiklah, lupakan tentang itu. Aku sendiri juga ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya," lanjut Olivia sambil kembali melihat adegan proyeksi ingatan yang terus berlangsung.


"Aku benar-benar berharap kau melanjutkan topik itu … "


Tak ada satu pun dari mereka yang mendengar rintihan Anzu yang kini berjongkok sambil memeluk kakinya sendiri.


"Saljunya berhenti … "


Shion melihat ke luar jendela, dan mendapatkan langit yang telah cerah.


Atap dari gedung di seberang, dan semua pemandangan yang ada di bawah sana telah ditutupi oleh salju putih, tapi itu bahkan tak cukup untuk menghentikan semua kegiatan penduduk yang telah berlangsung.


Satu batalyon Snowbot – sebuah robot dengan bentuk hybrid antara mobil mini dan drone yang bertugas untuk membersihkan salju di jalanan–pasti telah dikerahkan. Tapi, karena letak kamar Izaya yang berada jauh di atas, mereka hampir tak dapat melihat para 'pekerja' itu.


"Entah kenapa aku sama sekali tidak bersemangat untuk melakukan aktifitas apa pun hari ini … "


Saat mencapai akhir kalimatnya, Shion menguap dan berusaha menutup mulut dengan telapak tangannya sendiri.


Sebagai respon, Izaya hanya mengetuk kepala Shion sekali, sebelum akhirnya berjalan menuju sofa.


Dia mengambil pakaian atasnya yang diletakkan di sandaran sofa, lalu memakainya. Setelah itu, ia langsung menyalakan televisi.


Televisi yang menyala seketika menampilkan acara berita yang kini sedang mengumumkan ramalan cuaca hari itu.


"Kau mengatakan itu, tapi apa kau ingat kalau kau sudah berjanji untuk membantuku hari ini? "


Ekspresi Shion seketika terdistorsi. Wajah mengantuknya berubah menjadi jauh lebih tidak bersemangat ketika ia mendengar itu.


"Ughh … Kenapa aku harus membuat janji itu … "


" …… Janji apa yang kalian bicarakan? "


Olivia menoleh dan bertanya pada Anzu yang ada di belakang. Semua orang juga melakukan hal yang sama, jelas mereka penasaran soal itu.


"Yahh, kau lihat tanggalnya. Itu adalah hari sebelum natal. Olivia, kau ingat tanggal ulang tahunmu saat masih menjadi Ayano, 'kan? "


Olivia melebarkan matanya. Dia telah mencapai suatu pemahaman berkat penjelasan singkat Anzu. Namun, hal itu tak berlaku untuk sebagian orang di sana.


Anzu melihat situasinya dan berpikir kalau tak ada cara lain untuk menjelaskannya selain mengatakannya secara langsung.


"Ayano lahir pada tanggal 25 Desember tahun 2014, bertepatan dengan hari natal. Saat itu aku berjanji pada Iza untuk membantunya mempersiapkan hadiah ulang tahun untuk Ayano."


" … Kurasa itu masuk akal," ucap Alan sambil mengangkat bahunya. Di wajahnya, sudah tak ada ekspresi yang mengindikasikan rasa ketertarikan. Dia benar-benar sudah tidak tertarik dengan topik ini.


"Setelah kau mengatakannya … Aku tiba-tiba ingat. Saat itu, Iza memberiku banyak hadiah. Salah satunya adalah buket yang dipenuhi dengan ucapan selamat ulang tahun dari banyak orang. Tidak peduli seberapa ahli Iza dalam melakukan pekerjaannya, tidak mungkin dia bisa mengumpulkan semua ucapan itu dalam waktu singkat."


(Tidak, sebenarnya tidak begitu.)


Anzu berniat membantahnya, tapi ia tiba-tiba sadar kalau ini adalah hal yang bagus untuk menggiring pikiran Olivia. Dia bisa memanfaatkan ini. Setidaknya itulah yang dia pikirkan.


Kenyataannya memang tidak jauh berbeda dari yang Olivia katakan. Saat itu, Shion atau Anzu memang berkontribusi dalam pembuatan buket. Tapi, dia sebenarnya hanya membuat desain dan rancangan dasarnya. Izaya sendirilah yang mengumpulkan semua ucapan itu.


"Yahh, bisa dibilang begitu."


Anzu mengangkat bahunya dan kembali diam sambil melihat gerak-gerik dari proyeksi dirinya di masa lalu bersama dengan Izaya.


Mereka berdua duduk di sofa sambil menonton berita pagi. Meja yang ada di depan mereka memiliki sepiring penuh roti panggang bersama dua gelas susu hangat. Itu adalah sarapan yang cukup bagus untuk seseorang yang tidak begitu akrab dengan pagi hari.


Setelah beberapa saat keheningan, Shion akhirnya membuka percakapan.


"Hei … Apa saja yang akan kita lakukan hari ini? "


Izaya terlihat berpikir sejenak, lalu membuka aplikasi kalender di ponselnya. Di sana, tertera segala hal yang harus ia lakukan, dalam bentuk jadwal yang terstruktur.


"Pertama, kau mungkin harus segera pulang. Ayano akan segera ke sini tidak lama lagi, dan akan merepotkan kalau dia melihatmu. Lalu, kita akan bertemu lagi di jam 10. Lokasi pertemuannya ada di tempat biasa. Dari sana, baru kita akan membicarakan semuanya."


"Ayano akan segera datang ke sini? Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?! "


Shion dengan panik berdiri dan berlari menuju kamar. Dia segera mengemasi barangnya dan kembali ke ruang tamu setelah hampir dua menit.


Dia sudah berniat untuk pergi. Bagaimanapun, dia tidak berminat untuk terlibat dalam skenario klise 'istri yang memergoki suaminya bersama wanita lain di kamar apartemen'. Itu akan sangat merepotkan baginya.


"Kode pass untuk keluar sama seperti kode pass untuk masuk, 'kan? Kalau begitu, aku akan pulang. Sampai jumpa lagi nanti! "


Setelah merapihkan pakaian dan rambutnya yang agak berantakan, Shion langsung berlari menuju pintu dan bergegas keluar, tanpa menunggu salam apa pun dari Izaya.


" … Dia terlalu bersemangat, 'kan? "


Sambil menyesap secangkir teh di tangannya, Izaya tersenyum masam sebelum akhirnya kembali menonton siaran berita yang ditayangkan.


"Padahal kau tidak perlu panik begitu."


"Eh? Apa maksudmu? "


"Aku memiliki akses untuk CCTV di gedung apartemen itu. Jadi aku tahu kalau kau sering mengunjungi apartemennya. Meskipun … Aku tidak menduga kalau kau akan menginap di sana … "


"Kenapa kau bisa punya akses untuk kamera keamanan?! Tidak, lupakan itu! Semua yang kau lakukan itu adalah pelanggaran privasi! "


Semua orang setuju dengan Anzu. Mereka beralih memiliki ekspresi khawatir pada Olivia.


"Kenapa? Tentu saja, gedung apartemen itu adalah salah satu aset keluarga besar kami. Meskipun aku bukan pemilik, aku masih memiliki kualifikasi untuk memasuki berbagai ruangan dan sistem di sana. Selain itu … Aku hanya memantau kamera keamanan yang ada di pintu masuk dan pintu belakang, serta lantai tempat kamar Iza berada. Jadi ini bukan pelanggaran privasi."


"Serius, kau mengerikan."


Anzu sendiri sudah tahu seberapa banyak total aset yang dimiliki oleh keluarga besar Izaya dan Ayano, jadi ia tidak terlalu terkejut. Dia hanya sedikit terkejut karena dia tidak pernah menyangka kalau Olivia pernah memanfaatkan kekuasaan itu untuk sesuatu yang gila.


"Ahh, adegannya berganti lagi … "


Suara keterangan bocor dari Waka yang sejak tadi diam. Dia memperhatikan sekelilingnya, dan menemukan kalau latar tempat itu telah berubah.


Kini sudah bukan ruang tamu apartemen yang besar itu, tapi jalanan besar yang daerah pinggirannya memiliki setumpuk salju sebagai hasil pembersihan.


"Tentu saja adegannya akan berganti. Jika proyeksi ini benar-benar berasal dari ingatanku, tidak mungkin akan ada kelanjutan dari proyeksi tempat yang bahkan aku saja sudah tidak ada di sana."


Anzu menghela napas lelah sejenak, sedikit kecewa dengan kemampuan berpikir teman-temannya yang bahkan tak sanggup untuk menebak hal itu.


Beralih ke adegan proyeksi, di sana ada sosok Izaya yang menggunakan mantel hitam panjang dan berekor, disertai sebuah syal panjang berwarna merah melilit bagian lehernya.


Mantel hitam itu hanya sedikit dikancing di bagian perutnya, jadi kemeja putih-abu yang ada di balik mantel itu masih bisa terlihat dengan cukup jelas.


Izaya menggunakan sepasang sepatu bot kulit yang akan mengeluarkan suara berderak setiap kali ia menginjak jalanan beraspal, dan kedua tangannya yang tidak ditutupi sarung tangan itu dimasukkan ke dalam saku mantel dengan sebuah bantal penghangat kecil di masing-masing saku.


Sejauh ini, semuanya sesuai dengan ingatan Anzu.


Saat itu, Izaya sedang berjalan, dan akhirnya memasuki sebuah bangunan bergaya Eropa klasik.


Papan nama yang diletakkan tepat di depan bangunan itu bertuliskan 'Melinda's Cafe Shop', dan memiliki label tutup pada bagian bawahnya. Meskipun begitu, Izaya dengan santai mendorong pintu, laku memasukinya.


Begitu dia masuk, dia segera disambut dengan dentingan lonceng pintu, yang kemudian disusul oleh alunan musik klasik yang lembut. Aroma dari kopi dan roti sangatlah menenangkan sehingga dia bahkan terdiam di depan pintu untuk beberapa saat.


Izaya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil membuka mata. Dia segera menoleh dan melihat ke arah salah satu kursi dua orang yang ada di sudut ruangan.


Di sana, Shion sedang menunggunya.


"Kau sedikit terlambat."


Izaya menghampiri, lalu duduk tepat di kursi yang ada di hadapan Shion. Baru saja ia mendudukkan dirinya, Shion segera menegurnya dengan sedikit keras.


"Maaf, aku harus mengurus beberapa hal sebelumnya."


Izaya hanya membalasnya dengan sopan yang disertai senyuman kecil.


Tak lama kemudian, datanglah seorang gadis dengan pakaian dan aksen gerakan seorang pelayan.


Olivia tidak kenal dengan gadis itu, tapi melihat bagaimana dia dengan santainya menghampiri Izaya bersama Shion, dia pasti cukup akrab dengan mereka.


Lagi-lagi, kenalan Izaya yang tidak Olivia ketahui. Itu membuatnya merasa sedikit berkonflik, tapi perasaan itu bertabrakan dengan rasa pasrah karena ia bukanlah siapa-siapa saat itu. Dia tidak punya hak untuk mengatur bagian 'dengan siapa saja Izaya bisa bergaul'. Meskipun, Izaya mungkin akan mematuhinya jika dia memberi tahu tentang hal itu.


Tak menunggu waktu sampai Izaya dan Shion merespon, gadis pelayan itu segera membuka mulutnya.


"Terima kasih karena sudah datang hari ini. Sesuai janjiku, aku akan menyajikan beberapa menu baru pada kalian, dan aku ingin kalian memberikan komentar untuk itu."


" … Apa kalian bekerja sebagai penguji rasa makanan? "


Iris mau tak mau mengajukan pertanyaan itu, yang kemudian dijawab oleh Anzu dengan sebuah anggukan kecil. "Hanya sebagai sampingan. Cafe itu sudah menjadi tempat pertemuan kami untuk waktu yang cukup lama, jadi pemilik dan pegawai di sana sudah sangat mengenal kami. Mereka meminta kami untuk menguji menu baru, dan membayar kami dengan makan dan minuman gratis selama satu minggu."


Tapi, jika memang begitu, seharusnya para pegawai di cafe masih dalam tahap pengembangan dalam kepercayaan mereka dengan Izaya dan Shion.


Lagi pula, berdasarkan ingatan mereka, Izaya baru datang ke Jepang setelah lulus dari pendidikan di SMP. Yang artinya, hanya ada waktu kurang dari dua tahun.


Dilihat dari mana pun, mereka terlalu mempercayai Izaya dan Shion.


Mengabaikan keheranan mereka, Olivia bersama Anzu hanya terus menyaksikan adegan yang terjadi dalam proyeksi itu.


Izaya tersenyum dan berkata, "Mohon kerja samanya." Sedangkan Shion hanya mendengus sambil menempelkan wajahnya ke meja. Dia jelas tidak bersemangat dengan hal ini.


Tak lama kemudian, dua orang lagi muncul dari pintu yang mengarah ke dapur. Keduanya memakai seragam yang sama dengan gadis pelayan yang menunggu di meja Izaya dan Shion, dan mereka berdua membawakan masing-masing sebuah nampan yang berisikan menu yang berbeda.


Nampan pertama diletakkan, dan sebuah roti hangat bersama segelas kopi hitam disajikan.


Izaya melihat porsi itu, lalu tersenyum sambil meraih garpu dan pisau kue di hadapannya.


Begitu ia menggigit potongan rotinya, rasa manis sekaligus asam seketika memenuhi mulutnya. Air liur memaksa untuk keluar, tapi Izaya menahan semua itu dengan langsung mengelap mulutnya dengan selembar tisu.


Dia lalu meraih cangkir kopi, sebelum akhirnya menyesapnya dalam diam.


Setelah selesai, dia akhirnya berkomentar. "Rotinya agak terlalu manis di lidahku, tapi mungkin itu karena indera perasaku yang sedikit terlalu sensitif. Sejujurnya, ini sudah bagus. Menu yang cocok untuk sarapan."


"Jadi … Pada dasarnya, kalian datang hanya untuk sarapan gratis, ya? "


Alan berkomentar dengan wajah datar, tapi suaranya dengan jelas memberitahu semua orang kalau dia merasa jengkel.


"Tentu saja. Kau pikir kenapa kami harus datang ke sebuah cafe yang bahkan belum buka pada jam itu? Baik Iza maupun aku tidak bisa memasak apa pun, jadi kami hanya bisa mengandalkan orang lain untuk membuatkan kami sarapan."


Anehnya, dia mengatakan itu dengan bangga. Tak ada satu pun hal yang bisa dibanggakan dari seorang gadis yang tak bisa memasak. Werli hampir berkata begitu, tapi segera menahan mulutnya sendiri saat menyadari kalau Anzu pasti akan marah.


"Tunggu, Noelle … Dia tidak bisa memasak? Bahkan saat masih menjadi Izaya? Bung, kupikir dia itu sempurna … "


Sebenarnya, ada alasan untuk itu. Dan itu semua terkait dengan seorang gadis berambut perak tertentu yang kini memalingkan wajahnya dengan canggung.


Tidak mungkin dia akan mengatakan pada semua orang, kalau sebenarnya dia tidak mengizinkan Izaya belajar memasak hanya karena dia tidak mau Izaya berhenti memakan masakannya.


Itu jelas akan menjadi fakta yang memalukan. Dia melarang seseorang untuk berkembang hanya demi keegoisannya semata. Olivia bisa membayangkan berbagai komentar negatif yang akan dilontarkan semua orang ketika mereka mengetahui fakta itu.


Seolah menyadari pikirannya, adegan dalam proyeksi terus berlanjut, membuat semua orang kembali fokus padanya dan berhenti dari topik 'Izaya yang tidak bisa memasak'.


"Terima kasih atas komentarmu, aku akan memberikan ini pada Manajer. Lalu … Shion, apa kau tidak mau memakan milikmu? "


Menunyang tersaji di piring Shion adalah menu yang sama dengan yang dimiliki Izaya sebelumnya. Dia hanya menatap piring itu dengan mata kosong, lalu menggigit potongan roti itu dalam sekejap.


" … Ini enak, tapi … Aku harap kau mau berhenti memasukkan buah kering ke dalam setiap roti yang kau buat, akan ada beberapa orang yang alergi dengan itu."


"Baiklah, Terima kasih atas masukannya. Ini kupon kalian."


Gadis itu kemudian memberikan dua lembar kertas panjang pada Izaya dan Shion.


Kertas itu adalah sebuah kupon, yang dapat mereka gunakan untuk mengambil menu apa pun secara gratis selama seminggu penuh.


"Bagus, tujuan kita di sini sudah tercapai. Sekarang, ayo lanjut ke tempat selanjutnya."


"Tunggu sebentar, Iza. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."


Sebelum Izaya beranjak pergi, Shion menghentikannya.


" … Apa? "


"Aku ingin menanyakan ini sejak tadi, tapi … Sebenarnya, kenapa kau memintaku membawa gitar ini? Dan apa yang ada di dalam tas biola itu? Sebuah senapan? "


"Ini tas biola, tentu saja isinya biola."


Izaya mengangkat tas biola kecil yang sejak tadi ia bawa.


Warnanya hitam, tak ada aksesoris apa pun selain nama brand yang dicetak dengan pemilihan font yang elegan, dan memiliki warna emas mengkilat itu.


Di Shion sendiri, ada sebuah tas gitar besar yang berisi gitar akustik tua miliknya.


Semuanya juga heran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka berdua membawa alat musik itu? Bagaimanapun, semua pertanyaan mereka akan segera terjawab.


Izaya memiringkan kepalanya dengan bingung, seolah tak mengerti dengan pertanyaan Shion.


"Bukankah sudah jelas? Kita akan mengumpulkan uang."


...****************...